Chapter 2
– Tugas Seorang Kakak –
London – Inggris, 3 Agustus 2018
"Kalau begini kau hanya lari dari masalah!"
"Naruto-kun!"
"Tunggu!"
"Tunggu!"
"Tunggu! Baka!"
...
"...aka..."
"Baka!"
"Heh baka, mau sampai kapan kau tidur?"
Kurasakan sesuatu menghantam mukaku. Aku berusaha membuka kelopak mataku dengan malas. Sebuah guling tergeletak tak jauh dari kepalaku. Aku simpulkan benda itulah yang tadi mengenai mukaku. Aku menekan pelipisku, kepalaku masih pusing. Tidak, aku tidak cengeng, bukan pusing karena dihantam guling. Kepalaku memang sudah pusing dari kemarin.
Aku menghela nafas panjang mengingat mimpiku tadi. Lagi-lagi aku memimpikan kejadian yang sama. Kejadian 2 tahun yang lalu saat aku meninggalkan Jepang. Saat aku berpisah dengan Naruko dan mengubur jauh-jauh mimpi kami untuk menikah bersama. Putusnya aku dan Hinata membuatku tidak bisa menepati janjiku kepada Naruko. Dadaku sesak setiap memikirkan itu.
Sejak saat itu, aku berusaha mengikuti saran Kiba untuk menjalin hubungan dengan perempuan lain di Inggris. Tapi hasilnya tidak sesuai harapan. Aku tidak pernah serius menghadapi mereka, ujung-ujungnya perempuan-perempuan yang kupacari meminta putus karena selalu kuacuhkan. Aku tahu aku kejam, tapi bagaimana lagi? Aku tidak bisa mencintai mereka seperti aku mencintai Hina-, tuh 'kan Hinata lagi. Ingin rasanya aku menghilangkan sosok-'nya' dari kepalaku. Tapi entah kenapa otakku seperti enggan melakukannya.
Selama dua tahun kehidupanku semakin kacau saja. Kalau Kiba ada disini sekarang, pasti dia akan memakiku karena kebodohanku yang tidak bisa menjalani kehidupanku seperti dulu dan melupakan masa laluku.
Kukucek mataku pelan dan menatap gadis pirang di depanku. Aku yakin dia yang tadi melempariku dengan guling. Kulihat dua orang lain di belakangnya, menatapku khawatir. Gadis pirang di depanku adalah Shion, dan dua orang di belakangnya adalah Sai dan Yakumo.
Sejak kami kuliah di Oxford, kami memang tinggal bersama. Kami sepakat untuk menyewa apartemen bersama. Selain agar murah, kami juga lebih gampang jika akan berdiskusi mengenai kuliah. Apartemen kami punya dapur, ruang tengah dan 4 kamar tidur, jadi meski kami menyewanya bersama, kami punya ruangan privasi masing-masing.
"Apa kau tidak akan kuliah?" tanya Shion. Dari penampilan Shion, Sai dan Yakumo, aku pastikan mereka sudah siap berangkat kuliah.
"... uhhh... biarkan aku tidur Shion…" Aku kembali berbaring di tempat tidur dan menarik selimutku.
"Dasar pemalas. Semalam kau minum-minum lagi ya? Cepat bangun!" Shion menarik selimutku dengan paksa.
Kalian jangan heran, aku memang suka meminum minuman beralkohol sekarang. Kata orang, minuman beralkohol ampuh untuk melupakan masalah kita. Meski aku tahu mereka salah, karena minuman beralkohol hanya bisa melupakan masalah untuk sementara, setelahnya aku akan ingat kembali masalahku, serta bonus tambahannya berupa rasa pusing yang amat sangat. Tapi aku hanya berusaha melupakan masalahku, itu saja. Inilah caraku melupakan masalahku, begitu aku mengingat kembali masalahku, aku akan kembali meminumnya.
Aku membalikkan badanku ke arah lain. "Aku tidak kuliah hari ini, kalian saja yang kuliah."
