BREAK THE ICE

DISCLAMER : MASASHI KISHIMOTO

STORY BY AZALEA RYUZAKI

PAIR: SASUHINA

RATED : T

WARNING: AU, OOC, BANYAK TYPO, BAHASA ANCUR, PLOT BERANTAKAN, ALUR CEPAT, DLL.

DON'T LIKE DON'T READ

.

.

.

"Apa kau menyediakan coklat panas?" Tanya Sasuke pada pelayan di pintu masuk yang menyapanya ramah. Ia segera duduk di kursi terdekat saat pelayan tersebut mengangguk mengiyakan.

Sasuke menyadari bahwa suasana café ini sangat menyenangkan. Meja-meja yang tertata rapi, bunga-bunga yang menghiasi sudut ruangan dan aneka kue kecil yang di pajang didepan counter. Ibunya pasti akan suka jika diajak kemari.

Sembari menunggu coklat panas pesanannya datang, ia memutuskan melihat-lihat menu makanan yang diberikan pelayan yang ramah tadi saat telinganya menangkap suara ribut aneh diluar. Dan apa yang dilihatnya kemudian, membuat napasnya sedikit tercekat.

Gadis berisik itu tengah diseret pria tak dikenal.

Tanpa menunggu lebih lama, Sasuke segera berlari meninggalkan café tersebut.

.

.

.

"Siapa yang menyuruhmu?" Gumam Akari lemah, pipinya terasa panas dan perih ketika dengan sengaja lelaki itu menamparnya keras.

"Kau tahu siapa yang menyuruhku." Jawab lelaki itu dengan seringai menyebalkan menghiasi muka jeleknya. Salju yang tiba-tiba turun tidak menghalangi lelaki ini untuk ngebut. Membuat Akari harus mencengkram sisi kursinya lebih erat.

"Takut?" Tanya lelaki itu sambil terkekeh pelan.

"Kau harusnya lebih takut pada apa yang akan menimpamu saat aku membawamu padanya." Lanjut laki-laki itu diiringi tawa yang terbahak-bahak. Saat itulah Akari melihat mobil patroli yang tak asing lewat kaca spion. Dengan modal nekad yang pas-pasan, ia mencoba menurunkan kaca jendela.

Namun usahanya terhenti saat lelaki itu kembali menjambak rambutnya kasar.

Dalam keadaan kalut dan kesakitan, Akari lalu menonjok leher lelaki tua itu.

Usahanya berhasil. lelaki itu langsung melepas cengkraman dirambutnya. Hanya saja, ia tidak memperhitungkan bahwa lelaki itu akan langsung tak sadarkan diri.

Sekarang bagaimana?

"Akari!"

Teriakan Sasuke yang tak pernah terdengar ramah menyadarkannya dari kepanikan. Dengan gerak cepat ia menurunkan kaca jendela dan mengeluarkan kepalanya.

"Sasuke, dia pingsan!" Jerit Akari panik, apalagi saat ia merasa kendaraan ini melaju semakin cepat.

"Cepat menepi!"

"Aku tidak bisa!" Jerit Akari lagi, makin frustasi. "Aku tidak pernah mengemudi."

"Kalau begitu aku akan menabrakmu." Teriak Sasuke. Dan sebelum Akari sempat mempersiapkan diri, lelaki itu sudah membanting stir. Menabrakan mobil patroli yang selalu dirawatnya pada mobil usang, dimana Akari duduk didalamnya sambil mencengkram kursinya dengan wajah terguncang.

"Kau gila!" Seru Akari putus asa, saat pria itu kembali menabrakan mobil miliknya hingga mobil yang di kendarai Akari sedikit menyenggol pembatas jalan.

Tanpa mempedulikan Akari yang makin kalap, Sasuke kembali membanting stir.

Dan diserangan ketiga, pria itu berhasil membuat mobil di sampingnya benar-benar menabrak pembatas jalan.

Dalam guncangan keras yang membuat seluruh tubuhnya terasa retak, Akari hanya berharap kematiannya akan berlangsung sangat cepat.

.

.

.

Sasuke menatap mobil bobrok yang keluar dan terguling dari badan jalan itu dengan sedikit terpana dan tidak percaya.

Ia berhasil!

