Disclaimer : BLEACH©Tite Kubo, MARSHMELLOW©Relya Schiffer

Rate : T

Pair : Keroyokan alias banyak.

Genre : Romance, friendship

Warning : Sequel story from 'LOLLIPOP', AU, OOC, gaje, abal, aneh, nista, typo(s), etc.

A/N : Yoo, aku kembali, minna. Turut berduka cita atas bencana yang menimpa Negeri Sakura. Semoga semua penduduknya diberi ketabahan dalam menghadapi bencana yang menimpa mereka.

Wokeh, waktunya bales ripyu bagi yang nggak login, buat yang login ke PM aja ya.^^

Nameless : arigatou, name-san. Ahahaha, yang chibi lucu yah? Benar, yang udah gede jadi amit, hehehe.*digebukin semua chara* Aih, typo masih menggunung. Gomenne nee.. Selamat menikmati chap ini...^^

Megumi : Hai, megumi-san. Makasih atas ripyunya. Nie udah update. Semoga chap kali ini bisa menghibur, ya...^^

Shiroyuki schiffer : Aih, arigtou gozaimasuta, shiro... Ini saja sudah cukup bagiku. Makasih udah mampir, ya. Typo akan selalu kuperhatikan. Tapi kalo ada yang lolos, gomenne. Well, selamat menikmati chap ini...^^

Just reader15 : Hai juga, rea-san. Salam kenal. Ah, makasih udah mampir ke sini. Makasih juga udah mampir di fic anehku yang lain, hehehe. Ulquihime? Ada donk. Kan pair fav-ku juga. Hahahaha. Tunggu aja, ya...^^

Uchan : Aahhaha, jumpa lagi kita, uchan. Mkasih buat ripyumu. Err, ada 7 pair, ya?*plak/gmana sih yg bikin?* Wah, artinya aku harus semangat dah. Habis ini? Tunggu aja siapa yang akan kusorot. hAHAHAH. Iya, aku memang hobi bermain daam kegelapan. Dana ku akan mengeluarkan rate M pertamaku. Ahahaha...*plakkk* Yosh, selamat menikmati chap ini...^^

Kali ini kita akan mengetahui nasib Soi-ggio. Nah, sedang tak ingin banyak bicara. Jadi, happy reading…^^

.

.

.

MARSHMELLOW

BY

RELYA SCHIFFER

Chapter 2 : The Sweetest Grape (part II)

.

.

.

Tiga cangkir cokelat panas telah tersedia di meja. Pilihan yang sangat tepat di saat hujan deras tengah mengguyur kota. Uapnya saja seakan bisa mengantarkan salam hangat dari cairan manis substansinya.

Soifon menghela nafas panjang. Kalau tidak salah ingat, sudah hampir setengah jam dia tertahan di toko kue ini. Ia topangkan dagunya di atas tangan yang berlipat demi menahan berat kepalanya sendiri.

Oh, please, tidak adakah yang bisa menghentikan hujan? Senja sudah hampir berakhir, pertanda malam akan segera datang. Dan Omaeda akan panik jika Soifon tidak muncul di hadapannya―paling lambat pukul tujuh malam.

Kaca jendela 'Love Magic' berembun. Iseng, Soifon menggerakkan telunjuknya dan menuliskan beberapa huruf di sana. Dia tak sadar bahwa sepasang mata emas mengamati setiap gerakannya sejak pertama kali coklat panas tersaji.

"Apa kau teman baiknya Ggio, Soifon?"

Soifon sedikit tersentak. Gerakan tangannya terhenti spontan, dan ia menoleh pada orang yang baru saja bicara.

"Iya. Kami memang sudah saling mengenal sejak kecil, Yoruichi-san," jawab Soifon. Tentu tanpa menambahkan kalimat senada 'dan dia adalah anak nakal yang sangat menyebalkan' dalam jawaban itu.

