ah, saya ga mau banyak berleha-leha,

cukup happy reading aja ya minna :)

.

.

.

Miss Akashi?

By Itou Kurogami.

.

.

.

Tetsuna POV's

Krasak... krusuk... krasak

Aku mendengar suara brisik dari luar kamar, dan jujur, suara itu ngeganggu banget. Baru saja tadi aku bermimpi wonderman akan menciumku(dibalik keremangan) lagi kalau saja suara-suara brisik itu tidak membangunkanku dari mimpi indahku.

Kupikir chiro-nii benar, akhir-akhir ini aku sering mimpi yang 'iya-iya' dan anehnya, kegiatan yang 'iya-iya' itu kulakukan selalu dengan orang yang sama, dengan sang wonderman yang memiliki spasang mata scarlet yang indah. Hahh, apakah hal ini nantinya akan membuatku menjadi orang mesum? Ngomong-ngomong, apa sih yang dilakukan orang mesum? Terus kalau aku memang benar ditakdirkan untuk menjadi orang mesum, apakan otou-san masih mau menerimaku sebagai anaknya? Ah, kayaknya sih enggak, dia kan super horor. Tapi kalau kami-sama benar-benar serius menakdirkanku untuk jadi orang mesum, kayaknya aku bakal bunuh diri. Soalnya,otou-san si ayah sejati pasti akan langsung mengemukakan teori 'Zamanbatu' mandragunanya, atau kemungkinan terburuk lainnya adalah, ia akan berhasil menemukan teori lain seperti teori 'Zamanlogam' untuk membuat anak gadisnya ini kembali normal.

Aku bergidik ngeri. Siapa coba yang mau manggut-manggut selama sekitar 40 tahun untuk mendengar teori kayak begitu?

Oke, cukup.

Aku tidak bisa terus-terusan berpikir tentang teori ngibul otou-san sementara ada makhluk misterius yang sedang berusaha menjebol pintu kamarku. Oh yeah, mungkin saja kayak di TV-TV, seorang maling datang untuk menculik seorang gadis yang cantik jelita sepertiku untuk dipristri atau dipekerjakan sebagai PSK. Hiiiiyyy~ aku segera mengambil selimut dibawah kakiku dan memakainya, berusaha untuk mengantisipasi dan membentengi diriku dari segala kemungkinan terburuk. Oooh, bagus, sekarang aku mulai menakuti diriku sendiri.

Krek, krek.. krasak

Krusuk.. kerusuk

Tunggu dulu, sudah 10 menit semenjak maling didepan pintuku ini berusa menjebol kamarku, tapi hasilnya nihil. Dan anehnya lagi, maling tolol mana yang berusaha menjebol pintu dengan suara seberisik ini?. Aku dapat mendengar sayup-sayup suara mencurigakan diluar kamarku

"pssstt.. satomi-kun! Masa membuka pintu dengan kunci serep saja kau tidak bisa! Cepat, nanti Te-chan bisa bangun dan memergoki kita"

"Diam kohina.. aku sedang berusaha memasukkan kuncinya. Lubangnya macet"

Oh yeah, ternyata pelakunya adalah kedua orang tua sejati. Salahkan aku yang begitu tololnya melupakan tersangka yang benar-benar mungkin untuk melakukan aksi pembobolan pintu ini.

.

.

cklek

Pintu berhasil dibuka, aku dapat mendengar suara lonjakan bahagia oka-san yang seperti biasa.. menggebu-gebu. Bener deh, berhasil beraksi sebagai maling saja sudah membuatnya kegirangan setengah mati. Mau jadi apa masa tuanya nanti? Oh! Aku lupa, oka-san kan memang sudah tua.

Oka-san dan Otou-san masuk, mengendap-ngendap. Aku sedang di tempat tidur, BERPURA-PURA tidur tapi mereka sama sekali tidak peduli. Aku bisa mendengar Otou-san menghela napas panjang, entah apa yang orang horor macam dia pikirkan. Kemudian mereka merayap naik kekasurku sambil menggumamkan "ssssttt" keras-keras. Dan inilah adegan horornya, HOROR DARI SEGALA HOROR: Satomi si ayah sejati MENGELUS-NGELUS rambutku!. Omaigat, Aku berusaha lebih keras lagi untuk tidur.