"Jangan bercanda, Naruto, sudah sebulan kau tidak masuk kuliah! Kalau begini terus kau tidak akan lulus!"
Oh ya, aku lupa bilang. Satu lagi, kuliahku juga kacau. IP-ku selama 4 semester ke belakang, selalu di bawah 2,5. Sangat berbeda jauh dengan teman-temanku yang selalu mendapat IP di atas 3,5. Aku juga sering bolos kuliah. Kalaupun kuliah, yang kulakukan di kelas hanya melamun atau tidur. Intinya kepergianku ke Inggris bukannya membuat keadaanku lebih baik, tapi malah lebih parah. Mungkin Naruko benar, kepergianku ke Inggris hanya merupakan pelarianku, aku hanya lari dari masalah.
"Aku tidak peduli, biarkan aku tidur."
"Ugh, Naruko sudah menyuruh kami mengawasimu dan sekarang kelakuanmu begini. Sudah cukup kami membelamu, Naruto. Aku tidak punya pilihan selain melaporkan keadaanmu kepadanya. Ini demi kebaikanmu."
"Terserah."
Shion terdengar mendengus kesal, tapi tidak menanggapiku lagi setelah itu. Mereka bertiga akhirnya keluar dari kamarku. Sesaat aku memikirkan kata-kata Shion tadi. Tapi rasa malasku mengalahkan segalanya, aku lebih memilih untuk kembali melanjutkan tidurku.
Untuk kedua kalinya tidurku terganggu hari itu. Kali ini yang membangunkanku adalah perutku yang keroncongan. Tapi aku bersyukur kali ini rasa pusing di kepalaku sudah berkurang. Kulihat jam di atas meja, sudah jam 7 malam. Ah, jadi aku menghabiskan hari ini dengan tidur, benar-benar tidak punya semangat hidup. Kalau begini aku sudah seperti nokturnal, malam begadang dan siang tidur.
Aku berjalan ke dapur dan mencari makanan yang bisa mengganjal perutku. Saat aku akan membuka lemari es, aku melihat memo dari Shion yang menempel di pintu lemari es. Katanya makanan sisa makan malam ada di dalam lemari es, aku tinggal menghangatkannya. Ia, Sai dan Yakumo sedang keluar untuk mengunjungi pameran seni.
Aku tersenyum. Ternyata mereka masih mempedulikanku, walaupun terkadang aku sering merepotkan mereka.
Setelah selesai makan, bel pintu depan berbunyi. Awalnya kukira itu teman-temanku. Tapi kenapa mesti pake bel segala? Langsung saja masuk. Jadi aku simpulkan kalau itu bukan mereka. Dan ternyata benar, itu bukan mereka. Begitu kubuka pintu apartemen, kulihat orang yang sebenarnya sedang malas kutemui saat ini.
Naruko dan Sasuke.
Sasuke diam di belakang, sedangkan Naruko mendekatiku. Pandangan mata kami bertemu, shapire bertemu shapire. Kemudian Naruko memperhatikanku dari ujung kepala ke ujung kaki dan kembali ke mataku.
"Kau... kacau."
Itulah kalimat pertama yang keluar dari mulut Naruko. Ada nada kekhawatiran dalam kata-katanya. Aku memperhatikan diriku sendiri. Ya, Naruko benar, aku memang kacau, berantakan, seperti orang gila. Rambutku panjang tak beraturan, mukaku kusam, mataku merah, dan tubuhku kurus.
Wajar saja Naruko khawatir padaku, terakhir kali kami bertemu adalah tahun lalu. Itupun ia yang mengunjungiku kemari. Saat itu aku masih bisa menyembunyikan kesedihanku, aku masih bisa berpura-pura senang di depannya. Aku berusaha terlihat ceria. Aku yakinkan dia kalau aku akan baik-baik saja di Inggris.
