Akhirnya bisa juga ngelanjutin cerita ini.
Makasih buat kak Irena yang berhasil menyalakan kembali lampu ide(?)ku yang sebelumnya sempat padam x'D
Kalau gitu langsung aja, selamat membaca! ^^
Warning : Elemental siblings, AU, OOC, typo(s).
Untuk event #FirstImpression
Disclaimer : Karakter milik Monsta, aku cuma minjam bentar buat dijadiin fanfic.
Seorang anak kecil yang memakai topi berwarna hitam dengan corak merah, berlari mengejar anak laki-laki lain yang berwajah sama dengannya yang tangah asyik mengendarai sepeda kecilnya.
"Gempa, jangan ngebut! Hati-hati!" seru Halilintar khawatir melihat adik termudanya mulai menaikkan kecepatan.
"Ahaha, nggak apa-apa kok, kak. Gempa kan udah jago!" seru Gempa balik sambil tertawa lepas.
Anak laki-laki lain yang juga berwajah sama ikut tertawa dan menepuk pelan pundak kakaknya yang berlari di sebelahnya.
"Kak Hali nggak perlu khawatir. Kan aku yang ngajarin Gempa, jadi dia pasti sama jagonya denganku!" ujar Taufan riang. Ia berlari lebih cepat untuk menyusul Gempa yang terlihat bersenang-senang dengan sepedanya, sementara sang kakak pertama terus mengawasi dengan cemas.
"Kak Halilintar, kak Taufan, lihat! Aku bisa lepasin tangan, lho!" seru Gempa sambil mengangkat tangannya ke atas dengan kaki yang terus mengayuh pedal sepeda dengan bersemangat.
"Bagus, Gempa! Kau memang adikku!" balas Taufan, mengacungkan jempolnya. Sang adik tersenyum senang karena mendapat pujian dari kakak keduanya. Ia mulai berzig-zag dengan sepeda kecilnya, namun tiba-tiba saja seekor kucing kecil melintas di depannya. Gempa dengan panik membelokkan sepedanya untuk menghindari si kucing. Sepeda itu pun oleng dan si kembaran ketiga Boboiboy mulai kehilangan keseimbangannya.
BRAK!
"HUWAAA!"
Anak laki-laki bertopi hitam-merah itu mendelik kesal ke arah adiknya yang tidak berhenti menangis. "Taufan, udah dong. Yang terluka kan Gempa, kenapa kau yang tidak berhenti menangis, sih?" ujar Halilintar sebal, sambil memapah Gempa yang berjalan terpincang-pincang di sebelahnya.
"Ha-habisnya … Kaki Gempa kan terkilir, pasti sakit banget. Aku nggak mau Gempa sakit …" ucap Taufan, masih terisak-isak.
"Makanya, jangan ajarin Gempa yang aneh-aneh, dong. Liat kan jadinya gimana," kata Halilintar.
"Kakiku nggak terlalu sakit kok, jadi kak Taufan nggak perlu nangis. Kak Halilintar juga jangan marahin kak Taufan, yang salah kan aku," kata Gempa.
"Huh, kalian memang adik-adik yang merepotkan," dengus Halilintar.
"Kak Hali jahat," ujar Taufan dengan wajah cemberut. Ia akhirnya berhenti menangis dan mulai mengusap bekas air mata di wajahnya.
"Biarin," kata Halilintar cuek.
Taufan memanyunkan bibirnya kesal, sementara kedua tangannya terus mendorong sepeda milik Gempa. Bocah bertopi biru itu melirik ke arah kaki kiri adiknya yang terdapat beberapa luka lecet, ditambah pergelangan kakinya yang terkilir.
"Gempa, maaf gara-gara aku kau jadi begini …" ucapnya sambil menunduk sedih.
"Eh? Kan aku udah bilang ini bukan salah kak Taufan. Lagian tadi aku juga bersenang-senang, kok. Lain kali kita main sepedanya sama-sama ya!" kata Gempa ceria.
Taufan mengangguk dan ikut tersenyum. "Oke! Tapi kamu nggak boleh jatuh lagi, lho. Aku nggak mau kalau sampai harus ngeliat kamu terluka lagi," ujarnya.
"Ya! Aku janji nggak akan jatuh atau terluka lagi!" kata Gempa sambil mengacungkan jari kelingkingnya.