Yoruichi tersenyum. Dia kembali meletakkan gelasnya di meja dan melipat kedua tangannya. Ada sesuatu yang terpancar di mata emas wanita itu.

"Berarti kau tahu dengan siapa Ggio tinggal?"

Soifon terdiam sejenak. Dia memang tahu bahwa Ggio tinggal dengan pria paruh baya bernama Barragan Luisenbarn, seorang pengusaha berusia hampir 60 tahun.

"Iya, aku tahu. Barragan-san kakeknya, kan?"

Menanggapi jawaban Soifon, Yoruichi tertawa kecil. Soifon sampai mengerutkan kening heran. Apa yang lucu dengan jawabannya? Kenapa wanita berambut ungu ini tertawa?

"Ah, maaf, maaf. Kau pasti heran lantaran aku tiba-tiba tertawa," imbuh Yoruichi setelah tawanya reda. Soifon tak menjawab. Dia masih diam saja ketika wanita di hadapannya menegakkan punggung―sebuah tanda bahwa dia akan memulai suatu pembicaraan.

"Mungkin hanya beberapa orang saja yang tahu, di antara aku dan Kisuke. Dan aku memilih untuk memberitahumu, karena kulihat sikap Ggio agak 'berbeda' denganmu."

"Kau berbeda baginya…"

Soifon berjengit sendiri. Kenapa tiba-tiba dia jadi ingat kata-kata Rukia tadi pagi? Ragu, dia tengokkan kepalanya ke kanan dan ke kiri, mencari sosok pemuda yang menjadi objek pembicaraan kali ini. Tapi sosok itu tak ada di mana pun.

"Ggio sedang bersama Kisuke," suara Yoruichi kembali terdengar. Dia tersenyum kecil, seakan bisa merasakan kekhawatiran Soifon.

"Apa yang mau Anda katakan, Yoruichi-san?" tanya Soifon tak sabar. Dia butuh jawaban, mengapa wanita di hadapannya ini berniat membagi 'rahasia' tentang Ggio kepadanya?

"Baiklah, akan kukatakan," Yoruichi berucap pelan. "Ggio Vega, anak yang ceria dan periang itu, sebenarnya bukan cucu kandung Barragan Luisenbarn yang kau kenal."

Soifon terpaku. Otaknya masih berusaha memproses kalimat yang baru saja ia dengar.

"Dia diadopsi dari sebuah panti asuhan oleh Barragan-san, dan diajak untuk tinggal di Las Noches. Barragan-san berniat mendidik Ggio agar bisa menjadi penerusnya kelak."

Mata kelabu Soifon tak mengerjap selama beberapa detik. Yoruichi mengangkat gelasnya dan menyembunyikan senyuman kecilnya yang aneh dengan meminum coklat buatannya. Sungguh, wajah terkejut yang polos itu tampak manis sekali. Dalam hati dia mulai menghitung mundur dari tiga. Bertaruh akan adanya sebuah pekikan sebentar lagi.

"APA?"

Yoruichi terkikik geli. Tebakannya benar. Dan dia yakin, pasti ada sesuatu yang membuat gadis mungil itu sampai memekik cukup keras.

"Yoruichi-san, apa kau serius?" cecar Soifon. Ia bahkan mengabaikan cekikikan Yoruichi. Dia tak mengira bahwa apa yang hendak dibagi wanita itu adalah kabar seperti ini. Ayolah, apa maksudnya?

"Aku serius. Masa kau tidak tahu?" Yoruichi mengibas-ngibaskan tangannya. Dia berniat mengubah ekspresi terkejut Soifon dengan sedikit candaan. Namun niat wanita itu tertahan ketika dilihatnya ekspresi Soifon berubah lagi.

Remaja berambut pendek itu terbelalak. Kemudian mata kelabunya menyipit dan mengeluarkan sorotan sayu. Raut wajah imutnya juga melukiskan rasa bersalah yang dalam. Seakan tak cukup dengan itu, pelan tapi pasti, selaput bening yang tipis melapisi sepasang mata Soifon. Dia menundukkan kepala, lalu―menangis.

