Author : Kiriya Diciannove
Title : Departures 2013
Disclaimer : All the cast belong to God, themselves, their parent, their Management.
The story is mine. No copas!
Cast : Main cast: Max Changmin.
Member TVXQ, JYJ from TVXQ, Super Junior, and other
Rate : T
Pairing : Yunjae. Yunjae's belong to Yjs!
Warning : AU, typo, OOC, Genderswitch, Sho-ai, yang gak suka GS bisa anggap ini fic Yaoi. Coz awalnya ini adalah fic Yaoi. Don't Like, Don't Read! ;) Mind to RnR? :3
Summary : Yunjaemin Family, Kyumin, GS, gak beli keduanya dari tadi ajaaaaaaa?! T_T/Saling tindih-menindih kayak adegan grepe-grepean. Udah gitu Changmin dibawah lagi…/ Kenapa kembali ke Korea? Ada alasan tertentu?/ Ahh… aku tidak bisa melakukan hal yang lebih jauh lagi…/ Kau bilang, hatimu masih milikku/Saranghae…
A/N : Mianhae, harusnya dichap kemarin Kiriya ngetiknya skul Changmin itu Junior high school, bukan senior. Mian~ nanti Kiriya edit. -bows-
:::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
How are you? How are you?
I'm still hurting over the breathing memories
Your voice that first whispered love to me,
Your voice that spoke of our end
I can't erase any of it – how about you?
(How are you-TVXQ)
::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
:::::::::::::::::
Departures ©Kiriya Diciannove
:::::::::::::::::
Chapter 2 – How are you?
Jaejoong hanya diam menatap Changmin yang hampir menghabiskan setoples cookies itu. Benar-benar anak ini food monster. Yeoja bermarga Kim itu menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Setelah selesai, mandilah, lalu temani umma ke suatu tempat, arra?"
"Nde…" sahut Changmin.
.
.
.
"Suatu tempat itu…"
"Hm, wae?" Tanya Jaejoong sambil menatap kearah Changmin.
"Maksud umma supermarket?!" lanjut Changmin dalam bentuk pertanyaan.
"Nde, persediaan bahan makanan didapur sudah habis, jadi kita harus segera membeli banyak bahan makanan untuk disimpan," jelas Jaejoong.
Changmin menggembungkan pipinya, sungguh, pergi ke supermarket tidak ada sama sekali dalam pikirannya. Dia menghela napas sambil memasukkan kedua tangannya kedalam saku jaket warna putih yang dia pakai. Tidak disangka Jaejoong memiliki banyak pakaian yang pas untuk Changmin. Termasuk jaket, baju, topi, dan celana jeans yang sekarang dipakai Changmin. Ah, dan piyama yang tadi pagi dia pakai.
"Tenang saja, setelah pulang, akan umma buatkan masakan yang enak, otte?"
"Jeongmal?!"
"Nde… Minnie, kajja," ucap Jaejoong yang memakai mantel hitam, jeans hitam, topi, dan kacamata –menyamar. Namun tetap terlihat elegan.
"Nde…"
.
Sesuatu yang benar-benar bisa diduga dari seseorang yang hebat di dapur, memilih bahan makanan dan sayuran dengan sangat teliti, sangat teliti, benar-benar teliti…
"Umma… sudah sepuluh menit nih, apa kau masih belum memilih yang mana yang akan kau beli?" Tanya Changmin bosan sambil memegang troli, bahkan dia sampai menguap lima kali lebih.
"Baiklah, keduanya saja," ucap Jaejoong mengambil keputusan yang hampir membuat Changmin headbang ke tembok terdekat. 'Kenapa gak beli keduanya dari tadi ajaaaaaaa?!' T_T
Seandainya saja Changmin berani membuang harga dirinya, mungkin dia sudah meraung-raung dari tadi supaya umma-nya itu lebih cepat dalam memilih barang. Ah, hal itu tidak akan terjadi. Dan jadilah Changmin hanya diam berjongkok sambil menumpu dagunya dengan kedua tangannya, menatap wajah cantik umma-nya itu, betapa dia merindukan sosok itu untuk berada disampingnya seperti dulu lagi.
Kembali Jaejoong memilih sayur mana yang harus dia beli, "Kau suka yang mana, Changmin-ah?"
"Dua-duanya juga tidak masalah, umma." sahut Changmin sambil merebut sayuran yang dipegang Jaejoong dan segera memasukkannya ke troli.
Hm, kalau soal makanan dia memang tidak pilih-pilih sih. Dia sepertinya bisa makan semuanya.
Area makanan ringan…
"Ya! Changmin-ah, kenapa semua jenis snack dan makanan kau masukkan ke troli?!" seru Jaejoong menatap tajam sambil melihat troli yang hampir penuh hanya karena berbagai jenis snack makanan ringan. Sementara sang pelaku hanya memasang tangan dengan pose peace.
"Letakkan kembali, kau tidak akan bisa menghabiskan semuanya…" ucap Jaejoong lagi, 'Kau hanya sebentar dirumah umma sampai appa-mu menjemputmu…' lanjut Jaejoong dalam hati.
"Aku tahu itu umma, tapi kan umma bisa menyimpannya di lemari, disimpan untuk nanti, saat aku datang lagi. Apa umma berpikir aku tidak akan datang lagi kerumah umma setelah ini, eoh?"
