Pagi itu, Raja, Ratu dan kelima Putri telah bersiap di ruang takhta. Semuanya cemas memikirkan sang peramal yang usianya memang sudah sangat tua, khawatir sang peramal akan tersesat, lupa jalan atau yang lebih parah lagi, terbalik membaca petanya. Kalau menyangkut sang peramal, memang sulit sekali menebak apa yang akan terjadi. Segalanya bisa terjadi.
Begitu terdengar ketukan di pintu, semua merasa khawatir. Berharap itu sang peramal, dan syukurlah, memang sang peramal yang datang. Peramal tersebut masuk dan berjalan dengan anggun ke arah Raja, Ratu dan kelima tuan putri.
"Annyeong, yang mulia. Maafkan keterlambatan saya," ujar sang peramal setelah memberi hormat.
Raja hanya mengangguk mengiyakan.
"Kami memintamu datang kemari untuk menanyakan..." Ratu terdiam sejenak. Butuh waktu untuk mencari kata-kata yang tepat, agar image putri-putrinya tidak rusak di hadapan sang peramal. "...tentang pasangan hidup yang sesuai bagi putri-putri kami, dan dapat memimpin kerajaan dengan baik nantinya... Terutama tentang calon pasangan hidup Millenia, putri mahkota negeri ini. Kami semua menginginkan yang terbaik bagi mereka." tandas sang Ratu.
Raja hanya bisa tersenyum, sebab ketika ia melirikkan mata ke arah putri-putrinya, ternyata mereka sedang menahan tawa melihat ibu mereka yang terlihat salah tingkah di depan sang peramal.
"Begitu... Sebenarnya kemarin malam saya melihat lima bintang di gugusan Cassiopeia di timur bersinar sangat terang... Dan saya rasa itu merupakan suatu pertanda, sebab legenda mengenai permaisuri Cassiopeia dari Ethiopia.." Sang peramal melirik kelima putri dan berdehem, "...sedikit banyak memiliki kesamaan dengan yang terjadi pada putri-putri anda, Yang Mulia."
Melihat Raja dan Ratu yang menyimak dengan serius dan senyum di wajah para tuan putri yang berganti ekspresi tertarik, sang peramal pun melanjutkan kata-katanya, "Saya dengar ada sebuah negeri di Timur, bernama negeri Cassiopeia. Mereka memiliki lima orang pangeran yang seusia dengan kelima putri Yang Mulia, dan saya rasa merekalah orang-orang yang tepat untuk dijadikan penerus kerajaan ini-"
"Jadi, dengan kata lain kau menyarankan perjodohan kami dengan kelima pangeran itu?" seru putri Delvi kesal.
"Sopan santun," tegur putri Millenia, khawatir akan nasib adiknya, sebab sang Ratu sedang menatap Delvi dengan tajam.
Sang peramal hanya tersenyum, "Itulah jalan terbaik. Mungkin kalian tak menyukai mereka pada awalnya, tapi hal yang harus kalian lakukan adalah menerima mereka. Sebab merekalah jodoh kalian. Hal itu tak bisa ditolak. Tapi percayalah, inilah jalan terbaik bagi kalian." tegas sang peramal.
Tak lama kemudian, sang peramal pamit. Setelah sang peramal pergi, Ratu tak menyia-nyiakan waktu lagi, ia segera menulis surat panjang tentang perjodohan, dan menyuruh seorang utusan untuk mengirimkannya ke negeri Cassiopeia.
[NEGERI CASSIOPEIA, KAMAR KELIMA PANGERAN DI ISTANA CASSIOPEIA]
"Kembalikan Ipodku!" seru Pangeran Changmin kesal.
"Itu Ipodku! Milikmu kan yang warna biru!" bantah Pangeran Junsu.
"Yang warna biru itu milikmu! Lihat, ada 5000 lagu di Ipod itu, berarti itu milikku!"
"Mwo? Ini milikku! Kau tanya saja Jaejoong, pasti ia tahu kalau ini milikku. Ya kan, Jae?" Kalimat terakhir Pangeran Junsu ditujukan kepada Pangeran Jaejoong, yang sedang sibuk memasak.
