Rina: Astaga… kenapa aku nulis ini lagi? Padahal seharus na aku sekarang belajar tes…

Rui: Ara~ author, kau nulis chapter ini dari kompi siapa?

Rina: Dari kompi orang…

Rin: Orang aneh

Len: Karena aku rada kasihan, aku bacain disclaimer na deh!

Rina: Kyaa, makasih Lenny-kyun~


Disclaimer: Author Rina ndak punya fic ini dia cuman punya cerita ma Rui dan Mel. Kalo ndak suka ndak usah baca dan jangan main api.


Rin: Eh, kenapa si Mel ada di tulisan lagi?

Len: Aku ndak suka diisengin ma si Mel!

Rina: Abis banyak yg suka ma si Mel, jadi aku jadi pingiiiin banget masukin dia lagi kemari…

Rui: Ara~ Mel-chan perlu diberitahu…

Rina: Oleh karena itu, para readers selamat membaca!


Len POV


"Kagamine-san sekarang giliran anda!" ucap salah seorang kru panggung yang memanggilku.

Aku hanya merapikan pakaianku sedikit dan segera menjawab, "Baik!" jawabku sambil menuju ke arah pinggir panggung, menunggu giliranku.

"NAH, SEKARANG KITA SAMBUT BINTANG TAMU SPESIAL KITA, LEN KAGAMINE!" ucap salah satu MC sebuah acara TV.

Itu merupakan tandaku, saat itu, aku mendengar suara dari manajerku yang berkata, "Lakukan sesuatu yang menarik," ucapnya.

Aku hanya mengangguk pada manjerku. Dia memiliki rambut berwarna merah seperti api, dan mata yang berwarna senada, dan untuk membuatku sebal, dia lebih tinggi 5 cm dariku, meski dia lebih muda 2 tahun dariku!

Saat aku memasuki panggung, semua penonton berteriak-teriak, aku sudah terbiasa dengan teriakan mereka. Lagipula, aku ini merupakan idola terkenal.

Eh? Kalian bertanya bagaimana aku menjadi begini, dan… apa yang terjadi dengan Rin bukan? Ceritanya dimulai saat manajerku melakukan sesuatu yang menakjubkan di sekolah saat kami masih SD.

-Flashback Start-

Seminggu sudah berlalu sejak Rin pergi ke luar negeri. Tapi, kami dikejutkan dengan masuknya seorang anak perempuan dengan tubuh dan otak diatas rata-rata anak seumurannya bersama dengan wali kelas 6. Dia bernama Akarui Kura, lebih akrab disapa dengan nama Rui.

Aku hanya melihat ke arahnya sebentar, sebelum memandang ke luar jendela kembali. Tapi, seingatku dia merupakan anak kelas 4, lalu kenapa dia bisa ada disini?

"Eh, sepertinya kalian sedikit kaget kenapa Akarui-san yang merupakan anak kelas 4 ada disini. Sebenarnya, dia melakukan lompat kelas beberapa saat yang lalu, dan baru sekarang memasuki kelas ini. Nah, Akarui-san, silahkan perkenalkan dirimu…" ucap wali kelasku.

Dia memilin-milin ujung roknya, saat wali kelas memanggilnya, lalu dia berkata, "Namaku Akarui Kura, silahkan panggil saya Rui!" kenalnya dengan menambahkan senyum di bagian akhir.

Semua anak laki-laki di kelas kami melotot melihatnya, kecuali aku, karena aku sudah punya Rin untuk aku perhatikan, Mikuo yang duduk di bangku di depanku berbisik, "Len, Rui ini lumayan cantik, ya…" bisik Mikuo.

Aku hanya menaikkan kedua bahuku, karena aku tidak terlalu berpikir bahwa Akarui-san itu menarik. Setelah itu, dia duduk di bangku yang ada disampingku, bangku yang biasanya diduduki oleh Rin.

"Selamat siang Kagamine Len-san, setelah sekolah berakhir ada yang ingin aku bicarakan, jangan khawatir aku tidak akan menyatakan perasaan seperti anak-anak lain," ucap Akarui-san melakukan perkenalannya.

Mikuo yang mencuri dengar hanya bisa menempelkan wajahnya kepada mejanya saat dia mendengar Akarui-san.

"Akarui…-san?" ucapku dengan nada tanya pada Akarui-san yang tertawa kecil dan segera memperhatikan papan tulis.