Tapi sekarang berbeda. Kesedihan sudah mempengaruhi kehidupanku. Seperti yang dibilang Naruko tadi. Sekarang aku… kacau. Aku tidak mempedulikan kata-kata Naruko dan langsung duduk di sofa ruang tengah, Naruko dan Sasuke mengikutiku.
"Shion sudah bilang padaku tentang keadaanmu."
Oh, jadi tadi pagi Shion benar-benar melaporkanku kepada Naruko. Kupikir dia hanya menggertakku. Aku kesal dia melaporkanku pada Naruko, memangnya aku anak balita yang harus selalu dikontrol keadaannya? Tapi mau marah juga percuma, tadi pagi aku juga salah, malah bilang 'terserah'.
"Ada apa sebenarnya denganmu? Kau bukan Naruto-kun yang kukenal."
Aku kembali mengacuhkan Naruko. Aku hanya diam, tidak peduli pada kata-katanya. Sudah kubilang 'kan, aku sedang malas bertemu dengannya, aku malas mendengar ocehan-ocehannya.
"Karin-Neesan memang benar. Kau memang baka. Pasti gara-gara Hinata-chan 'kan?"
Kalimat terakhir Naruko menarikku dari ketidakpedulianku. Aku menatap Naruko kali ini, ia tersenyum puas mengetahui dirinya berhasil mengenai titik lemahku.
"Kupikir kau kuliah di Inggris agar kau bisa menenangkan pikiranmu. Tapi lihat keadaanmu sekarang. Ternyata benar dugaanku waktu itu, kau hanya lari dari masalah. Seharusnya kau selesaikan dulu masalahmu di Jepang. Kau tahu Naruto-kun? Hinata-chan tidak mungkin membencimu, ia selalu mencintaimu."
Aku menggigit bibir bawahku. Kenapa pembicaraan ini jadi membawa-bawa Hinata sih?
"Aku tahu," jawabku datar, sebisa mungkin tidak memperlihatkan ketertarikanku.
"Lalu kenapa kau lari? Padahal kau belum pernah sekalipun memberitahu Hiashi-san seberapa besar rasa cintaimu pada putrinya."
Aku mengalihkan pandanganku ke arah lain.
"Kau pengecut."
Aku melotot mendengar kata-kata Naruko barusan, kata-katanya sukses membuatku naik darah. Baiklah ini sudah keterlaluan. Aku tidak tahu apa tujuan sebenarnya dia ke Inggris, yang jelas aku tidak tahan lagi. Aku beranjak dari sofa dan menatap Naruko tajam.
"Aku bukan pengecut!" bentakku. Naruko terlihat tidak peduli. Kemudian aku berjalan cepat menuju lemari es. Naruko kembali mengikutiku.
"Lalu apa?" tanya Naruko lagi. Ugh, aku tidak suka sikapnya ini, dia terkesan menekanku.
"Aku hanya ingin yang terbaik untuk Hinata-chan," jawabku jujur.
"Yang mengetahui apa yang terbaik untuk Hinata-chan itu ya Hinata-chan sendiri. Bukan kau! Harusnya kau sadar itu. Hinata-chan menderita sekarang. Ia tidak mencintai calon suami pilihan ayahnya. Apa kau mau diam saja disini? Membusuk disini?"
Aku tidak menjawab. Aku mengambil sebotol minuman keras di lemari es dan menenggaknya. Sontak bola mata shapire Naruko membulat melihatku meminum minuman beralkohol.
"A-apa? Kau... kau minum ini?"
Naruko merebut botol minuman itu dari tanganku.
"Kenapa kau jadi kacau begini hah? Sejak kapan kau minum minuman beralkohol?"
Lagi –lagi aku diam. Aku duduk di kursi meja makan, mengeluarkan sebatang rokok dan menyalakannya.
"Kau juga merokok? Buang itu!" Naruko menarik rokokku dengan paksa dan mematikannya kemudian membuangnya. Jujur saja aku semakin kesal sekarang. Apa maunya sebenarnya?
"Sekarang dengarkan aku Naruto! Kau-"
"CUKUP!"