"Satomi-kun, aku merasa sangat bersalah pada tetsuna... Dia masih muda dan kita dengan tega merebut masa mudanya..." Oka-san berujar dan nadanya sedih, membuatku ingin semakin menyalahkan Otou-san yang telah menjodohkanku seenaknya. "bagaimana kalau kita batalkan saja perjodohan ini, satomi-kun?"

Ya, benar begitu bu, teruslah merajuk pada Otou-san sampai ia benar-benar membatalkan perjodohan ini. Dan sebagai imbalannya, kau akan resmi mendapat gelar Ibu sungguhan dariku.

Otou-san menghentikan kegiatan mengelus-ngelus rambutku, membuatku teramat sangat bersyukur. "Kita tidak bisa mundur lagi Kohina, nasib perusahaan sedang buruk dan kau sendiri tahu hutang kita pada prusahaan milik akashi itu sangat besar"Ujarnya dengan nada datar. Ooh, jadi itu alasan mu, ayah? Mengumpankanku pada lintah darat agar bisa menyelamatkan ekonomi keluarga? Cuih, "Koijirou akashi sudah sangat banyak membantu kita. Aku tidak tau harus membayarnya dengan apa, tapi dia mengusulkan untuk menikahkan anak sulungnya dengan Tetsuna, dengan begitu, kita tidak perlu membayar apa-apa lagi. " Tiba-tiba saja aku terhenyak mendengar omongan otou-san. Suaranya kali ini terdengar begitu... putus asa?

Oka-san mengusap pundak otou-san dengan sayang, " Tenanglah satomi-kun.. aku yakin Te-chan akan mengerti situasinya nanti"

" Aku benci situasi dimana aku tidak bisa memperjuangkan kebebasan anakku, Kohina.." Oh otou-san, kumohon.. berhentilah bersikap seolah kau peduli atau aku akan benar-benar menangis sekarang. Ia berujar lagi dan nadanya terdengar sangat perhatian, "Apalagi Koishirou adalah sahabatku. Aku tidak bisa menolak usulannya.."

Aku menarik kembali pendapatku yang mengatakan bahwa keluarga akashi itu adalah lintah darat. dari curhatan otou-san, aku dapat mengambil kesimpulan baru bahwa keluarga itu sebenarnya baik. Tapi, kalau otou-san sebenarnya adalah orang yang perhatian dan Akashi adalah orang yang baik, siapa yang harus kusalahkan? Tak nyaman rasanya jika dalam situasi yang sulit kita tak punya orang yang bisa disalahkan, 'kan?

Oka-san merebahkan tubuhnya ke kasur tepat disampingku, menimbulkan suara decit kayu yang beradu dengan lantai dibawahnya. Tangannya yang lentik menyibak anak rambutku kesamping dan dengan gerakan yang cepat, wanita itu mencium puncak kepalaku. "nak, kami mohon, jangan membenci kami. Kami menyayangimu. Kami akan selalu melakukan yang terbaik untukmu.. Tapi, sekali lagi oka-san mohon, jangan membenci kami dan berucap kasar lagi"dia mengusap kepalaku lembut, menggumamkan kata-kata terakhir sambil terisak "maafkan kami yang tidak bisa membahagiakan Te-chan.." Kemudian, aku dapat merasakan air mataku memberontak untuk keluar.

Dalam pandanganku yang mulai mengabur karena air mataku sendiri, aku dapat melihat Otou-san mengambil kunci kamarku dan memasukkannya kedalam kantong celananya bersama dengan kunci serep yang dia miliki, "Ayo kohina, aku sudah mengambil kuncinya. Dia tak akan bisa mengurung diri dikamar dengan seenaknya lagi" ujarnya. Dalam tangisku, aku masih bisa merutuki otou-san yang dengan seenaknya mengambil kunci kamarku. Tapi aku masih terlalu terharu untuk kembali membenci otou-san. Jadi, mungkin besok baru aku akan menyerangnya soal kunci itu.

