Tolong, Pliiiss banget dibaca...
Ehem... begini... saya mohon maaf yang sebesar-besarnya bagi pecinta bahasa baku yang kurang berkenan dengan ff saya yang nggak sopan. Tapi bagi saya, ff yg seperti ini lebih nyaman buatnya kalo pakek bahasa nggak baku. Saya suka bahasa penulisan yg sederhana, juga nggak terlalu serius. Dan sahabat saya mengakui inilah passion saya.
Saya juga sedang berusaha buat ff dengan bahasa baku. karna sejak awal saya buat akun ini adalah untuk mencurahkan isi hati saya dengan gaya bahasa yg baik dan benar. Jadi mohon bersabar dengan ff saya yang lain. Soalnya sebentar lagi saya harus bener-bener fokus belajar. Nggak ada nulis2 lagi. Sekitar 7 bulan InsyaAllah saya selese. Kalo memang memungkinkan, saya akan nyuri2 kesempatan buat nulis.
Sekali lagi Anwayf minta maaf jika masih ngeyel nglanjutin ff ini dg bahasa semau An.
Thanks udah berkenan membaca :))) Peace! :D aku sayang kaliaaaaan :*
Disclaimer: Naruto milik Masashi Kishimoto.
Saya tidak mengambil keuntungan apapun dalam pembuatan fanfiksi ini.
Dilarang menjiplak, mengopy, atau me-repost tanpa ijin.
Soalnya kalo karya kita di copy tanpa ijin tuh kayak punya pacar tapi ditikung sahabat sendiri. Sakit booooo! :D
Abandon
Chapter 2: Sasuke Uchiha
"Temeeeee...! Katanya lo putus ama Shion ya?!"
Suara Naruto yang menggelegar tapi cempreng itu mengusik mata Sasuke yang udah mau terpejam di bangku bawah pohon akasia. Pohon itu tumbuh rindang di pinggir halaman luas depan fakultas ekonomi dan bisnis.
"Hn," jawabnya malas masih dengan posisi berbaring. Astagaaaa! Ini masih terlalu pagi buat dengerin ocehan Naruto jabrik, pikirnya. Lagian mereka kan tetanggaan, emang nggak bisa ditunda dulu apa! Sasuke masih ngantuk berat karna tadi malem begadang nonton Liga Champions. Baru tidur di rumah satu jam! Gara-gara Kaa-san dan Itachi ngoprak-ngoprak tidur Sasuke cuma buat mandi biar nggak telat ngampus! Naruto sih, seger-seger aja badan dan pikirannya, soalnya kan tim bola kesayangan Naruto nggak masuk Liga Champions musim ini. Jadi nggak perlu ikutan begadang. Tinggal nonton highlights-nya aja.
Naruto dengan heboh mengguncang bahu Sasuke, "Kok lo bisa putus sih? Sayang tauk! Shion tubuhnya yahut begitu lo putusin! Lo pacaran ama dia kan udah tiga bulan! Tiga bulan, Teme.. tiga bulan!" Naruto mengacungkan tiga jarinya di hadapan Sasuke. "Itu rekor lo awet pacaran!"
"Aaarrrgghhh...! Dobe, brisiiiiik! Lo apa-apaan sih?!" dengan kesal, Sasuke bangun sambil ngacak-acak rambut raven item kebanggaannya. Dan kesempatan itu juga Naruto gunakan untuk duduk disamping Sasuke. Bersiap menginterogasi.
"Ceritain!" tuntut Naruto.
Sasuke menghela napas. Emang susah kalo udah berurusan sama Naruto. "Hn, gimana nggak gue putusin. Orang dia selingkuh sama Menma."
"Haaa?" Naruto cengo. "Lo putusin dia cuman gara-gara itu? Padahal lo sendiri sering jalan ama cewek lain, ciuman ama cewek lain tapi Shion nggak mutusin lo! Dan lo mutusin Shion karna dia selingkuh sama Menma? Ampun deh, Sas! Gue nggak ngerti level egois lo ada ditingkat berapa."
