-Unspeakable Secret-

Baby Aery HHS

HunHan

GS

.

.

.

-Preview-

"Silakan dinikmati tuan." Dua pelayan membungkuk kepada Sehun dan juga Luhan setelah mereka menghidangkan makanan khas Italy yang Sehun pesan.

"Cepat dimakan, Lu."

"Ini terasa lucu. Biasanya aku yang melayani tapi sekarang aku yang dilayani."

Sehun tersenyum tipis saat mendengarkan gurauan Luhan. "Kau harus terbiasa dengan situasi ini."

"Kenapa?"

"Karena mungkin ini bukan terakhir kalianya aku mengajakmu datang ke restoran."

Luhan terdiam. Ucapan Sehun sama sekali tidak menyinggung hati Luhan. Hanya saja, apa yang Sehun katakan seolah seperti menggambarkan dari mana mereka berdua berasal. Memalukan mungkin jika Luhan jujur mengatakan ini yang pertama untuknya makan di restoran mewah, sementara untuk Sehun mungkin ini adalah hal yang biasa seperti ia yang sering makan makanan yang dijual di pinggir jalan.

Sehun mendongak, begitu menyadari Luhan tidak menyentuh sama sekali makanan yang ia pesan. "Kenapa Lu? Apa kau tidak suka? Kau bisa memesan makanan lain.. apa mau aku pesankan?"

Sebuah gelengan Sehun dapatkan sebagai jawaban. Luhan mengambil garpu dan sendok yang terletak di atas meja, menatap sekilas sajian penuh aroma keju yang terhidang hangat didepannya lalu mengalihkan tatapannya kepada Sehun. "Aku merasa ingin tahu, kenapa kau mendekatiku sementara pria lain mungkin menjauhiku.. semua hal yang ada di dalam diri kita berbeda, dan aku hanya merasa penasaran tentang itu."

Sehun terdiam sejenak sebelum ia meraih tangan kanan Luhan dan menggenggamnnya dengan lembut. Tatapan Sehun terlihat serius, tatapan ini biasa Luhan lihat di kantor ketika Sehun tengah mengambil keputusan.

"Kau ingin tahu alasanku?"

Luhan sama sekali tidak menjawab. Toh Sehun pasti mengerti dengan jawabannya.

"Itu karena aku mencintaimu, Luhan."

.

.

.

.

.

"Kau masih memikirkan ucapanku? Jika kau merasa tidak nyaman, kau tidak usah banyak mengingatnya, Luhan."

Satu usakan lembut, Luhan rasakan mendarat di puncak kepalanya. Dengan senyuman tipis, Luhan menggeleng dan menatap Sehun yang berjalan beriringan dengannya. "Aku hanya terkejut dengan ucapanmu." Luhan berkata dengan diselingi perasaan ragu. Ia sendiri tidak mengerti dengan apa yang tengah ia rasakan sekarang. Harusnya ia merasa senang bukan saat Sehun mengungkapkan sebuah kata yang bahkan tidak pernah ia bayangkan keluar dari belah bibir Sehun, tapi entah kenapa. Ada perasaan asing yang membuatnya tidak nyaman yang secara tidak langsung mengganggu dirinya.

"Tapi aku cukup merasa lega karena sudah mengungkapkannya kepadamu."

Langkah Luhan terhenti saat mereka sudah sampai di depan rumah Luhan, begitupun dengan langkah kaki Sehun. Mereka saling berhadapan dan juga saling menatap satu sama lain. Luhan terdiam beberapa detik, sebelum akhirnya ia maju satu langkah dan berhambur dalam pelukkan Sehun. Sehun tersenyum kecil, merengkuh pinggang Luhan untuk semakin merapat kepada dirinya. Keduanya sama sekali tidak memperdulikan orang-orang yang berlalu lalang disekitar mereka. Mereka terlalu larut dalam buaian kenyamanan yang mereka rasakan.

"Apa kau mempekerjakanku karena ini? Aku dengar, kau tidak pernah menggunakan jasa asisten."

Kekehen kecil bisa Luhan dengar, dan anggukan yang sedikit mengenai puncak kepalanya membut Luhan mendongak menatap Sehun. "Benar.. itu karena aku ingin kau terus berada di sampingku. Tapi aku harap kau pun bekerja dengan baik dan tidak hanya memakan gaji buta semata karena aku mencintimu.."