"Oke, janji ya!" Taufan ikut mengacungkan jarinya dan menautkannya dengan jari Gempa. Gempa mengangguk dan tersenyum lebar.
.
.
.
"GEMPA!"
Taufan berlari masuk ke kamar adik kembarnya dan langsung menghampiri tubuh Gempa yang terbaring di dekat meja. Jantungnya seolah berhenti berdetak begitu melihat darah yang mengalir dari pergelangan tangan kiri Gempa. Matanya bergulir ke sebuah benda yang terletak di sebelah Gempa, sebuah pisau cutter. Gempa … bunuh diri?
"Gempa! GEMPA!" Taufan berlutut di sebelah tubuh yang terbaring itu dan berusaha membangunkan Gempa dengan menepuk-nepuk wajah pucat sang adik. Melihat tak ada tanda-tanda pergerakan dari Gempa, pemuda berjaket biru itu meletakkan kepalanya di dada adik kembarnya. Ia bisa mendengar irama detak jantung milik Gempa, tapi suara itu terdengar lemah.
Syukurlah, dia masih hidup … batin Taufan lega. Tapi ia juga takut karena mendengar suara detakannya yang begitu lemah, kalau tidak segera di bawa ke rumah sakit, bisa-bisa Gempa …
Taufan menyelipkan lengannya di balik punggung Gempa dan berusaha mengangkat tubuh sang adik, namun karena tangan —dan juga tubuhnya— gemetar hebat, ia jadi sedikit kesusahan untuk bangkit.
"Sial, kau tidak boleh mati Gempa! Aku tidak akan mengizinkanmu mati sebelum aku!"
Dengan mengerahkan seluruh usahanya, Taufan akhirnya berhasil bangkit berdiri dengan mengangkat Gempa di punggungnya. Tanpa menunggu lebih lama, pemuda berjaket biru itu segera berlari ke luar untuk membawa adik kesayangannya ke rumah sakit.
.
.
.
Halilintar menatap bayangan dirinya yang terpantul di kaca mesin penjual minuman. Sebuah luka sayatan memanjang di pipi kanannya terlihat jelas walaupun dari kaca buram ini. Pemuda itu berdecak pelan sambil menutupi luka itu dengan sebelah tangannya. Aku pasti akan diceramahi lagi oleh Gempa, pikirnya.
Kalau saja ia tidak terbawa emosi saat berhadapan dengan para preman tadi, mungkin wajahnya —yang memang sudah penuh luka lebam dan plester— tidak akan mendapat luka-luka baru.
Gempa menyuruhnya beristirahat di rumah seharian ini. Adiknya itu bahkan menuliskan surat izin untuknya agar bisa tidak masuk sekolah. Tapi Halilintar bukanlah orang yang betah duduk berdiam diri di rumah. Karena itu ia memutuskan untuk mencari sedikit udara segar di luar. Siapa sangka ia justru dihadang oleh sekelompok preman yang berniat memalaknya. Untunglah berkat kemampuan bela dirinya, dan juga pengalaman berkelahinya, Halilintar bisa mempertahankan uangnya dan hanya mendapatkan sebuah luka sayatan pisau di pipinya.
Setelah membeli sekaleng soda, pemuda berjaket hitam itu melangkahkan kakinya kembali ke rumah. Sebentar lagi mungkin adik-adiknya pulang. Ia ingin buru-buru mengobati luka di pipi kanannya sebelum dilihat oleh Gempa dan membuat sang adik bungsu kembali mengkhawatirkan dirinya.
Rumah berlantai dua yang ditinggalinya sejak kecil itu terlihat sepi saat Halilintar membuka pintu dan melangkah masuk. Matanya menatap jam dinding yang tergantung di ruang tamu. Pukul setengah enam. Seharusnya kedua adiknya —atau paling tidak si bungsu— sudah ada di rumah saat ini. Ia melirik rak sepatu dan melihat sepatu Gempa terpajang di sana. Aneh, walaupun sepatunya ada, tapi tidak ada tanda-tanda si pemilik sepatu ada di dalam rumah ini. Suasana yang sunyi dan mencekam entah kenapa membuat Halilintar sedikit merasa was-was. Rasanya ada sesuatu yang tidak beres di sini.
