Title: The Mark that Written on My Skin

Characters/ Pairing: Hatake Kakashi, Everyone

Type: Multichapter

Rating: T to M

Genre: Action, Crime, Romance, Angst, Hurt/ Comfort, Friendship (just pick it up, dude!)

Warnings: KakashixEveryone, Kakashi-centric, Alternate Universe (AU), Soulmate!Universe, Soulmark, Swearing, Marksman, Assassin, Spy, Straight, Sho-ai, No Harem, Need More Than One Soulmate? (idk), Love is Universal, Love Knows No Boundaries (anything else? Maybe later)

Disclaimer: Naruto © Masashi Kishimoto

(Kami tidak mencari keuntungan dalam bentuk materi apapun dari penggunaan karakter-karakter ciptaan Masashi Kishimoto)

Berhubung di manga/ anime Naruto, Kakashi jomblo abadi, jadi saya buat fic dengan ngeship dia dengan semua karakter Naruto hahahaha! FYI, meski di sini saya memakai nama organisasi InfinEye, fic kali ini nggak berhubungan dengan fic Anomali kecuali setting-nya.

Non-edited. So all mistakes are mine.

::::

Part 02

Ada hari-hari di mana otak Kakashi berhenti beroperasi sama sekali. Dia berusaha keras untuk fokus dan rasanya seperti berlari melawan arus air membuat otaknya justru semakin berkabut. Kadangkala dia berpikir apa yang tengah dirasakannya telah bertindak sebagai anastesi alami; menghilangkan rasa sakit. Awalnya dia berharap yang dilaluinya adalah proses untuk menghapus memori-memori buruk. Tapi nyatanya tak sesimpel itu. Semakin kuat dia memblok memori-memori buruk, maka mereka akan kembali lebih intens dari sebelumnya.

Dia selalu berkata pada diri sendiri jika peluru-lah yang melakukannya. Peluru-lah yang membunuh mereka. Tapi otaknya tahu jika dirinya yang menarik pemicunya. Setiap malam sejak dia membunuh pasangan suami istri Prancis beserta kelima saksi mata, dia terbangun dari mimpi buruk berulang-ulang. Jadi dia mengambil cuti, seperti saran psikiater yang disediakan oleh InfinEye. Dia tidak gila. Belum. Dia hanya mengalami apa yang mereka sebut PTSD (Post Traumatic Stress Disorder)—Gangguan Stres Pasca Trauma.

Jadi di sinilah Kakashi berada, menyusuri danau yang terbentang sepanjang pinggiran hutan di Algonquin dengan kano. Danau yang berwarna lebih cerah dari mimpi anak-anak di negeri dongeng. Mineral-mineral yang berasal dari glasier cyan yang bersinar, biru pirus serta biru berkilau. Angin dingin berhembus membawa udara musim gugur di pertengahan September. Kakashi menarik napas dalam-dalam. Damai. Sedikit saja dia merasa damai mulai membalut hatinya, membuat bibirnya mengulas senyum singkat. Tak salah jika Minato, mentornya, menyarankan tempat ini.

Kakashi terus mendayung. Dari tepi hutan dia mendengar seruan dan melihat lambaian dari para turis yang berkunjung. Mereka hanya mencoba beramah tamah pada setiap pengunjung. Tapi Kakashi tak akan berhenti hingga dia mencapai tujuan, sebuah kamp jauh di tengah hutan, yang tidak terjamah oleh turis-turis urban.

Kakashi melirik GPS-nya. Dia sudah sampai. Dia turun dari kano, menariknya keluar dari air lalu membaliknya dan menutupinya dengan sesemakan untuk menyamarkannya. Mengeratkan tali ranselnya, dia mulai melangkah mengikuti jalan setapak seperti instruksi Minato. Pohon-pohon berjejer rapat dengan ranting-ranting bertaut erat. Sinar matahari tampak bersusah payah menembusnya, membuat hutan di bagian ini lebih gelap dari tempat lainnya. Botnya menginjak dedaunan kering, terdengar renyah di telinganya. 15 menit kemudian dia sudah berada di tempat yang cukup terbuka. Tidak luas tapi cukup bagi sinar matahari menyentuh pipinya.