Tak ada suara. Hanya sesengukan kecil yang terdengar begitu pedih. Yoruichi terdiam. Meskipun sempat kaget, tapi akhirnya dia justru mengulurkan tangan, mengusap kepala Soifon yang kini tertumpu di atas meja.

Dan ketika tangannya bersentuhan dengan kepala Soifon, Yoruichi langsung mengerti penyebab mengapa tiba-tiba gadis ini menangis hanya karena mengetahui fakta bahwa Ggio berasal dari panti asuhan.

Wanita berkulit gelap itu tersenyum kecil, senyuman memahami.

Sebuah memori memang tak akan mudah dihapus. Bahkan bagian kecilnya saja dapat berpengaruh besar bagi seseorang di masa depan.

.

.

.

"GGIO VEGAAAA!"

Untuk kesekian kalinya, teriakan kesal itu menggema di antara dua apartemen mewah yang dibangun berdampingan, Apartemen Sereitei dan Las Noches. Dua orang anak berusia sekitar 10 tahun tampak berkejaran melintas taman yang menjadi lokasi refreshing bagi para penghuni apartemen tersebut.

Anak laki-laki berkepang terus berlari sambil tertawa-tawa. Dia memutar-mutar sebuh pita putih di tangannya. Pita itu berkibar tersibak angin ketika anak itu melesat di antara pepohonan. Sementara di belakangnya, seorang anak perempuan―yang juga berkepang―mengejar anak laki-laki itu dengan kekesalan yang tak bisa dibendung lagi.

"Berhenti kau, Anak Nakal!" dia berseru keras.

"Ayo, ayo, kejar aku, Soifon! Sudah lima tahun berlalu, masa kau masih juga belum bisa menangkapku? Hahahaha…." ejek anak laki-laki itu. Semakin anak perempuan berambut biru tua kesal, maka dia akan semakin terhibur. Keusilannya memang sudah tersebar di seluruh Las Noches.

Anehnya, hanya anak perempuan itu yang paling parah diganggu. Entah dengan tiba-tiba mencubitnya, memeluknya dari belakang, menyembunyikan sepatunya, sampai kali ini merebut pita putihnya.

Intinya, dia selalu bertingkah jahil, hingga berujung pada kegiatan mutlak mereka : saling mengejar. Seperti sekarang.

Tak sanggup lagi berlari, akhirnya anak perempuan itu berhenti. Dia berdiri diam, terengah-engah lantaran berusaha mengatur napas. Sepasang mata kelabunya menyorotkan kemarahan khas anak-anak.

Sekitar 5 meter di depannya, anak laki-laki berambut hitam juga berhenti berlari. Dia tidak tampak lelah sedikit pun. Cengiran ceria justru terpampang di wajah chubby-nya yang lucu.

"Bagaimana? Sudah menyerah?" ejeknya. "Akan kukembalikan pitamu kalau kau bilang menyerah."

Anak perempuan itu menggeram sengit. Sungguh, dia sudah bosan dikerjai seperti ini. Dia sudah jengah dengan kelakuan anak ini. Kenapa? Kenapa mereka harus dipertemukan dengan insiden lollipop lima tahun silam?

"Kau…." anak perempuan itu mendesis kesal. Dia menegakkan tubuhnya dan menatap sosok dihadapannya penuh dengan kebencian.

"Kenapa kau selalu membuatku kesal, Vega?" emosinya tumpah. "Apa ibumu tidak pernah mengajarimu untuk tidak mengganggu teman, hah? Apa ayahmu tidak pernah mengingatkanmu untuk selalu baik pada orang lain, hah? Kenapa kau selalu jahil dan bersikap menyebalkan kepadaku, Vega? Apa salahku?"

