1

Kota Niceve adalah kota kecil yang berada di tengah-tengah pegunungan tertinggi di Benua Yorbian. Meski tak semenarik Kota YorkNew atau tertutup dari dunia luar seperti NGL, kota ini tak pernah sepi. Ada saja festival, magical beast, ataupun flora-fauna yang hanya bisa di temukan di sini, sehingga membuat banyak pengunjung dari lima benua ingin sekali untuk bisa datang ke sana meski hanya sekali dalam hidup mereka. Kota ini juga dikelilingi oleh banyak kanal yang jelas membuat sebuah keunikan tersendiri sehingga Kota Niceve sering juga disebut dengan 'Kota Sejuta Kanal'.

Namun, selayaknya dua sisi pada satu koin, keindahan tersebut juga menyimpan kebusukan akibat kegiatan yang dilakukan oleh sekelompok komunitas.

Tak jauh dari pusat Kota Niceve, tepatnya di salah satu distrik yang dulu ramai ditempati oleh banyak orang namun sekarang sudah ditinggali karena kerusakan yang akibatkan oleh banjir besar, masih ada segelintir masyarakat yang harus bertahan dengan hidup diantara puing-puing sisa bangunan, bagi yang kurang beruntung, mereka terpaksa hidup di dalam gorong-gorong kota.

Seperti hewan jerapah, yang dulu diyakini memiliki leher pendek, namun karena terus-menerus mendongak demi mengambil daun yang tinggi, maka lehernya juga ikut memanjang karena lingkungan. Seperti inilah deskripsi kehidupan masyarakat di sini. Mereka yang terus menerus hidup di gorong-gorong, secara otomatis tubuh mereka juga akan menciptakan kekebalan tubuh secara alami. Tak hanya itu, bagi mereka yang memiliki talent yang tinggi, mengontrol aura juga bukan perkara yang sulit. Namun, hanya sedikit dari mereka yang bisa mengontrol aura yang berasal dari tubuh mereka. Hal ini tentu menarik bagi sebagian orang, contohnya para ilmuan demi pengetahuan mereka dan mafia.

Ya, Kota Niceve adalah kota yang juga merupakan tempat tinggal banyak keluarga mafia. Para keluarga besar mafia tersebut hidup di salah satu distrik di kalangan berada namun juga berbahaya. Hal tersebut bisa dilihat dari banyaknya laki-laki berjas hitam yang sudah terlihat ketika masuk dari gerbang yang memisahkan antara distrik tersebut dengan distrik yang lain. Para lelaki berjas hitam tersebut juga tak akan segan mengancam dengan menggunakan senjata api apabila melihat orang yang tidak memiliki kepentingan masuk ke kawasan mereka. Hal ini dilakukan semata-mata demi menjaga tempat tinggal para Don.

Di salah satu manor yang berada di distrik tersebut, merupakan tempat tinggal Keluarga Nostrade, salah satu keluarga yang bisa mencuri perhatian Sepuluh Don, sebutan untuk para pemimpin dari 10 besar keluarga mafia paling berpengaruh, karena kepiawaian mereka dalam memainkan bisnis gelap dan bisa masuk ke dalam salah satu keluarga yang sukses hanya dalam kurun waktu 5 tahun. Selain itu juga diketahui kalau anak gadis Keluarga Nostrade juga bisa meramal masa depan, yang menjadikan para anggota Sepuluh Don penggemarnya.

Bagi mereka yang tidak mempercayai bahwa anak gadis Keluarga Nostrade bisa meramal masa depan, hanya menganggap bahwa gadis Nostrade tersebut hanya menulis semacam petuah maupun puisi. Namun bagi mereka yang bisa melihat aura ataupun melihat bagaimana ramalan tersebut dibuat, menganggap kalau kemampuan untuk mengontrol aura tersebutlah yang membuat gadis Nostrade tersebut bisa memiliki kemampuan meramal masa depan.

