Title :

Love, Fight, Blood

Cast :

SEVENTEEN

Genre :

Romance, Action, Crime, Family

Length :

Chaptered

Rated :

M (for blood scene and some gore. Maybe some sex scene but not really)

Disclaimer :

Nothing

Warning :

Disini, member mempunyai karakter berbanding 180 derajat dengan aslinya. Jadi yang biasanya biasnya konyol, disini jadi kejam semua. Jangan protes, soalnya udah diperingatin. Gak tanggung kalo nantinya ada yang muntah atau gimana, soalnya ada adegan darah.

Sekali lagi, disini semuanya OOC.

.

.

.

.

Untuk Chapter ini, ada adegan pembunuhan yang parah. Gak usah dibayangin apalagi dipraktekin #PLAK
Kalo yang suka muntah lihat darah mending gak usah baca, di skip aja.

Ini bener bener ada adegan darah. Gak tahu kalau menurut kalian biasa aja. Tapi saya saranin kalo gak kuat di skip aja.
Tengkyu.

.

.

.


Love, Fight, Blood


Jeonghan menyeruput latte hangat yang dipesannya beberapa menit lalu. Udara dingin di Seoul membuatnya malas untuk menunggu jemputan Mingyu di gerbang kampus. Jadi ia memilih menyebrang dan duduk di cafe hangat ini.

Mingyu sudah mengirimnya pesan bahwa ia akan telat sekitar 15 menit, ia juga sudah mengirim balasan ke Mingyu untuk menjemputnya di cafe seberang kampus. Biasanya, Jeonghan akan pulang-pergi kampus naik busway atau dibonceng Vernon dengan Harley miliknya. Ia tidak pernah mau dijemput baik oleh Seungcheol atau Mingyu. Tapi karena akhir-akhir ini Vernon selalu berangkat pagi, jadi ia selalu diantar Mingyu dan pulang naik busway.

Hari ini, ia akan mengunjungi Jihoon, adik Seungcheol. Jadi, Seungcheol menyuruh Mingyu untuk menjemput Jeonghan ke rumah Jihoon. Jeonghan membuka ponselnya, belum ada pesan masuk dari Mingyu.

Ia kembali menyesap lattenya, matanya menatap beberapa menu yang tertera di layar cafe,

"Mungkin aku harus membelikan beberapa makanan untuk Jihoon"

Jeonghan pergi ke meja kasir untuk memesan beberapa makanan untuk dibungkus. Saat ia kembali ke mejanya, sosok Mingyu sudah duduk dimejanya tadi sambil menampilkan senyuman bodoh dan melambaikan tangan ke arahnya.

Jeonghan menghampiri Mingyu lalu duduk di depannya, "Kau sudah datang. Kenapa tidak mengirim pesan?"

"Hehe, maaf hyung aku terlambat"

"Eoh? Kau sudah bisa mengucapkan maaf?"

Mingyu memegang bibirnya, ia tersenyum kikuk sementara Jeonghan hanya tersenyum senang. Semenjak kedatangan Jeonghan di keluarga Seungcheol, baik Mingyu maupun Seungcheol berubah menjadi pribadi yang lebih baik. Bukan berarti mereka meninggalkan bisnis gelap mereka tapi tata krama dan sopan santun terhadap orang lain jadi lebih baik. Kecuali Vernon, mungkin karena ia baru pindah ke Korea setahun yang lalu, jadi kehidupannya masih sebebas di barat, walaupun sekarang ia sudah mau memanggil semuanya dengan sebutan Hyung, karena ia makane di rumah itu.

Mingyu menatap box kecil bertuliskan logo cafe itu, "Itu apa hyung?"

"Beberapa potong cheesecake dan blueberry cake untuk Jihoon"

"Aku tidak dibelikan hyung?"

"Kau mau? Akan kupesankan lagi"

Mingyu menggeleng pelan. Jujur, ia belum pernah melihat orang sebaik dan sepolos Jeonghan-hyung. Tidak salah jika Seungcheol-hyung menyebutnya malaikat. Mingyu bersumpah demi apapun dia akan melindungi hyungnya ini. Bahkan jika, Seungcheol-hyung tidak ada. Mingyu akan menjadi orang yang akan melindungi Jeonghan. Ia bahkan tidak tahu, ini disebut apa? Cinta? Mingyu tidak pernah merasakan itu. Yang ia tahu hanya menembak, berkelahi, dan membunuh. Mungkin hanya perasaan sayang terhadap kakak. Ia tidak pernah merasakan perasaan hangat ini kepada siapapun.

"Ayo, berangkat ke rumah Jihoon-hyung. Nanti kita kemalaman. Aku bisa digorok Seungcheol-hyung"

Jeonghan menggenakan mantelnya. Mingyu meraih tas berisi makanan untuk Jihoon. Mereka masuk ke mobil yang diparkir Mingyu di depan cafe. Perjalanan ke rumah Jihoon memakan waktu cukup lama karena apartemennya berada di distrik yang berbeda.

"Mingyu-ya"

"Ne, hyung"

"Boleh bertanya sesuatu?"

Mingyu terdiam sebentar, sebelum melanjutkan kata-katanya,

"Tentu. Hyung mau bertanya apa?"

"eum. . .ini sedikit personal." Jeonghan menarik nafas pelan, ia masih sedikit takut untuk menanyakan pertanyaan-pertanyaan yang menyangkut kehidupan pribadi seorang Choi Seungcheol. Jadi satu-satunya yang ia bisa andalkan untuk tahu adalah Mingyu. Walaupun begitu, Jeonghan tetap harus berhati-hati dengan perkataannya.

Walaupun ia tahu, Mingyu sudah tidak terlalu kejam seperti saat pertama bertemu dengannya tapi tetap saja kau berada di satu mobil dan dikendarai oleh seorang mafia berdarah dingin bung! Apa yang kau harapkan? Sebuah jawaban manis dengan tambahan permen?

"Aku tahu jika Seungcheol, Jihoon, dan Vernon memiliki ibu yang berbeda. Dan Seungcheol sebagai pewaris tertua harus menerima tugas untuk meneruskan eum. . .bisnis ayahnya. Tapi. . ."

"Hyung mau bertanya tentang Jihoon hyung?"

