Caramel Popcorn

Rating: T

Genre: Humor? Friendship? Kalau humor jorok itu genre aku pilih itu.


Chapter 1: Sore, Om!


Pagi pagi waktu Jihoon bangun- ok, ralat, siang siang waktu Jihoon bangun dia langsung ke kamar mandi, mau mandi terus dandan yang tampan terus bertemu Papih, tapi dia tertahan di depan kamar mandi, berdiri saja di depan wastafel. Dipikirnya ada yang sedang pakai kamar mandi, jadi dia menunggu.

"Jun, bisa masuk?"

"Susah, sebentar."

"Tunggu, tunggu, nah, ayo dorong."

"Tidak apa apa, nih?"

"Masukan saja, Wen Junhui!"

Ribut ribut apa itu, Jihoon mengetuk pintu.

Yang di dalam, Junhui dan Wonwoo, dari suaranya yang rendah, panik.

"Siapa itu!?"

"Siapa!?"

Jihoon menjawab, "Lee Jihoon, Pintar, siapa lagi? Apa yang kalian lakukan di dalam? Aku harus mandi sekarang."

Jihoon berusaha membuka pintu yang tidak dikunci itu, tapi pintu itu ditutup, ditahan.

"Hei! Kalian jangan main main!"

"Kau pakai kamar mandi di kamarku saja!" kata Wonwoo.

Ih, kamar mandi Wonwoo, kan tempat maksiat, Jihoon malas kesana.

"Jangan biarkan dia masuk." kata Junhui, pasti pada Wonwoo.

"Bagaimana ini? Ini salahmu, Junhui!"

"Salahmu! Kau yang menariknya!"

"Kau yang mendorongnya!"

"Terus bagaimana!?"

"Ya, tidak tahu! Tanggung jawab sana!"

"Kau yang tanggung jaw-"

Jihoon mengetuk lagi, "Aku tidak peduli apa yang kalian ributkan, aku harus mandi sekarang sebelum Papih jemput!" dan Jihoon mendobrak pintu malang itu.

"Jihoon! Jihoon! Kayaknya kau tidak bisa mandi disini."

"Kenapa?" tanya Jihoon.

"Soalnya Junhui mencopot kerannya!"

"Tidak! Wonwoo yang mencopotnya!"

"Aku cuma menariknya sedikit, Junhui mendorongnya terus copot!"

"Itu karena Wonwoo menariknya, Jihoon!"

Ih, Jihoon malas, lebih baik numpang mandi di rumah Minghao.

"Jihoon! Kau mendengarku!?"

"Tidak! Sudah lanjutkan sana bertengkarnya!"


Hoshi yang pagi pagi di daycare, siang siang di studio, sore sore di cafe, dan malam malam di minimarket itu baru pulang sekitar jam lima, tadinya mau mandi tapi dia bertemu dengan banjir di depan wastafel sebelum kamar mandi.

"Apa apaan ini!?" dia panik, "Banjir! Bagai-"

Jihoon berguling di ranjangnya, masih pakai baju pergi, "Jangan berlebihan, Hoshi." katanya.

"Kenapa ini, Jihoon?"

"Biasa, teman temanmu." kata Jihoon, tidak sadar Wonwoo dan Junhui temannya juga.

"Siapa?" tanya Hoshi, "Kayaknya tidak ada temanku yang pernah kesini, deh?"

Jihoon memutar mata, "Junhui dan Wonwoo lah, Tampan, siapa lagi?"

Hoshi membeku, "K-kau barusan bilang aku tampan?"

"Mau kupanggil sipit?"

"T-tidak."

Dan air mengalir sampai ke kaki Hoshi yang berdiri di depan pintu.

"Uwah! Banjir!"

"Makanya tutup pintunya."

"Lapor Om! Jihoon! Lapor Om!"

"Aku sudah SMS-"

"Telepon! Telepon!"

Jihoon menutup pintu kamarnya dengan gagang sapu, terlalu malas gerak untuk turun dari ranjang. Biarkan saja Hoshi mengurus banjir itu sendiri.

