Little Ice Prince's Love!

Disc: Masashi Kishimoto

Rat: T

Pair: SasuNaru

Warn: Shonen Ai, OOC, Chibi Naruto, Miss Typo, dan lain-lain.

Sebelum Ryu memulai cerita, Ryu ucapkan terima kasih kepada yang review dan mendukung Ryu dalam cerita ini. Mudah-mudahan untuk selanjutnya Ryu tidak mengecewakan para pembaca.

Berikut pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh pembaca:

1. Kenapa Naruto masih cadel walau sudah kelas empat?

Jawab: Karena Ryu ingin memperlihatkan kalau Naru itu jarang berkomunikasi dengan orang di sekitarnya karena dia di sekolahkan di sekolah pribadi dengan orang tua yang sibuk, dan Ryu ingin membuat semua orang masih menganggap tetap Naruto itu sebagai 'Naru-Dobe yang manis' di cerita ini. Hehehe.

2. Kelas berapa tokoh-tokoh di sini?

Jawab: Naruto= 4 SD

Sakura= 5SD

Sasuke, Gaara, Neji, Choji= 6 SD

Itachi = 1 SMA

3. Apakah para Chibi ini akan beranjak dewasa?

Jawab: Sedang dipikirkan. Hehehe. Kalau Ryu lagi mood mudah-mudahan bisa.

4. Apakah cerita ini akan diteruskan?

Jawab: Ini sedang dilanjutkan hehehe.

Itu pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh reader. Untuk semuanya, baik para senpai maupun reader, makasih ya sudah review. Dan untuk terakhir Ryu ucapkan mohon bimbingannya. Hehehe.

Pertemuan kedua adalah awal dimana kita membuka diri dan memperkenalkan diri kita lebih jauh pada orang-orang. Sehingga awali perkenalan dengan saling menghargai. Jika tidak suka dengan cerita ini kembalilah pada halaman sebelumnya sambil mengingat 'Don't Like, Don't Read!'

SELAMAT MEMBACA


CHAPTER 2: Little Ice Prince's! Liar!


Mikoto membuka pintu kamar. Saat mata hitamnya memandang ke dalam sebuah kamar yang bernuansa serba biru, Mikoto melihat anak bungsunya sudah berpakaian rapih, memakai seragam sekolah dan memakai sepatu. Selain itu, mata onyx anaknya tampak bersinar, tidak mengantuk atau bosan seperti biasanya.

"Waah, anak ibu sudah siap rupanya?" tanya Mikoto, dan membuat Sasuke yang sedang memakai sepatunya langsung melihat ke arah Mikoto.

"Iya bu, aku ingin cepat-cepat ke sekolah," kata Sasuke yang telah selesai mengikat sepatunya, dan langsung berdiri dari sofa, ketika dia siap untuk berangkat.

'Tepatnya ingin cepat-cepat bertemu, Naruto,' pikir Sasuke yang sudah mulai merasa seperti fans-fans gelapnya yang selalu mengejar dirinya, cuman kali ini dialah yang berada di dalam posisi sebagai fans-fans-nya tersebut.

Mikoto menghampiri Sasuke, dan membetulkan kerah baju Sasuke. "...Tetapi Itachi-nii belum siap, dia masih mandi. Sasuke sarapan dulu saja ya sayang," kata Mikoto sambil mengelus-ngelus rambut anaknya, setelah membetulkan kerah baju Sasuke.

Sasuke memandang ibunya. 'Apa? Tidak! Kalau begini aku harus pergi sendiri,' pikirnya, keras kepala.

"Sasuke bisa pergi ke sekolah sendiri ibu," kata Sasuke dengan ekspresi wajah 'jangan berani larang aku ibu ku sayang.'

Mikoto mengangguk perlahan, mencoba bersikap pengertian. "Tidak bisa, Sasuke harus diantar oleh Itachi-nii, ayo kita turun, kita sarapan bersama Ayah!" ajak Mikoto sambil menggenggam tangan Sasuke.

Sasuke mendengus dalam hati. Alasan untuk menemui Naruto di pagi hari—meski dia tidak yakin jika Naruto sudah tiba di sekolah—akan digagalkan oleh ibunya sendiri. Terlebih, jika diantar oleh kakaknya pastilah membuat pagi harinya yang indah akan menjadi buruk—bahkan sangat buruk.

'Uh..,' pikir Sasuke sambil memandang ibunya dengan ekspresi 'lepas tanganku sekarang juga, dan biarkan aku berlari ke sekolah.'