Anak laki-laki itu tertegun. Mata emasnya yang bulat tak berkedip sama sekali. Dia kelihatan kaget dengan luapan kekesalan yang terpendam barusan. Dan melihat anak laki-laki itu terdiam, si anak perempuan merasa senang. Akhirnya, dia bisa memberikan pelajaran kecil bagi Si Pembuat Onar dalam hidupnya.

"Dengar, ambil saja pitaku kalau kau memang sangat menginginkannya. Akan kulaporkan kau pada Barragan-san agar orang tuamu segera menghukummu!"

Usai melontarkan ancaman, anak perempuan itu berbalik. Dia melangkah pergi tanpa menoleh lagi. Pastinya dia tidak tahu bagaimana reaksi anak laki-laki itu.

Ya, dia tidak tahu. Anak perempuan bermata kelabu itu tidak bisa melihat tangan anak bermata emas itu terkulai di sisi tubuhnya. Pita putih di tangannya terhempas di tanah berumput. Kepalanya yang berlapis helaian hitam lembut pun menunduk. Dan tak butuh waktu lama sampai kemudian setetes butiran bening jatuh di ujung dagunya.

Sebuah awal dari isakan pedih yang tak bisa di dengar siapa pun lantaran dia sendirian.

*#*#*#*

"Ini benar untukku?" Ggio menatap Kisuke yang tengah mengeluarkan kue dari lemari pendingin. Di tangannya terdapat sebuah permen dengan tekstur lembut dan kenyal berwarna putih yang dibungkus plastik transparan.

"Iya, itu untukmu. Hanya tersisa satu. Terserah mau kau makan sendiri atau kau bagi dengan temanmu," sahut Kisuke sambil tersenyum.

Mata Ggio berbinar. Rasa dari kue, permen, atau es krim dan coklat yang dijual di tempat ini tak perlu diragukan lagi. Karena itulah dia tidak pernah bosan untuk datang ke toko ini dan memanjakan lidahnya dengan kreasi baru pria berambut pirang itu dan rekannya.

"Rasanya apa, Urahara-san?" tanya Ggio.

"Anggur," Kisuke menjawab singkat. Dia sibuk memasukkan kue pesanan Soifon ke dalam kotak pembungkus berwarna keemasan.

Ggio tersenyum. Benaknya disibukkan oleh satu pertanyaan : apakah Soifon suka marshmellow rasa anggur?

"Baiklah, ini kuterima. Arigatou," ucap Ggio seraya memasukkan permen di tangannya ke dalam saku.

Kisuke hanya tersenyum kecil.

"Oh, iya. Urahara-san, apa pesananku sudah ada?"

"Iya, sudah kubuat untukmu. Sebentar kuambilkan."

Ggio Vega gagal menyadari senyuman aneh yang sempat terpancar di sudut bibir Kisuke. Pria itu beralih ke sebuah lemari dan mengeluarkan kotak kayu dari laci lemari itu. Dia memasukkan tangannya ke dalam kotak kayu. Lalu saat ia menarik kembali tangannya, pria itu sudah menggenggam sebuah permen bertangkai. Tanpa bicara, dia menyodorkan permen tersebut pada Ggio.

"Ini, gratis untukmu," ucap Kisuke ramah.

"Oh, tidak, tidak. Aku akan membayarnya. Aku berniat membelinya," tolak Ggio.

Kali ini giliran Kisuke tertawa.

"Ini bonus karena kau telah membawa pelanggan yang manis ke tokoku. Akulah yang seharusnya mengucapkan terima kasih."

Sejenak Ggio tampak ragu. Dia merasa tidak enak jika harus menerima lollipop itu secara cuma-cuma. Tapi senyuman ramah di wajah Kisuke melunturkan keraguannya. Ggio pun mengambil alih permen bertangkai itu .

"Hari ini aku benar-benar merepotkanmu. Terima kasih, lagi, Urahara-san."

"Ahahaha, jangan dipikirkan, Ggio-kun."

