"Apa kau mengenal dongsaengku?" Ulang Leeteuk saat Hankyung nampak melamun sambil menatap lekat Kyuhyun yang masih memejamkan matanya, "Chogiyo, nugu…seyo? Apa anda mengenal Kyuhyun?" Tanya Leeteuk untuk ketiga kalinya.
Hankyung termenung, kenapa ia tidak mau melepaskan pandangannya dari anak ini? Dia siapa? Kenapa perasaannya mendadak menjadi tidak karuan? Sudah dua kali ia merasakan hal ini saat berada dekat dengannya. Apakah, dia adalah Kyuhyun nya? Tapi, bukankah tadi namanya adalah Park Kyuhyun. Hankyung semakin larut dalam lamunannya tanpa mengetahui jika Kyuhyun perlahan tersadar dan membuka matanya.
"T, Teuki, h, hyung…" Lirih Kyuhyun, menyadarkan Leeteuk yang sedari tadi hanya memperhatikan Hankyung.
"Kyuhyunie, gwaenchana? Kau sudah sadar, Ini, minumlah obatmu, kenapa kau bisa sampai pingsan dongsaeng –ah, pelan - pelan" Leeteuk membantu Kyuhyun agar bersandar di tubuhnya dan meminumkan obat yang ia bawa tadi dengan hati – hati.
Kyuhyun kembali memejamkan matanya, berusaha mengatur nafasnya yang masih terputus – putus sementara Leeteuk menyeka keringat yang membasahi kening sang adik dengan penuh kasih sayang. Hankyung memandang itu semua dalam diam. Terbayang olehnya jika ia bisa melakukan hal seperti itu bersama sang adik. Matanya perlahan memanas ketika rasa rindu itu kembali muncul di fikirannya.
Seandainya. Ya, seandainya saja adiknya tidak hilang, seandainya ia lebih keras kepala dan memilih tinggal di dalam ruangan itu, menemani adiknya yang baru lahir, maka, ia pasti sudah mencetak kenangan yang sangat banyak bersamanya. Tapi, semua hanyalah mimpi baginya. Setiap kali ia melihat sepasang saudara yang begitu akrab, saat itu pula hatinya langsung hancur, rasa iri dan cemburu sudah begitu besar bersarang di hatinya hingga ia tidak tahu lagi harus bersikap seperti apa menyaksikan itu semua.
"W, waeyo?" Hankyung tersentak kala genggaman yang terasa dingin mengenai jari telunjuknya, dengan matanya yang mulai berkabut Hankyung menoleh, ia mampu melihat wajah pucat Kyuhyun yang memandangnya.
Jantung Hankyung berdetak begitu cepat, ia melihat ke bawah, ke arah jarinya yang digenggam oleh Kyuhyun. Kenangan Hankyung saat pertama kali sang adik memegangnya kembali terputar di otaknya. Genggaman yang lemah, entah mengapa Hankyung lagi – lagi merasakan hal yang sama seperti saat itu. Meski kali ini jari – jari itu terasa dingin.
"Kyuhyunie!" Teriak Leeteuk saat erangan Kyuhyun terdengar, ia kembali merasakan sakit di dadanya, keringatnya bahkan mengucur sangat deras, "Kyuhyunie gwaenchana?! Apa dadamu sakit lagi? Apa obatnya tidak bekerja? Lebih baik kita ke rumah sakit saja ne" Leeteuk yang panik sudah akan menggendong Kyuhyun saat namja manis itu tanpa sadar menggenggam jari Hankyung lebih erat dan memandangnya penuh permohonan sambil menggeleng pelan di sela – sela rasa sakitnya. Mengirimkan arti jika ia tidak mau pergi ke rumah sakit. Ia benci tempat terkutuk itu.
Hankyung yang masih dalam masa transnya sedikit terkejut kala sebuah kata meluncur dari bibir Kyuhyun, seolah memanggilnya, "Hyung…"
"Tunggu sebentar" Hankyung reflek menahan Leeteuk yang sudah akan berdiri sambil menggendong Kyuhyun, membuat kening namja itu nampak mengerut. Hankyung sudah akan berbicara, namun ia tidak tahu harus berkata apa, ia masih terlalu terkejut dengan ucapan lirih Kyuhyun padanya tadi.
"Mwoya?! Kau ini kenapa sebenarnya?!" Teriak Leeteuk melupakan sopan santunnya, ia benar – benar sangat takut melihat kondisi Kyuhyun, tetapi namja di depannya ini justru menghalangi jalannya, "Dia harus segera dibawa ke rumah sakit, menyingkir dari sana!" Teriak Leeteuk semakin keras, wajahnya nampak begitu merah dan airmatanya langsung mengalir begitu saja saat melihat bagaimana kondisi Kyuhyun saat ini.
Kyuhyun nampak sangat kepayahan dalam mengambil nafas, wajahnya semakin pucat namun Hankyung bisa merasakan genggaman Kyuhyun pada tangannya semakin kuat, seolah – olah anak itu berusaha keras memberikan tenaganya yang tersisa untuk memegangnya. Kyuhyun memandangnya dengan mata setengah terpejam yang menyiratkan permohonan. Hankyung nampak begitu bingung. Sejujurnya ia pun takut, takut sekali, sama seperti ketakutan yang Leeteuk rasakan, ia tidak mengerti kenapa Kyuhyun begitu keras kepala dan tidak ingin pergi ke rumah sakit saat ini.
"Eomma… nanti, jika adikku sakit apa yang harus aku lakukan?" Hankyung kecil duduk di sisi sang Ibu sambil membelai perutnya yang sudah membesar.
Nyonya Cho tersenyum lembut dan mengelus rambut putra sulungnya, "Sama seperti yang biasa eomma lakukan padamu jika kau sakit, sayang"
"Jinjayo? Apa tidak apa eomma? Bukankah orang sakit itu harus dibawa ke rumah sakit?" Tanya Hankyung polos.
Nyonya Cho kembali tersenyum lembut, "Tentu saja, tapi, sebelum membawanya ke sana, berikan dia ketenangan dan kekuatan dulu, buktikan padanya jika saat sakit ia tidak sendirian, ada kau, hyungnya yang di sisinya"
Hankyung mendadak teringat perbincangannya pada sang eomma dulu.
Kemudian, tanpa berfikir panjang dan tanpa melepaskan genggaman Kyuhyun pada jarinya Hankyung perlahan mendekati Kyuhyun, memberinya pelukan yang sangat lembut, mendekapnya dengan penuh kasih sayang, memberikannya rasa aman dan nyaman, mengatakan bahwa ia tidak sendirian. Hankyung menepuk dengan sangat hati – hati punggung Kyuhyun, tidak ingin menambah rasa sakitnya.
Kyuhyun yang mendapat pelukan secara tiba – tiba mendadak terdiam. Ia merasakan tubuhnya menegang. Pelukan ini, ia seperti tidak asing dengan rasa pelukan ini. Rasa nyaman yang berbeda saat bersama dengan keluarga Park yang telah hidup bersamanya, seperti rasa yang muncul setelah hilang sekian lama dari dirinya.
"Gwaenchana, Jangan takut, hyung ada di sini…" Hankyung berbisik lirih di telinga Kyuhyun, "Hyung, tidak ingin melihatmu kesakitan, karena itu, kita ke rumah sakit ne… Kyuhyunie…" Lanjutnya dengan suara bergetar, "Jangan takut…" Namja itu kini beralih membelai lembut pundak Kyuhyun yang nampak gemetaran.
Tanpa sadar, air mata Hankyung mentes, inikah rasanya ketika kau menenangkan adikmu yang ketakutan? Inikah rasanya ketika kau menyebut namanya agar ia tahu jika hyungnya ada di sisinya? Kyuhyun. Nama itu, kenapa saat menyebutkan nama itu ia benar – benar merasa jika anak yang sekarang ini ada dalam pelukannya adalah adiknya sendiri?
Tanpa siapapun sadari yang meneteskan air mata saat ini bukan hanya Hankyung saja, air mata Kyuhyun pun menetes dari mata sebelah kanannya, jatuh membasahi jalanan aspal yang berada di bawahnya. Bibirnya bergetar saat ia merasakan genggaman yang mulai ia rasakan di tangannya, jari – jarinya yang tadi memegang namja yang tengah memeluknya kini beralih di genggam oleh namja itu. Hangat, rasanya sangat hangat, sangat kontras dengan dinginnya jari – jarinya.
Kyuhyun mengangguk pelan, mengiyakan perkataan Hankyung yang memintanya pergi ke rumah sakit, padahal, tadi saat Leeteuk memaksanya, namja itu menolaknya sekuat tenaga, tapi, hanya dengan satu kalimat dari Hankyung, entah mengapa ia langsung mengiyakannya, ia mempercayai ucapan namja yang tak dikenalnya itu.
"Ne… Hyung.." Bisik Kyuhyun lirih.
"Anak pintar" Gumam Hankyung, masih mampu di dengar Kyuhyun.