Bagi mereka yang mendapatkan kekayaan secara instan maka secara singkat pula kekayaan itu hilang. Anak gadis Keluarga Nostrad diketahui memiliki hobi yang 'unik' yaitu mengoleksi bagian tubuh manusia. Untuk tetap menjalankan hobi yang unik tersebut, maka diperlukan pelelangan yang bisa mengakomodasi hobi-hobi yang tidak bermoral tersebut. Dalam setahun sekali, terdapat sebuah pelelangan yang sangat besar hingga bisa mengumpulkan semua mafia di dunia.

Nama pelelangannya itu diberi nama Pelelangan Bawah Tanah, dimana uang yang dibayar untuk membeli barang di pelelangan tersebut akan langsung diberikan ke organisasi amal. Karena pelelangan ini sudah menjadi tradisi pihak mafia, maka kebanyakan dari mereka rela bangkrut asalkan bisa membeli salah satu dari barang yang dilelang di sana.

Anak gadis Nostrade merupakan kunci utama dari kesuksesan besar keluarga Nostrade dalam waktu yang singkat, oleh karenanya ia membutuhkan banyak pengawal yang bisa menjaganya sewaktu di pelelangan.

Sayangnya yang mengincar harta dari pelelangan terbesar ini bukan hanya para mafia, tetapi juga salah satu organisasi pencuri kelas A, Phantom Troupe. Berkat ramalan dari anak gadis Nostrade, harta yang menjadi tujuan dari Phantom Troupe bisa disembunyikan meskipun banyak pihak dari mafia yang menjadi korban mereka.

Hingga para Laba-laba, sebutan bagi Phantom Troupe menyadari kekuatan mengetahui masa depan yang dimiliki oleh anak gadis Nostrade. Kekuatan semacam itu sangat jarang ditemukan, dan sang Kepala mengingankannya. Singkat cerita, di malam itu anak gadis Nostrade kehilangan kekuatannya dan membuat gila ayahnya yang memang mengandalkan semua bisnisnya di kekuatan anaknya.

Untungnya, keberuntungan masih tetap tersenyum kepada Keluarga Nostrade. Salah satu pengawal dari anak gadis Nostrad memiliki sifat mengandalkan ketenangan sehingga masih bisa berpikiran jernih dan membawa bisnis dari Keluarga Nostrade dari ambang kehancuran. Kemudian kepercayaan dari Kepala Keluarga Nostrade berubah arah ke pengawal tersebut.

Puncaknya ialah menjadikan pengawal—lelaki tersebut sebagai Kepala Keluarga yang baru.


.
.

Warning: kinda AU!ish, OOC, asumsi author sendiri dari manga, kinda spoiler, lots of typo, Kurapika awalnya laki-laki but somehow in disguise (?) chap kali ini penuh darah sama torture, kalo ada yang keberatan ini bakalan dinaikin ratenya.

Hunter x Hunter belongs to Togashi-sensei

.

.

science of downfall

.

.

enjoy tho.

.

.


"Katakan, dimana kau menyimpan Mata Merahnya?"

Suara kekehan terdengar dari mulut lelaki paruh baya yang sedang duduk ditanya oleh lelaki bermata sipit di depannya, sebelum akhirnya ia meludahi sepatu kulit sang penanya. "Pergi ke neraka."

Satu pukulan mendarat dikepalanya, dan lelaki paruh baya tersebut masih terkekeh pelan, meski kekehannya tersebut bercampur dengan batuk. Meski telinganya sudah berdenging, dan ia bisa merasakan darah yang sudah bercampur dengan air liurnya, ia tidak akan memberitahu benda yang dicari oleh lelaki berambut pirang yang sejak tadi hanya duduk mengamati di kursi besi, dibelakang sang penanya dan tidak berbicara sepatah kata pun.

Kepala Keluarga Nostrade yang baru dikabarkan mencari-cari salah satu barang dari 7 Keindahan Dunia. Ini hanya sebatas kabar angin, namun tertangkapnya lelaki paruh baya tersebut sudah membenarkan kabar angin itu. Ia harus segera melaporkan ini kepada teman-temannya yang juga memiliki Mata Merah.

