Be With You

.

.

.

02

.

.

.

^_^ Happy Reading ^_^

.

.

.

Tit... Tit... Tit... Tit...

Brak

Luhan melonggok pada pintu apartemennya, dia segera berdiri dari duduknya mendapati Baekhyun berdiri disana sedang mengatur nafasnya. Terlihat tak seperti biasanya.

"Wae geurae?" Luhan menghampiri Baekhyun yang terlihat dalam kondisi tak baik.

"Ani! Mian kalau aku mengganggu kalian." Baekhyun tersenyum tipis, berusaha meyakinkan Luhan dan Sehun yang menatapnya dari sofa, bahwa dia baik-baik saja.

"Kau yakin?"

Baekhyun mengangguk dan melangkah masuk ke dalam.

Dia menghampiri dapur, membuka kulkas dan mengambil air dari dalam kulkas.

Luhan mengikutinya dari belakang, tatapan Sehun pun mengikutinya.

"Baekkie! Kau benar tidak kenapa-napa?" Luhan kembali berujar dengan nada khawatir.

"Nde. Gwaenchanaseyo." Sahut Baekhyun.

"Kalian lanjutkan saja nontonnya. Aku ke kamar." Pamit Baekhyun setelah meletakkan kembali gelasnya ke rak.

Dia kemudian melangkah gontai ke kamarnya.

Luhan menatap tak yakin punggung Baekhyun yang semakin menjauhinya.

Kemudian dia menghampiri Sehun yang masih duduk di sofa.

"Kau merasa ada yang aneh dengannya 'kan Sehunnie?"

"Eoh."

"Menurutmu apa?"

"Molla. Dia tak bicara apapun, mana aku tahu chagiya."

"Ya! Kenapa kau tidak peka sekali sih?"

"Bukan tidak peka, hanya saja kalau sudah menyangkut perasaan perempuan, sangat sulit sekali untuk di mengerti. Mereka diam, tapi kami harus tahu alasan mereka diam itu apa tanpa mengatakan apapun. Ya mana tahu kalau seperti itu, kami, para lelaki, bukan cenayang yang bisa menebak isi kepala seseorang."

Sehun tak menyadari tatapan Luhan yang bisa setiap saat menyerangnya.

"Kau sedang curhat Tuan Oh?"

Sehun menatap Luhan.

"Kalau iya, kamu mau apa Nona Xiao?"

Luhan mempoutkan bibirnya. Dia tak pernah berhasil membuat Sehun takut dengan tatapannya.

"Berhenti memasang wajah seperti itu, percayalah kau tak terlihat jahat sayang. Kau justru semakin terlihat cantik." Sehun mengedipkan mata kirinya.

Buagh...

"Ya! Sudah sering dibilangi, jangan suka melempar bantal ke muka, ini sakit sayang!" pekik Sehun. Kedua tangannya mencekal tangan Luhan yang masih memegang bantal.

"Kau menyebalkan." Luhan menghempaskan tangan Sehun, kemudian melipat kedua tangannya di dada dan mempoutkan bibir tipisnya. Pose andalan ketika dia sedang merajuk manja pada sang kekasih.

"Tapi cinta 'kan?"

Luhan menatap Sehun lagi, kemudian tersenyum dan langsung menempelkan kepalanya di dada bidang Sehun. Tempat favoritnya untuk bermanja.

"Rasanya tak mungkin jatuh cinta pada selain kamu, Sehunnie."

Sehun tersenyum sambil mengusap sayang kepala calon istrinya itu.

"Tak semua yang terjadi pada Baekhyun, kita harus tahu sayang. Biarkan saja seperti itu, siapa tahu memang ada yang harus dia simpan sendiri. Nanti, kalau dia sudah tak sanggup menyimpannya sendiri, dia pasti akan cerita pada salah satu dari kita."

"Tapi aku suka kasihan kalau melihat Baekhyun. Bayangkan, dua tahun dia menjadi tunangan temanmu itu, tapi tak pernah sekalipun aku melihat mereka kencan normal. Dan lagi, yang terlihat lebih sering wajah murungnya daripada bahagia. Hhh... Park Chanyeol itu, tapi punya hati atau apa sih?"

Luhan menegakkan badannya, kemudian menghadap Sehun.

"Kita sudah pernah menasehati dia, memintanya menjauhi Chanyeol, tapi kenyataannya dia tak bisa 'kan. Kita tak hanya bicara tentang cinta sayang, tapi juga tentang bakti seorang anak terhadap kedua orangtuanya." Sehun merapikan poni Luhan yang menutupi mata gadis China itu.

"Haruskah seperti ini?"

"Selalu ada akhir yang indah untuk setiap pengorbanan yang kita lakukan sayang."

Luhan tersenyum manis dan mengecup pelan bibir Sehun.

"Bolehkah meminta lebih dari sekedar kecupan?" bisik Sehun.

Luhan membuat tanda silang dengan kedua telunjuknya di depan bibirnya. Kepalanya menggeleng imut.

"Ini sangat tidak adil. Kau bebas mengecupku kapan saja kau mau, tapi aku tak boleh sedikit saja menikmati bibir itu."

"Sabar sampai dua tahun ke depan ya Tuan Oh." Luhan mengerling nakal.

.

.

.

Sementara itu, setelah membersihkan dirinya, Baekhyun memilih menyembunyikan dirinya di balik selimut.

Kejadian yang terjadi beberapa waktu yang lalu di rumah Chanyeol, nyatanya masih cukup mengganggu pikirannya.

Apa yang terjadi dengan Chanyeol hari ini? Kenapa pria itu bersikap di luar kebiasaannya?