"Mianhae, daripada makanan berbahan pengawet seperti ini, lebih baik nanti umma yang membuatkan sesuatu untukmu, apapun yang kamu minta asalkan kamu jangan terlalu banyak makan junk food. Arra?"
Changmin memasang pose berpikir, "Apa bisa buatkan cookies berbentuk gajah dan beruang lagi?
"Apapun itu, sekarang cepat kembalikan snack-snack ini." Perintah Jaejoong.
"Oke…" sahut Changmin sambil mengangkat jempolnya.
Tampak Jaejoong sedang sibuk memilih produk kesehatan, membanding-bandingkan harga dan manfaatnya.
'Ckck, umma masih saja perhitungan,' Batin Changmin.
Gyutt!
"!" Changmin kaget ketika seseorang muncul memeluknya dari belakang.
"Ya! Ming! Jangan sembarang memeluk orang!" Kyuhyun setengah berteriak sambil mem-pause game di PSP miliknya, "Eh, Changmin?"
"Kalian?" ujar Changmin seraya menoleh kearah dua orang yang dia kenal itu.
"Hee, annyeong, Changminnie…" seru Sungmin sambil melepas pelukannya, "Sepertinya kau terlihat lebih sehat sekarang."
"Hm," Changmin mengangguk, "Aku baik-baik saja, sedang apa kalian berdua disini hyung? Kencan?"
"Tentu saja belanja, pabbo, mana mungkin aku mau kencan di supermarket," ucap Kyuhyun ketus sambil kembali memainkan game-nya. Tidak lupa bonus pukulan dari Sungmin karena sudah mengucapkan kata yang tidak sopan.
"Appo…" rintih Kyuhyun sambil mem-poutkan bibirnya. Dia masih kesal karena ternyata orang yang mengikat janji dengan Sungmin hari ini ternyata adalah umma Kyuhyun sendiri (yang ternyata adalah janji untuk pergi ke supermarket). Sehingga, mau marah gimanapun, mana berani dia pada umma-nya yang galaknya minta ampun. Bisa dibilang kalau Kyuhyun evil, umma-nya ketua evil... yeah, buah gak jatuh jauh dari pohonnya. Buah mangga, pohonnya juga pohon mangga, fenomena alam tentang keanehan pohon nangka berbuah pisang gak dihitung.
"Bertiga tepatnya," sahut Sungmin sambil menunjuk seorang yeoja cantik dibelakang mereka.
"Oh, annyeong ahjumma…" Changmin membungkuk kearah yeoja cantik itu.
Yeoja cantik itu menghentikan troli yang didorongnya, "Oh, Changmin-ah, annyeong. Bersama siapa kau kesini? Tidak pergi sendirian kan?" Tanya yeoja cantik yang bernama Heechul itu. Tidak mungkin seorang anak laki-laki umur sepuluh tahun ini berjalan sendirian ke supermarket, kan?
Changmin menggeleng, kemudian menarik ujung mantel seseorang yang masih sibuk memilih barang, "Wae, Changminnie— eh, Heechul-eonnie?" ucap Jaejoong sedikit kaget menyadari kehadiran Heechul.
"Jaejoong-ah, tidak kusangka kita akan bertemu disini," balas Heechul tidak kalah kagetnya, sejurus kemudian tersenyum. "Menurutku yang warna merah lebih bagus, aku menggunakan produk itu," ucapnya lagi sambil menunjuk kearah dua barang yang sedang Jaejoong pegang.
Jaejoong hanya mengangguk sambil memasukkan benda berwarna merah itu ke trolinya dan menaruh kembali yang warna putih.
.
"Bagaimana keadaanmu sekarang?" Tanya Heechul berbasa-basi sambil menghirup cappuccino pesanannya yang baru saja diantarkan oleh pelayan.
Sementara Jaejoong sendiri hanya menatap minuman yang sama persis dia pesan seperti milik Heechul.
Cappuccino.
Saat ini mereka berlima sedang berada di restoran kecil tidak jauh dari supermarket. Walaupun duduk mereka berdua terpisah cukup jauh dari trio anak yang baru menginjak SMP itu. Pembicaraan orang dewasa. Kira-kira itulah alasan yang diucapkan Heechul kepada Kyuhyun – anaknya, dan juga Sungmin serta Changmin. Sementara dua orang dewasa itu sibuk mengobrol, tiga anak-anak itupun sibuk dengan kegiatan mereka, Changmin yang sibuk makan, demi tuhan, dia hampir memesan semua menu yang ada di restoran itu! Sementara Kyuhyun sibuk dengan PSP tercintanya yang sepertinya sudah hampir level tertinggi, dan Sungmin yang terkadang menyuapi Kyuhyun dengan suka rela walau kadang Kyuhyun menggeleng karena namja kelinci itu menyuapinya dengan sayuran (walaupun konsentrasi penuh pada PSP, dia masih bisa mengetahui kalau akan disuapi sayur). Sehingga Sungmin mengerucutkan bibirnya dan memakannya sendiri atau terkadang mengarahkan sendoknya kepada Changmin yang senang-senang saja menerimanya, toh dia suka makan apa saja termasuk sayur. Akur sekali.