Namun pikirannya kembali terpotong saat ia merasa ada kain hitam yang menutupi sebagian wajahnya dan rasa sakit tersebut kembali terasa. Kali ini tidak ada kekehan yang keluar, dan lelaki paruh baya tersebut mengeluarkan teriakan pertama dalam beberapa jam saat 'interogasi' ini dimulai.

"Masih tidak ingin berbicara?"

Lelaki yang menginterogasinya itu mengenakan kemeja putih yang lengannya sudah digulung, dan ia melihat sepercik darah mengenai bagian depan kemeja. Darahnya. Mau tak mau lelaki paruh baya tersebut berfikir, berapa lama waktu yang dibutuhkan sebelum akhirnya ia pingsan dan mati akibat kehabisan darah.

"Anda tidak akan kami biarkan pingsan." Pertama kalinya sejak ia membuka matanya, lelaki berambut pirang yang kini sudah berpindah duduk, berhadapan dengannya berbicara, seolah menjawab pertanyaan di kepalanya.

"Kalau anda pingsan, kami akan menyuntikan adrenaline ke dalam tubuh anda, dan voila, anda akan kembali bangun."

Lelaki paruh baya itu mencemooh, dan menjawab sembari menarik tangannya yang sudah memerah hingga meneteskan darah akibat diikat di kursi menggunakan borgol besi, "Mungkin kita bisa membicarakan masalah ini secara baik-baik."

Kali ini lelaki berambut pirang itu yang terkekeh geli saat mendengar jawabannya, "Anda sudah kehilangan atas tawaran itu pada saat anda memerintahkan bawahan anda untuk menembak ke mansion kami, Don Torioncho. Yah walau tidak ada korban jiwa dari pihak saya."

Lelaki paruh baya diketahui bernama Don Torioncho kembali meneliti lelaki berambut pirang yang berada di hadapannya. Ia masih memakai setelan kemejanya dengan jas hitamnya, seolah tidak merasakan gerah dan panas yang dirasakan oleh Don Torioncho, meski sang lelaki paruh baya tersebut hanya mengenakan pakaian dalamnya yang berupa singlet dan boxer. Usianya sangat muda, kalau bisa dibilang lelaki tersebut berada dalam usia awal 20-an dan Don Torioncho tidak mengingat kalau Light Nostrade memiliki seorang putra.

"Kesempatan terakhir." Kali ini Kepala Keluarga Nostrade yang baru yang bertanya, dan lelaki yang sebelumnya menginterogasinya pergi ke ruangan sebelah. "Dimana kau sembunyikan Mata Merahnya, hm?"

"Kau tidak pernah mengerti ya, Anak Muda." Don Torioncho sudah pasrah pada nasibnya saat mendengar pertanyaan dari lelaki yang di hadapannya.

"Pergi. Ke. Neraka." Setiap katanya ia ucapkan dengan penuh penekanan dan ia menutup matanya sambil menunggu saat terakhirnya.

Lelaki Nostrade tersebut menghela napasnya, dan berdiri dari kursi yang ia tempati sedari tadi. Kemudian ia berjalan mengelilingi Don Torioncho dan kini berdiri di sampingnya sambil mengambil pistol yang tersusun rapih dan mengongkangnya. "Anda benar-benar sangat keras kepala, seperti yang Don Alessandro katakan."

Hening tercipta sebelum akhirnya sang Don Nostrade berbicara lagi dengannya. "Aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Anda tahu, saya sebenarnya diundang ke acara pembersihan nama Don Fiorenzo malam ini. Tidak sopan bukan, apabila saya datang telambat."

Don Torioncho membelalakan matanya mendengar nama salah satu sahabatnya yang juga memiliki Mata Merah. "Mustahil! Galerano sangat membenci Light, dan ia tidak akan mengundang kalian ke acara sacral tersebut."

