Harklight yang baru saja sampai, langsung menemui tuan mudanya yang sedang duduk di depan meja makan. Secangkir teh hangat dan cemilan kecil tersaji di hadapan Slaine yang nampak sibuk dengan ponselnya.

"Oi, Slaine." Panggil Harklight sambil menarik kursi kosong di samping tuan mudanya.

Slaine mendongkak, menaruh ponselnya di samping cangkir. "Bagaimana? Sudah selesai urusannya?"

"Dia sama sekali tidak mau. Katanya, kau yang buat masalah, jadi kau yang harus membereskannya."

Si blonde mendecih kesal. "Hanya terkilir doang padahal. Dasar kouhai kurang ajar." Ia mengambil cangkir dan meneguk habis tehnya.

Harklight mendesah lelah, kenapa tuan muda—yang merangkap sebagai sahabatnya, dan orang itu—Kaizuka Inaho, sama-sama memiliki sifat keras kepala sih? Kalau dilihat lebih jelas, sebenarnya mereka berdua bisa saja kompak. "Ngomong-ngomong bagaimana keadaanmu? Sudah ke dokter?"

Slaine menatap lurus sahabatnya. "Kau mungkin takkan percaya atas apa yang menimpaku saat ini Harklight. Ini bukan penyakit, hanya sebuah mimpi buruk yang berubah menjadi ilusi." Ucapnya serius.

"Maksudmu?" tanya Harklight khawatir. Pemuda yang lebih tinggi dari pada Slaine itu membenarkan posisi duduknya, mencondongkan diri ke si pemilik mata serupa zamrud.

Slaine membuang wajahnya ke arah lain. "Kurasa Otou-sama benar, sebaiknya aku tidak berhenti melakukan terapi." Sesalnya.

Harklight tahu, tuan mudanya sedang membicarakan masa lalu. Dan dalam hal ini, ia tak bisa ikut campur.

.

.

Blue Rose

© Hanyo4

Aldnoah Zero © Project A/Z, Olympus Knighys, A-1 Pictures, Gen Urobuchi, Katsuhiko Takayama.

InaSure

Reinkarnasi!AU

Warn : Mention of Mentally Illness, Alternate Universe, Typo(s), OOC, Sho-ai.

Chapter 2

.

.

Inaho pulang ke rumah pada petang hari ketika sang surya mulai beranjak pergi dari singgasannya. Sebelum sampai rumah, ia menyempatkan diri untuk berburu diskon telur di salah satu toko swalayan.

Ketika pemuda itu membuka pintu, dan hanya kegelapan yang menyambutnya, Inaho menghembuskan napas lelah.

Rupanya sang kakak—Kaizuka Yuki, belum pulang juga dari rumah sakit. Inaho terpaksa makan malam sendiri lagi hari ini.

.

Sebelum pergi tidur, Inaho menatap kalender yang ada di ponselnya.

Ah, besok hari sabtu. Rutuknya dalam batin.

Ia menyesal tak bertemu dengan Slaine hari ini. Ia juga mengutuki cedera di pergelangan tangannya yang kian sembuh. Kalau begini caranya, tidak ada lagi alasan untuk ia bersama dengan kakak kelas itu lebih lama lagi.

Inaho tidak percaya dengan yang namanya cinta pada pandangan pertama.

Namun, ia percaya pada takdir.

Setelah pertemuannya dengan Slaine yang berawal dari sebuah kecelakaan, Inaho yakin ada benang kasap mata yang akan menyatukan atau mungkin menyatukan mereka—entah apa itu, Inaho tidak tahu.

Menurutnya, Slaine Troyard adalah pemuda yang penuh dengan misteri. Di balik kesempurnaan yang dimiliki oleh si rambut pucat, Inaho yakin ada banyak penderitaan di sana.

Dan insting Inaho mengatakan, bahwa ia harus menyelamatkannya.

.

.

Slaine tidak ingin tidur malam ini. Ia terlalu takut.

Semua di mimpi itu terasa sangat nyata. Dan Slaine tak mau lagi kembali ke dalam sana.

Di depan meja belajar, Slaine meneguk kopi hitam hangat bak orang gila. Seluruh lampu di kamarnya masih menyala, dan ia berusaha untuk tak tertidur dengan bermain game online di komputernya.

Persetan dengan kantung matanya yang mungkin nanti pagi akan sangat terlihat. Yang penting Slaine harus menjaga kewarasannya.