Mikoto pun memandang Sasuke. "Kenapa sayang?" tanya ibunya, dengan tatapan keibuan.

Sasuke mengedipkan ke dua matanya. 'Aku tidak bisa berbuat apa-apa jika di depan ibu,' pikir Sasuke. Dia terlalu canti dan baik! Teriak Sasuke di dalam hati.

"Tidak apa-apa, bu," jawabnya singkat sambil menundukan kepalanya, tidak berani berkata jujur pada ibunya. hiks!


Untuk mengatakan hal jujur terkadang lebih sulit daripada berbohong


Pemuda tampan yang memiliki rambut hitam memandang anak kecil berambut raven yang duduk di sampingnya. Entah sejak kapan dirinya telah dianggap musuh, bahkan saingan oleh adik semata wayangnya sendiri. Sehingga, wajah Sasuke selalu terlihat judes bahkan dingin ketika melihat dirinya.

Itachi menghentikan mobilnya ketika tiba di lapangan parkir sekolah. "Sudah sampai, ayo keluar adik ku manis," kata Itachi sambil menggoda Sasuke.

Sasuke memperlihatkan tatapan sinis pada Itachi. Setelah itu Sasuke melepas sabuk pengaman dan keluar dari mobil. 'Semakin lama, semakin kesal jika bersama Aniki,' pikir Sasuke yang sekarang ini sudah berada di luar mobil, dan akan berjalan ke kelasnya sebelum—

"Kakak!" tiba-tiba terdengar suara yang langsung membuat jantung Sasuke berdegup dengan kencang.

'Su-suara itu?' Sasuke membalikan badannya untuk melihat ke arah sumber suara.

'Na-Naruto?' pikir Sasuke sambil memandang sesosok rambut pirang yang berdiri di depan dirinya, dan tangannya sedang digandeng oleh seorang pria dewasa.

"Kakak!" teriak Naruto sekali lagi sambil tertawa dengan lucunya, dan membuat wajah Sasuke sudah hampir menyamai kepiting rebus.

Naruto melepaskan genggamannya pada tangan Iruka, dan berlari ke arah Sasuke. Melihat ekspresi dan gerak tubuh Naruto yang berlari sambil bersiap-siap untuk memeluk, Sasuke langsung membuka tangannya dengan lebar, bersiap-siap untuk menerima pelukan sang pujaan hati.

Naruto pun berlari semakin dekat ke arahnya, dan tatapan tajam seorang Sasuke pun melembut. 'Naru-chan!' pikir Sasuke dengan senyuman yang sedikit terukir di bibirnya.

Naruto pun telah berada di depannya, dan Sasuke akan memeluknya ketika Naruto—

Lewat!

"Hup, kau semakin lucu ya Naruto," kata Itachi sambil menggendong Naruto.

"...," Sasuke terdiam dengan tangan yang masih terbuka lebar.

"Kakak kelen!" kata Naruto sambil memeluk leher Itachi dengan erat.

"...," Sasuke masih terdiam, masih belum percaya jika Naruto baru saja melewatinya.

'Di-dia melewatiku? Dan dia telah memeluk Aniki?' seru Sasuke di dalam hati.

Sasuke segera merubah posisi 'siap menerima pelukannya' menjadi biasa, memasang wajah dingin a la Uchiha-nya kembali dan membalikan badan untuk memandang kakaknya.

Mata onyx dan onyx pun saling bertemu.

'Lepaskan dia atau aku akan membunuhmu!' Sasuke menggunakan pandangan mata tajamnya untuk mengucapkan kata-kata tersebut pada Itachi.

Itachi tersenyum sadis, nyaris seperti seorang psikopat. 'Coba saja adik bodoh, lawan aku jika bisa!' Itachi pun menggunakan bahasa mata untuk membalas tatapan Sasuke.

GRAP! Tangan Itachi mengelus-ngelus punggung Naruto, hendak menantang Sasuke.

'Aniki!' Sasuke mengepalkan tangannya, dan memandang Itachi dengan tatapan lebih tajam.

'Menantang aku adik kecil?' pikir Itachi dengan senyuman bertambah lebar ketika melihat adiknya bertambah geram.

Itachi mempererat pelukannya pada Naruto, sehingga membuat Sasuke mengutuk Itachi di dalam dirinya, dan itu semua terlihat sekali dari sorot mata Sasuke yang terus menajam. 'Aniki menyebalkan, aku akan membunuhmu jika kau menyentuhnya lebih lanjut!' pikir Sasuke yang sudah membuat matanya setajam atau semenakutkan mungkin— tetapi tidak ada hasil jika itu dilakukan pada Itachi.

