Menikah adalah sebuah upacara sacral dan menjalin hubungan suci dengan orang yang kita cintai dan mencintai kita tentunya. Tapi bagaimana jadinya kalau menikah hanya gara-gara sebuah ciuman kecelakaan dan itulah yang di alami oleh Hinata. Menikahi pria paling menyebalkan serta egois di dunia, Sasuke Uchiha demi memenuhi tradis aneh keluarga Uciha agar tidak tertimpa kesialan atau hal buruk.
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Rate : T
Genre : Romance, Family
Pair : Sasuke x Hinata
~ Oh! ~
.
.
.
.
.
WARNING : Typo bertebaran dimana-mana, AU, OOC tingkat akut, OC, EYD amburaul, CRACK PAIR, Penempatan tanda baca tidak sesuai, dan masih banyak kecatatan lainnya.
.
.
.
.
.
X0X0X0X0X0X0X0X
Hinata seorang pelajar SMA berusia delapan belas sekaligus istri karena dipaksa menikah oleh Sasuke Uchiha seorang pengusaha muda kaya nan sukses pujaan banyak wanita. Mereka berdua menikah kerena tanpa sengaja Hinata mencium pria bersurai raven ini saat lari dari kejaran para pria hidung belang. Tak pernah Hinata bayangkan atau bermimpi sekali-pun menikah semuda dan secepat ini terlebih menikahi pria paling menyebalkan dan egois di dunia, Sasuke Uchiha.
Setelah resmi menikah Hinata tinggal di kediaman Uchiha, sedangkan pernikahan mereka dirahasiakan sementara waktu dari khayalak umum tapi Sasuke memberitahukan hal ini pada pihak sekolah dan dewan sekolah mengerti serta berjanji akan menutup rapat-rapat mengenai status Hinata.
Bruukkk~
Hinata menghempaskan tubuh ke atas kasur usai membersihkan tubuh, tangan kanannya terulur ke atas dan iris bulannya menatap cincin berlian yang melingkar dijari manisnya, "Indah sekali!" seru Hinata takjub.
Cincin ini terlihat sangat cantik dan mahal tentunya menurut Hinata karena berhiaskan sebuah berlian. Seumur hidup baru pertama kali Hinata menggunakan cincin semahal ini, bermimpi saja Hinata tak pernah apalagi bisa memiliki cincin berlian ini.
"Ibu, aku tak menyangka kalau akan menikah secepat ini dan mendapatkan suami kaya raya seperti impianku," kata Hinata masih memandangi cincin pernikahan dari Sasuke.
Cincin yang melingkar di jari manis Hinata adalah cincin milik mendiang ibu Sasuke juga perhiasan turun temurun keluarga Uchiha jadi cincin di jari Hinata bukanlah perhiasan biasa dan harus dijaganya baik-baik.
Saat sedang asik memandangai cincin berlian, tiba-tiba saja perut Hinata berbunyi keras.
KRUCUUKKK~
"Akh...," Hinata memegangi perutnya yang terasa perih.
Maklum saja kalau Hinata merasa lapar mengingat sejak pagi Hinata tidak makan apapun dirumah ini selain roti dan buah, karena para pelayan hanya memasak makanan Eropa tidak ada nasi atau masakan rumahan Jepang yang terhidang di atas meja makan, mengingat Sasuke tidak menyukai nasi karena sejak berumur tujuh tahun Sasuke tinggal dan besar di Eropa, baru kembali ke Jepang satu tahun ini untuk mengurus perusahaan cabang Uciha di Konoha.
Tap
Hinata meloncat turun dari atas ranjang, sambil memegangi perut ia berjalan keluar kamar dan tempat yang ingin ditujunya adalah dapur. Saat makan siang tadi, Hinata mencoba memakan masakan Eropa tapi perut Hinata langsung sakit mungkin karena tidak terbiasa.
Dirumah ini tidak ada masakan Jepang yang biasa Hinata makan, bahkan didapur Hinata tidak menemukan beras sama sekali di lemari penyimpanan bahan makanan.