Aku memukul meja kemudian mendorong Naruko ke dinding, kedua tanganku kusimpan di sisi kepalanya.
"Aku sudah muak padamu! Aku bukan anak kecil lagi yang harus selalu kau atur! Apa hakmu untuk mengaturku? Aku berhak memilih jalan hidupku. Aku bosan selalu kau atur! Aku sudah tidak peduli lagi dengan janji kita. Kalau kau memang ingin segera menikah, menikahlah sana. Jangan menungguku."
Mataku melotot dan nafasku terangah-engah. Entah setan apa yang masuk ke tubuhku sampai aku memakinya habis-habisan begitu.
"Na-ru-to… hiks..."
Aku kembali sadar saat kulihat mata shapire Naruko yang mengeluarkan air mata. Aku sadar aku sudah keterlaluan. Aku bingung apa yang harus kulakukan sekarang. Dengan ragu kuarahkan tanganku ke pipinya, berusaha mengusap air matanya.
"Naruko, a-aku tidak bermaksud-"
Kata-kataku terhenti saat Naruko menepis tanganku dan menampar pipiku. Setelah itu ia berlari menuju ke luar apartemen. Saat aku berusaha mengejarnya keluar apartemen, Sasuke menahan bahuku kemudian memukul perutku.
"Ugh, jangan ikut campur urusan keluargaku Teme!"
Sasuke terdengar mendengus kesal. "Ck, aku tidak ikut campur urusanmu. Aku hanya memberi pelajaran kepada orang yang telah membuat tunanganku menangis. Dobe, apa kau lupa kalau dia perempuan? Apalagi dia kakakmu. Tak seharusnya kau sekasar itu. Kau benar-benar kekanakan Dobe."
Sasuke mendorongku hingga terjatuh menimpa rak sepatu.
Sesaat aku terdiam disana. Aku meringis memegang perutku. Sial kau Teme, kau benar-benar mengeluarkan semua kemampuanmu. Kemudian aku menunduk menyadari masalahku yang sekarang jadi semakin runyam. Jujur saja, hubunganku dan Naruko sangat baik sebelumnya. Kami jarang sekali bertengkar, hanya perdebatan kecil saja yang biasanya terjadi di antara kami. Kami sangat akrab, mungkin karena kami kembar. Teman-temanku sering iri melihat betapa aku sangat akrab dengan Naruko. Terakhir kali aku membuat Naruko menangis adalah saat awal ia pindah ke Jepang, saat kami masih sekolah. Aku begitu menyesalinya waktu itu.
Keadaan mulai berubah saat aku kuliah di Inggris. Tapi kukira hubungan kami yang renggang 2 tahun terakhir ini tidak akan memburuk. Tapi sekarang? Aku kembali membuatnya menangis. Ini membuatku merasa begitu bersalah. Aku melanggar janjiku untuk selalu menjaganya dan tidak membuatnya menangis. Semoga saja Deidara tidak tahu masalah ini, kalau dia tahu aku bisa kembali dihajarnya seperti dulu.
"Kami pulang." Lamunanku terhenti saat pintu apartemen terbuka.
Aku masih terduduk di lantai saat itu, aku mendongak dan melihat Shion, Sai dan Yakumo sudah pulang. "Selamat datang," jawabku lesu.
"Kenapa berantakan begini? Apa yang terjadi?" tanya Shion. Aku sadar rak sepatu yang tadi terjatuh belum kubereskan, sepatu-sepatu masih tergeletak disana-sini.
"Ah gomen, akan kubereskan." Aku berjalan memunguti sepatu yang berserakan. Ketiga temanku memandangku heran, terutama karena aku tidak menjawab pertanyaan Shion. Kemudian mereka saling bertukar pandangan.
"Naruto, apa yang terjadi?" kali ini giliran Sai yang bertanya.