"Baka!" Sasuke menjitak kepala kuning Naruto. "Lo pikir dong! Masa gue yang keren, ganteng, tajir gini diselingkuhin sama Menma yang hidupnya pas-pasan! Muka pas-pasan, duitnya pas-pasan juga udah bersyukur banget," katanya sewot.
Menma juga anak beasiswa. Tapi dia nggak seberuntung Gaara yang punya kakak tajir. Kalo beasiswa Gaara dicabut, masih ada kakaknya yang membiayai. Nggak seperti Menma, ia harus belajar mati-matian untuk mempertahankan beasiswa. Menandingi otak para Mahasiswa Universitas Konoha Gakuen nggak semudah mengalahkan ribuan anak SD.
"Ya mungkin itu karna Shion cuma iseng deketin Menma. Terus sebagai cowok normal, Menmanya kegoda ama Shion. Lo kan tau sendiri Shion kayak gimana."
"Heh! dengerin ya... Gue bebas jalan ama siapa aja, tapi kalo cewek yang lagi deket ama gue jalan ama cowok lain, berarti udah lepas! Begitu juga kalo gue udah bosen, gue mempersilahkan mereka pergi," begitulah model hubungan yang dianut Sasuke. Intinya, yang memegang kendali adalah Sasuke. Semua terserah Sasuke, kapan jadian dan kapan putus. Apa yang ia ucapin tidak bisa diganggu gugat.
"Mendingan gue saranin lo balikan ama Shion deh. Lagian Shion keliatan nyesel banget."
"Dalam kamus gue, nggak ada yang namanya balikan. Mantan ya mantan! Kayak nggak ada cewek seksi lain aja!" balasnya. Namanya juga playboy kelas kakap, pengen jadian ama cewek model apa aja tinggal nunjuk deh...
Naruto menoyor pipi Sasuke pelan. Sebel dengan omongan Sasuke yang sombong begitu. "Kita kan bentar lagi wisuda, masa lo nggak punya PW alias Pendamping Wisuda? Apa kata orang kalo ngeliat Sasuke Uchiha, playboy paling populer di Konoha Gakuen jomblo pas acara wisuda!" Naruto sedikit geli juga membayangkan Sasuke jomblo pas acara wisuda. "Yang lain aja pada sibuk nyari pacar, ini malah mutusin pacar! Apalagi gue liat, lo akhir-akhir ini nggak pernah deketin cewek-cewek. Biasanya tiap ajaran baru lo pasti ngecengin Maba."
"Baka Naruto-dobe," panggilnya. "Yang namanya wisuda itu sendiri. Nggak mungkin kan, lo naik ke panggung pakek gandeng tangan pacar. Emang lo kira naek ke pelaminan!"
Naruto mendelik, "Bukan begitu, Baka! Maksud gue, setidaknya kan ada yang dipamerin ke temen gitu lhoo... biar nggak dikira jones."
"Lo kenapa sih? semenjak jadian ama Hinata jadi hobi banget ngurusin status orang. Biasanya lo paling sering nasehatin gue buat tobat," ucapan Sasuke hanya disambut cengiran bego.
Naruto emang baru jadian ama Hinata dua minggu lalu, tepatnya hari terakhir OSPEK. Pas waktu itu seluruh maba diwajibkan membuat surat cinta untuk senior. Dari sekian banyak surat dari maba cewek, satu-satunya surat yang ditujukan untuk Naruto hanya punya Hinata. Kebanyakan para maba cewek ngasih ke Gaara, Neji, bahkan Sasuke yang padahal tahun ini dia nggak mau ngospek maba.
Sebagai orang yang sering jadi korban friendzone (pernah chatting-an, telpon, jalan bareng, saling nyaman tapi nggak jadian), tentulah Naruto kejar Hinata yang terang-terangan menyatakan cinta dengan surat.
Di dalam surat tersebut, Hinata menceritakan awal pertemuannya yang menyebabkan ia jatuh cinta dengan putra tunggal Hokage tersebut. Usut punya usut, Hinata dulu adalah adik kelas Naruto waktu SD. Hinata selalu dididik jadi anak yang tertib, taat peraturan. Maka pada saat ia sekali melanggar peraturan, ia bakal ketakutan setengah mati. Seperti waktu dia kelas dua, ia pernah telat masuk kelas gara-gara ban mobil yang ia tumpangi bocor di tengah jalan. Jadi Hinata harus nunggu salah satu karyawan rumahnya datang dengan mobilnya yang lain. Setengah jam perjalanan dari rumah ke sekolah. Itupun kalo nggak macet!