Baekhyun masih mengingat bagaimana Chanyeol menatapnya, tatapan tak biasa. Lalu kemudian pria yang berprofesi sebagai dokter, sama halnya dengan Sehun itu, mencondongkan wajahnya lebih dekat dengannya dan kemudian tiba-tiba saja, benda lembut nan basah milik Chanyeol, sudah mendarat diatas bibirnya.

Baekhyun benar-benar terkejut dibuatnya, matanya melotot kaget.

Kejadian itu tak berselang lama, karena Baekhyun langsung menghentikan tindakan Chanyeol saat pria itu bersiap melanjutkan ciumannya.

Baekhyun langsung berdiri dari duduknya. Bahkan gerakannya yang spontan itu, membuat tangannya tanpa sengaja menghantap bibir dan hidung Chanyeol.

Dia langsung berlari keluar dari rumah Chanyeol, tanpa memperdulikan teriakan kesakitan dari tunangannya itu.

Dan sekarang, pikirannya masih berputar ke kejadian itu. Kenapa? Kenapa? Dan kenapa?

Drrrtt... Drrrtttt...

Baekhyun membuka selimutnya, lalu meraih ponselnya dari atas nakas disampingnya.

'Future Hubby'

Batin Baekhyun bingung menimbang. Haruskah dia mengangkat panggilan itu? Tapi apa yang akan dikatakannya pada Chanyeol? Apakah pria itu marah padanya?

Belum sempat terangkat, panggilan itu sudah berakhir.

Namun sesaat kemudian, panggilan itu kembali masuk, dan Baekhyun dengan ragu-ragu menggeser ikon telpon berwarna hijau ke samping kanan.

"Yeoboseyo!"

"Lama sekali. Kau sudah sampai rumah?"

"Nde."

"Syukurlah kalau begitu."

Baekhyun hanya diam, dia tak tahu harus berkata apalagi. Pikirannya masih kalut dan bingung setelah kejadian tadi. Dan lagi, dia tak biasa bicara banyak bila sedang melakukan panggilan dengan Chanyeol, hanya hal penting yang mereka bahas biasanya, dan panggilan akan berakhir di dua menit berikutnya.

"Baekkie!"

Baekhyun kembali dibuat terkejut dengan panggilan Chanyeol padanya.

"Hmm."

"Apa kau tak ingin meminta maaf padaku?"

"Heh! Ah... Nde. Jeosongeyeo Chanyeol-ssi. A-aku... I-itu terjadi karena a-aku sangat terkejut. Mian."

"Chanyeol-ssi? Kau memanggil tunanganmu sendiri seperti itu?"

Kenapa? Bukankah biasanya seperti itu?

Dulu, dulu sekali, saat mereka baru bertunangan, Baekhyun pernah berusaha memanggil Chanyeol dengan sebutan 'oppa', tapi Chanyeol dengan tegas menolak dan mengatakan risih mendengarnya memanggil dia seperti itu. Jadi sejak kejadian itu, Baekhyun memanggil Chanyeol-ssi, untuk calon suaminya itu.

"Bukankah biasanya seperti itu?"

Baekhyun menangkap suara Chanyeol yang sedang berdehem keras di ujung telpon sana.

"Terserahmu 'lah! Tidurlah! Sebelum tidur aku mau MENGOBATI LUKA YANG BARU SAJA DITIMBULKAN OLEH SESEORANG YANG TAK BERTANGGUNGJAWAB. Bukannya mengobati, orang itu justru pergi begitu saja. Bhaks! Kalau bertemu lagi, aku tak akan melepaskannya!"

Bulu kuduk Baekhyun meremang mendengar suara besar Chanyeol yang tengah menyindirnya.

"Mianhae."

"Aku tak butuh kata maafmu, setidaknya bertanggungjawab 'lah. Datang ke apartemenku besok pagi, kalau tidak! Aku tak akan memaafkanmu selamanya!"

Baekhyun mendesah pasrah.

Kalau boleh protes, bukan salahnya kalau dia melakukan gerakan spontan itu. Chanyeol terlalu mengejutkannya dengan tindakannya. Jadi wajar kalau reaksinya seperti itu.

Baekhyun tak pernah berpacaran sebelumnya, dia tak pernah tahu apa saja yang dilakukan orang saat mereka pacaran.

Ciuman, dia sering melihatnya, baik di drama maupun di depan matanya sendiri. Tapi melakukannya, Baekhyun belum pernah.

Dan tadi, Chanyeol baru saja mencuri ciuman pertamanya, yang bukannya membuat di senang tapi justru membuatnya terkejut.

"Hah." Desahnya pelan.

.

.

.

"Prof!"

"Chanyeol-ah! Kau sudah sampai di Korea? Bagaimana penerbanganmu?"

"Lancar dan saya selamat sampai Korea, prof."

"Syukurlah. Sudah bertemu dengannya?"

Chanyeol tersenyum simpul. Ditanya seperti itu, mengingatkannya akan kejadian semalam.

Wajah terkejut Baekhyun saat bibirnya mendarat diatas bibir gadis itu, membuatnya sama terkejutnya.

Apakah dia yang pertama untuk Baekhyun?

"Sudah. Dia yang menjemputku prof. Dengan mobilnya."

"Wauw... Seoul-Incheon bukan jarak yang dekat Chanyeol-ah. Dia rela menyetir sendiri untukmu?"

Chanyeol kembali mengembangkan senyumnya, yang sebenarnya dia tahu bahwa profesornya di Inggris sana tak melihatnya.

"Hmm... Sangat berbeda dari yang biasanya terjadi prof."

"Bagaimana perasaanmu?"