Luhan mendecak dan itu mengundang tawa lepas Sehun yang merasa senang karena sudah menggoda Luhan. Dengan gemas, Sehun menggigit hidung Luhan hingga membuat pipi Luhan memerah semerah tomat. "Lakukan apapun yang kau mau dan kau sukai.. selama itu bukan meninggalkanku, aku akan mendukungmu.." Sehun mengelus pipi Luhan yang tengah tersenyum tipis.

"Aku tidak akan meninggalkanmu karena aku juga mencintaimu, Sehun."

"Aku harap begitu, Luhan." Karena Sehun yakin, mungkin Luhan tidak akan sudi lagi untuk melihatnya jika tahu ia sudah memiliki seorang istri yang selalu menungguinya pulang. Memikirkan hal semacam itu membuat Sehun merasa ketakutan sendiri hingga sulit bernafas. Ia tidak ingin kehilangan Luhan.

Luhan mengambil dua langkah mundur, melepaskan dirinya dari pelukkan Sehun. "Terimakasih untuk malam ini.. pulanglah, sekarang sudah larut. Kau butuh istirahat untuk besok.."

"Aku akan pulang setelah kau masuk."

"Hati-hati di jalan." Luhan berbalik, setelah mendapatkan anggukan dari Sehun. Berjalan dengan langkah kecil untuk menuju pintu utama rumahnya. Ia senang, sangat merasa senang karena mungkin hubungan mereka sudah resmi sebagai sepasang kekasih. Baekhyun pasti akan berteriak kencang jika mengetahui hal ini. Satu helaan nafas Luhan keluarkan, berusaha melegakan perasaannya yang masih sedikit terasa tidak enak.

"Luhan.."

"Ya?" Luhan berbalik, dan tepat saat itu juga ia merasakan sesuatu yang basah menempel pada bibirnya. Mata rusanya mengerjab terkejut, dan hatinya terasa berdenyut menyenangkan saat merasakan lumatan kecil yang Sehun lakukan di bibir bawahnya. Perlahan, mata Luhan terpejam dan ikut melakukan seperti apa yang Sehun lakukan.

Sehun menarik pinggang Luhan membuat tubuh Luhan benar-benar menempel padanya. Lumatan Sehun terasa semakin kuat dan sedikit membuat Luhan kualahan untuk mengimbangi. Lelehan saliva mengalir keluar dari celah bibir keduanya, hingga membuat ciuaman mereka terasa lebih hangat dan panas. Gairah Sehun terasa tersulut hanya dengan mencium bibir cherry Luhan.

Luhan melepaskan tautan mereka walaupun di awal Sehun tetap mengejar bibirnya yang basah, namun Luhan menahannya karena pasokkan udara di dalam paru-parunya terasa menipis dan hampir habis. Nafas Sehun pun masih terasa memburu saat menerpa pemukaan wajah Luhan. "Ini ciuman pertama untukku, dan aku tidak ingin ini menjadi ciuman terakhirku hanya karena aku kehabisan nafas."

Sehun tertawa kecil, menjauhkan diri dari Luhan dan menatap Luhan yang sama tengah tertawa seperti dirinya. Ia baru menyadari bagaimana bernafsunya ia saat mencium Luhan. "Kau terlalu manis, Luhan.. aku sampai melupakan kalau kau membutuhkan udara untuk bernafas."

"Kau perayu handal, Sehun." Luhan tersenyum, dan menghapus saliva yang membasahi bibir Sehun setelah ia sendiri menghapus saliva yang membasahi penuh bibir juga dagunya. "Pulanglah.."

"Tidurlah dengan nyenyak.." Satu kecupan Sehun berikan di bibir Luhan sebelum akhirnya ia berjalan menuju mobilnya yang ia parkir tepat di depan rumah Luhan.

Luhan tersenyum, melambaikan tangannya saat mobil Sehun melaju meninggalkan pelataran rumahnya. Dengan lembut, Luhan mengulum bibir bawahnya sendiri yang beberapa menit lalu Sehun sesap. Mengingat, betapa manisnya ciuman pertama yang ia dapatkan membuat Luhan merasa ingin terbang dan semakin dibuat merasa beruntung, karena pria yang pertama kali menciumnya adalah pria yang benar-benar ia cintai juga mencintai dirinya.

.

.

"Luhan, bisa tolong aku? Letakan ini di ruangan tuan Sehun."

"Baiklah.." Luhan menerima dengan senang hati, setumpuk berkes yang dititipkan Hyeri kepada dirinya. Dengan hati-hati, Luhan berjalan untuk menuju ruangan Sehun. Beberapa pegawai menyapa Luhan dengan ramah, membuat Luhan merasa semakin senang untuk bekerja di sini. Tidak seperti di awal kedatangannya, sekarang semua orang sudah tidak lagi menggosipkan dirinya.