Ggio menatap lollipop di tangannya sejenak, sementara Kisuke kembali mencermati pekerjaannya. Kardus pembungkus kue belum dihias. Matanya berkeliling dan tertuju pada pita berwarna biru di meja lain.

"Nah, dengan ini selesai sudah," seru Kisuke riang. Dia bertolak pinggang dan menatap hasil pekerjaannya dengan puas. Ggio tersenyum.

"Wah, bagus sekali," puji Ggio. Dia segera meraih kotak berisi kue pesanan dan mengamatinya. Pita berwarna biru tua tampak sangat serasi di matanya saat bersanding dengan kardus pembungkus berwarna emas.

"Saa… Kau bisa segera pulang sekarang."

Ggio pura-pura merengut. "Kau mengusirku, ya?"

"Tidak, tidak. Tentu saja tidak. Hari sudah malam. Kasihan temanmu jika pulang terlalu larut. Nanti orang tuanya mencari," Kisuke menjelaskan.

"Dia sudah tidak punya orang tua, Urahara-san," sahut Ggio. Suaranya terdengar agak datar. "Dia tinggal dengan pamannya, yang hari ini sedang berulang tahun."

Kisuke tahu penyebab suara Ggio terdengar berbeda. Dia melangkah mendekati pemuda berkepang itu dan menatapnya hangat.

"Kalau begitu, aku yakin, paman Soifon pasti akan lebih khawatir lagi."

Kalimat Urahara barusan lebih terdengar sebagai nasehat di telinga Ggio. Karena itulah dia mengangguk tanda mengerti dan menuju pintu yang membatasi dapur dengan ruangan lain.

"Yoruichi yang akan menentukan harga," ujar Kisuke seraya mulai merapikan meja. "Ajaklah Soifon ke sini lagi kalau kalian sedang libur."

Tangan kanan Ggio terhenti ketika dia memegang handle pintu. Remaja tampan itu terpaku, seperti orang yang ingin mengungkapkan sesuatu sebelum pergi. Kisuke yang menyadari keanehan Ggio pun mengarahkan bola matanya pada pemuda itu.

Dan tepat sebelum pria itu bertanya, Ggio sudah lebih dahulu bersuara.

"Urahara-san, dia orang yang sering kuceritakan padamu. Dan aku―menyukainya."

Sebuah pernyataan yang sangat jujur. Ggio langsung berlalu tanpa menoleh lagi ke belakang. Dia meninggalkan Kisuke yang terkekeh riang sambil berucap pelan. Tentunya dengan suara yang tak dapat lagi dijamah indera pendengaran Ggio.

"Aku tahu, Ggio-kun. Sejak awal, aku sudah tahu…"

*#*#*#*

"Kami pulang dulu, Yoruichi-san."

"Ya, hati-hati di jalan, Soifon-chan."

"Sampaikan terima kasih pada Urahara-san."

"Pasti, Ggio-kun. Terima kasih atas kunjungan kalian. Datang lagi lain waktu, ya."

Yoruichi membalas lambaian tangan sepasang remaja yang mulai menjauh dari muka tokonya. Dia menatap mereka dengan sepasang mata emasnya yang menyorotkan kelegaan.

Lonceng kecil di atas pintu 'Love Magic' bergemerincing ketika Yoruichi kembali masuk. Kisuke sedang berdiri dan bersandar santai di etalase. Dia seperti memang tengah menanti rekannya itu.

"Bagaimana?"

"Apanya yang bagaimana? Jangan berpura-pura tidak tahu."

Kisuke tertawa geli. Sementara Yoruichi tersenyum seraya membereskan gelas di meja.

"Hujan ini bukan ulahmu, ya?"

Kata-kata Kisuke lebih terdengar sebagai pernyataan dari pada pertanyaan. Pria berambut pirang itu melepaskan celemek yang masih dipakainya dan mengamati kue-kue di etalase.

"Tentu saja bukan. Aku percaya padamu, jadi tak ada gunanya aku ikut campur," sahut Yoruichi. Kisuke hanya menunjukkan cengiran kecil.