Kakashi segera membangun kamp. Mendirikan tenda satu orang, mencari ranting-ranting, dedaunan kering dan kayu untuk api unggun. Kakashi lalu meraih busurnya dan pergi berburu untuk makan malam. Saat senja mulai berakhir dan sinar matahari tersisa satu-satu, hutan mulai terasa begitu sunyi, seolah Kakashi adalah satu-satunya jiwa yang pernah mengunjunginya. Mata tajamnya lalu mendapati seekor kelinci gemuk berdiri dengan dua kaki belakangnya, hidungnya bergerak-gerak mengendus udara. Kakashi menatap. Napasnya terdengar sangat pelan. Setelah beberapa menit, Kakashi mengangkat busurnya, menarik anak panah … menentukan target … shoot.

Dengan api unggun menyala berderak-derak, Kakashi menguliti hasil buruannya, memotong-motong jamur lalu menyatukannya dengan beberapa lembar rempah hutan ke dalam panci. Malam belum begitu larut namun burung-burung hantu mulai saling menyahut. Api unggun menciptakan bayang-bayang panjang di sekeliling area. Cahayanya menari-nari di antara dahan. Dengan perut kenyang Kakashi menatap api, warna oranye dan merah hingga kuning dan putih di tengah. Kakashi bagai terhipnotis.

Kakashi kembali ke dunia nyata saat mendengar sebuah suara yang hampir membuatnya tertawa geli. Dia tahu sejak tadi seseorang mengawasinya, bersembunyi di antara pepohonan dan mungkin menunggu Kakashi tertidur untuk melakukan apapun yang diinginkannya. Pemilik suara itu terkesiap saat menyadari bahwa keberadaannya telah diketahui. Dengan langkah yang terdengar ragu dan malu, dia mendekati Kakashi yang memunggunginya. Kakashi tak berkata apapun, hanya menepuk-nepuk kayu gelondongan di sebelahnya. Si pendatang menghenyakkan bokongnya di sana untuk menatap sup daging kelinci yang masih tersisa setengah.

Kakashi, yang seperti biasa tak banyak bicara, memerhatikan gerak-gerik pendatang baru. Seorang gadis, masih remaja. Dengan rambut coklat tua tergerai di pundaknya, beberapa helai daun kering menempel di sana. Wajahnya kotor oleh tanah di beberapa bagian. Kakashi mendapati tiga pisau lempar, mengenalinya sebagai buatan Cold Steel, melingkar pada sabuk di pinggulnya. Bajunya, yang Kakashi yakin semula berwarna putih, kini kuning kecoklatan. Celananya sobek di bagian lutut dan Kakashi bisa melihat luka yang belum kering di sana.

"Kau dari sirkus?" Akhirnya Kakashi bertanya. Sekali lagi gadis kumal itu terkesiap dan langsung menengadah pada Kakashi, menatapnya dengan mata coklat yang membulat seperti mata rusa.

"Aku kabur," ujar si gadis masih dengan mata tak beralih dari pria di sampingnya.

Oh, shit.

Semesta sembilan alam rupanya telah bekerja sama untuk mempecundanginya. Setelah PTSD yang dialaminya, kini dia bertemu dengan soulmate-nya yang masih remaja. Di tengah hutan. PTSD sudah lebih dari buruk dan kini dia akan dicap pedofil? Fuck twice. Gadis itu duduk meringkuk dengan kedua tangannya melingkar di lutut. Kakashi segera mengambil mangkuk dan mengisinya dengan sup.

"Bagaimana kau bisa sampai di sini?" Kakashi menatap belahan jiwanya dengan rasa sedih yang tak bisa disembunyikan, membuat dirinya pun terkejut karena masih bisa merasakan salah satu emosi itu. Tapi yang paling membuatnya penasaran, kenapa gadis itu bisa sampai di bagian hutan yang kata Minato, sangat jarang dikunjungi oleh orang-orang.

"Lari. Lari dan terus berlari. Aku tidak tahu sudah berapa lama aku berlari hingga kakiku tak sanggup lagi."