Alhasil, Hinata terlambat untuk pertama kalinya. Pintu gerbangnya sih, masih kebuka setengah meter. Tapi pintu kelasnya udah tertutup semua! Hinata langsung gemeteran waktu ia memasuki lapangan yang biasa dipakek upacara. Tubuhnya mematung, Mata lavendernya mulai perih, pengen nangis. Bibirnya gemetar walau udah digigit. Detik berikutnya, pipinya basah oleh air mata. Ia mencoba berjalan dengan tangan mengusap air mata.
"Hei, kamu kenapa?" seseorang menepuk bahunya. Hinata mendongak, matanya menangkap cowok yang lebih tinggi darinya. Rambut kuningnya masih basah berantakan, seragamnya juga belum rapi. Tapi wajahnya kalem, kayak udah terbiasa terlambat. "Kok nggak masuk kelas?"
"Ta-takut..." jawabnya sesenggukan.
"Kamu kelas berapa?" tanya cowok itu lagi.
"2-A."
"Ayok, aku anterin.." ajaknya.
Hinata terperangah. Matanya berkedip beberapa kali. Memastikan omongan cowok itu. Bagaimana bisa ia nganterin Hinata kalo dia sendiri juga telat.
"Ta-tapi, Senpai-"
"Udah, percaya aja.. Aku kan Naruto Namikaze..." dan tangan Hinata pun digandeng Naruto menuju kelas 2-A.
Sejak saat itulah Hinata menaruh hati pada Naruto. Ia menganggap Naruto adalah pahlawannya. Naruto bisa meyakinkan guru, untuk tidak menghukum Hinata ataupun memarahi. Hinata semakin kagum sama Naruto. Walopun ia sering dihukum karna buat onar, tapi Hinata tetap menganggap Naruto sebagai orang yang baik.
Rasa kagum itu berubah menjadi suka dan berkembang menjadi cinta. Bahkan sampai Naruto lulus dari sekolah dan mereka nggak pernah ketemu, Hinata tetep cinta sama Naruto. Hingga takdir mempertemukan mereka lagi di UKG.
Sebenernya Hinata adalah tipe orang yang nggak berani mengungkapkan cinta. Tapi karna paksaan para senior-seniornya, terpaksa ia membuat pernyataan cinta lewat surat. Ia makin berani karna para senior bilang nggak akan membaca suratnya satu-persatu. Eh, ternyata ia tertipu! Maksudnya para senior, suratnya nggak dibaca satu-persatu oleh semua senior. Tapi tetap dibaca oleh orang yang bersangkutan atau yang dikirimi surat! Sumpah, Hinata malu setengah mati! Ia nggak tau gimana ekspresinya nanti kalo ketemu Naruto. Huweee... ternyata ketakutannya malah berbuah menjadi kesenangan. Naruto menerima cintanya! Iyalah.. Naruto yang udah lama jones mana mungkin nolak cewek secantik, sekaya, seanggun dan sesolekhah Hinata gini.
"Teme, Teme! Tuh cewek kayaknya cocok deh buat elo," Naruto menarik lengan baju Sasuke sedang tangan yang satunya menunjuk ke ujung gedung fakultas Ekonomi dan Bisnis.
Sasuke mengikuti arah pandang sobatnya. Nggak lama kemudian ia mendengus, bibir atasnya tertarik ke kanan. Matanya onyx-nya mendelik. Terang aja Sasuke pasang muka begitu, hla wong cewek yang dia lihat itu menurutnya kayak orang-orangan sawah! Tingginya paling cuma sedada Sasuke. Badannya kurus, datar lagi! Apalagi kaos lengan panjang yang dipakek kedodoran begitu. Baju udik, menurutnya. Mirip mbak kunti, bintang film horor yang kostumnya selalu kegedean. Jauh banget dari tipenya Sasuke yang seksi, montok, semok, badannya langsing kayak gitar Spanyol. Aduhai banget dah pokoknya! Lah ini apaan?! Sama orang-orangan sawah masih lebih bagus orang-orangan sawah, kalo ketiup angin nggak kabur. Kalo dia mah... kesenggol dikit juga roboh!