"Aku harus memakan sesuatu," gumamnya.
Diam-diam ditengah malam Hinata berjalan mengendap-ngendap kedapur seperti maling padahal Hinata bisa saja menyuruh salah satu pelayan untuk membuat dan membawakan makanan kedalam kamar tapi ini sudah tengah malam dan Hinata tak mau menganggu waktu istirahat para pelayan.
"Ya ampun, dimana letak dapur rumah ini?" Hinata kebingungan mencari dapur, karena rumah ini terlalu luas ditambah banyak ruangan membuat Hinata sedikit bingung.
Krucukk~
Perut Hinata semakin keras bernyanyi meminta segera diisi, "Bersabarlah perut," Hinata mengelus pelan perutnya.
Setelah berputar-putar cukup lama, akhirnya Hinata menemukan dapur. Dengan cepat Hinata langsung membuka kulkas yang ukurannya seperti lemari pakaian saat membuka kulkas, Hinata langsung meminum sekotak susu putih hingga habis, selain lapar ia juga merasa haus karena berjalan berkeliling mencari dapur selama hampir lima belas menit.
Awalnya Hinata hanya ingin memakan sedikit makanan didalam kulkas. Tetapi mengingat perutnya terasa sangat lapar, Hinata memutuskan membuat sesuatu dari bahan yang ada didalam kulkas. Setidaknya ia akan membuat makanan yang cocok dengan lidahnya sebagai orang Jepang bukan makanan yang di dominasi rasa asin dari keju serta mayones.
~.-.~
Jam sudah menunjukkan pukul satu malam dan tak terasa lebih dari lima jam Sasuke duduk di depan lapot. Bahkan teh yang dibawakan para pelayan sudah dingin dan baru di minum oleh Sasuke setengahnya.
Sasuke memijit pelan ujung pangkal hidung mencoba merileksasikan mata juga pikirannya yang sedari tadi terus menatap laptop mengerjakan tugas kantor yang tiada habis.
Pria tampan bersurai raven ini menoleh dan menatap sebuah jam besar antik berwarna coklat tua peninggalan sang kakek, yang terpajang diruang kerja. Dan ternyata hari sudah larut malam pasti istrinya saat ini sudah tertidur lelap, "Sebaiknya aku kembali ke kamar," Sasuke mematikan laptop dan menaruhnya kedalam tas agar besok pagi ia tidak lupa untuk membawanya kekantor, mengingat didalamnya banyak data penting perusahaan.
Ctek
Sasuke mematikan lampu ruang kerja lalu menutup pintu.
Blam
"Huam..." Sasuke menutup mulutnya dengan salah satu tangan karena menguap cukup lebar, saat ini ia benar-benar mengantuk dan butuh istirahat.
Saat melewati dapur hidung Sasuke mencium bau harum masakan. Pria tampan bermata kelam ini bertanya-tanya siapa yang memasak didapur. Seingatnya sang koki juga para pelayan sudah tidur dan beristirahat mengingat ini sudah jam satu pagi, karena penasaran Sasuke memutuskan untuk menengok ke dapur melihat siapa yang memasak.
Iris kelamanya menyipit tajam tak kala mendapati Hinata tengah sibuk didepan kompor, "Hinata?!" serunya.
Tap
Sasuke berjalan mendekat pada sang istri lalu berdiri dibelakang Hinata, "Apa yang sedang kau lakukan?" tanyanya dengan datar.
"Ekh!" pekik Hinata kaget.
Perlahan-lahan Hinata menolehkan wajahnya dan menemukan sang suami tepat berada dibelakang, "Tu-Tuan..." ucap Hinata dengan wajah pucat ketakutan seperti seorang maling yang tertangkap basah oleh sang pemilik rumah.
"Apa kau..."
Ctek
Hinata langsung mematikan kompor dan membalikkan tubuhnya cepat, "Ma-maafkan a-aku Tuan...a-aku ti-tidak bermaksud me-mencuri bahan makanan didapur..." ucap Hinata ketakutan.