Dan dia menelepon Om Josh.

"Ha-Uhuk uhuk! Hallo, Jihoon."

"Batuk, Om?"

"Iya. Ada apa Jihoon?"

"Anu, itu, kerannya rusak."

"Keran dimana?"

"Di kamar mandi sebelah kamar Jihoon-"

Jihoon bingung, kenapa dia menyebut nama dan bukannya kata ganti.

"Besok, Om panggil tukang, ya."

"Iya, Om, Jihoon tunggu." Jihoon berpikir, bodo ah.

Dan si Om tertawa.

"Om kenapa?"

"Jihoon kayaknya sering ngobrol sama om-om, ya?"

Hah? Iya sih, kan ada Papih.

"Kan Jihoon ada Papih, Om."

"Hm, jadi Papihnya Jihoon kayak apa, ya?"

Jihoon berkedip, si Om ini jomblo kayak Hoshi kah?

Tapi, ayo lanjutkan yang sudah dimulai.

"Om."

"Ya, Ji?"

Ih, yang biasa memanggil Jihoon dengan Ji, kan Papih.

"Om sendiri?"

"Iya, Om sendiri, kenapa? Mau main ke apartemen Om?"

"Ih, maksud Jihoon, Om masih sendiri? Single, Om? Single, single?"

Om tertawa, "Oh, Om punya pacar, Jihoon."

Terus? Kenapa tidak telepon pacarnya saja?

"Pacar, Om sibuk, ya?"

"Sibuk sekali, makanya Jihoon sini ke apartemen Om."

Hoshi membuka pintu, tidak pakai ketuk dan langsung menarik tangan Jihoon yang memegang handphone.

"Apaan teleponan begitu."

"Hoshi, ganggu, ih. Sana, sana." Jihoon menendang Hoshi, kali anak itu akan pergi, "Om, Hoshi ganggu, nih."

"Kalian yang kelewatan!"

"Apa-apaan, Hoshi! Sana pergi." Jihoon mengusir Hoshi lagi.

"Makanya Jihoon ke apartemen Om saja, biar tidak diganggu, Hoshi."

"Jihoon mahal, Om. Om bisa bayarnya?"

Hoshi naik ke ranjang Jihoon.

"Coba, Jihoon minta berapa?"

"Sepuluh juta won? Itu sudah diskon spesial buat Om."

Dan Hoshi merampas handphone Jihoon.

"Hoshi! Apa-apaan!?"

"Hallo, Om, ini Hoshi, Om."

Si Om tertawa lagi, "Kalian pacaran?"

"OTW, Om."

"OTW apaan, Hoshi!?" Jihoon berusaha merebut handphonenya, tapi tingginya dan Hoshi saja sudah beda jauh.

"Oh, good luck, ya, Hoshi."

"Iya, Om, tunggu undangannya, ya."

"Undangan apaan!?" dan Jihoon menendang selangkangan Hoshi.

"Argh! Pawang naga gimana sih, yang baik dong sama naga-nya!"

Jihoon merebut handphonenya.

"Om."

"Kalian berantem?"

"Hoshinya ganggu, Om."

"Ya sudah, besok Om panggilkan tukang, ya."

"Iya, Om. Ditunggu."

Hoshi masih meringis, anak itu memang suka berlebihan.

"Tanggung jawab, Jihoon. Sakit, tahu!"

"Ih, who are you, mister?"

"Hoshi lah, siapa lagi?"

"Terus hubungannya denganku apa?"

Hoshi nyengir, "Kau kan pawang nagaku."

Ih, jijik. Tapi Jihoon terkekeh.

"Sana pergi, dasar jomblo kurang belaian!"


"Sore, Om. Mau teh?" tawar Jihoon saat pertama kali Josh masuk ke rumah.

Josh menggeleng, "Thanks, Ji. Tukangnya?"

"Lagi kerja di atas."

"Teman temanmu?"

"Hoshi di cafe, Wonwoo di atas, Jun paling di rumah sebelah."

Josh duduk di ruang tamu, di depan TV.

