Disclaimer:
Naruto © Masashi Kishimoto
Aisu Kurimu © Aoi Haruno
Warning: AU, CRACK, OC, OOC, TYPO(S), kayak sinetron, lebay, gaje.
Bicara langsung: "Blablabla"
Bicara dalam hati: 'Blablabla'
Tidak menggunakan Japanese honorifics
Gaara, Shikamaru: 24-25 tahun
Hinata, Kiba, Lee: 23-24 tahun
Hanabi, Naruto, Chōji: 20-21 tahun
Hōbi: 2-3 tahun
Mulai chapter ini, ada beberapa perubahan dari chapter sebelumnya. Di chapter sebelumnya juga ada yang saya ubah.
.
.
.
Shaniechan (wah… reviewer pertama di Aisu Kurimu… \^o^/ baca lanjutannya ya, biar tahu… ^_^v yang lain tetep update kok. hoho makasih ya…), Senju Miru05 (makasih ya reviewnya… \^o^/), Sanada (baca yang selanjutnya biar mengerti… hoho ^_^v makasih udah review… \^o^/), Hina bee lover (hoho begitulah… Sasuke nggak saya ajak main di sini ^_^v yang lainnya tetap diupdate kok. makasih ya reviewnya… \^o^/), SoraHinase (wah… masa sih? saya belum pernah baca yang itu. ide ini entah kenapa tiba-tiba langsung muncul ke permukaan *?* saya nggak njiplak lho… nggak ada Sasuke, awalnya mau pakai Sasuke, tapi kayaknya lebih cocok Gaara. makasih ya sudah review \^o^/), Oichi tyara socrates sasori (lam kenal juga… makasih ya reviewnya… \^o^/), NN (makasih ya… \^o^/), Meiko Namikaze (iya, kayaknya *?* nikah muda. semuanya memang OOC, kan sudah ada warningnya. saya memang nggak bisa buat yang nggak OOC… ^_^v makasih mau review… \^o^/), Nada Uchiha (mungkin *?* kalau baca chapter ini mungkin akan mengerti ^_^v makasih reviewnya… \^o^/), Lyner Croix Rosenkrantz (kalau baca chapter ini pasti tahu jawabannya. makasih udah review \^o^/), ace namikaze (hai juga… makasih. baca chapter ini pasti tahu. Makasih juga reviewnya… \^o^/), Hana Hirogaru (tebak-tebak saja… ^_^v makasih reviewnya… \^o^/), nadeshiko ama (makasih sudah review… \^o^/), Hyuuzu hinata (kalau baca chapter ini, mungkin pertanyaannya akan terjawab… ^_^v makasih mau review… \^o^/), hanata chan (dari awal terpikirkan ide ini, menurut saya yang cocok cuma Gaara sih… ^_^v makasih ya… \^o^/), kuraishi cha22dhen (awalnya juga sempat kepikiran Sasuke, tapi saya merasa yang cocok adalah Gaara. jadi pingin buat fic yang ada Sasuke chibinya… #plak *selesaiin dulu fanfic yang masih menggantung* makasih reviewnya… \^o^/), Miyamiyamiyayam males log in (makasih ya reviewnya… \^o^/), demikooo (makasih banget… \^o^/), Masahiro NIGHT Seiran gaklogin (kelas dua SMA empat tahun yang lalu? jadi sekarang? *saya agak lemot* ^_^v yang lain tetep diupdate kok… makasih senpai… \^o^/), Kouro Ryuki gak log in (agak benar dugaannya, tapi di chapter ini mungkin bisa tahu lebih jelas. saya memang senang kalau Hinata jadi tegar. nggak login juga nggak apa-apa ^_^v makasih banget… \^o^/),yuuaja (makasih ya… iya, yang lain tetep update, tapi nggak tahu kapan… ^_^v makasih reviewnya… \^o^/), Merai Alixya Kudo (makasih udah review… \^o^/)
Maaf balas yang login nggak lewat PM… v(T_T)v
Bacanya pelan-pelan saja… *kok sok ngatur sih?* Gomennasai… itu cuma judul lagu (=_=)a *nggak nyambung*
.