"Lalu," Sasuke memasukkan kedua tangan kedalam kantong celana menatap tajam Hinata seolah-olah marah.
"A-aku me-merasa lapar dan mencoba membuat sesuatu," cicit Hinata dengan kedua pipi merona merah malu.
Kedua iris kelam Sasuke melebar sesaat, "Apa?!"
Kaget serta syok Sasuke mendengar pengakuan sang istri yang merasa lapar padahal para pelayan yang bekerja di rumah ini saja dijamin oleh Sasuke kenyang dan makan makanan enak, tapi Hinata istrinya sendiri merasa kelaparan dirumahnya sendiri membuat Sasuke miris mendengarnya.
"Apa para pelayan tidak melayani dan memenuhi apa yang kau inginkan?" tanya Sasuke dengan nada suara agak ditinggikan.
Hinata menggelengkan kepalanya pelan.
"Lalu apa?"
"A-aku ti-tidak bi-bisa ma-ma-kan ma-ma-sakan Eropa, a-aku i-ingin makan na-nasi" jawab Hinata jujur dengan terbata-bata.
Sasuke menghela nafas cepat, "Besok akan kusuruh pelayan dan koki memasak makanan Jepang,"
Wajah Hinata terangkat dengan senyuman kebahagian mengembang di wajah cantiknya, "Benarkah itu?" tanyanya antusia.
"Ya,"
Senyum Hinata semakin lebar, "Terima kasih," ucap Hinata haru.
Diam-diam Sasuke senang melihat Hinata tersenyum lebar dan ia sangat suka melihat sneyuman sang istri kalau saja saat ini ia tidak sedang menahan dirinya mati-matian ingin rasanya dirinya menerjang tubuh Hinata, mengurung gadis bermata bulan itu dalam pelukkan posesifnya. Tapi Sasuke harus menahannya karena tidak mau membuat Hinata takut juga berpikiran buruk mengenai dirinya, perlahan-lahan akan ia buat Hinata jatuh cinta padanya lalu menjadikan Hinata miliknya seutuhnya dan selamanya.
SREEEKKK
Sasuke menarik salah satu kursi di meja makan, "Apakah masaka mu sudah matang dan siap?" tanyanya.
Untuk sesaat Hinata terdiam lalu tersadar dari keterkejutannya, "Apa Tu-Tuan..."
"Aku ingin mencicipi masakanmu dan kenapa masih memanggilku dengan Tuan, panggil namaku," protes Sasuke.
"I-iya," Hinata langsung menghidangkan masakan yang dibuatnya di atas meja makan.
"Dari baunya sepertinya enak," Sasuke menatap takjub masakan Hinata.
"Ta-tapi ini bukan masakan Eropa,"
"Aku tak peduli," Sasuke langsung memasukkan satu sendok besar ke dalam mulutnya dan mengunyahnya.
Dengan perasaan yang sedikit berdebar-debar Hinata menunggu reaksi dan komentar Sasuke mengenai masakannya.
"Hmm..." Sasuke mengunyah makanannya dengan ekspresi wajah yang sulit ditebak.
"Bagaimana rasanya?" Tanya Hinata cemas menunggu komentar Sasuke.
"Enak! Ternyata istriku pintar memasak juga," puji Sasuke seraya mengelus puncak kepala Hinata.
Blush
Rona merah menghiasi kedua pipi Hinata dan hatinya merasa senang karena Sasuke menyukai masakan buatannya.
"Kenapa kau berdiri saja, duduklah," Sasuke menarik tangan Hinata untuk duduk dan gadis bermata bulan ini menurutinya.
Keduanya duduk bersama di meja makan menikmati masakan buatan Hinata dan ini pertama kalinya Sasuke memakan makanan khas Jepang terlebih ini buatan sang istri. Sasuke terlihat lahap makan masakan Hinata, padahal Sasuke tidak pernah makan selahap ini.
Hinata duduk diam menatap Sasuke yang terlihat lahap makan, ia terkesima melihat wajah sang suami dari dekat dan kegiatan Hinata dikehatui, "Kenapa kau tak makan dan terus memandangiku?" Tanya Sasuke.