"Ya" sahut Oka-san. Wanita itu kemudian membetulkan letak selimutku dan mengecup puncak kepalaku sekali lagi. Langkahnya terdengar gontai saat berjalan menuju kearah otou-san.

Aku benar-benar tidak tahan lagi, aku merasa bersalah karena ternyata kata-kata sarkastikku tadi pagi sudah sangat melukai hati mereka. Jadi aku segera bangkit dari tidurku dan memanggil mereka,

"O-Oka-san, Otou-san..." sial! Suaraku bergetar! Padahal tadinya aku mau sok keren dan bilang maaf.

Dalam keremangan, aku dapat melihat air muka kedua orang tuaku ini terkejut (sebenarnya hanya oka-san. Otou-san cuma sedikit membelalakkan matanya).

"Te-Te-chan? Maaf kami membangunkanmu. Kami baru saja akan pergi... kau bisa tidur kembali. Dan soal kepindahanmu ke Rakuzan, tenang saja.. kalau Te-chan tak ingin pindah tak masalah. Oka-san dan Otou-san akan membatalkannya" Ujar oka-san dengan sok keren dan berusaha menyembunyikan tanda-tanda bahwa dia baru saja menangis. Double sial. Padahal tadinya aku yang mau bersikap kayak begitu.

"A-aku... aku mau dijodohkan" aku mengepal kedua tanganku, berusaha menahan airmataku yang terasa memberontak keluar dengan lebih kuat. Dan kali ini, Otou-san benar-benar terkejut. Dialah yang pertamakali mendatangiku dan duduk diatas kasurku.

"apa maksudmu tetsuna?" Nee ayahku yang baik, jangan membuatku kembali mengulang kalimat nista itu. Ini sama sekali menyedihkan, kau tau?

Tapi aku mengulangnya, "aku mau dijodohkan. Aku mau pindah ke SMA Rakuzan. Aku mau menuruti semua perkataan kalian. Dan aku mau lulus ebtanas" kedua orong tua itu semakin terkejut. sebenarnya, aku tidak yakin pada kalimat terakhirku. Tapi kupikir, mungkin kalimat itu bisa membuat otou-san senang. "aku sudah mendengar semuanya, otou-san.. dan kupikir aku akan melakukannya. Aku kan tidak bisa dengan egoisnya menolak perjodohan ini. Setidaknya, aku bisa sedikit meringankan perekonomian keluarga..." ujarku lagi, kali ini dengan senyum. Senyum yang tulus. Senyum yang membuat oka-san langsung berlari memelukku dan mengucap kata-kata maaf yang bertubi-tubi. Aku membalas pelukannya lalu kami menangis bersama-sama, Dan jangan tanya soal otou-san, raut wajah lelaki itu tetap datar seperti biasanya. Tapi dari balik pundak oka-san, aku dapat melihat manik biru otou-san sedikit berair. Dan dia salah besar kalau dia berpikir bisa menyembunyikan raut terharunya itu dariku.

"Otou-san.." ia menatap mataku, masih menggunakan topeng datarnya, "kemarilah.. aku sudah menjanjikan keberhasilan ebtanas pada Otou-san dan Otou-san masih tak ingin memelukku?" ujarku sehalus mungkin.

"Tetsuna..." ia menyambut uluran tanganku dan ikut masuk dalam acara berpelukan ala teletubies kami. Badannya sedikit bergetar, tapi aku tak ingin menyinggungnya, karena mungkin saja ia telah meruntuhkan image datarnya itu dan menangis sekarang. Lalu, tiba-tiba chiro-nii datang kekamarku. Ia menatap heran pemandangan yang kali ini disuguhkan padanya.

"Dasar. Baru saja tadi aku melihat tou-san dan kaa-san menguntit kamarmu. Sekarang, kalian malah berpelukan seperti ini tanpa mengajakku. Sebenarnya apa yang terjadi, dik?" tanyanya sambil berjalan ke arah kami dan ikut serta dalam acara peluk-memeluk ala teletubies ini. Oka-san mendelik kearah chiro-nii, "jangan pura-pura tidak tau Chi-chan. Padahal jelas-jelas tadi kau menguping dari balik pintu!"