"Keadaanku sepertinya sama denganmu, eonni." Sahut Jaejoong sambil menatap Heechul yang tampak menikmati cappuccino pesanannya.
"Benarkah? Padahal kupikir keadaanku lebih mirip dengan Yunho dibandingkan denganmu," ujar Heechul.
Jaejoong tersentak, "Bukan begitu… maksudku, aku baik-baik saja eonni."
"Kita semua tidak baik-baik saja, Jaejoong-ah… kau tahu itu," Heechul menancapkan pisau ke steak pesanannya.
"Ini jawaban atas pilihan kita, eonni. Harus berpisah dengan orang yang kita cintai."
"Hahaha, kau benar juga." Heechul tertawa renyah.
Itu bukan hal lucu, Jaejoong hanya diam menatap Heechul.
"Kenapa kembali ke Korea? Ada alasan tertentu?"
"Tidak ada alasan tertentu, hanya ingin. Aku merindukan banyak hal."
"Yunho?"
"Kau tahu jawabannya, eonni," desah Jaejoong tampak lelah.
"Aku juga merindukan banyak hal Jaejoong-ah, hal yang Cuma ada di masa lalu."
Keheningan menyelimuti mereka berdua diantara sayup-sayup ributnya orang yang memesan makanan di restoran itu. Seakan mereka sedang berada didunia yang hanya dimengerti mereka berdua.
[How are you]
"Nah, tuh kan benar, mendung lagi." Gumam Changmin sambil menatap langit dari jendela samping dapur. Langit dan awan yang tadinya cerah berubah menjadi hitam kelabu. Angin diluar rumah pun mulai bertiup kencang. Benar-benar ekstrim. Membuat Changmin bergidik membayangkan kalau dirinya akan diterbangkan angin karena ukuran tubuhnya yang cukup kurus, tapi setidaknya mungkin Kyuhyun juga bisa diterbangkan angin ribut, mereka berdua kan sama-sama kurus. Oh, iya, Sungmin-hyung bagaimana, dia kan imut-pendek-manis, apa mungkin bakal terbang juga, kalau nggak terbang siapa dulu yang bakal ditolongin Sungmin-hyung, Kyuhyun atau Changmin ya?
Sesaat Changmin sweatdrop sendiri. Ngapain dia mikir yang aneh begini coba?
"Minnie, daripada melamun begitu, sebaiknya kau lanjutkan memotong sayurnya," ujar Jaejoong yang sibuk menyalakan kompor gas.
Haaah… Changmin menarik napas, rasanya dia gak bilang pengen bantu di dapur deh, kenapa sekarang dia malah bantu umma-nya itu masak coba? Dia itu penikmat makanan, bukan pembuat. Lagipula, apa ini? Kenapa dia harus memakai apron warna pink. Ini benar-benar berbahaya bagi reputasinya kalau sampai Kyuhyun -sahabat evil-nya itu memergokinya sedang memakai benda ini, memfotonya lalu menyebarkannya di mading sekolah. Andwae?! Beda kalau Sungmin-hyung yang memergokinya sih gak masalah, mungkin dia malah diajak masak bersama, lalu makan bersama. Haha, romantis. Err… dibagian mananya?
Halah, banyak ngeluh. Sekali-kali membantu juga gak masalah kan, toh cuma memotong-motong sayuran. Daripada bengong lalu kesurupan hanya karena ngeliatin umma-mu yang lagi sibuk memotong wartel dengan potongan-potongan berbentuk kembang dengan lima kelopak (how cute)… gimana?
Lagipula mana mungkin evil satu itu kesini, kan.
Kamu kan anak pintar, rajin dan suka menabung. Oke, siip. Ikhlas…
"Nde…" sahut Changmin sambil mengangkat pisaunya keatas.
Sepertinya malaikat disamping Changmin berhasil membawa Changmin kejalan yang benar. Untuk sementara.
Akhirnya… setelah mendung yang berkepanjangan, hujan turun juga di bumi Seoul. Sudah tiga menit lewat sejak Changmin selesai membantu umma-nya, dan sekarang yang dia lakukan hanyalah menatap hujan yang turun diluar sambil menumpu dagunya di meja, menunggu waktu makan siang. Menunggu sesuatu memang selalu terasa lama ya? Pengen ngemil, tapi malah dilarang umma-nya dengan alasan tidak baik ngemil sebelum makan. Tapi rasanya senang juga, diomeli begini. Sudah lama rasanya tidak merasakan hal seperti ini.
Ting tong!
Bel rumah berbunyi.
"Siapa ya?" gumam Jaejoong, "Apa mungkin itu appa-mu yang datang untuk menjemputmu? Tolong buka pintunya, Minnie!"
"Andwaeeee! Aku belum makan umma! Masa disuruh pulang?" protes Changmin tidak terima.
"Tentu saja nggak chagi… makan siang dulu, baru pulang!" sahut Jaejoong sedikit tidak rela, secepat ini kah perpisahan mereka, belum sehari mereka bersama. Dia masih belum puas menghabiskan waktu bersama anaknya itu. Apakah dia terlalu egois?
Sambil melangkah dengan malas, Changmin berjalan kearah pintu.
Kreek!
Pintu dibuka.
"Ya! Jaejoong-noona, lama sekali—Changmin-ah?!"