"Ekh! Ma-maaf," Hinata langsung menundukkan wajah malu.
Suasana makan malam terasa sangat sepi yang terdengar hanya suara garpu juga sendok yang saling beradu. Hinata buru-buru menghabiskan makan malamnya dan kembali kekamar untuk beristirahat.
"Aku selesai. Selamat malam Sasuke-kun." Pamit Hinata dengan wajah merona malu
Sasuke tersenyum tipis melihat tingkah dan singkap Hinata yang malu, menurutnya hal itu sangat lucu juga manis. Ternyata tak buruk juga menikah dengan Hinata karena banyak hal menarik pada gadis bersurai indigo itu yang tak Sasuke temukan dari gadis lain.
.
.
.
BRRUUUMMMM
Mobil mewah sport berwarna hitam melesat cepat ditengah jalanannya dan mobil mewah ini berhenti tepat disebuah sekolah SMA.
Para siswa yang berada disekitar pekarangan sekolah dan gerbang sekolah terlihat penasaran seraya bertanya-tanya siapa murid yang datang di antar mobil mewah itu. Apakah mungkin ada murid baru kaya raya yang masuk ke sekolah.
"Pssttt lihat, ada yang keluar,"
"Mana?"
Seluruh mata memandang kaget dan tak percaya pada Hinata, karena turun dari mobil mewah tak hanya itu saja yang membuat teman-teman Hinata syok luar biasa karena diantar pria tampan nan rupawan yang tak lain adalah Sasuke, suami Hinata.
"Hati-hati dijalan," ucap Hinata seraya melambaikan tangan dan dibalas senyuman kecil dari Sasuke membuat para gadis berteriak histeris melihat senyuman maut Sasuke.
BRUUUUMMM
Sasuke melajukan mobilnya cepat meninggalkan halaman sekolah.
"Haah~" Hinata mengehala nafas cepat lalu berjalan santai memasuki sekolah tanpa mempedulikan pandangan orang-orang padanya.
Dan gara-gara Hinata di antar oleh Sasuke seluruh sekolah ribut membicarakan tentang dirinya, tapi Hinata cuek dan tidak mempedulikannya karena bagi Hinata hal ini sudah biasa mengingat dirinya sering menjadi bahan pembicaran karena keadaan keluarganya.
SRAAAKKK
Hinata membuka pintu kelas dan berjalan santai menuju bangkunya tanpa mempedulikan tatapan aneh teman-teman sekelasnya. Untuk menunggu jam masuk Hinata membaca buku seraya mendengarkan musik agar kedua telinganya tidak mendengar segala perkataan teman-teman sekelasnya mengenai dirinya.
Banyak yang terkesan pada Hinata namun tidak sedikit juga yang mengatakan hal tak baik mengenai Hinata dikarenakan iri dan semacamnya. Namun bagi Hinata hal itu tidak masalah dan menggangapnya sebagai angin lalu mengingat sudah sering kali mengalami hal seperti ini.
Walau di sekolah Hinata terlihat tertutup karena sifat pemalu yang dimilikinya dan selalu senang menyidiri tak lantas membuat Hinata tak memiliki teman, ada seorang gadis cantik yang selalu menemani Hinata dan berteman dengannya sejak duduk dibangku sekolah dasar, Ino Yamanaka putri pemilik toko bunga Yamanaka, tempat Hinata bekerja part time.
Hinata tidak bisa menyembunyikan statusnya yang telah menjadi istri orang pada sahabat baiknya terlebih Ino terus menanyakan dirinya karena beberapa hari ini tidak masuk sekolah, bekerja bahkan saat Ino mencoba datang ke apartemen Hinata ternyata sudah kosong membuat gadis bersurai kuning panjang ini kebingungan dan panik. Lalu pagi ini Hinata datang dengan diantar seorang pria tampan yang mengendarai mobil sport mewah membuat banyak para gadis iri luar biasa pada Hinata.