"Entahlah Prof. Rasanya aneh, tapi menyenangkan. Saya jarang memperhatikan dia dengan seksama, tapi semalam saya benar-benar memperhatikannya."

"Bagaimana menurutmu dia?"

"Luar biasa. Dia memakai pakaian yang biasa saja, tapi semua mata laki-laki yang berpapasan dengannya, pasti memperhatikannya."

"Kau marah?"

"Bukan marah. Lebih kepada jengkel, ingin sekali rasanya mencongkel mata mereka itu."

"Kenapa? Bukankah dia tak berarti apa-apa untukmu?"

Sebuah benda tak kasat mata, seperti menghantam dada Chanyeol. Menohok ulu hatinya.

"Dia memang tunanganmu, calon istrimu tapi bukankah dia bukan siapa-siapa untukmu? Kenapa marah kalau ada lelaki yang mengaguminya. Perasaan jujur seorang pria ketika melihat wanita cantik adalah memperhatikannya. Sangat wajar dan manusiawi bukan?"

Chanyeol hanya diam, tak bisa membantah atau menyela ucapan profesornya. Karena apa yang dikatakan profesornya itu, ternyata dibenarkan oleh hatinya.

Baekhyun siapa untuknya? Pantaskah perasaannya disebut rasa cemburu?

"Chanyeol-ah! Kau masih disitu?"

"Nde."

"Kau hanya perlu menunggu Chanyeol-ah. Karena apa? Karena sekarang saja, hatimu sedang memilih jalannya."

Chanyeol mendengar kekehan dari seberang sana. Profesornya tengah mentertawakannya sepertinya.

"Apa yang akan kau lakukan setelah ini?"

"Molla. Semalam saya menelponnya, meminta dia datang pagi ini, tapi sepertinya dia tak akan datang."

"Kenapa dia harus datang?

"Dia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya Prof."

"Apa yang sudah dilakukannya?"

"Semalam saya... Menciumnya." Lirih Chanyeol. Sebenarnya dia cukup malu menceritakan masalah ini, tapi dengan profesornya, rasa malu itu sepertinya tak berlaku.

Chanyeol selalu bisa bercerita tentang apapun pada profesornya itu. Hal-hal yang tak bisa dia ceritakan pada orangtuanya, bisa dengan lancar diceritakannya pada sang profesor.

Chanyeol mendengar tawa keras dari profesornya. Dan dia mengumpat dalam hati. Fuck!

"Apa aku tak salah dengar? Kau menciumnya? Wae?"

"Saya terbawa suasana. Saat itu dia sedang melihat-lihat beberapa foto, yang kebetulan sangat banyak foto saya dan Seulgi. Saat melihatnya senyum samar, hati saya... Seperti tertusuk jarum kecil, tak terasa tapi ngilu. Lalu saya mendekatinya dan menariknya mendekat. Saat dia melihat saya, perasaan aneh itu muncul, rasanya ada debaran menyakitkan tapi sekaligus menyenangkan."

"Lalu?"

"Saya menciumnya."

"Kau berharap apa dari ciuman itu?"

"Tak ada. Saya hanya ingin menciumnya. Itu saja."

"Reaksinya bagaimana?"

"Dia terkejut dan tiba-tiba berdiri dari duduknya dan tanpa sengaja lengannya menghantam hidung dan bibir saya."

"Ah ah ah hahahahaaaa... "

Ok!

Chanyeol ditertawakan dengan keras oleh profesornya dan itu membuatnya sedikit jengkel.

"Setelah yang terjadi semalam, kau masih berharap dia datang menemuimu? Yang benar saja Chan-ah. Dia tentu saja merasa bingung, juga malu. Tak ada hujan tak ada angin, kau tiba-tiba baik padanya lalu secara mengejutkan juga menciumnya, tentu saja dia tak akan datang."

"Lalu?"

"Apanya yang lalu? Datangi tempat tinggalnya!"

Chanyeol memukul kepalanya, menyadari sesuatu. Dia tak pernah tahu dimana Baekhyun tinggal.

"Saya tidak tahu dia tinggal dimana?"

"Keterlaluan sekali."

"Prof!"

"Kau bisa menggunakan otakmu untuk mencari tahu Chanyeol-ah."

Chanyeol diam memikirkan apa yang dikatakan profesornya itu. Ehm... Ah!

Dia menjentikkan jarinya, saat menemukan caranya.

"Wae?"

"Saya tahu caranya prof. Gomapta sudah mau mendengarkan cerita saya prof. Maaf mengganggu jam istirahat anda."

"Untuk mahasiswa sespesial kamu, aku tak merasa terbebani. Semoga kau selalu bahagia Hakseng. Oh ya, jangan lupa titipanku."

"Nde Yunho samchon. Aku tak lupa." Bahasa yang digunakan Chanyeol berubah seketika, masih sopan, tapi terdengar lebih akrab.

"Gomawo Chanyeol-ah."

Sambungan itu terputus. Tak berapa lama kemudian Chanyeol menscroll penyimpanan kontaknya.

Senyumnya terkembang lebar saat menemukan apa yang dicarinya.

Kai-ah! Apa kau tahu dimana tempat tinggal pacarnya Sehun?

.

.

.

"Kau tidur disini Sehun-ah?" tanya Baekhyun yang baru keluar dari kamarnya dan duduk dihadapan Sehun yang tengah menikmati sarapannya.

"Menurutmu?" sahut Sehun balik bertanya.

Baekhyun menatap Sehun dan mengangguk pelan.

"Pancake dengan selai stoberi untukmu, Baekkie." Luhan meletakkan tiga potong pancake yang disusun rapi diatas piring di hadapan Baekhyun. Kemudian segelas susu juga diletakkannya bersebelahan.