Yang bikin dia masih punya kesan manis adalah warna rambutnya yang pink. Mata hijau yang teduh, hidung mancung, bibir mungil dan kulit yang putih bersih. Udah itu doang!
"Dobe, lo gila ya?! Cewek begituan lo bilang cocok ama gue!" omel Sasuke.
"Lo pasti salah liat, Teme. Itu lho yang lagi jalan ama Gaara. Orang cantik sempurna gitu."
"Lo kira mata gue juling!" Sasuke menjitak Naruto. "Emang siapa lagi cewek yang jalan di koridor Fakultas Ekonomi? Yang lagi jalan ama Gaara itu kan?" Naruto mengangguk. "Mana ceweknya nempel-nempel Gaara lagi! Kalo sama Gaara aja ganjen gitu gimana ama gue?!" katanya bergidik jijik membayangkan hidupnya digelayuti makhluk pink manja.
"Yeee...! Gaara itu kakaknya tuh cewek! Lo jangan salah.. Diem-diem gitu, tuh cewek banyak yang ngincer tauk!"
Sasuke tertawa mengejek, "Cewek kurus, kucel, nggak punya bodi gitu disukai? Matanya siwer kali naksir dia!"
"Tapi sebenernya orangnya asyik, nggak ngebosenin. Apalagi ceweknya cantik, mungil, imut-imut gitu. Beruntung banget yang bakal jadi cowoknya!" Sasuke geleng-geleng, nggak abis pikir. "Gue aja langsung naksir ama dia waktu pertama kali liat. Kalo bukan karna gue tau Hinata suka ama gue, udah gue gaet tuh cewek. Tapi sekarang gue bersyukur banget punya Hinata. Dan tuh cewek kayaknya cocok buat lo. Gue ikhlas deh gebetan gue buat lo, Teme, banget malah..." Naruto menepuk bahu sobatnya. Sasuke makin bergidik ngeri.
"Ck, ck, ck... Dobe, Dobe... Gue nggak abis pikir, selera lo kok aneh-aneh gitu sih? Gue turut bersyukur lo dapetin Hinata yang sempurna itu," gantian Sasuke yang menepuk bahu Naruto, prihatin. "Udah, gue mau nyerahin skripsi ke Kakashi dulu," Sasuke bangkit berdiri lalu meninggal kan Naruto yang masih asyik memandangi Gaara dan Adeknya.
"Eh, Teme! Lo kok udah selese skripsinya?! Teme, tungguiiiiin...!"
Sasuke emang lebih unggul soal akademik. Liat aja, yang lain baru bimbingan skripsi, dia udah selese skripsi.
Walaupun Sasuke masih merasa enjoy ngejalanin hari-hari jomblonya, ia pun juga terbesit kepikiran punya cewek lagi. Soalnya makin hari makin banyak yang tau kalo dia jomblo. Banyak yang kasak-kusuk kalo Sasuke susah move on. Karna kan selama ini, masa jomblonya nggak pernah lebih dari tiga jam.
Lagi pula, Shion, mantannya yang satu ini emang rada nggak tau diri. Kalo yang lain, dikasih tatapan dingin juga udah ketar-ketir, nggak berani nyapa. Kalo, Shion malah makin pantang menyerah. Udah jelas-jelas Sasuke mutusin, teteeeeep aja ngejar! Ia kan risih, tiap di kampus di kejar-kejar setan, eh, maksudnya mantan! Mantan ama setan emang beda tipis sih...
"OHAYOU, SASUKE-KUUUUUUN...!"
Tidaaaaakk! Pliss... jangan sekarang deh, ia baru aja nyetandarin motor sport-nya sedetik yang lalu. Tiba-tiba nongol makhluk nyeremin yang disebut mantan, lagi keluar dari mobilnya, di ujung parkiran.
