"Bagaimana ini?" Ino menutupi kepalanya dengan jaket violetnya. Sesekali mengintip langit yang bergelegar tak bersahabat. Pintu rumah tuan Haruma, penghulu renta yang tinggal di Negara Hi tertutup rapat-rapat, lampu-lampu bulat di pekarangannya mati tak bercahaya padahal hari sudah mulai sore.
"Kurasa dia tidak ada di rumah" Shika memberitahukan hal yang sebenarnya sudah bisa ditebak.
"Jadi?" aku mematung, hujan rintik-rintik di bulan gugur itu sangat dingin, dan saat ini mereka perlahan berusaha mengguyur kami.
"Ayo pulang.." Shika berbalik dan berjalan malas, tidak berusaha menutupi dirinya dengan apa pun dari hujan, "..merepotkan" imbuhnya pelan.
"Apa tidak ada penghulu lain?" Aku bertanya, pelan-pelan menyamakan langkah Shika.
"Tidak ada yang kukenal, yang bisa kupercaya lagi" Shika masih berjalan pelan, tak menggubris juga ratusan tetes air hujan yang menghujam tubuhnya.
"Ah.. iya, aku paham" aku mengangguk. Pernikahan abu-abu kami ini, meski sudah berjalan 2 bulan, namun diantara kami sudah saling memastikan bahwa yang tahu tentang pernikahan kami hanya penduduk desa Fei dan kami saja, bahkan Sakura, atau orang tua kami sekalipun tidak ada yang tahu. Ada perasaan bersalah juga kenapa harus aku rahasiakan hal serunyam –baca penting, ini pada ayahku, karena sebelumnya kami tak pernah punya rahasia, apalagi semenjak ibu meninggal dunia. Ada kalanya cerita pernikahanku dengan pemuda Nara ini sudah sampai mulut dan hendak keluar kapan saja dia bisa setiap ayah menanyaiku, 'Kapan kau ingin menikah hime?', 'Bagaimana menurutmu pemuda Kiri itu?', 'Apa ada orang yang kau sukai?, ayah tak pernah mendengar kisah itu dari mu lagi'.
Aku tersenyum getir, tiba-tiba saja aku sangat rindu ayah, aku bahkan meninggalkanya di rumah sendiri dan berbohong bahwa aku akan pergi makan dengan Sakura. Padahal malam ini akan ada perayaan berakhirnya perang di Konoha. Pasti ayah kerepotan menyiapkan bunga-bunga untuk perayaan sendirian. Aku terlalu asik memikirkan ayahku ketika lubang kecil di jalan becek depan pintu masuk Konoha itu menjerembab kakiku.
"Hey Ino, perhatikan langkahmu sedikit! Kau sedari tadi melamun" Shika reflek memegang siku ku ketika tubuhku nyaris miring 60o menuju tanah becek.
"ish.. kakiku kotor" aku menggerutu, mengibaskan sisa lumpur di ujung jari kakiku.
"merepotkan.." Shika hampir menyempurnakan langkahnya ketika aku buru-buru berkata,
"Maaf Shikamaru.. maafkan aku.." aku memandangi lumpur di kakiku lekat.
"Untuk apa?"
"Karena aku lapar, kita jadi sampai ke rumah tuan Haruma sangat sore, dan kehilangan kesempatan menyelesaikan masalah ini segera"
"Hn"
"Kali ini biar aku yang mengadakan janji dengan tuan Haruma, besok kau ada rapat penyusunan kurikulum Chuunin baru kan?"
"Hn"
"biarkan aku juga yang menentukkan tanggalnya"
"Hn"
Aku meniup poniku yang basah menutupi mataku, mendengus mendengar kata 'hn' dari Shikamaru untuk kesekian kalinya. Aku menghampirinya dengan langkah lebar dan keras-keras mencubit lengannya gemas.
"KAU MENDENGARKU KAN SHIKAMARU? BERHENTI KATAKAN 'HN' DAN JAWAB YANG JELAS!"
Aku berteriak di telinganya, dia yang telinganya baru menerima suara berdesibel besar itu mengeluarkan tangannya dari saku celananya, memasukkan jari kelingking ke telinga dan berkata santai,
"Hn.."
Aku refleks menjitak kepalanya keras-keras.
"Ah sakit Ino!" ia merintih pelan,
"Darimana saja… kau! Nona muda Yamanaka?" Suara tak asing itu tiba-tiba menggema keras sejurus di depan kami. Ah! Ayah!, bahkan ada Sakura, Naruto, paman Shikaku juga Chouji.