"Duduklah sayang!" Sehun menarik pinggang Luhan yang baru akan kembali ke dapur.

"Sebentar lagi, ok." Luhan tersenyum melepaskan tangan Sehun yang melingkari pinggangnya.

"Aku boleh bertanya padamu Sehun-ah?"

"Of course. Mwo?"

Baekhyun menarik nafasnya dalam, hatinya kembali menimbang, perlu tidak dia menanyakan hal ini pada Sehun, yang selain teman Chanyeol, dia juga sepupu jauh Chanyeol.

"Nona Byun!"

"Nde. Hmm... Tidak jadi." Sahut Baekhyun sambil mengiris pancakenya.

"Kau banyak menyembunyikan segala hal dari kami Baek-ah." Luhan duduk di samping Sehun dengan semangkuk salad sayur dan segelas jus buah.

Baekhyun menatap sahabatnya itu lalu tersenyum simpul.

"Kalau bukan karena dia melarang, semalam sebenarnya aku ingin mengintrogasimu." Lanjut Luhan.

Baekhyun menatap Luhan dan Sehun bergantian. Betapa manis pasangan di depannya itu.

Sehun yang selalu bisa terlihat dewasa dan sangat melindungi Luhan.

Dan Luhan yang sepertinya tak terbebani dengan cinta Sehun yang melimpah ruah untuknya.

Mereka berdua jarang sekali terlibat pertengkaran. Bukan tak pernah, hanya saja Sehun selalu siap mengalah untuk Luhan. Dan ketika semua sudah dalam keadaan baik, dia baru menasehati Luhan.

Baekhyun nyaris tak percaya Sehun bisa bersikap sedemikian rupa, karena yang dia tahu, Sehun cukup manja di keluarganya. Mengingat dialah putra bungsu di keluarganya.

Namun semuanya berubah saat pria tinggi putih dihadapannya itu sudah berhadapan dengan Luhan. Sikapnya menjadi sangat dewasa.

"Kenapa menatap seperti itu?" tanya Sehun.

Baekhyun menggeleng pelan, lalu kembali menyuapkan sepotong pancake ke dalam mulutnya.

"Kapan kalian akan menikah?"

"Kau sangat tahu jawabannya Baek-ah. Dia sama halnya dengan Chanyeol, sibuk dengan S2-nya. Tanpa mempedulikan perasaan kita sebagai wanita yang tentu sudah sangat ingin dibawa ke altar." Luhan melirik Sehun.

Sehun tersenyum dan merangkul pundak Luhan lalu mendaratkan kecupan singkat diatas pipi gadisnya itu.

"Aku sangat mencintaimu, Xiao Luhan. Sangat... Sangat... Sangat... Dan sangat."

Luhan menatap Sehun.

Dan Baekhyun menyadari satu hal, betapa pasangan ini memiliki cinta yang sama besarnya pada satu sama lain.

Berbeda dengannya yang tak pernah ditatap sedemikian rupa oleh siapapun kecuali ayah dan ibunya serta saudaranya.

Laki-laki yang dicintainya, tak memiliki cinta yang sama untuknya.

Baekhyun menunduk dan airmatanya leleh seketika.

Luhan melihat itu, dia menjulurkan tangannya, menggenggam erat tangan Baekhyun.

"Kau memiliki kami Baek-ah. Kami yang menyayangimu lebih dari siapapun."

Baekhyun mengangkat kepalanya. Airmata yang membasahi kedua pipinya, membuatnya terlihat semakin berantakan.

Sehun menjulurkan tangannya dan menyeka pelan airmata sahabatnya itu.

"Aku tak akan pernah bosan menghapus airmata ini Baek-ah. Sampai kau benar-benar tak akan mengeluarkannya lagi."

"Gomawo... Huks... Huks..."

Luhan beranjak dari duduknya, lalu duduk disamping Baekhyun dan memeluk tubuh kurus sahabatnya itu.

"Kau bisa berhenti kalau kau lelah Baek-ah."

Baekhyun menatap Luhan.

Bukan sekali ini dua sahabatnya itu menasehatinya, untuk berhenti menunggu Chanyeol, berhenti mencintai Chanyeol dan berhenti berpura-pura baik-baik saja.

Namun, saat dia ingin berhenti, dia seolah selalu diingatkan akan janjinya pada sanga ayah.

'Janji yang appa buat, appa berharap kau bisa menunaikannya Baekkie. Appa percaya kau mampu.'

'Nde appa. Aku janji akan melakukannya. Demi appa.'

"Aku masih kuat Luhanie, aku pasti kuat." Baekhyun berusaha tersenyum, lagi.

"Katakan padaku kalau kau sudah tak sanggup. Akan ku seret laki-la... "

Ting tong ...

Suara bel menghentikan ucapan Sehun. Pria itu menatap pintu lalu beranjak dari duduknya, melangkah ke pintu.

"Nuguseyo?"

Sehun membuka pintu.

Matanya nyaris keluar mendapati seseorang yang sangat dikenalnya berdiri di depan pintu rumah Baekhyun dan Luhan itu.

"Hyung!"

Luhan dan Baekhyun langsung menoleh mendengar seruan Sehun yang cukup keras itu.

"Sehunie! Siapa yang dat... Chanyeol!" Luhan tak kalah terkejut dari Sehun. Dia berdiri dari duduknya dan menghampiri pria yang tingginya sama dengan Sehun itu.

"Apa kabar Nona Xiao?" Chanyeol tersenyum menyapa.

Luhan membalas senyum itu dan memeluk Chanyeol singkat.