"Astaga, berapa kali kukatakan padamu, panggil aku hyung! Aku lebih tua darimu! Dan jangan ganggu aku, aku sedang memasak." Jaejoong mendengus kesal. Diantara sekian banyak manusia di bumi, kenapa adik-adiknya yang ditakdirkan jadi makhluk-makhluk abnormal? Sebenarnya ia bisa mentolerir keabnormalan kedua adiknya itu, asalkan mereka tak mengganggunya disaat ia butuh ketenangan, seperti sekarang.
"Ayolah, hyung-ku tersayang... Beritahu Changmin kalau ini Ipodku." Junsu berusaha membujuk Jaejoong dengan keimutannya. Ia mengguncang-guncang lengan kanan Jaejoong yang sedang membubuhkan garam ke masakannya, yang kelihatan rumit dan enak. Changmin menelan ludah. Ia tak bisa menahan dirinya untuk merasa...lapar.
Sayangnya, tingkah imut Junsu justru membuat Jaejoong marah, sebab garam yang ia pegang jadi tumpah semua ke masakannya.
"Aigoo, Junsu! Lihat apa yang kaulakukan! Masakanku tak bisa dimakan kalau begini! Bagaimana kau ini! Kau tahu berapa lama waktu yang diperlukan untuk memasak ini?" Jaejoong menghentikan omelannya setelah melihat airmata mengalir di pipi Junsu.
"Oh tidak, tidak. Jangan menangis, ya Tuhan... YUNHO! YUNHO! Astaga, dimana dia?" Jaejoong mulai panik melihat tangisan Junsu yang semakin keras...dan Changmin yang entah bagaimana telah menghabiskan setengah panci masakan gagal Jaejoong. Ia ingin menghentikan Changmin, tapi ia tak tega melihat Junsu yang menangis keras-keras. Jadi ia hanya bisa menatap Changmin dengan tatapan mengerikan seraya berusaha menenangkan Junsu.
"YUCHUN! YUCHUN! YUNHOOO!" Teriakan Jaejoong dihentikan oleh suara sesuatu jatuh dan suara tawa Yuchun.
"Hahaha, Hyung terjatuh! Jatuhnya dengan pose aneh seperti itu pula! Dan aku dapat fotonya! Astaga, bayangkan kalau-" Tawa histeris Yuchun mendadak berhenti, membuat Jaejoong yakin bahwa Yunho sedang memiting Yuchun.Pasti pose jatuhnya sangat menggelikan, kalau begitu aku harus melihatnya nanti, pikir Jaejoong. Tapi sebelumnya ia harus menghentikan Changmin, membuat Junsu berhenti menangis dan menenangkan dua makhluk abnormal bernama Yunho dan Yuchun.
Dan semuanya merupakan hal yang nyaris mustahil untuk dilakukan, apalagi diselesaikan.
Gelombang besar kelegaan menghampiri Jaejoong begitu seseorang mengetuk pintu kamar mereka. Ternyata salah satu pelayan Raja.
"Kelima Yang Mulia diminta untuk segera hadir di ruang takhta." ujarnya datar.
"Ada apakah?" Sebagai yang tertua, Jaejoong berinisiatif menanyakan hal itu.
"Ada utusan dari negeri SM. Negeri SM ingin menjadikan kelima Yang Mulia pasangan hidup bagi kelima Tuan Putri mereka. Raja menerima permintaan tersebut, dan beliau ingin kalian berangkat ke Negeri SM besok pagi."
Jaejoong hanya bisa mengangguk-angguk heran. Bagaimana tidak, reputasi para pangeran negeri Cassiopeia di mata para Tuan Putri memang tidak begitu baik. Pangeran-pangeran tampan yang bertabiat aneh, begitu kata mereka. Jaejoong dan adik-adiknya juga tidak merasa tertarik pada para tipikal Tuan Putri biasa, yang kerjanya hanya bergosip dan berdandan. Menurut mereka para Tuan Putri biasa sangat membosankan. Dan sang Raja memahami hal itu, jadi tidak ada acara perjodohan dalam jadwal mereka. Tapi, ini...?