Halilintar melangkah perlahan menaiki tangga, ke arah kamarnya dan kedua adiknya. Begitu sampai di bagian atas tangga, matanya langsung menangkap hal yang tidak biasa. Pintu kamar Gempa yang berada paling dekat dengan tangga, terbuka lebar. Padahal biasanya pintu itu selalu tertutup, sama seperti pintu kamarnya dan Taufan.
Tanpa suara, Halilintar melangkah masuk ke kamar milik adik keduanya itu. Gelap, cahaya matahari senja yang menerobos masuk di antara celah jendela hanya bisa memperlihatkan siluet perabotan yang tersusun rapi, tapi tidak ada tanda-tanda kehadiran si kembaran termuda. Tangan Halilintar meraba dinding di sebelahnya, mencari saklar lampu, dan langsung menekan tombol on begitu ia menemukannya. Lampu pun menyala dan membuat Halilintar bisa melihat dengan lebih jelas. Hal pertama yang dilihatnya membuat nafasnya tercekat. Genangan cairan berwarna merah pekat di dekat meja belajar membuat Halilintar begerak mundur perlahan.
Darah …
Otaknya berputar cepat berusaha mencerna apa yang ada di hadapannya. Dan hanya satu hal yang terbersit di pikirannya.
Gempa!
Tanpa berpikir panjang, pemuda itu berlari meninggalkan kamar adiknya dan kembali menuruni tangga, sambil mati-matian berharap bahwa firasat buruknya tidak akan menjadi kenyataan.
.
.
.
Pemuda berjaket biru tua duduk seorang diri di ruang tunggu di depan UGD rumah sakit. Kepalanya tertunduk dalam, dengan kedua tangan menutupi wajahnya. Rambutnya yang biasanya tertutup topi yang sewarna dengan jaketnya, terlihat acak-acakan karena sedari tadi ia terus mengacaknya untuk melampiaskan rasa frustasi yang dirasakannya. Sudah berapa lama ia menunggu di sini? Sejam? Dua jam? Ia sudah tidak tau lagi. Rasanya ia sudah duduk di sini selama berabad-abad, tapi tetap tak ada kabar dari dokter yang menangani adiknya.
Apa yang terjadi pada Gempa? Apa dia akan mati? batin Taufan putus asa.
Di saat-saat seperti ini, Taufan ingin sekali menangis. Pasti air mata bisa membantunya menghilangkan perasaan ketakutan setengah mati yang sedari tadi dirasakannya. Tapi tak ada air mata yang mengalir dari kedua bola matanya. Mungkin kelenjar air matanya sudah mengering sejak ia terus menangisi perpisahan kedua orang tuanya.
Di antara ketiga Boboiboy, Taufan memang mempunyai sifat paling ceria. Berbeda dengan Halilintar yang selalu memasang wajah datar, atau Gempa yang hanya tersenyum seperlunya, si kembaran kedua suka sekali tersenyum dan tertawa. Terkadang ia senang menjahili orang lain atau sekedar melontarkan lelucon konyol untuk membuat orang-orang di sekitarnya ikut tertawa. Tapi Taufan juga yang paling cengeng di antara kedua kembarannya. Ia selalu menangis setiap kali jatuh atau terluka, juga saat dirinya merasa sedih dan takut.
Dan perceraian kedua orangtuanya tentu saja membuat hati Taufan hancur. Walaupun ia bersikap tidak peduli di luar, tapi diam-diam ia selalu menangis setiap malam. Taufan tidak pernah bisa bersikap dingin dan cuek seperti Halilintar, ia juga tidak bisa bersikap tegar seperti Gempa. Ia hanya bisa menangis dan menangis, sampai akhirnya tak ada air mata yang tersisa.
Detik demi detik terus berlalu tanpa ada kabar apa pun mengenai kondisi Gempa. Taufan tidak bergerak sedikit pun dari tempatnya sejak adiknya masuk ke UGD. Benaknya dipenuhi rasa ketakutan, takut adiknya tidak bisa diselamatkan lagi, takut adiknya akan pergi meninggalkannya sendiri. Apa yang harus ia lakukan jika Gempa pergi meninggalkannya?