Bibir Kyuhyun sekilas menyunggingkan senyuman kala Hankyung memujinya, ia bahkan merasa sesuatu yang sejak tadi menghujam jantungnya sedikit demi sedikit mulai berkurang. Meski begitu, Kyuhyun akhirnya kembali memejamkan matanya saat ia merasa tubuhnya terasa begitu lelah setelah berjuang menahan rasa sakitnya sedari tadi.
Leeteuk bukannya tidak melihat kejadian di hadapannya. Ia juga tidak tuli dengan tidak mendengar semua kalimat yang keluar dari bibir keduanya. Namja itu merasakan hatinya seperti dihantam sebuah benda yang tak terlihat. Sejak Kyuhyun diketahui menderita penyakit ini, tidak pernah sekalipun ia bisa membawa adiknya itu ke rumah sakit. Dengan cara apapun, baik itu dengan cara lembut, ancaman hingga teriakan. Ayah mereka lah yang selalu bisa membujuknya. Tapi, mengapa dengan namja asing yang ada di depannya ini Kyuhyun langsung mengatakan iya? Padahal tadi ia sudah akan membawa sang adik pergi, namun Kyuhyun tetap dengan keras kepalanya menolak pergi ke rumah sakit.
"Kau, sebenarnya siapa?" Tanya Leeteuk dengan nada yang terdengar sinis di telinga Hankyung.
.
.
Hankyung membolak – balik dokumen yang berserakan di atas mejanya. Namja itu terlihat tidak berkosentrasi sama sekali sejak ia tiba di kantor.
"Hyung…"
Satu suara panggilan dari Kyuhyun padanya tadi membuat fokusnya berantakan. Ia bahkan tidak memperhatikan presentasi saat rapat. Fikirannya hanya tertuju pada seseorang bernama Park Kyuhyun.
Hankyung menyandarkan tubuhnya di kursi, matanya menerawang memandang deretan gedung – gedung yang terlihat dari jendela kantornya. Namja itu menggerak – gerakkan jari – jarinya dengan perlahan, coba merasakan kembali sentuhan yang tadi ia terima.
"Sama… " Ingatan Hankyung ia paksa untuk memutar kejadian dua puluh enam tahun lalu, saat ia masih sangat kecil kala itu, Hankyung memandang jari – jarinya dengan lekat, penuh dengan kerinduan, "Genggaman nya terasa sama dengan waktu itu…" Gumam Hankyung pelan.
Sementara itu, di waktu yang sama namun tempat yang berbeda, Kyuhyun pun hanya diam membisu sejak ia membuka matanya hingga saat ini. Leeteuk bahkan tidak tahu apa yang terjadi pada adiknya. Biasanya Kyuhyun akan merengek dengan berbagai macam cara agar segera keluar dari rumah sakit. Tapi kali ini berbeda. Kyuhyun hanya diam diam dan diam. Matanya terus saja memandang telapak tangannya yang terbebas dari selang infuse.
"Kyuhyunie… Apa masih terasa sakit dongsaeng?" Tanya Leeteuk penuh perhatian, ia bahkan membelai dengan sayang rambut Kyuhyun agar adiknya itu memberi respon, tapi Kyuhyun tetap diam dan terus saja memandang tangan nya.
Leeteuk menghela nafasnya, tidak tahu lagi bagaimana menghadapi Kyuhyun yang diam seperti ini. Lebih baik anak itu berteriak atau merengek daripada tidak mengucapkan sepatah katapun.
Kyuhyun sendiri masih larut dalam lamunannya, tetap setia memandang jari – jarinya yang tidak lagi sedingin tadi.
'Apa ini hanya perasaanku saja ya? Kenapa aku seperti tidak asing dengan rasa ini?' Batin Kyuhyun dalam hatinya.
Ingatannya mengalir saat Hankyung memberinya sebuah pelukan dan bisikan lembut.
'Suara itu… suaranya tidak asing… Tapi dimana aku pernah mendengarnya…'
'Apa aku mengenal namja itu? apa kami pernah bertemu sebelum ini? Kenapa aku langsung menuruti kata – katanya begitu saja?'
Tidak ada satupun yang mengetahui, jika dua saudara yang masih terpisah ini masing – masing saling memikirkan satu sama lain, keduanya masih larut dalam lamunan sendiri – sendiri. Mencari jawaban yang mungkin akan sulit mereka temukan.
"Haruskah aku memastikan jika dia adalah adikku?" Hankyung bertanya entah kepada siapa, sedangkan Kyuhyun dalam hatinya penuh dengan pertanyaan, apa siapa dan dimana? Pertanyaan yang terus berputar dan berputar.
"Apakah aku harus menemuinya lagi sehingga semua pertanyaan ku terjawab?"
Dan tak ada satupun juga yang menyadari jika dalam benak Hankyung dan Kyuhyun tercetus satu fikiran tersebut. bertemu kembali untuk memastikan kebenarannya.
Tentu, takdir pun sepertinya mulai bergerak menuju jalan yang seharusnya. Jalan yang memberikan jawaban akan semua kerja keras seorang Cho Hankyung yang telah berjuang selama lebih dari dua puluh tahun, tak pernah kenal lelah mencari adik yang sangat ia sayangi. Serta jalan yang akan memberikan jawaban kepada seorang Park Kyuhyun yang selalu dihantui oleh mimpi – mimpi dan suara yang tak dikenal setiap kali ia memejamkan matanya.
Entah jalan itu nantinya akan berbatu, berkerikil tajam ataukah jalan lurus, keduanya pun tidak tahu, mereka hanya berusaha menapakinya saja, membiarkan kemana takdir membimbing dan membawa mereka setelah ini.
.
Family, A Hope From Green Roses
Story By : Kiyubby
Cast :
Cho Kyuhyun
Tan Hankyung
Park Jungsoo / Leeteuk
Kim Jongwoon / Yesung
.
Disclaimer : I have nothing except the plot
Cerita ini murni Brothership
.
Happy Reading
Chapter 2
.
Tuan Cho sedang berjalan menyusuri restoran sebuah hotel ketika langkahnya terhenti saat mendengar seseorang nampak berbincang di ponselnya dan menyebut – nyebut namanya. Tuan Cho kemudian bersembunyi di balik sebuah pilar, coba menguping.
"Aku baik – baik saja yeobo, lagipula, untuk kasus yang dulu kita lakukan sudah tidak mungkin bisa diproses lagi bukan? Sudah dua puluh enam tahun lalu kejadian itu, tenang saja, aku yakin Presdir Cho pun tidak akan tahu jika saat itu kita tidak membunuh bayinya"
Deg. Tuan Cho langsung melebarkan matanya saat ia tak sengaja mendengar kalimat yang keluar dari bibir namja tersebut. Ia coba melihat wajah orang yang sedang berbicara di ponsel itu.
"Tenang saja yeobo, aku masih punya hati untuk tidak membiarkan anak tak berdosa itu meninggal tanpa mengenal dunia, kau dengar sendiri bukan apa yang dikatakan Nyonya Cho saat itu, dia ingin anaknya hidup"
Tuan Cho mengepalkan seluruh jari – jarinya dengan erat, ia benar – benar murka dan ingin sekali mendatangi namja yang masih belum menyadari kehadirannya tersebut dan menghajarnya. Tapi ia tidak suka melakukan keributan di depan umum. Pria lebih dari lima puluh tahun itu lalu mengeluarkan ponselnya dan memotret wajah namja yang kini ia sadari adalah Dokter Kim, Dokter yang dulu ia perintahkan untuk membunuh bayi yang dilahirkan oleh istrinya.
"Dasar baj*ngan, ternyata selama ini aku sudah ditipu mentah – mentah huh, kau berani sekali membiarkan anak itu hidup padahal aku sudah menyuruh mu membunuhnya, lihat apa yang bisa kulakukan untukmu setelah ini karena telah berani melawan perintahku" Tuan Cho mengirimkan sebuah pesan kepada salah satu orang kepercayaannya beserta foto Dokter Kim atau Yesung.
'Urus dia segera dan bawa ke hadapan ku malam ini juga. Aku tunggu di kantor'
Setelah memastikan pesannya diterima, Tuan Cho memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku dan merapikan jasnya yang sedikit kusut. Ia berjalan dengan sengaja melewati Yesung yang masih juga belum menyadari kehadirannya. Tuan Cho menatap nyalang Dokter tersebut dan berjalan begitu saja sambil tersenyum licik.
"Akan ada balasan bagi pengkhianat, Dokter Kim" Bisik Tuan Cho setelah melewati Yesung.
.
.