"Iya. Aku sudah dua kali bertemu Jihoon. Dia lelaki yang manis, dan dari yang kulihat sepertinya Seungcheol dan Jihoon tidak dekat ya?"

"Jeonghan-hyung datang ke rumah setelah Jihoon-hyung memutuskan untuk tinggal sendiri. Pantas, hyung tidak tahu"

"Ya, aku bertemu dengan Jihoon sewaktu makan malam bersama dan Seungcheol mengundangnya, yang kedua saat Jihoon ke rumah karena Seungcheol terluka beberapa waktu lalu"

"Seungcheol-hyung, Jihoon-hyung, dan Vernon terlahir dari ibu yang berbeda. Aku dibawa kedua orang tuaku untuk menginap di kediaman Tuan Choi. Saat itu, usiaku masih lima tahun? Atau enam? Entahlah aku tidak mengingatnya. Aku mengenal Seungcheol-hyung. Masa kecil kami tidak dihabiskan dengan bermain monopoli, perosotan atau semacamnya. Masa kecil kami berisi pelajaran tentang membidik lawan, menggunakan pistol, belajar Taekwondo, juga menggunakan kemampuan kami untuk membantu bisnis Tuan Choi"

Mingyu menarik nafasnya dalam, "Aku masih ingat, saat Seungcheol-hyung berusia 12 tahun, dia dijadikan umpan untuk bisa membunuh salah satu musuh besar ayahnya."

Jeonghan membelalakkan matanya, "Umpan? Maksudnya?"

"Sekitar sepuluh tahun yang lalu, Seungcheol-hyung pulang dari sekolah sendirian. Bukan-apa-apa, tapi ia memang mengajukan diri untuk menjadi umpan. Benar saja, beberapa saat setelahnya kami dirumah mendapat telepon ancaman dari anak buah musuh besar Tuan Choi dan meminta Tuan Choi untuk kesana sendirian mengambil anaknya."

Jeonghan mencengkram erat ujung mantelnya, disaat umurnya 12 tahun ia akan selalu bersikap manja pada ibunya, menggelayut lengan ayahnya, dan menyemprotkan cat warna-warni yang akan menyusahkan kakaknya. Berbanding terbalik dengan kekasihnya.

"Rencana itu memang hampir berhasil, Musuh besar Tuan Choi lenyap. The Golden Dragon menjadi grup terbesar sampai sekarang, tapi itu harus dibayar mahal, Seungcheol-hyung pulang dengan beberapa tulang rusuk patah dan wajah yang sudah lebam karena hantaman berkali-kali, dia masih 12 tahun saat itu, aku hampir menangis melihat keadaanya. Kondisinya yang kritis membuatnya harus dirawat. Dia koma"

Jeonghan sudah tidak ingin mendengar ini semua, "Mingyu-ya aku ingin bertanya tentang Jihoon bukan masa lalu Seungcheol"

"Inilah waktu semuanya dimulai hyung. Ayah Seungcheol-hyung mengira anaknya tidak akan bertahan. Jadi ia memutuskan untuk mendatangkan wanita lain ke rumah, Ayah Seungcheol-hyung tidak pernah menikah, tapi dia memiliki banyak one night stand woman. Beberapa diantara mereka hamil. Saat itu aku melihat sosok Jihoon-hyung datang bersama ibunya. Diantara semua wanita yang pernah berhubungan dengan Tuan Choi, hanya ibu Jihoon-hyung yang berasal dari keluarga baik-baik. Entah bagaimana mereka bisa bertemu. Awalnya, Jihoon diperlakukan dengan istimewa. Tapi itu tidak membuatnya menuruti ayahnya. Dibesarkan oleh di kehidupan 'normal' Jihoon-hyung tidak tahu apa-apa tentang hidup kami, Jihoon-hyung tidak seperti kami. Dia tidak bisa menggunakan pistol, dia tidak bisa membunuh, dia tidak bisa berkelahi"

Jeonghan mulai menyadari sesuatu, ketika bertemu dengan Jihoon, namja itu terlihat dingin namun sebenarnya, dialah yang paling hangat diantara mereka.

"Ya, aku juga heran saat makan malam pertama dengan kalian semua hanya Jihoon yang bisa tersenyum dan menunjukkan etika yang benar"

Mingyu kembali ke ceritanya, "Ayah Seungcheol-hyung semakin frustasi. Seungcheol-hyung masih koma, Jihoon-hyung tidak bisa diharapkan. Ia menjadi semakin gila dengan perempuan. Sampai suatu hari, Seungcheol-hyung terbangun dari komanya. Semua menganggap ini adalah keajaiban. Tapi karena pewaris utama sudah baik. Jihoon-hyung jadi diabaikan, baik oleh ayahnya maupun semua orang di rumah. Ibu Jihoon-hyung akhirnya ditemukan bunuh diri di kamarnya, tidak ada yang tahu penyebabnya."

"Jihoon-hyung selalu kesepian, hanya aku yang menemaninya. Tapi aku tahu, dalam lubuk hatinya, Seungcheol-hyung sangat menyayangi Jihoon-hyung. Tapi ia tidak bisa mengungkapkannya. Karena ia selalu merasa bersalah dengan kematian Ibu Jihoon. Menjelang kematian Tuan Choi, Seungcheol-hyung dan Jihoon-hyung tahu jika ayah mereka memiliki anak lain yang sekarang tinggal di San Farnsisco. Anak itu, Vernon. Setelah Tuan Choi meninggal, semua aset miliknya diserahkan kepada Seungcheol-hyung. Ayah Seungcheol-hyung berpesan untuk menjalankan bisnis mereka bertiga. Tapi Seungcheol-hyung tahu Jihoon-hyung tidak mau menjadi seperti kami."

"Jadi ia mengusir Jihoon untuk tinggal terpisah?" jawab Jeonghan

"Tidak. Seungcheol-hyung masih ingin Jihoon-hyung tinggal bersama kami. Beberapa bulan kemudian, Jihoon-hyung memutuskan untuk membeli apartemen dan tinggal sendiri. Ketika aku bertanya padanya, dia hanya ingin hidup normal dan menjadi penulis lagu. Lalu beberapa minggu kemudian, Seungcheol-hyung datang ke rumah membawa seorang bidadari yang jatuh dari langit" ucap Mingyu melirik Jeonghan kecil.