Tanpa canggung, Luhan membuka pintu ruangan Sehun karena ia tahu Sehun tidak sedang berada di dalam. Decakan kecil keluar dari bibir Luhan saat melihat meja Sehun terlihat berantakan. Berinisiatif sendiri, Luhan pun membereskan meja kerja Sehun setelah sebelumnya ia menaruh document yang Hyeri titipkan di atas meja.

"Apa yang sedang kau lakukan?"

Sepasang tangan yang melingkar di pinggang dan hembusan nafas lembut yang menerpa lehernya secara tiba-tiba membuat Luhan berbalik dan mendapati Sehun dengan senyuman lebarnya. "Kau sudah kembali?" Luhan menyamankan posisinya dengan sedikit menyandarkan pantatnyas pada tepian meja. Membiarkan Sehun memerangkap dirinya dengan tangan yang bertanggar di sisi kanan juga kirinya.

"Sudah selesai."

"Aku menaruh document yang Hyeri titipkan.." Luhan menunjuk document yang ia maksud menggunakan dagunya.

Sehun tersenyum dan tanpa sungkan mengecup bibir Luhan. Ini adalah hal wajib yang harus ia lakukan saat sedang berdua bersama Luhan semenjak mereka menjalin hubungan.

"Sehun, ini di kantor.." Luhan mengelak dari ciuman Sehun dengan cara menahan bahu Sehun, namun Sehun tidak menghiraukan dan beralih menciumi leher Luhan.

"Tidak apa Lu.. tidak akan ada yang melihat." Sehun tetap kekeh, dan justru menarik tubuh Luhan untuk merapat padanya. Dengan endusan hangat ia menyusuri setiap inci leher Luhan yang tercium wangi sebelum berhenti tepat di bibir Luhan.

Luhan merasakan sendinya melemas saat Sehun menciumnya penuh tuntutan dan tangan yang juga meremas pantatnya. Dengan lemah, Luhan melingkarkan tangannya pada leher Sehun, sekedar hanya untuk menopang diri. "Sehuun.." Desahan halus keluar dari cela ciuaman panas mereka, membuat gairah Sehun terasa semakin menggebu. Ini adalah tindakan terjauh yang pernah ia lakukan kepada Luhan dan Sehun tidak menyangka kalau akan berefek sangat kuat pada kejantanannya.

"Sehun, apa kau ada di dalam? Ini aku, Chanyeol."

"Keparat!" Umpatan kesal meluncur dari bibir tipis Sehun saat mendengar suara berat sahabatnya di luar sana. "Tunggu sebentar!" Sedikit ketus, Sehun menjawab sahutan Chanyeol dan dengan enggan, menjauh dari Luhan yang sudah terlihat berantakan. Bahkan kemeja Luhan sudah sangat lusuh dengan gerakan halus dadanya yang bergerak mengikuti tarikan nafas Luhan. Sehun merapikan penampilan Luhan dengan wajah yang masih terlihat bergairah.

"Ubah mimic wajahmu atau mungkin Chanyeol akan menjarit ketakutan." Luhan tertawa geli saat membayangkan jika ucapannya bisa saja menjadi kenyataan. Tapi itu sama sekali tidak menarik minat Sehun untuk ikut tertawa. Ada hal lain yang menghampiri benak Sehun.

"Luhan."

"Heemmm.."

"Bisakah kau merahasikan dulu hubungan kita?"

Raut wajah Luhan berubah menjadi sedikit datar saat mendengar permintaan Sehun. Oh, tentu wanita mana yang suka mendengar permintaan semacam itu. Harusnya ia paham kalau Sehun bisa ia miliki saat mereka hanya tengah berdua. Luhan hampir tertawa sekarang karena merasa bodoh kepada dirinya sendiri yang sudah berharap untuk Sehun kenalkan kepada kedua orang tuanya.

"Jangan berpikir macam-macam." Sehun menyahut saat melihat raut wajah Luhan yang berubah. Tidak perlu diberi tahu, Sehun pun sudah dapat menerka kalau Luhan pastilah berpikir hal yang tidak-tidak.

"Apa? Aku tidak berpikir macam-macam." Mencoba menghindar dari tatapan mata Sehun, Luhan pun beranjak dari tempatnya. "Chanyeol sudah menunggu, dan aku tidak akan mengatakan apapun kepada siapapun.. Kau tidak usah hawatir." Luhan membuka pintu ruangan Sehun, membungkuk hormat kepada Chanyeol dan segera berlalu dari kedua pria yang terus memandanginya.