"Rumah sebelah?"

"Iya, rumah keluarga Xu."

"Kenapa dia kesana?"

"Biasa, bertemu Minghao."

Josh tidak tanya tanya lagi, Jihoon di sebelahnya juga tidak bicara apa apa lagi.

Wonwoo turun dari atas, paling anak itu cari makan. Dan dia melihat Josh, "Sore, Om."

"Sore, Wonwoo, apa kabar?"

"Baik, Om sudah sembuh?"

"Lumayan, makanya Om kesini."

Wonwoo mengangguk kecil lalu berjalan ke dapur.

Tiba tiba pintu depan dibuka, "Jihoon, kita punya makanan tidak? Rasanya aku mau mati! Mana J- eh, Om. Sore, Om."

Hoshi datang, seperti biasa rusuh.

Tapi Om tetap tersenyum.

Iya lah, bukan Om Josh namanya kalau tidak tersenyum.

"Sore, Hoshi."

"Om." panggil Jihoon.

"Kenapa, Jihoon?"

"Kayaknya enak, ya kalau ada Om."

"Loh, kenapa?"

"Habis Hoshi jadi kalem kalau tahu ada Om."

Om tertawa, "Bisa saja kau, Jihoon."

Wonwoo duduk di samping Om dan Jihoon, membawa sepiring penuh spaghetti, "Mau, Om?" tawarnya.

"Oh, boleh."

Wonwoo membagikan garpu lalu mereka makan sepiring.

"Maaf, ya Om, makanya sepiring banyakan." kata Wonwoo.

Jihoon memutar matanya, serius anak anak jadi kalem kalau ada Om, coba saja mereka jadi Jihoon, mereka pasti tidak akan kalem kalem amat.

Dan si Om masih juga tersenyum.

"Om juga sering makan sepiring berdua, hitunh hitung irit piring."

"Sama pacar, Om?" tanya Jihoon.

"Itu sih, romantis, Om." kata Hoshi, tahu tahu sudah muncul sambil membawa garpu, "Kalau kita disini kurang piring, Om."

"Itu karena kau malas mencuci, Hoshi." kata Jihoon

Dan skak!

"I-itu, a-aku."

"Dia selalu menumpuk piring di kamar, Om." tambah Wonwoo.

"Kalian juga sama!" Hoshi membela diri, "Apalagi Jihoon, dia selalu menumpuk baju, mentang mentang bajunya banyak."

"Yang kita bahas, kan piring, Kwon. Kenapa bahas baju, coba?" tanya Jihoon.

"Apa perlu Om subsidi piring? Harusnya Om simpan piring disini, ya?"

"Serius, Om?" tanya Wonwoo.

"Om kayak pemerintah, main subsidi-subsidi-an." kata Hoshi. Anak ini sudah di skak, belum mati juga.

Tunggu, memangnya ini catur?

Om Josh menggulung spaghettinya dengan garpu dan menyuapnya, "Hm, ini enak, Wonwoo. Kau bisa masak?"

Hoshi tertawa, Wonwoo nyengir.

"Ini buatan pacarku, Om."

"Oh, pacarmu jago masak, ya?"

"Iya, Om." jawab Hoshi, "Jago banget! Kalau tidak ada dia mungkin kami sudah mati kelaparan."

Om tertawa.

" Berarti sudah siap diajak menikah, ya?"

Muka Wonwoo yang putih memerah.

"Belum lah, Om," jawab Hoshi, berlaga mewakili Wonwoo, "Pacar Wonwoo kan anak SMA."

Om terkejut, lalu tersenyum lagi.

"Kalian harusnya menyimpan makanan instan yang tinggal goreng, biar tidak menyusahkan orang, seperti sosis."

"Om, kalau sosis kita juga punya."

"Oh, iya?"

"Wonwoo punya satu, Jihoon punya satu, Om juga punya."

Om tersedak, terbatuk.

"Hoshi, ih! Jijik!" Jihoon menunjukan garpunya pada Hoshi, satu hal yang tidak sopan.

"Maaf, Om. Dia jomblo makanya suka sakit." kata Wonwoo.