Jeonghan hanya tertawa kecil, tapi jauh di lubuk hatinya ia merasa kesal. Harusnya, ia tahu ini dari Seungcheol, kekasihnya, bukan dari Mingyu.

"Bagaimana dengan ibu Seungcheol dan Vernon?"

"Oh, mengenai ibu Vernon aku tidak tahu. Anak itu dijemput paksa dari San Fransisco karena Tuan Choi sedang sekarat setahun lalu. Kalau ibu Seungcheol-hyung sudah meninggal saat Seungcheol-hyung masih bayi. Setidaknya itu yang dikatakan kedua orang tuaku"

"Lalu orang tuamu dimana sekarang?"

"Mereka di L.A. Mengurusi aset Tuan Choi yang lain. Beberapa bisnis seperti. . .yah begitulah"

Jeonghan menghentikan pertanyaannya. Jalanan sedang macet karena jalur dialihkan membuat perjalanan mereka semakin jauh karena memutar.

"Oh ya hyung. Kau sudah memberitahu Jihoon-hyung kalau kita berkunjung hari ini? Bisa-bisa nanti kita berdiri di depan apartemennya kalau ternyata Jihoon-hyung sedang pergi"

Jeonghan mengerjapkan matanya sebentar,

"AKU LUPA!"

.

.

.


Love, Fight, Blood


.

.

.

Dering ponsel mengganggu tidur namja itu, tangan mungilnya meraih dan menekan tombol jawab tanpa melihat siapa yang menelpon,

"Hm. . . Ada apa?" jawabnya asal-asalan.

"Jihoonie. Ini Jeonghan-hyung. Aku minta maaf baru memberitahumu sekarang, tapi aku dan Mingyu akan ke apartemenmu. Kami sudah di jalan dan akan sampai sekitar 30 menit lagi atau mungkin lebih? Entahlah ini sedang macet parah"

Jihoon terbangun dari tidurnya, rambut acak-acakan dan muka yang masih setengah sadar dia melihat jam dinding kamarnya. Pukul lima. Cahaya temaram masuk melalui celah korden yang menutupi jendela kamarnya,

"Mwo?! Hyung, Ini masih pukul lima pagi! Untuk apa kesini pagi-pagi?!"

"Yak! Lee Jihoon, Ini bukan pukul lima pagi! ini pukul lima sore! Tunggulah setengah jam lagi, aku akan sampai bersama Mingyu. Annyeong"

Sambungan telepon diputus. Jihoon melihat jam di ponselnya, benar saja. 5 p.m

Masih dengan pikiran yang setengah sadar, lelaki mungil ini berlari dan menyibakkan kordennya,

"Aku tertidur selama 13 jam? Gila!"

Ia memang baru tidur sekitar pukul empat pagi untuk menyelesaikan pekerjaannya, tapi tidur 13 jam? Oh my god.

Jihoon beranjak ke kamar mandi, tidak ada waktu untuk mandi. Ia hanya menggosok gigi dan membasuh wajahnya, lalu berganti baju. Namja berambut ungu itu turun dari kamarnya, ia berlari ke dapur dan membuka kulkas,

"Okay, aku punya. . ."

Tidak ada apa-apa disana. Seketika ia teringat beberapa hari ini ia makan di luar karena tidak sempat memasak.

"Aku tidak punya apapun. Aku harus ke minimarket"

Jihoon kembali ke kamarnya dan mengambil dompet, ponsel dan mantelnya. Ia mengirimkan teks ke Jeonghan.

To : Jeonghan-hyung

From : Jihoonnie

Text :

Hyung. Jangan terburu-buru. Kalau memang macet jangan dipaksakan. Istirahatlah di Rest Area jika pegal.

Datang satu sampai dua jam lagi juga tidak apa-apa

Sent!

Jihoon melangkahkan kakinya keluar, setelah mengunci pintu apartemennya, ia beranjak ke minimarket terdekat.

Masa hanya menyediakan air putih untuk tamu?

Setidaknya, ia harus memasakkan sesuatu kan?

Jihoon sampai di minimarket. Ia tidak mau buang waktu, ia cuma punya waktu 30 menit sampai Jeonghan-hyung datang. Belum memasak, belum menyiapkan, belum membersihkan apartemennya. Kalian harus tahu, apartemen Jihoon seperti kapal pecah. Setidaknya, ruang tamu dan seluruh ruang di lantai bawah harus terlihat rapi.

"Kimchi jjigae saja. Lagipula itu cepat dimasak"

Jihoon mengambil beberapa sayuran dan kimchi instant. Juga beberapa ikan beku kemasan. Ia melihat jam di ponselnya, untungnya minimarket sedang sepi jadi Jihoon bisa langsung membayar dan pulang.

"Okay, sekarang hanya tinggal pulang. Memasukkan semua bahannya ke panci. Sambil menunggu matang, aku harus membersihkan ruang tamu"

Jihoon berkata pada dirinya sendiri, menenteng satu tas plastik besar dan berjalan menyusuri jalanan. Jihoon hendak menyebrang jalan kecil di ujung blok. Jalan itu hanya jalan kecil karena menuju perumahan, tidak ada lampu untuk menyebrang.

Jihoon tidak mau tanggung, ia hanya berlari kecil, mendadak klakson mobil terdengar. Sebuah mobil berwarna hitam menerjang ke arahnya. Jihoon menjatuhkan tas plastiknya dan menutup mata

"AAAAAKKKHHHH!"

Beberapa detik berlalu setelah teriakan Jihoon menggema, Namja itu membuka matanya, dia menaruh tangannya di wajah menghalangi lampu mobil yang menyorot wajahnya. Jihoon meraba-raba tubuhnya dari atas hingga bawah.

Kepala? Tidak pecah.

Wajah? Masih imut.

Kaki? Tangan? Masih utuh.

Semua masih pada tempatnya. Ia terduduk di aspal dan memegang dadanya,

"Huh, aku selamat"

Jihoon menoleh, belanjaannya sudah rusak karena terjatuh tadi. Jihoon bangkit dan berjalan menuju kaca mobil bagian supir. Ia mengetok-ngetok kaca mobil itu.