Kakashi menatap kaki gadis-nya. Apakah aku sudah boleh menyebutnya sebagai gadis-ku? Tak ada alas kaki. Kakashi memejam mata. Kedua kaki gadis itu penuh luka gores dan beberapa bahkan masih meneteskan darah. Kakashi bangkit, berjalan menuju tenda untuk mengambil kotak P3K lalu kembali duduk di sebelah gadis itu. "Selesaikan makanmu. Lalu kita akan obati luka-lukamu."

Gadis itu hanya mengangguk, menghabiskan makan malamnya dengan lahap.

"Sirkus keliling. Atraksi lempar pisau. Itulah yang kulakukan." Tenten mulai bercerita. Luka-lukanya sudah diobati, perutnya sudah kenyang dan dia sudah berganti pakaian. Kakashi memberikan sepasang kaos dan celana kargo miliknya, yang tentu saja tampak kebesaran di gadis bertubuh mungil itu. "Aku juga sesekali atraksi wu-shu."

"Jadi kau bisa bela diri?" Kakashi melempar beberapa ranting ke dalam api unggun.

"Mm." Tenten mengangguk. "Tapi aku lebih dikenal dengan atraksi lempar pisau. Combat style. Tenten The Flying Blades." Dia mendengus. "Aku bahkan tak suka nama itu tapi terus saja memakainya."

Kakashi menatap Tenten yang duduk di dalam sleeping bag, sedikit pun tak menyela kata-katanya.

"Aksiku tidak menghasilkan banyak penonton dibanding Wanita Berjanggut, Manusia Ular, Fox Boy, atau atraksi Walking on The Rope. Jadi mereka berniat membuangku. Buang-buang dana, kata mereka. Tapi sebelum itu mereka …" Tenten menunduk, membuat rambut coklat gelapnya menutupi wajahnya. Kakashi tahu apa yang akan dikatakannya. "Aku kabur, sejauh kakiku bisa membawaku. Dan di sinilah aku berada."

Kakashi ingin merengkuh kepala mungil itu dalam dekapannya tapi dia sadar tak bisa melakukan itu sekarang. "Sejak kapan kau ada di sirkus?"

"Delapan tahun. Sejak kedua orang tuaku mati."

Dahi Kakashi mengernyit. Usia Tenten hanya setahun di atas Kakashi saat dirinya kehilangan orang tua. "Mati?"

"10 tahun lalu mereka ditembak oleh pria tak dikenal sepulang makan malam di salah satu restoran di Oregon. Mereka mati bersama lima saksi mata lainnya. Saat itu aku ada di rumah bersama pengasuh."

Kakashi pada akhirnya tertawa sambil menggeleng. Matanya terpejam dan napasnya mendengus beberapa kali. Alam semesta benar-benar telah menjadikannya seorang pecundang. Dia lalu berdiri sambil membentangkan tangan, menengadah pada langit malam di atas mereka. "What? Katakan padaku apa lagi yang bisa kalian berikan, hah?!"

"Aku tahu pria yang menembak orang tuaku adalah dirimu, Kakashi."

Kakashi menunduk, menatap Tenten dari balik bulu mata panjangnya. Tak ada amarah, sedih di raut wajah gadis itu, hanya guratan lelah dan rasa sakit fisik yang belum sembuh benar.

"Aku mungkin saja bisa membunuhmu. Tapi saat kalimat itu keluar dari bibirmu, aku mengurungkan niat."

"Kenapa?" Kakashi kembali duduk, mengusap rambut peraknya sambil mendesah.

"Aku tak memiliki siapapun lagi di dunia ini," sahut Tenten sambil menatap api unggun. Cahayanya yang kemerahan menari-nari, memantul di bola mata coklatnya. "Soulmate, sejauh apapun kau menghindarinya, tetap memiliki kekuatan tarik-menarik yang sangat kuat. Siapa yang menyangka kita akan bertemu di sini?" Tenten tertawa kecil. "Aku pun bukan orang suci, Kakashi. Orang tuaku pun seperti itu. Mereka adalah mata-mata Rusia yang menyamar sebagai warga sipil, aku tahu. Aku pernah membunuh. Tanganku sudah berlumur darah, sama sepertimu. Dan aku belajar untuk menerima takdirku."

Kakashi bisa merasakan bagaimana tubuh mungil itu merapat ke arahnya, mencari kehangatan. "Di mana soulmark-mu berada?"