.
.
~Aisu Kurimu~
-2-
.
.
.
"Kak Gaara…"
Mereka saling memandang untuk waktu yang cukup lama. Bahkan Hinata sampai mengabaikan Hōbi yang bergelayut manja di kakinya. Ia mengikuti kemana mata emerald Gaara memandang saat ini. Hinata melihat ke kakinya, ia baru sadar kalau Hōbi sedari tadi sedang menengadahkan kepalanya dan tidak berhenti memanggilnya 'bunda'.
Hinata segera melepas pelukan Hōbi di kakinya, kemudian mengangkatnya ke dalam gendongannya. Selanjutnya, dengan cepat ia melangkahkan kakinya mendekati pintu rumahnya. Langkahnya tertahan saat sebuah tangan mencengkeram lembut pundak kirinya, membuatnya berbalik dan menemukan mata emerald yang menatapnya sayu. Dalam diam Hinata meneteskan air mata.
"Kenapa menghindar?" tanya Gaara pelan. Suaranya terdengar sedih.
Tidak ada jawaban dari Hinata. Ia mengalihkan pandangan matanya dari Gaara yang menunggu jawaban darinya. Setelah tiga tahun tidak bertemu, bukan seperti ini yang diharapkan Gaara.
"Hinata," panggil Gaara lirih, karena tak kunjung mendengar suara Hinata.
"Ayah…" Suara ini membuat Gaara mengalihkan pandangannya ke Hōbi yang ada di gendongan Hinata. Entah apa yang dirasakan Gaara saat memandang mata emerald yang sama dengannya. Perasaannya mendadak bercampur aduk antara rindu, bahagia, sedih, dan beberapa rasa yang tidak bisa didefinisikan.
"Hōbi!" bentak Hinata yang membuat Hōbi tersentak. "Siapa yang kau panggil ayah?" Suara Hinata juga turut meninggi.
Hōbi yang tidak biasa melihat raut marah ibunya, siap meneteskan air matanya.
"Hinata, jangan kasar." Suara Gaara mendadak meninggi. Gaara menatap sayu pada Hōbi yang memasang wajah memelas kepadanya.
Hōbi mengangkat kedua tangannya, seolah ingin meraih Gaara. Tapi Hinata segera melepaskan tangan Gaara di pundaknya dan melangkah memasuki pintu rumahnya. Sekarang Gaara tidak lagi mencegahnya.
"Ayah…" panggil Hōbi lagi saat pintu hampir ditutup Hinata.
Blamm!
Hinata membanting pintu rumahnya dan dengan cepat menguncinya.
Gaara masih berdiri di depan pintu rumah Hinata. Ia mendekat dan membisikkan sesuatu di celah pintu.
"Kalau saat itu aku tahu tentang Hōbi, aku tidak akan pergi walaupun kau mengusirku."
Hinata yang ada di dalam rumah, perlahan menjatuhkan tubuhnya di depan pintu. Tentu saja ia mendengar apa yang baru saja dikatakan Gaara. Air matanya menetes tanpa isak yang menyertai. Hōbi yang masih berada dalam dekapannya kini meronta untuk lepas dari pelukannya dan turun.
Duk duk duk
Tangan mungil Hōbi menggedor pintu kayu rumahnya.
"AYAH!" teriak Hōbi dari bibir mungilnya. "AYAH!" Ia masih terus meneriakkannya, berharap 'ayah'nya akan mendengarnya.
"HŌBI!" bentak Hinata yang membuat Hōbi langsung diam dan menangis di tempat. Hinata hanya membiarkannya berdiri di sana dalam waktu yang cukup lama, tanpa ada niat untuk menenangkannya atau membuatnya berhenti menangis.
"Hinata, apa yang kau lakukan?" Hinata masih bisa mendengar suara Gaara yang meninggi, dari balik daun pintu.
Duk duk duk
"Hinata, buka pintunya!" Gaara tidak tega mendengar tangisan Hōbi.