Dengan secepat kilat, Sasuke keluar dari mobilnya dan berlari cepat menghampiri kendaraan yang mulai berasap itu. Dari pengalamannya, ia yakin kendaraan itu tidak akan meledak. Tapi selalu ada kemungkinan keracunan gas bagi penumpang yang menjadi korban.

"Akari!" Panggil Sasuke saat lelaki itu sudah berada di sisi kursi penumpang. Di tengah kepulan asap yang menghalangi jarak pandangnya, ia bisa mendengar suara geraman tak jelas dan surai-surai berwarna indigo itu dari jendela yang terbuka.

Dan darah.

Dengan sigap, Sasuke segera membuka pintu mobil, yang sialnya, terkunci.

"Akari, apa kau bisa mendengarku?' Panggil Sasuke lagi sambil mengguncang tubuh mungil itu perlahan. ia cukup lega saat gadis itu menggerakan tubuhnya perlahan.

"Apa aku sudah mati?" Bisik Akari lemah. Tubuhnya terasa sakit, ototnya terasa kaku dan kakinya sulit di gerakan. Ia baru menyadari dirinya terbaring dalam posisi yang tak wajar.

"Kau belum mati. Ayo, kubantu kau keluar." Sahut Sasuke. Dan dengan tangkas lelaki itu menarik Akari keluar perlahan lewat kaca jendela yang terbuka.

Untungnya tubuh gadis ini cukup kecil hingga bisa melewati ruang sempit itu tanpa kesulitan.

"Kakiku sakit." Keluh Akari sambil mencengkram lengan atas Sasuke untuk menjaga keseimbangannya. Hidung gadis itu sedikit berdarah dan wajahnya berantakan, tapi Sasuke berniat tidak akan membahasnya.

Setidaknya tidak sekarang.

Saat ini, ia terlalu lelah untuk sekedar menghibur gadis yang sedang terguncang.

"Ayo kita pergi." Ajak Sasuke pelan pada gadis yang kini tengah dipapahnya. Mereka berjalan pelan menuju mobil patrolinya yang kini tanpak bengkok-bengkok dibeberapa tempat. Yang jelas, acara berbelanjanya harus kembali tertunda hari ini.

Salju masih turun dengan perlahan, saat Sasuke menjalankan kendaraannya menembus kekacauan yang sudah ia buat. Dalam hati ia berjanji akan segera menelpon Naruto, rekannya dikepolisian, untuk mengatasi masalah yang baru dibuatnya.

.

.

.

Akhirnya, setelah cukup lama menimbang-nimbang, Sasuke memutuskan membawa Akari kembali ke rumahnya. Tidak ada alasan khusus, ia hanya tidak suka rumah sakit. Lagipula gadis ini tampak tidak keberatan merawat lukanya dirumah.

"Apa kau mengenal laki-laki itu?" Tanya Sasuke sambil teus mengompres kaki Akari yang sedikit lebam akibat benturan dijalan tol pagi tadi. Gadis itu tidak segera menjawab, namun geraman tak jelas yang dikeluarkan gadis itu menandakan bahwa ia mengenal lelaki yang menculiknya.

"Dia suruhan Matsumoto." Gumam Akari sambil meringis pelan. Ujung bibirnya sedikit sobek, ditambah lebam yang menghiasi pipinya kini terasa lebih perih saat di sentuh.

"Siapa?"

"Mucikariku." Jawab Akari malas. Bibirnya terasa sedikit perih saat di gerakan. Tapi sepertinya Sasuke tidak menyadari hal itu, karena pria itu terus saja bertanya.

"Seperti apa dia?"

"Dia tinggi, berbadan gempal, mukanya jelek, ada codet di pipi kirinya, dan apa lagi yang harus kukatakan? dia brengsek."

"Lalu, kenapa dia menginginkanmu?"

"Aku ingin keluar, melepaskan diri darinya. Tapi aku memerlukan uang untuk bertahan hidup. Jadi, aku pinjam sedikit uang dari seorang pelanggan."

"Pinjam?" Tanya Sasuke curiga. Mengingat ia harus terlibat dengan gadis ini berawal dari laporan seorang pengusaha yang kemungkinan besar pelanggan Akari yang uangnya berhasil diembat oleh gadis ini.

"Ya, aku pinjam. Tapi tidak bilang."