Jarum jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam ketika akhirnya Hankyung menyelesaikan pekerjaannya yang sempat ia lalaikan sejak pagi hanya karena fikirannya yang terus saja terfokus kepada seorang namja yang bernama Park Kyuhyun. Hankyung meregangkan tubuhnya yang terasa lelah, pandangannya teralih pada foto keluarga yang ada di atas mejanya. Fotonya bersama Ibu dan ayahnya. Hankyung meraih foto tersebut dan mengeluarkan fotonya dengan sang adik, mensejajarkan keduanya, "Aku saat itu tidak tahu kenapa abeoji begitu membenci mu karena lahir ke dunia, tapi kini aku mengerti, kenapa saat itu eomma bersikeras melahirkanmu dan lebih memilih mengorbankan nyawanya" Hankyung meletakkan foto keluarganya kembali ke meja, "Itu karena eomma ingin mempertemukan kita berdua. Karena hyung begitu menantikan mu saat itu, karena hyung sangat bahagia saat tahu akan menjadi seorang kakak tanpa perduli apa harus dihadapi eomma nantinya" Hankyung mengelus foto adiknya, "Seharusnya, yang abeoji benci bukanlah kau dongsaeng, tapi hyung, karena hyung lah yang bersikeras meminta eomma untuk tetap menghadirkanmu ke dunia" Suara Hankyung bergetar, ia mengingat kenangan masa kecilnya saat mengetahui jika Ibunya diketahui hamil, "Hyung lah yang telah membunuh eomma kita sebenarnya" Air mata Hankyung mulai menggenang. Setelah beranjak dewasa, Hankyung mulai menyadari semuanya, kenyataan jika sebenarnya ialah penyebab semua masalah yang terjadi di keluarganya.
Hankyung saat itu tidak tahu apa resiko yang harus di tanggung eommanya ketika ia tetap mempertahankan janinya. Ia hanya anak berusia empat tahun, tidak mengerti apapun selain sesuatu yang membahagiakan. Ia terlalu egois, keras kepala.
Menyesal? Ya Hankyung memang menyesal, ia pernah menyalahkan adiknya, ia sempat membencinya karena kelahirannya membuat ia tidak memiliki ibu, ia pernah berhenti mencari keberadaan adiknya, tapi semua berubah seiring berjalannya waktu, seiring fikirannya semakin dewasa dan seiring dengan sadarnya ia apa yang sudah ia perbuat di masa lalu, semua kebencian itu berubah, menjadi kasih sayang dan penyesalan. Hankyung setiap hari hidup dalam ketakutan dan rasa bersalah. Ia memaksa ibunya mengandung dan melahirkan adiknya, tapi ia juga yang menghilangkan adiknya.
Suara ketukan di pintu menyadarkan Hankyung, ia langsung menghapus airmatanya dan bersikap seolah tidak terjadi apapun.
"Hyung, kau masih di sini?" Eunhyuk, sekretaris pribadi Hankyung bertanya heran ketika mendapati bos sekaligus sahabatnya masih berada di ruangannya. Biasanya Hankyung paling malam berada di kantor sampai jam Sembilan saja.
"Ne, ada banyak hal yang harus aku selesaikan tadi" Jawab Hankyung pelan.
Eunhyuk memandang lekat namja di hadapannya itu, bukan satu dua hari ia mengenal Hankyung, tapi sejak mereka masih duduk di sekolah dasar, Eunhyuk tahu jika terjadi sesuatu pada Hankyung, "Apa kau memikirkan adik mu lagi?" Tanyanya dan tanpa sungkan duduk di kursi yang ada di depan bosnya itu. Hankyung hanya tersenyum tipis.
"Eunhyuk –ah, apa menurutmu aku bisa menemukannya? Kau tahu kan, berapa jumlah warga Korea Selatan, bagaimana bisa aku menemukannya diantara mereka semua, aku tidak tahu seperti apa dia sekarang, seperti apa wajahnya, siapa namanya, bagaimana dia hidup, dimana dia tinggal, aku… serasa ingin menyerah saja Eunhyuk –ah" Bisik Hankyung, ia memandang lekat foto satu – satunya dengan sang adik. Eunhyuk memandang Hankyung dengan sedih, ia merasa kasihan dengan namja itu, kenapa tidak ada satupun jejak atau petunjuk yang mereka terima, "Apakah ini balasannya? Apakah ini balasan dari Tuhan akan kebodohan ku dulu? Balasan karena berani meminta Ibu ku hamil padahal dokter sudah melarangnya dengan keras" Suara Hankyung terdengar bergetar.
Eunhyuk menggeleng, "Kenapa kau selalu saja berkata seperti itu hyung, ini bukan salahmu, tanpa kau minta pun, Nyonya Cho pasti akan tetap mempertahankan bayinya, mana ada Ibu yang tega menggugurkan anak yang ada di dalam rahimnya sendiri? jebal, jangan salahkan dirimu lagi seperti ini"
"Lalu aku harus bagaimana Hyuk? Apa aku harus bertanya kepada setiap warga Korea mengatakan apakah kau pernah melihat bayi ini?" Tanya Hankyung.
Eunhyuk berdiri dan memegang bahu sahabatnya itu, "Bersabarlah, aku yakin Tuhan pasti akan menjawab semua kerja keras kita selama ini, kau pasti akan bertemu dengan adikmu, aku percaya itu, tidak ada saudara yang tidak saling mengenal di dunia ini, percayalah padaku"
Hankyung menghela nafasnya, sejujurnya hari ini ia merasa sangat lelah, namja itu akhirnya hanya mengangguk kecil.
"Lebih baik sekarang kau pulang, istirahatlah, jika kau memang ditakdirkan untuk menjadi hyung nya, takdir yang akan membawamu kepadanya hyung"
Hankyung tersenyum kecil, "Gomawo Eunhyuk –ah, kalau bukan karena kau, aku pasti sudah menyerah sejak dulu"
"Tentu saja, kalau bukan aku siapa lagi yang mau membantumu huh? Tapi kau malah tidak memberikan imbalan apapun padaku" Goda Eunhyuk yang disambut dengan jitakan dari Hankyung.
"Aish kau ini, sudahlah, ayo kita pulang, sudah cukup larut" Hankyung mengambil jas dan tasnya lalu merangkul Eunhyuk, berjalan menuju lift.
Saat keduanya berada di dalam benda yang akan membawa mereka ke lantai dasar, fikiran Hankyung kembali melayang pada kejadian tadi pagi, kejadian yang masih belum ia ceritakan kepada Eunhyuk. Namja itu tidak tahu kenapa sampai sekarang ia masih merasa resah dan tidak tenang. Ia masih memikirkan bagaimana keadaan namja yang bernama Kyuhyun itu. Apakah dia baik – baik saja? Apa dia sudah sadar? Apa dia harus menginap di rumah sakit? Apa dia kesakitan? Hankyung ingin melihat keadaannya, tapi ia tidak tahu ke rumah sakit mana namja itu dibawa.
Suara denting lift terdengar, menyadarkan Hankyung dari lamunannya jika kini mereka telah tiba di lantai satu. Hankyung kemudian melangkahkan kakinya keluar dari dalam benda berbentuk kotak tersebut. Ia masih berbincang – bincang kecil dengan Eunhyuk.
Dari arah berlawanan, seorang namja tampak berjalan dengan kepala tertunduk, di samping nya seorang pria dengan setelan jas resmi terlihat mengawalnya.
Kedunya berjalan begitu saja, fokus dengan kegiatan mereka masing – masing, tanpa memandang ke arah lain sedikitpun. Jarak keduanya semakin dekat dan dekat, kemudian, perlahan mereka berjalan bersisian, saling melewati, begitu saja, tanpa perduli siapa orang yang tengah berpapasan dengannya. Hankyung yang masih berbincang dengan Eunhyuk, serta, namja yang merupakan Dokter Kim atau Yesung itu tetap setia menundukkan kepalanya, seolah ada yang menarik di lantai tempatnya berpijak.
Akan tetapi, Hankyung tiba – tiba menghentikan langkahnya saat ia merasakan sesuatu, namja itu menoleh ke belakang, bersamaan dengan Yesung yang perlahan mengangkat kepalanya. Namun takdir kembali ingin bermain lebih dulu, tepat saat wajah Yesung bisa terlihat dengan jelas, pintu lift menutup, sehingga tidak ada akses bagi Hankyung untuk melihat siapa yang berada di dalam benda tersebut selain seorang namja.
"Waeyo?" Tanya Eunhyuk yang melihat Hankyung tiba – tiba melamun.
"Ah, aniyo, sepertinya hanya perasaanku saja, kajja" Jawab Hankyung kembali berjalan. Membiarkan rasa penasarannya menghilang begitu saja.
.
Setelah pintu lift tertutup, Yesung merasa ketakutannya semakin memuncak. Keputusannya untuk kembali ke Daegu adalah keputusan yang tak seharusnya ia lakukan. Seharusnya ia tetap berada sejauh mungkin dari Korea bersama sang istri dan kedua anaknya seperti yang sudah ia lakukan selama ini. Seharusnya, ia menyadari, jika saat itu Tuan Cho ada di dekatnya saat ia menelpon sang istri ketika di hotel. Seharusnya, ya, seharusnya. Tapi sekarang semua sudah terjadi, ia sudah berada di tempat kekuasaan Presdir Cho, ia bisa lari kemana? Ia harus sudah siap dengan segala resiko yang harus ia tanggung. Ia harus segera melarikan diri lagi ketika ia bisa bebas dari tempat ini. Tapi, bisakah ia keluar dari sini hidup – hidup? Entahlah, ia meragukan itu.