Taufan mungkin tidak selalu rajin mengerjakan ibadah seperti adik kembarnya. Ia sering melalaikan shalat, ia juga jarang mengaji, padahal Gempa selalu mengajaknya mengaji bersama. Tapi untuk kali ini, Taufan berdoa dengan sungguh-sungguh di dalam hatinya. Ia memohon dengan sepenuh hati agar Tuhan tidak mengambil adiknya, satu-satunya orang yang paling ia sayangi di dunia ini.
"Taufan!"
Suara familiar yang menyerukan namanya membuat Taufan sedikit tersentak, namun ia tetap tidak mengangkat kepalanya yang terus ia benamkan ke dalam kedua tangannya.
"Taufan apa yang terjadi? Di mana Gempa?" Halilintar bertanya dengan suara terengah-engah karena kelelahan berlari. Ia akhirnya berhasil mengetahui lokasi kedua adiknya setelah bertanya pada tetangganya yang kebetulan melihat saat Taufan membawa Gempa ke rumah sakit.
"Hei, kau tidak mendengarku? Apa yang terjadi dengan Gempa?" tanya Halilintar lagi, meninggikan suaranya setelah tidak mendapat respon dari adik pertamanya.
"Untuk apa kau ke sini?" tanya Taufan dengan nada dingin. Ia masih menundukkan kepalanya dan menolak menatap Halilintar.
"Apa maksudmu? Tantu saja karena kau khawatir dengan Gempa! Apa yang terjadi padanya?" ujar Halilintar marah.
"Khawatir? Jangan membuatku tertawa." Si kembaran kedua akhirnya mengangkat kepalanya dan menatap Halilintar dengan tatapan sedingin es. "Bukannya selama ini kau selalu menghilang? Kau selalu pergi dari rumah, membuat Gempa selalu mengkhawatirkanmu setengah mati! Tapi apa kau pernah peduli? Apa kau pernah mencoba untuk berhenti berkelahi dan tidak membuatnya khawatir? Tidak, yang kau pikirkan hanya diirmu sendiri, kau tidak pernah memikirkan orang lain di sekitarmu. Dan sekarang kau bilang kau mengkhawatirkan Gempa? Kenapa baru sekarang? Apa akhirnya seseorang berhasil memukulmu cukup keras dan membuka kembali hatimu yang sudah membatu?"
Kata-kata meluncur keluar begitu saja dari mulut Taufan tanpa sempat dicegahnya. Lagipula tidak ada gunanya menahan-nahan lagi, ia sudah muak dengan tingkah kakak kembarnya yang selalu hanya mementingkan dirinya sendiri.
Kedua tangan Halilintar mengepal erat di kedua sisi tubuhnya. "Memangnya kau pikir kau berhak bicara begitu? Kau sendiri selalu membuat onar di sekolah dan membuat Gempa terlibat masalah. Kau juga sama tidak bergunanya seperti aku. Kita sama-sama tidak becus menjadi kakak untuk Gempa. Jadi berhenti menceramahiku seolah kau paling benar!" desisnya marah.
"Aku mungkin memang kakak yang tidak berguna. Tapi aku selalu ada di samping Gempa. Aku tidak pernah meninggalkannya seorang diri sepertimu!" Tapi di dalam hatinya Taufan menyadari bahwa kata-katanya itu hanya omong kosong belaka. Ia memang tidak pergi meninggalkan rumah seperti Halilintar, tapi ia menghabiskan hampir seluruh waktunya dengan mengurung diri di kamar, membiarkan Gempa mengurus semuanya seorang diri. Ia sama saja seperti Halilintar, mereka berdua sama-sama telah menelantarkan Gempa.
Kata-kata itu sepertinya berhasil menohok Halilintar. Ya, ia dan Taufan memang sama-sama pembuat onar dan selalu membuat adik mereka khawatir. Tapi berbeda dengan dirinya, Taufan selalu ada di rumah untuk menemani Gempa. Sedangkan ia hanya bisa terus melarikan diri dari kenyataan.
Halilintar berdiri mematung dengan ekspresi wajah terpukul. Kedua tangannya yang terus mengepal, akhirnya terbuka dan ia menundukkan wajahnya, yang kini tersembunyi di balik topi hitam miliknya.