"Itu sama saja mencuri." Gumam Sasuke lelah. "Lagipula kau terlalu muda untuk berurusan dengan seorang mucikari. Apa orang tuamu tahu hal ini?"

"Tidak, dan tidak akan pernah tahu. Mereka hidup tenang di sebuah desa kecil yang tersembunyi di tengah hutan. Desa yang memiliki patung wajah para pemimpin mereka dari setiap generasi yang dipahat di sebuah tebing tertinggi. Desa yang sangat damai." Jelas Akari dengan pandangan menerawang.

Beberapa saat kemudian ia merasa pembicaraan ini tidak dapat dilanjutkan, Sasuke melepas kompres dikakinya dan bangkit berdiri.

"Sebaiknya sekarang kau istirahat. Aku akan memesan makanan, kau mau pesan sesuatu?"

"Aku ingin bubur sapi. Pipiku sakit jika harus mengunyah nasi." Sahut Akari dengan senang hati. "Dan aku mau cake strawberry dan coklat panas."

"Hn." Gumam Sasuke tanpa membantah, walaupun wajahnya menunjukan sebaliknya. Ia kemudian melangkah pergi dan menutup pintu dengan perlahan.

Setelah merasa dirinya cukup jauh dari jarak pendengaran Akari, Sasuke kemudian menekan sederet angka yang sudah dihapalnya diluar kepala.

"Naruto, ini aku." Kata Sasuke tanpa basa basi. " Bisakah kau memeriksa seorang pria bernama Matsumoto? Dia seorang mucikari, dan kemungkinan besar berada di Tokyo."

.

.

.

Saat membuka mata, hal yang pertama kali dilihatnya adalah kegelapan yang mulai membayang dari jendela di sisi ranjangnya. Pertanda bahwa hari telah beranjak sore dan udara menjadi lebih dingin saat ini.

Dengan sedikit malas, ia bangun dari tempat tidur menuju kamar mandi untuk membasuh muka.

'Tubuhnya masih terasa sakit, tapi tidurnya menyenangkan.' Pikir Akari saat ia teringat betapa lelapnya ia tadi. Tidur yang nyenyak sangat jarang ia rasakan. Mungkin hal itu terjadi karena bubur lezat yang ia santap sebelum tidur, atau coklat hangat yang ia minum, atau mungkin kenyamanan yang dirasakannya dari rumah ini.

Ya, untuk pertama kali dalam hidupnya, ia merasa aman.

Setelah merasa lebih baik, Akari keluar dari kamar dan mulai mencari Sasuke. Saat ini hampir jam 5 sore, dan jika ia tidak cepat, kemungkinan besar makan malamnya kali ini adalah masakan menjijikan buatan lelaki itu lagi.

"Kau sudah bangun." Sapa Sasuke, saat Akari memasuki dapur. Lelaki itu tampak sedang sibuk menata meja makan. Dan itu berarti satu hal: dia terlambat.

"Apa yang kau buat?" Tanya Akari dengan perasaan was-was, sambil duduk di kursi yang berhadapan dengan Sasuke.

"Sukiyaki." Jawab pria itu tenang, sementara gadis didepannya langsung tegang dan berbeda dari malam sebelumnya, kali ini Akari sedikit lega saat melihat di atas meja terletak panci berisi sayuran, jamur, potongan tahu sutra dan daging yang terlihat normal.

"Kelihatannya enak." Kata Akari sungguh-sungguh. Perutnya yang hanya di isi bubur, mulai memberontak minta diisi.

"Hn. Apa pipimu masih sakit?" Tanya pria itu sambil lalu. Tangannya yang terlihat kasar, mulai menyendok nasi, dan meletakan beberapa lauk di piring kecil di depan Akari. Pria itu juga ternyata cukup perhatian dengan tidak meletakan sumpit tapi sendok yang di letakan didekat gadis itu hingga ia bisa makan dengan mudah.

"Ini enak." Kata Akari lagi sambil memasukan potongan jamur ke dalam mulutnya. Walaupun Sasuke jarang merespon ucapannya, tapi entah kenapa gadis itu tidak kapok untuk terus berkomentar.

Makan malamnya benar-benar menakjubkan!

Kenapa Sasuke tidak melakukannya sejak awal?

.

.

