Disclaimer: Masashi Kishimoto
Warning: Au, Ooc, typo, etc.

Chimi Wila chan

.

.

.

Let's Play chapter 2

.

..

Semilir angin menggoyang kan surai dua insan yang tengah duduk di bawah pohon Sakura. Aroma khas Sakura musim semi menyeruak menyenangkan hati, mengukir senyum di bibir mereka.

Ino menyandarkan kepalanya di bahu Sasuke dan mulai memejamkan mata. Menyesapi kenyamanan yang ditawarkan kekasihnya. Ia tersenyum tipis, mengeratkan pelukan pada lengan kekasihnya.

Sasuke tersenyum tipis, ia memperhatikan wajah kekasihnya, begitu damai dan tenang. Jemari lembutnya membenarkan anak rambut yang berantakan. Diusapnya dengan lembut surai pirang pucat kekasihnya.

Chup

Ia daratkan sebuah kecupan lembut di puncak kepalanya. Ia menghela nafas dan ikut menyandarkan kepalanya bertumpuan dengan kepala Ino. Ia ikut memejamkan onixnya, ikut meresapi kenyamanan itu.

"I love you," Sasuke dapat mendengar lirihan Ino. Ia hanya tersenyum dan tetap diam.

"I love you," Lagi? Ino mengatakan lagi.

"Hn," jawaban singkat Sasuke membuat Ino bergerak bangkit memisahkan diri, dipandanginya wajah tampan kekasih yang sangat ia cintai. Ia mengulurkan jemari kirinya, mengusap lembut wajah rupawan yang mampu mengikat dirinya. Ia tersenyum, "aku mencintaimu, Sasuke," Ino menatap Sasuke meminta jawaban.

"Aku tahu," jawaban Sasuke membuat Ino merengut, menekuk wajahnya ke dalam. Lalu menyilangkan tanganya di dada dan membelakangi Sasuke. Tingkah Ino saat ini mirip anak kecil yang tengah merajuk.

Sasuke tersenyum simpul melihat kekasihnya merajuk. Ia memeluk Ino dari belakang, dan menumpukan dagu miliknya ke bahu Ino. Menghirup wangi bunga teratai yang menguar dari tubuh kekasihnya. "Ada yang salah?" tanya Sasuke ambigu.

"Kau tidak membalas pernyataan cintaku, apa kau tidak sayang padaku lagi?" sungut Ino sebal.

"Sampai kapanpun aku akan tetap mencintaimu, Ino. Meskipun kata itu jarang terucap olehku," Sasuke mencium pipi Ino dan mengeratkan pelukan.

Ino mengalihkan netranya menatap kekasihnya. Menatap onix yang mampu menenggelamkannya. 'chup' ia menempelkan bibirnya dengan bibir milik Sasuke. Memisahkan diri dan tersenyum lebar. "Kalau begitu minggu besok temani aku ya?" ucap Ino sedikit merajuk.

Sasuke menghela nafas, ditangkupnya wajah rupawan kekasihnya. "Tidak bisa, Ino. Besok minggu aku dan Karin akan melakukan survei," terdengar helaan nafas kecewa Ino. Namun ia lantas segera menutupi kekecewaannya dengan senyum manisnya. "Ah mungkin lain kali," ucap Ino menghibur dirinya.

"Maaf ya, aku janji setelah melakukan survei, aku akan mengajakmu ke suatu tempat,".

"Ah tidak usah repot-repot, Sasuke. Aku tahu kau tengah sibuk dengan skripsimu," ucap Ino tersenyum lebar hingga memamerkan deretan gigi putihnya.

"Trima kasih, Ino. Kau memang kekasih yang paling mengerti aku," Sasuke bahagia memiliki Ino. Cantik, perhatian, baik, ramah dan nilai plus lainnya.

Ino pov...

Mengerti? Hah, tidak salah? Kamu hanya tidak tahu, Sasuke? Kamu tidak tahu bagaimana hatiku sakit, marah saat kamu selalu menomor dua'kan diriku. Kamu hanya tidak mengerti betapa hatiku tidak rela berbagi dirimu dengan Karin. Kamu hanya tidak mengerti diriku, Sasuke?