.
Tuan Cho membersihkan figura berisikan fotonya bersama sang istri dan Hankyung di ruang kerjanya. Pria yang telah memiliki beberapa helaian putih di rambutnya itu menghembuskan nafasnya di atas kaca dan dengan sangat hati – hati mengelapkan kain bersih di sana.
"Kapan dia tiba?" Tanya Tuan Cho kepada seseorang yang sejak tadi berdiri setia di depannya
"Mereka sedang dalam perjalanan kemari Presdir" Jawab sang sekretaris langsung, mengerti apa yang ditanyakan atasannya itu.
Tuan Cho tertawa mendengarnya, "Bagus sekali, dia fikir dia siapa? Berani membohongi ku selama ini hmm.. Padahal aku sudah menyuruhnya untuk menghabisi bayi sialan itu dengan imbalan yang besar, tapi ia malah melarikan diri dan ternyata malah melanggar perintahku, ck ck ck, orang itu benar – benar berani, dia fikir, aku bisa ditipu begitu saja" Tuan Cho tersenyum licik.
Suara ketukan terdengar dari dalam ruangan, Tuan Cho nampak tidak terganggu, ia masih dengan santai mengelap figuranya, justru sang sekretaris yang dengan segera membuka pintu tersebut tanpa disuruh karena tamu yang datang kali ini merupakan orang yang memang sudah ditunggu sejak tadi.
Yesung berjalan masuk sambil dikawal oleh dua orang berpakaian hitam di belakangnya. Presdir Cho nampak gembira dengan senyum lebar menghiasi wajahnya. Kedua tangannya pun bertepuk tangan dengan keras, menyambut kedatangan sang tamu.
"Eoseo oseyo Kim Jongwoon euisa-nim, selamat datang kembali Dokter Kim Jongwoon, bagaimana kabarmu hm?" Ucap Tuan Cho sekedar basa – basi dan berdiri dari kursi kebesarannya, berjalan mendekati Yesung, lalu berbisik di telinganya, "Kura – kura yang lama menyelam di air pun akan kembali ke daratan" Yesung hanya diam sambil menatap tajam pria di hadapannya itu, "Apa kau bahagia selama ini setelah melarikan diri dariku?" Tuan Cho tertawa, "Ya ya kau pasti bahagia, karena kau sudah menikah dan memiliki anak juga bukan?"
"Apa yang anda inginkan dari saya? Saya sudah tidak punya urusan lagi dengan anda, Presdir Cho"
Tuan Cho tertawa dengan keras, ia bahkan sampai menunjuk – nunjuk wajah Yesung dengan jarinya, "TIdak punya urusan lagi? Kau? Hahaha…. Menurutmu apa yang membuatku menyuruhmu kemari? Apa kau mau pura – pura bodoh di depanku?" Yesung menelan ludahnya, ia tahu betul alasan kenapa ia sampai berada di tempat ini, "Dua puluh enam tahun lalu, apa kau masih ingat apa perintahku padamu?" Yesung memilih untuk bungkam, ia hanya memandang pria dihadapannya yang kini nampak lebih berkuasa dari sebelumnya, "Apa saat itu kau tuli?" Tuan Cho mendekatkan wajahnya ke hadapan Yesung, hingga posisi keduanya sejajar, "Bunuh bayi itu. Aku mengatakannya dengan jelas, bukan? Lalu, bisa kau jelaskan ucapanmu saat di hotel tadi?"
Wajah Yesung memucat, ia berusaha keras untuk terlihat tenang meski jantungnya berdegup kencang. Ya, ternyata seseorang yang ia rasakan saat di hotel itu adalah Tuan Cho, seseorang yang baru ia sadari setelah sosoknya menghilang dari pandangannya. Perasaan buruknya sejak tadi ternyata adalah ini.
"Kenapa kau diam? Apa kau bisu? Bukankah tadi kau berbicara dengan mesra di telepon huh?"
Yesung merasa tubuhnya mulai bergetar, berusaha keras menahan ketakutannya, "Bayi itu tidak berdosa Presdir Cho" Bisiknya lirih, "Ia berhak untuk hidup"
Tuan Cho kembali tertawa, kali ini lebih keras dari sebelumnya, "Hidup? Kau bilang dia berhak untuk hidup? Siapa kau yang berhak memutuskan?"
Yesung memandang tajam pria di hadapannya, merasakan keberaniannya mulai terkumpul, "Setidaknya, kini anak itu tidak berada di dekat anda bukan? Biarkan dia hidup bahagia dengan keluarganya yang baru, lagipula, dia juga tidak mungkin mengenali anda sebagai ayahnya, apa yang harus anda khawatirkan?"
"Ayah? Cuih, aku bahkan tidak sudi menganggap dia sebagai anakku, apa kau tahu, putraku, Hankyung, hingga saat ini terus mencari keberadaan anak sialan itu, dia menganggap adiknya masih hidup, dan itu sangat menyiksaku! Hankyung adalah penerus kerajaan bisnis ChoTextile and Group, selama ini dia telah menomorduakan perusahaan, dan kau tahu apa yang dia lakukan? Huh, apa yang dia lakukan? Dia lebih memilih mencari adik nya yang dia anggap masih hidup! Dia akan jadi pewarisku, tapi dia malah melakukan hal – hal tidak berguna!" Murka sang Presdir sambil menekan – nekan pundak Yesung hingga ia terdorong ke belakang.
"Saat itu saya memang akan melakukan perintah anda Presdir Cho, tapi, Tuhan ternyata menghendaki anak itu untuk hidup, Dia mengirimkan seseorang yang akan menggantikan anda merawatnya. Dan saya berfikir, saya adalah seorang Dokter, saya tidak punya hak untuk membunuh bayi yang bahkan tak berdosa, saya tidak mau melanggar kode etik yang sudah menjadi sumpah saya, karena itu, saya berikan dia kepada seseorang yang telah kehilangan anaknya. Memintanya merawat bayi itu sebaik mungkin" Jawab Yesung tegas, 'Lagipula, tanpa aku yang melakukannya, anak itu pun tidak memiliki umur yang panjang, ia mewarisi penyakit jantung yang diderita oleh ibunya, anak itu pun pasti akan meninggal dengan sendirinya suatu hari nanti' Lanjut Yesung dalam hati.
Tuan Cho mengatur emosi nya kuat – kuat, menahan segala amarahnya yang semakin memuncak, "Jika memang anda tidak menginginkan Tuan Muda Hankyung untuk mencari adiknya, saya bersedia berbohong lagi padanya, jika itu bisa menyelamatkan nyawa anak itu, saya bersedia kembali menjadi pembohong, Presdir Cho, tapi anda harus berjanji, jangan sentuh anak itu jika anda menemukannya suatu hari nanti, biarkan dia bahagia dengan keluarganya yang telah merawatnya selama ini"
Tuan Cho memandang tajam Yesung, apakah ia bisa mempercayai ucapan namja di hadapannya ini? Ia sudah dibohongi sekali, "Siapa? Kau memberikan bayi itu kepada siapa?" Tanya Tuan Cho akhirnya.
Yesung menggeleng, "Saya tidak tahu, saya mengatakan ini jujur kepada anda Presdir, saya sama sekali tidak tahu siapa nama pria itu, saya hanya mengatakan jika orang itu bisa mengadopsi bayi tersebut"
"Baiklah, aku mengerti, kali ini kau kulepaskan, tapi jangan lupa janjimu, kau harus meyakinkan Hankyung, jika adiknya benar – benar telah meninggal, aku tidak akan melepaskanmu jika kau kembali berbohong padaku, pergilah, aku tidak mau melihat wajahmu saat ini"
.
"Presdir, apa anda akan melepaskan dia begitu saja?" Tanya sang sekretaris setelah Yesung pergi.
Tuan Cho tertawa mengejek, "Kau kira aku bodoh melepaskan mangsa begitu saja, tentu tidak, awasi terus gerak – geriknya, jika dia melakukan hal – hal mencurigakan ancam saja, libatkan keluarganya kalau perlu, dan, cari semua orang yang terdaftar melakukan adopsi pada tanggal tiga februari dua puluh enam tahun lalu, anak itu tetap harus mati, hidup bahagia dengan keluarga barunya? Huh, lucu sekali. Nyawa haruslah dibayar dengan nyawa, aku akan menghabisi anak itu dengan tanganku sendiri, dia sudah berani hidup sementara istriku harus mati"
"Saya mengerti Presdir, saya akan segera melaporkannya kepada anda"
.
Keeseokan harinya, setelah memaksa dan merengek dengan berbagai macam upaya Kyuhyun akhirnya diijinkan keluar dari rumah sakit. Dan disinilah sekarang Kyuhyun berada, duduk sendirian di sofa teras rumahnya. Ia merasa bosan, sejak tadi tidak melakukan apapun. Namja manis itu ingin bermain game tapi semua alat bermainnya sudah disita sang hyung. Kalau begini, sama saja dengan membunuhnya pelan – pelan. Ini lebih menyakitkan daripada penyakit yang ia derita. Kyuhyun mempoutkan bibirnya, memberikan sumpah serapah kepada Leeteuk yang setega itu padanya.