Tanpa berpikir lagi, Sasuke langsung ngacir menyelamatkan diri. Seakan nggak mau mangsa kesayangannya ilang, Shion mengejar Sasuke. Walau larinya agak susah karna pakek high hills dan rok mini tapi Shion tetap maju terus pantang mundur!
"Sasuke-kun Sayang, tungguiiiin...!"
Nggak bakalan didenger Sasuke! Karna Sasuke makin menambah kecepatannya. Tapi celaka! Saking semangatnya berlari, ia lupa belok dan malah tetep lurus. Padahal kalo belok kan ia nyampe fakultas Seni Budaya, ia bisa minta tolong Sai buat sembunyi. Terlambat buat puter balik! Sekarang ia udah nyampe di Gedung Senat dan di ujung sana ada toilet cewek. Tandanya jalan buntu!
"Hahh..! Hahhh..! Hahhh...!" Sasuke terengah-engah di depan toilet cewek. Abis hidup Sasuke, abiiiis! Udah nggak ada jalan keluar lagi.
"Sasuke-kun, kenapa lari? Hahh...! Hahh...!"
Sasuke terlonjak kaget. Anjiir! Ni, cewek cepet juga larinya. Padahal Shion kan paling benci yang namanya olah raga.
"Shion.." dengusnya.
"Sasuke-kun, aku kangen kamu tauuuuk!" Shion berlari manja ingin meluk Sasuke.
Tapi Sasuke menahannya, "Eh, tunggu dulu Shion!"
"Kenapa?" tanyanya heran.
"Kita kan udah putus," jelas Sasuke untuk kesekian kalinya.
"Tapi kan biasanya kamu nggak nolak kalo aku peluk. Lagian aku juga masih punya kesempatan buat jadi pacar kamu lagi. Aku tau kok kamu sebenernya masih sayang sama aku. Buktinya sampe sekarang belom punya pacar," katanya dengan tingkat kepedean tinggi.
Sasuke mendengus, "Sori, Shion... Gue udah punya pacar."
"UWAPAAAHH?!" jeritnya. Shion tertohok. Ia salah dengar kan? Iya, pasti salah dengar! Pasti! "Apa tadi kamu bilang?" tanyanya memastikan.
"Hn, gue udah punya pacar."
Kalimatnya sama! Berarti nggak salah dengar. Nggak terimaaaaa...! Pokoknya Nggak terimaaaaa! Nggak rela! Nggak ridhooo!
"Nggak! kamu pasti boong, iya kan? Kalo emang udah punya pacar, mana buktinya? mana pacar kamu?" desaknya.
Mati gue! batin Sasuke. Kami-sama yang baik hati dan tidak sombong, tolonglah hambamu ini...
Cklek!
Pintu toilet dibuka. Muncul lah seorang cewek mungil berambut pink. Entah setan apa yang merasuki Sasuke, ia langsung merangkul cewek tersebut.
"Ini ceweknya! Ini...!" Cewek tadi yang tak lain dan tak bukan adalah Sakura Haruno, terperanjat kaget tiba-tiba dipeluk cowok. Ia cuma bisa cengo sekaligus bingung sendiri. "Ini cewek gue," huwaaahhh! langsung deh mata Sakura melotot bulat-bulat. Ia pengen membantah tapi keduluan cewek di depannya.
"Ini, Sas?" Shion memastikan dengan nada seolah berkata, "Nggak salah nih?"
"Hn."
Shion mengamati Sakura dari ujung rambut sampe ujung kaki, tatapannya mengintimidasi bikin Sakura merasa tertelanjangi. "Dia kan udik, kecil lagi!" katanya, tatapannya kearah dada Sakura.
Yang begini nih, yang bikin emosi Sakura tersulut. Ia nggak terima dibanding-bandingin. Apalagi soal fisik! "Hehh! Jaga mulut lo!" emosi Sakura meledak. Shion dan Sasuke terperangah. "Emang kenapa kalo punya gue kecil?! Daripada punya lo tempayan! Pasti lo kalo lari lambat karna keberatan. Makanya otak sama otot yang ditinjolin, bukan dada! Dasar dada tempayan!" Sasuke tertawa geli, ternyata begini kalo cewek lagi debat soal fisik. Lucu juga... Shion aja sampe menganga. "Punya gue dong, ditutup rapet. Dijaga... Nggak kayak lo udah nonjol malah ditonjol-tonjolin, emang itu barang dagangan?"