Setelah pelajaran berakhir, Akarui-san segera dikelilingi para murid laki-laki di kelasku. Mereka menanyai macam-macam kepadanya. Biasa, perhatian yang didapat pindahan…

Mikuo yang hanya memojokkan dirinya sepertinya patah hati. Tapi, aku bisa melihat bahwa terkadang, Akarui-san melihat ke arah Mikuo ditengah-tengah kerumunan anak-anak lain. Matanya terlihat sedikit khawatir dan ragu-ragu.

Aku juga kadang-kadang memperhatikannya, penasaran atas apa maksud perkataannya tadi. Tapi, dia hanya tersenyum simpul saat aku ketahuan memperhatikannya. Tapi, senyumnya itu sedikit menyeramkan.

Waktu sekolah berjalan dengan sangat lambat, hingga akhirnya, bel pulang berbunyi. Aku masih tinggal di kelas, saat anak-anak lain mulai keluar dari kelas hingga kelas benar-benar sepi.

Akarui-san kemudian tampak dari pintu kelas, sepertinya dia ingin memasuki kelas dan tidak menunggu di kelas, meski kelas kami sama, anak aneh…

Dia tertawa kecil dengan gaya yang mencurigakan, lalu dia berkata, "Terimakasih Len-san karena sudah menunggu," ucapnya.

Aku hanya mengangguk pelan. Lalu Akarui-san berkata lagi,"Len-san sedang mencari keberadaan Rin-san untuk mengatakan sesuatu bukan?" tanya Akarui-san.

Aku merasa sedikit tercengang, tapi aku ingat bahwa setiap anak yang menyatakan perasaan padaku, selalu menyinggung nama Rin pertama kali, tapi bukannya dia bilang bahwa dia tidak berniat melakukan hal yang biasa dilakukan murid perempuan itu bukan?

"Ahem, to the point ja, apa Len-san tertarik untuk jadi idola?" tanya Akarui-san dengan wajah yang digabung antara serius dengan tidak.

Aku memiringkan kepalaku karena aku tidak mengerti apa yang dia katakan, lalu Akarui-san melanjutkan, "Jika kau menjadi idola, ada kemungkinan bahwa kau bisa pergi ke luar negeri untuk mencari Rin-san. Dengan senang hati, orang tuaku akan membantumu," lanjut Akarui-san.

"Aka-…"

"RUI!" potong Akarui-san dengan cepat dan nada marah.

Aku hanya sweatdrop sebelum bertanya, "Eh, Aka- maksudku, Rui-san, apa maksudmu dan siapa kau?" tanyaku.

"Seperti yang kukatakan tadi, aku sudah mendengarmu bernyanyi sebelumnya, dan aku ingin kau menjadi seorang idola, dan jika kau menjadi seorang idola, makan kemungkinan untuk mencari Kagamine Rin-san akan bertambah, aku tahu kau mencarinya bukan? Yah, walaupun awalnya aku juga ingin mengajak Rin-san untuk menyanyi juga, tapi sayang sekali dia sudah pindah terlebih dahulu ke luar negeri…" jelas Rui-san sekali lagi.

"Lalu siapa kau?" tanyaku. Rui-san belum menjawab pertanyaanku yang itu sebelumnya, dan apa tadi dia berkata tentang Rin juga?.

Rui-san hanya tersenyum kecil sebelum berkata, "Nama asliku adalah Akane Rui, seorang pencari bakat profesional dari perusahaan rekaman D.S. Music, yang mengorbitkan bintang-bintang terkenal. Orang tuaku adalah pemilik dari studio itu," jawab Rui-san.

Aku hanya terbelalak sebentar. Aku sudah dengar tentang D.S. Music, perusahaan itu mencetak penyanyi yang sangat hebat, hampir semua penyanyi yang menduduki tangga lagu teratas adalah penyanyi dari perusahaan itu. Meski sedikit, aku merasa bahwa aku bisa dan ingin menerima penawarannya itu.

"Jika kau berkata iya, ini kartu namaku, dan pergilah ke alamat yang ada disana pada hari sabtu. Orang tuaku akan segera melihatmu, dan jika mereka berkata oke, maka bersiap-siaplah untuk jadi sibuk," ucap Rui-san yang memberikan sebuah kartu nama dengan tulisan yang rapi, dan menunjuk sebuah bagian dari kartu itu, dan kemudian meninggalkanku.

Aku menerima kartu itu, dan melihat kembali Rui-san yang sudah menghilang. Aku kemudian mendatangi gedung itu pada hari Sabtu, dan orang tua Rui-san langsung berkata "Oke", lalu aku memulai debut menyanyiku dibantu oleh Rui yang menjadi manajerku.