"Dan lagi," wanita berambut ungu itu melanjutkan, "aku tahu mengapa kau memilih mereka 12 tahun yang lalu. Karena Ggio Vega dan Shaolin Fon memiliki latar belakang yang sama. Benar, kan?"

"Merasakan kepedihan lantaran tidak lagi memiliki orang tua," Kisuke mengangguk-angguk aneh. "Kau cerdas sekali, Yoruichi."

"Dan kau jenius. Penyihir jahil yang jenius."

"Terima kasih."

Kisuke tertawa lagi. Yoruichi sendiri ikut terkikik sambil membawa baki berisi gelas kosong ke dapur.

*#*#*#*

Ggio dan Soifon masih melangkah beriringan di bawah payung pinjaman dari Yoruichi menuju halte bus terdekat. Mereka berharap jalan tidak macet, sehingga bisa tiba di apartemen masing-masing secepat mungkin.

Hujan masih turun selembut embun, namun cukup membasahkan. Ggio merasa sedikit aneh dengan suasana yang terbangun di antara dia dan Soifon. Sejak tadi, gadis mungil itu hanya diam dan tak melontaran apapun. Ketika Ggio meledeknya, Soifon juga hanya membalas dengan senyuman tipis.

Aneh. Ada apa dengan gadis ini sebenarnya? Kenapa dia kelihatan murung? Bukankah dia sudah mendapatkan kue yang ia cari?

Tak tahan dengan rasa penasarannya sendiri, Ggio pun nekat bertanya.

"Soifon, kau kenapa?"

Soifon tak langsung menjawab. Dia justru menggenggam tali tas karton yang berisi kue dengan lebih erat.

"Tidak. Aku baik-baik saja," jawab gadis berkepang itu singkat.

"Bohong. Kau sedang sedih, aku tahu," tuduh Ggio.

Soifon menggigit bibir bawahnya. Teringat penjelasan Yoruichi-san di toko tadi membuat rasa bersalahnya membesar. Padahal kejadian itu sudah terlewat beberapa tahun yang lalu. Tapi, kenapa ia baru menyadarinya sekarang? Kenapa ia baru menyadari makna dari kata-kata pedas―yang dia ucapkan pada Ggio 7 tahun lalu―sekarang?

Dengan entengnya, saat itu, Soifon mengungkit soal ayah dan Ibu Ggio. Tanpa ia tahu, bahwa anak nakal yang selalu memancing emosinya itu menggenggam takdir yang sama dengannya : yatim piatu.

Soifon sendiri mengakui, ia lebih beruntung karena dirawat oleh pamannya―keluarganya. Tapi Ggio? Oh, bahkan bocah usil itu pernah merasakan tinggala di panti asuhan.

Sial, Soifon memaki ketika matanya terasa perih. Jangan menangis di sini, Soifon! Ayolah, dia mulai panik ketika tatapan Ggio terasa semakin intens.

"Matamu merah. Kau mau menangis, ya?"

Tanpa aba-aba, langkah Soifon terhenti. Dia tertunduk, membuat poni rambutnya menutupi sebagian wajahnya. Ggio semakin heran. Alisnya terangkat, tak mengerti dengan perubahan sikap Soifon. Ini terlalu tiba-tiba.

"Hei, Soi? Kau kenapa?" dengan memberanikan diri, Ggio memegang bahu Soifon. Dia sudah siap menerima amukan dari gadis berpostur mungil itu. Tapi nyatanya, Soifon tak bereaksi.

"Soifon?" Ggio mendekati Soifon satu langkah. Dia mengangkat dagu gadis itu dengan tangannya yang tidak memegang payung. "Hei, kau ini kenapa, Soi? Kau―astaga! Kau serius menangis?" pekiknya seketika.

Soifon menyentak tangan Ggio. Dalam hati dia menggerutu. Berlebihan sekali reaksi pemuda ini? Apa dia tidak pernah melihat perempuan menangis? Kenapa dia harus memekik sekeras itu?