"Yak! Buka! Kau harus tanggung jawab!"

Kaca hitam itu terbuka dan menampilkan namja berambut coklat tua dan namja lainnya duduk di sebelahnya berambut seperti pemen kapas. Jihoon melihat dua namja lain duduk di kursi penumpang satu berambut biru, satu lagi berambut hitam.

'Mereka ini apasih? Mau ke festival mana orang-orang ini. Rambut warna-warni begitu'

Sepetinya Jihoon sendiri tidak menyadari juga kalau rambutnya ia warnai dengan warna ungu.

"Kalian bagaimana sih! Ini jalan kecil untuk perumahan. Ini bukan jalan raya untuk ngebut seenaknya!" bentak Jihoon.

Pemuda berambut biru di kursi penumpang di belakang itu memandang Jihoon intens. Jihoon tahu itu, ia memandang balik ke namja itu dan membentaknya lagi,

"Apa kau lihat-lihat? Ada yang salah? Lebih baik, salah satu dari kalian membayar ganti rugi atau aku akan menghajar kalian"

Itu hanya ancaman, Jihoon tidak benar-benar bisa berkelahi walaupun kakaknya adalah seorang Choi Seungcheol.

Pemuda berambut hitam di belakang membuka suara, "Sebaiknya kau pergi, atau kau akan menyesal"

Jihoon tidak takut dengan ancaman itu, setidaknya ia pernah hidup di keluarga yang lebih menyeramkan daripada ini.

"Kau mengancamku? Kalian itu sudah salah! Tidak bertanggung jawab lagi!. Sekarang keluar atau aku benar-benar akan menghajarmu!"

Jihoon melihat pemuda berambut biru di belakang itu, bukannya berkata sesuatu malah tersenyum sendiri menatapnya,

"Kau gila ya? Senyum-senyum sendiri"

Tanpa Jihoon duga, pemuda itu membuka suara,

"Ya. Aku memang gila. Gila karenamu. Dino-ya. Masukkan dia ke mobil"

"Huh?"

Pemuda berambut hitam yang dipanggil Dino keluar dari mobil dan menyeret Jihoon masuk. Jihoon sendiri berontak dengan segala yang ia bisa.

"Yak! Lepaskan aku bocah!"

"Hoshi-hyung, dia tidak mau diam, bagaimana ini?" teriak Dino ketika Jihoon terus berontak dalam kuncian tangannya.

"Ikat saja dia masukkan ke bagasi mobil. Minghao bantu dia"

Jihoon membelalakkan mata, rasa kagetnya bertambah ketika pria permen kapas yang duduk di sebelah kursi kemudi turun dan membawa tali.

"Hei kalian mau apa? Yak, kau tidak tahu siapa aku huh? LEPASKAN AKU!"

Jihoon terus berontak, tangannya yang dikunci di punggung oleh Dino diikat oleh seutas tali. Tali itu terus memanjang dan diikat di kedua kakinya,

"Apa yang-YA! TURUNKAN AKU"

Jihoon semakin histeris saat tubuhnya dengan mudah diangkat oleh Minghao, Dino membuka bagasi mobil di belakang dan menyingkirkan beberapa kopernya, koper itu ditumpuk dan ditempatkan di bagian yang lebih dalam menyisakan ruang kecil untuk tubuh Jihoon. Sebelum tubuh Jihoon dihempaskan ke dalam, matanya melihat seorang bapak yang sedang berjalan melihat kejadian 'penculikan' dirinya. Tanpa basa-basi, Jihoon berteriak ke arah lelaki paruh baya itu berharap paman itu membawa ponsel, atau berlari melapor ke polisi.

"AHJUSSHIII...! Tolong aku...! Hubungi polisi, catat nomor platnya! TOLONG AKU!..." teriak Jihoon pada lelaki paruh baya itu.

Lelaki itu segera mengeluarkan ponselnya dari saku dan menghubungi polisi. Tapi, Dino dengan sigap mengambil pisau kecil di balik mantelnya dan melempar pisau itu tepat ke arah lelaki itu

CREP

Pisau itu tepat menancap di leher pria itu, darah memuncrat dari luka yang ditimbulkan, tubuh pria itu roboh ke tanah, tangannya mencoba menggapai-gapai gagang pisau di lehernya, tubuhnya menggelepar seperti ikan yang baru keluar dari air.

Dengan ini pria itu akan mati perlahan, dia tidak akan bisa berteriak minta tolong maupun menghubungi polisi karena pita suara kerongkongannnya pasti sudah robek, dan kematiannya pasti menyakitkan karena Dino tahu pisau itu tidak menancap di nadinya tapi hanya di kerongkongan, mungkin ia akan bertahan selama 15 menit dan akan mati karena kehabisan darah.

Jihoon berhenti berteriak melihat kejadian itu, seumur hidupnya tidak pernah ia melihat seseorang terbunuh. Ingatan akan tubuh ibunya yang menggantung di langit-langit kamarnya beberapa tahun lalu kembali, ia bisa melihat tubuh ibunya yang membiru dengan mata dan lidah terjulur karena jeratan kain seprai yang digulung tebal dan digunakan ibunya untuk mengakhiri hidupnya.

Tubuh Jihoon terhempas kasar di bagasi mobil, Punggungnya terasa sakit karena membentur ujung koper yang ditumpuk, dengan banyaknya barang di bagasi membatasi pergerakan Jihoon. Minghao menutup keras bagasi mobil tersebut, Jihoon tidak bisa melihat apa-apa. Tapi sepertinya Minghao dan Dino belum naik ke mobil, Jihoon masih bisa mendengar suara mereka di luar.

"Dino-yah ayo berangkat sebelum ada tikus-tikus yang lain yang melihat ini"

"Tunggu, hyung. Aku harus mengambilnya. Itu kesayanganku"

Minghao memutar bola matanya kesal, Dino menghampiri tubuh lelaki paruh baya yang masih menggelepar itu, Dino menarik gagang pisau, bukannya lepas, pria itu justru memegang tangan Dino. Mulutnya sudah mulai mengeluarkan darah segar.