Hinata masih tetap mengabaikan Hōbi yang masih menangis. Hinata juga menangis dengan memeluk lutut dan membenamkan kepalanya di sana. Ia seolah tidak mendengar suara apapun di sekitarnya. Bukannya ia tidak mendengar, ia hanya tidak ingin mendengar. Ia memejamkan matanya rapat-rapat dan menutup telinganya dengan kedua tangannya. Entah kenapa memori yang sudah lama ingin dilupakannya, kini muncul kembali. Ingatan di otaknya seolah berputar-putar membentuk potongan-potongan kecil peristiwa di masa lalunya…
.
'Kudengar, di sini menyewakan kamar. Apa aku boleh menyewanya?'
.
'Kenapa memilih rumahku?'
'Aku hanya pekerja paruh waktu, tidak bisa menyewa apartemen. Dan juga… kalau aku tinggal di sini, aku hanya perlu jalan kaki untuk ke kampus.'
.
'Rumahmu nyaman.'
.
'Masakanmu enak.'
.
'Kau mau cari kerja?'
'Iya, sebentar lagi aku lulus 'kan…'
.
'Aku tahu dimana kau bisa bekerja.'
.
'Di sana? Tapi itu 'kan—'
'Aku percaya pada kemampuanmu.'
.
'Aku nggak suka es krim.'
'Kakak harus mencobanya dulu…'
'Baiklah…'
'Aku tahu Kakak akan suka.'
.
'Aku sebatang kara. Aku kesepian…'
.
'Iya, kau beruntung. Karena itu, jangan menangis lagi.'
'Iya.'
'Sebenarnya, aku juga beruntung. Karena setelah bertemu dengan kalian, aku seperti mendapatkan sebuah keluarga. Semua ini, anugerah untukku…'
.
'Kau mau menikah denganku?'
.
'Selamat menikah!'
.
'Perempuan rendahan sepertimu memang tidak pantas ada di sini.'
.
'Aku dipecat.'
'Nggak apa-apa. Aku juga bekerja 'kan…'
'Tapi—'
'Sesekali bergantunglah padaku. Aku suamimu…'
.
'Aku ibunya. Kenapa? Kau terkejut?'
.
'Sebatang kara? Pembohong.'
'Aku nggak mungkin membohongimu.'
'Kakak masih punya ibu.'
'Iya, ibu tiri yang seumuran denganku.'
'Setidaknya Kakak masih punya keluarga di sana.'
'Tapi aku tidak merasa begitu.'
.
'Karena kau menikah dengannya, permohonannya waktu itu jadi sia-sia.'
.
'Sekarang aku tahu kenapa aku diterima bekerja di sana. Aku juga tahu kenapa aku diberhentikan.'
.
'Kau pikir dia serius? Kau tidak pantas untuknya! Dia hanya mengasihanimu… mengasihani gadis yatim piatu yang miskin!'
.
'Itu nggak benar.'
.
'Kau pikir hubungan kami hanya sebatas ibu tiri dan anaknya? Kau salah~'
.
'Kau tidak percaya padaku?'
.
'Kalau kau masih dekat dengannya, dia tidak akan mendapatkan apa-apa!'
.
'Kalau kau menahanku, aku tidak akan—'
'Pergilah…'
.
"Hōbi…" Suara Hanabi membawa Hinata kembali ke dunia nyata.
Hinata menengadahkan kepalanya. Wajahnya tampak berantakan dan basah karena air mata.
Hanabi datang dari pintu belakang dan menghampiri Hōbi yang menangis sesenggukan di samping Hinata. "Apa yang Kakak lakukan?" Hanabi merasa kesal pada kakaknya yang membiarkan Hōbi menangis sampai giginya bergemerutuk. Walaupun biasanya ia menjahilinya, tetap saja ia sayang pada keponakannya itu.
Tidak ada jawaban dari Hinata. Ia hanya memandang Hōbi dengan tatapan kosong, membuat Hōbi sedikit takut melihatnya.
Hanabi menggendong Hōbi dan menenangkannya, membuat Hōbi mulai menghentikan tangisnya.