Semua mimpi beserta ilusi itu membuatnya hampir gila.

Ia bahkan tak berani bertemu dengan Inaho lagi karena ilusi itu. Slaine takut Inaho benar-benar akan menjadi ancamannya.

Mungkin memang seharusnya Slaine mematuhi perkataan ayah angkatnya. Jika sejak awal Slaine rajin mengikuti terapi, mungkin mimpi-mimpi itu takkan pernah muncul.

Mungkin Slaine belum sepenuhnya lepas dari trauma masa lalu.

Slaine mengepal telapak tangannya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih. "Sialan…" desisnya penuh frustasi. Tangannya kini beralih mengacak helaian pucat miliknya.

Slaine menangis dalam diam.

Karena orang itu, Slaine harus menanggung beban ini seumur hidup.

.

.

Pagi buta tadi, Harklight terkejut begitu melihat tuan mudanya di meja makan. Harklight menanyakan keadaan Slaine, apakah ia baik-baik saja dengan tampang yang mirip mayat hidup itu. Slaine hanya mengangguk dan berkata bahwa Harklight harus membangunkannya jika ia jatuh tertidur nanti.

Tapi sekarang, Harklight malah tidak menepatinya.

Melihat Slaine yang tertidur pulas di sofa perpustakaan dengan wajah polos, adalah sebuah pemandangan tersendiri baginya. Harklight justru memilih untuk menyelimuti tubuh pemuda itu ketimbang membangunkannya.

Ketika pemuda berambut gelap itu keluar dari perpustakaan, ia dikejutkan dengan kehadiran kerabat sang tuan rumah, Lemrina.

"Slaine ada di dalam?" tanya Lemrina dengan nada riang.

Harklight mengangguk. "Sedang tidur tapi. Sebaiknya jangan diganggu, ia begadang semalaman." Ucapnya sopan.

Bibir Lemrina mengerucut. Kepala berambut sepundak mencuri lihat ke dalam. "Aku janji tidak akan membangunkannya, tapi boleh kan aku menemaninya, Harklight-san?" gadis itu memohon dengan wajah memelas.

Agak bimbang sejenak, Harklight terpaksa mengiyakan. "Nona boleh membaca buku di dalam, tapi tidak berisik ya?" Lemrina mengangguk. "Nanti sebelum makan siang, aku akan membawakan kalian cemilan dan es teh limun."

Keduanya bertukar posisi—Harlight keluar meninggalkan perpustakaan, sementara Lemrina masuk.

Dari depan pintu, langsung terlihat sofa panjang yang sedang diisi oleh pemuda berambut pucat. Lemrina mengambil posisi jongkok untuk memandangi wajah Slaine dari dekat.

"Manis…" gumamnya.

Namun wajah polos itu perlahan berubah ketika kening Slaine mengkerut. Entah sejak kapan kening pemuda itu dibanjiri keringat dingin. Kepala Slaine bergerak gelisah ke kanan dan kiri. Kedua tangannya mengepal, menggenggam selimut erat-erat.

Lemrina panik. Gadis itu langsung berdiri dan berniat pergi keluar untuk mencari pertolongan. Namun sebuah tangan menghentikan gerakannya.

Tangan kiri Slaine kini berpindah mencengkram fabrik kain pakaian milik Lemrina.

"Slaine?" tanya Lemrina khawatir.

Slaine tak menjawab, matanya tetap terpejam.

Lemrina memilih berbalik dan menggenggam tangan pemuda itu. Slaine mulai menjadi lebih tenang setelah beberapa saat. Dengan telaten, Lemrina berinisiatif menghapus keringat di dahi Slaine dengan sapu tangannya.

"Kau pasti bermimpi buruk," Sebuah senyum miris terpatri di paras manis. Slaine menggenggam tangannya lebih erat. "Semuanya akan baik-baik saja, Slaine. Kau tidak akan sendirian saat ini." Gadis itu mengelus pucuk kepala Slaine dengan penuh kasih sayang.

.

Sepasang iris serupa batu zamrud mulai nampak begitu pemiliknya kembali dari alam mimpi. Kesadaran Slaine baru terkumpul seutuhnya begitu ia melihat Lemrina yang tertidur pulas di sampingnya.