"Kau mau tau apa yang terjadi dengan Gempa?" Taufan mengabaikan ekspresi terpukul yang sempat ia lihat di wajah kakak kembarnya. Ia ingin menyalurkan sebanyak mungkin rasa sakit dan juga rasa bersalah yang dirasakannya sejak menemukan Gempa di kamarnya. Lagipula mereka berdua memang bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada adik mereka. "Gempa … bunuh diri …" Suara Taufan bergetar sebelum akhrinya menghilang.
Padahal masih ada banyak makian dan amarah yang ingin ia tujukan pada kakaknya, namun ternyata Taufan memang tidak bisa berlama-lama bersikap keras. Ia bukan Halilintar. Dan saat kenyataan mengenai adiknya kembali merasuki pikirannya, Taufan pun kembali terpuruk dan hancur.
Si kembaran kedua kembali menundukkan wajahnya dan menyembunyikannya di kedua telapak tangannya.. Ia berharap bisa menumpahkan semuanya ke dalam tangisan, mungkin dengan begitu rasa sakit ini akan sedikit berkurang, tapi kenapa tetap tidak ada air mata yang keluar?
Sementara itu Halilintar terlihat seperti orang yang perutnya baru ditonjok. Wajahnya pucat pasi dan ia kelihatannya hampir muntah. Gempa … adik kecilnya, bunuh diri?
Tidak mungkin … Gempa bukan orang yang akan melakukan hal bodoh seperti itu. Gempa selalu berpikir rasional, ia selalu mencoba mencari hal positif dari setiap kejadian buruk yang dialaminya. Tak peduli seburuk apa pun masalah yang dihadapinya, Gempa selalu menyikapinya tenang, ia tidak akan pernah mengambil tindakan gegabah. Jadi … Gempa tidak mungkin bunuh diri kan?
Pintu ruang UGD yang sedari tadi tertutup rapat akhrinya terbuka. Seorang pria berjas putih melangkah keluar, dan kedua kembaran Boboiboy segera berlari menghampirinya.
"Bagaimana keadaan Gempa?"
"Apa dia baik-baik saja?"
Dokter itu menatap kedua pemuda kembar di hadapannya dari balik kacamatanya yang berbentuk persegi panjang.
"Kalian saudaranya?" tanya sang dokter.
"Ya, kami kakaknya," jawab Taufan.
"Di mana orang tua kalian?" tanya dokter itu lagi.
"Kami tidak punya orang tua," ujar Halilintar cepat. Taufan hanya meliriknya sekilas namun tidak berkata apa-apa.
Pria berjas putih itu terus menatap keduanya selama beberapa saat, sebelum akhirnya berdeham pelan dan menjawab pertanyaan mereka. "Adik kalian baik-baik saja," ujarnya.
Seolah ada beban berat yang terangkat dari pundaknya, Taufan menghembuskan nafas lega dan langsung jatuh berlutut karena kedua kakinya yang sedari tadi terus gemetar akhirnya tak sanggup lagi menyangga beban tubuhnya. Halilintar rmenutupi wajahnya dengan kedua tangannya sambil terus bergumam lega, "Syukurlah … syukurlah …"
"Adik kalian kehilangan banyak darah, tapi untungnya ia segera dibawa ke sini, kalau tidak nyawanya mungkin tidak akan bisa diselamatkan."
Taufan bergidik ngeri saat memikirkan kemungkinan ia pulang terlambat dan tidak sempat membawa Gempa ke rumah sakit tepat waktu. Mungkin saat ini dia benar-benar sudah kehilangan adik tersayangnya.
"Sebentar lagi dia akan dipindahkan ke kamar biasa. Kalian bisa menjenguknya setelah itu," kata dokter itu lagi.
"Terima kasih banyak, dokter," ucap Halilintar sambil membungkuk dalam. Taufan memaksa kakinya untuk bangkit dan ikut membungkuk penuh rasa terima kasih pada dokter yang telah menyelamatkan adiknya.
"Ya, sama-sama," ujar pria itu sambil menepuk kedua bahu pemuda itu dan tersenyum hangat. "Setelah ini jaga adik kalian baik-baik," ucapnya lembut sebelum akhirnya beranjak meninggalkan mereka berdua.
.
.
.