Om mengangguk, paham kalau yang ada di hadapannya ini, tiga tiganya adalah hormonal kids.

"Maaf, Om."

"Tenang saja, Hoshi. Siapa yang tidak pernah bercanda jorok, coba?" kata Om, kasihan Hoshi kalau terus dipojokkan. Om Josh kan, baik hati dan angelic seperti malaikat.

"Om juga?" tanya Hoshi, "pasti sama pacar, ya."

"Makanya kau juga cari pacar."

Hoshi tertawa, saat itu Jun datang.

"Sore, Om."

"Sore, Junhui. Gimana tetangga sebelah, manis?"

"K-kok Om tahu?" Junhui kaget. Melihat satu persatu temannya dan Jihoon menggeleng.

"Aku tidak bilang kalian pacaran, aku cuma bilang kau mampir ke tetangga."

Eh.

"Tadi kau bilang, loh." tegur Hoshi.

"Oops."

Jihoon terlihat sengaja, tertawa kecil seperti setan.

"Kalau pacar Om, seumuran atau lebih muda?" tanya Hoshi.

"Seumuran. Kau mau aku cerita tentangnya?"

Hoshi mengangguk dan semuanya mendengarkan.

"Dia, tingginya tidak jauh dariku, aku pertama bertemu dengannya waktu pertama kali ke Korea. Sekarang dia seoranh sekretaris."

"Sekretaris seksi?"

"Ya, ya, seksi. Personally, aku suka dadanya, bahunya, di tambah blazer yang pas. Hm, perfect."

Ternyata disini yang hormonal bukan cuma Hoshi.

Lalu, handphone Om Josh berbunyi. Semuanya bisa melihat ada pesan masuk dari Honey, pasti pacar Om Josh.

Hoshi berdehem, yang lain mulai bersiul. Jihoon jadi ingat pacar anak sulung Papih, anak itu jago sekali bersiulnya.

From: Honey

Jemput, sekarang, ASAP. Aku kesal sama si Choi itu!

Om Josh tersenyum.

Anak anak bertanya, "Pacar, Om?"

"Om sama pacar Om tinggal serumah?"

"Belum." jawab Om, "Aku masih tinggal dengan Jinyoung."

"Jinyoung? Apa Jinyoung manis?" tanya Hoshi.

"Hong Jinyoung itu perempuan 30 tahun, minat?"

Hoshi langsung tutup mulut.

"Ya sudah, anak anak, aku pulang dulu. Kabari aku soal kerannya, ok?"

"Ok, Om." jawab anak anak.

"Hm, oh iya, Junhui. Ibumu bilang pakai uangmu dengan bijak."

Junhui cuma berkedip, kalau ibunya bicara begitu ada beberapa arti.

Perintah berhemat.

Jangan lupa bayar uang kuliah.

Tapi kalau Om Josh yang bicara artinya akan jadi.

Jangan telat bayar uang sewa.

Junhui nyengir.


TBC


Note: Aku tiba tiba baper, kangen Oshi, mau Request Hour lagi, lagu favoriteku sih Kondokoso, Viva! Hurricane juga, Kimi ni Au Tabi Koi wo Suru juga, dan aku sadar aku nyebrang fandom jauh banget... Krik krik.

Note(2): Jangan sedih karena SoonHoon bukan couple, ya. Dan jangan lupakan kalau aku menulis Cheol/Hoon/Soon di summary. Aku menulis begitu, kan?

Note(3): Pinky manis ya, entah kenapa kalau liat Pinky Zhou aku ingat Jerry Wen. Siyeon juga manis, dia setahun lebih muda dari Ican, ya? Berarti Pledis bisa nabung sebelum disband-in AS dan mendebutkan 7icons(?) maksudnya mendebutkan 7 trainee kece dari Nayoung sampai do-re-mi-fa-sol-la-si-yeon~

Note(4): Aku sudah bilang belum kalau ini seri gaje?

Note(5): Hayo, pacar Om Josh siapa, hayo? Yang jelas dia sibuk.