-Flashback End-

"Ah, Len-san, kudengar kau akan merilis sebuah single terbaru, ya?" tanya MC yang menanyaiku saat aku selesai menyapa para penggemarku di-seantero Jepang.

"Itu benar, mereka bilang, single itu akan dirilis beberapa minggu lagi, meski aku sudah menyelesaikan rekamannya beberapa hari yang lalu," jawabku berusaha seramah mungkin.

"Kalau begitu, kenapa kita tidak mendengarkan single terbaru itu dari Len-san sendiri?" saran MC. Aku hanya melihat sekilas ke arah Rui, dan dia mengatakan iya. Lalu aku hanya mengangguk, dan segera berkata.

"Yah, meski ini masih sedikit terlalu cepat, aku akan menyanyikan single terbaruku yang berjudul 'Falling Falling Snow'. Jangan lupa beli saat sudah dirilis ya!" ucapku.

Segera terdengar teriakan dari para penggemarku. Tak terasa waktu sudah berlalu 5 tahun sejak aku memulai debutku saat SMP. Awalnya aku merasa sedikit terpaksa, tapi sekarang aku sudah menikmatinya dan berpikir untuk tidak mundur, meski sudah menemukan Rin.

-Song Skip- (males nih…)

Kini aku, Rui, dan Mel-san, sedang berada didalam sebuah mobil berwarna hitam. Kami baru saja menyelesaikan pekerjaan terakhir kami.

Mel-san itu… seorang hairstylist yang merupakan kakak dari Rui! Umurnya baru 18 tahun, dan dia sudah menamatkan jenjang kuliah, dan menjadi seorang hairstylist yang disegani hingga ke Prancis! Aku harus sedikit bersyukur bahwa Mel-san tetap tinggal di Jepang. Nama lengkap Mel-san yang asli adalah Merlinne Adilisia Lamferd Elfinia Slynx, namun karena dia menetap di Jepang, namanya menjadi Akane Mel.

"Len-kun, kerja bagus juga hari ini!" ucap Rui yang tiba-tiba langsung memelukku. Spontan aku segera menghalaunya. Rui memang agak suka memeluk seseorang tiba-tiba, mungkin karena itulah, orang yang disukai Rui jadi merasa agak bimbang ya…

Mel-san hanya melihat kebelakang melalui kaca, sebelum memfokuskan pandangannya ke arah jalan, dan langsung menancap gas dengan sangat kuat. Menyebabkan Rui yang memelukku terjatuh, dan melepaskanku.

"Mel-neechan kejam!" protes Rui dengan sedikit tangisan buaya.

Mel-san hanya diam membisu, sebelum mulai menyetir lagi dengan kecepatan yang biasa. Aku lupa untuk bilang, bahwa suara Mel-san sekarang sedang terkunci, dan dia tidak bisa berbicara, alias bisu. Tapi, bisu Mel-san tidak permanen, karena itu hanya dikarenakan faktor psikologis saja.

Setelah beberapa lama, kami akhirnya sampai di kediaman Akane, yang mirip rumah biasa, yang juga berseberangan dengan apartemenku, yang terletak tepat di depan rumah mereka. Sebagai manajerku, Rui yang lebih muda dariku 2 tahun, memasuki sekolah yang sama denganku, dan hebatnya sekelas denganku.

"Selamat malam Len-kun!" teriak Rui sambil melambaikan tangannya kuat-kuat. Mel-san hanya melambaikan tangannya dengan sedikit lebih rendah, dan dengan wajah yang sedikit emo.

Saat itu, aku jadi ingat, "Ah, Mel-san kau lupa untuk…" belum selesai aku berbicara, Mel-san melemparkan sebuah botol kaleng, dan berjalan ke dalam rumahnya.

"Mel-neechan bilang, 'Lakukan sendiri, kau tahu caranya bukan? Kalau lupa, kau hanya perlu menyemprotkan cat rambut itu ke rambutmu dan jangan sampai kena air,' begitu katanya," ucap Rui yang sepertinya paham betul dengan perkataan Mel-san.

Aku hanya diam, sebelum berkata, "Terimakasih Mel-san!" teriakku.

Aku bisa melihat Mel-san yang mengangguk. Dia lalu menarik Rui untuk segera memasuki rumah. Dan aku hanya menaiki apartemenku, dan membuka pintu dari apartemen, yang bertuliskan "Kagene Rei" itu.