Lelaki paruh baya tersebut bisa merasakan senyum mengembang dari lawan bicaranya. "Ini adalah, yang kalian sebut dengan, pengakuan dosa. Saya mengakui bahwa malam ini, saya akan berbuat dosa yaitu mengambil Mata Merah Klan Kuruta dan akan melawan siapapun yang menghalangi jalan saya."

"Rinssen." Lelaki berambut pirang tersebut memanggil nama bawahannya dan muncul dari ruang sebelah adalah lelaki yang sedari tadi menginterogasinya dan kini terlihat ia membawa sebuah laptop hitam ditangannya kemudian ia menaruh barang tersebut dan membukanya di hadapan Don Torioncho.

Lalu muncul dihadapannya adalah semacam siaran langsung, terlihat sebuah ruangan yang kotor dan penuh dengan bulu-bulu angsa yang ia yakini berasal dari bantal dan sofa miliknya, terdapat dua sosok orang yang paling berharga di hidupnya sedang menangis meringkuk dan saling memeluk. "Adelia! Marseille!"

Anak perempuannya, Marseille, yang baru berumur 10 tahun masih menangis saat melihat wajahnya muncul. "Papa! Tolong kami! Aku takut sekali, Papa!" Ucapnya dalam bahasa Italia dan Don Torioncho, merasakan hawa kematian yang semakin dekat, memaksakan dirinya berkata demi menenangkan anak satu-satunya. "Papa akan menyelamatkanmu. Kamu tetaplah bersama dengan ibumu!"

Istrinya, Adelia, oh Adelia yang malang, yang Don Torioncho baru menyadari bahwa istrinya yang memiliki wajah tenang dan cantik dengan rambut hitam tebalnya, kini memiliki beberapa lebam di wajahnya. Rambut ikal hitamnya yang biasa tersisir rapi kini berantakan dan gaun putih yang dipakainya kini sudah tercemar dengan darah yang menetes dari keningnya yang sobek.

Disaat Marseille berteriak sambil menangis di pelukan sang Ibu, Istrinya hanya menggerakan mulutnya, dan air mata kini sudah menggenang di pelupuk matanya sebelum akhirnya jatuh bersamaan dengan tubuhnya yang sudah kehilangan nyawa didalamnya. Anak perempuannya yang tertimpa oleh badan istrinya kembali menjerit sambil mengguncang-guncang tubuh ibunya yang sudah tak bergerak. Badan kecilnya sudah terkena darah yang merembes keluar dari luka ibunya.

Don Torioncho hanya duduk mematung di sana menghadap layar. Tidak ada emosi satupun yang keluar darinya, hanya kehampaan. Suara anaknya juga tidak lagi terdengar ditelinganya, yang ada hanya sebuah pesan terakhir dari Adelia yang terus-menerus berputar di kepalanya.

Lindungi Marseille. Aku mencintaimu.

Don Torioncho terus menerus mendengar suara istrinya di dalam benaknya sampai suatu kalimat terdengar di telinganya secara samar.

"Ia tidak akan mati, kalau saja anda mau mengatakannya sedari awal."

Benar.

Adelia tidak akan mati kalau saja ia tidak begitu keras kepala menyembunyikan Mata Merah. Ia akan pulang, meski dalam keadaan babak belur, namun istrinya akan tetap menyambutnya di pintu depan. Marseille masih akan tetap memiliki ibunya.

Kalau saja ia tidak begitu keras kepala.

"… ada di kamar di lantai dua, tepatnya di bawah tempat tidur dengan seprai pink."

Meski diucapkan dengan suara lirih, namun lelaki berambut pirang tersebut masih bisa menangkapnya dan kembali mengucapkan kalimat tersebut ke bawahannya yang sedang berada di rumahnya.

Beberapa waktu terlewat, namun Don Torioncho masih belum bangkit dari keterpurukannya. Pandangannya masih tetap fokus ke arah anaknya yang masih tetap menangis di dalam pelukan ibunya. Ia bisa membayangkan bagaimana tubuh sang istri yang berangsur-angsur mendingin dipelukannya. Marseille pasti akan mendapatkan trauma dari kejadian ini.