"Lepaskan" ucap Dino datar

Tapi, sepertinya pria itu masih mempunyai kekuatan terakhir hanya untuk menahan tangan Dino dan berharap seseorang menemukan mereka.

Sudut bibir Dino tertarik membentuk senyum mengerikan, "Oh, kau ingin aku menyelesaikannnya?"

Ia duduk diatas dada pria itu. Bukannya menarik gagang pisau itu, Dino malah mendorong gagang pisau yang digenggamnya perlahan, darah dari mulut dan leher pria itu muncrat membasahi wajah, leher dan mantel Dino sendiri. Ujung pisau yang awalnya hanya berada di tengah kini menembus bagian belakang leher. Dino bisa tahu ketika ujung pisau itu menyentuh tanah.

Mata pria itu melotot ke arah atas memperlihatkan urat-urat yang menahan sakit. Mulutnya menganga membuat darah keluar deras dari sana.

"Dari wajahmu, sepertinya kau ingin tambah ya? With pleasure"

Dengan gerakan cepat, Dino memutar gagang pisau yang digenggamnya. Mata pisau yang semula menghadap ke atas di putar 180 derajat menghadap bawah. Darah tidak berhenti tersembur ke wajah Dino tapi sepertinya namja itu malah semakin bahagia dengan senyum yang terpatri di bibirnya.

Tubuh pria itu menggelepar untuk terakhir kalinya sebelum genggaman tangannya yang dari tadi menahan tangan Dino melemas dan terlepas.

Dino menarik pisaunya perlahan, dapat ia lihat sebuah luka ah. . . bukan! sebuah lubang lebih tepatnya karena putaran pisau dengan diameter sekitar 6-7 sentimeter di tengah leher laki-laki itu, seluruh organ lehernya terpampang, pembuluh darah berwarna kehijauan sampai darah yang belum berhenti mengalir baik dari lubang itu maupun dari mulutnya.

"Sudah?"

Dino menoleh ke arah Minghao yang memegang sapu tangan berwarna putih, ia melempar sapu tangan itu ke arah Dino.

Namja yang bahkan belum legal itu mengusap wajah dan lehernya yang terciprat darah, ia mengelap bersih pisaunya. Sapu tangan yang awalnya berwarna putih itu sekarang basah karena darah yang banyak berasal dari pisau milik Dino. Ia juga mengelap tangannya yang ternoda oleh darah.

Dino berjalan ke arah bagasi, ia membukanya. Jihoon mengerjapkan matanya mencoba menyesuaikan cahaya, dia bisa melihat siluet Dino.

"Kumohon lepaskan aku. . ."

Jihoon terlalu takut sekarang, suara yang keluar dari mulutnya hanya lirihan kecil.

"Kau benar-benar berisik ya. Tidak bisa diam, sampai aku harus mengotori tanganku bahkan saat aku baru sampai di Korea pagi tadi"

Dino menempelkan tangannya yang masih banyak darah pada pipi putih Jihoon, noda darah yang menyentuh kulitnya serta bau amis yang khas menusuk indra penciuman Jihoon.

Air mata keluar dari mata sipitnya, ia merasa kotor walau bukan dia yang melakukan itu semua. Tiba-tiba Dino menyumpalkan sapu tangan tadi ke mulutnya, menekannya dalam hingga Jihoon kesulitan untuk memuntahkannya.

"Begini lebih baik kan? Tidak ada suara"

Lidahnya bisa merasakan rasa asin darah di mulutnya, tangisnya semakin deras.

"Nikmati 15 menit perjalanan kami"

Lalu semuanya gelap kembali ketika Dino menutup bagasi. Jihoon dapat merasakan setelahnya mesin mobil menyala dan mobil mulai berjalan, kepala dan punggungnya terasa sakit saat mobil berjalan karena itu akan membuatnya membentur ujung koper yang ditumpuk di belakangnya. Lima belas menit itu menjadi 15 menit terlama dalam hidup Jihoon, tubuhnya tidak bisa bergerak, air mata yang terus mengalir, dan mulut yang terasa aneh.

'Seungcheol-hyung, tolong aku'

.

.

.


Love, Fight, Blood


.

.

.

Jeonghan mengerucutkan bibirnya kesal. Sedangkan Mingyu? Namja itu sudah mengeluarkan sumpah serapahnya dari tadi. Mereka masih terjebak macet, jalur memutar tidak ada gunanya karena semua orang juga memilih opsi yang sama jadi sama saja macet.

Beberapa menit lalu Jeonghan menerima pesan dari Jihoon yang mengatakan bahwa ia disuruh untuk istirahat di Rest Area. Jihoon bilang tidak apa-apa jika ia datang satu atau dua jam setelahnya. Masalahnya sekarang Jeonghan sudah terjebak selama satu jam! Oh God!

"Mingyu-ya. playlist lagu ini sudah berulang selama 5 kali. Ganti yang lain yah" pinta Jeonghan.

"Itu karena kita sedang macet hyung. Cari saja siaran berita" jawab Mingyu asal-asalan. Namja jangkung itu meregangkan tangannya sejenak.

Jeonghan mengutak-atik hingga radio mobil menyiarkan berita,

"Kunjungan Perdana Menteri Jepang di Korea Selatan mendapat bla. . .bla. . ."

"Perbaikan jembatan penyebrangan di Gang-nam mengalami hambatan bla. . .bla. . ."

"Beralih ke berita dunia hiburan. Dikabarkan dekat dengan seorang atlet ini tanggapan bla. . .bla. . ."