'Hati-hati adik, matamu itu bisa keluar?' pikir Itachi yang ternyata tidak takut sama sekali pada tatapan Sasuke.

Itachi mendekatkan bibirnya pada telinga Naruto, dan membuat Sasuke bereaksi, untuk menginjak kaki kakaknya. "Naru-chan, suka kakak?" tanya Itachi yang membuat mata Sasuke akan membelalak sangat besar jika dia bukan Uchiha.

'Apa maksud Aniki-menyebalkan ini?' pikir Sasuke.

'Tentu saja Naruto akan menjawab ti—'

"Iyaaaaaa," jawab Naruto dengan semangat dan polos, tetapi berhasil menghancurkan hati, dan pikiran positif Sasuke dalam seketika.

'Khukhukhu, makan itu adik bodoh!' pikir Itachi sambil mendekap Naruto dengan erat, sedangkan pikiran Sasuke sedang sibuk merencanakan penggalian tanah untuk mengubur kakaknya hidup-hidup.

"Sasu, sudah mau masuk!" tiba-tiba seseorang menepuk pundak Sasuke.

Sasuke memandang orang yang kali ini telah mengganggunya. 'Gaara? Gawat, dia tidak boleh tahu jika aku menyukai bocah pirang kelas empat ini! Sudah cukup aku dipermalukan dengan menangis di koridor!' pikir Sasuke.

Itachi tersenyum penuh kemenangan. "Betul adik ku sayang. Cepat masuk kelas!" kata Itachi.

'Apa maksud dari senyumnya itu?' Sasuke mendengus di dalam hati sambil mengutuk Gaara sampai tujuh turunan karena datang di saat tidak tepat.

"Hn," jawab Sasuke singkat tanpa beranjak dari tempatnya.

"Kalau mengatakan 'hn' berarti ayo cepat masuk!" seru Gaara yang salah mengartikan jika 'hn' sasuke adalah 'iya.'

Sasuke memandang Gaara dengan tajam dan membuat Gaara sedikit bergidik ngeri. 'Aku tidak akan pernah beranjak dari sini tanpa memastikan Naruto terpisah dari kakak ku!' pikir Sasuke yang berpikir untuk mengulur-ngulur waktu masuk kelas.

Itachi pun menyadari jika dirinya hampir terlambat masuk sekolah. Diturunkannya Naruto, dan setelah itu Itachi menurunkan tubuhnya agar wajahnya bisa sejajar dengan wajah Naruto. "Kakak mau sekolah dulu, Naruto sekolah yang rajin ya? Nanti kakak datang lagi buat ketemu Naruto," kata Itachi sambil mengelus rambut Naruto.

Naruto menganggukan kepala.

"Anak baik!" Itachi mengelus rambut Naruto, dan Naruto tertawa dengan riang ketika Itachi mengelus rambutnya.

'Aniki-baka! Lepaskan tanganmu dari kepala Naruto?' teriak Sasuke di dalam hati.

"Kau pergi bersama Sasuke ke kelas ya Naruto," kata Itachi.

Deg!

'A-apa?' pikir Sasuke. YES!

'Eh tunggu!' Sasuke terdiam.

'Tapi...,' Sasuke memandang Gaara yang telah mengerutkan keningnya, heran dengan perkataan Itachi.

'Jika begini aku...,' Sasuke masih terdiam sambil berpikir.

'Harga diri Uchiha harus aku jaga!' pikir Sasuke.

Action!

Sasuke memutar kedua bola matanya. "Aku tidak mau dekat-dekat dengan seorang anak bodoh yang mengucapkan kata 'r' saja tidak bisa," kata Sasuke yang berusaha mempertahankan harga dirinya di depan sahabatnya dan membuat Naruto yang tidak merasa bersalah, dan Itachi langsung melihat ke arahnya.

Naruto dan Sasuke saling pandang.

Naruto mengedipkan matanya dengan wajah tidak berdosa. "Bodoh?" Naruto membeo dengan senyuman yang masih terukir di wajahnya.

Sasuke menggelengkan kepalanya ketika melihat wajah Naruto yang begitu menggemaskan. 'Apa yang aku katakan? Apa yang aku katakan pada anak semanis ini?' pikir Sasuke yang sudah merasa telah terjatuh ke dalam jurang kenistaan yang sangat dalam.

'Ah! Lupakan! Aku harus segera menghindar dari sini!' seru Sasuke di dalam hati.