"Ku kira kau kencan dengan gadis Suna itu dulu, Shikamaru! Sejak kapan kau kencan dengan Ino? Apa kau Playboy?" Naruto asal bicara, mengundang jitakan perdana Sakura di kepala Naruto mendarat sempurna. Shikamaru menghela nafas dalam.
"Ha? Kencan? Kenapa aku tak kau beritahu apa-apa kalau kalian kencan, bukankah aku juga tim 10?" Chouji merengut lucu, pipinya penuh dengan keripik kentang.
"Kencan atau apapun itu, Shikamaru Nara! Menculik putri muda Yamanaka tanpa ijin sampai sesore ini bukan hal yang bisa dibenarkan.." Paman Shikaku menasihati dengan nada tidak biasanya.
"Aku tak-" Aku terbata, "Kau kemana saja Ino? Sakura berkata dia tidak punya janji makan apapun dengan mu!?" Ayah berkata agak mengintimidasi. Sakura memandangku seolah di wajahnya ia berkata 'kau berhutang banyak cerita padaku, pig!'.
"Hm.. aku tahu kalian berbohong!" Ayah masih saja keras bicaranya.
"Ibiki mengatakan pada kami, melihat kalian di sekitar komplek veteran Negara Hi, tepatnya di sekitar rumah Haruma Fujikawa-sama, saat mengurus surat pernikahan. Apa yang sebenarnya kalian berusaha lakukan di sana?"
"Tidak ada, kami hanya bertemu di jalan dan Shikamaru memutuskan untuk membantuku mencari bibit bunga di bukit Negara Hi" Aku menyilangkan jari tengah dan telunjuk gelisah.
"Sekarang musim gugur nona Yamanaka, kau ingin mencari bibit bunga di bukit mana? Apa yang kau rencanakan?" Mata ayahku terasa membunuh sekali.
"Kami tidak merencanakan apa-apa, paman Inoichi, kami juga tidak melakukan apapun selain melihat-lihat bukit Hi" Shikamaru mulai bicara.
"Hah, Nara sachet, kau sudah berani berbohong? Setelah melakukan kesalahan dengan membawa putri Inoichi sampai sore, apa kau mau tidur di luar rumah? Kau sudah mempermalukan ayah terlalu jauh kali ini" Shikaku Nara menghela nafas berat dan menatap kami tajam.
"Apa kalian ingin menikah?, kenapa mengunjungi penghulu ninja di desa Hi? Apa perlu kami menikahkan kalian sekarang juga?" Inoichi Yamanaka meninggikan suaranya, menatap kami dengan mata yang mengintimidasi. "Cukup HIME! Apa ada kesalahan ayahmu sehingga kau tidak bicara jujur juga sampai detik ini? Apa kau ingin mulai tidak mendengarkan ayah? Apa kau mulai jadi anak yang-"
"tidak.. tidak tou-san.." aku nyaris tersedak keinginan untuk menangisku yang meluap. "Aku hanya.." aku menatap Shika memohon bantuan, namun sebenarnya lebih ke harapan bahwa Shika akan mengajakku segera pergidari situasi ini. Tatapan Shika tak terbaca, namun kemudian mengambil nafas dalam-dalam,
"Kami menikah, sejak 2 bulan lalu.. " Shika mencuri hakku berbicara, aku benar-benar ingin menangis.
Aku berjalan mondar-mandir sendirian di depan gerbang Konoha menunggu seseorang, aku masih sesering mungkin menengok jam besar konoha di tengah kota yang masih terlihat jelas, masih pukul 06.50, aku terlalu cepat 10 menit untuk mengatakan bahwa pemuda yang ku tunggu ini terlambat.
"Aish.. apa yang harus kulakukan.."
Aku menghela nafas lagi, teringat keputusan ayah dan paman shikaku ketika mengetahui putri dan putranya telah menikah diam-diam secara tidak masuk akal. Keputusan mereka dalam masalah inilah yang sebenarnya tidak masuk akal,
"Aku tidak bisa bekata-kata Shikaku.. aku serahkan padamu masalah ini.. aku akan sangat menghargai keputusanmu, apapun itu.. Lakukan apa pun, Ino aku titipkan padamu" Ayahku memijit kepalanya sambil tersenyum pasrah.
"Kalau begitu, baiklah.. Ino .. Shikamaru.. sebagai hukuman atas kesembronoan kalian dalam hal sakral macam ini.. tidak ada jalan paling baik selain menikah dengan serius.." mimic wajah Paman terlihat sangat serius.