Huh. Salah siapa? Aku atau kamu? Tidak ada yang bisa disalahkan, kamu terlalu sibuk hingga tidak memiliki sedikit waktu untuk mengenali diriku lebih jauh. Mengenali diriku yang lain.

Aku tersenyum manis yang bagiku adalah senyum miris. Aku ingin sekali memeluk kekasihku. Mengatakan untuk tetap tinggal dan egois dengan hal lain. Aku ingin sehari saja menguasai Sasuke hanya untukku. Aku hanya ingin mengukir banyak kenangan bersamanya.

Tapi?

Sepertinya itu sedikit mustahil selama ratu sialan itu menempel bak hama pada Sasuke.

Kriiingg

Aku mendengus dalam hati, ku lihat Sasuke merogoh saku celananya dan mengambil ponsel canggih miliknya. Lalu ia menempelkan di telinga.

"Moshi... Moshi," ucap Sasuke. Ku mohon jangan sekarang, aku ingin lebih lama lagi bersamamu, Sasuke. Ku mohon agar 'dia tidak mengganggu kebersamaan kita.

"Aku akan ke sana. Kau tunggu saja, Karin,". Rupanya kami-sama belum berbaik hati padaku. Perempuan itu memanggil orang yang ku sayang dan aku kesal mengapa kekasihku tidak sedikitpun menolak.

"Ino, aku harus pergi. Karin membutuhkanku," aku diam mematung. Apa ini benar-benar waktunya? Aku hanya diam saat Sasuke mengecup kening dan pergi begitu saja tanpa mendengar jawabanku.

Ada rasa sesak. Apa diriku memang tak pantas menyuarakan suara? ah lebih tepatnya aku tidak bisa. Protesan slalu tertahan oleh bibirku sendiri yang terkatup rapat.

Tapi demi apa, aku tidak kuasa bila terus seperti ini. Apa aku tidak bermakna untuk Sasuke? Tanpa terasa pandanganku mengabur oleh cairan yang menumpuk di pelupuk mata. Ku mohon jangan terjatuh. Aku tidak ingin terlihat cengeng, aku tidak ingin dianggap lemah karna hal ini. Tapi hatiku sendiri tak bisa dibohongi bahwa aku memanglah lemah. Lemah bersandiwara kuat seperti biasa.

Greb

Ku rasakan tubuh hangat seseorang memelukku. Lebar dan kokoh. Nyaman untukku bersandar, mungkinkah ini Sasuke? Mustahil, bukankah Sasuke meninggalkannya untuk perempuan keparat itu?

Aku mendongak dan mendapati wajah tampan Shikamaru, menatapku begitu dalam. Ku rasakan belaian tangan di pipiku, mengusap lembut air mataku. Oh Tuhan, andai saja Sasuke seperti ini, mungkin aku tidak akan sesakit ini.

"Tak perlu kau paksakan. Sasuke hanya mampu membuatmu menangis," ucapnya membuatku tersadar dan aku pun meronta, meminta Shikamaru untuk melepaskanku.

"Lepaskan aku, Shika!?" aku sungguh saat ini tidak ingin diganggu apalagi berurusan dengan Shikamaru. Hatiku benar-benar kacau saat ini.

"Tidak! Aku tidak ingin kau menangis! Berhenti menyakiti diri sendiri, Ino," Shikamaru bersikukuh memeluku dan semakin menenggelamkan aku dalam pelukannya.

"Itu bukan urusanmu, Shika!" seruku, kali ini aku benar-benar mulai kesal.

"Aku mencintaimu, Ino! Kau bilang ini bukan urusanku hah?! Aku tak mungkin membiarkan orang yang ku cintai menangis gara-gara pria se'brengsek Sasuke," Shikamaru mencengkram bahuku sangat erat hingga terasa ngilu, ia menatapku tajam seolah-olah ingin melenyapkan ku sekarang juga.