Sasuke memalingkan muka, dan berusaha untuk tidak mempedulikan Naruto. "Ayo Gaara, kita ke kelas!" ajak Sasuke yang tidak mau mendengar Naruto bertanya yang tidak-tidak dan menangis seperti kemarin.

'Iya,' jawab Gaara singkat, dan langsung mengekor Sasuke yang sudah berjalan menuju gedung sekolah terlebih dahulu.

Iruka yang sejak tadi terdiam sambil memandang Naruto dan Itachi dari kejauhan kali ini mendekati mereka berdua—ketika Sasuke dan Gaara sudah memasuki gedung sekolah. "Ah, jika tidak keberatan aku akan membawa Naruto masuk kelas juga," kata Iruka setelah berdiri di samping Itachi.

Itachi memandang Iruka, dan menganggukan kepalanya. "Iya, sampai jumpa Naruto-manis!" kata Itachi, dan setelah itu Itachi pun pergi dari hadapan Iruka dan Naruto.

"Dadaah kakak kelen!" seru Naruto dengan riang.

Iruka tersenyum memandang wajah Naruto yang begitu gembira. Setelah Itachi sudah menghilang dari hadapan mereka berdua, Iruka akan mengajak Naruto memasuki ke kelas sebelum—

"Adik kakak kelen malah sama Nalu, ya?" tanya Naruto dengan nada sedih dan wajah tertunduk.

'Eh?' mata Iruka membelalak.

'Jadi sejak tadi dia berpura-pura riang?' pikir Iruka yang sedikit terkejut dengan sikap Naruto yang bisa menyembunyikan emosinya.

"Tidak, tidak Naruto! Tidak mungkin adik kakak keren itu marah pada Naruto," kata Iruka dengan nada lembut dan berusaha menenangkan Naruto.

"Tidak mungkin? Kenapa?" tanya Naruto dengan sorot mata penuh keingintahuan.

Iruka tertawa kecut sambil mengelus-ngelus leher belakangnya. 'Inilah susahnya jika berbicara dengan seorang anak yang penuh keingintahuan,' pikir Iruka di dalam hati.

"Ng—" Iruka mencoba mencari alasan.

'Tidak mungkin aku menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya,' pikir Iruka.

"Nalu.. Nalu nyebelin ya? Nalu.. dibenci?" tanya Naruto sekali lagi.

"Ng—" Iruka memandang langit, seolah-olah di atas sana ada jawaban.

"Ng?" tanya Naruto dengan sorot mata berbinar-binar, dan meloncat-loncat tidak sabar, ingin tahu apa jawaban Iruka.

"Iya karena adik kakak keren itu baik," kata Iruka sambil menggandeng tangan Naruto.

"Baik? Adik kakak kelen—" Naruto pun mengangguk, dan senyumnya kembali mengembang..

'Tuhan jangan sampai dia bertanya lebih lanjut. Lagipula alasan apa yang telah aku gunakan untuk menjawab pertanyaan Naruto?' Iruka sudah merasakan perasaan tidak enak.

"Hehehe," Naruto tertawa renyah.

"Iya, adik kakak kelen memang baik!" kata Naruto dengan nada yang polos, dan membuat Iruka lega karena Naruto tidak bertanya lebih lanjut.

'Syukurlah dia tidak bertanya lebih lanjut,' pikir Iruka sambil menghela napas. Terkadang anak ini memang bikin jantungan!

"Oh Iluka... Nalu tahu adik kakak kelen nggak malah, tapi Nalu tetap mau minta maaf sama adik kakak kelen," kata Naruto dengan arti kata-katanya, 'Oh Iruka, Naru tahu adik kakak keren nggak marah, tapi Naru tetap mau minta maaf sama adik kakak keren.'

"Eh?" Iruka memandang wajah Naruto dengan heran.

Naruto mengangguk perlahan. "Iya... Nalu suka buat susah adik kakak kelen," kata Naruto dan membuat Iruka tertegun.

Iruka tersenyum. "Ada caranya buat bisa membuat adik kakak keren Naruto buat menerima maaf Naruto," kata Iruka, dan membuat Naruto memandang dirinya dengan berbinar-binar.

"Cala?" tanya Naruto sambil memiringkan kepalanya.

"Itu adalah...," Iruka pun menjelaskan rencananya pada Naruto.


Berbohong adalah hal terakhir yang dilakukan ketika kau sudah tidak bisa melakukan apapun


Pikiran Sasuke kembali terganggu. Dengan tatapan kosong mata onyx-nya memandang pemilik baju ketat hijau norak yang sedang sibuk berteriak dengan semangat untuk memandu murid-murid kelas enam yang sedang berlatih sepak bola.