Kyuhyun kembali berdecak dan menghela nafasnya, fikirannya tiba – tiba melayang kembali kepada kejadian semalam. saat ia dengan mudahnya menuruti permintaan orang asing. Bukankah selama ini hanya ayahnya saja yang bisa memaksanya pergi ke rumah sakit? Tapi kenapa namja itu bisa dengan begitu mudah merayunya hanya dengan sebuah pelukan huh?
"Apa dia bisa menghipnotis orang?" Gumam Kyuhyun, "Aigoo, mengerikan sekali jika benar begitu, aish semoga aku tidak bertemu dengannya lagi" Kyuhyun bergidik ngeri. Tapi kemudian ia terdiam, "Tapi, sepertinya dia bukan orang jahat" Kyuhyun memperhatikan tangannya, "Genggamannya sangat hangat, seperti abeoji, orang asing, sebenarnya kau siapa? Kenapa aku terus – terusan memikirkan mu" Kyuhyun kembali menghela nafasnya, namun matanya tanpa sengaja terarah ke satu tempat. Ke sebuah gudang yang ada di sisi rumah. Gudang tempat penyimpanan.
Tidak ada yang tahu kenapa kini kaki Kyuhyun mendadak berjalan menuju gudang tersebut. Padahal ia tidak pernah tertarik dengan barang – barang lamanya. Namja manis itu berhenti di depan pintu dan menekan beberapa kombinasi angka untuk membukanya.
Kumpulan rak – rak dan beberapa meja yang masih tersusun dengan rapi langsung menyapa indra penglihatan Kyuhyun. Meski tempat ini adalah gudang, namun para pelayan selalu memastikan kebersihan dan kerapiannya, sehingga jika ada yang mencari benda – benda lama mereka tidak akan kesulitan dalam menemukannya. Kyuhyun lalu berjalan pelan menyusuri beberapa rak yang ada di dalam.
Sedangkan di tempat lain, tepatnya di kediaman Keluarga Park yang berada di Seoul, Tuan Park nampak panik karena tidak menemukan berkas yang sejak dulu ia simpan dengan rapi di brangkas rahasianya. Pria paruh baya itu mengobrak – abrik semua berkasnya dan memperhatikan satu per satu dokumen yang ada di sana.
"Tidak ada, dimana aku menyimpan surat itu? Bukankah, dokumen itu selalu aku simpan di sini?" Tuan Park masih coba lebih teliti memperhatikan satu per satu kertas kertas yang nampak berserakan di atas mejanya, "Jika sampai ada yang melihat dokumen itu, atau, jika Kyuhyun menemukannya, dia pasti akan mengetahui yang sebenarnya, jika Kyuhyun… andwae, tidak boleh ada yang tahu jika Kyuhyun bukanlah putra kandungku, aigoo kemana aku meletakkan dokumennya, Tuhan jangan sampai Kyuhyun menemukan dokumen itu, apalagi jika istriku yang menemukannya. Ah tunggu sebentar" Tuan Park nampak mengingat sesuatu, "Daegu, ne, Daegu, aku menyimpannya di gudang rumah yang ada di sana saat membersihkan rumah itu, betul aku jadikan satu dengan buku itu dan selimut bayinya. Aku harus ke Daegu sekarang" Tuan Park bergegas keluar dari dalam ruang kerjanya dan tergesa – gesa melewati ruang tamu tempat sang istri sedang duduk.
"Yeobo, kau mau kemana?" Tanya Nyonya Park.
"Aku ada urusan di Daegu, kau disini saja ne" Ucap Tuan Park.
"Daegu? Untuk apa kau kesana?"
"Ini masalah mendesak, aku sudah tidak ada waktu lagi, aku berangkat dulu sayang" Ucap Tuan Park tak lupa mengecup kening sang istri dan pergi begitu saja sembari memerintahkan seorang supir untuk ikut bersama dengannya.
"Yeobo! Yeobo!" Teriak Nyonya Park tapi tidak dihiraukan oleh sang suami.
Yeoja cantik itu hanya menatap bingung pria yang sudah hidup bersamanya puluhan tahun itu, "Kenapa perasaanku mendadak tidak enak?" Gumamnya.
Tuan Park tidak tahu, jika jalan kehidupan seseorang sudah ada yang menentukan. Sekeras apapun kita menyembunyikan sesuatu di dalam lubang, pasti lama kelamaan lubang itu akan terbuka dengan sendirinya dan menampilkan apa yang tersembunyi di dalamnya. Dan kini, setelah dua puluh enam tahun, lubang tempat Tuan Park menyembunyikan semua rahasianya mulai terbuka sedikit demi sedikit. Sekeras apapun ia berusaha menutupi, semua akan percuma.
.
Kyuhyun mengernyitkan dahinya saat ia menemukan sebuah box kecil yang baru ini ia lihat, "Apa dulu aku pernah punya barang ini? Kenapa aku tidak ingat ya?" Kyuhyun membolak balikkan kotak berwarna hijau itu, dan tanpa sengaja kotak tersebut jatuh dari genggaman tangannya hingga seluruh isinya berserakan. Beberapa lembar dokumen, sebuah buku dan selembar selimut kecil nampak terlihat di mata Kyuhyun.
"Ini apa?" Kyuhyun mengambil selimut berwarna baby blue yang lebih dulu menarik perhatiannya, ia meneliti dengan seksama selimut tersebut dan terkejut saat menemukan namanya tertera di bagian ujung, "Inikan namaku? Apa ini hadiah untukku?" Tanya Kyuhyun pada dirinya sendiri, "Tapi, apa aku dulu pernah memakainya?" Kyuhyun kembali mengingat – ingat, tentu saja ia pasti melupakannya, sudah lama sekali waktu berlalu. Namja manis itu kemudian mengambil sebuah buku berwarna cokelat yang tergeletak tak jauh dari selimutnya.
Buku tersebut ternyata berupa diari yang ditempeli beberapa lembar foto. Kyuhyun membaca nama pemilik buku itu, "Oh ini punya abeoji" Ucap Kyuhyun dan membuka halaman pertama. Ia menemukan foto saat dirinya masih bayi dalam gendongan sang Eomma. Kyuhyun membaca tulisan yang ada di dalam buku itu.
Hari pertama uri adeul berada di dunia. Dalam gendongan Ibu tercinta.
Kyuhyun tersenyum tipis saat ia melihat fotonya sendiri sewaktu masih bayi, "Aigoo aku ternyata memang manis dari dulu" Namja itu terkikik geli, ia lalu membalik halaman buku tersebut, kali ini fotonya bersama kedua orang tuanya. Namun Kyuhyun terdiam saat ia melihat selimut itu ada di tubuhnya. Kyuhyun memperhatikan tanggal yang tertera di sana, 3 Februari 1988, foto yang pertama pun diambil di hari yang sama.
Kyuhyun kemudian membolak – balik lembar demi lembar buku tersebut namun ia tidak lagi menemukan selimut itu di setiap foto. Hingga lembar terakhir yang merupakan tanggal saat ia berulang tahun yang ketiga tidak ada lagi selimut itu.
"Kenapa selimut ini hanya ada di foto pertama? Kalau ini hadiah untuk kelahiranku, kenapa tidak dipakai lagi setelahnya? Selimut ini masih ada dan tidak hilang kan" Kyuhyun merasa heran sambil memegang benda yang ia pegang saat ini. Ada sesuatu yang mendadak muncul di fikirannya, namun ia tidak bisa memastikan apa itu.
Pandangan Kyuhyun kini teralih pada selembar dokumen yang masih berserakan di atas lantai. Kyuhyun perlahan mengulurkan tangannya, berniat mengambil dokumen yang posisinya terbalik itu, mungkin apa yang tertera di sana bisa menjawab pemikiran anehnya saat ini. Tangan Kyuhyun sudah menyentuh dokumen tersebut, tapi sepertinya, takdir sedang ingin bermain – main dulu dengan keluarga Park.
"Tuan muda" Sebuah suara terdengar di telinga Kyuhyun, membuat Putra salah seorang keluarga Chaebol itu terkejut. Ia baru saja keluar dari rumah sakit, jangan sampai langsung kembali lagi ke tempat terkutuk itu.
"Ommo kamchagiya" Kyuhyun terkejut dan mengelus – elus dadanya karena jantungnya yang berdetak begitu cepat, "Ya! Kau ingin membunuhku huh?!" Teriak Kyuhyun sehingga tangannya refleks menjatuhkan kembali dokumen yang sudah ia pegang.