"Saya tidak menyangka anda menyimpannya di dalam kamar anak sendiri. Saya menduganya ini pasti hadiah untuk ulangtahun anak anda."

Don Torioncho menghiraukan kata-katanya, yang ada dipikirannya hanya ada supaya lelaki tersebut melepaskannya agar ia bisa kembali ke rumahnya dan mengubur istrinya dengan layak.

"Anda tidak akan kembali." Kalimat itu sukses membuat lelaki paruh baya tersebut mengalihkan pandangannya dari layar ke sumber suara. Ia masih tidak percaya lagi-lagi lelaki berambut pirang tersebut mendengar pikirannya.

"Sudah saya bilang, bukan? Kalau ini adalah kesempatan terakhir."

Don Torioncho baru akan membuka mulutnya sebelum terdengar suara meletus yang keras ditelinganya. Pandangannya semakin menghitam, dan ia masih bisa mendengar suara secara samar ditelinganya.

"Sampaikan permintaan maafku kepada Adelia."

Sebelum akhirnya perasaan dingin menyelimuti dirinya.

.


.

Kurapika baru saja pulang dari kegiatan sehari-harinya. Siang hari, ia adalah Kepala dari Keluarga Nostrade. Dan malamnya ia adalah seorang Blacklist Hunter dan 'pencuri'. Ia bahkan sudah tidak peduli dengan namanya pencuri seperti musuh bebuyutannya dengan orang yang tega membeli Mata Merah Klan Kuruta. Kehidupan dua dunia itu sudah hampir setahun ia lakukan.

Alasan yang paling utama menjadi pencuri itu adalah jalan terakhir apabila sang pemilik tetap tidak mau menjual, meski ia sudah menawarnya berkali-kali dengan harga yang fantastis. Dan yang berarti ini ditemukan hampir di setiap kasus yang ditemuinya. Dari 7 mata yang ia dapatkan, hanya 1 orang saja yang bersedia menjual kepada Kurapika, tanpa adanya kekerasan yang terjadi. Yang berarti orang-orang tersebut rela mati demi mempertahankan Mata Merah milik klannya.

Menjadi Blacklist Hunter adalah pilihannya semenjak lulus dari Ujian Hunter 2 tahun yang lalu. Demi mendapatkan uang—Kurapika tidak bisa terus-terusan mengandalkan posisinya sebagai Kepala dari Keluarga Nostrade semenjak mantan Bossnya, Light Nostrade memotong semua koneksi dengan keluarga mafia lain, mengalami depresi karena kehilangan langkah yang diakibatkan oleh hilangnya kekuatan Neon Nostrade, anaknya pada malam di Cemetery Building. Yang artinya Kurapika hanya bisa mengandalkan pekerjaannya sebagai Blacklist Hunter dalam mencari informasi mengenai mata merah.

Setelah me-refresh dirinya, Kurapika langsung bersiap, karena malam ini ia akan melaksanakan kegiatannya sebagai pencuri. Ia mengganti pakaian khas sukunya dengan tuxedo berwarna hitam, yang malah menonjolkan dirinya sebagai salah seorang tamu dari acara yang akan ia hadiri malam ini. Rambut pirangnya yang semakin memanjang dan hampir menutupi matanya, ia sisir sebagian kebelakang, memakai gel rambut agar tetap rapih dan membiarkan anting dengan permata rubi muncul dari balik rambutnya karena sudah tertutupi selama ini.

Setelah selesai dan keluar dari kamarnya, Kurapika melihat sosok Rinssen dan Senritsu yang sudah menunggunya di depan pintu masuk. Sambil mengangguk kecil ke arah mereka berdua, Kurapika berjalan melewati mereka, ke arah mobil sedan hitam yang sudah menunggunya di depan gedung. Rinssen segera berjalan cepat-cepat dan membuka pintu belakang mobil sedan, dan mempersilahkan boss-nya untuk masuk.