Kyut~
Ino mencubit gemas pipi kanan Hinata, "Cepat katakan padaku Hinata, kemana saja kau selama dua hari ini dan siapa pria yang tadi mengantarmu?" cecar Ino.
"Sakit Ino," rintih Hinata.
"Huh!" Ino melepas cubitannya lalu menyilangkan kedua tangan didepan dada meminta penjelasan dari Hinata.
"Maaf selama dua hari ini aku tidak mengabarimu. Banyak hal yang sudah terjadi padaku," jelas Hinata membuat alis Ino menyeringit, "Maksudmu?"
"Aku menikah dua hari yang lalu dan setelah menikah aku pindah rumah," ujar Hinata panjang lebar.
Wajah Ino terlihat syok, "APA?!" serunya kaget.
Ino menatap Hinata dengan tatapan serius, "Apa kau sedang tak bercanda padaku Hinata?" tanya Ino menyakinkan perkataan temannya itu salah.
Hinata mengangguk kecil, "Itu benar Ino,"
"Astaga!" Ino menghembuskan nafasnya cepat, saat ini dirinya butuh nafas buatan karena berita yang disampaikan teman baiknya ini membuat dadanya sesak, "Lalu siapa nama suami mu itu Hinata?"
"Sasuke Uchiha," jawab Hinata cepat.
Kali ini Ino kedua mata Ino hampir copot dari matanya karena melolot dan tubuh Ino langsung terasa kaku mendengar nama pemuda tampan dari kalangan jetset yang wajahnya selalu masuk halaman depan majalah gosip entah karena berita kedekatannya dengan para artis atau mengenai perusahaan Uchiha Corporartion yang telah mendunia. Ino tidak pernah berpikir bagaimana bisa sahabatnya itu bisa menikah dengan orang sehebat dan setampan Sasuke.
"APA!?" Teriak Ino lebih keras dan kali ini wajahnya lebih syok seperti melihat hantu.
"Pelankan suaramu Ino," Hinata membekap mulut Ino lagi tapi dengan cepat Ino langsung melepaskan tangan Hinata dari mulutnya karena bisa-bisa ia mati kehabisan nafas karena ulah Hinata.
Ino menghirup nafas dalam-dalam dan menetralisirkan debaran jantungnya, "Lalu, bagaimana bisa kau menikah dengannya. Apa kau tidak tahu siapa dia?" Tanya Ino dengan setengah berbisik.
"Tidak. Memang siapa dia?" Hinata berbalik bertanya dan Ino terlihat menepuk jidatnya pelan,"Dasar kau ini, apa kau tak pernah melihat telivisi dan membaca majalah atau melihat internet," kata Ino tak percaya.
"Tidak,"
"Ternyata kau sangat ketinggalan jaman dan berita Hinata," kata Ino lemas.
"Hah?" Hinata memandang bingung dan heran pada teman baiknya itu.
PUK
Ino menaruh kedua tangan di atas pundak Hinata, "Kurasa kau adalah gadis paling beruntung di dunia ini,"
"Ha?! Beruntung, dari mananya?" tanya Hinata tak percaya.
GYUT~
Ino memeluk erat sahabat Hinata, "Aku ucapkan selamat atas pernikahan kalian berdua, semoga kalian berdua selalu bahagia," ucap Ino penuh harap.
"I-iya..." sahut Hinata bingung.
Hinata merasa heran bagaimana bisa dirinya dikatakan beruntung karena menikah dengan orang pemaksa seperti Sasuke, dirinya juga tidak sengaja menikah dengan pemuda bersurai raven itu karena sebuah kecelakaan kecil yang membuat kehidupan Hinata berubah seratus delapan puluh derajat seperti ini.
Andaikan saja Hinata tahu, kalau banyak wanita diluar sana yang rela menyerahkan dan memberikan apapun pada Hinata demi menukar posisi Hinata sebagai istri Sasuke karena mereka semua sangat ingin menjadi Nyonya besar Uchiha, tapi sayangnya gadis bermata bulan ini belum menyadari hal itu
.