Junsu dan Yoochun tampak memasang wajah terkejut melihat Changmin yang membukakan mereka pintu.
"Changmin-ah, bogoshippo…!" seru Junsu dan Yoochun langsung menghambur kepelukan Changmin.
"Ya! Ya! Andwae! Kalian basah-basahan begini berani memelukku eoh?!" jerit Changmin sambil berusaha melepaskan diri dari jeratan pelukan maut Yoosu.
"Kita kan sudah lama tidak bertemu Changmin-ah!" seru Junsu sesegukan.
"Apa kau tidak merindukan hyung-mu yang tampan ini, Changmin-ah?" Tanya Yoochun sambil memasang pose charming. Pose iklan pasta gigi.
"A—aku merindukan kalian, tapi gak gini juga!" teriak Changmin yang tertindih oleh mereka di lantai sambil berguling-gulingan.
"Ngapain kalian bertiga?" Tanya Jaejoong yang baru saja muncul dari dapur masih dengan apronnya, dan langsung melihat sepupunya (Yoochun), keponakannya (Junsu) dan putranya (Changmin) sedang berada dalam keadaan yang tidak elit sama sekali. Saling tindih-menindih kayak adegan grepe-grepean. Udah gitu Changmin dibawah Junsu dan Yoochun lagi.
"Ah, noona, kami pulaaaaang," seru Junsu sambil memeluk Jaejoong. Remaja berumur 15 tahun itu benar-benar bersemangat sepertinya.
"Urusan kalian di Busan sudah selesai?" Tanya Jaejoong lagi sambil menatap Yoochun.
"Nde, lebih cepat dari yang kami kira, noona," jawab Yoochun yang dua tahun lebih tua dari Junsu.
"Baguslah kalau begitu, sebaiknya kalian segera ganti baju kalau tidak ingin sakit," ujar Jaejoong mengingatkan.
"Nde…" koor Yoochun dan Junsu sambil menarik koper mereka.
[Departures-How are you]
Di kafeteria…
"Kau terlihat mengerikan, Jung Yunho. Lembur bahkan dihari minggu?" Tanya seorang yeoja cantik sambil menyerahkan sebuah kopi kaleng.
Yunho membuka penutup minuman itu sambil meminumnya perlahan, "Yeah, begitulah."
"Kenapa tidak memilih menjadi artis atau model sepertiku saja, daripada dibidang pemasaran sepertimu itu, walaupun kita sama-sama dibawah naungan SMent, tapi kau terlihat lebih menyedihkan." Ujar Heechul sambil meletakkan kopi kaleng miliknya sendiri di meja.
"Benarkah?" Yunho terkesan tidak begitu peduli.
"Kasihan," ledek Heechul sambil duduk dikursi depan Yunho sambil menyilangkan kaki jenjangnya.
"Aku tidak perlu dikasihani, Heechul-noona."
"Maksudku, Changminnie."
Yunho terkesiap namun dapat segera menguasai dirinya kembali, "Saat ini dia bersama umma-nya, kupikir dia baik-baik saja."
Heechul yang meminum kopinya terdiam sesaat, "Oh, kau sudah tahu kalau Jaejoong sudah kembali ke Korea, ne?"
"Dia menelponku dan memberitahu kalau Changmin sedang bersamanya."
"Ini sudah tiga tahun lho, apa kau senang dia kembali ke Korea?" Heechul lagi-lagi memberi pertanyaan.
"Haruskah aku menjawabnya?"
"Tidak juga sih. Tadi pagi aku bertemu dengannya di supermarket. Dia tidak banyak berubah, masih tipe orang yang teliti dan masih cantik seperti dulu. Kau harusnya senang pernah memilikinya."
Yunho mendengus pelan, "Pernah? Kau meledekku, noona?"
"Hm, bisa jadi. Tapi aku tadi tidak ada maksud untuk meledekmu sama sekali."
Yunho hanya diam sambil menyesap kopi kaleng itu, dia menggoyangkan kaleng itu sehingga menimbulkan bunyi riak air didalamnya, kemudian dia meminumnya kembali hingga habis.
"Gomawo untuk kopinya, noona."
"Cheonmaneyo."
Yunho melirik arlojinya, "Sudah sore, aku harus segera pergi,"
"Diluar masih hujan," ucap Heechul sambil melipat tangannya, udara dingin dari hujan sepertinya terasa sampai kedalam kafetaria.
"Aku bawa mobil."
"Kau ingin segera bertemu Jaejoong, atau menjemput Changmin dan memisahkan mereka?"
Jantung Yunho terasa berdesir mendengar ucapan Heechul, "Huh?"
"Lupakan saja apa yang ku ucapkan. Cukup berhati-hati, ne? Hujan deras dan angin bertiup kencang."
Yunho mengangguk, "Permisi."
Heechul membiarkan namja itu pergi, sementara dia diam menatap hujan yang masih turun dengan derasnya. "Ah, akupun sebenarnya juga terlihat menyedihkan…"
Tiba-tiba tampak seseorang melambaikan tangannya kearah yeoja cantik itu.
"Lama menunggu, noona?" seorang namja tampan dengan lesung pipit menghampirinya.
"Tidak juga, Siwonnie," Heechul menumpu dagunya dengan kedua tangannya di meja.
