"Aku tidak mengerti." Itulah ucapan yang keluar dari mulut Cara setelah Airlangga menjawab perkataannya barusan.

Cara sangat terkejut ketika datang ke sini bersama seorang cowok yang baru saja ia kenal beberapa jam sebelumnya saat ia sedang menunggu sahabatnya di dekat gerbang. Tingkat keterkejutannya hari ini benar-benar naik drastis.

Pertama, ia dihampiri oleh seorang cowok yang memiliki tato di sekujur tubuhnya dan mengaku bahwa Cara dan cowok yang menyebut dirinya Airlangga tersebut tidak sama dengan manusia lain dan demi mendapat penjelasan, Airlangga membawanya ke Café ini dan Cara bertemu dengan pria yang berada di mimpinya semalam, pria bermata kucing.

Kedua, pria tersebut, yang disebut Airlangga sebagai Magnus mengaku dirinya adalah warlock dan ia keturunan iblis, maka itu ia memiliki mata kucing. Cara awalnya tidak percaya, tapi kalau dipikir-pikir mungkin itu alasan yang. well, agak masuk akal untuk menjelaskan mata kucingnya tersebut.

Ketiga, Magnus mengatakan bahwa Cara adalah adalah Pemburu Bayangan, setengah fana (mereka menyebut manusia sebagai fana, dan menurut Cara itu lucu) dan setengah malaikat. Oke, Cara benar-benar tidak percaya kali ini.

"Kalau aku setengah malaikat, aku tidak mungkin bisa berbuat jahat," ucap Cara setelah mendengar penjelasan Magnus siapa Cara sebenarnya. "Lagipula, malaikat tidak memiliki nafsu dan mereka hanya menuruti perintah Tuhan."

Kemudian Magnus menjelaskan bahwa tentu saja seorang Pemburu Bayangan dapat berbuat jahat karena ia memiliki sifat manusia. Untuk yang satu ini, Cara dapat menerimanya.

Keempat, Magnus mengatakan bahwa pekerjaan Pemburu Bayangan adalah membasmi iblis dan iblis itu benar-benar ada, maksudnya benar-benar sering berkeliaran di muka bumi ini untuk memangsa fana dan tugas Pemburu Bayangan adalah membasmi mereka demi keamanan seluruh makhluk di muka bumi ini.

Kelima, Magnus bilang ia tahu bahwa Cara adalah seorang yatim piatu dan ia mengenal orang tua kandung Cara.

"Kau mengenal mereka?' tanya Cara terkejut.

"Yeah, dan mereka tidak membuangmu, tahu? Mereka mati ketika kau masih berumur delapan bulan, kala itu mereka dipanggil ke Idris, awalnya Ibumu menolak karena ia tidak ingin pergi ke Idris yang saat itu sedang dalam bahaya. Ibumu diberikan dua pilihan; pergi membawamu ke dalam tengah-tengah bahaya atau pergi dan meninggalkanmu untuk sementara dan menitipkanmu pada teman fananya demi keselamatanmu. Dan tentu saja ia memilih pilihan kedua. Mereka mati sebagai pahlawan, Cara," jelas Magnus panjang lebar.

"Mereka bisa saja memilih pilihan pertama, atau tidak memilih sama sekali. Mereka bisa tidak pergi ke sana demi keamanan kami semua."

"Ketika kau menjadi Pemburu Bayangan, Cara, berarti kau siap mati kapan saja demi keamanan di dunia ini," ucap Airlangga dengan penekanan di namanya.

Dan di sinilah Cara mengatakan "Aku tidak mengerti." Karena sungguh, kenapa mereka meberitahu Cara tentang semua ini? Kenapa tak membiarkan Cara tidak mengetahui bahwa orang tuanya mati? Kenapa tak membiarkan Cara berpikir bahwa orang tuanya membuangnya?

"Kau tak akan pernah mengerti, kalau kau masih berpikir bahwa orang tuamu bisa saja memilih untuk tetap tinggal bersamamu. Kalau mereka memilih hal tersebut, itu berarti mereka memilih untuk hidup seperti fana, meninggalkan dunia Pemburu Bayangan, dan hidup tanpa perlindungan Kunci," jelas Airlanggan panjang lebar.