Hinata berdiri dan melangkahkan kakinya menjauhi Hanabi dan Hōbi.
"Hinata." Suara Gaara kali ini terdengar dingin. Ia yang juga datang dari pintu belakang, menghadang langkah Hinata.
"Minggir." Hinata masih menghindari kontak mata dengan Gaara.
"Aku sudah tahu kenapa kau menghindariku."
"Lalu?"
"Kita harus bicara."
"Nggak perlu."
Hinata berjalan melewati Gaara yang tidak lagi berusaha menahannya. Ia masuk ke kamar dan membanting pintunya.
Gaara sejenak memejamkan matanya, menarik nafas dan menghembuskannya perlahan. Kemudian, ia mengarahkan pandangannya kepada Hanabi yang sedang menggendong Hōbi. Saat ini, Hōbi sudah tertidur karena kelelahan menangis.
"Kenapa nggak cerita dari dulu, Hanabi?"
"Maaf, saat itu aku nggak berani nglawan Kakak. Dia bekerja keras untukku, walaupun dia sedang…" Hanabi menggantungkan kalimatnya. Ia memandangi wajah Hōbi yang terlelap di gendongannya. Gaara mengerti dengan apa yang akan dikatakan Hanabi.
"Seharusnya aku tetap tinggal."
"Itu bukan salah Kak Gaara…"
Gaara menghela nafas lelah. "Sudahlah, aku akan pulang. Dia pasti merasa nggak nyaman kalau aku ada di sini."
Sebelum pergi, Gaara memandangi wajah damai Hōbi yang terlelap. Gaara mengecup Hōbi lembut di keningnya dan menghapus jejak air mata di pipinya.
.
.
.
"Kau sudah menemuinya?" Suara khas wanita langsung menyambut Gaara yang baru memasuki rumahnya.
Gaara mengabaikan wanita berambut merah yang sedang membetulkan letak kaca matanya. Ia berjalan melewatinya.
Tanpa aba-aba, wanita itu sudah memeluknya dari belakang.
"Lepas, Karin!" perintah Gaara dengan nada geram. "Pergi dari rumahku!" Gaara melepas paksa sepasang tangan yang melingkari pinggangnya.
"Rumahmu? Ini rumah ayahmu. Itu berarti, rumahku juga~" balas Karin dengan suara menggoda, yang dibisikkan di belakang telinga Gaara.
"Ini rumah Bunda, bukan rumah Ayah," ucap Gaara dingin.
Tangan Karin bergerak membelai lembut pundak kanan Gaara, yang kemudian segera ditepis oleh pemiliknya.
"Kau telah mengambil semuanya dariku. Apa lagi yang kau mau? Kau mau warisanku? Aku tidak peduli."
"Sayang~ yang kubutuhkan hanya kau…"
"Cih!"
Karin tersenyum menggoda. "Kenapa kau menawarkannya sekarang? Dulu kau pergi meninggalkan Hinata karena tidak ingin warisanmu jatuh ke tanganku 'kan~"
Gaara tersenyum angkuh. "Karena kau, dia jadi berpikir seperti itu tentangku. Aku harus berterima kasih padamu, Ibu." Gaara melakukan penekanan saat mengatakan 'ibu'.
"Aku jadi teringat kembali saat kau memohon padaku hanya untuk sebuah pekerjaan untuknya." Karin tersenyum mengejek. "Sungguh menggelikan," ejek Karin disertai tawa angkuhnya.
Gaara mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat dan rahangnya tampak mengeras. Ia sekuat tenaga menahan amarah yang sudah memuncak. "Licik!" umpatnya kesal.
Karin malah semakin mengeraskan tawanya. "Aku pulang dulu ya, Sayang~" pamit Karin seraya membelai pipi kiri Gaara.
Gaara dengan cepat memalingkan wajahnya ke arah yang berlawanan.
Karin melangkahkan kakinya keluar rumah bergaya Eropa milik Gaara. Senyuman penuh arti masih terukir di wajahnya.
