Waaaa!! Maaf baru update sekarang!! Maaf maaf maaf!!
Gara-gara telat update, temanya jadi nggak sesuai lagi alias kedaluwarsa ya. Tidaaak!!
Tapi tidak apa-apa. Kali ini Kentona menciptakan semboyan baru : "Setiap Hari Adalah Hari Ibu"
Hahahahahhaa. ..
Beberapa hari lalu Kentona diajak pergi liburan, jadi nggak bisa update. Oke, kalo gitu langsung saja, chapter dua. Semoga readers masih mau baca, walaupun udah telat.
Mother, Happy Mother's Day
Disclaimer:
Naruto © Masashi Kishimoto
Mother, Happy Mother's Day © Kentona Seizaburo
Warning : chapter yang ini murni bikinan Kentona sendiri, tapi kalau ada hal yang aneh, itu tetep salah Kimchi ~menyilangkan jari~
Oooo…
Mother, happy mothers' day.
CHAPTER TWO
Sasuke's Uchiha Mikoto
— Sasuke's point of view.
Waktu aku masih kecil, aku adalah anak yang bahagia. Aku punya ayah yang hebat, kakak yang seru bila diajak bermain, dan terlebih lagi seorang ibu yang cantik dan sangat menyayangiku. Tiap aku latihan, ibu menungguiku. Kalau badanku ada yang luka, ibulah yang mengobati. Dan tidak seperti ayah, saat aku menangis ibu tidak memarahiku. Dia malah memeluk dan menenangkanku.
Apa ibu masih ingat? Dulu ibu sering memarahiku karena selalu mengajak kakak bermain.
"Sasuke, biarkan kakakmu mengerjakan PR!"
Kata-kata itu tidak pernah bosan ibu katakan. Sudah lama kata-kata itu terkubur jauh di dalam pikiranku. Tapi entah, hari ini kata-kata itu muncul lagi, mengingatkanku pada ibu.
Sudah bertahun-tahun aku lupa memikirkan masa kecilku. Dan apa yang masih kuingat tentang ibu? Masih adakah? Aku sudah lupa betapa manisnya ibu saat tersenyum, betapa memilukan wajahmu saat merintih. Yang aku ingat hanya wajah itu, wajah saat kau menghadapi ajal. Ibu tahu tidak? Itu adalah satu-satunya pemandangan yan mampu membuatku menjerit ketakutan.
Sejak hari itu, hatiku yang aku ingat pernah lembut, sekarang sekeras baja. Tawaku yang dulu lepas, kini tercekat tak mampu keluar. Kata-kata manis yang pernah kuucapkan kini berubah menjadi gertakan dan kutukan. Tatapanku yang dulu meluluhkan hati siapapun yang memandangnya, kini memancarkan kebencian dan nafsu membunuh.
Ibu, apa kau masih mengenaliku sekarang?
Oooo...
Aku heran, tidak biasanya aku mengingat ibu seperti ini. Kenapa. ..huh?
Dimana Suigetsu, Karin, dan Juugo? Kenapa aku sendirian? Di mana ini?
Ah, aku ingat. Tadi aku bertarung dengan Suigetsu. Apakah aku kalah? Benarkah? Kenapa ia tidak sekalian saja membunuhku? Bukankan tujuannya sudah tercapai dan dia tidak membutuhkanku lagi?
Sudahlah.
Oooo...
Bukannya memikirkan hal lain, pikiranku kembali tertuju pada ibu. Otakku kembali menggali kenangan tentang ibu. Kenangan itu, yang sempat terhapus oleh air mata dan terkubur oleh kemarahan.
Sembilan tahun bersama ibu. Cukupkah?
Tidak. Tidak mungkin.
Kenapa?!! Kenapa hal seperti ini harus menimpa ibuku?! Dibunuh oleh anak sulungnya sendiri!! Apa salahnya?!!
Padahal. ..aku sangat sayang pada ibu. ..