"Baik dan tentunya semakin mencintai Oh Sehun." Sahut Luhan riang.

Chanyeol tersenyum lebar. Luhan selalu seperti ini, tak pernah malu mengungkapkan kecintaan pada kekasihnya.

"Wae? Kau menangis?" Chanyeol beralih pada Baekhyun yang terlihat terkejut dengan kehadirannya.

"Akh!" Baekhyun terburu-buru menghapus sisa airmatanya. "A-ani."

"Aaaa... Itu, subuh tadi kami lihat drama yang ceritanya cukup membuat kami tersentuh dan... Ya... Begitulah." Luhan memberi alasan.

"Duduklah hyung. Mari sarapan!" Sehun menggiring Chanyeol duduk.

"Sebentar!" Luhan kembali ke dapur, lalu beberapa saat kemudian kembali lagi ke meja makan dengan sepiring nasi goreng dan segeles orange juice. Luhan menempatkannya di depan Chanyeol.

"Aku tak tahu apa yang membawamu kesini, tapi yang aku yakin, kau pasti belum sarapan. Makanlah!"

Chanyeol tersenyum lagi.

"Kau beruntung memilikinya sebagai calon istrimu Sehun-ah." Ujar Chanyeol sambil menyuapkan nasi ke mulutnya.

"Kau pikir kau tak beruntung memiliki Baekhyun sebagai calon istrimu? Cih... Bodoh sekali."

Baekhyun menatap Sehun kaku, Chanyeol menghentikan sendokannya, dan Luhan... Ingin sekali rasanya memukul kepala kekasihnya itu dengan panci.

Sedetik kemudian, Chanyeol mengalihkan tatapannya pada Baekhyun.

Disaat bersamaan, Baekhyun juga mengalihkan tatapan padanya.

"Sehun-ah! Bisakah kau menahan sedikit ucapanmu?" bisik Luhan sambil memukul pelan punggung kekasihnya itu.

"Wae?"

"Lihatlah! Semua jadi canggung seperti ini." Luhan kembali memukul punggung Sehun.

"Aku bicara kenyataan Sayang. Dia sudah sangat beruntung dicintai Baekhyun. Apalagi yang akan dia cari?"

Luhan membungkam mulut Sehun, lalu beranjak dari duduknya dan menyeret Sehun agar mengikutinya.

"Wae?" tanya Sehun yang sama sekali tak peka akan keadaan yang sedang terjadi saat ini.

Bugh... Bugh...

"Mengertilah sedikit Sehun-ah." Bisik Luhan sambil memukul punggung Sehun.

"Ahahahahaha! Aku rasa kalian punya banyak hal yang ingin dibicarakan. Kami pergi! Bukankah kita akan pergi ke taman hiburan sayang?" Luhan sudah menyeret Sehun dengan mata memberi isyarat pada kekasihnya itu untuk tak membantah ucapannya lagi.

Sepeninggal pasangan kekasih itu, suasana masih sangat canggung.

Baekhyun mengenggam erat gelas susunya, pikirannya tak tentu.

Apa yang harus dilakukan sekarang?

Kenapa Sehun berkata seperti itu tadi?

Apakah Chanyeol marah padanya?

Grep

Baekhyun tersentak, tangan besar Chanyeol meraih tangan kanannya dan menggenggamnya erat.

Perlahan Baekhyun menoleh, mendapati Chanyeol disana yang tengah menatapnya.

"Aku ingin mencoba." Ujar Chanyeol. Sedangkan Baekhyun tak bisa berkata apa-apa, dia masih menunggu Chanyeol melanjutkan ucapannya.

"Hubungan ini, aku ingin mencobanya agar lebih baik."

"B-bagaimana dengan Seulgi?"

Chanyeol terlihat bingung mendapat pertanyaan itu.

"Se-seulgi?"

"Jangan memaksakan diri kalau kamu tak yakin bisa melakukannya."

"Aku tak akan tahu hasil akhir dari semuanya, kalau aku tak mencobanya."

"Ada Seulgi yang mungkin terluka dengan ini."

"Kau jauh lebih dulu terluka karena aku dan dia." Lirih Chanyeol.

'Kau tahu aku terluka, tapi kau masih menyakitiku sedimikian rupa?' batin Baekhyun menjerit terluka.

"Satu bulan. Ya... Hanya satu bulan saja. Biarkan aku mencoba mencintaimu."

Baekhyun menatap Chanyeol.

Bisakah hal itu terjadi?

Ada wanita lain di hati Chanyeol saat ini, wanita yang begitu dicintai Chanyeol, wanita yang hampir selalu bisa membuat Chanyeol terlihat bahagia.

Dan dia, bukan siapa-siapa selain seorang teman yang kemudian berubah jadi tunangan.

Bisakah cintanya mengalahkan Kang Seulgi?

Tanpa Baekhyun sadari, Chanyeol sudah semakin mendekatinya, lalu mendaratkan bibirnya diatas bibir Baekhyun.

Baekhyun tersentak, terulang lagi kejadian semalam. Kali ini apa yang harus dilakukannya?

Baekhyun merapatkan bibirnya, saat Chanyeol berusaha meningkatkan intensitas ciumannya. Bahkan mata Baekhyun tertutup tak kalah rapat dengan kedua tangan meremat ujung bajunya erat.

Chanyeol menjauhkan dirinya, senyumnya terukir tipis menatap Baekhyun.

"Kau tak pernah berciuman sebelumnya?"

Baekhyun membuka matanya dan menatap polos Chanyeol.

"A-aku tak pernah terlibat hubungan dengan siapapun selama ini, jadi... "

"Semalam ciuman pertamamu?"