Aku menggunakan nama samaran, dan penampilan samaran sebagai 'Kagene Rei' karena Rui menyuruhku seperti itu, meski di ijasah namaku masih Kagamine Len, keluarga Rui menyumpal orang-orang sekolah dengan uang yang cukup banyak, dan mereka hanya menurut, jangan pernah main-main dengan keluarga Akane. Rui sendiri mengenakan nama samarannya, Akarui Kura, di sekolah, dia juga mengubah penampilannya sedikit, dengan mengikat rambutnya ke atas, dan mengenakan kacamata yang terkesan modern.

Aku sendiri tetap seperti biasa, kecuali rambutku yang kucat hitam dengan pewarna rambut temporer, dan mengenakan contact lens berwarna kuning. Satu-satunya orang yang mengetahui kehidupan gandaku sebagai Rei dan Len hanyalah Mikuo. Omong-omong, saudaranya, Miku, juga terjun ke dunia hiburan dibawah perusahaan yang sama denganku, bersama dengan seorang gadis lain bernama Gumi, dan membentuk duo "Greens".

Aku membuka pintu apartemenku dan segera masuk, takut kalau ada yang melihatku disini. Setelah sampai di dalam, aku segera memasuki kamar mandi, mengecat rambutku, dan memakai contact lens, dan dengan sekejap aku berubah menjadi Kagene Rei.

Aku melihat ke arah meja tamuku, dan mengambil sebuah foto lama, yang terdiri atas dua orang anak-anak dengan rambut blond dan terlihat serupa. Tangan mereka bergandengan dengan sangat erat ditengah-tengah padang bunga matahari.

"Rin…" gumamku pelan. Aku jadi mengingat hari dimana kami mengambil foto itu.

-Flashback Start-

"Len! Len! Len! Ayo cepat kemari!" teriak Rin yang memakai rok terusan berwarna putih tanpa lengan dan diganti dengan pita. Dia memakai sebuah topi jerami yang memiliki pita besar berwarna putih.

"Iya, iya, tunggu aku Rin!" jawabku. Aku berlari mengejar Rin dan menangkap tangannya. Lalu Rin mengeluarkan sesuatu dari kantongnya. Sebuah kamera digital yang dia simpan sejak tadi.

"Rin, darimana kau mendapatkan benda itu?" tanyaku.

Rin hanya tertawa kecil sebelum menaikkan tangan kami yang sudah terikat dengan kuat. Lalu ia berkata, "Ayo kita ambil beberapa foto!" ucap Rin dengan puppy eyes.

Aku hanya tersenyum dan akhirnya luluh oleh puppy eyes yang diberikan Rin, lalu aku segera memeluk pundak Rin dan menampilkan tangan kami yang berkaitan, sebelum Rin yang tersenyum menaikkan kamera yang dia bawa dan mengambil beberapa foto.

Lalu Rin, segera memelukku sambil berteriak-teriak dengan senang. Wajahku sedikit memerah, dan saat Rin mengetahui bahwa tangannya berada di leherku, wajahnya juga memerah. Dia terlihat sangat cantik dan imut saat itu.

Dengan reflek aku mendekatkan wajahku ke wajah Rin, dan Rin yang sepertinya sedikit kaget, hanya menutup matanya perlahan, membiarkanku melakukan apa yang akan kulakukan. Aku kemudian menutup mataku pula, sebelum melekatkan bibirku dengan bibir Rin. Mengambil ciuman pertama dari Rin.

-Flashback End-

Aku menutup mataku sejenak, dan kemudian mulai menghela nafas panjang, sebelum berpikir, 'Dimana kau sekarang Rin? Apa kau sehat-sehat saja?' pikirku.

Aku meletakkan foto itu kembali pada tempatnya, dan segera memasuki kamarku. Dan merebahkan diri di tempat tidurku yang berukuran king size, dan sangat empuk. Aku tinggal sendirian di apartemenku, orang tuaku tinggal di tempat yang terpisah, karena itu bisa berbahaya akan keamanan identitasku.

"Aku ingin bertemu denganmu Rin…" gumamku. Tak lama kemudian, aku pun terlelap dalam alam mimpi.


Rina: Hore, chapter 2 selesai! Maaf baru bisa update yg ini doang...

Rin: Kenapa author?

Len: Iya, kenapa author?

Rina: Ini aku nulis cerita plus submit, modal minjem laptop orang... =="

Rui: Ara~ Tentu itu karena author sedang ada di asrama bukan?

Rina: Iya, jadi mohon maaf kalau aku baru bisa submit satu chapter... dan menyampingkan 2 cerita lainnya. Jadi...

Rin+Len: PARA READERS CEPAT REVIEW YANG BANYAK!