Slaine menghembuskan napas panjang dan bangkit dari tempatnya. Ia memindahkan tubuh Lemrina yang masih tertidur pulas ke atas sofa. Tak lupa, ia juga menyelimuti gadis itu.

Baru saja ia melangkah keluar dari ruangan itu, Slaine dikejutkan dengan kehadiran Harklight yang datang dari arah berlawanan sambil membawa nampan berisi cemilan kecil.

"Oh, Slaine. Bagaimana tidurmu? Nyenyak?"

Slaine mendecih. "Sudah kubilang untuk membangunkanku kalau aku tidur."

"Wajahmu terlihat damai ketika tidur tadi. Kenapa aku harus membangunkanmu? Lagipula tidurkan kebutuhan pokok manusia. Kau bisa cepat tua kalau begadang mulu."

Lenggang sejenak. Harklight dapat melihat ekspresi terkejut dari tuan mudanya—sekalipun hanya sesaat, sebelum berganti dengan ekspresi suram.

"Kau bilang wajah tidurku damai, Harklight? Bagaimana bisa wajahku damai sementara di dalam sana aku terasa seperti disiksa—entah oleh siapa!" Nada Slaine meninggi, semua amarahnya kini tak dapat terbendung lagi. "Kalau kau mau tahu, aku hampir gila karena semua ini. Bagimu tidur mungkin adalah hal yang wajar? tapi tidak untukku! Aku tidak mau lagi kembali ke dalam sana. Sekalipun itu hanya mimpi—yang sialnya terasa sangat nyata, aku tidak akan pernah mau kembali lagi!"

Slaine berjalan melewati Harklight.

Lemrina bahkan sampai terbangun mendengar amarah Slaine tadi. Ia baru keluar dari perpustakaan ketika punggung Slaine sudah hilang dari pandangan.

"Apa yang terjadi?" tanya gadis itu khawatir.

Harklight tak menjawab. Ia hanya diam mematung—tak percaya bahwa akan hal yang baru saja terjadi.

.

.

Slaine awalnya takut untuk kembali ke tempat ini, namun sekarang ia sudah membulatkan tekatnya. Ia berdiri di depan meja resepsionis, sedikit canggung. "Kaizuka-sensei ada?"

"Sudah buat janji?" resepsionis itu malah balik bertanya.

Slaine menggeleng. "Katakan saja yang datang Slaine Tro—ah maksudku Slaine Saazbaum Troyard." Koreksinya cepat.

Gadis di balik meja resepsionis mengangguk kemdian mengambil telepon untuk menghubungi atasannya. Tak lama, gadis itu langsung menutup teleponnya dan memandang Slaine. "Slaine-san, anda boleh masuk ke ruangan Kaizuka-sensei sekarang."

Sebuah senyum tipis tersungging di wajah Slaine. "Terima kasih." Ucapnya sebelum ia berlalu.

.

Ketika pintu dibuka, terlihat seorang wanita dengan rambut hitamnya yang disanggul ke belakang duduk di kursinya menyambut Slaine dengan senyuman hangat. "Halo, Slaine-kun. Lama tidak jumpa."

Slaine duduk di kursi kosong yang ada di depan sang dokter. "Maaf karena tidak pernah terapi lagi, sensei. Tapi—" pemuda itu nampak sungkan untuk mengeluarkan keluh kesahnya.

"Tidak apa Slaine-kun, keluarkan saja. Aku akan menjadi pendengar yang baik."

"Aku… aku nyaris gila, sensei. Aku mulai mengalami mimpi buruk lagi dan segalanya terasa seperti nyata. Bahkan aku mulai menghalusinasikan hal-hal konyol," Slaine menjambak rambutnya frustasi. "Aku seperti disiksa di dalam sana. Mereka mencaci maki, seperti yang dia lakukan dulu! Aku bahkan takut untuk tidur sekarang. aku takut mereka akan membunuhku—sekalipun itu hanya mimpi.

"Aku mati-matian menjaga agar kewarasanku tetap terjaga. Namun pada akhirnya aku malah menyakiti perasaan orang-orang yang ada di sekitarku. Aku bahkan memarahi Harklight atas apa yang terjadi padaku ini. Jujur, aku takut, Sensei. Aku takut semua orang akan pergi dari sisiku—dan meninggalkanku sendiri seperti dulu. Aku… aku—"

Kaizuka-sensei menyetuh telapak tangan Slaine dengan lembut seolah takut bila ia menyentuhnya terlalu kasar, pemuda itu akan pecah berkeping-keping.