Aku bersandar di dinding sambil memeluk lututku. Tidak ada gunanya aku diam, sekarang teman-temanku malah semakin penasaran, jadi lebih baik aku menceritakan apa yang terjadi. Lagipula mereka bertiga sudah kuanggap sahabat terdekatku.
"Tadi Naruko kesini."
Ketiga temanku sedikit kaget, terutama Shion. "Sekarang dia dimana?" tanyanya.
"Pulang. Aku membentaknya."
"Hah? Kenapa kau membentaknya?" tanya Shion.
"Ia terlalu mencampuri urusanku dengan Hinata."
Sai kemudian ikut duduk di sampingku, pandangannya lurus ke depan. "Aku tidak terlalu memahami hubungan persaudaraan karena aku tidak punya saudara. Tapi kurasa kalau kau sampai membentak Naruko, itu terlalu berlebihan. Biar bagaimanapun dia perempuan. Perempuan itu sensitif, Naruto."
Shion dan Yakumo mengangguk setuju mendengar pernyataan Sai.
"Selain itu seorang kakak berhak ikut campur masalah adiknya. Dia hanya ingin yang terbaik bagimu. Kau pikir untuk apa dia repot-repot mengurusimu? Aku yakin dia langsung berangkat ke Inggris begitu aku menelponnya dan menceritakan keadaanmu tadi pagi. Makanya dia bisa sampai di Inggris hari ini juga. Lalu apa sambutanmu? Kau malah membentaknya. Kalau aku jadi dia, lebih baik aku mengacuhkan adik sepertimu," ujar Shion panjang lebar.
Shion benar, pasti Naruko langsung berangkat ke Inggris begitu Shion menelponnya. Dia khawatir pada keadaanku. Ah, adik macam apa aku ini?
"Kau harus segera minta maaf Naruto," tambah Yakumo. "Naruko pasti sangat sedih. Aku tahu seberapa sayangnya dia padamu. Dulu saat kita masih di Konoha High, saat kita masih bermusuhan, aku begitu iri padamu dan Naruko. Kalian begitu akrab dan rukun. Bahkan saat kami berusaha menghancurkan tali persaudaraan kalian, kalian masih bisa mempertahankannya. Aku salut pada kalian. Tapi lihat keadaan kalian sekarang."
Bahkan Yakumo saja yang selama ini tidak banyak bicara, sekarang ikut menasihatiku.
"Aku perlu waktu untuk berpikir," kataku pelan. Kemudian aku pergi ke kamar dan membaringkan tubuhku di kasur. Aku mengingat kembali kata-kata ketiga temanku dan berusaha memikirkannya baik-baik.
London – Inggris, 4 Agustus 2018
"Naruto, mau ikut ke rumah orang tuaku di Sheffield? Sudah lama kita tidak kesana," ujar Shion saat kami sedang sarapan. Hari ini hari Sabtu dan kuliah memang libur.
"Ayo ikut saja Naruto. Siapa tahu kau bisa menenangkan pikiranmu disana," tambah Sai disela-sela kegiatannya mengolesi roti dengan selai cokelat.
Aku berpikir sejenak. Ini memang bukan pertama kalinya aku mengunjungi rumah Shion. Kami memang sering kesana. Bahkan aku sudah akrab dengan orang tua Shion.
"Ayolah, ibuku akan heran jika kau tidak ikut," kata Shion lagi.
Aku menatap ketiga temanku bergantian, mereka membalasku dengan tatapan penuh harap.
"Baiklah."
"Yeaahhh! Setelah sarapan kita siap-siap, jam 9 kita berangkat."
Aku ikut tersenyum melihat teman-temanku yang begitu bersemangat. Semoga saja benar, aku bisa menenangkan diriku disana.
Sesampainya di rumah Shion, kami disambut oleh orang tua Shion. Orang tuanya memang berbeda ras seperti orang tuaku. Ibunya dari Jepang dan ayahnya dari Inggris. Tapi pekerjaan ayahnya menuntut mereka untuk tinggal di Inggris.