"Syukurlah, aku buru-buru kesini," ujar Siwon sambil menyambar kopi milik Heechul yang berada di meja dan meminumnya.
"Santai saja Siwonnie, toh aku punya banyak waktu luang hari ini, kau juga kan?"
"Nde, syutingku sudah selesai tadi siang, yeah, kurasa kita punya banyak waktu untuk mengobrol, mungkin?"
"Haha, sepertinya begitu. Kita juga bisa melakukan banyak hal, kau tahu," sahut Heechul setengah bercanda.
"Haha, ne!"
.
Namja bermarga Jung itu berjalan menuju parkiran beserta dengan lamunannya, tentu dia mendengar jelas apa yang Heechul katakan, mungkin ini memang tidak semudah mengetuk pintu rumah Jaejoong-menjemput Changmin-pulang kerumah. Entah bagaimana sosok Jaejoong sekarang, meskipun Heechul sudah bilang dia –Kim Jaejoong tidak banyak berubah, tambah cantik, atau apapun itu. Mereka tidak punya hubungan seperti dulu lagi. Mereka memang tidak sepenuhnya lost kontak. Changmin masih sering menelpon umma-nya itu. Kira-kira bagaimana perasaan mereka akan saling bertemu lagi setelah tiga tahun lamanya? Yunho meletakkan tangannya di depan dadanya, tepat didepan area jantungnya berdetak. Rasa cinta itu mungkin masih ada disini. Apa yang seorang Jung Yunho harapkan? Mereka tidak akan bisa bersama selama dia masih bekerja di SMEnt. Ah, terlalu banyak masalah yang Yunho pikirkan. Astaga, dia benar-benar lelah sekarang.
Yunho menyandarkan dahinya pada setir mobil. Pikirannya menerawang jauh.
Changmin yang memilih untuk tinggal bersama appa-nya, saat itu umurnya masih tujuh tahun. Sejak awal Changmin seharusnya cukup pintar untuk tahu, kalau dia lebih memilih untuk tinggal bersama appa-nya, mereka tidak akan bisa menghabiskan banyak waktu bersama, dikarenakan kesibukan pekerjaan Yunho di kantor. Itulah yang dikatakan Yunho. Sebenarnya tidak jauh berbeda dengan Jaejoong yang juga sibuk sebagai seorang penyanyi terkenal, Kim Jaejoong, tapi mungkin jika dipikirkan sekali lagi, ada baiknya Changmin tinggal bersama umma-nya… haruskah dia melepas anak imutnya itu sekarang? Tapi, alasan dia masih bisa bertahan seperti ini, karena ada Changmin disisinya, kalau Changmin-pun pergi dari sampingnya… akan jadi bagaimana?
Mobil milik Yunho akhirnya melaju ditengah derasnya hujan, menuju kearah rumah Jaejoong.
.
Haruman nibangui chimdaega dwegoshipo
Do dasuhi pogunhi nae pume gamssa ango jaeugo shipo
Aju jagun dwichogimdo noui joguman sogsagime
Nan ggumsogui gwemurdo I gyonae borir thende
Ponsel milik Jaejoong berbunyi, tanda ada panggilan masuk. Dari Jung Yunho. Jantungnya merasa sedikit berdebar.
Deg!
Pip!
"Yoboseyo?"
Terdengar sahutan dari seberang telpon, "Aku di depan rumahmu."
"B—baiklah…"
Yeoja cantik itu segera berjalan menuju pintu dengan perasaan yang campur aduk. Sementara tiga orang lainnya – Yoosumin tertidur saling bersandar di sofa dengan televisi tetap menyala, menayangkan acara animasi berjudul Pororo.
Kreeek…
Jaejoong membuka pintu dan mendapati Yunho berdiri di depannya sambil memegang payung hitam. Jaejoong sedikit mendongak untuk melihat keseluruhan postur namja tampan yang berada di depannya. Yang sudah tiga tahun lamanya tidak bertemu secara langsung. Masih dengan seragam kantornya, wajahnya masih tetap terlihat tampan walau tampak lelah. Sepertinya setelah selesai urusannya di kantor, Yunho langsung menuju kesini untuk menjemput Changmin. Ah, benar… Changmin.
.
Benar apa yang dikatakan oleh Heechul, Kim Jaejoong tidak banyak berubah. Masih tetap terlihat err –semakin cantik. Mata doe-nya itu masih sama indahnya seperti dulu sama seperti bibir cherry miliknya.
"Diluar sedang hujan, masuklah dulu, Changmin sepertinya ketiduran waktu menonton televisi bersama Junsu dan Yoochun." Ujar Jaejoong menghentikan scene saling-tatap-menatap sambil membukakan pintu. Hujan selalu bisa membuat suasana terasa berbeda, ya?
Yunho hanya mengangguk sambil masuk dan menutup payung hitamnya dan meletakkan ditempat payung disamping pintu.
Tampak Yunho melihat tiga namja yang jauh lebih muda darinya dan Jaejoong terlelap dengan posisi yang manis dan tenang. Sungguh, saat tidur seperti itu sisi evil tidak terlihat sama sekali, benar-benar Nampak terlihat polos seperti anak seusianya.
"Ah, aku akan segera membangunkan Changmin—"
Yunho menahan tangan Jaejoong, sehingga membuat Jaejoong sontak menatap kearahnya.
