The Warm Instrument while The Freeze
"Biolaku bagai debu yang selalu berhembus...
Bersama bunga dandelion di musim gugur ...
Ini bukanlah keinginanku..
Seluruh harapan ku telah mati..
Dan kini dia hadir di dalam kehidupanku " Naruto Namikaze
Ashford, 10 Oktober 1981
Aku orang yang sangat dingin. Aku tak peduli dengan nasihat orang lain dan apapun di sekitarku. Kemahiranku hanya mencuri. Aku bahkan lupa nama keluargaku.
"...Na..To... Shi...shina―"
Aku lupa, aku lupa semua nama penting dalam hidupku. Nama ayah dan ibuku.
Saat umur 5 tahun, aku di culik dan berakhir menjalani kehidupan bersama Danzo tua itu. Entah apa yang ada di pikirannya, dia menginginkan uang? Tapi kenapa tidak menebusku dengan bayaran mahal yang bisa saja ia tawarkan kepada orang tuaku! Aku bersumpah akan segera menemukan mereka!
Tapi mimpi itu berakhir ketika umurku beranjak 10 tahun. Danzo mengajak kami semua segera meninggalkan Perancis, dan tinggal di Ashford, Inggris. Aku sudah pasti semakin jauh dengan keberadaan orang tua ku yang saat itu masih aku yakini...mereka ada di Perancis, menungguku. Atau mungkin juga mereka sudah melupakan aku, dan mempunyai buah hati yang baru. Namaku seperti orang Jepang, atau bisa jadi aku ini orang Jepang? Dan keluargaku itu bahkan sudah kembali ke sana? Entahlah, aku sudah tidak peduli dengan keluargaku. Tanpa mereka, aku masih bisa hidup sampai sekarang, kan?
Sudah hampir setahun gadis itu datang, diambil oleh Danzo dari stasiun kereta. Dia berbeda dua tahun dengan umurku. Ya, aku berumur 14 tahun ini. Ternyata gadis yang mengaku seringkali di panggil Sakura itu bernasib sama sepertiku. Dia tegar, kuat dan sangat mandiri. Dia bersifat dewasa, namun kadang juga egois.
Sakura bercerita, saat berumur 3 tahun dia di titipkan dipanti asuhan di wilayah Ham Street. Namun dia melarikan diri karena kebakaran yang menghabisi seluruh bangunan panti itu. Dia berada di stasiun bertujuan ingin pergi ke London, hingga akhirnya sampai disini. Sakura...dia percaya pada Danzo yang akan memberikan kehidupan layak dan menyenangkan, nyatanya ini kan' yang dia terima.
Tubuhku masih kaku, mungkin karena akan memasuki musim dingin lagi. Aku bahkan sulit menggerakkan tanganku. Aku berjalan menuju kamar mandi yang keadaannya sudah tak terawat lagi itu. Aku harus sigap hari ini, mencuri mungkin? Ya akan aku lakukan pagi ini, ini hari sabtu. Saat sore nanti aku akan kembali ke lingkungan gereja untuk memainkan biola tuaku. Biola yang sudah tak layak dimainkan, namun suara indah terkadang masih bisa didengar.
Biola tua ini...aku mendapatkannya di Perancis. Saat gubuk yang lebih bagus dari ini aku tinggali bersama rombongan gelandangan kecil dan tentu Danzo, sosok dibalik semua ini.
Semua anak–anak disini sangat menyukai permainanku, walau aku selalu menampakkan wajah dingin kepada mereka setelah instrumenku selesai ku tunjukkan. Hanya dia...Sakura...
Perempuan ini sangat berbeda dengan anak–anak lainnya. Dia terhanyut dengan permainan biolaku. Ketika aku selesai memainkannya, dia berlari dan langsung memelukku sambil tersenyum ceria. Dia selalu bilang...
"Aku ingin mendengar musikmu setiap hari.."
"Ini membuatku bahagia ketika aku mendengar setiap lantunannya.."
Lambat laun hatiku yang beku ini mulai mencair semenjak perlakuannya itu.
*.*.*.*
Ashford, 18 Desember 1981
Minggu depan hari Natal. Aku bisa membayangkan berapa banyak lalu lalang orang – orang membawa uang untuk merayakan hari besar itu. Ini memang kesempatan bagus, disaat keramaian aku bisa dengan mudahnya mencuri. Walau begitu, aku bersumpah untuk memberikan Sakura hadiah Natal dari hasil suara biola tuaku ini.
Aku melangkahkan kaki menuju downstreet. Pusat belanja sedang ramai – ramainya. Tentu aku memperhatikan dimana mereka meletakkan dompet itu. Walaupun aku seorang pencopet, aku memilih calon korbanku dengan benar. Aku tidak mungkin mencuri orang yang kelihatan miskin seperti ku. Aku mencari orang kaya dan tentu saja dompet mereka tebal.
Laki – laki itu?! Yak! Dia, bodoh. Tertawa sejadi – jadi nya bersama seseorang yang kelihatannya berumur sama sepertiku dan melupakan untuk selalu waspada. Keramaian ini keberuntunganku. Dengan secepat kilat tanganku meraih kantung belakang dompet itu tanpa dia sadari. Mudah sekali mencopetnya.
Aku segera berlari menuju gang – gang kecil yang gelap. Aku segera membuka dompet itu. Ada sekitar 70 poundsterling didalamnya. Yah, aku beruntung hari ini. Mungkin aku tidak perlu mencari tambahan dengan bermain biola.
HIHA
Kartu nama itu agak tertutup bagian nama depannya. Aku penasaran, segera menarik kartu itu.
"Obito Uchiha? Uchiha Corp.?" ucapku pelan. Nama marga ini terdengar tidak asing di pikiranku. Entahlah, aku tidak dapat mengingat apapun. Kartu nama ini menandakan dia seorang pebisnis dari Jepang. Sedang apa seorang Obito Uchiha di Inggris?
Sudahlah, aku tidak pedulikan. Uang ini akan ku gunakan membeli pakaian baru untuk Sakura dan Moegi. Tentunya sepatu untuk Kiba dan juga selendang hangat untuk Udon. Segera aku membuang dompet itu. Biasanya aku sengaja menggeletakkan dompet yang telah ku ambil uangnya di sekitar tempat kejadian perkara.
Hari semakin gelap, salju tetaplah turun seperti biasa. Lagu – lagu khas Natal mulai terdengar sayup menelusuri perjalanan pulangku. Semua barang – barang yang aku inginkan sudah terbeli. Walau bekas, aku harap mereka menyukainya. Tak ada harapan lain. Aku hanya ingin melihat mereka bahagia.
Chapter 2 : The Warm Instrument while The Freeze - End
Author's Note :
Chapter ini pendek, ya tidak apa. sama seperti novel lainnya kalau pendek ya daijoubu bahaha.
well sebenarnya aku udah selesaikan cerita ini, dan langsung upload chapter lagi kedepan. cerita agak ngebut ya. males mikir aku nya muahaha
just going to the next~~