"Tutup mulutmu, Shika! Kau tidak pantas mengatakan Sasuke brengsek! Lihat dirimu, kau jauh lebih brengsek! Kau sudah memiliki Temari tetapi kau berani mengatakan mencintaiku! Dimana otakmu, Shika!" bentakku. Sungguh, sakit teramat sakit. Mengapa Tuhan menakdirkanku dalam situasi seperti ini? Bagaimana mungkin? Sahabat yang ku percaya berbalik menyukaiku, sedangkan dia kekasih sahabatku sendiri. Aku bukanlah tipe yang dengan mudahnya jatuh cinta dan aku bukan tipe penghancur hubungan orang, tetapi Shikamaru datang sendiri padaku.

Rasa takut menelusup dalam dadaku. Pikiran berkecambuk pada Temari. Aku tak ingin dia tahu tentang ini, aku tak ingin Temari sakit hati karna Shikamaru. Dan aku tak ingin hubungan mereka kandas karnaku.

Aku menyorot tajam, menantang soratan tajam Shikamaru.

"Aku akan memutuskan Temari, jika itu bisa membuatku bersamamu," Apaa! Sudah gilakah dia? Bagaimana mungkin dia berbicara seperti itu dengan entengnya.

"Aku mencintai Sasuke, Shikamaru. Ku harap kau mengerti," yahh, bagaimana pun aku mencintai Sasuke meski dia sering menyakitiku tanpa ia sadari.

"Tapi dia hanya bisa memberimu rasa sakit, Ino! Sadarlah," dia tetap bersikukuh mengingatkan aku.

Aku tersenyum manis yang ku paksakan. "Apa ada jaminan jika aku menerimamu, kau akan setia? Sedangkan kau masih berpacaran dengan Temari saja, kau bermain perasaan denganku meski aku tidak menggubrismu!" skakmat, aku menyerigai dalam hati. Ia terdiam, terbungkam kata-kataku.

"Kau harusnya bersyukur memiliki Temari. Dia cantik, smart, jago masak, kurang apa lagi?" aku coba melembut. "Dari pada aku yang tidak memiliki perasaan cinta untukmu, Temari mencintaimu begitu tulus, apa kau tak merasakannya?" miris, benar-benar miris. Aku yang tengah bermasalah dengan hubunganku, justru aku harus menasehati orang lain. Sejujurnya aku muak, benar-benar muak, menjadi sosok yang selalu mengerti tetapi mereka tidak mau mengerti diriku.

"Kau benar," lirihnya, "Aku terlalu bodoh menyia-nyiakan Temari demi mengejar cinta yang tak mungkin ku raih," lanjutnya, aku tersenyum tipis.

"Kembalilah, masih bisa diperbaiki," aku tersenyum dan bernafas lega. Semoga dengan ini Shikamaru benar-benar menghargai Temari dan melupakan perasaannya padaku.

"Ino?"

"Ya," jawabku menatap Shikamaru yang berwajah sendu. Oh ayolah, jangan menampilkan wajah seperti itu pliss!

"Untuk terakhir kalinya, bolehkah aku memelukmu," pintanya. Aku terdiam sejenak, ada keraguan menelusup dalam hatiku, tetapi melihat sorot mata Shikamaru membuatku tak tega untuk menolaknya. Aku mengangguk, meng'iya'kan permintaannya.

Ia memelukku erat, seolah ini adalah pelukan terakhirnya. Aku juga bisa merasakan tubuhnya sedikit bergetar. Aku tersenyum miris, ku gerakkan tanganku membalas pelukannya. Ku usapa punggungnnya dengan lembut agar dirinya lebih tenang.

"Berusahalah. Aku akan slalu ada jika kau membutuhkanku. Bukankah kita itu teman?" katanya sedikit tersenyum.

"Ya," ia mengangguk, dapat ku rasakan pergerakan kepalanya.