Wajah Baekhyun langsung memerah, malu rasanya ditanya seperti itu.

"Sudahlah." Demi mengalihkan rasa malunya, dia beranjak dari duduknya, dengan membawa piring dan gelasnya, dia hendak pergi ke dapur.

Namun sebelum sampai ke dapur, Chanyeol berhasil menghentikan langkahnya.

Pria tinggi itu meraih piring dan gelas Baekhyun, lalu meletakkannya kembali ke meja. Kemudian mengangkat tubuh kecil Baekhyun dan mendudukkannya diatas meja makan.

Baekhyun memberi tatapan bingung.

Apalagi sekarang yang akan dilakukan Chanyeol?

"Kau hanya perlu mengikuti caraku bekerja diatas bibirmu, jangan ditutup rapat!" perintah Chanyeol.

Dia lalu menangkup wajah Baekhyun dengan kedua tangannya, dan mulai kembali mendekati bibir Baekhyun.

Pelan dan pasti, bibirnya menempel pada Baekhyun, sesaat diam disana, dan ketika tak ada protesan dari pemilik bibir yang di singgahinya, Chanyeol memberanikan diri bergerak diatas bibir tunangannya itu.

Ada rasa yang berbeda dirasakan Chanyeol saat ini. Menguasai bibir Baekhyun, rasanya begitu mendebarkan.

Debarannya yang mengantarnya pada satu perasaan bahagia, yang tak pernah dirasakannya saat dia berciuman dengan Seulgi.

Mungkin, karena dialah yang pertama bagi Baekhyun, jadi ada rasa bangga bercampur bahagia.

Dan lagi, dia baru tahu, ada bibir yang rasanya semanis ini saat di sesap.

Brugh!

"Ya! Sehun-aph!" Sehun langsung berbalik dan membekap bibir Luhan sebelum seruan Luhan sempat di dengar pasangan yang jauh dihadapannya itu.

Sehun mendorong tubuh kecil kekasihnya itu hingga kembali keluar dari apartement.

"Ish! Oh Sehun! Apa yang kau lakukan?" jerit Luhan kesal begitu bibirnya bebas dari bekapan kekasihnya.

Matanya yang kecil melotot tajam pada pria putih yang selalu berhasil membuatnya jatuh cinta itu.

"Sebaiknya kita pergi. Jangan memikirkan dompet atau apapun itu." Ujar Sehun sambil menggandeng pergi Luhan.

"Kita mau kemana tanpa dompet dan ponsel?"

"Kemana saja rusa cerewet."

"Oh Sehun! Jangan panggil aku seperti itu, dasar anak ayam!" Sehun tertawa renyah. Dirangkulnya pundak Luhan, lalu dibawanya gadis itu pergi dari apartemennya.

'Semoga ini awal yang Indah hyung.'

.

.

.

Chanyeol membawa Baekhyun ke pelabuhan. Yang tentu saja menghasilkan tanda tanya besar di benak gadis yang saat ini memakai blouse warna pink, dengan dipadu rok jeans pendek. Baekhyun memakai sneaker favoritnya untuk menyempurnakan penampilannya.

Gaya berpakaian Baekhyun memang terlihat biasa saja, riasan wajahnya juga tak mencolok namun dia, terlihat cantik dan menawan dengan apa adanya dia saat ini.

Dan Chanyeol mengakuinya, Baekhyun tetap cantik dengan apa adanya dia.

"Kenapa kita kesini?" tanya Baekhyun.

Saat ini, Chanyeol sedang membimbing Baekhyun untuk menaiki boat yang sengaja di sewanya. Melewati sebuah papan kecil yang dipasang disana, untuk menghubungkan dengan boatnya.

"Ada yang harus aku lakukan disana." Chanyeol menunjuk tengah laut.

Baekhyun mengikuti arah telunjuk Chanyeol. Tatapannya berubah ngeri pada Chanyeol.

Hal itu membuat Baekhyun berpikir yang tidak-tidak.

Ada apa?

Apakah Chanyeol akan...

Ctak!

"Aouch!" Baekhyun mengaduh sambil mengusap dahinya yang baru saja disentil Chanyeol dengan jarinya.

"Jangan berpikir yang tidak-tidak. Aku tak sejahat yang kau pikirkan." Ujar Chanyeol sambil menadahkan kedua tangannya di depan Baekhyun.

Bukannya menyambut, Baekhyun justru menatap Chanyeol aneh.

Sampai kemudian Chanyeol berinisiatif lebih dulu, menyelipkan kedua tangannya di bawah ketiak Baekhyun, lalu mengangkat tubuh ringan Baekhyun. Memindahkannya ke buritan boatnya.

Raut wajah Baekhyun berubah seketika. Dia masih mematung ditempatnya dan Chanyeol melangkah melewatinya. Kenapa Chanyeol begitu baik padanya? Apakah ini bagian dari masa percobaan itu?

Dengan ramah, Chanyeol menyalami seorang laki-laki yang akan menahkodai mereka hingga ke tengah lautan.

"Bagaimana kabar anda Kim ahjussi?" tanya Chanyeol akrab.

"Seperti yang kau lihat, sehat tapi terasa semakin tua." Chanyeol tersenyum lebar mendengar kelekar pria paruhbaya itu. Pria ini salah satu dari sekian banyak kenalan Daddynya, yang dia kenal.

"Ah ya. Terima kasih sudah bersedia mengantar saya hari ini. Ah ya..." Chanyeol menoleh ke belakang, mencari Baekhyun.

"Baekhyunie! Yeogi palli!"