.
.
Malam ini Sasuke pulang larut malam karena harus menyelesaikan pekerjaannya di kantor. Hal pertama yang ingin dilakukan Sasuke ketika sampai dirumah adalah bertemu sang istri dan berharap kalau Hinata akan meyambutnya pulang dengan wajah tersenyum lebar dan manis, tapi sepertinya keinginan Sasuke harus terkubur rapat-rapat karena para pelayan yang menyambut kedatangan Sasuke bukan gadis bersurai indigo seperti bayangannya.
"Selamat datang Sasuke-sama," sapa para pelayan dengan ramah menyambut kedatangan Sasuke.
"Dimana Hinata?" tanya Sasuke seraya menyerahkan tas kerjanya pada salah satu pelayan.
"Hinata-sama ada di dalam kamarnya,"
"Begitu," sahut Sasuke datar.
Sasuke melirik seorang pelayan muda bersurai cokelat pendek di sampingnya, " Hana, tolong kau buatkan kopi dan antarkan ke kamar,"
"Baik,"
Tap
Tap
Tap
Sasuke berjalan santai menaiki satu persatu tangga menuju lantai atas. Langkah kaki Sasuke berhenti tepat di depan pintu berwarna cokelat tua dengan ukiran indah yang merupakan kamar Hinata, walau mereka berdua menikah karena kecelakaan tapi Hinata mengatakan tak mau tidur satu kamar dengannya dan hal hasil mereka berdua tidur terpisah.
CKELEK
Sasuke membuka pelan pintu kamar, "Aku pulang," ucapnya seraya masuk kedalam kamar.
Saat masuk, Sasuke melihat Hinata tengah tidur diatas meja bahkan buku-buku pelajaran Hinata berserakan di atas meja dan Hinata sendiri tertidur masih memegang pensil. Sepertinya Hinata kelelahan belajar mengingat bulan depan akan ada ujian sekolah dan dalam ujian itu Hinata harus mendapatkan nilai tertinggi walau tak mendapatkan nilai tertinggi sekali-pun sekolah Hinata tetap gratis karena Sasuke sudah menjamin semuanya.
"Aku pulang, Hime," bisiknya pelan seraya mengecup singkat kepala Hinata.
Sasuke memandang sesaat wajah tidur Hinata dan seulas senyuman kecil menghiasi wajah tampannya, "Saat aku pulang kau selalu tertidur dan ketika aku bangun kau sudah tak ada di sisiku," lirih Sasuke.
GREEP
Sasuke meraih tubuh Hinata dan menggendongnya ala bridal style baru beberapa langkah berjalan tiba-tiba Hinata terbangun dan menatap kaget wajah Sasuke.
"Sasuke-kun!" pekik Hinata.
"Kau sudah bangun rupanya,"
"T-turunkan aku," pinta Hinata dengan setengah berontak.
"Baiklah," Sasuke menurunkan Hinata di dekat ranjang.
"Terima kasih," ucap Hinata malu.
Iris bulan Hinata melihat jam di atas nakas dan mendapati kalau ini sudah pukul satu pagi, "Apakah anda baru pulang?" tanya Hinata.
"Hn," sahut Sasuke seraya melonggarkan dasi.
Hinata berjalan mendekat dan membantu melepas dasi, "Apa anda sudah makan malam?" tanya Hinata kembali seraya membuka jas Sasuke.
"Sudah tadi aku makan dua potong roti k..."
"Aku akan membutkan sesuatu untuk anda," sela Hinata dengan wajah agak marah karena lagi-lagi Sasuke hanya makan malam dengan roti, memang Sasuke tidak terbiasa makan masakan Jepang tapi setidaknya jangan hanya memakan roti.
Diam-diam kedua sudut ujung bibir Sasuke terangkat ke atas ternyata Hinata perhatian dan peduli padanya, hal ini membuatnya senang.
"Tunggulah disini dan jangan meminum kopi karena aku akan membuatkan anda sesutu juga susu karena itu lebih baik dari pada kopi karena mengandung kafein yang tak baik untuk tubuh anda jika dikonsumsi terlalu banyak," kata Hinata panjang lebar menasehati dan memperingati pria bersurai raven itu.