Gaara yang sudah mendengar pintu rumahnya ditutup, segera berjalan mendekati sofa terdekat dari sana. Ia menghempaskan tubuhnya di sofa hitam dekat perapian. Di atas perapian, terpajang sebuah pigura besar dengan gambar keluarga yang tampak bahagia. Seorang bayi berambut merah berada di gendongan sang wanita yang tersenyum lembut.
Gaara meremas rambutnya frustasi. Ia menengadah dengan bantalan sofa sebagai tumpuan kepalanya. Perlahan ia memejamkan matanya.
.
'Aku yang berkuasa sekarang. Semua harta ayahmu sudah atas namaku.'
'Aku tidak peduli.'
.
'Kau mau kemana?'
'Pergi dari neraka.'
.
'Maaf, ya… tempatnya sempit. Kakak bisa menempati kamar di lantai dua.'
.
'Ternyata, lulusan SMK sepertiku susah mendapatkan pekerjaan.'
.
'Karena aku sudah mendapatkan gaji pertamaku, aku akan mentraktir Kakak…'
'Apa?'
'Ikut denganku.'
.
'Kenapa kau tidak bilang padaku saat memasukkan koki ke dapur hotel?'
'Aku tidak butuh izinmu.'
'Kau mau melawanku? Kau mau aku memecatnya sekarang juga? Ingat anakku~ kau tidak punya kuasa di sini~'
.
'Bagaimana pekerjaanmu?'
'Sangat menyenangkan.'
.
'Biarkan dia tetap bekerja di sini.'
'Memohonlah…'
.
'Apa sekarang Kakak masih merasa kesepian?'
'Tidak lagi.'
.
'Aku rindu Ibu…'
'Aku juga rindu Bunda.'
'Ibu… Apa dulu aku sudah mengatakan kalau aku sayang padamu… Aku saja sampai lupa…'
'Kalau aku, belum pernah mengatakannya.'
'Kenapa?'
'Aku tidak pernah melihatnya secara langsung.'
'Ternyata… aku lebih beruntung.'
'Iya, kau beruntung. Karena itu, jangan menangis lagi.'
.
'Selamat menikah!'
.
'Kenapa kau memecatnya?'
'Kenapa kau menikahinya?'
.
'Selama ini, Kakak hanya kasihan padaku?'
'Itu nggak benar.'
.
'Untuk diakui oleh para pemegang saham hotel, Anda harus melakukan ini.'
'Aku tidak butuh pengakuan dari mereka.'
'Tapi—'
'Aku tidak peduli dengan hotel.'
.
'Kalau aku tidak bisa mendapatkanmu, tidak juga untuk dia.'
'Sebenarnya apa maumu?'
'Tinggalkan dia!'
'Tidak akan.'
'Kalau kau tidak menuruti semua perintahku, aku akan menutup panti asuhan yang dikelola mendiang ibumu.'
.
'Kalian tidak terlihat seperti ibu dan anak.'
'Kau tidak percaya padaku?'
.
'Kau harus ingat kalau kuasa ada di tanganku sepenuhnya.'
.
'Anda harus cepat mengambil keputusan.'
.
'Pergilah…'
.
'Siapkan penerbangan secepatnya.'
.
'Aku sangat senang melihatmu jauh darinya.'
.
'Anda hanya harus menunggu beberapa tahun lagi, untuk mengambil alih kuasa itu darinya.'
'Sebenarnya bukan itu yang membuatku mengambil keputusan untuk pergi. Bukan kekuasaan atau warisan.'
.
"Tunggu sampai aku melemparmu menjadi gelandangan," gumam Gaara. "Tunggu sebentar lagi…"
.
.
.
"Kalau Hōbi tetap nakal, Bunda nggak akan mau ngajak Hōbi jalan-jalan." Hinata belum juga berhenti memarahi Hōbi yang duduk di atas futon-nya. Saat ini, Hōbi mengenakan piyama biru mudanya yang sedikit basah karena air mata. Ujung atasan piyamanya tampak kusut karena remasan dari jari-jari mungilnya.