Baekhyun menoleh kaget, menatap Chanyeol yang tengah melambaikan tangan padanya,

Dan detik berikutnya, dia melangkah kaku mendekati calon suaminya itu.

"Ini Byun Baekhyun, ahjussi. Calon istri saya." Chanyeol melingkarkan lengannya ke pinggang ramping Baekhyun.

Membuat tubuh Baekhyun seperti tersengat listrik.

Gadis itu menatap Chanyeol yang tengah tersenyum pada pria paruhbaya di depannya.

"Senang bertemu anda Nona Byun." Ujar pria paruhbaya itu dengan senyum tipis menyenangkan

"Nde. Saya juga senang bertemu anda, Tuan... " Baekhyun menantap Chanyeol dengan maksud bertanya, siapa nama pria paruhbaya itu.

"Kim Young Min, nama saya Kim Young Min, tapi cukup panggil saya ahjussi, seperti Chanyeol memanggil saya."

"Nde ahjussi." Baekhyun tersenyum lebar.

"Mari!" pria itu mempersilahkan Baekhyun dan Chanyeol masuk ke dalam boat.

Baekhyun mengambil tempat duduk di bagian paling belakang, di susul Chanyeol menjajarinya.

Tak butuh waktu lama, boat itu mulai berjalan meninggalkan dermaga.

"Seharusnya kita mengajak Luhan dan Sehun, mereka pasti suka." Baekhyun tersenyum sambil memejamkan matanya, menikmati angin laut yang berhembus menimpa wajahnya.

Cantik!

Satu kata itulah yang terpikir oleh Chanyeol saat melihat Baekhyun seperti itu.

"Lain ka..." Baekhyun menghentikan ucapannya karena saat menolehkan kepalanya, Chanyeol sudah menyandarkan kepalanya di pundak Baekhyun. Dan saat ini posisi mereka begitu dekat.

"Pernahkah ada yang bilang kalau kamu cantik?"

"Ehm."

"Kamu can... "

Chanyeol menjauhkan dirinya dari Baekhyun.

Ponselnya bernyanyi riang meminta untuk segera diangkat. Dan dia semakin menjauhi Baekhyun saat id called menampilkan nama 'sweetheart 3'.

Chanyeol melangkah ke haluan boat, kemudian membuang nafasnya pelan dan menggeser ikon warna hijau di ponselnya ke kanan.

"Kau pulang ke Korea tanpa memberitahuku?"

Chanyeol mengerutkan keningnya, dari mana Seulgi tahu kalau dia sudah pulang ke Korea. Tak ada siapapun yang tahu kecuali Baekhyun yang semalam menjemputnya, Luhan dan Sehun yang pagi tadi berjumpa dengannya dan...Kai, itu pun kalau rekan seprofesinya itu peka.

"Aku baru sampai semalam. Masih sangat jetlag."

"Kau bersama dia?"

Chanyeol mengalihkan tatapannya pada Baekhyun yang masih duduk di tempatnya dan tampak menikmati hembusan angin laut.

Bagaimana Seulgi tahu kalau saat ini, dia sedang bersama Baekhyun?

Apakah Kai lagi yang mengatakannya?

"Eoh." Sahut singkat Chanyeol.

"Kapan kita bertemu?"

"Aku belum tahu, masih ada urusan yang harus aku selesaikan dengannya, Seulgi-ah."

"Mwo? Kau memanggilku apa? Seulgi-ah? Chagiya! Ini bukan seperti dirimu. Wae? Karena ada dia, kau seperti itu?"

Chanyeol mengusap kasar wajahnya. Kembali dia menoleh pada Baekhyun yang kebetulan saat ini juga tengah menatapnya.

Sekali lagi, dia ditampar kenyataan, bahwa sikapnya saat ini justru melukai wanita yang tengah duduk menantinya disana.

Baekhyun mungkin tak berucap apapun, bibirnya juga masih dapat menyunggingkan senyum, tapi tatapannya... matanya begitu jujur berkata bahwa dia, gadis itu terluka.

"Aku akan menemuimu setelah dari sini. Sudah dulu ya. Sampai nanti."

Chanyeol tak menunggu jawaban Seulgi, dia langsung memutus panggilannya dan mematikan ponselnya.

Kemudian kembali masuk ke dalam menghampiri Baekhyun.

"Seulgi?" tanya Baekhyun.

"Eoh."

"Kau tak mengatakan padanya kalau kau sudah kembali ke Seoul?"

Chanyeol menggeleng pelan.

"Wae?"

Chanyeol menatap Baekhyun tajam.

"Apa jawabanku sangat penting? Kau tak perlu menanyakan itu."

"Penting. Karena dari jawabanmu itu, aku bisa tahu kenapa kau bersikap begini aneh."

Chanyeol berdiri dari duduknya.

"Aneh? Menurutmu tindakan yang kulakukan ini aneh? Hah! Sebenarnya apa yang kau mau Byun Baekhyun? Bukankah ini yang kau harapkan? Aku yang datang padamu dan aku yang bisa membalas perasaanmu, apanya yang aneh!"

Baekhyun cukup dibuat terkejut dengan teriakan Chanyeol.

Apa salah pertanyaannya?

Dia sudah ingin menanyakan hal ini sejak tadi, hanya saja waktunya belum tepat. Dan karena kesempatan itu datang padanya saat ini, apa salah kalau dia bertanya?

Gadis itu berdiri dari duduknya.

"Kalau kau kesal pada orang lain, jangan lampiaskan itu padaku."

Baekhyun melangkah pergi meninggalkan Chanyeol. Dia memilih duduk di haluan boat yang dinaikinya dan kembali merasakan hembusan angin laut yang kencang menerpanya.