"Eh, aku tidak"

"jangan mengelak!"

"..."

Aku ikut mendelik kerah chiro-nii, bergumam ringan sambil menyelipkan sedikit humor kedalamnya, "kurasa kali ini kalian bertiga lebih cocok menjadi agen penyusup"

Dan kami pun tertawa sumringan (sebenarnya sih cuma oka-san. Aku, chiro-nii, dan Otou-san hanya tersenyum). Kami terus berpelukan sampai-sampai nigou terbangun dan merasa terganggu atas adegan dihadapannya. Mungkin dalam otak anjingnya dia berpikir, 'apakah manusia selalu melakukan hal tidak berguna di tengah malam seperti ini?' . bener deh, apa sih yang seekor anjing tau?

Tiba-tiba, sesuatu yang penting terlintas dari dalam otakku. Ini sangat penting sampai-sampai bisa disebut genting.

"Oh iya otou-san" otou-san menatapku saat aku memanggilnya, "Kau tak perlu lagi memakai kata-kata EBTANAS. Sebenarnya, sekarang ini namanya adalah UN. Dan aku enggak yakin orang-orang zaman sekarang bakal mau menahan tawa kalau mereka mendengarmu mengucap kata itu"

Otou-san mengerjap-ngerjapkan matanya, "jangan merusak suasana mengharukan ini dengan kata-kata sarkastik, tetsuna"

.

.

.

Pfft... betapa kami ENGGAK ketawa.


Normal POV

Ciiitt... Ciiit... Ciiittt..

Tok.. tok.. tok..

Ciiit... ciit... ciiit..

Tok.. tok..

Pagi yang cerah, burung berkicau dengan indahnya. Suara pisau dan telenan yang saling beradu seirama menjadi melodi yang selaras dengan kicauan burung pagi itu. Kohina kuroko, sang komponis melody itu setengah berteriak pada suaminya yang kini sedang menyeruput kopi panas, "Satomi-kun, apa kau yakin te-chan akan baik-baik saja? Kenapa dia tidak turun dan ikut sarapan bersama kita?"

"Tenang saja Kohina, kau dengar tekadnya tadi malam? Dia bilang, dia akan lulus UN. Jadi tak ada yang perlu kita khawatirkan."

Kohina mendengus, tak ada gunanya bertanya pada suaminya yang cuek ini kalau yang menjadi jawaban hanyalah sesuatu yang tak bisa menjadi petunjuk. Menyerah dengan Satomi, ia bertanya pada anak sulungnya, "Nee, nee.. bukankah tadi Chi-chan habis dari kamar Te-chan? Bagaimana keadaan Imoutomu, nak?" Kohina menghentikan kegiatan toktok-menoktoknya sejenak, "Oka-san agak khawatir dengan Te-chan, dia lama sekali. Bisakah kau pergi menjenguknya lagi ke atas?"

Chihiro menyeringai penuh arti, "Tenang saja kaa-san, dia baru saja mendapat ilham. Dan wajar 'kan, kalau murid baru ingin terlihat lebih berbeda saat masuk sekolah barunya?"

"Ah, benar juga ya.. mungkin kaa-san terlalu khawatir. Heh, dan apa maksudmu dengan ilham?"

"Kaa-san akan tau nanti.."

Tap.. tap.. tap

Terdengar suara tapakan kaki yang mencumbu lantai dibawahnya, membuat Satomi dan Chihiro menoleh ke arah sumber suara secara berjamaah.

"Doumo"

.

.

.
PRANG!

Chihiro nyengngir kuda, Satomi menjatuhkan cangkir kopinya.

"Te-TETSUNA!?"

Kohina yang mendengar suara gaduh dari ruang sebelahpun mencondongkan kepalanya ke sekat diantara ruangan itu, "Nee, apa yang terjadi? " manik biru itu kemudian menangkap sesosok pemuda yang berjalan dari atas tangga, wajah pemuda ituterlihat datar dan familiar tapi kohina berani bersumpah kalau pemuda itu adalah pemuda paling manis yang pernah ia temui, "Ara, ada teman Chi-chan rupanya.. eto, kenapa Chi-chan tidak bilang kalau teman Chi-chan datang menginap, hm?"