Sasuke menghela napas untuk kesekian kalinya, dirinya telah menyadari jika pemilik rambut pirang, dan mata biru telah berhasil menghiasi pikirannya akhir-akhir ini, tetapi tetap saja dirinya tidak bisa menghilangkan si pirang dari pikirannya .

"Sasuke giliranmu!" teriak pemilik baju hijau norak yang ternyata adalah guru olah raga, dan membuat Sasuke kembali terfokus.

Sasuke sedang bersiap-siap untuk memasuki lapangan ketika melihat sosok yang sedang dipikirkannya sedang berlari. Mata Sasuke menerawang-memandang sosok tersebut. 'Naruto? Mau kemana si Dobe itu?' pikir Sasuke yang akan menyusul Naruto, sebelum—

"Sasuke! Ayo!" teriak guru olah raga tersebut dan membuat Sasuke kembali terfokus pada pelajaran olah raga.

Sasuke melihat ke arah Naruto berada, lalu kembali melihat pada lapangan. 'Fokus Sasuke! Kau tidak boleh mempermalukan dirimu lebih lanjut,' pikir Sasuke sambil menyemangati dirinya sendiri.

'Kau harus buktikan jika kau adalah yang terbaik!' Sasuke memasuki lapangan.

'Karena dengan demikian—' Sasuke meregangkan tubuhnya.

'Aku pasti bisa mengalahkan Aniki, dan membuat Naruto mengatakan jika aku adalah pacarnya! YES!' pikir Sasuke sambil memandang gawang yang harus dibobolnya. 'Dan nanti aku bisa membuat Aniki merasakan bagaimana tidak enaknya dipermalukan, hohoho,' pikir Sasuke yang sudah mulai terlihat maniak di mata team sepak bolanya karena tersenyum-senyum sendiri.

Di tempat lain, para anak perempuan yang sedang sibuk bermain bola tangan pun langsung berhenti beraktivitas karena menyadari Sasuke memasuki lapangan dan akan segera bermain bola. Mereka pun sibuk berlari ke arah lapangan sepak bola untuk menyemangati Sasuke.

"Sasukeeeee!" teriak para anak perempuan sedangkan anak laki-laki hanya memandang Sasuke dengan tatapan sebal sekaligus iri.

Sasuke tidak mempedulikan teriakan anak perempuan yang menyemangatinya maupun tatapan sinis para anak laki-laki. Sasuke hanyalah terfokus pada pemilik mata berwarna biru yang sedang memandang dirinya dari kejauhan.


Jika jodoh sudah ditentukan kenapa cinta harus diperjuangkan?


"Sasuke hebat!" teriak seluruh anak perempuan dan para anak laki-laki yang berdiri di pinggir lapangan sepak bola.

"Istirahat sepuluh menit!" teriak guru Gai dengan penuh semangat, dan membuat anak-anak berhamburan ke pinggir lapangan.

Sasuke memandang gawang yang telah dibobolnya hanya dalam beberapa menit. Senyum a la Uchiha terlukis di bibirnya. Matanya memandang ke arah dimana dia terakhir kali melihat Naruto.

Eh?

'Tidak ada?' tanya Sasuke di dalam hati sambil melihat ke kiri dan ke kanan.

'Dimana dia? Dia keluar dari kelas kan? Terus sekarang dimana?' Sasuke kembali mencari sosok yang menambat hatinya sampai—

"Waaah manis sekali!" terdengar anak laki-laki dan anak perempuan yang sejak tadi berdiam diri di pinggir lapangan.

Sasuke memandang ke arah sumber suara dan melihat jika teman-temannya sedang menyubit pipi Naruto bahkan memeluk Naruto. Mata Sasuke berkilat tajam. Dia benar-benar tidak suka jika seseorang menyentuh apa yang sudah dianggap menjadi miliknya. Akhirnya, Sasuke berjalan ke arah teman-temannya dan memandang sosok yang sedang digandrungi tersebut.

"Adik kakak kelen?" kata Naruto dengan senyuman hangat, ketika Sasuke berdiri di hadapannya.

"...," Sasuke terdiam.

"Adik kakak kelen hebat! Nalu mau bisa main bola kayak adik kakak kelen," seru Naruto sambil meloncat ke arah Sasuke dan memeluk Sasuke dengan erat sehingga Sasuke terjatuh ke atas tanah dengan Naruto di atasnya.