Jeonghan menyandarkan kepalanya bosan, ia hanya menganggap suara pembaca berita di radio sebagai angin lalu sampai sebuah berita membuatnya duduk tegak,

"Kami tunda acara berikutnya untuk sebuah sekilas berita. Ditemukan pria yang tewas mengenaskan di jalan distrik Apgujeong"

Mingyu dan Jeonghan sama-sama menoleh, tangan Mingyu menyentuh tombol volume untuk membesarkan siaran radio itu,

"Korban bernama Kim Pyon-Ho, 56 tahun, seorang pegawai di toko sushi di Apgujeong. Pria ini diduga dibunuh sekitar pukul 05.12 sore. Tubuhnya ditemukan oleh seorang pejalan kaki yang ingin pulang rumahnya di daerah pertokoan di Jalan Nam-chon, Blok A7, Distrik Apgujeong. Pria ini dibunuh dengan cara mengenaskan dengan luka menganga selebar 7 sentimeter yang terdapat di lehernya. Motif pembunuhan masih belum diketahui karena ponsel dan dompet masih utuh ketika ditemukan. Disinyalir pria ini adalah saksi dari suatu kejahatan sebelumnya karena panggilan terakhir di ponselnya mengarah ke kantor polisi. Tempat kejadian perkara merupakan jalanan sepi menuju perumahan yang jarang dilewati kendaraan. Tidak ada saksi mata yang melihat pembunuhan ini. Pelaku tidak meninggalkan petunjuk apapun. Di duga, pelaku adalah pembunuh profesional yang tidak sekali dalam melakukan pembunuhan. Polisi masih berusaha menyelidiki pelaku kasus pembunuhan ini"

Jeonghan cepat-cepat meraih ponselnya, ia mendial nomor Jihoon. Tidak diangkat, ia beberapa kali menghubungi nomor ponsel Jihoon dan tetap tidak diangkat. Jeonghan mengirim pesan kepada Jihoon berharap namja mungil itu membaca pesannya dan menelponnya. Tapi setelah beberapa menit tidak ada telepon masuk maupun balasan pesan dari Jihoon. Rasa khawatir semakin membuncah dalam hati Jeonghan.

Jeonghan terdiam, ia menoleh ke arah Mingyu, seakan tahu namja itu mengambil ponselnya dan menelpon Seungcheol.

"Hm?"

"Hyung, kau sudah tahu ada berita terbaru kalau—"

"Ya aku sudah tahu, barusan dengar dari televisi. Kenapa?" suara Seungcheol terdengar dngin seperti biasanya

Jeonghan menarik lengan Mingyu, namja itu mengangguk dan menjauhkan teleponnnya, ia menekan tombol speaker di layar dan menaruh ponselnya di atas dashboard mobil.

"Seungcheol-ah, ini aku" ucap Jeonghan

"Oh hai, baby. Kau masih di perjalanan, ya? Aku juga lihat di berita kalau jalan menuju Apgujeong mengalami kemacetan karena ada perbaikan jalur" mendadak nada bicara Seungcheol berubah menjadi lebih manis. Mingyu hanya mencibir kecil.

"Iya. Aku masih di perjalanan. Daripada itu, Bukankah TKP pembunuhan itu tidak jauh dari lokasi apartemen Jihoon? Aku khawatir Seungcheol-ah"

"Tenanglah, baby. TKP pembunuhan itu berbeda tiga sub-blok dengan apartemen Jihoon."

"Seungcheol-ah. Aku sudah mencoba untuk menelpon ponsel Jihoon dan tidak dijawab. Aku mengirimnya pesan untuk menelponku, tapi belum ada balasan. Aku sedang terjebak macet disini. Bisakah aku minta tolong untuk memastikan keadaan Jihoon?"

"Baiklah, aku akan menghubungi anak buahku yang ada di Apgujeong untuk menyelidiki keadaan Jihoon"

"Hanya Jihoon okay? Aku tidak mau kau menyelidiki yang lain" ucap Jeonghan.

"Iya. Hanya Jihoon. Nanti aku memberi kabar jika sudah memastikannya. Sudah ya. Nikmati perjalananmu dengan Mingyu. Kabari aku jika sudah sampai apartemen Jihoon"

Dan sekarang baik Jeonghan maupun Mingyu hanya memandang ponsel masing-masing. Sambil menunggu barisan mobil dihadapan mereka bergerak.

.

.

.


Love, Fight, Blood


.

.

.

Seungcheol menutup teleponnya. Matanya masih tertuju di layar LED televisi di ruang kerjanya yang menanyangkan berita yang sama. Tangannya mengambil remote dan mengganti channel berita lain. Tapi semuanya sama. Tanah Korea sedang gencar meributkan satu pembunuhan. Bahkan beberapa diantara pembicara kepolisisan yang diundang menyatakan mungkin ini adalah pembunuhan acak karena tidak adanya motif kuat untuk pelaku,

"Cih, tidak berguna"

Suara ketukan pintu mengalihkan pandangannya,

"Masuk!"

Seorang pria memakai pakaian suit berwarna hitam masuk dan membungkuk hormat pada Seungcheol,

"Bagaimana?" tanya Seungcheol singkat. Tanpa Jeonghan minta, Seungcheol sudah menyelidiki semuanya. Ketika berita itu disampaikan oleh seorang anak buahnya yang ditempatkan di daerah Apgujeong. Seungcheol memerintahkan mereka untuk mencari tahu segalanya. Bahkan sebelum berita itu disiarkan di media massa Seungcheol sudah tahu semuanya.

Pria berjas itu mengeluarkan note kecil di saku jasnya, "Tuan Lee terakhir kali diketahui berada di minimarket di blok yang sama dengan TKP pembunuhan. Kasir minimarket itu mengatakan, bahwa setelah mengambil barang dan membayarnya, ia pergi dengan buru-buru"

"Bisa kau pastikan informasi itu?"

"Tentu, Tuan Choi. Kami memeriksa CCTV di minimarket tersebut dan melihat Tuan Lee disana. Setelah keluar dari minimarket, Tuan Lee berjalan ke arah selatan, arah apartemennya yang juga mendekati lokasi pembunuhan."

Seungcheol sudah menduga, ada yang tidak beres disini, peristiwa ini terlalu kebetulan. Tadi pagi, leader grup Taigaa datang, Mingyu mengatakan markas mereka di daerah Apgujeong, Jihoon menghilang di dekat lokasi apartemennya, dengan disertai kasus pembunuhan.

Mendadak pintu ruangan dibuka keras, siapa lagi kalau bukan Vernon, hanya anak itu yang berani melakukan itu.

"Hyung! Aku menemukan sesuatu yang mungkin berguna bagimu"

Vernon berlari dan menaruh laptopnya di meja Seungcheol,

"Aku meng-hack seluruh CCTV di kota Seoul. Aku berhasil masuk ke sistem mereka 3 bulan yang lalu dan menyebarkan virus tidak terlihat, jadi video dari CCTV itu bisa langsung diunduh masuk ke fileku setiap hari."