Menyadari kesalahan apa yang sudah ia perbuat, salah seorang maid keluarga Park itu menunduk meminta maaf, "Jeosonghamnida Tuan muda, saya tidak bermaksud mengejutkan anda"
Kyuhyun berdecak kesal, "Lalu kenapa kau mencariku?" Kyuhyun masih saja coba menenangkan jantungnya yang belum stabil berdetak. Oh jika Leeteuk tahu kelakuan pelayan ini ia pasti sudah dimarahi hyung nya itu. Siapapun yang membuat Kyuhyun kambuh pasti akan mendapatkan balasan darinya. Kyuhyun tahu hyung nya itu kadang terlalu berlebihan tentang kesehatannya.
"Mm, itu, Tuan Muda, ada telepon dari Seoul, Nyonya besar mencari anda"
"Eomma? Kenapa eomma menelpon ke rumah? Aku membawa ponselku" Tanya Kyuhyun bingung dan menunjukkan ponselnya.
"Entahlah Tuan muda, saya juga tidak tahu"
"Arasseo, sana pergilah, aku akan menerima telpon nya setelah ini"
"Baik Tuan muda"
Kyuhyun akhirnya melupakan keinginannya membaca dokumen tadi dan berjalan keluar dari dalam gudang, tanpa mengunci pintunya. Satu sifat buruk yang ia punya. Ceroboh.
Benarkan, takdir sepertinya memang masih ingin bermain – main dulu. Belum saatnya kebenaran itu terbuka lebar.
.
Yesung tengah melamun di dalam kamarnya, ingatannya melayang kembali ke masa dua puluh enam tahun lalu, saat ia mengatakan kepada seorang pria mengenai bayi milik keluarga Cho.
Flashback
"Tapi, ada satu hal yang harus saya katakan pada anda tentang bayi ini" Yesung memandang Tuan Park yang saat itu masih terlihat bahagia.
"Apa itu dokter?"
Yesung nampak ragu, "Suster Hwang, bisakah kau tinggalkan kami sebentar?" Putus Yesung akhirnya, ia hanya ingin bicara berdua dengan pria di depannya itu. Meski sedikit tidak rela, suster Hwang akhirnya pamit meninggalkan mereka.
Yesung mengajak Tuan Park untuk duduk di depan ruang perawatan bayi, ia memandang anak laki – laki yang nampak tidur dengan damai di pelukan pria paruh baya itu.
"Ibu bayi ini, memiliki riwayat penyakit jantung" Ucap Yesung pelan, "Dan bayi ini… mewarisi penyakit itu juga, jadi, saya harap, anda bisa menjaga nya dengan baik"
Senyum Tuan Park menghilang, berubah menjadi raut terkejut, ia melebarkan matanya, tidak percaya dengan kata – kata Yesung, "Jantung?"
"Ya, saya belum bisa memastikan penyakit jantung apa yang ia derita karena kami belum sempat melakukan pemeriksaan lebih lanjut, tapi, jika anda memang bersedia mengadopsi anak ini, saya harap, anda melakukan pemeriksaan menyeluruh padanya… sehingga dia bisa hidup lebih lama"
Tuan Park terdiam, ia tidak menyangka, kasihan sekali bayi mungil ini, "Apakah, dia bisa disembuhkan?" Tanya Tuan Park. Ia tidak mau sampai kehilangan anak untuk kedua kalinya.
Yesung menggeleng, "Saya tidak bisa memberikan jawaban yang pasti mengenai itu, semua ada di tangan anda, semakin cepat penyakit nya terdeteksi, semakin cepat pula anda bisa mengetahui cara menanganinya, semua sekarang terserah kepada anda, saya tidak menutupi apapun karena saya lah yang selama ini mengetahui tumbuh kembang bayi tersebut mulai dari janin hingga ia lahir, jadi, apakah anda tetap akan mengadopsi anak ini atau tidak, itu semua adalah pilihan anda"
Tuan Park memandang bayi mungil di dekapannya dengan penuh rasa sayang, senyumnya kembali, "Saya, tidak perduli apakah dia memiliki penyakit atau tidak, saya, akan berusaha keras untuk menyembuhkannya, dan membiarkannya melihat dunia, meski kedokteran tidak bisa menyembuhkannya sekalipun, asal dia bisa menjalani hidup nya dengan penuh kebahagiaan saya akan menerimanya, karena dia adalah malaikat yang dikirimkan Tuhan untuk menggantikan anak kami yang telah tiada, bukankah begitu Dokter? Saya tidak mungkin memprotes apapun yang diberikan Tuhan kepada saya, berkat yang dengan baiknya dikirimkan untuk saya, tidak akan saya sia – siakan, kelak, jika kita bisa bertemu lagi, saya akan pastikan kepada anda, jika saya telah merawatnya dengan sebaik mungkin, lagipula, saya tidak ingin lagi melihat istri saya bersedih, dia telah kehilangan anaknya dan saya tidak sanggup menemuinya karena kabar buruk ini, jadi, kehadiran anak ini, akan saya terima, seperti apapun keadaannya"
Tuan Park tersenyum tulus, Yesung membalasnya dengan mengangguk kecil, merasa lega karena telah memberikan bayi itu kepada orang yang tepat, meski begitu, dalam hatinya Yesung mengucapkan ribuan maaf kepada orang – orang yang akan tersakiti karena tindakannya ini. 'Nyonya Cho, meski saya harus menghancurkan tuan muda Hankyung, tapi, saya akan selalu mengingat pesan anda, pesan anda yang setiap saat selalu memohon agar anak anda bisa melihat indahnya dunia, meski bukan dengan keluarga kandungnya, tapi, anak anda akan bahagia Nyonya Cho, jadi anda tenanglah dan tidurlah dengan damai di alam sana, saya yakin, jika takdir berkenan, dia akan bertemu lagi dengan saudara kandungnya suatu hari nanti' Batin Yesung dalam hati kecilnya, ia memperhatikan lagi putra kedua keluarga Cho itu dengan lekat, 'Sampai jumpa lagi bayi mungil, tumbuhlah dengan sehat' Yesung membelai pipi bayi tersebut dengan sangat lembut, seolah mengatakan salam perpisahan.
"Terima kasih atas kebaikan anda, ah iya, tadi, saya menyarankan agar anda menghubungi pihak manajemen rumah sakit untuk pengurusan adopsi bukan?" Yesung menghentikan kalimatnya sejenak, coba merangkai kata – kata yang tepat, "Bagaimana jika, anda tidak perlu melakukan itu, maksud saya, jika anda secara hukum ingin melakukan adopsi, bukankah syaratnya cukup banyak, saya, bisa membantu anda, menjadikan anak ini sebagai anak kandung anda sendiri, bukan anak orang lain, sah dimata hukum"
Mata Tuan Park kembali melebar, "Ne? Maksud anda? Saya tidak mengadopsi anak ini begitukah?"
Yesung mengangguk, "Ya, anak ini, akan menjadi anak anda sendiri"
Tuan Park tersenyum, "Terima kasih banyak Dokter, saya tidak tahu bagaimana cara membalas kebaikan anda"
Yesung menggeleng, "Anda tidak perlu memikirkan saya, hanya saja, saya hanya meminta agar anda merawat baik – baik bayi ini, jangan pernah sakiti dia dan lindungi dia semampu anda"
"Ya, saya berjanji, saya tidak akan menyia – nyiakan anak ini, sekali lagi, terima kasih banyak"
Flashback End.
Yesung menghela nafasnya, seperti yang masih terekam jelas dalam ingatannya, setelah berbincang singkat dengan Tuan Park, Yesung memutuskan melakukan konferensi pers, dan dengan mata kepalanya sendiri, ia harus menghadapi satu guncangan besar dalam hidupnya. Bagaimana hancurnya Hankyung saat itu, tapi Yesung berfikir, mungkin waktu itu Hankyung memang menangis, tapi, suatu hari nanti, ketika mereka bisa bertemu lagi, maka air mata dan rasa sakit itu akan berubah menjadi kebahagiaan.
Namun, kadangkala tidak semua keinginan manusia menjadi kenyataan. Yesung sadar, apa yang ia harapkan dulu tidaklah mungkin terjadi, karena, Presdir Cho telah mengetahui kenyataan jika putranya masih hidup. Hingga saat ini perintah pengusaha besar itu masih saja terus terngiang dan menjadi mimpi buruknya setiap malam. Padahal, setiap hari ia telah berdoa memohon keselamatan anak itu tapi, kini semua hancur berantakan, ia sendiri lah yang sebenarnya membunuh anak itu jika memang Presdir Cho berhasil menemukannya.
Tidak, Yesung kemudian tersadar, Presdir Cho tidak boleh tahu lebih dulu identitas putranya, ia harus mencari anak itu, ia harus menemukannya lebih dulu, dan menyelamatkannya. Ya benar, dia akan berusaha keras untuk menebus kesalahannya, menebus semua dosanya yang telah memisahkan seorang kakak dengan adiknya, setidaknya, sebelum ia mati, ia harus melihat sendiri Hankyung bertemu dengan adiknya. Yesung kemudian mengganti pakaiannya dan berlari keluar dari dalam hotel tempat tinggalnya beberapa hari ini.