"Uchiha. ..Mikoto," kugumamkan nama itu.
Pik.
Apa ini? Air mata.
Kusentuh bagian bawah mataku. Tidak basah.
Pik.
Setitik lagi air mata itu jatuh menetes di atas siku yang kutenggerkan di atas lututku. Kudongakkan wajahku.
Aku tidak percaya. Ini tidak mungkin! Di luar logika! Itu tidak ada! Tidak mungkin ada!
Aku takut sekarang, benar-benar takut. Aku melihat seorang wanita dari masa laluku. Dia sedang menangisi sesuatu. Apa? Aku juga tidak tahu. Yang ada dalam otakku adalah suatu kemustahilan.
Bahwa Uchiha Mikoto, ibu yang melahirkanku, yang telah lama mati, kini berdiri di belakangku.
Tubuhku kaku.
—Plik.
Beberapa kemungkin muncul di otakku.
Kemungkinan pertama. Belum tentu dia hantu. Bisa saja ninja dengan kemampuan henge yang hebat sampai aku tak bisa merasakan chakranya.
Kupaksa mataku mengamati sosok itu dengan lebih teliti.
Bukan. Pasti bukan ninja. Tubuhnya transparan.
Kucoba menentuh tubuhnya sambil menahan tubuhku yang bergetar ketakutan. Tidak bisa.
Baiklah, kalau begitu, kemungkinan kedua. Kemungkinan terakhir. Ini adalah mizu-bunshin, bunshin dari air yang berbentuk kabut. Ya, pasti begitu. Karena, tidak ada yang namanya han—
"Sasuke, anakku."
Suara itu, aku kenal. Suara itu tidak pernah berubah. Suara ibu.
"Apa Sasuke rindu pada ibu?" tanyanya.
Aku tidak mampu berkata-kata.
"Kau sudah besar, Sasuke. Ibu yakin kau sudah lebih kuat sekarang," kata sosok itu sambil berjalan ke arahku.
"Berhenti!" perintahku sambil mencabut kunai. Namun 'benda itu' tidak bergeming. Kulempar juga akhirnya kunai itu sekuat tenaga.
Sssshh. ..
Tembus.
Sudah jelas ini kabut, simpulku, berusaha menghilangkan dugaan bahwa makhluk itu adalah hantu.
Makhluk itu sudah berada tepat di depan hidungku. Jarak antara wajahnya dengan wajahku kira-kira hanya lima senti. Namun, aku tidak dapat merasakan hawa kehidupan, apalagi hembusan nafas.
"Sasuke, bagaimana keadaan Itachi?"
Deg.
Makhluk itu menanyakan hal yang sama sekali tidak ingin kudengar. Pertanyaan itu seakan membuat jantungku berhenti berdetak.
"Apa dia baik-baik saja?"
Suara itu lemah. Benar-benar lemah, seakan tidak ada aliran kehidupan di dalamnya.
Kuberanikan diri untuk menjawabnya.
"I-Itachi sudah mati. Si-siapa kau?"
Makhluk itu tampak sedikit terkejut akibat jawabanku, namun pandangannya kembali sayu, dan akhirnya dia melanjutkan, "Sasuke, ini ibu. Apa Sasuke sudah lupa?" kata sosok itu sambil menyentuh dahiku dengan tangannya.
Aku berusaha menghindar, tapi tubuhku tidak mau digerakkan, meskipun otakku sudah menjerit-jerit memerintahkannya untuk menepis tangan itu.
Tep.
Aku bisa merasakan tangannya. Kalau benda itu adalah kabut, mana mungkin terasa? Dugaanku bahwa dia MEMANG hantu ibuku perlahan mulai menguat.
Oooo...
Aku benar-benar bingung, apa yang diperintahkan otakku sama sekali tidak dijalankan oleh tubuhku. Otakku memerintah tubuhku untuk mendorong tubuh makhluk itu jauh-jauh, tapi yang dilakukannya malah mendekatinya.