"Aku tidak apa-apa. Sudah, aku pulang sendiri saja!"

Soifon langsung berlari meninggalkan Ggio. Tubuhnya basah kuyup saat dia keluar dari naungan payung. Suara Ggio yang memanggil pun terabaikan. Bahkan dia hampir lupa bahwa di tangannya ada kue yang akan ia berikan pada Omaeda.

Soifon terus berlari dengan perasaan yang kacau balau. Pikirannya kusut saat mengingat kata-kata Yoruichi beberapa saat yang lalu.

.

.

.

"Kau tahu alasan Ggio selalu mengganggumu?"

Yoruichi bertanya sambil mengarahkan tatapannya ke luar jendela. Sosok di hadapannya masih terisak tanpa suara. Sadar bahwa pertanyaannya tak mungkin dijawab, wanita itu pun kembali bersuara.

"Ggio cukup dekat denganku dan Kisuke karena Barragan adalah pelanggan tetap kami. Dia sering menceritakan pada kami tentangmu. Kau tentu masih ingat, Ggio pernah merebut permenmu ketika kalian masih kecil, kan? Nah, sejak itu dia selalu memperhatikanmu."

Hening. Tak ada sepatah kata pun yang menyahuti kata-kata Yoruichi. Tapi dia tetap meneruskan monolognya.

"Dia bilang, kau selalu tampak murung. Dia juga tahu bahwa kau tidak punya orang tua seperti dirinya. Karena merasa senasib denganmu, Ggio kecil berniat untuk menghiburmu. Sayangnya, dia tidak tahu cara yang tepat. Karena itulah dia selalu mengganggumu. Dan lagi, saat itu kau selalu menutup diri dan bersikap ketus padanya sejak pertemuan pertama kalian."

Penjelasan Yoruichi terhenti sejenak. Dia menyodorkan selembar tisu pada Soifon yang telah mengangkat kepala. Wajahnya tampak sembap. Air mata melumuri pipi putihnya. Sepasang mata kelabu remaja perempuan itu juga memerah. Dia kelihatan sangat menyesal.

Yoruichi telah mengenali tipe-tipe seperti Soifon―bersikap keras, namun sebenarnya memiliki perasaan yang halus. Dia tahu, bahwa gadis mungil ini pasti sangat menyesal setelah mendengar penjelasannya.

"Dan saat Ggio hendak memperbaiki hubungan kalian―" Yoruichi bersuara pelan, "―kau telah membencinya."

"Tidak," untuk pertama kalinya suara Soifon terdengar. Dia tampak berusaha menguatkan diri. "Aku tidak membencinya. Aku… tidak benar-benar membencinya, Yoruichi-san…"

Yoruichi tersenyum kecil. Sekarang bukan hanya mata Soifon yang memerah, melainkan wajahnya juga. Dia menyandarkan tubuh di sandaran kursi. Mata emasnya memancarkan sesuatu. Suaranya yang lembut dan tegas terdengar.

"Dia terus menjahilimu sampai sekarang karena tidak mau kehilanganmu, Soifon. Jadi kalau kau memang tidak membencinya, katakan saja…"

.

.

.

Selang beberapa saat, Soifon tiba di halte bus terdekat. Dia berharap bus yang ditunggunya segera datang. Berbagai macam perasaan tercampur aduk di hatinya. Dan dia juga tidak tahu harus bagaimana jika bertemu Ggio sekarang.

Oh, tentu saja, Soifon merasa sangat pengecut. Dia malu. Rasa bersalahnya telah membuatnya bagitu tidak ingin bertemu pemuda usil itu. Padahal Ggio sudah berbaik hati mengantarnya. Dan bukannya meminta maaf lalu memulai hubungan yang baik, dia malah meninggalkan pemuda itu sendirian―di bawah guyuran hujan.