"Biarkan saja mereka lebih lama seperti itu," cegah Yunho.
Awkward.
"B –baiklah."
Yunho melepaskan genggaman tangannya.
Awkward.
"Aku akan membuatkanmu minuman hangat, duduk saja di sofa ujung sana," ujar Jaejoong sambil menunjuk sofa yang berada tidak jauh dari ruang tamu.
"Gomawo," ucap Yunho.
Jaejoong beranjak menuju dapur, sementara Yunho masih memandangnya dari belakang, lalu mengalihkan pandangannya pada trio namja yang sedang tidur dengan damainya. Namja tampan itu tampak terpaku beberapa saat kemudian meraih ponsel di sakunya dan memotret trio Yoosumin yang tidur dengan manis itu. Bagus untuk dijadikan moment yang diabadikan, pikir Yunho. Sekilas matanya menangkap tumpukan album yang berada ditempat bawah meja, yang biasanya digunakan sebagai tempat meletakkan majalah. Ah, dia mengenal sampul album itu. Dan tentu dia tahu foto-foto siapa dan apa saja yang ada dialbum itu. Toh dia juga mempunyai album foto yang sama seperti itu dirumahnya. Foto keluarga mereka.
'Jadi dia masih menyimpannya, eoh?'
Setelahnya, bukannya duduk disofa yang telah ditunjukkan Jaejoong tadi, Yunho justru berjalan menuju dapur dan duduk di kursi meja makan dapur.
"Bagaimana kabarmu?" Tanya Yunho sambil menatap punggung Jaejoong yang sedang membuatkannya minuman.
"Aigoo, kau membuatku kaget," seru Jaejoong yang melihat kehadiran Yunho didapurnya. "Err… kabarku baik-baik saja. Bagaimana denganmu?"
"Seperti yang kau lihat, baik dan sibuk."
Jaejoong meletakkan segelas teh hangat dan beberapa makanan kecil dihadapan Yunho. Dan duduk dikursi, membuat mereka duduk berhadapan dibatasi oleh meja makan itu.
Hening. Hanya detak jantung yang berdebar seiring bunyi jam dinding, debaran yang sudah lama tidak mereka rasakan untuk satu sama lain.
"Apa kau masih marah padaku?" Tanya Jaejoong pelan.
"Marah? Tentang hal apa?" Yunho balik bertanya.
"Kau mengerti maksudku, Yun!"
"Menurutmu?"
Jaejoong menunduk dengan kedua tangannya yang mengepal di pahanya, lidahnya kelu untuk mengucapkan sesuatu, bahkan dia tidak tahu harus berkata apa…
"Maafkan aku…" ujar Jaejoong pada akhirnya sambil mengarahkan pandangannya pada namja musang itu. Mata indahnya menyiratkan penyesalan.
Hening.
Yunho meraih gelas berisi teh itu, berusaha membuat suasana tidak terlalu kaku diantara mereka. Manik matanya masih mengarah pada wajah Jaejoong yang juga menatapnya. Mereka saling menatap dalam diam, perlahan tangan Jaejoong bergerak menyentuh wajah Yunho, mengelus pipinya lembut.
"Kau tampak sangat lelah." Tangannya beralih kerambut Yunho, "Rambutmu berantakan…" ujarnya lagi. Dan seakan tersadar, "Ah, mian! Aku tidak bermaksud apa-apa! Silakan coba cookies ini!" seru Jaejoong sambil menyodorkan setoples cookies yang dibuatnya bersama dengan trio Yoosumin, mengisi waktu luang ujarnya. Sehingga mau tak mau Yoosumin ikut membuat walaupun sambil bermain-main dan berakhir dengan dapur yang sangat berantakan.
Yunho hanya bisa sweatdrop menanggapi sikap Jaejoong itu. Ingin tertawa rasanya.
"Apa ini?" Tanya Yunho sambil menaikkan salah satu alisnya, dia menatap sebuah cookies yang tidak jelas bentuknya.
"Ah, itu beruang. Buatan Changmin," Jawab Jaejoong.
"Beruang?" Yunho mencoba memakannya, bentuknya memang aneh, tapi rasanya lumayan juga. "Biar kutebak, ini buatanmu kan?" ujar Yunho sambil menunjuk cookies berbentuk gajah.
Jaejoong mengangguk, "Kalau bentuk bebek itu buatan Junsu, sedangkan bentuk lumba-lumba buatan Yoochun."
"Tidak berubah," Ujar Yunho.
"Kupikir memang tidak banyak yang berubah," Sahut Jaejoong.
"Itu benar, aku beruntung bisa datang kesini tanpa adanya para fans-mu yang heboh itu."
"Mana mungkin ada fans yang berdiam di bawah hujan lebat dan angin ribut begini, lagipula ini bukan komplek perumahan dimana fans bisa berada sesuka mereka," ujar Jaejoong.
"Ne, kau benar juga. Bisa jadi gossip berbahaya kalau ada yang tahu aku datang kesini. Menurutmu apa yang akan mereka pikirkan, mantan suami datang kerumah mantan istri setelah tiga tahun tidak bertemu?"
"Apa?"