Dengan berat, Sehun menghela nafas. Ia tahu kalau Luhan marah karena permintaannya.

"Bukankah itu Luhan? Kenapa dia berada di ruanganmu?" Chanyeol menegur Sehun membuat perhatian Sehun teralih kepadanya.

"Dia bekerja menjadi asistenku.."

"Asisten!" Chanyeol berseru dengan mata melotot. Ia hampir tidak percaya dengan apa yang ia dengar. "Serius?"

Sehun memutar bola matanya malas dan mengambil tempat di sofa yang tak jauh dari tempatnya berdiri. "Apa aku pernah berbohong?"

"Sudah berapa lama?" Chanyeol tetap mengajukan pertanyaan dengan rasa penasaran.

"Entahlah.. aku tidak menghitungnya. Mungkin lebih dari satu bulan." Sehun menjawab kelem, berbeda dengan Chanyeol yang mulutnya semakin menganga lebar. Itu artinya sudah cukup lama.

"Malang sekali nasib Luhan bekerja di kantormu.. tahu seperti ini lebih baik dia bekerja denganku." Chanyeol bergumam kecil. Sedikit merutuk keterlambatannya untuk mendekati Luhan.

"Jangan berharap hal semacam itu.. dia sudah memiliki kekasih." Sehun menyahut gumaman Chanyeol dengan sedikit ketus.

"Ke-ke kasih? Benarkah? Siapa? Kau tahu orangnya?"

"Luhan adalah kekasihku.."

Beberapa detik Chanyeol terdiam, seolah terperangkap di bawah alam sadarnya. Namun setelah kembali mencerna ucapan Sehun, tawa lepas Chanyeol terdengar memenuhi ruangan. "Jangan bergurau.. astaga, leluconmu sangat tidak lucu." Chanyeol hampir terjatuh di lantai karena tawanya yang tidak bisa ia hentikan, jika saja ia tidak menopang diri pada sandaran sofa yang Sehun duduki.

"Tapi kau tertawa, bodoh!" Sehun mendengus kesal kepada Chanyeol. "Lagipula apa yang aku ucapkan bukanlah lelucon. Luhan memang kekasihku!"

"Uhuk!" Chanyeol terbatuk secara tiba-tiba karena tersedak liurnya sendiri, secara otomatis tawa Chanyeol pun teredam bersama liurnya yang ia telan. Mata bulatnya dengan cermat menatap Sehun serius. "Kau berselingkuh?"

"Kau pikir seperti itu?"

Chanyeol mengambil tempat di samping Sehun. "Apa Luhan tau dengan setatusmu.."

"Dia tidak akan menerimaku jika tahu aku sudah memiliki istri.."

Serangan migren terasa menghantam kepala Chanyeol saat mendengar jawaban Sehun. "Astaga, apa yang ada di otakmu, Sehun?"

"Luhan.."

Chanyeol hampir ingin menelan bulat-bulat kepala Sehun yang terus menjawab pertanyaannya dengan kalem. Demi Tuhan! Ini bukan masalah sepele. "Bagaimana jika ia tahu?"

"Aku tidak akan membiarkannya tahu asal kau pun tidak memberi tahu dirinya." Sehun menatap tepat pada bola mata hitam Chanyeol, dan itu bagai sebuah peluru ancaman bagi Chanyeol.

Chanyeol menggelang dengan penuh rasa tidak menyangka akan kelakuan Sehun. "Kau sedang mempermainkan perasaan dua orang wanita, Sehun.."

"Aku tahu, karena itu aku tengah mencoba untuk mengambil keputusan.. aku tidak ingin kehilangan Luhan tapi aku pun masih merasa enggan untuk menceraikan Kyungsoo.. aku butuh waktu dan biarkan untuk sementara seperti ini." Sehun berucap pasti. Perkataannya terdengar seperti ucapan seorang raja yang tidak menerima bantahan ataupun larangan.

Chanyeol hanya mendecak kecil. Ia yakin semua hal buruk tidak akan bertahan lama. Cepat atau lambat, Kyungsoo maupun Luhan akan mengetahui perbuatan Sehun, dan Chanyeol terlalu malas untuk membayangkan akan menjadi seperti apa Sehun saat hari itu tiba.

.

.

Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, namun mata Luhan masih enggan terpejam walaupun tubunya sudah meronta meminta untuk diistirahatkan. Benak Luhan masih dipenuhi dengan permintaan Sehun. Luhan hanya tengah berpikir, Apa mungkin Sehun merasa kalau dirinya tidak terlalu cocok untuk menjadi pendampingnya?

Ketukan pintu terdengar, membuyarkan segala pemikiran Luhan. Dengan malas, Luhan beranjak dari atas sofa ruang tengah dan membuka pintu utama rumah sederhananya. "Kau?" Luhan menatap dengan sedikit terkejut saat mendapati Sehun berdiri di depannya.

"Aku datang, karena aku tahu kau marah padaku.."

Luhan hanya menatap Sehun tanpa minat. Tanpa mempersilakan, Luhan sudah terlebih dulu masuk kembali kedalam rumahnya.

"Ini sudah malam.. kita bisa berbicara besok pagi."

"Aku tidak bisa lebih lama menunggu.." Sehun mengambil tempat duduk di samping Luhan yang sama sekali tidak menatap kepada dirinya. "Berhenti mendiamiku.. aku mohon, jangan mengira yang tidak-tidak. Aku hanya ingin melindungimu, Luhan."

Luhan menoleh kepada Sehun, sedikit tertarik dengan ucapan yang Sehun lontarkan. "Maksudmu?"

"Berikan aku waktu sebelum aku benar-benar yakin bisa memberitahukan kepada dunia kalau kau kekasihku.. aku tidak berbohong, aku sungguh mencintaimu Luhan.." Dengan lembut, Sehun menggenggam tangan Luhan. Sehun tengah mencoba mengirimkan pengertiannya untuk bisa Luhan pahami.

Kedua manik bening mereka saling menatap sebelum akhirnya, Luhan yang lebih dulu menghindari tatapan Sehun. "Aku tidak marah kepadamu, Sehun.. aku hanya tengah berpikir, mungkin kau malu memiliki kekasih sepertiku.." Dan akhirnya, beban yang bersarang di dalam benaknya, berhasil Luhan keluarkan.

"Karena itulah aku datang.. buang jauh pemikiran itu, kau sangat layak menjadi kekasih bahkan istriku sekalipun.."

Luhan kembali menatap Sehun. Hatinya yang semula terasa penuh sesak dalam sekejap berubah bagai taman luas yang memiliki hamparan bunga bermacam jenis. Sehun tersenyum, begitu mendapati senyuman kembali terukir di bibir Luhan. "Aku mencintaimu.." Mengungkapkan rasa cinta yang dimilikinya untuk wanita gelapnya.

"Aku pun mencintaimu.."

"Itu terdengar melegakan.."

Luhan terkekeh pelan, beranjak dari sofa dan berdiri di hadapan Sehun yang masih dengan setia menggenggam tangannya. "Apa yang ingin kau minum?"

"Kau tau apa kesukaanku, sayang.."

Luhan tersenyum lebar. Dengan gesit, kakinya melangkah menuju dapur yang tidak jauh terletak dari ruang tengah. Rumah Luhan tidak memiliki sekat pemisah antar ruang tengah ataupun dapur, sehingga Sehun masih bisa memperhatikan Luhan yang tengah berkutat untuk membuat minuman.

"Lemon tea hangat untukmu.."

"Terimakasih.." Sehun segera meminum satu teguk lemon tea yang Luhan sodorkan.

"Enak?" Dengan penasaran, Luhan menunggu jawaban Sehun.

"Tidak lebih enak dari bibirmu.." Sehun secara sengaja mengerling kepada Luhan, hingga membuat decihan geli keluar dari belah bibir Luhan. "Duduklah.." Dengan kekehan kecil, Sehun menepuk atas pahanya, meminta Luhan duduk di atas pangkuannya yang Luhan turuti tanpa ragu. "Rumahmu terlihat sepi." Sehun merengkuh Luhan dalam pelukannya. Mata sipitnya sedikit menelisik rumah Luhan yang baru pertama kali ia datangi.

"Aku tinggal sendirian.."

"Benarkah?"

Luhan tersenyum tipis, menolehkan wajahnya kesamping dan menepuk pelan pipi Sehun yang menatapnya dengan terkejut. "Hemmm, aku tinggal sendirian."

"Lalu, dimana adikmu yang kau bilang mirip denganku? Aku ingin bertemu dengannya kapan-kapan." Satu kecupan Sehun curi dengan senang dari bibir Luhan.

Tawa Luhan terdengar setelah ia menyamankan posisinya dalam pangkuan Sehun. Luhan terdiam sejenak, mengelus pelan tangan Sehun yang melingkari perutnya saat ia mencoba menggali kembali kenangan kelam yang sudah ia kubur. "Adik-ku berada bersama ibu.. mereka sudah meninggal.."