Slaine mengangkat wajahnya dan baru menyadari bahwa ia sedang menangis. "Eh?" jemarinya mulai menghapus titik-titik air yang mengalir turun di pipinya.

Kaizuka Yuki tersenyum. "Keluarkan semuanya, Slaine-kun. Jika itu membuatmu lebih baik keluarkanlah."

Di hadapan psikiater pribadinya, Slaine mengeluarkan semua bebannya. Menangis, meraung, serta marah bak orang gila. Kaizuka-sensei setia mendengarkan hingga pasiennya merasa tenang. Sesekali ia melontarkan beberapa kalimat untuk memotivasi sang pasien.

Dua jam berlalu begitu saja. Slaine beranjak pulang begitu kondisi batinnya mulai membaik. Yuki memberinya sebuah resep sebelum pemuda itu pulang, dan menyuruhnya untuk rajin terapi mulai dari sekarang—dan Slaine berjanji akan kembali lagi minggu depan pada hari yang sama. Yuki menyetujuinya.

Sebuah napas berat dihembuskan wanita itu ketika pintu ruangannya ditutup dari luar. Yuki memijat keningnya sendiri. "Bagaimana aku harus mengatakannya ke tuan Saazbaum bahwa kondisi mental anaknya mulai memburuk lagi sekarang." gumamnya lirih.

.

.

Inaho menyambut kakaknya yang baru pulang bekerja dan menyiapkan wanita tersebut makan malam yang kebetulan baru saja matang.

"Nao-kun~ tumben sekali kau masak omurice malam ini!" ucap Yuki riang.

Inaho membalas dengan wajah datar andalannya. "Sepertinya kemarin lusa kita juga makan omurice untuk makan malam."

"Ah benawkah?" Yuki berbicara sambil mengunyah makanannya, tapi ia malah tersedak tak lama setelahnya.

"Makan dulu, Yuki-nee. Baru bicara." Inaho menyodorkan kakaknya segelas air putih.

Yuki menerimanya dan langsung meneguknya hingga nyaris habis. "Astaga. Kenapa akhir-akhir ini aku jadi pelupa ya? Perasaan kemarin lusa kita makannya pakai kare deh."

"Itu kemarin malam. Ingatan Yuki-nee mungkin memburuk akibat terlalu banyak bekerja. Ambil cuti sehari dua hari toh tidak ada salahnya." Inaho mulai menyantap makanannya sendiri.

"Cuti ya? Aku juga ingin mengambilnya kalau bisa. Tapi akhir-akhir ini banyak pasien yang datang. Rasanya sulit melepas tanggung jawab meskipun hanya untuk sementara."

"Yuki-nee terlalu rajin sih."

Yuki terdiam sejenak. Pandangannya kosong sesaat. "Hei, Nao-kun. Menurutmu bagaimana caranya menyelamatkan seseorang yang selalu memiliki mimpi buruk karena trauma dari masa kecilnya?"

Inaho mengangkat pundaknya. "Yang psikiater sebenarnya siapa? Aku atau Yuki-nee?"

"Sudah jawab saja," merasa gemas, Yuki mencubit lengan sang adik pelan. "Aku kan hanya minta pendapatmu."

"Sejenis depresi kan?"

"Ya."

"Dari pada memberinya semacam terapi hipnotis atau obat antidepresan kenapa tidak menghubungi saja orang terdekatnya, meminta mereka untuk memperhatikan dan mendukung moral si pasien dengan cara-cara yang menyenangkan?" tanya Inaho polos.

Iris kecoklatan milik Yuki melebar. Tanpa sadar tangannya menggebrak meja. "ASTAGA NAO-KUN! KAU JENIUS!" teriaknya girang. "Aku bahkan sampai melupakan hal sepele seperti itu karena berpikir terlalu jauh!"

"Pikiran Yuki-nee terlalu berbelit-belit." Sindir sang adik yang malah mendapatkan pelukan maut dari kakaknya.

.

.

Slaine baru menunjukkan batang hidungnya kembali di sekolah pada hari selasa. Hubungannya dengan Harklight masih canggung pasca kejadian sabtu lalu.

Di wajahnya yang putih pucat nampak kantung mata yang sangat kontras, seperti mata panda. Selama perjalanan menuju sekolah, mobil itu diisi oleh keheningan.