Yunho mengendikkan bahunya, "Entahlah, orang memiliki banyak pemikiran mereka masing-masing kan, misalnya seperti ini—"
Yunho memegang kedua bahu Jaejoong dari seberang meja dengan kedua tangannya dan mendekatkan wajah mereka hingga dahi mereka saling bersentuhan dan saling merasakan deru napas mereka masing-masing. Mata mereka saling bertatapan cukup lama, perlahan Yunho menjauhkan wajahnya dan kembali duduk kekursinya, "Ahh… aku tidak bisa melakukan hal yang lebih jauh lagi…"
Jaejoong tersenyum miring, "Apa-apaan itu, padahal kamu kan bukan tipe orang yang bisa menahan diri."
"Apa kamu ingin aku berbuat macam-macam?"
"Ah, bukannya begitu. Aku hanya—"
"Masalahnya kamu bukan milikku lagi sekarang," Potong Yunho lirih.
Hati Jaejoong mencelos mendengarnya, perlahan dia meraih tangan Yunho yang berada di atas meja, menggenggamnya erat.
"Tapi kamu tentu tahu, kalau hatiku masih milikmu…"
Sesaat Yunho memasang wajah kaget, namun sejurus kemudian berubah menjadi senyum lembut.
"Baiklah, hatiku juga masih milikmu, tenang saja."
Mereka berdua tertawa lepas bersama. Namun keheningan kembali menghampiri mereka. Yunho beranjak dari kursi tempatnya duduk dan berdiri tepat dihadapan Jaejoong yang masih duduk diam.
Yunho menghela napas sambil tersenyum, "Apa aku terlihat masih marah padamu?"
"Mianhae…" ucap Jaejoong sambil menggenggam kedua tangannya sendiri dengan erat.
Yunho mengangkat jemari tangan kanan Jaejoong lalu kemudian menggenggamnya.
"Kau bilang, hatimu masih milikku," tatapan mata musang Yunho lurus mengarah pada mata doe yeoja itu, "Lalu bolehkah aku…"
"….."
Jaejoong yang tadinya mendongak menatap Yunho perlahan memejamkan matanya. Melihat pergerakan yeoja bermarga Kim itu, Yunho memegang kedua bahu Jaejoong pelan sambil menekan bibir cherry itu dengan bibir hatinya dengan lembut, mengecupnya pelan hingga berubah jadi lumatan-lumatan kecil, sementara kedua tangan Jaejoong mencengkram kemeja milik Yunho dengan erat, bahkan semakin erat ketika Yunho memiringkan kepalanya, bermaksud memperdalam ciuman mereka.
Mereka merindukan perasaan berdebar seperti ini. Saat-saat seperti ini.
[How are you]
"Changmin-ah, ayo bangun, appa-mu sudah datang untuk menjemputmu," Jaejoong menepuk pelan pipi chubby namja imut pencinta makanan itu.
"Ngg…?" Changmin menggosok kedua matanya dengan malas sambil menguap, terlihat jelas dia masih mengantuk. Pergerakan Changmin itupun membuat dua orang yang tidur disampingnya merasa sedikit terganggu.
"Ada apa?" gumam Junsu yang ikut terbangun. Sementara Yoochun hanya menggeliat pelan dan malah mencoba tidur kembali seakan tidak terganggu sama sekali.
"Ah, Yunho-hyung… Ohayou…" ujar Junsu mengucapkan selamat pagi dalam bahasa jepang karena masih dalam keadaan setengah sadar seraya menunduk.
Yunho terkekeh pelan, "Bukan ohayou, ini masih malam," ujarnya sambil mengacak-acak rambut keponakan Jaejoong itu.
"Ekh! Ini beneran Yunho-hyung?!" pekik Junsu nyaring yang sontak membuat Changmin dan Yoochun hampir terjengkal, sementara Jaejoong dan Yunho menutup telinga mereka.
"Ya! Su-ie jangan berteriak senyaring itu di sampingku dong," protes Yoochun yang merasa tidurnya terganggu. "Eh, tadi kau bilang Yunho-hyung?" Tanya Yoochun sambil menoleh.
Tampak Yunho hanya tersenyum kearah Yoochun yang terpaku menatapnya.
"…Malam hyung…" ujar Yoochun sambil mengusap belakang tengkuknya.
"Malam juga, Yoochun, lama tidak bertemu, ne." sahut Yunho pada Sepupu Jaejoong itu.
Namja berumur 17 tahun itu hanya mengangguk.
Hening.
"Harus pulang sekarang?" Tanya Changmin sambil mengerjap-ngerjapkan matanya dengan polos.
"Kenapa mesti terburu-buru hyung?! Disini saja dulu." Tahan Yoochun.
"Benar hyung, ayo kita mengobrol tentang bola!" Seru Junsu sambil memeluk erat lengan kanan Yunho.
"Bagaimana kalau pulang setelah makan malam di sini, appa?" mohon Changmin sambil ikut memeluk lengan kiri Yunho.
"Sayang sekali kalau melewatkan masakan Jaejoong-noona lho," sambung Yoochun juga ingin ikut memeluk Yunho, tapi dibagian mana yang masih bisa dipeluk? Ah tidak usah deh, lagipula dia sudah 17 tahun.