Sehun sedikit tercengang setelah mendengar ucapan Luhan yang tidak pernah ia sangka. Ia tidak pernah mengira kalau Luhan sudah tidak memiliki seorang ibu.

"Aku ingin kau tahu tentang kehidupanku.. apa kau akan merasa jijik kepadaku jika aku mengatakan, kalau ayah lah yang membunuh ibu dan adikku?"

"Luhan.."

"Aku hidup dengan bahagia, setidaknya itu yang aku rasakan.. tapi semua berubah menjadi seperti di neraka semenjak ayah berubah menjadi mengerikan.. saat usiaku dua belas tahun, ayah membunuh ibu juga adik-ku yang mencoba melindungi ibu.. aku adalah anak seorang pembunuh, Sehun. Apa kau masih mau menerimaku?" Luhan menoleh, menatap kepada Sehun. Menunggu jawaban yang akan keluar dari bibir Sehun. Ia sudah tidak lagi merasa terbebani dengan masa lalunya tapi sekarang, Luhan justru dibuat gelisah akan reaksi Sehun yang tidak bisa ia baca. Apa Sehun tidak bisa menerima masa lalunya? Luhan sedikit berdehem, rasa ketidak yakinan mulai menghampirinya. "Tidak apa jika kau tid-"

"Kenapa kau bertanya seperti itu? Aku merasa kau belum sepenuhnya mempercayai perasaanku.." Nada suara Sehun penuh dengan keseriusan, bahkan sorot mata Sehun terasa dingin bagi Luhan.

"Bukan seperti itu.." Luhan segera beralih duduk di samping Sehun setelah sadar kalau Sehun menangkap lain maksud dari pertanyaannya. Dengan lembut, Luhan menarik dagu Sehun agar menatapnya. "Aku hanya tidak ingin jika suatu saat kau mungkin menyesal kalau tahu tentang hal ini.. aku hanya ingin memastikan, Sehun.."

Sehun mendengus jengkel saat disuguhkan wajah memohon Luhan. "Sudahlah, lupakan perbincangan kita.. aku sangat bersyukur karena kau tidak ikut menjadi korban. Sekarang, dimana ayahmu?"

Luhan menunduk saat mendengar pertanyaan Sehun. "Ini memalukan, Sehun.. ayah berada di penjara.." Sedikit lirih, Luhan menjawab pertanyaan Sehun.

Satu tarikan nafas Sehun hembuskan dengan pelan. Kehidupan Luhan benar-benar jauh dari yang ia bayangkan. Sehun menarik Luhan masuk dalam pelukkannya. Menepuk pelan punggung Luhan hanya sekedar untuk menghilangkah perasaan yang mungkin mengganggu wanitanya. Apa yang Luhan ceritakan justru membuat Sehun merasa semakin ingin memiliki Luhan agar ia bisa menjaga sekaligus membahagiakan Luhan. Ia tidak mengerti kenapa ia bisa begitu mencintai Luhan, tapi sekarang tujuan hidupnya seperti hanya untuk Luhan.

"Baguslah jika dia ada di penjara.. aku tidak peduli dia ayahmu atau bukan. Jika suatu saat dia menyakitimu, aku bersumpah akan membunuhnya menggunakan tanganku.."

Luhan mengeratkan pelukannya kepada Sehun. Matanya terpejam, dengan anggukan yang sedikit ia berikan. "Hemmm, bunuh dia untukku, Sehun.. aku sangat membencinya." Luhan bergumam di ceruk leher Sehun. Ia memang sangat membenci ayahnya dan merasa tidak ingin lagi mengingat apapun yang berkaitan dengan ayahnya.

"Aku akan selalu ada di sampingmu.. kau memiliki ku sekarang.."

Luhan mendongak, membuat Sehun bisa melihat jelas mata Luhan yang sedikit berkaca-kaca. "Jangan tinggalkan aku.."

"Tidak akan.." Sehun menjawab tanpa keraguan. Itu adalah hal yang tidak akan mungkin ia lakukan. Bahkan mungkin Luhan sendiri yang akan meninggalkannya. Bayang-banyang kemungkinan itu kembali menghantui Sehun. Ia harus segera membuat keputusan tapi keputusan apa bahkan Sehun tidak bisa memastikannya.

"Sehun.." Luhan mengelus pipi Sehun saat melihat Sehun seperti melamun. "Kau tidak apa-apa?"