"Kyaaaaaaaa!" teriak para anak perempuan di sekeliling Sasuke ketika melihat suasana manis di depan mereka.

'A-aku dikatakan keren?' Sasuke tidak bisa menahan senyumnya, dan tangannya mulai bergerak hendak mengelus rambut Naruto sebelum—

"Sasuke ternyata menyukai bocah!" seseorang berteriak dan membuat Sasuke tersadar dengan apa yang telah dilakukannya.

Sasuke memandang mata biru di depannya yang begitu cerah, dan selalu membuat hatinya berdebar-debar. "Aku...," kata-kata Sasuke seperti tertahan.

"Wah yang benar? Jadi anak kelas empat cadel ini yang disukai Sasuke? Eh? Bukannya itu anak yang menangis bersama Sasuke di koridor kelas empat?" ada satu lagi suara yang membuat hati Sasuke sedikit geram karena telah menghina orang yang disukainya.

"Benarkah itu Sasuke?" tiba-tiba anak perempuan yang memiliki rambut merah muda dan bernama Sakura mendekati dirinya dan memandang Sasuke.

Deg!

Sasuke mengalami posisi yang sulit. Di suatu sisi dia harus mempertahankan harga dirinya sebagai seorang Uchiha, dan memperbaiki kesalahannya di waktu lalu karena telah menangis di koridor. Di sisi lain, dia tidak bisa membohongi dirinya sendiri jika dia menyayangi anak kecil cadel alias anak bodoh yang sedang terduduk di atas tubuhnya.

"Waaaah, benar-benar! Lihat wajah Sasuke yang berubah menjadi hangat ketika melihat anak ingusan ini!" kata seseorang anak laki-laki yang sok tahu dan membuat seluruh anak laki-laki di sekitarnya tertawa.

'Mereka mengtertawakan aku? Sial!' pikir Sasuke.

Gaara berjalan ke arah pinggir lapangan dan akan memarahi mereka yang mengtertawakan Sasuke, tetapi—

Mendengar tawa teman-temannya yang semakin keras secara reflek Sasuke menyingkirkan tubuh Naruto dengan kasar. "Kau tidak bisa berhati-hati apa?" seru Sasuke sambil memalingkan muka.

Mata Naruto membelalak. "Ma..maaf..," bibir Naruto pun bergetar.

Gaara yang tadinya akan membantu Sasuke kini mendekati Naruto, dan berjongkok sambil memegang pundak Naruto. "Kau tidak boleh terlalu kasar Sasu, dia hanya meme—"

"Aku tidak berbicara padamu! Aku berbicara pada anak yang tidak tahu aturan ini!" seru Sasuke pada Gaara dengan nada yang begitu dingin dan membuat Naruto gemetar katakutan.

"Uchiha jangan kasar pada Gaa-chan!" teriak seseorang yang ternyata adalah Neji Hyuuga.

Gaara memandang Neji dengan kesal. "Hyuuga-san jangan berteriak pada Sasu! Dan Sabaku-san untukmu! Lalu untuk apa Hyuuga ikut campur urusanku?" teriak Gaara.

Mendengar ucapan Gaara, Neji mengepalkan tangannya. "Gaa-chan jahat!" teriak Neji dan setelah itu Neji berlari, menembus kerumunan murid-murid yang sedang menonton 'drama dadakan' di depan mereka.

"Waaah, Neji patah hati tuh!" kata anak-anak sambil berbisik-bisik.

"Iya, habis yang disukainya Gaa-chan yang terkenal galak sih," balas teman bisik-bisiknya.

Sasuke pun memijat-mijat pelipisnya, pusing dengan keributan yang terjadi.

Naruto memegang jari-jari Sasuke, membuat Sasuke terfokus dan terpaku di tempat. "Adik kakak kelen, Nalu minta maaf..," mata Naruto mulai sembab. Melihat bibir dan wajah Naruto yang sebentar lagi akan menangis Sasuke menelan ludah, mencoba menenangkan hatinya. 'Ah! Kenapa dia harus memasang wajah seperti itu di saat seperti ini?' teriak Sasuke di dalam hati.

'Tapi... aku tidak boleh kalah!' Sasuke mencoba menghilangkan perasaannya pada Naruto.

"Kau! Untuk apa kau di sini, anak bodoh?" tanya Sasuke dengan mata berkilat tajam, dan nada suara yang begitu dingin.

"Na..Nalu," Naruto akan mengeluarkan air matanya ketika—

'Si-sial! Jangan menangis lagi! ' teriak Sasuke di dalam hati.