Kurapika mendapati adanya beberapa ikat dari bermacam-macam bunga di samping tempat duduknya. Rinssen sepertinya sudah paham mengenai kebiasaan dirinya. Setelah memasang sabuk pengaman, Kurapika memandang ke depan dan mendapati Rinssen sedang mengamatinya lewat spion mobil.

"Kemana Bos?" Tanya Senritsu yang ikut serta dan sudah duduk di kursi di samping pengemudi.

"Ke tempat biasa." Kurapika menjawab dengan wajah dan nada yang datar namun detak jantungnya sedikit berdesir pilu, seperti sudah lama menahan rasa rindu. Tidak diragukan lagi, Senritsu pasti mendengar sedikit perubahan dari detak jantungnya, namun perempuan itu tidak mengatakan apa-apa.

Mobil yang dikemudikan oleh Rinssen berjalan dengan pelan dan suara klakson dibunyikan saat mereka sudah keluar dari gerbang utama. Perjalanan ini tidak cukup jauh, beberapa blok dari mansion Keluarga Nostrade dan para penghuni di dalam mobil sedan tersebut juga memutuskan untuk tidak melakukan percakapan di dalam. Masing-masing terlihat fokus dengan pikiran mereka sendiri.

Rasa penyesalan dan rindu kembali muncul ke permukaan. Dari salah satu buku yang pernah dibaca olehnya, lelaki berambut pirang itu mengetahui fakta bahwa hal yang pertama kali dilupakan pada seseorang yang telah lama tidak ditemui adalah suara mereka. Maka dari itu ia akan terus mengulang-ulang perkataan para klansmen-nya di dalam kepalanya.

Selain itu, selama perjalanan ke tempat yang sedang dituju, Kurapika juga memutuskan untuk mengingat lagi rupa-rupa dari klansmen-nya. Bagaimana rupa ayahnya yang selalu sabar dalam menjawab pertanyaan yang muncul atas rasa ingin tahu dirinya dan di satu sisi selalu menenangkan ibunya yang juga memiliki temper yang sama dengan dirinya.

Bagaimana rupa ibunya yang juga memiliki rambut pirang yang sama dengannya, selalu mengamuk apabila tahu kalau ia sering bolos latihan dan di satu sisi selalu membelanya di hadapan para tetua desa.

Bagaimana rupa Pairo, oh Pairo yang manis dan selalu sabar dalam menemani bermain dengannya secara sembunyi-sembunyi di saat yang lain tidak diperbolehkan untuk menemui dirinya. Dan dengan apa Kurapika membalasnya? Ia malah membuat kakinya semakin lemah hingga pada titik tidak akan pernah sembuh akibat jatuh dari tebing serta melukai matanya akibat bebatuan tajam yang menggores bola matanya.

Kurapika menyesal pada saat itu; dan penyesalan itu tetap terasa hingga sekarang, dan ia akan meluangkan waktunya dari sela-sela latihan agar dapat mengambil ujian ke luar desa dan mencari dokter yang bisa mengobati mata serta kaki Pairo. Di saat ia lulus dari ujian tersebut adalah saat yang paling membahagiakan, karena ia sudah lebih dekat menyembuhkan sahabatnya.

Namun saat ia kembali ke desa dengan membawa hadiah serta obat-obatan untuk Pairo sebagai kejutan, Kurapika malah menemukan dirinya yang terkejut hingga dunia yang dilihatnya berwarna merah. Bagaimana tidak. Desanya, tempat kelahiran sekaligus tempat tinggalnya sudah hancur. Ia bahkan masih bisa merasakan panas dari bara api yang telah padam pada sisa puing-puing rumah.

Bagaimana tempat latihan dan pelajarannya sudah hilang akibat dilalap sang Jago Merah. Taman, kebun, serta ladang yang sudah tidak terlihat berbentuk lagi. Dan yang membuat pikiran serta jiwanya serasa disedot dan ditoreh oleh kejadian itu adalah tumpukan mayat dari klansmen-nya yang ditumpuk menggunung.