"Hōbi juga nggak boleh manggil 'ayah' pada orang yang nggak dikenal," lanjut Hinata.
Hōbi memang sudah tidak meneteskan air mata lagi, tapi ia masih mengalami sesenggukan yang sepertinya sangat menyiksanya.
"Gimana kalau Hōbi diculik?" Hinata masih belum menurunkan nada tingginya. "Pokoknya Hōbi nggak boleh dekat-dekat orang yang tadi lagi."
"Ayah…" gumam Hōbi yang disertai isak.
"Hōbi!" bentak Hinata.
Hōbi tersentak dan menangis lagi dengan tatapan takut yang diarahkan pada Hinata.
"Kak… sudah…" Hanabi yang dari tadi hanya diam di ambang pintu, kini mulai angkat bicara.
"Jangan ikut campur, Hanabi."
"Hōbi tidur sendiri, dan lampunya dimatikan," lanjut Hinata yang kini mengalihkan pandangannya ke Hōbi lagi.
"Kak!" Hanabi sepertinya tidak tahan lagi dengan kelakuan Hinata saat ini. "Aku yang memperlihatkan foto Kak Gaara ke Hōbi. Kalau mau marah, jangan ke Hōbi. Aku yang salah, Kak…"
"Kenapa kau melakukannya, Hanabi?" Suara Hinata meninggi.
"Hōbi berhak tahu tentang ayahnya…"
"Tapi kau tahu aku tidak mau lagi berhubungan dengannya!"
"Tetap saja di antara kalian ada Hōbi. Kakak nggak bisa mutusin hubungan ayah dan anak!" Hanabi turut meninggikan suaranya.
"Kau yang telah menceritakan semuanya ke dia?" Suara Hinata masih terdengar meninggi.
"Iya, tentang kesalah pahaman Kakak. Tentang ancaman ibu tiri Kak Gaara. Semuanya."
"Bagaimana bisa kau mengatakan kalau aku salah paham?"
"Seharusnya Kakak denger dulu penjelasan Kak Gaara."
"Siapa sebenarnya kakakmu? Aku atau dia?" Hinata melangkah pergi meninggalkan Hanabi dan Hōbi di kamar.
Hanabi mendekati Hōbi, mencoba menenangkannya dan membelainya agar tidur. Air matanya perlahan menetes. Air mata yang selama ini sangat jarang ditampakkannya. Hanabi trenyuh melihat Hōbi yang masih tersiksa dengan sesenggukannya, yang membuat Hōbi terlihat susah bernafas.
"Tidur ya… Bibi akan menemanimu…"
.
.
.
Hinata sedang menjemur pakaian di samping rumahnya. Ia yang sepertinya banyak pikiran, tidak menyadari kedatangan Hōbi di belakangnya.
"Ng." Hōbi menyerahkan pakaian basah yang diambilnya dari keranjang pakaian, bermaksud membantu Hinata. "Ng." Sepertinya Hōbi masih takut untuk mengeluarkan suaranya.
Hinata yang melihat itu, hatinya tergetar. Betapa kejamnya ia semalam, memarahi Hōbi yang tidak salah apa-apa. Ia sadar kalau yang salah adalah dirinya sendiri, tapi ia menjadikan Hōbi sebagai pelampiasannya. Tidak lama, mata Hinata sudah berkaca-kaca. Ia berjongkok di depan Hōbi, dan mengambil kaos setengah basah yang ada di tangan Hōbi.
"Makasih, Sayang…" Hinata tidak bisa lagi menahan air matanya untuk tidak jatuh. Tangannya membelai lembut rambut Hōbi.
Hōbi memandang Hinata masih setengah takut. Matanya tampak berkaca-kaca. Bibir tipisnya sedikit bergetar.
"Hōbi nggak akan nakal lagi…" Tangis Hōbi pun pecah.
Hinata hanya menggelengkan kepalanya pelan. Air mata semakin deras membasahi pipinya. Hinata membawa Hōbi ke dalam pelukannya. Mendekapnya erat. Ia tidak peduli dengan pakaian yang tadi di tangannya telah kotor karena jatuh ke tanah.