Tenten meraup helai rambutnya dalam satu tangan, memperlihatkan lehernya. 'Kau dari sirkus?' adalah kalimat yang tertera di sana. Kakashi menyapunya dengan ujung jemari telunjuk membuat tubuh keduanya seperti disengat listrik. "Wow. Kita benar-benar belahan jiwa," ujarnya.

Kakashi berdecak pelan. Hidup di dunia di mana orang-orang memiliki soulmate dan soulmark, membuatnya skeptis akan beberapa hal. Dia tidak butuh belahan jiwa, begitulah pikirannya. Dia adalah seorang penyintas di antara kerasnya hidup jalanan dan peperangan, berprofesi sebagai seorang assassin untuk organisasi pemerintah. Dia sudah hidup selama 34 tahun dan dia baik-baik saja.

Pria rambut perak itu lalu membuka jaketnya, mengangkat kaos hitamnya untuk memperlihatkan kalimat di pinggang kanannya, berbentuk vertikal. Tenten tertawa renyah. Tawa yang pada akhirnya menimbulkan kerinduan di dalam hati Kakashi, perlahan menyelimutinya.

"Kita akan kembali besok pagi."

"Ke mana?"

"InfinEye. Kita akan lihat kemampuanmu sampai di mana. Kau mau 'kan?"

Tenten kembali tersenyum sambil mengangguk. Pipinya yang pucat saat pertama kali mereka bertemu kini tampak merona. Ya, Kakashi akan membawanya ke InfinEye, bertemu dengan beberapa anggota AKTA (American Knife Throwers Alliance) lalu membujuk salah satu dari mereka untuk mengasah kemampuan gadis itu.

"Kakashi. Kenapa kau percaya padaku? Bisa saja aku memanipulasimu."

"Karena aku percaya padamu," sahut Kakashi singkat. "Dan manipulasi bukanlah kemampuanmu, Tenten. Kau harus belajar itu dari agen sahabatku."

Mata Tenten berbinar polos membuat Kakashi tertawa renyah. PTSD memang hal yang sangat buruk. Tapi karena PTSD-lah Kakashi bertemu dengan belahan jiwanya. Untuk itu Kakashi bersyukur, sekali lagi dia menjadi penyintas untuk hal-hal yang bagi orang lain belum tentu bisa mereka lewati. Hal-hal buruk, jika berhasil melewatinya, akan membuatmu jauh lebih kuat. Because what doesn't kill you make you stronger.

Kakashi menggenggam tangan Tenten, menyaksikan malam semakin larut. Angin mendesau pelan, membawa lolongan serigala. Api unggun terus menyala yang akhirnya perlahan-lahan mati. Tapi bagi kedua jiwa yang baru bertemu, pagi adalah hari baru, membuat mereka tak sabar menunggu.

::::

END

End buat ship KakaTen. Ini pertama kalinya saya buat KakaTen haha. Maaf jika tidak berkenan di hati. Kakashi jomblo sih ya jadi asik aja dipasangin sama siapapun, meski saya shipper KakaSaku. Ini seolah keluar dari zona aman, haha. But nothing can't stop me from my imagination 'coz imagination has no boundaries.

Jadi, untuk next chap kira-kira pair-nya siapa nih? KakaSaku? Tenang, udah disiapin kok.

As usual, tinggalkan jejak dalam bentuk Review, pals!

Pojok Ripyu:

Wowwoh. Geegee: thanks.

Hideto-kun 1802: iya. Padahal gen Kakashi bagus. Kalau ada turunan klan Hatake kan keren tuh. Kalau Kakashi nggak punya keturunan artinya klan Hatake bisa punah ya. Thanks.

Cantik: Yup. Kakashi jadi sugar baby? Uh, itu lain universe. Rasa-rasanya udah kejawab di fic Shove. Anw thanks.

Kuu: …

V3: it's okay. Thanks anw udah singgah.

Gekanna87: thank udah singgah.

Hiki Kanata: karena Kakashi nggak terlibat roman dengan siapapun makanya fic ini lahir haha. Thanks udah singgah.

KanonAiko: huh, aunty. Maunya. Thanks.