Dari mereka yang telah tewas itu, ia bisa melihat, dan terus mengingat bahwa rongga mata dari mayat mereka sudah kosong, terdapat bekas cakaran yang tersisa saat pengambilan Mata Merah mereka. Masing-masing menampilkan ekspresi terakhir dari wajah mereka.

Ketakutan.

Kemarahan.

Kesedihan.

Semua itu membuat darahnya membeku seketika.

Kemudian ia berjalan ke arah bangunan yang masih berdiri kokoh. Kurapika mengingatnya sebagai rumah dari para tetua. Di lapangan yang berada di depan bangunan tersebut, ia melihat tubuh-tubuh anak-anak yang ia duga sebagai teman-temannya.

Meski beberapa bagian dari badan teman sepermainannya terbakar, tetapi Kurapika masih bisa melihat beberapa bekas tusukan dan cambukan. Bocah itu menduga kalau anak-anak dari klansmen-nya disiksa agar membangkitkan Mata Merah yang dimiliki oleh orangtua mereka. Bahkan teman-teman yang ia kenal juga berasal dari darah murni sepertinya juga mengalami hal yang sama dengan orangtua mereka. Rongga mata mereka kosong, dan kekosongan itu juga tetap mengisi kehidupannya hingga sekarang.

Setelah ia menangis, berteriak dan menyesali segala tindakannya, pandangannya semakin memerah saat matanya menangkap secarik kertas yang tertulis di sana.

'Kami tidak menolak apapun. Jadi jangan ambil apapun dari kami.'

Lelaki itu menghela napas pelan sambil mengusap kedua matanya yang telah menutup.

Bernostalgia tentang kehidupannya di desa tidak pernah tidak melelahkan. Selalu saja berakhir dengan dirinya yang selalu ditinggalkan. Pertama oleh kedua orangtuanya, kedua oleh Pairo, dan.. tunggu dulu. Siapa lelaki berambut hitam yang dulu menjadi mentornya di pelajaran? Orang yang sama yang mendadak menghilang pada saat dirinya hendak keluar desa?

Kurapika tersadar dari lamunannya saat mobil yang dinaikinya sudah terparkir di sisi jalan, dan tanpa aba-aba segera mereka semua melepas sabuk pengaman dan keluar dari mobil.

Setelah turun dari mobil, perjalanan mereka berlanjut dengan berjalan kaki masuk ke dalam gang-gang kecil yang diyakini sudah tidak lagi ditinggali oleh manusia. Cahaya yang berasal dari lampu-lampu jalan hanya berpengaruh sedikit dengan penerangan akan gelapnya malam.

Derap langkah mereka yang stagnan bergema di dalam gang-gang tersebut. Beberapa kali sepatu kulit mereka terciprat oleh genangan air saat berjalan dan mengotori ujung celana hitam yang dipakai, namun tidak satupun dari mereka mempersalahkannya.

Setelah sampai di depan salah satu bangunan, Rinssen dan Senritsu menunggu Kurapika membuka pintu depan yang terbuat dari kayu berpelintur yang terlihat bagus pada masanya, namun sekarang sudah rusak dan menderit seolah-olah berteriak kesakitan saat Kurapika berhasil membuka kunci pintu tersebut. Setelahnya, Kurapika mempersilahkan Rinssen dan Senritsu masuk terlebih dahulu, sebelum dia akhirnya menutup kembali pintu tersebut dan menguncinya.

Sambil berjalan ke bawah melalui tangga yang terbuat dari bata-bata yang tersusun, Kurapika melepaskan syal putih serta trench coat yang dipakainya tadi dan menyampirkannya di lengan kirinya. Sepanjang jalan ke bawah, matanya sudah bisa beradaptasi dengan cahaya yang berasal dari lilin-lilin yang sudah dinyalakan yang tersebar di sepanjang tangga dan ruangan di dalamnya.