"Maafin Bunda…" Hinata menangis dengan memeluk Hōbi.
"Hōbi nggak mau tidul sendili…" Tangisan Hōbi semakin kencang.
"Maafin Bunda ya…" Hinata membelai rambut Hōbi dan mengelus punggungnya. Cara yang selalu ia gunakan untuk menenangkan Hōbi saat menangis. "Cup…"
Lama-lama tangis Hōbi berhenti, tapi sesekali masih terdengar sesenggukan.
"Bunda sayang Hōbi… Kalau Hōbi nggak nakal, Bunda nggak akan marah…" Suara Hinata semakin melembut.
Hōbi mengangguk pelan di pelukan Hinata.
.
.
.
"Kenapa ke sini lagi?" tanya Hinata ketika melihat Gaara di balik pintu yang dibukanya.
"Aku ingin bertemu Hōbi."
Hinata melihat beberapa kantung yang dibawa Gaara di kedua tangannya. Kantung-kantung itu berisi beberapa mainan yang biasa digemari oleh anak-anak seusia Hōbi. Di kantung satunya, Hinata bisa melihat beberapa kaleng susu dengan rasa yang disukai Hōbi. Kenapa Gaara bisa tahu? 'Pasti Hanabi,' batin Hinata. Tapi ia lupa, bahwa apa yang disenangi Gaara juga disenangi Hōbi. Tanpa diberitahu Hanabi pun, Gaara pasti punya inisiatif untuk membelikan susu dengan rasa yang sama.
"Aku nggak akan mengizinkan."
Hinata bahkan tidak mempersilahkan Gaara untuk masuk ke dalam rumahnya. Setidaknya dulu, ada saat dimana Gaara diperbolehkan masuk tanpa harus meminta izin darinya.
"Dia putraku juga."
"Siapa bilang?"
"Cukup, Hinata. Aku tidak ingin berdebat denganmu."
"Kalau begitu, pulanglah…"
Gaara melihat Hōbi yang sedang mengintip di ambang pintu kamarnya. Pintu depan rumah Hinata memang dekat dengan kamar, jadi ia bisa melihat Hōbi dengan jelas. Ia merindukan suara Hōbi yang memanggilnya 'ayah'. Sudah lama Gaara berdiri di sana, tapi ia tak kunjung mendengar suara anak itu.
Mata emerald Hōbi berkaca-kaca, saat melihat Gaara yang menyunggingkan senyum tipis kepadanya. Sebenarnya ia ingin menghambur ke pelukan orang yang kata bibinya adalah ayahnya, yang selama ini ingin ditemuinya. Tapi, ibunya bilang kalau tidak boleh dekat-dekat orang yang tidak dikenal. Hōbi termasuk anak yang cukup pandai untuk mengerti tentang siapa orang yang dimaksud ibunya.
Hinata yang mengikuti arah pandang Gaara, segera membalikkan tubuhnya. Posisi berdirinya yang memang membelakangi kamar, membuatnya tidak menyadari kalau Hōbi sedari tadi ada di sana. Hōbi yang sadar kalau ibunya tengah melihatnya, segera memundurkan badannya dan tidak menampakkan diri lagi di ambang pintu. Hinata sebenarnya tidak tega melihat Hōbi yang seperti itu. Apalagi ia sempat melihat air mata Hōbi yang menetes. Ia tahu kalau saat ini Hōbi pasti sedang menangis sendiri di kamarnya.
"Kenapa kau tega pada anak sekecil Hōbi? Apa kau mau dia mengalami apa yang kualami?"
Hinata paham dengan apa yang dimaksud Gaara. Hidup lebih kurang empat tahun bersama Gaara dapat membuatnya mengerti dengan apa yang dialami Gaara selama ini. Sebuah rasa yang selalu dibenci Gaara. Kesepian.
"Hōbi tidak akan mengalami itu. Dia punya ibu. Dia punya keluarga. Dia tidak sama denganmu," jawab Hinata tenang.