"Memangnya kenapa kalau mereka memilih hidup sebagai fana? Dan Kunci itu apa?"

"Ketika mereka dalam bahaya, mereka tak akan mendapat bantuan dari Kunci. Bisa saja suatu saat iblis-iblis menyerang keluargamu, kan?" ujar Airlangga. "Dan Kunci itu seperti badan hukum di Negara ini."

"Aku tidak peduli dengan semua itu, mereka bisa saja memilihku, bukan meninggalkanku!"

"Kau keras kepala sekali, sih," ujar Airlangga kesal. "Sudahlah, Magnus, kau dengar sendiri ia tidak peduli kalau-kalau iblis menyerangnya, berarti ia lebih memilih hidup sebagai fana, kan? Lagipula kenapa harus dia sih yang menjalankan Institut, masih banyak keluarga lain yang lebih mampu dibandingkan dia."

"Airlangga, bukankah sudah kujelaskan padamu kenapa? Ia," Magnus menunjuk ke arah Cara, "adalah seorang Herondale. Kautahu aku pikir Jace adalah Herondale terakhir di muka bumi ini, tapi ternyata tidak! Aku akan melakukan apa pun demi menyelamatkan seorang Herondale. Apapun, asalkan aku tidak gagal untuk kali ini."

"Jadi nama keluargaku Herondale? Nama macam apa itu?"

"Itu nama Pemburu Bayangan, kau harusnya merasa terhormat memiliki nama itu. Dan, Magnus, kupikir Jace memang Herondale terakhir di muka bumi ini," ucap Airlangga.

"Kaupikir dan kupikir juga seperti itu," jawab Magnus sambil memijat pangkal hidungnya.

Cara tiba-tiba berdiri dan berkata, "Waktuku habis terbuang hanya untuk mendengarkan kalian bertengkar, oh yang benar saja! Aku pulang."

Cara mengambil semua barangnya dan segera begegas pergi keluar ketika Airlangga memegang tangannya, menahannya.

"Nona Herondale," panggil Airlangga. "Kau tidak bisa pergi begitu saja."

Cara tersenyum sinis. "Oh, tentu saja aku bisa." Cara menunjuk ke arah pintu masuk. "Aku sudah dijemput." Ia langsung menghentakkan tangannya hingga pegangan Airlangga terlepas dan segera pergi dari sana menuju Ale, sahabatnya, yang telah menunggunya dari beberapa menit yang lalu.

Selama penjelasan Magnus tadi Ale telah mengirimkannya pesan menanyakan keberadaan dirinya, awalnya Cara tidak membalas, tapi ketika Airlangga mulai sinis padanya Cara langsung mengirimkan pesan pada Ale menyuruhnya menjemput Cara dan hanya dibalas "Tunggu aku lima menit lagi." Dan benar saja Ale langsung muncul di depan pintu masuk kurang dari lima menit dan saat itulah Cara langsung berdiri.

"Siapa tadi?" tanya Ale. "Pacarmu?"

"Ha! Yang benar saja, mana mungkin aku berpacaran dengan preman macam dia," jawab Cara sinis.

"Yah, habis tadi dia memegang tanganmu. Biasanya kan kalau ada cowok selain aku yang memegangmu pasti langsung kau hajar, jadi kupikir cowok tadi pacarmu."

"Kaupikir. Bukan berarti kenyataan," ucap Cara dingin.

"Yah, oke."

Percakapan mereka langsung berhenti. Ale tahu, sangat tahu kalau sahabatnya ini sedang dalam mood yang kurang baik, untungnya bukan mood yang buruk karena sikapnya pasti akan lebih buruk dari sekarang, biasanya Ale pasti kena sasaran 'bantingan' Cara. Dan keheningan tersebut terus berlanjut hingga mereka sampai di depan Cara dan Cara membating pintu mobil Ale (sudah biasa bagi Ale) dan langsung pergi tanpa mengucapkan apapun.