Chihiro semakin tak bisa menahan cengiran kudanya, "kaa-san, ada 2 hal yang salah dari situasi ini. Pertama, aku tidak punya teman dengan rambut sewarna langit. Kedua, dia itu bukan temanku, dia adikku"

"Okaa-san, doumo"

BANG!

Suara debangan panci terdengar, Kohina jawdrop seketika.

Bagaimana tidak?

Kini yang berdiri dihadapannya adalah seorang pemuda mungil nan manis bersuraikan bedhair yang sewarna dengan miliknya dan mengenakan setelan seragam milik SISWA Rakuzan. Masih normal 'kan? Tapi bagaimana kalau anak sulungnya berkata bahwa pemuda itu sebenarnya adalah anak gadisnya yang imut? Masih normal kah?... kah?

"DEMI KAMI-SAMA YANG AGUNG! APA YANG KAU LAKUKAN PADA RAMBUTMU TE-CHANNN! KENAPA KAU BERPENAMPILAN SEPERTI INI!?"

"Kohina, tenanglah.. aku juga kaget. Tapi tidak perlu berlebihan seperti it"

"APANYA YANG BERLEBIHAN!? KAU SAJA YANG MEMANG TAK BISA MERASA KAGET SATOMI-KUUUNN!" kohina berlari ke arah tetsuna dengan kecepatan cahaya, kerut kekhawatiran mulai menghiasi parasnya yang seputih gading "nak, apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Te-chan memakai seragam Onii-chan? Kenapa Te-chan memangkas pendek rambut Te-chan? Apa Te-chan merasa begitu frustasi sampai berdandan seperti ini?"

"Aku akan menjawab kalau kalian mencoba untuk tenang. "

SIIINGGG

Hening.

Tetsuna menarik kursi meja makan berlapis beludru kemudian duduk diatasnya dan berdehem pelan, "Oka-san, Otou-san.. aku menarik kembali kata-kataku tadi malam. Sekarang, aku hanya akan bersedia masuk Rakuzan kalau kalian menyanggupi syarat yang kuberikan"

Kohina kembali shock, Satomi memijit pelipisnya yang kini mulai terasa berputar-putar, "bisa jelaskan pada Otou-san mu apa yang terjadi?"

Tetsunapun tersenyum sumringan. "Dengan senang hati..."

.

Flashback

Sang fajar telah menyibak tirai agungnya, menebarkan sinar keemasan yang menyeruak melalui celah-celah jendela. Dengan egoisnya, sinar itu membias menyusup masuk sampai ke tengah ruangan, mengusik sesosok gadis bersurai biru sepunggung yang masih enggan beranjak bangun dari mimpi indahnya.

Menit berikutnya, gadis itu terjaga. Mengerjap-ngerjapkan kedua matanya yang masih sembab karena kejadian semalam. Dengan masih tetap terbaring, ia meraba-raba sisi lain tempat tidur dan mendapati bahwa onii-channya yang tampan tengah terduduk santai dengan tubuh yang kini berbalut seragam sekolah.

Gadis itu menatap heran sambil memiringkan kepala dan mengucek-ngucek manik matanya yang teduh, "Sedang apa chiro-nii disini?"

"Menunggumu bersiap. Kau lupa bahwa sekarang sekolah kita sama, tetsuna?" jemari besar sang kakak menggapai kepala mungil adiknya, menggerakkan kepala gadis mungil itu untuk menghadap tepat kearahnya, "Sebenarnya aku heran, kenapa kau mau menuruti permintaan kaa-san dan tou-san untuk pindah ke sekolahku?"

Gadis itu tersenyum canggung, "Aku hanya iba pada Otou-san dan Oka-san. Lagi pula, hal buruk apa yang akan terjadi kalau aku memang menyetujui kepindahanku ke Rakuzan? Bukankah akan menyenangkan kalau aku bisa menemui calon pendamping hidupku sebentar lagi.." ujarnya sambil beranjak dari tempat tidur dan bermaksud meninggalkan sang kakak yang kini masih asik membaca novel.