Saat Kurapika sampai ke dalam ruangan di bawah tanah tersebut, terlihat Senritsu sedang mengganti bunga-bunga yang sudah layu hingga kecoklatan dengan bunga-bunga segar yang dibawanya. Serta Rinssen sedang menyalakan lilin terakhir di pelataran, dan menampilkan tabung-tabung yang masing-masing berisi satu Mata Merah yang tersusun di bawahnya.

Patung Bunda Maria yang berdiri di belakang pelataran itu terlihat seolah sedang memberkati para Mata Merah yang sudah didapatkan serta jiwa-jiwa para anggota Klan Kuruta yang bermukim di sana.

"Terimakasih, Senritsu. Rinssen." Ucapan Kurapika menjadi percakapan pertama yang dibukanya pada malam ini, dan mereka berdua hanya tersenyum kecil menanggapi. Senritsu dan Rinssen segera mundur dan keluar dari ruangan itu, memberikan ruang kepada bosnya yang akan berdoa.

Gedung ini pertama kali ditemukan oleh Kurapika pada saat misi pertamanya mencuri Mata Merah dari salah seorang keluarga yang kini ia sudah lupakan namanya, sambil menghindari sergapan dari para pegawai keluarga tersebut yang sedang mencari dirinya. Sebagian dari kompleks gedung ini kosong, dan Kurapika meyakini kalau gedung ini dulunya adalah gereja kecil di bawah tanah.

Sambil duduk di satu-satu bangku yang berada di ruangan itu, Kurapika menaruh kedua tangannya di atas pahanya. Tanpa menyadari kalau rantai-rantai sudah bermaterialisasi di tangan kanannya, tanpa mempermasalahkan berat yang sudah sangat familiar, Kurapika menangkup kedua tangannya sambil menaruh kepalanya di atas dan ia segera berdoa.

Sun in the sky, trees on the ground

Our bodies created from earth

Our souls from heavens

The sun and moon shine on our limbs

And the ground moistens our bodies

Giving this body to the wind that blows

Thank God for miracle

And the Kurutabou territories

Wishing for everlasting peace in our souls

I desire to share happiness with my people

And desire to share their sadness

God, please praise eternally

The Kurutabou people

Let us use our Scarlet Eyes

Allow our Scarlet Eyes to be the witness.

Kurapika berulang-ulang kali mengucapkan doanya, memohon untuk diberkati, agar bisa ia mendapatkan kembali Mata Merah yang menjadi pameran malam ini. Doanya diakhiri dengan kecupan singkat di atas buku-buku jarinya. Cahaya temaram dari lilin di hadapan bisa memantulkan sedikit kilatan merah di balik lensa kontak berwarna hitam yang Kurapika pakai.

'Doakan aku agar bisa mendapatkan Mata Merah kalian, Para Saudaraku.'

Segera ia berdiri dari posisi duduknya dan meniup lilin, mempersilahkan kegelapan untuk kembali masuk ke dalam ruangan. Sejenak Kurapika bisa melihat kabut putih yang kemudian membentuk sosok siluet orang di pojok ruangan yang cahaya dari lilin di atas sudah tidak bisa mencapainya.

Tolong lanjutkan hidupmu, lupakan balas dendam..

Kurapika menghiraukan kata-kata yang muncul berulang-ulang di pikirannya, melanjutkan untuk meniup habis lilin di ruangan tersebut. Setelahnya ia mengambil mantelnya yang digantung di balik pintu, dan keluar tanpa menoleh sedikitpun.

..Putri Kuruta.

.


TBC


uuuuu halo semua! jumpa lagi dengan saya sembari membawa chap baru! woahaha. mau ngejelasin kalo kota yang sebenarnya dijelasin di awal itu adalah kota Venice, karena ngikutin penamaan Hunter jadinya yaaa gitu ehe.

saya mendedikasikan chap ini dan chap selanjutnya sebagai kehidupan mz Kura sewaktu jadi mafia wuhuu. jadi yang nunggu mz Chrollo expect him at two months advanced /ditendang

makasih ya udah baca

Let me know what you think.

jaa