Because Romeo Juliet Not My Destiny
.
.
.
Seorang gadis terlihat begitu riang keluar dari rumahnya. Ia terus mengembangkan senyumannya saat pagi menjelang. Karena setiap pagi gadis itu akan bertemu dengan seseorang yang ia cintai, seorang pemuda yang berhasil membuat hatinya berdebar tak menentu.
Dan saat ini gadis itu tengah duduk di dalam mobilnya dengan senyuman yang terus terukir di wajahnya. Pandangan gadis itu terus mengarah keluar jendela mobil yang ia tumpangi itu.
"Ahjussi, tolong berhenti di sini." Perintah gadis itu kepada seorang pria paruh baya yang tengah sibuk mengemudikan mobil itu.
Seketika itu pula pria yang dipanggil pak Kim oleh gadis itu menghentikan laju mobil itu.
"Aku akan turun di sini saja." Ucap gadis itu dengan senyuman yang mengembang di wajah cantiknya.
Setelah mengucapkan hal itu, gadis itu segera membuka pintu mobilnya dan keluar dari sana.
Melihat nona mudanya itu keluar dari mobil, mau tak mau pria paruh baya itu ikut keluar dari dalam mobil tersebut.
"Selamat pagi, ayah." Ucap seorang pemuda kepada pria paruh baya itu yang kini berada di samping gadis tadi.
"Sudah ku katakan berungkali jangan mengajak nona Kyungsoo pergi ke sekolah bersamamu, dasar anak nakal!" Marah pria itu kepada pemuda itu, yang ternyata adalah putra kandungnya sendiri.
"Tidak ahjussi, aku sendiri yang ingin berangkat bersama Jongin." Kata gadis yang ternyata bernama Kyungsoo itu.
"Ayah dengar sendiri kan?" Tanya pemuda yang bernama Jongin tersebut dengan senyuman yang penuh kemenangan.
"Kau benar-benar!" Marah pria itu kepada Jongin dan memukul kepala pemuda itu.
"Akh!" Ringis Jongin dengan memegangi kepalanya yang terasa sakit karena pukulan sang ayah.
"Ahjussi, aku tidak apa, dan aku senang jika harus pergi ke sekolah bersama Jongin." Ucap gadis itu dengan tersenyum manis pada pria paruh baya itu.
Melihat senyuman gadis itu, pria itu hanya menghela nafasnya pasrah.
"Baiklah kalau begitu, Jongin, jaga Kyungsoo nona jika terjadi apa-apa padanya aku akan memukulmu hingga menjadi jelek!" Ancam pria itu yang justru membuat Kyungsoo menahan tawanya.
"Itu tidak mungkin dan tak akan pernah terjadi karena aku memang sudah terlahir tampan. Lagi pula aku yakin pukulan pak tua sepertimu pasti akan terasa seperti cubitan bagiku." Balas Jongon dengan percaya dirinya.
"Dasar anak kurang ajar! Kemari kau, akan ku tunjukkan bagaimana cubitan itu." Kesal pria itu.
"Sepertinya ini saat yang tepat." Bisik Jongin kepada Kyungsoo dan menggandeng tangan erat tangan gadis itu.
Kyungsoo yang mendengar itu terlihat tak mengerti dengan apa yang dimaksudkan oleh Jongin.
"1...2...3!" Dengan erat Jongin menggenggam tangan Kyungsoo dan mengajaknya lari saat ayah Jongin mendekatinya dan akan melayangkan pukulannya itu.
"Hati-hati di jalan pak tua." Teriak Jongin yang terus berlari dengan menggandeng Kyungsoo dan melambaikan tangan lainnya pada pria itu.
"Ya! Kemari kau bocah nakal!" Teriak pria itu yang tampak semakin kesal dengan kelakuan putranya itu.
"Ahjussi hati-hati di jalan!" Teriak Kyungsoo pada pria itu.
.
.
.
Kyungsoo duduk dengan tenang di samping seorang pemuda yang tengah sibuk dengan earphone di telinganya.
Kyungsoo mengalihkan pandangannya dan sibuk mengamati pemuda itu yang tengah mendengarkan lagu di earphonenya dengan mata yang terpejam.
Dan seketika ia mengeluarkan sebuah buku di dalam tasnya lalu dengan perlahan ia menggoreskan tinta hitam di atas kertas di dalam bukunya itu.
Terlihat sesekali gadis itu tampak menyunggingkan senyuman di wajah cantiknya sambil tetap menuliskan sesuatu di bukunya.
Ia menuliskan sesuatu pada buku tersebut sedangkan Jongin, pemuda yang duduk di samping Kyungsoo itu masih saja asyik dengan mendengarkan musik di earphonenya. Sesekali Kyungsoo menyunggingkan senyuman di wajah manisnya itu saat melihat hasil tulisannya.
"Oh kita sampai!" Seru Kyungsoo saat ia mengalihkan pandangannya menuju jendela dan ternyata ia sudah sampai pada tempat tujuannya.
Ia segera memasukkan buku yang ia gunakan untuk menulis tadi kedalam tas, lalu ia berdiri dan dengan cepat ia melepaskan earphone yang digunakan oleh Jongin.
"Kita sudah sampai tuan Kim." Ucap Kyungsoo setelah berhasil melepaskan earphone pada telinga Jongin.