Aku mengalihkan pandanganku lurus ke depan dan 'deg' oh ya ampun, itu Temari! Dia tengah menatap kami berpelukan dengan wajah shock'nya. Dan ku lihat ia mulai berbalik dan berlari. Ck, Kuso' umpatku dalam hati. Ku dorong tubuh Shikamaru dengan kuat hingga terlepas. Mengabaikan raut bingung Shikamaru, aku segera berlari menyusul Temari. Gawat! Jangan sampai dia salah paham.

"Temari tunggu!" aku berlari mengejar Temari yang terus berlari. Dia harus mendengar ucapanku, aku tak mau dia salah paham dengan apa yang ia lihat tadi. Aku mempercepat langkahku, bahkan aku tak peduli setiap siswa yang ku lewati menatap aneh padaku.

Grep

Berhasil, aku berhasil menangkap tanngannya. Tanpa tunggu lama, aku menyeret Temari mengikutiku. Aku rasakan rontaannya, ia memukul-mukuli tanganku yang menggenggam tangannya.

"Lepaskan aku, Ino! Lepaskan!". Tidak! Tidak akan ku lepaskan, batinku. Ku tulikan telingaku, aku tetap menyeretnya dengan susah payah. Tepat di ruang musik yang sepi, aku melepaskannya. Aku sedikit meringis tak tega melihat air mata Temari bercucuran, wajah memerah dan mata sembabnya membuatku sedikit merasa bersalah, tetapi Temari harus mendengar kenyataan sebenarnya.

"Dengarkan aku, Temari! Yang kau lihat itu salah!".

"Salah? Apanya yang salah? Mataku belum buta, Ino. Aku melihatnya!" teriak Temari menggema di ruang musik. Ingin sekali aku meninju wajah manisnya yang membuat muak. Keegoisannya dalam hal yang ia ketahui tanpa mendengar alasan orang lai, aku benar-benar muak. Aku menatap tajam Temari berusaha menahan amarah.

"Sudah ku katakan, bahwa itu tidak benar! Aku tidak ada apa-apa dengan Shikamaru," kali ini suaraku naik satu oktaf.

"Kau berpelukan dengan Shikamaru, kau bilang tidak ada apa-apa hah! Jangan mengejekku, Ino!," bentak Temari, "ku pikir kau sahabatku tetapi kau tak ubahnya seperti pengkhianat teman sendiri-"

Plak

Tidak! Aku menamparnya! Sungguh aku tak sengaja, tetapi aku tidak berbohong bahwa dadaku terasa sesak saat mendengar kalimat pengkhianat. Aku bukan seperti itu. Aku tak mungkin mengambil milik sahabatku sendiri.

Ku tatap Temari yang mematung memegang pipi merah bekas tamparanku. Ia menatapku tak percaya. Mungkin ia berpikir bahwa aku menyeramkan. Sungguh kenyataan yang mencubit hatiku. Tapi aku harus kuat, aku harus mengatakan hal sebenarnya.

"Kau harusnya berpikir, Temari! Apa yang kau lihat belum tentu sesuai dengan apa yang kau pikirkan. Jika aku mau, aku sudah melakukannya dari dulu!" desisku dengan suara yang ku buat sedingin mungkin. Dengan tidak berperasaan, ku tinggalkan Temari yang terduduk menangis kencang.

'Maaf, maafkan aku, Temari,' batinku miris dan terus menjauh dari ruangan itu.

Drrttt drrrtt

Ku rasakan ponselku bergetar, segera ku rogoh rok seragamku dan merengkuh ponsel mungil yang setia menemaniku.

'Sasori'

Sedikit mengernyit bingung, ku pencet tombol hijau dan menempelkan ponselku di telinga.

"Moshi-moshi"

"Nanti malam jam 8 di area biasa,"

"Siapa kali ini?"

"Kimimaru,"

"Bingkisannya?"

"Satu juta yen, kalau kau menang,"

"Aku ambil,"

Ku akhiri pembicaraanku dengan Sasori, pemuda menyebalkan sekaligus partner bisnis gelapku. Segera aku melangkah dengan tergesa, aku harus menyiapkan untuk nanti malam. Dari pada aku memusingkan masalahku, lebih baik aku mempersiapkan dan berusaha memenangkan satu juta yen itu. Batinku tertawa nista.