Seungcheol menaikkan alisnya, "Kau menggunakan itu untuk mengintip ruang ganti wanita di mall juga SMA dan universitas khusus wanita kan? Mingyu sudah mengatakannya padaku. Keluarlah, aku sedang sibuk!" ucap Seungcheol sedikit membentak.

"Ey hyung! Dengarkan dulu. Okay I was going to do that. Well no! I ALREADY do that. But look at this first"

Vernon menghadapkan laptopnya, jarinya bergerak lincah di keyboard laptop tersebut.

"Aku mendapat berita tentang pembunuhan itu di TV. Aku mencari adakah lokasi CCTV yang berada disana. Dan tebak? Aku menemukan beberapa sosok Jihoon-hyung terekam di kamera di dekat lokasi pembunuhan itu! Jangan-jangan pelaku pembunuhan itu Jihoon-hyu—AUWWW"

Vernon memegang kepalanya, ketika Seungcheol memukulnya menggunakan cangkir kopi miliknya yang sudah kosong,

"Kau tahu sekarang kakakmu itu sedang hilang! Jeonghan dan Mingyu terjebak macet dan mereka tidak bisa menghubungi Jihoon. Aku sedang berusaha mencari informasi tentang kakakmu, bodoh!"

Vernon hanya mengusap kecil kepalanya. Seungcheol melirik layar laptop, menunjukkan gambar lokasi Seoul yang tampak dari satelit. Dalam hati, Seungcheol cukup kagum dengan kemampuan adik termudanya ini di bidang teknologi. Tidak sekali, kemampuan Vernon ini digunakan Seungcheol untuk memperlancar bisnis black marketnya.

"Aku mana tahu kalau Jihoon-hyung menghilang! Mungkin ini bisa membantu"

Vernon kembali mengutak-atik laptopnya. Gambar satelit itu diperbesar, ia memasukkan koordinat titik distrik Apguejong, seketika terlihat video di salah satu stasiun bawah tanah,

"Ini CCTV di Stasiun kereta bawah tanah. Sebentar aku cari tempat Jihoon-hyung tinggal"

Layar kembali menunjukkan daerah Apguejong. Beberapa saat kemudian, terlihat jalanan pertokoan yang Seungcheol kenali,

"Ini hyung! Ini jalan Nam-chon blok A. Jangkauan dari setiap kamera CCTV berbeda. Tapi setiap CCTV di jalanan kota Seoul jangkauannya hanya mencapai 4-5 meter kedepan. Kamera tipe ini tidak bisa digerakkkan ke kanan dan kiri. Jadi hanya sedikit yang bisa diambil dari CCTV jalan."

"Temukan CCTV jalan di minimarket tempat Jihoon belanja" suruh Seungcheol.

"Minimarket?"

"Dia terakhir kali terlihat sedang berbelanja di minimarket dekat TKP. Bisa tidak?" tanya Seungcheol mulai tidak sabar.

Vernon menaikkan alisnya sebentar berfikir, "Bisa, sih hyung. Tapi aku harus tahu, CCTV terdekat di lokasi minimarket itu. Aku tidak tahu lokasi minimarket itu."

Seungcheol mengalihkan pandangannya kepada pria berjas yang masih berdiri disana,

"Sebutkan lokasi minimarket itu"

Pria itu membalik notenya sebentar, "Minimarket itu terletak di Jalan Nam-chon blok A7 no. 213"

Vernon langsung bergerak dengan laptopnya. Beberapa menit kemudian, ia memekik senang, "Ketemu!"

"Mana?"

"Ini hyung, ini CCTV di lampu jalan di depan minimarket itu, ini menunjukkan rekaman sekitar pukul lima sore. Oh itu Jihoon-hyung! Dia masuk ke minimarket!"

Seungcheol memperhatikan layar laptop dan benar, sosok adiknya menggunakan mantel memasuki minimarket. Layar hitam putih itu berjalan lama, Jihoon keluar dari minimarket dan berjalan kembali menenteng tas plastik besar. Sosoknya keluar dari jangkauan kamera CCTV.

"Sekarang cari rekaman CCTV di jalan Nam-chon. Blok A7 sekitar pukul lima sore"

"Kalau tidak ada nomor lokasi signifikan. Berarti itu adalah jalan. Aku akan mencari dari CCTV lampu lalu lintas. Wait a second"

Tangan Vernon kembali menari diatas keyboard. Matanya tidak lepas dari layar laptop kali ini membutuhkan cukup lama untuk mencari rekaman yang tepat karena tidak ada kamera yang mengarah ke jalan kecil di dekat perumahan tersebut.

"Hyung! Aku menemukan satu!"

Vernon mendekatkan latopnya ke arah Seungcheol, "Tapi kamera ini terletak di tengah jalan sedikit jauh dari jalan itu. Jalanan ini terletak di ujung blok dan jarang dilewati kendaraan karena mengarah ke perumahan, itu sebabnya tidak ada CCTV di dekat sana. Ini rekaman dari kamera pengawas di lampu lalu lintas. Coba lihat di ujung kiri layar, ada jalanan kecil, kan? Itu adalah jalan yang hyung maksud"

Seungcheol memperhatikan layar yang dimaksud Vernon. Benar saja, beberapa detik kemudian terlihat mobil yang berjalan di jalan itu,

"Sepertinya mobil itu mengambil jalan pintas" gumam Vernon

Seungcheol tidak mendengarkan adiknya, matanya masih fokus memperhatikan layar. Mendadak sosok lelaki muncul dan hampir tertabrak mobil tersebut. Laki-laki itu menenteng tas plastik, ia terjatuh ketika mobil itu hampir menabraknya,

"itu Jihoon hyung!" ucap Vernon lebih keras

Seungcheol menoleh, "Tutup mulutmu!"

Vernon terdiam dan kembali memperhatikan layar, Layar menunjukkan Jihoon yang berontak dengan seorang pemuda, tidak terlalu jelas. Lalu pemuda lainnya turun dan mengikat Jihoon. Seungcheol mengepalkan kedua tangannya keras.