Yunho sweatdrop menghadapi tingkah tiga anak-anak itu, matanya menatap Jaejoong seolah minta pertolongan, sementara Jaejoong hanya menahan tawa sambil mengendikkan bahunya. Yunho kembali menatap tiga anak-anak yang menatapnya penuh pengharapan. Untuk kali ini saja, sepertinya tidak masalah.
"Arraseo, tapi setelah makan malam kita pulang, arra?"
Changmin mengangguk senang, "Hore…!"
Beberapa saat kemudian tampak Junsu dengan bersemangat membahas tentang sepak bola dengan Yunho sementara Yoochun dan changmin sibuk bermain PS berdua. Jaejoong sendiri tampak sibuk didapur memanaskan makanan tadi siang dan membuat Kimchi jiggae. Sambil menunggu masakannya, dia ikut berkumpul sambil sesekali menyemangati Changmin yang melawan Yoochun dalam game pertandingan balapan.
Makan malam itu berlangsung dengan ramai, tidak seperti biasanya terutama bagi Changmin, Yunho maupun Jaejoong. Namun mereka tetap menikmati kebersamaan mereka yang Cuma sebentar itu. Changmin yang berebut kimchi dengan Yoochun, Changmin yang mengambil makanan milik Junsu. Hingga hampir membuat Junsu hampir mewek, namun Yunho dan Jaejoong langsung memberikan kimchi mereka pada Junsu. Benar-benar tampak seperti sebuah keluarga besar.
.
"Baiklah, kami pulang dulu," ujar Yunho.
"Huwaaa, Changmin-ah…" Junsu seakan tidak rela. Meskipun dia sering diisengi oleh Changmin, dia tetap saja sangat menyayangi Voldemin itu.
"Ya! Hyung, nanti aku pasti datang kesini lagi kok, jangan nangis gitu, jelek tahu!" ujarnya sambil menepuk-nepuk bahu Junsu, padahal mata dia sendiri ikut berkaca-kaca. Dia juga sangat menyayangi hyung-nya yang satu itu, karena sangat lucu, menggemaskan, innocent dan mudah dikerjai.
"Baik! Kau harus berjanji!" seru Junsu sambil mengusap matanya.
"Ok! Yaksok!' sahut Changmin.
Changmin memeluk umma-nya erat.
"Jangan lupa berdoa sebelum tidur," ucap Jaejoong mengingatkan sambil mencium dahi anak kesayangannya itu.
"Nde…"
"Hati-hati di jalan…" seru Yoochun.
Changmin dan Yunho segera beranjak menuju mobil, sementara Jaejoong menyuruh Junsu dan Yoochun untuk segera masuk kerumah. Dia sendiri tampak masih melihat mobil itu. Perlahan kaca mobil itu terbuka dan menampakkan Yunho dan Changmin yang sepertinya tertidur kembali di kursi penumpang itu. Terlihat dengan jelas Yunho yang sepertinya tampak mengucapkan sesuatu yang tidak terdengar karena terhalang suara hujan yang masih turun. Awalnya Jaejoong sedikit terkesiap, namun membalas ucapan Yunho sambil tersenyum.
'Saranghae...'
'Nado saranghae…'
.
.
:::::::::::::::::::::::::::
I love you – words that weren't so hard back then
I love you – now I'm afraid to say it
I love you – will I ever be able to tell you again?
(TVXQ- How are you)
::::::::::::::::::::::::::
.
TBC/END?
Playlist song: How are you- TVXQ, Hug- DB5K
A/N: Kirain gak bakal ada yg ngereview :')
Chap kemarin masih banyak kesalahan yah? Lupa memajang summary di fic.
Terus sekolah Changmin juga salah ketik, harusnya Changmin masih kelas 1 SMP, mianhae… #nunduk2
Balasan review:
Paprikapumpkin: reviewer pertama saya di fandom ini ( '-'/\) /terharu/ sebenarnya saya juga bingung masalah mereka jadi pisah apa lho :') padahal yunjae pair fav saya selain kyumin. /pletak/ ada saran apa penyebab mereka pisah? :D
Changmi-oppa emang kasian… /pelukoppa/
Gomawo :)
Grace Jung: annyeong… :) iya mereka saya bikin cerai /lho?/ hm, mungkin itu bisa jadi salah satu alasannya. Semoga aja mereka bisa balikan walau saya masih belum tahu caranya ._. /plak/
Saran juga boleh. Gomawo :)
Guest: bagi saya homin itu adalah hubungan ayah dan anak. :') saya gak rela mereka jadi incest :') walau akhir2 ini kalo dilihat2 homin makin banyak dan keren juga. /mewek/
yaoi? Mungkin ada. Toh awalnya fic ini yaoi. :3 gomawo. :)
Augesteca: iya ceritanya emang membingungkan /barusadar/ semoga nanti ceritanya bisa dimengerti. /mojok/ Gomawo. :)
Mikihyo: saya juga suka yunjaemin family :3 tapi saya bingung gimana bikin mereka kembali bahagia lagi. Junsu dan Yoochun? Ada tuh diatas. Udah ketahuan kan siapa mereka? :D
Mian chingu, itu salah ketik, mestinya 1 smp. /nunduk2/
Gomawo. :)
.
Chapter ini bisa end seperti ini aja atau dilanjut, itu tergantung reader ;)
Review please /bows/