.

.

.

Waktu terus bergulir, sang mentari pun tlah lenyap termakan kegelapan, digantikan bulan sabit yang menghiasi gelapnya malam.

Udara dingin begitu menusuk kulit, belum lagi kegelapan yang merayap sunyi. Aku menggosok kedua telapak tanganku, berharap meraih sedikit kehangatan akan itu.

Saat ini, aku tengah berdiri di tepi arena 'Konoha street' tempat strategis yang biasanya dipakai sebagai arena balap liar.

Aku yang memakai jaket hitam dan celana jeans biru dongker berdiri menanti datangnya si penantang. Rambut hitam pendek atau wig yang ku pakai bergoyang tertiup semilirnya angin malam. Shitt! Mengapa udara malam ini begitu dingin?! Membuatku kesal saja. Pasalnya, bagi perempuan bila cuaca dingin begini, kebiasaan sering kencing pasti terjadi dan itu menyebalkan.

"Shin, mau kopi?" aku menoleh saat nama samaranku dipanggal. Ku menoleh dan mendapati Sasori yang sudah menjelma seperti anak metal itu mendekat. Lihat saja gayanya. Kaos hitan dibalut jaket kulit hitam dan celana jeans panjang berwarna hitam yang sengaja diberi sobekan di bagian lutut, tak lupa sebuah rantai menghiasinya.

"Thanks," ucapku dengan suara serak yang ku buat, aku menerima segelas plastik kopi panas. Meniupnya perlahan dan menyeruput sedikit. Ahh rasanya tenggorokanku sedikit menghangat.

"Saat bertanding nanti, kau harus berhati-hati, Shin," Sasori berucap tanpa menoleh ke arahku, manik coklatnya menatap lurus ke arena yang hanya di terangi lampu setiap 50 meter, itu pun lampunya sudah sedikit meredup.

"Apa itu tandanya kau mengkhawatirkanku, master?" aku terkekeh melihat Sasori mendengus. Meskipun dia pria yang sangat menyebalkan, tetapi aku tahu dia pria yang baik. 5 tahun bekerja padanya, membuatku mengerti siapa dirinya. Aku bahkan sering bercerita tentang Sasuke, hingga dia slalu mengolokku saat melihatku frustasi seperti saat di bar malam itu. Yang membuat aku terikat oleh permainannya.

Bbrmm brrmm

Aku dan Sasori menengok ke arah sumber suara dan aku bisa melihat segerombolan orang turun dari mobil. Satu, dua, empat, delapan? Jumlahnya delapan orangnya.

"Mereka datang!" tanpa kau ucapkan pun aku sudah tahu, Sasori. Aku mendengus sebal.

"Meskipun kau jago di arena, tetapi berhati-hatilah. Ku dengar mereka memakai cara licik untuk menang," bisik Sasori ke telingaku. Aku mengernyitkan alisku dan terus memandang gerombolan berbaju hitam itu.

"Aku mengerti, Master. Kau tenang saja!" ucapku dan mendapat tepukan bahu dari Sasori. Kemudian ku lihat Sasori pergi ke tempatnya. Sebenarnya sedikit perasaan tidak enak menelusup hatiku. Tapi aku mencoba mengabaikannya.

Aku berjalan menuju arena, tepatkan ke kendaraan yang sudah dipersiapkan oleh timku. Di sana juga sudah bersiap lawanku, lelaki tinggi berperawakan tegap. Senyumnya terlihat mengejek. Shit! Berani sekali dia meremehkanku. Dan aku bisa melihat orang yang bernama Kimimarou itu menggerakan tangannya ke lehernya sebagai tanda aku akan mati di tangannya. Cih, lihat saja nanti!

.

.

Sebenarnya, balapan apa yang dimaksud? Dan apakah Ino mampu mengalahkan Kimimarou di arena pertandingan? Atau bernasib na'as karna kelicikan Kimimarou? Nantikan di chap selanjutnya.

.

.

Tbc