Aku senang berada di rumah ini. Rumah Shion bergaya Jepang, jadi suasananya mengingatkanku pada rumahku di Jepang. Makanan dan minuman yang disajikan oleh ibu Shion kebanyakan makanan dan minuman Jepang. Begitu juga dengan makan siang hari itu, semua yang disajikan membuatku merindukan rumah.
Setelah selesai makan, kami berbincang-bincang riangan. Tapi aku tidak terlalu lama bergabung bersama mereka, aku lebih memilih untuk bersantai di teras belakang rumah. Hujan turun dengan lebat siang itu. Beruntung sekali kami sudah sampai di rumah ini. Akan merepotkan jika kami masih di jalan di tengah hujan lebat begini.
Aku memandangi tetes-tetes air hujan yang jatuh di hadapanku. Rasanya aku pernah mengalami hal ini.
"Ini teh untukmu."
Deg!
Aku langsung ingat kejadian 8 tahun lalu…
Saat itu aku sedang duduk di halte sekolah, hujan turun dengan lebat. Aku merasa bersalah karena telah meninggalkan Naruko sendirian di sekolah. Padahal waktu itu aku disuruh Kaa-san untuk mengantar-jemputnya dari dan ke sekolah.
Tapi tiba-tiba Naruko muncul dari belakangku, rupanya ia belum pulang. Kemudian ia membelikanku teh hangat dan kami minum bersama di tengah lebatnya hujan. Aku ingat waktu itu kami belum terlalu akrab karena Naruko baru seminggu di Jepang. Tapi aku masih ingat betapa besar usaha Naruko untuk bisa akrab denganku, ia menanyakan hal apa saja yang aku sukai kepada Kaa-san. Termasuk teh hangat kesukaanku. Makanya aku menyukai teh hangat yang dibelikannya waktu itu karena aromanya sangat kusuka, aroma jeruk.
Aku tersenyum mengingat kejadian itu.
"Naruto? Hei kenapa diam saja?"
Suara Shion menyadarkanku kembali. Aku sadar bukan Naruko yang saat ini memberiku segelas teh, tapi gadis pirang lain. Aku menerima teh yang diberikan Shion.
"A-arigatou."
"Hn." Kemudian Shion duduk di sampingku. "Kenapa melamun disini?"
"Aku ingat Naruko. Dulu dia pernah melakukan hal yang sama seperti yang kau lakukan barusan."
Shion manggut-manggut dan sesekali menyeruput teh miliknya.
"Jadi, kau sudah punya keputusan?" tanya Sai yang tanpa kuketahui sudah berada di belakangku. Yakumo juga berada di sampingnya.
"Ikuti apa kata hatimu Naruto," ujar Yakumo.
Aku tersenyum tulus dan memandang mereka bergantian. Sekarang aku sudah tahu apa kata hatiku. Aku ingin minta maaf kepada Naruko secepatnya. Aku tidak ingin membiarkan masalah ini berlarut-larut. Aku tidak ingin kehilangan Naruko untuk kedua kalinya.
"Arigatou, minna."
Ketiga temanku membalas senyumanku. Sai dan Yakumo akhirnya bergabung duduk bersamaku dan Shion. Aku senang mereka selalu menemaniku dalam keadaan apapun.
Konoha – Jepang, 7 Agustus 2018
Aku berdiri di depan sebuah rumah yang sudah 2 tahun ini tidak kukunjungi. Rumah tempat kelahiranku. Rumah yang punya banyak kenangan bagiku.
Rumahku di Konoha, Jepang.
Bukannya aku tidak ingin cepat-cepat pulang ke Jepang dan menemui Naruko, tapi ada beberapa hal yang harus kuurus di kampus dan baru bisa pulang hari ini.
Aku menekan bel di pintu. Lucu memang. Aku tahu ini rumahku, tapi tidak kesini selama 2 tahun membuatku merasa seperti orang lain dan merasa perlu menekan bel.
Tak lama kemudian, wanita berambut merah panjang membukakan pintu. Dialah Kaa-san.