Setelah makan malam yang mengesankan, mereka duduk di sofa dengan secangkir teh hangat yang sangat enak. Udara malam yang selalu membuatnya menggigil kini tidak terasa lagi.

Rasanya benar-benar menyenangkan.

"Tadi siang aku mendapat kabar dari rekanku tentang laki-laki bernama Matsumoto." Gumam Sasuke dengan nada tegang.

"Dia ditahan di penjara sejak kamis malam lalu atas tuduhan pembunuhan. Dalam penyelidikan tentang dirinya, kami mengetahui dia mempunyai seorang anak, tepatnya seorang putri bernama Akari Matsumoto." Lanjutnya lagi, kali ini dengan nada suara yang lebih tenang. Namun wajahnya yang tampak kaku membuat Akari waspada. "Bisa jelaskan hal itu?"

"Apa yang ingin kau dengar?" Tanya Akari setelah menarik napas panjang dan meletakan cangkir tehnya. Matanya yang cerah menatap Sasuke dengan tatapan menantang. "Kami hanya dua orang asing yang terjebak dalam satu ikatan."

"Itu artinya kau berbohong padaku tentang orang tuamu yang tinggal di Konoha?"

"Konoha bukan suatu kebohongan. Tempat itu memang ada." Sanggah Akari santai, mengabaikan nada mengintimidasi lelaki di depannya. "Desa makmur, yang di kelilingi pepohonan hijau di setiap sudutnya. Desa, dimana kau bisa membuang bayi yang tidak kau inginkan didepan pintu panti asuhan terdekat."

"benar, mereka membuangku." Ucap Akari saat melihat pandangan simpati dari lelaki di depannya. "Aku lahir dalam kondisi fisik yang sangat lemah dan tampak mudah mati. Sayangnya, panti asuhan di desa itu terlalu kecil untukku, hingga pemilik panti memindahkanku ke panti yang terletak di desa lain. Tapi tampaknya banyak sekali orang tua yang tidak menginginkan bayi mereka, karena untuk kedua kalinya aku harus pindah tempat tinggal."

"Di panti asuhan ketiga, aku bertemu dengan Reiji Matsumoto. Dia dengan senang hati menampungku, memberiku makanan, pakaian dan dia juga mengajariku semuanya. Mulai dari mencopet sampai merayu pelanggan tanpa harus tidur dengannya."

"Dia memang brengsek, tapi tanpa dirinya aku tidak akan bisa bertahan hidup sampai sekarang."

"Dan Akari? Apa itu benar-benar namamu?"

"Aku tidak tahu, aku tidak pernah tahu namaku. Tapi Matsumoto sangat suka memanggilku Akari." Jawabnya tanpa beban. "Apa sudah selesai? Aku ingin tidur."

"Ya, tidurlah." Ucap Sasuke sedikit tidak yakin, berbagai hal mulai berkecamuk dalam pikirannya. Dan Sasuke sangat tidak suka, ketika menyadari perasaannya juga ikut serta dalam hal ini.

Ia menyadari, bukan salah Akari hingga gadis itu terjebak dalam dunia kelam yang dipandang rendah oleh kebanyakan orang. Ia hanya menjalani apa yang tersedia di hadapannya tanpa bisa memilih.

Dia masih sangat muda.

Dan hanya butuh satu kesempatan untuk membuat gadis itu menjalani kehidupan yang baru. Yang lebih membahagiakan. Sesuatu yang memang pantas ia dapatkan.

Tentu saja, jika ia bersikeras membantu gadis itu, ia harus rela mempunyai cacat di dalam karier kepolisiannya. Kemungkinan terburuk, ia akan kehilangan pekerjaannya.

Tapi rasanya hal itu menjadi tidak penting saat kau menyadari masa depan seseorang berada di tanganmu. Dan kau mengetahui, apa yang kau lakukan bisa membuat perbedaan besar. Perbedaan yang berakhir baik.

Sayangnya, sebelum Sasuke memberitahu rencananya pada Akari, gadis itu sudah pergi.

.

.

Sasuke tiba di kantor tepat pukul 8 pagi dengan wajah berantakan. Ia tidak bisa tidur semalaman karena terlalu mengkhawatirkan keadaan gadis itu. Lehernya terasa sakit, kepalanya terasa berat dan yang lebih parah, ia tidak sempat sarapan. Lagi.