Tubuh Jihoon diangkat dan dibawa kebelakang, kamera tidak menunjukkan itu karena jangkauan yang terbatas. Tapi bisa Seungcheol tebak, tubuh Jihoon dimasukkan ke dalam bagasi. Kedua pemuda yang menculik Jihoon tidak kunjung kembali ke mobil. Mobil itu berhenti disana selama beberapa menit.

Lalu, beberapa saat setelahnya, mobil itu pergi.

"Aneh, tidak ada peristiwa pembunuhan. Bukannya ini lokasi pembunuhan itu?" ucap Vernon, ia mempause videonya.

"Ada. Kita tidak bisa menyaksikan kejadian itu karena jangkauan kamera yang tidak sampai kebelakang. Tapi dari yang aku tahu, mungkin laki-laki itu sedang sial. Dia menyaksikan ketika Jihoon diculik dan hendak melapor polisi. Tapi salah satu dari kedua pemuda itu membungkamnya. Mungkin itu membuktikan tidak ada sesuatupun yang dicuri dari pria itu. Itu juga yang menjelaskan kenapa pelaku tidak meninggalkan petunjuk dan membuat para polisi sedang kalut sekarang. Itu karena mereka bukan pembunuh amatiran. Kedua pemuda itu pasti anak buah leader grup Jepang itu, dan si leader pasti juga ada di mobil tersebut."

Vernon menganga mendengar analisis Seungcheol, ia menutup laptop dan mengambilnya dari meja kakaknya,

Seungcheol mengambil ponsel di mejanya dan menelepon seseorang,

'Bertahanlah, Jihoon-ah. Kau bisa'

.

.

.


Love, Fight, Blood


.

.

.

Mingyu memukul setir mobilnya, sedangkan Jeonghan hanya meremas ujung jaketnya. Belum ada kabar baik dari Seungcheol maupun Jihoon. Ponsel sama-sama mereka letakkan di dashboard.

Mendadak dering telpon berbunyi dari milik Mingyu, dengan cepat namja itu menekan tombol answer dan mengaktifkan speaker.

"Mingyu-ya. Pulanglah"

Jeonghan dan Mingyu terdiam, layar handphone tertera kontak Seungcheol,

"Hyu-hyung! Untuk apa pulang? Kami masih belum bertemu Jihoon-hyung"

"Seungcheol-ah, Jihoon bagaimana? Kau sudah dapat kabar?"

"Tenanglah, baby. Jihoon baik-baik saja. Anak buahku mendapat kabar kalau Jihoon sekarang menginap di rumah temannya di distrik yang berbeda. Dia sedang tidak ada di Apgeujong sekarang"

"Tapi, ketika aku memberitahunya kalau aku datang, dia menyuruhku untuk datang satu sampai dua jam setelahnya, bahkan menyuruhku istirahat di rest area. Itu kan artinya dia sedang di rumahnya!" sangkal Jeonghan

"Itu hanya untuk mengulur waktumu, baby. Jihoon kaget saat kau akan datang. Makanya ia menyuruhmu tidak buru-buru supaya ia bisa pulang dari rumah temannya dan menyambutmu di apartemennya. Sekarang kau pulang okay. Ini sudah jam tujuh. Mingyu antarkan dia pulang"

"Okay, hyung. Terima kasih infonya. Kami mungkin sedikit lama untuk pulang. Tapi kami akan kembali ke jalur balik"

"Oh sebelum itu, matikan speakernya. Aku butuh berbicara denganmu saja"

Jeonghan memandang Mingyu curiga, sedangkan Mingyu hanya mengendikkan bahunya. Namja itu mengambil ponselnya dan mematikan speaker, ia mendekatkan benda itu ke telinganya

"Dengar, jangan bereaksi apapun di depan Jeonghan. Aku tidak mau membuatnya panik. Jihoon sedang dalam bahaya dan aku mau kau melakukan ini. . ."

.

.

.


Love, Fight, Blood


.

.

.

NEXT CHAPTER

"Kau harus membersihkan sisa makananmu setelah menikmatinya. Jangan membiarkan tikus untuk mengendusnya. Akhirnya jadi begini kan?"

.

"Sudah kau bersihkan dia?"

.

"Daripada menggunakan tenagamu untuk berteriak dan mencakar para maidku. Lebih baik kau gunakan untuk kegiatan panas kita"

.

"Hey, neko-chan. Jangan menangis"

.

"Sudah lima tahun sejak tragedi di Tokyo, Coups"

.

"Antarkan kami ke lorong itu, atau isi otakmu akan berhamburan disini"

.

"Aku melanggar janjiku lagi ya, baby"

.

"Aku akan membereskan bangkai ini. Istirahatlah, hyung"

.

.

.

.

.

To Be Continued

.

.

.

.

Weeeeee balik lagi sama LFB...

Terima kasih yang mau comment di chap kemarin. Emang itu masih prolog jadi gak banyak yang nongol. Ada beberapa pertanyaan yang hampir sama jadi saya mau jawab. Semua sudah saya rangkum jadi dua pertanyaan

Jihoonnya mana ya? Kok gak muncul di chapter ini? cuma nanma doang Jihoonnya? Jihoonnya sama Soonyoung kan?

Iya. Maafkeun Jihoonya gak muncul. Ini buat pemberitahuan aja. Kalau kemungkinan tiap chapter gak bisa menampilkan semua member. Kenapa? Soalnya membernya kan ada 13 dan masing masing punya konflik sendiri sendiri. Jadi entar kalo konflik satu selesai konflik lainnya muncul. Tapi gak menutup kemungkinan kalau konfliknya ada yang numpuk

Meanienya mana?

Kebanyakan tanya pertanyaan ini nih. Untuk meanie shipper sabar ya. Meanienya baru muncul sekitar ch 4. Tapi tenang aja, setelah meanienya muncul fokus cerita akan ke mereka terus baru ada masalah lagi wkwkwkwk

Itu aja sih, kebanyakan pertanyaaanya mengarah ke inti yang sama. Dan makasih buat GyuGyu(Guest) atas sarannya di chapter sebelumnya. Saya akan berusaha perbaiki untuk chapter depan. Makasih juga buat Naegawoozi atas komennya. saya jadi semangat lagi huwaaaaaa #peyuk

Thank You for All of your Appreciation

Last, Review?

.