Gaara tersenyum getir mendengar ucapan Hinata.
Ada rasa bersalah yang menyusup ke hati Hinata. Ia yakin apa yang baru saja diucapkannya telah menyinggung Gaara. Ia sangat mengenal Gaara. Ia tahu, dibanding siapapun Gaara sangat membenci rasa kesepian. Rasa yang sempat dilupakan Gaara saat bersamanya.
"Apa aku tidak boleh masuk ke dalam kehidupan Hōbi?" tanya Gaara lirih.
"Tidak. Jangan berlagak menjadi ayah yang baik." Hinata masih bersikap dingin.
"Apa aku telah melakukan dosa yang tidak bisa kau maafkan?"
"Kesalahanmu karena kau ada di sini. Kau tidak seharusnya berada di sini, Tuan Sabaku. Di sini sempit dan kumuh. Yang seperti ini bukan tempat yang cocok untukmu." Suara Hinata terdengar bergetar.
"Aku mengerti," ucap Gaara lirih. Ia meletakkan kantung-kantung yang ada di tangannya, di depan kaki Hinata.
"Bawa pulang," perintah datar Hinata.
"Aku ingin memberikannya untuk putraku."
"Apa kau pikir aku tidak bisa membelikan semua ini? Apa kau pikir aku masih miskin seperti dulu, sehingga kau masih saja mengasihaniku? Mengasihaniku yang miskin dan yatim piatu…"
Mata lavender Hinata tampak berkaca-kaca. Ia terlihat sekuat tenaga untuk menahan air matanya. Bibirnya sudah tampak bergetar. Ia bahkan tidak percaya telah mengatakannya kepada Gaara. Sebenarnya ia menyesal telah mengatakannya, karena sekali lagi ia telah menyinggung Gaara. Gaara juga sama dengannya. Senasib dengannya. Seorang yatim piatu. Bedanya, Gaara dilahirkan di keluarga berada.
"Siapa yang mengasihanimu? Aku tahu kau benci dikasihani, karena itu aku tidak melakukannya." Mata emerald Gaara turut berkaca-kaca. "Aku tidak pernah mengasihanimu…" lanjutnya dengan suara bergetar.
"Pulang," perintah datar Hinata juga dengan suara bergetar. Ia tidak bisa lagi menahan air matanya untuk tidak keluar. Ia sebenarnya tidak kuat melihat Gaara yang hampir meneteskan air matanya. Seseorang yang selama ini selalu terlihat kuat di depannya. Seseorang yang selalu menguatkannya. Seseorang yang sesekali juga memperlihatkan kerapuhan hanya di depannya. Seperti saat ini.
"Kau harus ingat kalau aku masih suamimu. Ayah dari putramu. Putra kita, Hōbi."
Gaara berbalik dan melangkahkan kakinya dengan berat menuju mobil sedan merah maroon-nya, yang terparkir di depan rumah Hinata. Ia harus kembali berbalik saat mendengar suara berisik di belakangnya. Ternyata Hinata melemparkan semua barang yang tadi dibawanya. Beberapa mainan yang berbahan rapuh tampak hancur. Kaleng-kaleng susu tergeletak berserakan di tanah yang ditumbuhi rumput hijau di depan rumah Hinata. Gaara memandang Hinata tak percaya.
Hinata segera masuk ke rumahnya dan membanting pintunya. Itu membuatnya tidak sempat melihat air mata Gaara yang menetes sebelum ia masuk ke dalam mobilnya. Samar-samar Hinata mendengar suara mobil Gaara yang menjauh dengan kecepatan di atas rata-rata.
"Maaf… maaf Kak…"
.
.
.
~To Be Continued~
.
.
.
Saya masih newbie, saya menerima kritik dan saran. Review dalam bentuk apapun, akan saya terima dengan tangan terbuka dan lapang dada. Terima kasih semua yang bersedia membaca dan mereview fic kayak sinetron ini…
.
.
.
~Go Koui~
~Arigatou Gozaimashita~
.
.
.
~Review Please~
.
.
.