Dia memelukku.
"Sasuke, ibu sangat rindu padamu."
Mataku memanas. Kupaksa mataku menahan air mata yang aku tahu pasti akan jatuh. Tapi tak bisa.
Aku menangis.
Makhluk itu melepaskan pelukannya dan menatap wajahku lekat-lekat. Wajahnya masih sama, tidak bertambah tua sedikitpun.
"Kenapa kamu menangis, anakku? Apa yang membuatmu sedih?"
"I-ini benar-benar ibu?" tanyaku balik, yang membuat diriku sendiri kaget mendengarnya.
"Tentu saja. Ibu disini."
Lalu, sebuah lengkungan yang indah terbentuk di bibirnya. Senyuman. Senyuman ibu yang sudah lama tidak kulihat. Senyuman ini meyakinkanku bahwa dia memang ibu, dan tidak ada yang namanya hantu, karena dia bukan hantu. Dia arwah ibu, Uchiha Mikoto.
"Ibu akan selalu disini," kata arwah itu sambil menyentuh dadaku. Hati, itukah yang ditunjuknya? Apa aku ini masih memiliki hati untuk mengenang ibu?
Seakan-akan tahu apa yang kupikirkan, arwah ibu kembali tersenyum dan berkata, "tentu saja, Sasuke. Hatimu selalu ada disini, sekeras apapun itu. Dan dimana hatimu berada, disitu ibu akan selalu ada."
Ibu menutup matanya, dan mengecup dahiku pelan.
Aku pun menutup mataku.
Oooo…
Saat aku membuka kelopak mataku yang berat, arwah ibu sudah tidak ada. Kuamati sekitarku. Aku melihat langit.
Mana mungkin?
Ternyata sekarang aku dalam posisi tidur.
Aku sedikit bingung. Tadi aku tidak berada disini. Apa yang terjadi?
"Sudah sadar rupanya." Aku mendengar sebuah suara yang sudah familiar. Suara Juugo.
"Apa yang terjadi?" tanyaku sambil berusaha bangkit dari posisi tidur.
"Tadi kau bertarung dengan Suigetsu gara-gara Juugo. Kau berusaha mengendalikan kemarahan Juugo dengan sharinganmu itu, tapi diganggu oleh Suigetsu yang saat itu benar-benar ingin membunuh Juugo, dan akhirnya kalian berdua malah bertarung. Kurasa kau kelelahan setelah menggunakan sharingan, jadi sebelum Suigetsu berhasil memukulmu, kau sudah jatuh dan pingsan," jawab Karin. Aku jadi semakin bingung.
"Apa yang kalian lakukan selama aku pingsan?"
"Aku dan Karin disini dari tadi. Suigetsu pergi setelah tidak berhasil membunuhmu, maksudku, kami berhasil menahannya. Sepertinya dia tidak akan kembali."
Jadi begitu. Semuanya hanya mimpi. Kejanggalan-kejanggalan yang aku lihat tadi hanya halusinasi. Tapi, kenapa terlihat sangat nyata? Apa itu ibu yang benar-benar menemuiku lewat mimpi?
— End of Sasuke's point of view.
Pertanyaan itu tidak pernah Sasuke temukan jawabannya. Tapi, di langit sana, di balik sebuah bintang yang redup, arwah seorang ibu yang dulu adalah ibunya tersenyum memandangi anaknya.
"Sasuke, melihatmu tumbuh dewasa adalah hadiah terindah bagiku di hari ibu ini."
Fic yang nggak kalah pendeknya, kan?
O iya, Kentona ngucapin terima kasih buat yang udah review chapter sebelumnya. Dan chapter selanjutnya akan diupdate paling cepat besok. Tapi chapter besok adalah bagian si Lobak Bawel. Jadi, karena dia masih baru, tolong dikritik sebanyak-banyaknya. Hahahahhahaha. Tapi jangan di-flame, kasian.
Oke, sekian dulu.
Review please?