Sasuke tertawa kecil mendengar Hinata yang mengeomel menasehatinya apalagi begitu memperhatikan kesehatan dirinya, memang tak salah ia memilih gadis cantik bermata bulan ini menjadi istrinya karena baginya Hinata sangat polos, jujur dan apa adanya, tidak seperti gadis-gadis diluar sana yang mencintai karena wajah serta harta miliknya.
Hinata membuatkan Sukiyaki untuk Sasuke karena menurutnya masakan ini cocok di santap di wakatu malam seperti ini dan Hinata juga sengaja memasukkan banyak sayuran dan daging ke dalamnya mengingat seharian ini pasti Sasuke sudah bekerja keras di kantor. Dengan setia Hinata duduk disamping Sasuke menunggu pria bermata kelam itu makan dan Sasuke selalu melahap habis masakan yang dibuat Hinata karena rasanya enak dan terasa pas dilidah.
"Mulai besok dan seterusnya, aku ingin kau membuatkan sarapan pagi dan makan malam untuk ku," kata Sasuke ditengah-tengah makannya.
"Bukankah di rumah ini sudah ada koki dan para pelayan yang selalu memasaka untuk mu,"
"Ya tapi aku ingin kau menjalankan tugas mu sebagai seorang istri. Apakah permintaanku salah?" tanya Sasuke.
"Tidak," jawab Hinata malas.
"Kalau begitu jalankanlah kewajibanmu sebagai istri dan layani aku dengan baik,"
"Baiklah aku akan menjalankan semua tugas ku sebagai istri padamu," kata Hinata kesal.
Satu alis Sasuke terangkat dan sebuah seringai nakal menghiasi wajah tampannya, "Apa kau yakin dengan perkataanmu?" tanya Sasuke menyakinkan ucapan Hinata.
"Ya," jawab Hinata tanpa tahu kalau jawabannya itu membuat Sasuke menyeringai senang.
"Jangan menyesali kata-katamu, Hime." Ujar Sasuke dengan tersenyum penuh arti.
~(-)~(-)~
Jam masih menunjukkan pukul dua malam dan seorang pria terlihat berjalan mengendap-ngendap masuk kedalam kamar Hinata lalu merebahkan diri disamping tubuh Hinata. Tangan kanannya melingkari tubuh Hinata lalu membawanya dalam kedalam pelukkannya.
"Selamat tidur, Hime." Ucapnya tak lama kedua mata kelamnya terpejam.
Beberapa jam kemudian, matahari muncul dari peraduannya menandakan kalau hari sudah pagi dan berganti, bahkan para pelayan sudah terbangun dan mulai bekerja setelah semalam beristirahat walau jam masih menunjukkan pukul enam pagi.
"Ugh!" Lenguh Hinata dalam tidurnya.
Hinata merasa nafasnya sesak tubuhnya terasa ditimpa oleh sebuah beban berat. Dengan mata setengah terpejam, Hinata membuka matanya dan melihat apa yang membuatnya sesak nafas. Saat iris bulannya terbuka lebar karena mendapati Sasuke tengah memeluknya erat.
"AAAAAA!" teriak Hinata histeris dan kaget.
Sasuke langsung terbangun karena teriakkan dari sang istri, "Ada apa Hinata?" tanya Sasuke dengan wajah mengantuk.
"Kau!" tunjuk Hinata takut, "A-apa yang kau lakukan dikamarku?!" teriak Hinata.
Mengucek mata kanannya malas dan masih sedikit memerah karena rasa kantuk, Sasuke memandang datar sang istri, "Tidur," sahut Sasuke santai membuat Hinata kesal dan naik pitam.
"Kau kan bisa tidur kamar mu sendiri,"
"Tapi ini juga kamar ku," ujar Sasuke dengan suara parau.
"Tidak! Ini kamar ku dan kamar mu di..."