Harklight sangat ingin menanyakan kabar tuan mudanya, namun ia urung—takut malah menyindir perasaan Slaine. Sementara pikiran Slaine sendiri kalut. Ia khawatir kalau Harklight masih belum memaafkannya.

Pemuda bersurai blonde langsung turun dari mobil begitu mereka sampai ke lapangan parkir. Namun ketika ia hendak masuk ke dalam gedung, Slaine dikejutkan dengan kehadiran Inaho—yang tidak disengaja di depan pintu masuk.

"Ohayou, senpai. Kuharap senpai masih ingat dengan janji senpai beberapa waktu yang lalu." Ucap Inaho datar.

Slaine mengambil mundur satu langkah. Tapi cepat-cepat ia mensugestikan diri bahwa Inaho adalah orang baik yang tak mungkin menyakitinya di sini—meskipun di alam mimpi ia bertemu dengan Inaho yang seperti ingin membunuhnya.

"Bukankah tanganmu sudah sembuh?" tanya Slaine sambil memperhatikan pergelangan kanan milik si adik kelas. "Kemarin kan hanya terkilir."

Inaho mendecak kesal. Slaine yang mendengarnya langsung memasang raut bingung.

"Tapi aku tidak bilang kalau perjanjian itu harus berakhir setelah tanganku sembuh."

"Hah? Apa?" dahi Slaine mengkerut ke dalam.

Skak mat.

Dalam hati, Inaho bersorak penuh kemenangan. "Kau sendiri yang bilang tidak akan lari dari tanggung jawab. Tapi kenapa kemarin malah mengirimkan orang asing untuk menggantikanmu? Ah, jangan-jangan dari awal Senpai memang tidak berniat untuk bertanggung jawab." dengan licik, Inaho malah memancing emosi sang lawan.

Slaine kesal. "Enak saja! Aku tidak lari dari tanggung jawab!"

"Lalu?" Inaho melipat kedua tangannya di depan dada.

"Kemarin jum'at aku sakit. Baru sembuh tadi malam."

"Tetap saja Senpai tidak boleh lari dari tanggung jawab."

Slaine menarik napas panjang kemudian dihembuskan secara perlahan. Ia mulai dongkol dengan kelakuan si pemuda berwajah datar sedatar pantat panci yang ada di hadapannya ini. Merasa dirinya yang paling tua, Slaine terpaksa mengalah—dari pada dicap kekanakkan oleh seseorang yang umurnya setahun lebih muda dari padanya. "Lalu? Kau ingin aku berbuat apa sekarang?"

"Kencan denganku."

Hening sejenak, Slaine mecoba mengorek telinganya dengan jari kelingking. "Hah? Tadi kau bilang apa?"

"Ku bilang, kencan denganku." Jawab Inaho datar.

Mulut Slaine menganga.

Kencan? Apa maksudnya kencan seperti yang ada di film-film atau buku novel? Tapi bukankah kencan itu dilakukan oleh sepasang wanita dan pria? Tapi Slaine dan Inaho kan sama-sama pria…

Maksudnya apa?

Inaho dapat menangkap ekspresi heran di wajah si kakak kelas. "Pulang sekolah nanti jangan pulang duluan ya Senpai. Nanti biar aku saja yang jemput."

Sebelum Slaine mengeluarkan protesannya, Inaho bergegas pergi menuju kelasnya sendiri.

.

.

"Hari ini aku mau pergi dulu. Kau pulang saja duluan." Ucap Slaine dengan nada ketus namun wajahnya seperti udang yang sedang direbus—sangat merah sampai ke telinga. Baru sekarang ia kembali berbicara dengan Harklight setelah perang dingin.

Harklight menautkan alisnya bingung. "Dengan siapa?"

"Kaizuka Inaho."

"Mau ngapain?"

"Kencan."

"Kemana?"

"Tidak tahu."

Harklight tepuk jidat. Bagaimana bisa tuan mudanya ini mau-mau saja diajak pergi oleh orang asing yang baru dikenalnya beberapa hari yang lalu? Memangnya Slaine tidak takut kalau dirinya diapa-apakan?

"Tidak boleh." Larang Harklight.

"Kenapa?"

"Tujuan kalian pergi tidak jelas mau kemana dan apa tadi maksudmu, pergi kencan?"