Sepeninggal Baekhyun, Chanyeol menendang kursi di hadapannya, cukup keras, hingga sang Nahkoda menoleh dan Baekhyun pun sempat memalingkan wajahnya.

Pria berambut ikal itu menjambak rambutnya dan mengusap kasar wajahnya.

Pikirannya sedang kalut saat ini.

Ok!

Di pulang ke Korea, memang tanpa memberitahu siapapun, kecuali yang sudah di sebutkan tadi. Tujuannya berbuat seperti itu, karena dia ingin menyelesaikan lebih dulu masalahnya dan Baekhyun.

Semalam hingga pagi tadi, semua masih berjalan sesuai dengan rencana. Baekhyun menerima usulnya, untuk memberinya kesempatan mencoba selama satu bulan ke depan.

Tapi Seulgi, gadis itu menghubunginya dan merusak kebahagiaannya hari ini.

Kebahagiaan?

Ingin menyangkal pun tak bisa, hatinya benar-benar jujur terhadap kehadiran Baekhyun. Kalau boleh jujur, dia bahagia. Dan perasaan ini, benar-benar baru dirasakannya saat ini.

Debaran hatinya riang menyenangkan, hingga untuk sesaat, dia lupa bahwa dia memiliki Seulgi yang adalah kekasihnya.

"Shit!" umpatnya kesal.

"Chanyeol-ah! Kita sudah di tengah laut, tidakkah lebih baik disini?"

Chanyeol menatap Kim Ahjussi, cukup lama sebelum dia tersadar akan sesuatu.

Tujuannya ke tempat ini.

"Nde ahjussi." Sahut Chanyeol sambil mengambil sebuah guci yang tadi di simpannya di tas ranselnya.

Dia kemudian membawa guci itu ke haluan boat, dekat dengan posisi Baekhyun duduk. Perlahan Chanyeol membuka tutup guci, lalu merogoh bagian dalam guci, menggenggamnya dan menaburkannya ke laut.

"Jaejoong imo! Apa kau senang bisa pulang kembali kesini? Semoga kau bahagia di tempatmu yang sekarang. Samchon, yang sangat suka ku panggil Prof itu, dia sangat mencintaimu. Kau tahu! Kau tak pernah tergantikan oleh siapapun di hatinya."

Baekhyun menatap Chanyeol dengan mengernyitkan dahinya, lalu dia menggeser tempat duduknya agar lebih dekat dengan Chanyeol.

"Jaejoong imo. Sahabat baiknya mommy?"

Chanyeol menatap Baekhyun dan mengangguk kecil.

"Boleh aku ikut menabur abunya?"

Chanyeol tak menjawab, hanya menyerahkan guci yang dibawanya pada Baekhyun.

Gadis mungil itu merogoh isi guci itu, lalu menggenggam dan menaburkannya ke lautan. Sedikit demi sedikit, perlahan Baekhyun memejamkan matanya dan berbisik lirih dalam hatinya.

"Mommy suka bercerita tentang imo. Bagaimana imo mencintai samchon tanpa meminta imbalan apapun. Imo! Kau melihatku dari sana, pria di sampingku ini, aku juga sangat mencintainya, sama halnya seperti kau mencintai Samchon. Bisakah aku minta tolong, katakan pada Tuhan, ijinkan aku memilikinya sekali saja, walau itu hanya sesaat."

Baekhyun membuka matanya perlahan dan setetes airmata lolos dari sudut matanya.

Baekhyun mengalihkan tatapannya pada Chanyeol yang tengah menatapnya, sejak beberapa saat yang lalu. Dia kemudian tersenyum kecil dan berujar lirih.

"Saat aku mendengar cerita tentang Jaejoong imo dan Yunho samchon pertama kali, aku sempat berpikir dan menyalahkan imo yang tak bisa bersikap tegas pada samchon. Yang tak bisa menuntut atau bahkan meninggalkan samchon begitu saja. Dan sekarang, saat aku mengalami sendiri hal itu, aku baru menyadari satu hal bahwa cinta tak akan mudah berhenti, secepat saat kita jatuh hati."

Kalau kalian pernah menatap lama dan begitu dalam di mata seseorang yang mencintai kalian, kalian mungkin akan tahu apa yang dirasakan Chanyeol saat ini.

Cinta yang begitu besar, terlukis jelas di mata Baekhyun untuknya. Cinta tulus, yang mungkin hanya gadis dihadapannya inilah yang mampu memberikannya.

"Cinta Jaejoong padaku, tanpa syarat apapun Chanyeol-ah. Dia tak menuntutku untuk memberikan cinta yang sama besar seperti yang dia berikan untukku. Dia hanya memintaku memberinya sedikit ruang dihatiku untuk di tinggalinya. Lalu sekarang? Haruskah aku menggantikan seseorang yang dengan tulus pernah dan akan selalu mencintaiku, dengan cinta lainnya?"

"Jangan pernah tinggalkan aku sendirian Baekhyunie, bawa aku pulang bila aku lupa, bahwa aku memiliki rumah yang nyaman untuk ku tinggali."

.

.

.

TBC

.

.

.

NOTE : TERIMAKASIH UNTUK PERHATIAN DAN CINTA KALIAN, SEMOGA CERITA INI BISA MENGHIBUR KALIAN SEMUA. AMBIL YANG BAIK SEBAGAI BAHAN PEMBELAJARAN, BUANG YANG JELEK, YANG TAK PANTAS DITIRU...

CINTA BUKAN HANYA TENTANG SEBUAH RASA, TAPI JUGA TENTANG PENGORBANAN.

.

.

.

^_^ Lord Joongie ^_^