"Naruto?" Ia terlihat ragu melihatku ada di hadapannya. Tapi kemudian ia langsung menghambur memelukku. "Ternyata benar ini kau Naruto, uh… Naru-chan-ku. Akhirnya kau mau pulang. Aku merindukanmu nak."
Aku terharu mendengar kata-kata Kaa-san, sekaligus tersenyum geli mendengar Kaa-san memanggilku dengan panggilan sayangnya. Aku jadi menyesal jarang pulang, ternyata Kaa-san benar-benar merindukanku. Aku membalas pelukan Kaa-san.
Tak lama kemudian Tou-san muncul dan tersenyum melihatku.
"Aku pulang Tou-san, Kaa-san."
Kaa-san semakin mempererat pelukannya. Kali ini Tou-san ikut memelukku.
Setelah melepas pelukan dan meluapkan rasa rindu kami, Kaa-san menarikku masuk ke dalam rumah. Dan aku melihat sekeliling ruangan mencari seseorang.
Aku mencari Nee-san-ku, Naruko.
"Dimana Naruko?" tanyaku kepada Kaa-san.
"Dia di kamarnya. Dia murung terus sejak pulang dari Inggris. Aku tidak tahu apa yang terjadi di antara kalian, tapi cepatlah kau temui dia sekarang."
"Baiklah, aku akan menemuinya."
Aku menghentikan langkahku di depan pintu Naruko. Aku semakin merasa bersalah, gara-gara aku Naruko jadi murung begini. Aku harus segera minta maaf. Aku tidak peduli jika Naruko akan mengusirku atau apapun. Yang jelas aku ingin segera menyelesaikan masalah kami, aku ingin kami akrab seperti dulu.
Aku mengetuk pintu kamarnya. Tidak butuh waktu lama sampai sang penghuni kamar membukakan pintu. Naruko langsung tersentak mengetahui siapa yang mengetuk pintunya.
"Na-ru…" Tangan kanannya menutup mulutnya, tanda kekagetan.
"Gomen, kemarin aku sudah keterlaluan." Aku menundukkan kepalaku, sudah siap menerima apa saja reaksinya. Mungkin tamparan lagi atau bentakkan.
Tapi aku salah. Ternyata tidak keduanya.
Aku merasakan dua tangan Naruko melingkar ke badanku. Ia memelukku. Aku merasakan kalau ia sedang terisak dalam pelukanku. Tapi kali ini aku tahu kalau itu tangisan kebahagiaan. Perasaan perempuan memang sangat sensitif. Aku merasa begitu bodoh karena kemarin sudah membentaknya.
Aku membalas pelukannya, kusimpan kepalaku di pundaknya dan kuusap pelan kepalanya. Aku sadar kalau aku begitu menyayangi kakakku ini.
"Gomen," lirihku.
Kurasakan Naruko menggeleng. "Lupakan itu Naruto-kun," balas Naruko disela tangisannya.
Kami berpelukan cukup lama, hingga akhirnya Naruko melepas pelukannya. Tetes-tetes air mata masih mengalir, menganak sungai di pipi putih Naruko. Dadaku terasa sakit melihatnya seperti ini. Sudah cukup aku membuatnya sedih, sekarang saatnya aku membuatnya bahagia. Aku menyeka air mata di pipinya.
Sudah kuputuskan, aku ingin mengejar mimpi kami. Aku ingin menepati janji kami 2 tahun lalu.
"Bantu aku untuk mewujudkan mimpi kita Nee-san," ujarku sambil tersenyum ke arah Naruko.
Kulihat perlahan-lahan bibir mungil Naruko melengkung, membentuk senyuman yang manis. Senyuman yang begitu kurindukan.
Naruko menggenggam kedua tanganku.
"Tentu saja Otouto, itu memang tugasku sebagai kakakmu."
To Be Continue...
A/N: TBC lagi deh. Chapter selanjutnya chapter terakhir. Review, review, review ;)
Arigatou
-rifuki-