Slaine berkedip polos. "Ya kencanlah, Harklight. Memangnya kau tidak pernah pergi kencan apa?" ucapnya datar namun malah membuat hati Harklight serasa ditusuk-tusuk dengan ribuan jarum. Pedih, bung.

"Kalau tidak pernah memangnya kenapa? Lagipula kencankan dilakukan oleh dua orang yang saling mencintai. Memangnya kau suka dengan Kaizuka Inaho itu."

"Tentu saja tidak. Aku kan pejantan tangguh, kenapa harus suka dengan laki-laki juga? Inaho yang mengajakku kencan. Dia bilang aku harus bertanggung jawab atas kejadian tempo lalu dengan mengabulkan satu permintaannya."

"Lalu kau mengiyakannya?"

"Hu-um." Anak tunggal Saazbaum mengangguk.

"Tidak boleh." Harklight mencengkram kedua bahu Slaine, posesif. "Slaine, kepalaku bisa dipenggal oleh ayahmu nanti kalau kau pergi dengan orang asing tanpa mengikut sertakan aku."

Mulut Slaine menganga. "Sejak kapan Otou-sama punya kebiasaan memenggal kepala orang?"

"Itu hanya perandaian, Slaine! Astaga, kenapa kau polos sekali sih?!" Harklight mengacak rambutnya frustasi.

Merasa simpati, Slaine menepuk pundak sahabatnya. "Tenang saja, Harlight. Aku hapal jalan pulang ke rumah kok."

Harklight rasanya jadi ingin membenturkan kepalanya sendiri ke tembok. "Bukan itu masalahnya, Slaine!"

.

.

Dari sekian banyak empat yang bisa dikunjungi, Slaine heran mengapa Inaho malah mengajaknya ke perpustakaan kota. Slaine tahu, kalau Inaho adalah seorang ketua osis, otaknya sudah pasti jenius. Tapi ia tidak tahu kalau pemuda itu ternyata seorang kutu buku juga.

Merasa bosan, Slaine membolak-balik buku ensiklopedia astronomi.

"Jangan berisik, Senpai. Kita ada di perpustakaan sekarang." Inaho meletakkan jari telunjuknya di depan bibir. Sepasang manik serupa delima itu melirik awannya sesaat sebelum kembali tenggelam dalam bacaannya.

Slaine menghembuskan napas berat kemudian dirinya terpaksa membaca bukunya dengan tenang. Ya dari pada ditegur orang lain?

Diam-diam, Inaho melirik sang kakak kelas dari balik buku bacaannya.

Sebuah senyum tipis terukir di paras tampan begitu ia melihat pipi Slaine yang sedang dikembungkan oleh si pemilik karena menahan kesal.

Ah, Slaine tidak tahu saja kalau dari tadi Inaho hanya memandangi wajahnya, bukan membaca buku.

.

"Hutangku sudah lunas kan? Aku tidak perlu bertanggung jawab apa-apa lagi." ujar Slaine to the point ketika keduanya mampir ke sebuah restoran cepat saji dekat stasiun.

Inaho mengangguk. "Terima kasih sudah menemaniku tadi, Senpai." Ucap pemuda berambut gelap itu datar.

Slaine menyeruput susu kocoknya. Entah kenapa setiap ia melihat wajah datar milik Inaho, kekesalannya makin membuncah. "Sama-sama." Ucapnya ketus.

"Senpai mau kuantar pulang?" tawar Inaho.

"Aku bisa naik taksi."

"Jangan. Nanti bisa senpai diculik."

"Aku malah lebih takut lagi kalau kau mengantarku pulang. Bisa-bisa rumahku kena terror darimu."

Inaho mendecak pelan. Ternyata perkiraannya salah, Slaine tak sepolos yang ia duga. Kalau begini caranya, ia terpaksa putar otak untuk mendekati kakak kelas—yang ternyata agak tsundere ini.

Inaho hendak mengalihkan topik agar Slaine tidak curiga, namun fokusnya teralihkan begitu ia melihat kakak perempuannya masuk ke restoran tempatnya berada dengan seorang pria dewasa yang sangat Inaho kenal. "Yuki-nee?" panggilnya.

Yuki menoleh ke arah sumber suara. "Nao-kun!" Sebuah senyuman lebar dilontarkan wanita itu. Setelah berbicara dengan kawannya—Koichiro Marito, Yuki memilih menghampiri adiknya dan membiarkan pria itu memesankan makanan untuk mereka.