"Teme." Sapa Naruto dengan wajah serius yang tidak biasanya hadir di wajahnya. Selama ini, Sasuke yakin rekannya hanya bisa memasang tampang bodoh. Dan sekarang, ia tidak siap saat keyakinannya terbukti salah.

"Dia disini." Lanjut Naruto yang membuat Sasuke kembali memasang sikap waspada. Ia segera bergegas menuju ruangan yang di tunjukan Naruto padanya. Ruangan kecil dimana Akari tengah berbicara dengan seorang pria yang merupakan atasannya, diawasi 2 penjaga di depan pintu masuk.

Mereka semua tampak heran melihat keberadaan Sasuke di ruangan itu, tapi ia tidak peduli. Yang diinginkannya hanyalah penjelasan.

"Ada yang ingin kukatakan padanya." Ucap Sasuke pada atasannya yang masih menatapnya tajam. Untuk beberapa saat, Sasuke tidak yakin atasannya akan mengizinkan, mengingat lelaki tua itu sangat tidak suka perintah. sehingga ia cukup tercengang ketika atasannya berdiri sembari mengangguk kecil.

"Hanya 5 menit." Gumam atasannya sebelum keluar dari ruangan itu beserta 2 lelaki yang sejak tadi bertugas untuk mengawasi Akari.

Selama beberapa saat mereka hanya terdiam. Sasuke terlalu sibuk memilah puluhan pertanyaan yang ada di kepalanya dan Akari tampak tidak ingin mengatakan apapun.

"Kenapa?" Tanya Sasuke akhirnya. Ia masih terlalu bingung untuk merangkai pertanyaan yang lebih panjang.

"Kenapa aku kemari? Atau kenapa aku pergi dari rumahmu?" Tanya Akari dengan senyum lembut. Perlahan, ia beranjak dari tempat duduknya dan berdiri di hadapan Sasuke yang masih terdiam. "Mungkin, karena aku tahu kau tidak akan menyerahkanku."

"Aku akan ditahan di lembaga pemasyarakatan selama 2 tahun. Saat itu berlangsung, maukah kau menjadi pengunjung tetapku?"

"Ya."

"Dan membawakanku coklat panas?" Tanya Akari lagi dengan penuh harap yang dibalas Sasuke dengan gumaman tidak jelas. Mereka kembali terdiam sampai seseorang mengetuk pintu dan mengisyaratkan Akari untuk segera meninggalkan tempat itu. "Aku harus pergi."

"Akari." Panggil Sasuke pelan.

"Ya?"

"Sampai nanti." Ucapnya kemudian yang dibalas senyuman senang dan lambaian girang dari gadis itu.

.

.

1 bulan kemudian.

.

.

"Bagaimana keadaanmu?" Sapa Sasuke pada gadis manis yang duduk di hadapannya. "Apakah mereka memperlakukanmu dengan baik?"

"Ya, aku baik. Dan walaupun agak sulit… aku bisa bertahan." Balasnya sambil tersenyum ramah.

"Apa yang kau bawa?" Tanyanya saat ia melihat map yang di bawa Sasuke dengan sorot mata tertarik.

"Hadiah." Jawab Sasuke singkat sembari memberikan map yang sejak tadi di pegangnya pada Akari yang di terima dengan sedikit ragu sekaligus penasaran oleh gadis itu.

Memang sedikit melenceng dari tradisi yang ada, dimana ia, yang berulang tahun seharusnya mendapat hadiah, bukan sebaliknya. tapi ia tidak keberatan dengan hal itu.

"Beberapa hari lalu, aku dan rekanku, Naruto, melakukan penelitian terhadap desa Konoha yang kau ceritakan dan dari sanalah aku menemukan itu." Ujar Sasuke saat Akari tampak membatu di tempatnya sembari menatap kertas dalam genggamannya dengan napas tercekat.

"Akta kelahiranku." Bisiknya tak percaya sembari meneliti tiap kata yang terdapat dalam kertas itu dengan seksama.

"Hinata Hyuuga." Bisiknya lagi dengan takjub. "Namaku Hinata."

"Ya."

"Itu nama yang sangat…indah." Gumamnya lagi. Sekuat tenaga ia menahan air mata yang menggenang di pelupuk matanya saat memandang pria dihadapannya. "Terimakasih."