Kabul dali kelas..," kata Naruto sambil menundukan kepalanya.

'A-apa?' pikir Sasuke sambil mengerutkan keningnya.

"Hn, kau memang tidak pantas untuk berada di sekolah khusus anak-anak pintar ini, Dobe," Sasuke berkata ngasal, hendak memperlihatkan pada teman-temannya jika dia tidak pernah peduli pada anak kelas empat ingusan yang sebentar lagi akan menangis.

"Sasu!" seru Gaara.

"Kau kira kali ini aku bisa luluh hanya karena kau menangis anak cengeng?" tanya Sasuke sambil mendekatkan dirinya pada Naruto, hendak bertindak lebih kejam.

Naruto menggelengkan kepalanya. "Nalu...," Naruto mencoba untuk menjawab pertanyaan Sasuke, tetapi suaranya seperti tertahankan oleh aura kejam yang dipancarkan Sasuke.

"Nalu apa Hah?" tanya Sasuke.

Naruto mengangkat sebelah tangannya untuk memperlihatkan benda yang berwarna bulat, dan di bungkus dengan plastik. "Na-Nalu mau ngasih ini," kata Naruto dengan suara yang bergetar.

Mata Sasuke membelalak sambil memandang permen yang ada di tangan Naruto. 'Di-dia!' pikir Sasuke.

'Kabur dari kelas hanya untuk memberikan benda ini pada Aniki?' Sasuke tidak bisa menahan amarahnya, dan dia mengutuk Itachi di dalam hatinya.

"Sudah aku bilang, Aniki tidak akan menerima barang murahan seperti ini!" teriak Sasuke dengan penuh emosi, dan jiwa kekanak-kanakannya langsung keluar dalam seketika.

Air mata Naruto mulai mengalir. "Ini bukan buat kakak kelen...," kata Naruto dengan suara bergetar dan sedikit berteriak, tidak mau kalah dari teriakan Sasuke.

"Ta—tapi...," Suara Naruto tertahankan.

"—ini buat adik kakak kelen!" Naruto pun menghapus air matanya.

Gaara memandang wajah Sasuke dengan tatapan yang tajam. Sedangkan Sasuke tidak bisa berkata-kata, tertegun dengan ucapan Naruto.

"Kalau adik kakak kelen nggak suka, jangan teliak sama Nalu...," Naruto menggenggam permen yang di tangannya dengan erat.

Melihat Naruto, para penonton alias teman-teman, dan fans Sasuke memandang Sasuke dengan miris, mengira jika Sasuke benar-benar orang terkejam di seluruh dunia.

Semua terdiam.

Gaara menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku Sasuke.

"Sudahlah jangan nangis, ayo kakak antar ke kelas," kata Gaara sambil menyentuh pundak Naruto, dan telah berhasil memecahkan kesunyian yang sempat tercipta.

"Naruto jangan keluar dari kelas, nanti gurunya Naruto cemas...," Gaara menasehati Naruto dan akan menggandeng tangan Naruto untuk beranjak pergi dari lapangan, dan menuju kelas Naruto.

Sedangkan Sasuke...

"Ini buat adik kakak kelen!" Naruto pun menghapus air matanya.

'I-itu untuk ku?' pikir Sasuke yang masih terpaku di tempat, pinggir lapangan.

"Kalau adik kakak kelen nggak suka, jangan teliak sama Nalu...," Naruto menggenggam permen yang di tangannya dengan erat.

'Bagaimana aku tidak menyukainya?' Sasuke mulai menggerakan tubuhnya menuju Naruto dan menarik Naruto—

GRAP!

Sasuke membalikan tubuh Naruto dan tiba-tiba memeluk Naruto dengan erat. "Tidak akan aku biarkan kau lepas kali ini anak bodoh," kata Sasuke.

'Aku pasti menyukai apapun dari anak bodoh ini!' pikir Sasuke sambil memeluk Naruto tambah erat.

Mata biru Naruto membelalak. Orang yang memeluknya ini benar-benar aneh. Terkadang dia sangat galak, dan terkadang dia sangat baik. Tetapi ya sudahlah! Naruto menghapus air matanya, dan tersenyum kembali, sehingga seluruh anak perempuan dan anak laki-laki tidak bisa menahan teriakannya untuk mengejek dan menyoraki Sasuke yang terkenal sebagai 'little ice prince.'

"Jangan menangis lagi!" seru Sasuke sambil menikmati harumnya rambut Naruto, tidak peduli jika guru olah raga yang bernama Gai berteriak-teriak mengenai 'waktu istirahat telah selesai.'