"Nao-kun kau sedang bersama temanmu—eh, Slaine-kun?" tanya Yuki bingung.

Slaine memutar kepalanya begitu mendenga namanya disebut. Irisnya melebar, melihat sosok yang ada di hadapannya. "Kaizuka-sensei?"

Otak jenius Inaho mungkin dapat menebak hubungan antara kakaknya dengan Slaine. Namun dirinya menolak untuk percaya.

.

Kecanggungan mengisi meja itu. tak ada yang membuka pembicaraan, bahkan setelah Marito datang membawakan Yuki segelas kertas cappuccino hangat.

Inaho mulai menyesali pilihannya membawa Slaine ke restoran ini—yang sialnya dekat dengan rumah sakit tempat kakaknya bekerja.

"Slaine-kun," nada hangat mengalir dengan lembut. Slaine menoleh, menatap psikiater pribadinya yang duduk tepat di sebelah Inaho. "Tidurmu tidak teratur lagi ya? Lihat, kau punya kantung mata."

Slaine meraba wajahnya. Ekspresi terkejut itu sama sekali tidak dapat disembunyikan.

Inaho dapat merasakan aura ketidaknyamanan dari gerak-gerik Slaine. Maka dari itu, ia bangkit dan menarik tangan Slaine yang bebas. "Ayo, Senpai. Kau harus pulang, sudah mulai larut." Ucapnya.

Yuki memanggil Inaho, namun pemuda tersebut seolah menulikan telinganya.

Slaine membiarkan Inaho menuntunnya keluar dari restoran itu. Pikirannya terlalu kalut. Ia takut, Inaho mengetahui keadaan dirinya yang sebenarnya.

Tidak, Slaine tidak mau dicap sebagai orang aneh yang memiliki penyakit kejiwaan. "Pergi… tinggalkan aku sendiri." Desis Slaine.

Inaho mengeratkan genggamannya. "Tidak mau."

Namun Slaine berhasil menepisnya. "Aku bisa pulang sendiri." Ia berjalan mendahului Inaho, kemudian berbelok di persimpangan jalan.

Inaho tak mengejarnya.

Karena meskipun hanya sesaat, ia dapat melihat air mata mengalir di wajah Slaine.

Aku akan menyelamatkannya. Inaho kini membulatkan tekadnya.

Apapun yang menghalangi, Inaho hanya ingin melepaskan Slaine dari penderitaannya, sekalipun ia harus mengetahui sebuah kenyataan yang pahit.

To be Continued...


holla I'm back~

entah kenapa saya ngerasa makin lama plotnya makin sinetron DX sempet ga pd buat ngepublish wwww Oia, ff ini Slaine-centris, jadi lebih mengutamakan konflik yang sedang melanda Slaine. Berhubung kemarin ada yang nanya, settingnya apaan, di ff ini bisa di bilang semacam dunia paralel. vers tidak ada pada masa sekarang, namun ada pada ingatan masa lalu Slaine.

Balasan Review :

Kim HyeNi : hay, saya pendatang baru heheh. iya asupan di fandom ini sedikit bgt :'( awalnya saya cuman sider tapi ntah kenapa tangan gatel, mau maso-in Slaine /plak www xD terima kasih sudah membaca~ semoga suka chap baru ini~

Panda Dayo : judulnya terinspirasi dari bunga kesukaan Slaine kak xD www ternyata samaan toh sama lagunya akb. btwudah tau kan judul djnya apaan? www oia mengenai setting, udah dijelasin ya di a/n. kalau masih kurang jelas, monggo isi kotak ripewnya ;) terima kasih sudah membaca~ semoga suka chap baru ini~

Kanato-desu : ah makasih udah mampir xD semoga suka sama ceritanya xD

Ann : yaps benar sekali! xD saya baru baca 2 part berhubung di MRM cuma ada segitu. boleh tahu, baca part 3nya dimana? ;) /heh iya, saya juga membaca ulang part tsb dan ngerasa agak ganjil. mungkin diksi saya mulai karatan karena udah lama ga nulis :'( /digiles deucalion. terima kasih sudah membaca~ semoga suka chap baru ini~

Terima kasih sudah membaca! Sampai jumpa di chap selanjutnya!

sign,

Hanyo4