Tanpa ia sadari, setelah taksi yang membawanya berjalan, sebuah mobil mengikutinya dari belakang. Terus membuntutinya hingga tiba di Kyongkuk Hospital. Tempat yang sudah dua puluh enam tahun Yesung tinggalkan.
Yesung menyusuri bangunan yang kini telah banyak mengalami perubahan itu. Ia berjalan dan terus berjalan hingga menemukan satu tempat yang menjadi tujuannya sejak awal.
"Selamat pagi Nona Yoo, anda masih bekerja di bagian ini rupanya" Sapa Yesung sopan.
"Ommo, Ya Tuhan, lihat siapa ini, Dokter Kim, astaga anda kemana saja selama ini, tiba – tiba pergi tanpa memberitahu apapun" Nona Yoo memeluk Yesung yang tersenyum menyambutnya, "Bagaimana kabarmu? Ah sekarang kau bekerja di mana humm?"
Yesung tersenyum meminta maaf, sebenarnya ia juga ingin berbincang lama dengan Nona Yoo, tapi sekarang ia tidak boleh membuang – buang waktu, "Maaf Nona Yoo, lain kali saja kita berbincang, aku, hanya ingin meminta bantuanmu, apa bisa" Ucap Yesung serius.
Nona Yoo mendesah kecewa, tapi yah mungkin saja jika pria di hadapannya ini sedang sibuk, "Tentu saja, apa yang bisa aku bantu, tapi bantuan ku tidak murah lho" Goda Nona Yoo.
Yesung hanya tertawa, "Terserah, apapun yang kau mau aku akan turuti, asal jangan yang aneh – aneh saja"
"Katakan apa yang kau mau hmm"
Yesung memandang lekat yeoja di depannya, "Beri aku data, semua orang yang terdaftar masuk di rumah sakit ini pada tanggal tiga februari, tahun delapan puluh delapan"
"Mwo?" Nona Yoo nampak terkejut, "Kenapa kau?"
Yesung menoleh ke kiri dan ke kanan, memastikan tidak ada yang menguping pembicaraan mereka, "Ada yang harus aku periksa, kau bisa menarik datanya kan? Kumohon bantulah aku Nona Yoo, ini masalah yang sangat mendesak, aku tidak bisa mengatakannya padamu…" Yesung terdiam, berfikir bagaimana caranya agar ia bisa merayu yeoja tersebut untuk membantunya.
"Belikan aku makanan yang dulu sering kau berikan padaku setiap hari selama seminggu, aku jamin kau akan mendapatkan datanya kurang dari lima belas menit" Ucap Nona Yoo tiba – tiba, senyum terkembang di bibirnya. Membuat Yesung nampak terkejut, tidak percaya jika yeoja itu mau membantunya, "Waeyo? kenapa kau kaget eoh? Sana duduklah dulu, aku akan menyerahkan datanya padamu"
Yesung tak bisa menahan senyumannya, ia mengucapkan banyak sekali terima kasih kepada yeoja yang dulu adalah sahabatnya itu.
.
Tepat sesuai ucapan Nona Yoo, lima belas menit berikutnya Yesung telah mendapatkan semua daftar pasien yang terdaftar dalam system beserta para walinya. Namja itu terlihat sangat serius membaca satu per satu nama yang muncul di dalam list. Bukan hanya nama, Nona Yoo bahkan melengkapi data itu dengan kartu identitas masing – masing, sehingga memudahkan Yesung dalam melihat wajah para pasien dan wali tersebut. Lembar demi lembar terus Yesung balik, namun tidak ada yang wajah yang sesuai dengan ingatannya.
Yesung sudah hampir menyerah dengan begitu banyaknya data yang ia pegang hingga tangannya tiba – tiba secara acak membuka sebuah halaman. Mata Yesung membulat, wajah di foto itu, Yesung coba mengingat – ingat lagi lebih jelas, akhirnya senyum kelegaan muncul di bibir Yesung, ia telah menemukan pria yang dulu ia serahkan bayi milik Presdir Cho.
Yesung menarik lembar tersebut dan membacanya secara terpisah, meletakkan lembaran lain yang ada begitu saja. "Park? Jadi nama pria itu adalah Tuan Park, syukurlah, aku bisa menemukannya, aku harus menemukan pria ini dan melindungi anak itu" Yesung kemudian bergegas pergi setelah sebelumnya mengucapkan terima kasih kepada Nona Yoo. Ia harus bergerak cepat. Orang – orang dari Presdir Cho tidak boleh menemukan berkas ini.
Tapi, Yesung rupanya melupakan seperti apa pria yang disebut Presdir Cho itu, tepat setelah ia keluar dari lobby rumah sakit dan hendak mencegat sebuah taksi, seorang pria dengan pakaian jas hitam mengulurkan tangannya, menahan langkah Yesung.
"Serahkan kertas itu atau nyawamu melayang" Bisiknya tepat di telinga Yesung. Sebuah pistol terarah tepat di perut namja itu, tertutupi dengan sempurna oleh pakaian yang ia kenakan.
.
.
Penasaran. Itulah yang selalu menghantui fikiran Hankyung tentang keberadaan Kyuhyun. Ia tidak tahu, tapi entah mengapa hati dan fikirannya selalu tertuju padanya. seakan ada sesuatu yang menarik dari anak tersebut. Akhirnya, setelah memaksa Eunhyuk, sang sekretaris, untuk mencari dimana tempat tinggal Kyuhyun disinilah kemudian Hankyung berada. Tepat di depan kediaman keluarga Park.
Hankyung menghela nafasnya. Ia merasa ragu apakah harus menekan bel rumah tersebut ataukah tetap di dalam mobil seperti sekarang. Jantungnya benar – benar berdetak tidak karuan, apa yang harus ia lakukan jika Kyuhyun memang adiknya? Tapi jika ternyata bukan apa juga yang harus ia lakukan? Tetapi Hankyung kemudian teringat pesan Eunhyuk padanya.
"Mau dia adikmu atau bukan, bertemanlah dengan tulus, jangan karena kau ingin tahu kebenarannya kau bertemu dengannya, lakukan saja seperti yang selama ini kau perbuat dengan mereka yang kau kira adikmu tapi ternyata bukan"
Ya, kata – kata Eunhyuk memang benar, semua orang yang dulu sempat ia sangka adiknya memang berteman baik dengannya saat ini, tapi, untuk kasus kali ini kenapa terasa berbeda. Hankyung merasa ia tidak ingin hanya sekedar berteman dengan namja itu, ia ingin jika Kyuhyun yang ia temui ini adalah benar – benar adiknya. Firasatnya sangat kuat unutk satu hal itu.
Tubuh Hankyung langsung tegang saat pintu gerbang di hadapannya tiba – tiba terbuka. Sosok Kyuhyun yang sedari tadi mengisi fikirannya keluar dari dalam, tanpa fikir panjang namja itu langsung turun dari mobilnya, membuat Kyuhyun yang melihatnya terkejut . Hankyung tersenyum kecil dan menganggukkan kepalanya, memberi salam. Kyuhyun pun balas membungkukkan tubuhnya menjawab salam dari Hankyung meski dengan ekspresi wajah yang menunjukkan kebingungan.
.
"Ya ! Ya! Ya! Park Kyuhyun! Park Kyuhyun! Ya!" Teriakan Hankyung menggema di salah satu arena game center mall Daegu. Saat ini ia dan Kyuhyun tengah bertanding dengan sangat seru. Kyuhyun tertawa dengan keras saat ia berhasil menyudutkan Hankyung di permainan mereka, "Andwae, Park Kyuhyun! Berhenti menyerangku" Teriak Hankyung lagi tidak mau kalah, ia menggerak – gerakkan stik yang ia pegang dengan cepat, coba membalas serangan demi serangan yang Kyuhyun lancarkan. Namun namja manis itu tetap tidak mau kalah, ia terus menyerang Hankyung dengan ganas hingga akhirnya kata YOU WIN tertera di mesin gamenya.
Kyuhyun reflek melompat dari kursinya dan berteriak, YES saat ia berhasil mengalahkan Hankyung untuk yang kesekian kalinya dalam game. Namja itu tersenyum lebar kepada Hankyung yang hanya menghela nafasnya harus kalah lagi dari Kyuhyun.
"Haish kenapa kau susah sekali dikalahkan Kyuhyun –ssi" Hankyung mendesah.
"Tentu saja, siapa yang bisa mengalahkan GameKyu" Jawab Kyuhyun dengan senyum lebar di bibirnya, "Nah, karena aku sudah menang maka anda harus mengabulkan permintaan ku bukan?" Kyuhyun mengedip – ngedipkan matanya riang. Tadi saat ia sedang mengalami kebosanan karena harus berada di rumah, tanpa ia duga, Hankyung tiba – tiba muncul dan menawarkannya untuk ikut jalan – jalan bersamanya. Dan anehnya, tanpa pikir panjang, Kyuhyun lagi – lagi langsung menuruti kata – kata namja itu.