Dengan cepat Kyungsoo berlari keluar bus itu saat bus itu berhenti dan diikuti oleh Jongin.
Mungkin begitulah keseharian keduanya. Mereka selalu saja berangkat maupun pulang sekolah bersama.
.
.
Jongin berdiri di depan pintu kelas Kyungsoo dengan senyuman yang mengembang di wajahnya. Ia baru saja mengantarkan gadisnya itu ke kelasnya. Karena memang kelas Jongin dan Kyungsoo tak sama. Mungkin bukan hanya kelas tapi kasta mereka juga tak sama.
Jongin mengurungkan niatnya saat ia akan meninggalkan tempat dimana ia berdiri saat ini. Ia melihat seorang pemuda yang mungkin adalah teman sekelas Kyungsoo yang melemparkan sebuah buku tepat di atas mejanya.
"Kerjakan itu untukku gadis manis." Perintah pemuda itu kepada Kyungsoo dengan sebuah senyuman di wajahnya.
Kyungsoo yang melihat itu hanya menundukkan kepalanya dan mematuhi apa yang diperintah oleh pemuda itu.
"Kau benar-benar gadis baik." Ucapnya sambil mengusak rambut Kyungsoo hingga membuat Kyungsoo ketakutan.
Jongin yang melihat itu menggeram marah. Ia tak terima jika gadisnya diperlakukan seperti itu. Dengan cepat ia melangkah ke dalam kelas itu dan menghampiri pemuda itu.
"Jongin?" Panggil Kyungsoo saat melihat pemuda itu sudah berada di depannya.
Jongin yang dipanggil oleh Kyungsoo hanya mengabaikan panggilan itu dan menatap tajam pemuda yang menyuruh Kyungsoo untuk mengerjakan pekerjaan rumahnya itu.
Jongin mengambil buku yang dilemparkan pemuda itu kepada Kyungsoo, ia kemudian melmparkan buku tersebut pada dada pemuda itu. Pemuda itu sendiri menggeram marah karena perlakuan Jongin kepadanya.
"Apa kau tidak punya otak hingga tidak bisa mengerjakannya sendiri?" Tanya Jongin dengan nada dinginnya.
"Atau kau buta huruf dan angka?" Tanya Jongin lagi.
Pemuda itu sendiri hanya tersenyum meremehkan Jongin.
"Kau seorang yang berpendidikan, tak seharusnya kau melakukan hal rendah seperti itu." Ucap Jongin masih dengan nada dinginnya.
"Dan satu lagi, jauhkan tangan kotormu itu untuk menyentuh gadisku!" Lanjut Jongin.
Pemuda itu semakin menyunggingkan senyuman meremehkannya kepada Jongin.
"Apa sekarang kau sedang mengancamku?" Tanya pemuda itu yang tak terima akan ucapan Jongin.
"Aku tidak mengancammu, tapi aku hanya ingin melindungi apa yang harus aku lindungi." Ucap Jongin dengan santainya.
"Kau seharusnya sadar diri siapa kau dan siapa dia!" Ucap pemuda itu dengan senyum meremehkannya pada Jongin.
Kyungsoo yang mendengar itu sontak langsung mendongak menatap pemuda itu. Bagi Kyungsoo ucapan pemuda itu adalah hal yang sensitif, terlebih lagi saat Kyungsoo melihat bagaimana tangan Jongin yang terkepal begitu erat.
"Bukankah aku yang seharusnya mengatakannya padamu?" Tanya Jongin yang kini mulai berani.
"Kau seharusnya sadar siapa dirimu! Kau hanya laki-laki bodoh yang bisa menadahkan tanganmu kepada kedua orang tuamu dan menggunakan uangmu untuk membeli segalanya. Bukankah itu artinya aku lebih baik darimu?" Jelas Jongin.
Pemuda itu menggeram saat mendengar apa yang dikatakan oleh Jongin. Ia terlihat begitu marah saat mendengar penuturan Jongin.
"Jika kau laki-laki sejati, seharusnya kau berusaha sendiri bukannya merengek kepada kedua orang tuamu." Lanjutnya dengan menyunggingkan senyum meremehkannya.
Setelah mengucapkan hal tersebut Jongin menatap Kyungsoo sejenak dan tersenyum kepadanya, lalu ia melangkahkan kakinya keluar dari kelas Kyungsoo.
Kyungsoo terus saja memusatkan pandangannya pada Jongin yang semakin berlalu pergi. Ia benar-benar masih takjub dengan apa yang dilakukan oleh kekasihnya itu. Meskipun hal tersebut bukanlah yang pertama bagi Kyungsoo.
Kyungsoo memang anak yang pendiam, cuek dan penyendiri. Karena itu ia sering menjadi bullyan banyak orang bahkan banyak yang memanfaatkan kepintarannya itu.
'Aku tak tahu berapa kali aku mengagumimu, kau benar-benar pahlawan bagiku. Setiap aku melihatmu, jantungku terus saja berdebar dan itu membuatku semakin jatuh dalam pesona dirimu.' Kyungsoo terus menatap Jongin hingga sosok pemuda itu tak lagi tertangkap oleh indera penglihatannya.
.
.
.
TBC
.
'Dongvil'