Halilintar duduk di sebelah Taufan dengan sedikit canggung. Mereka tidak saling mengucapkan apa pun sejak kepergian dokter tadi. Si kembaran tertua melirik adik pertamanya yang lagi-lagi menyembunyikan wajahnya di telapak tangan.
Mungkin ia masih sedikit terguncang, pikir Halilintar.
Walaupun dirinya sendiri merasa sangat terpukul dengan kejadian ini, tapi bagi Taufan yang menemukan Gempa yang tergeletak berlumuran darah di kamarnya, pasti hal itu benar-benar membuatnya shock. Halilintar sebenarnya heran karena Taufan tidak menangis sedikit pun sejak tadi, padahal biasanya anak itu pasti sudah menangis meraung-raung saat merasa sedih atau takut. Mungkin bukan hanya dirinya yang berubah sejak perceraian kedua orang tua mereka. Gempa yang tiba-tiba memutuskan untuk bunuh diri, dan juga Taufan yang tidak lagi cengeng, mereka juga telah berubah.
Si kembaran pertama bergerak gelisah di tempat duduknya. Ia tidak suka berada dalam suasana canggung seperti ini, apalagi bersama adik kembarnya yang satu ini. Halilintar membuka mulutnya untuk mengucapkan sesuatu, namun saat itu pintu ruang UGD kembali terbuka dan seorang perawat berjalan menghampiri mereka.
"Anda berdua keluarga pasien bernama Gempa?" tanyanya sopan.
"Ya, kami berdua kakak kembarnya," jawab Halilintar, menunjuk dirinya dan juga Taufan.
"Kalau begitu silakan isi berkas-berkas ini, sekalian juga mengurus biaya administrasinya," kata si perawat sambil menyerahkan beberapa lembar kertas.
"Ya, terima kasih," kata Halilintar. Si perawat pun berlalu meninggalkan kedua saudara kembar itu.
Taufan memandangi kertas-kertas yang berada di tangan kakaknya. "Darimana uang untuk membayar biaya administrasi? Apa kita harus minta sama ibu?" tanyanya sambil sedikit mengernyit.
"Tidak perlu," kata Halilintar. Memikirkan ia harus meminta uang pada ibu yang telah menelantarkan dirinya dan kedua adiknya membuat Halilintar muak. "Aku punya tabungan. Aku akan menggunakannya untuk membayar biaya rumah sakit Gempa," lanjutnya lagi.
"Kalau begitu aku juga …"
Halilintar segera memotong ucapan Taufan, "Tidak apa. Biar aku saja."
"Eh, tapi …"
"Sudahlah. Kau tunggu saja di sini. Aku akan segera kembali." Halilintar bangkit dari tempat duduknya. Baru saja ia hendak melangkah, Taufan kembali memanggilnya.
"Kak Hali …"
Halilintar berbalik dan menatap adiknya yang tengah menundukkan wajah sambil tangannya memainkan topi birunya. "Apa?"
"Soal kata-kataku yang tadi …"
"Kita akan membahas itu nanti," ucap Halilintar. Ya, ada banyak hal yang harus mereka bicarakan. Mungkin sudah saatnya membuang ego masing-masing dan mencoba kembali membuka hati untuk satu sama lain. Lagipula mereka anak kembar, tidak mudah untuk memutuskan hubungan yang terjalin erat di dalam diri mereka.
Taufan mengangguk. Ia menatap mata cokelat kakaknya yang persis sama dengan matanya. Cukup lama mereka saling bertatapan, seolah tengah mencoba berkomunikasi tanpa suara.
"Kalau begitu aku pergi dulu," kata Halilintar, sambil sedikit mengedikkan bahu.
"Ya," balas Taufan singkat.
Halilintar hendak berbalik saat sebuah suara memanggil nama mereka berdua. "Halilintar, Taufan!"
Ekspresi Halilintar langsung mengeras begitu melihat siapa yang tengah berlari menghampiri mereka, sementara Taufan terlihat kaget.
"Kau …" desis Halilintar.
Taufan segera bangkit dari tempat duduknya dan berlari menghampiri sosok itu.
"Ibu!"
.
.
.
Scene di awal yang tentang masa kecil mereka itu sebenarnya nggak penting, tapi entah kenapa aku pengen tetap masukin itu, yaah anggap aja sebagai selingan (?) #dilemparbatu
Makasih yang udah mau baca! Review?