"Hahahahha," Sasuke terbahak. Gila nih cewek! Koplak beneeerr...! Berani banget ngomong begitu depan senior. Sampe muka seniornya merah kayak abis berjemur tiga hari tiga malem!
"Lo juga! ngapain lo ketawa!" Sakura kini beralih ke Sasuke. "Denger ya.. Bilangin ke dia kalo gue bukan pa- epph! apph! mmmmpp!" dengan sigap Sasuke mempererat rangkulan dan mendekap mulut Sakura. Berabe kalo cewek ini sampe ngomong bukan pacarnya!
"Hn, gue duluan. Mau nganterin cewek gue ke kelasnya," katanya. Biar lebih mendramatisir, Sasuke mencium pipi Sakura.
Shion mematung! Sasuke membawa pergi Sakura secara paksa.
"Argghh!" Sasuke melepas dekapannya dan mengibas-ibas kan tangannya ke atas lalu ke bawah secara cepat berkali-kali. Tangannya digigit! Untung sekarang udah nyampe tempat sepi.
"Apa-apaan lo nyium gue!" damprat Sakura marah. Tangannya mengusap-usap pipinya kasar. Kayak baru aja kena kotoran paling najis! Gila apa?! Sakura belum pernah di cium cowok sekalipun! Jangankan dicium, dielus pipinya aja Sakura nggak mau!
Sedangkan Sasuke tercengang. Baru dicium pipinya aja udah kayak cacing kepanasan, gimana yang lain? "Yaelah, cuman nyium pipi doang! Cewek-cewek yang lain aja pada ngantri pengen gue cium."
"Idiiiiiihhh...! emang situ siapa?" sinisnya.
Hidup Sakura terlalu dekat dengan cowok-cowok yang tampangnya di atas rata-rata. Jadi nggak ngeh kriteria cowok kece. Ia emang nggak bisa nilai fisik cowok.
"Lo adeknya Gaara kan? Nama lo siapa?"
"Ngapain lo nanya-nanya nama gue?! Nggak penting lo tau nama gue!"
"Karna gue udah terlanjur bilang lo cewek gue, berarti detik ini lo resmi pacar gue," putusnya sepihak.
Kontan Sakura melotot garang. "Enak aja kalo ngomong! Ogah! Gue nggak mau jadi cewek lo. Najis! Kenal juga kagak!"
"Serius lo?" Sasuke merasa tersinggung. "Terus kenapa lo tadi bela-belain adu mulut sama Shion?"
"Itu karna gue nggak terima dilecehin. Bukan gara-gara gue belain elo!" jawabnya sarkastik.
"Udah terlanjur gue bilang kalo lo cewek gue, mau gimana lagi?" balas Sasuke nggak mau tau.
"Ya bilang aja udah putus! Beres kan?"
"Nggak bisa gitu dong! Gue kan belom punya cewek lain, jadi urusan sama Shion belom selese!"
"Astagaaaa! Lo kan tinggal nyari cewek lain trus lo ngomong itu cewek lo yang baru! Ribet amat sih!" Sasuke sendiri juga nggak ngerti kenapa dia bisa sengotot ini. Padahal kalo dipikir, gampang aja dia nyari cewek lain. "Udah ah! Gue mau cabut. Entar abang gue nyariin lagi. Inget ya, pokoknya gue bukan cewek lo!" tegasnya.
Sakura mau pergi tapi tangannya dicengkeram Sasuke. "Kalo lo nggak mau jadi cewek gue, lo pura-pura jadi cewek gue ya? Minimal sampe gue dapet cewek lain deh," Sasuke masih berusaha membujuk.
Sakura mendelik marah. Dengan sebal ia injak kaki cowok di hadapannya ini keras-keras dan berteriak, "ENGGAAAAKKK!"
-Tebese-