Hankyung hanya mengangguk saja sebagai balasan, melihat Kyuhyun gembira ia sudah senang, "Apa yang kau mau Kyuhyun –ssi?"
"Apa ya?" Kyuhyun nampak berfikir, matanya kemudian memandang sepasang anak kecil yang asyik memakan es krim, "Ah aku tahu" Kyuhyun memandang Hankyung dengan mata besarnya, "Hyung, belikan aku es krim" Ucap Kyuhyun tanpa sadar.
Hankyung terdiam. Bukan karena es krim yang Kyuhyun sebutkan, tapi cara anak itu memanggilnya. Bukankah sejak tadi ia terus saja menyebutnya dengan kata anda atau Hankyung –ssi, tapi barusan Kyuhyun memanggilnya dengan sebutan 'hyung' , sadarkah ia memanggilnya seperti itu?
"Hankyung –ssi" Panggil Kyuhyun saat namja di depannya nampak melamun, Hankyung langsung tersadar, saat tangan Kyuhyun menyentuhnya.
"Ah ne, kau mau es krim? Arasseo" Ucap Hankyung sedikit terbata.
Kyuhyun menganggukkan kepalanya dengan antusias, sudah diajak main game, kemudian dapat es krim gratis lagi, bagaimana ia tidak merasa senang, "Itu baru hyung ku" Ucap Kyuhyun kembali, masih tidak sadar apa yang sudah meluncur dari bibirnya, kali ini ia bahkan merangkul manja tangan namja yang baru dikenalnya itu begitu saja.
Tapi sesaat kemudian, ketika sadar apa yang sudah ia perbuat, Kyuhyun langsung melepaskan rangkulannya, "Jeo, jeo, jeosonghamnida, Hankyung –ssi" Wajah Kyuhyun memerah karena malu, ia bahkan menggigit bibirnya sendiri, merutuki kebodohannya bersikap selancang itu pada orang asing. Padahal Kyuhyun sendiri bukanlah tipe orang yang mudah melakukan skinship kecuali dengan orang yang sangat dekat dengannya, semisal keluarganya. Tapi kali ini sungguh, Kyuhyun sama sekali tidak tahu kenapa ia langsung reflek memeluk Hankyung yang notabenenya tidak ia kenal sama sekali.
"Gwaenchana" Hankyung yang masih berusaha keras mengatur detak jantungnya hanya tersenyum menenangkan Kyuhyun yang langsung bersikap canggung. Ia tidak tahu, tapi Hankyung benar – benar merasa senang saat Kyuhyun merangkulnya tadi. Membayangkan bagaimana bahagianya ia ketika adiknya bermanja itu seperti baru kali ini ia rasakan.
"Sekali lagi maafkan aku, aku tidak bermaksud melakukan itu, aish dasar Park Kyuhyun pabbo" Kyuhyun memukul – mukul kepalanya sendiri, masih merasa bersalah.
"Sudahlah, tidak apa Kyuhyun –ssi, jangan pukul kepalamu lagi, kajja, lebih baik kita beli es krimnya" Hankyung meraih tangan Kyuhyun dan merapikan rambut namja yang lebih muda darinya itu dengan penuh kasih sayang.
Kyuhyun terdiam. Jantungnya tiba – tiba berdetak dengan cepat. Tidak, bukan penyakitnya yang kambuh, tapi, ini benar - benar aneh, kenapa dadanya berdesir? Hey dia itu masih normal, dia masih suka yeoja. Tapi tidak, tidak, ini bukan perasaan seperti itu, ini bukan perasaan dengan lawan jenis. Tapi, perasaan hangat yang selama ini selalu ia dapatkan dari keluarganya. Kasih sayang yang selalu ia dapatkan dari mereka. Kyuhyun tanpa sadar memandang Hankyung dengan lekat. Wajah namja di hadapannya ini sangat lembut, ia yakin jika Hankyung adalah orang baik. Selain itu suaranya, kenapa rasanya tidak asing di telinganya.
Benar, ia baru menyadarinya, suara Hankyung mirip sekali dengan yang selalu ia dengar di dalam mimpinya. Suara yang memintanya untuk terus menunggu dan menunggu.
Hankyung tersenyum lembut setelah ia memastikan rambut Kyuhyun kembali rapi, ia lalu meraih tangan Kyuhyun dan menariknya perlahan, "Nah begini lebih bagus, jangan pukul lagi kepalamu Kyuhyun –ssi, kajja kita beli es krimnya, dongsaeng -ah" Kali ini Hankyung lah yang tidak menyadari kalimat yang meluncur dari bibirnya.
"Dongsaeng –ah annyeong, ini hyung"
Deg.
Jantung Kyuhyun seakan berhenti berdetak saat telinganya mendengar Hankyung menyebutnya dongsaeng. Terlebih, disaat yang bersamaan kepalanya kembali mendengar suara asing yang selalu saja memenuhi fikirannya.
Hankyung menoleh ketika ia merasakan beban berat di tangannya. Kyuhyun seakan – akan terdiam seperti patung, memandangnya dengan sorot penuh tanya.
"Apa kita pernah bertemu sebelum nya, Hankyung –ssi?" Tanya Kyuhyun pelan.
Sebenarnya, kemana takdir akan membawa kedua saudara yang belum saling mengenali itu?
.
.
Leeteuk merasa sangat lelah, begitu banyak pekerjaan yang harus ia selesaikan. Namja itu agak heran ketika menemukan rumah dalam keadaan sepi. Biasanya terdengar suara adiknya entah itu berteriak saat bermain game atau saat sedang mengusili para pelayan.
"Apa Kyuhyunie sedang tidur siang?" Bisik Leeteuk sambil berjalan memasuki rumah. Namun langkahnya terhenti saat matanya melihat pintu gudang terbuka.
Leeteuk hanya mendesah saat menyadari perbuatan siapa yang sudah menyebabkan pintu gudang terbuka dan beberapa barang tercecer. Kyuhyun sama sekali tidak berubah. Leeteuk menggeleng – gelengkan kepalanya, ia kemudian mulai merapikan benda - benda tersebut. Namun tangannya terhenti saat ia melihat selembar dokumen yang ada di lantai gudang, "Apa ini?" Leeteuk mengambil dokumen tersebut, dan seketika matanya terbuka lebar, tubuh Leeteuk langsung menegang saat itu juga, terhuyung membentur salah satu lemari yang ada di dekatnya, tangannya bergetar hebat. Bahkan tas kerja yang ia bawa pun terjatuh ke lantai saat bibirnya mengucapkan satu per satu kalimat yang tertera di atas kertas tersebut,
Jantung Leeteuk bedebar sangat keras, "Surat keterangan hasil tes DNA?"Leeteuk menemukan nama ayahnya, dan nafasnya seakan tercekat saat itu juga ketika ia membaca satu nama lagi yang ikut tercetak rapi di sana, tangan Leeteuk reflek meremas pinggiran kertas tersebut, "Hasiil tes DNA dengan Park Kyuhyun… Tidak cocok?"
Surat tersebut terjatuh dari genggaman Leeteuk bertepatan dengan Tuan Park yang muncul di depan pintu gudang. Terkejut dengan keberadaan salah satu putranya.
"Jungsoo –ya…" Mata Tuan Park langsung terbelalak saat ia melihat kertas yang baru saja dijatuhkan Leeteuk, "Kau… sudah membacanya?"
-Tbc-
Annyeong~~~ bby update chap dua ^^
Ga nyangka respon di chap satu melebihi perkiraan, bby seneng banget, sebagai hadiah, chap ini bby kasih update panjang, mianhae jika sedikit membosankan hehe
Terima kasih buat yang udah baca, review, follow dan favoritkan ff ini, mianhae bby ga bisa balas review kalian satu – satu, balasannya bby kasih dengan update an aja yaa #puppyeyes.
Special thanks to :
Restiana - Cuttiekyu94 - annisah563 – tyas1412 – hyunnie02 – Shin Ririn1013 – Kyu963 – princessrisovi – okaocha – sofyanayunita1 – yuliyuzumaky – jihyunelf – Awaelfkyu13 – kyuli 99 – uixalmt – Sparkyubum – MissBabyKyu – GyuhaeCho – angel sparkyu – rain – guest – abelkyu – Winhaesung Love – Guest – dd – michazz – ladyelf11 – rangeralone – shi chan – cho sabil – Fitri MY – Atik1125 – cinya – dyayudya – lydiasimatupang2301 – Aget – Nae Axseli – Kuroi ilna – Lupanama – Hyunhua - dan semua yang baca ff ini
Apa ada yang terlewat? Mianhae kalau ada kesalahan penulisan nama
yang tanya soal prolog di awal, silahkan ikuti terus ff ini yaaa, bby ga akan kasih jawaban di sini ^^
Oke, untuk chap ini boleh dong kasih review lagi, yang panjang juga ga apa, bby malah seneng dan malah makin semangat update nya nanti kk
Sampai jumpa di chap berikutnya
Annyeong~~~
Kiyubby
03-12-16