"Iya adiknya kakak kelen—" kata Naruto dengan seringai yang menghiasi wajahnya.

"—Nalu nggak nangis kok, hehehe," jawab Naruto dengan nada polos, dan diiringi tawa yang begitu renyah.

Sasuke terdiam dan melepaskan pelukannya.

Mata onyx memandang mata biru. "Sasuke-senpai, panggil aku Sasuke-senpai!" jawab Sasuke dengan senyuman manis, dan membuat seluruh fans di sekitarnya pingsan karena kehabisan darah.

Naruto tersenyum kecil, membalas senyuman milik Sasuke. " Senpai? Teme! Sasuke-Teme-senpai!" seru Naruto sambil menganggukan kepalanya.

Sasuke mengerutkan keningnya. "Te-Teme? Kenapa Teme?" Sasuke membeo.

Naruto tertawa kembali. "Kata kakak kelen jika adik kakak kelen memanggil Nalu-Dobe, Nalu manggil adik kakak kelen, Sasu-Teme!" kata Naruto dengan panjang lebar.

Sasuke nyaris terjatuh kembali ke atas tanah. "A-apa?" seru Sasuke dengan sangat kencang, dan orang-orang di sekelilingnya pun berusaha menahan tawa agar tidak dibunuh oleh Sasuke.

Gaara menggandeng tangan Naruto sambil memandang wajah Sasuke. "Nama kecil yang diberikan 'Naru-mu' itu sangat cocok dan mencerminkan dirimu, Sasu!" komentar Gaara.

"A-apa?" seru Sasuke.

Gaara tersenyum sadis. "Ayo Naru!" Gaara pun menggandeng tangan Naruto, dan mereka pun beranjak pergi—meninggalkan Sasuke yang sedang mencerna 'panggilan' yang telah diberikan oleh Naruto pada dirinya.

'Eh?'

Sasuke menggertakan giginya sambil melihat Gaara dan Naruto yang semakin menjauhi dirinya. Matanya pun berkilat tajam. "Gaara! Siapa suruh kau bawa Naruto?" teriak Sasuke tanpa mempedulikan jika seluruh orang di sekitarnya sudah tertawa dengan sekencang-kencangnya.

FLASHBACK

Iruka tersenyum. "Ada caranya buat bisa membuat adik kakak keren Naruto buat menerima maaf Naruto," kata Iruka, dan membuat Naruto memandang dirinya dengan berbinar-binar.

"Cala?" tanya Naruto sambil memiringkan kepalanya.

"Itu adalah dengan memperlihatkan kasih sayang Naruto pada adik kakak kelen," kata Iruka sambil menaiki tangga—menuju kelas Naruto.

Naruto menggelengkan kepala. "Nalu nggak ngelti," kata Naruto dengan nada kecewa.

Iruka memandang Naruto yang terlihat sedih. "Eh? Jangan sedih dong Naruto. 'Kan Naruto sudah menunjukan kasih sayang pada kakak keren," kata Iruka.

Naruto memandang mata Iruka dengan mata biru yang begitu jernih—seperti langit yang cerah. " Menunjukan?"

Iruka tersenyum kecil. "Iya, dengan memeluk, memberi sesuatu itu sudah termasuk menunjukan kasih sayang Naruto pada kakak keren—" kata Iruka.

"—Sekarang Naruto hanya memperlakukan adik kakak keren seperti kakak keren," lanjut Iruka.

Naruto mengangguk pelan, dengan senyuman yang lebar di bibirnya. "Nalu ngelti! Jadi Nalu halus ngasih adik kakak kelen sesuatu!" kata Naruto dengan semangat.

Iruka mengangguk.

"Hehehe, kalau gitu Nalu masuk kelas dulu yaaaa... Makasih Iluka!" Naruto tertawa renyah, dan melepaskan tangan Iruka ketika sudah tiba di depan pintu kelasnya.

"Iya, belajar yang rajin," kata Iruka.

Iruka pun memandang Naruto yang sudah memasuki kelas. 'Aku punya firasat tidak enak mudah-mudahan anak polos itu tidak berbuat aneh-aneh,' pikir Iruka.

END FLASHBACK.

Cinta seperti cokelat, manis dan pahit adalah bagaimana kau mengolah cokelat tersebut

BERSAMBUNG...


Terima kasih sudah membaca sampai chapter 2... Mudah-mudahan cerita ini tidak buruk. Sampai jumpa di chapter 3 sobat..

Salam hangat,

Ryutaro.