"Aku takut.. aku takut, kalau mungkin kau yang akan meninggalkanku.. aku mohon, beri aku waktu sampai aku bisa mengambil keputusan."

Luhan terdiam dalam kebingungan. Ia tidak mengerti arah ucapan Sehun.

"Hanya jawab, iya.." Seolah paham dengan kebingungan Luhan, Sehun menyela meminta Luhan mengikuti apa yang ia ucapkan.

Luhan tersenyum, dan mengangguk kepada Sehun.

"Aku mencintaimu.."

"Aku mencintaimu.." Tanpa sungkan, Luhan menarik kerah kemeja Sehun. Membuat Sehun kini berada di atas tubuhnya yang sudah terlentang di atas sofa.

Sehun tersenyum, memberi bibir Luhan kecupan kecil bertubi-tubi sebelum akhirnya ia berhenti untuk menatap Luhan. "Kau mempercayaiku, bukan?" Sedikit bergerak untuk menyamankan posisi agar tidak terlalu menindihi Luhan.

Luhan meraih tangan kanan Sehun dan menciumi punggung tangan Sehun dengan mata sedikit terpejam. "Aku mempercayaimu.." Menjawab yakin akan pertanyaan Sehun dengan tatapan mata sayu yang ia layangkan kepada Sehun.

Sehun merasakan nafasnya sudah memberat. Gairahnya terasa sangat teruji akan kepasrahan Luhan di bawahnya. Tanpa berlama-lama, Sehun menyatukan belah bibir mereka sebagai langkah permulaan untuk membawa Luhan melayang dalam buaian panasnya.

.

.

Sehun memasuki kamar Luhan. Duduk di sisi ranjang Luhan setelah ia selesai membersihkan diri juga menyiapkan makanan untuk Luhan. "Bangun, Lu.." Sehun menyentil hidung mancung Luhan dengan tawa geli, saat melihat Luhan menggeliat mencoba untuk menghindar. "Bangun, sayang.."

Mata rusa Luhan perlahan terbuka dan segera melayangkan tatapan kesalnya kepada Sehun. "Aku masih mengantuk, Sehun!" Dengan sentakan kecil, Luhan menarik selimut yang menjadi penutup tubuh polosnya sampai kepala.

Sehun tertawa kecil, saat melirik kaki putih Luhan yang kini tidak tertutupi apapun. Dengan jahil, Sehun menggelitik telapak kaki Luhan hingga membuat Luhan berjingkat dengan tawanya yang mengalun. "Bangun rusa manis.. sekarang sudah jam sebelas siang." Tangan kanannya Sehun gunakan untuk menjagal kaki Luhan yang terus memberontak.

"Ya, aku bangun.. lepaskan, Sehun."

Senyuman puas tersemat di bibir Sehun begitu Luhan menyerah kepada dirinya. Masih dengan tawanya yang belum tuntas, Luhan pun mendudukkan dirinya tepat di depan Sehun. "Pagi.." Luhan tersenyum lebar sembari mencengkram selimut agar tetap menutupi bagian payudaranya.

"Ini sudah siang, sayang.." Satu kecupan Luhan dapatkan dari Sehun, dan lagi ini membuat Luhan merasa ingin melayang. Ia bahagia, sangat bahagia bahkan tidak ada jejak penyasalan atas apa yang sudah ia berikan kepada Sehun semalam. Sebuah mahkota miliknya sudah ia serahkan kepada Sehun sepenuhnya.

Luhan rasa ia harus bersimpuh kepada Baekhyun, karena semalam justru ia yang memulai untuk malam pertamanya bersama Sehun.

"Pakai ini.." Sehun menarik selimut yang menutupi tubuh Luhan dan segera memakaikan gaun tidur yang semalam memang Luhan kenakan.

"Kenapa ini lagi?" Luhan bergumam dengan sedikit mengangkat gaun tidur berwarna kuning kepunyaannya.

"Kau terlihat sexy dengan gaun itu, aku menyukainya.." Sehun tertawa saat mendapati lirikan malas dari Luhan. Dengan acuh, Sehun berdiri dan membopong Luhan ala bridal style.

Luhan sama sekali tidak menolak, ia justru dengan senangnya menyiumi pipi Sehun selama Sehun membawanya menuju ruang tengah. "Wow, kau membuatnya?" Luhan bertanya dengan mata berbinar saat mendapati berbagai makanan sudah tersaji di atas meja ruang tengahnya.