"Mulai hari ini dan seterusnya aku tidur disini bersama mu," sela Sasuke.
"Apa!" seru Hinata.
Sreekkk
Sasuke mendekat pada Hinata dan tersenyum penuh arti, "Bukankah kau mengatakan akan menjalankan semua tugas sebagi istri dan bukankah sebagai pasangan suami istri kita harus tidur satu kamar juga ranjang,"
"I-iya ta-tapi bu..."
Cup'
Sasuke mencium singkat bibir Hinata membuat gadis pemilik iris bulan itu diam seribu bahasa dan tubuhnya kaku, "Itu adalah ciuman selamat pagi dariku dan setiap hari akan aku berikan padamu," kata Sasuke santai dan setelahnya ia pergi ke kamar mandi untuk membasuh wajah.
"KYAAAAAA!" teriak Hinata histeris dengan wajah merah padam.
Sasuke tersenyum senang di dalam kamar mandi mendengar jeritan sang istri dan ini baru permulan darinya. Akan banyak hal yang dilakukan oleh Sasuke pada Hinata jadi persiapkan hati dan dirimu Hinata karena akan banyak kejutan yang diberikan pria bermata kelam ini.
TBC
A/N : Pertama-tama saya mau berteriak 'BANZAI!'
Saya tidak menyangkan bayak yang menyukai Fic ini dan sangat berterima kasih yang sudah memberikan Riview, MemFavoritkan dan MemFollow Fic ini. Saya benar-benar senang sekali.
Maaf saya baru bisa melanjutkannya, dan seperti biasa saya tidak bisa janji bisa update cepat karena saya adalah Author yang menulis sesuai Mood juga jika ada waktu luang.
clareon : Sip
HyuugaYhuu988 : Sifat Sasuke di sini agak Jaim (Jaga Image) dan tak mudah bilang suka, wordnya sudah saya buat agak panjang dan salam kenal juga.
Callistalia : Terima kasih banyak^^ dan semoga suka dengan kelanjutannya.
Yuki Ryota : Maafkan Inoue karena harus MENDISCONTINUE sementara Fic Lust dan yang lainnya di akun satunya lagi. Maaf jika ada kata-kata yang kurang baku dan typo bertebaran dimana-mana, terima kasih sudah menyukai Fic ini.
Nurkoswara23 : Inoue bingung harus buat judulnya apa.
hinatachannn2505 : Terima kasih sudah menyukai Fic ini.
Uchiha Cullen738 : Maaf baru bisa update sekarang.
adeshasty : Summarynya memang dibuat mirip karena ini adalah Fic remake dari GEE milik saya yang ada di akun "Ogami Benjiro" yang tidak bisa saya buka karena lupa pasword.
Aoi Itsuka : Sip.
yuuki : Ya juga sih kasihan Hinata yang nikah cuma pake piyama tapi ini kebutuhan cerita.
hana : Oke
humychi : Terima kasih atas semangatnya.
NurmalaPrieska : Terima kasih sudah bilang Fic ini keren dan semoga senang dengan kelanjutannya.
Mina : Oke
Yukishiro Seiran : Inoue juga kasian dan sedih pas nulisnya tapi ini kebuthan cerita juga tradisi aneh keluarga Uchiha. Terima kasih sudah membaca Fic ini.
ana : Sip
hinataholic : Maaf baru bisa update.
Salsabilla12 : Sudah saya lanjutkan dan semoga suka dengan kelanjutannya.
HipHipHuraHura : Terima kasih sudah membaca Fic ini dan semoga suka dengan kelanjutannya.
little lilly : Sepertinya^^
Morita Naomi : Oke
Ayra Uzumaki : Makasih sudah baca Fic ini dan untuk kelanjutan Fic GEE sementara waktu saya tidak bisa melanjutkannya dan harus MENDISCONTINUE-NYA.
Saya ucapkan terima kasih banyak yang sudah memberikan Riview dan terima kasih kepada siapapun yang sudah membaca Fic ini dan jika berkenan Read and Riviewnya.
Inoue Kazeka.