Pemuda pemilik mata keabuan itu mendengus pelan, "Kau pembohong yang baik, dik"

"Dan kau pengamat yang cukup cerdas, kak" Setengah menyeringai,Tetsuna mengambil tas sekolahnya, mencoba untuk mempersiapkan segala keperluan sekolah yang mungkin akan berguna nanti. Setelah selesai dengan tas, ia kembali duduk di samping chihiro. Menatap pemuda yang kali ini sibuk membaca novel, "sebenarnya ada yang ingin kutanyakan pada chiro-nii.."

"hn?"

"un.. seperti apakah akashi-san itu? "

"kenapa kau tidak melihatnya sendiri? Bukankah nanti kita akan satu sekolah"

Tetsuna mengalihkan pandangannya keatas, terlihat seperti berusaha memilih kata-kata yang tepat. "Sejujurnya aku tidak yakin, chiro-nii. Tapi aku belum siap. Aku akan sangat malu kalau akashi-kun tau akulah yang menjadi tunangannya.."

Chihiro terkekeh pelan, "hm, semacam tidak percaya diri, eh?"

"yah, bisa dikatakan begitu. Bagaimana kalau dia melihatku dan tau padaku tapi aku tidak tau padanya? Intinya, aku masih ingin tahu watak dan tampang akashi-kun dulu sebelum kelak kami menikah. aku khawatir akashi-san akan menyembunyikan sikap aslinya padaku."

"Kalau begitu kenapa kau tidak menyamar sebagai lelaki saja tetsuna?" chihiro nyeletuk. Argumen ngawurnya yang kelewat ngawur itu kontan mendapat delikan tajam dari tetsuna, Tapi, Tetsuna yang sudah frustasi to the extreme memilih untuk mendengarkan inti dari argumen kakaknya itu dengan seksama, "jelaskan padaku chiro-nii"

"Begini, kau minta saja Otou-san untukmemasukkanmu ke Rakuzan sebagai seorang siswa dengan merahasiakan identitasmu yang sebenarnya. Lalu, kau masuk saja ke klub yang sama denganku, klub basket SMA Rakuzan, karena disana akashi menjabat sebagai kapten kami.." Chihiro memberi jeda pada kalimatnya, sekedar memastikan bahwa Tetsuna mengerti atau tidak, "...dan dengan nama samaran KUROKO TETSUYA, aku akan memperkenalkan mu sebagai sepupuku disana. Bukankah itu brilian?"

Tetsuna melongo.

"aku tak menyangka terlalu banyak membaca novel akan memberikan dampak sedalam ini pada otakmu, Onii-chan"

Terdengar dengusan yang kedua kalinya dari sang kakak "Tak ada yang tidak mungkin tetsuna", dengan sekali gerakan ia beranjak dari kasur empuk adiknya dan menuju ke sebuah lemari berukir yang terbuat dari kayu pohon ek, ia mengacak-acak isi lemari itu kemudian kembali ke tempat sang adik sambil membawa sesuatu. "pakai ini dan tak ada yang akan mengenalimu sebagai Kuroko tetsuna lagi"gumamnya sambil melemparkan sesuatuitu kepada tetsuna.

Tetsuna menangkap gumpalan misterius itu dengan tanggap,dengan sedikit berjinjit dikarenakan posturnya yang mungil.

Eh.. wig?

"Kau benar-benar oke Chiro-nii!" sahutnya sambil memuntir segumpulan surai yang sewarna dengan surainya itu, "eh.. tapi, bagaimana kalau pihak sekolah tak ingin bekerja sama dengan kita?"

Chihiro memutar bola matanya,"Kan ada uang"

Tetsuna berpikir sejenak, seringai kecil mulai menghiasi bibirnya yang mungil, "Ah, ide yang bagus... ide yang bagus.. khu-khu-khu"

.

.

.

End of flashback

...Khu-khu-khu. Begitulah ceritanya Otou-san. Nee, apakah Otou-san bersedia memasukkanku ke rakuzan sebagai siswa? Bukan sebagai siswi?"

.

krik


To Be Continued


GAJE YA? GAJE? (Abaikan)
MAAF YA? MAAF?
(Abaikan)

RnR please :* (Jangan di Abaikan!)