"Hn." Balas Sasuke acuh. "Mulai saat ini, aku akan memanggilmu Hinata." bisiknya pelan.

Beberapa saat kemudian, hanya kesunyian yang menemani mereka. Hinata masih sibuk meneliti kertas yang berada di genggamannya sementara Sasuke masih terus berkutat dengan pikirannya.

Kemudian tanpa terasa waktu berkunjung telah habis.

Hinata dengan sedikit tak rela menyerahkan kembali akta kelahirannya pada Sasuke untuk dijaga pria itu.

"Terimakasih." Gumam Hinata lagi saat ia hendak melangkah kembali menuju selnya. "Aku sungguh-sungguh berterimakasih."

"Ya. Dan jaga dirimu." Ujar Sasuke yang dibalas anggukan penuh keyakinan dari Hinata. Lelaki itu terus mengawasi sosok Hinata yang memasuki pintu kecil di iringi seorang penjaga perempuan dan menghilang di baliknya.

Sasuke kemudian menarik napas panjang.

Ia berpikir, sebelum pulang, ia akan mengunjungi kediaman orang tuanya. Ibunya mungkin akan memarahinya karena jarang mengunjungi wanita itu. mungkin juga ia akan langsung menelpon kakaknya untuk makan malam sekeluarga. Atau mungkin ayahnya akan kembali menendangnya dari rumah.

Tapi…siapa yang peduli?

Setelah sekian lama, akhirnya ia menyadari bahwa ia adalah orang yang sangat beruntung. Ia mempunyai keluarga yang tidak sempurna namun tidak pernah lelah mendukungnya. Pertemuannya dengan Hinata menyadarkannya akan hal itu.

Ya, hanya di butuhkan seorang Hinata.

Lagipula gadis itu cukup cantik.

Mungkin ia akan mengajak ibunya menjenguk gadis itu saat berkunjung lagi minggu depan.

Dan setelah itu…siapa yang tahu?

Mungkin ia akan melamar Hinata saat gadis itu keluar dari tahanan.

Membentuk keluarganya sendiri.

Dan tinggal di sebuah bangunan yang dengan bangga ia sebut…rumah.

Ya, siapa tahu?

Karena kehidupan terlalu penuh kejutan untuk bisa ditebak.

.

.

.

(*_*)

.

.

"Sasuke-kun."

Panggilan lembut yang terdengar lirih itu sedikit mengusik dirinya yang masih terjebak di alam bawah sadarnya. Dengan sangat berat hati, ia membuka kelopak matanya yang kini masih terasa sangat berat.

"Sasuke-kun." Panggil ibunya lagi, yang kali ini membuat Sasuke kecil benar-benar terjaga.

Dihadapannya, kue besar yang di penuhi lilin kecil beraneka warna tampak menghiasi meja makan, membuat meja itu makin terlihat sesak. Disampingnya, kakak laki-lakinya, Itachi, mengacak rambutnya dengan gemas yang sedikit membuat Sasuke kesal.

"Selamat ulang tahun baka-otoutou." Ucapnya dengan senyum lebar. Mengabaikan wajah Sasuke yang penuh permusuhan.

Sementara ayahnya tampak berdiri diam disamping ibunya sambil memajang senyum tipis. Melihat hal itu, Sasuke menyadari satu hal. Hadiah dan kue memang menyenangkan, tapi lebih menyenangkan saat keluargamu ada disini bersamamu.

"Ayo buat permohonan, lalu tiup lilinnya." Ucap Mikoto yang menyadarkan Sasuke dari lamunannya.

Dengan patuh, ia memejamkan matanya dan mulai merangkai kata membentuk sebuah doa. Kemudian setelah selesai, Sasuke mencondongkan tubuhnya dan meniup lilin yang menghiasi kue ulang tahunnya dengan sekuat tenaga.

.

.

'Aku ingin menjadi orang yang beruntung.'

.

.

.

special thanks ku persembahkan pada kalian semua yang telah mengirimkan review.

jawaban kalian semua benar… yeeeeeiiiiii…

dan terimakasih sudah membaca fic ini (yang selesai dalam sehari).

maaf jika endingnya mengecewakan seperti biasa. -_-)

salam hangat,

Azalea RN