"Tidak, aku memesannya.. aku tidak ingin membuatmu sakit perut jika memakan masakanku.." Sehun mendudukkan Luhan di sofa, dan mengambil tempat di samping Luhan yang tengah tertawa karena gurauan Sehun. "Ayo, kita makan.. kau pasti lelah." Sehun tersenyum penuh arti dan Luhan hanya menanggapi biasa godaan Sehun.

"Selamat makan.." Luhan berseru girang. Tanpa ragu, Luhan pun melahap makanan yang Sehun beli. Dengan senyuman lebar, Sehun menaruh banyak daging di piring Luhan. "Terimakasih.." Satu kecupan Luhan hadiahkan di bibir Sehun hingga membuat Sehun kembali berdecak gelisah akan kejantanannya yang mungkin bisa saja kembali bangun.

.

.

"Sehun belum pulang?" Kyungsoo bertanya kepada salah satu pelayan yang ada di rumahnya.

Seorang bibi setengah baya, menggeleng sembari menyajikan makan siang untuk Kyungsoo. "Belum nyonya.. saya permisi."

Kyungsoo terdiam, wajahnya datar dengan tatapan kosong terarah kedepan. Jika biasanya ia menganggap tidak wajar akan kecurigannya sendiri terhadap Sehun maka sekarang Kyungsoo merasa sangat yakin bahwa ada sesuatu yang Sehun sembunyikan. Entah benar atau tidak, tapi Kyungsoo merasa kalau Sehun memiliki wanita lain di luar sana.

.

.

Sehun mengambil ponsel miliknya yang ia taruh di dalam coat, mengaktifkan benda pipih yang ia non aktifkan sejak kemarin malam dan mendapati banyak pesan dari Kyungsoo. Sehun tidak membuka semua pesan yang ia dapat, hanya mengetik pesan singkat, memberitahu Kyungsoo kalau ia harus pergi keluar daerah secara mendadak dan setelahnya kembali menon aktifkan ponsel miliknya.

"Kau tidak pulang?"

Sehun mendongak, dan melihat Luhan berjalan mendekat menggunakan gaun tidur berwarna merah yang bahkan tidak sepanjang lutut. Sehun bisa melihat bercak merah yang ia buat dibagian tubuh Luhan karena gaun tidur Luhan malam ini cukup terbuka. Payudara Luhan pun seperti menggoda Sehun meminta Sehun untuk menyusu pada putting kecil berwarna pink Luhan. "Bagaimana aku bisa pulang jika kau muncul menggunakan gaun seperti itu, Luhan."

Luhan tertawa pelan. "Aku memang sengaja agar kau tidak pulang." Dengan manis, Luhan tersenyum dan memposisikan dirinya di atas pangkuan Sehun yang tengah duduk di atas sofa. Luhan tertidur terlentang menghadap Sehun, dengan menjadikan lengan sofa sebagai bantal, dan paha Sehun yang tepat berada di bawah pantatnya.

"Kau nakal, Luhan.." Tangan Sehun mulai bergeliaran memasuki gaun tidur Luhan. Mengelus kewanitaan Luhan hingga membuat Luhan menggelijang kegelian. "Aku tidak tahu, kalau kau bahkan lebih menggairahkan jika berada di rumah."

Luhan membusungkan dadanya saat Sehun mulai menyesap putting payudaranya dari luar. Ia memang tidak mengenakan dalaman sehingga Sehun bisa mudah untuk menyentuh dirinya. Katakan ini gila, katakan kalau ia sudah tidak bisa lagi menyaring apa yang benar dan salah. Katakan kalau ia bodoh! Karena itu memang yang tengah Luhan alami. Ia mencintai Sehun, ia mempercayai Sehun dan ia akan memberikan apapun miliknya untuk Sehun karena Luhan yakin, kalau Sehun adalah satu-satunya pria yang tercipta untuk dirinya.

"Aku mencintaimu, Sehun.."

.

.

.

.

.

To be continue..

Seperti yang aku bilang, ini FF simpanan ya.. jadi aku update setiap aku lagi sulit waktu buat nulis WSL. Dan aku minta maaf kalo misalkan ada typo yang tercecer kaya semvak Sehun di chap satu kemarin atau mungkin di chap ini juga. Aku mau bilang sangat-sangat berterima kasih ma review kalian^^ Semoga klian masih mau pada review Ff receh ini buat chap dua-nya lol

Next chap tiga akan diup sesuai kondisi, jadi See yaaa..

Jump! Jump! Jump! Jump! We Are HHS^^

Gomawo, Saranghae..

Review Juseo.