"Maksutnya?" aku tak begitu paham dengan kata-kata ayah pemuda ber-IQ 200 ini.
"Kami akan menikahkan kalian secara resmi, toh sebenarnya kami pernah sepakat akan menikahkan kalian suatu saat nanti. Klan Nara dan Yamanaka akan kami jadikan satu ikatan keluarga dengan pernikahan kalian" Ayahku manggut-manggut.
"Tapi.. bagaimana ini- tidak- maksutku.. ini- bukankah kami sudah jelaskan, kami ke rumah tuan haruma untuk menyelesaikan pernikahan ini paman?" aku berusaha memperjelas lagi apa yang aku pikirkan.
"Tapi kalian gagal..dan itu berarti ada kesempatan kalian menikah dengan resmi.."
"kesempatan? Bagamana bisa?"
"dengan usaha kalian bercerai yang gagal, kalian secara tidak langsung menyelisih perceraian ini..kalian berarti masih bisa menikah resmi lagi, karena berarti kalian saling menyukai" Shika mengangkat wajahnya untuk pertama kalinya, menatap ayahnya,
"Saling menyukai?, tapi ayah aku dan Ino tidak benar-benar berniat menikah, kami sahabat sejak kecil dan-"
"itu menambah alasan kenapa kalian harus menikah"
"tapi- kami tidak –huh Shikamaru lakukan sesuatu dengan IQ-mu!" aku berbisik sambil menendang kaki Shikamaru.
"merepotkan..- berikan kami kesempatan untuk membuktikan bahwa pernikahan ini hanya ketidaksengajaan.. kami tidak bermaksut begitu" Shika akhirnya bicara sedikit lebih tegas.
"Apa alasan kami melakukannya? Ini juga hukuman karena kalian bermain-main dengan pernikahan" Ayahku ikut nimbrung.
"Tapi ayah aku tidak siap menikah…" aku berkata lirih.
"lalu selama 2 bulan ini kau ngapain?"
"itu agar Shikamaru bisa melindungiku selama perang.. itu perjanjiannya.. ayah kumohon mengertilah!" Aku nyaris kehilangan suaraku.
"Saya mohon Paman.. saya berani bersumpah saya tidak melakukan apa-pun selama menikah dengan Ino selain melindunginya selama perang, kami tidak saling menyukai seperti itu" Shika berkata lagi.
"huh baiklah-baiklah kalau kalian keras kepala, kalian di beri 2 pilihan, segera menikah dengan serius dan dirayakan besar agar pernikahan kalian satu tanggal dengan tanggal perayaan perdamaian perang konoha, atau.. bercerai dalam deadline waktu 24 jam. Pilih dengan bijak..!"
Aku menangkap bayangan si mata onyx itu dari kejauhan, kami sudah bulat! Kami akan bercerai. Aku sudah menyusun pertemuan dengan Haruma-sama, Shikamaru sudah membatalkan rapat dan misi-nya hari ini, aku absen dari penjelasan hubunganku dengan Shika yang diwajibkan sakura padaku hari ini, melewatkan undangan ulang tahun putra asuma yang ke 2 tahun, menolak permohonan Tenten merangkai bunga untuk pernikahan kakak perempuannya, ah pernikahan aku semakin trauma dengan kata itu. Dia menatapku sama tak terbacanya seperti 12 tahun lamanya aku mengenalnya, tatapan yang aku harap ada hal menarik yang bisa ku dapatkan di balik wajah bête itu. Wajah yang seolah selalu berusaha mengatakan padaku 'kau merepotkan'. Aku berpaling dari wajah polos itu, menatap jalan depan gerbang Konoha, kami memulai langkah ke Negara Hi tanpa berusaha saling bicara.
Ann Kei, terimakasih, salam kenal juga, tapi mungkin aku akan sangat jarang buat fic lagi, ini mungkin yang terakhir, (InsyaAllah). Hhe
gui gui M.I.T, wah aku seneng bgt bs direview sama gui gui, aku suka fic mu gui gui, unyuu~
shiinchan, udah jadi tadi, tapi bingung cara buat chapter gmn, (pemula, biasa)
lindSey, trims ripwiwmu jadi semangat!
Saqee-chan, thaks ripwiw nya~ bikin semangat nglanjutin, meski lg banyak tugas hafalan, dan sekolah tapi jadi semangat ngelanjutin hehe
minnachan, wish you all like it, sorry for the EYTD (Ejaan Yang tidak Disempurnakan). Im amateur and freelance begitulah gak tahu istilahnya,,