Soifon optimis―setelah kejadian ini, mereka pasti akan jadi musuh. Siapa, sih, orang yang mau diabaikan seperti ini? Setelah susah payah membantu, lalu ditinggalkan begitu saja. Tanpa mengucapkan terima kasih, pula.

Ah, biarkan saja, Soifon tersenyum miris―berusaha mengejamkan diri. Toh, hubungan mereka memang selalu diisi dengan pertengkaran. Soifon yakin, akan lebih mudah bagi mereka untuk tidak lagi saling menyapa.

Tapi, entah kenapa―membayangkan tak ada lagi keusilan Ggio yang akan menjadi bagian dari kesehariannya, membuat Soifon merasa sesak. Pertengkarannya dengan Ggio sudah menjadi kebiasaan. Dan mengingat, kemungkinan, semua itu akan berakhir―Soifon merasa dadanya seperti terhimpit.

Apa ini? Perasaan apa ini?, pertanyaan itu terngiang di kepala Soifon. Kenapa dia tiba-tiba merasa takut kehilangan sosok Ggio? Kenapa?

"Kau bisa sakit kalau pakaianmu basah begitu," satu suara terdengar seiring dengan sebuah jaket putih yang tersampir di bahu Soifon.

Sontak, Soifon pun menoleh. Dia terbelalak melihat seseorang telah berdiri di sebelahnya. Apalagi saat tatapannya tertumbuk pada seragam sosok itu yang juga basah kuyup.

"Ggio?" desis Soifon.

Ggio menoleh dengan tatapan malas. "Larimu cepat sekali. Aku hampir putus asa mengejarmu," gerutunya.

Bibir Soifon terbuka. Dia hendak melontarkan omelan sebagai hadiah dari kenekatan Ggio yang mengejarnya. Tapi, alih-alih mengomel, justru tak satu pun perbendaharaan kata di otaknya berhasil terucap.

"Apa?" cecar Ggio. "Kau mau marah karena aku mengejarmu? Kau pikir, aku akan bilang apa pada Omaeda-san kalau sampai kau tidak pulang lantaran tersesat?"

Soifon kembali terbelalak. Tapi kali ini berbeda alasan. Bukan karena kemunculan Ggio yang tiba-tiba, seperti tadi.

Tanpa peringatan, Soifon langsung menginjak kaki pemuda berkepang itu keras-keras. Ggio menjerit. Beruntung halte sedang sepi, hanya ada mereka berdua. Dia tak perlu khawatir ada yang menertawakannya saat berjingkat-jingkat menahan sakit.

"Shaolin Fooonnn!" geram Ggio, masih sambil memegangi kakinya.

Soifon melengos. "Rasakan kau, baka! Kau pikir aku bodoh sampai-sampai tak bisa pulang sendiri?"

"Tapi tak perlu sampai menginjakku, kan?" Ggio meringis. Dia mundur dan duduk di kursi besi yang ada di halte. Berkali-kali dia memukul kursi besi itu untuk melampiaskan rasa sakitnya.

Soifon menatap Ggio lekat-lekat. Pelan, dia menghampiri pemuda itu dan duduk di sampingnya.

Hujan masih terus mengguyur. Angin yang bertiup pun berhembus dingin. Soifon melepas jaket yang diberikan Ggio setelah meletakkan plastik berisi kue di sebelahnya.

"Eh? Kenapa jaketnya dilepas? Kau bisa masuk angin, tahu!" Ggio berusaha memasangkan kembali jaket putih itu di bahu Soifon, tapi Soifon bergerak menyingkir.

Ggio pantang menyerah, dan Soifon terus bersikeras menolak. Beberapa menit berlalu dalam perebutan memasang-dan-melepas jaket. Tingkah mereka benar-benar seperti anak kecil. Sampai akhirnya Ggio mengalah.

"Kenapa sih kau keras kepala sekali?" protesnya.

Soifon menoleh galak. "Kau pikir aku bisa memakai jaket itu sendirian, sementara kau juga kedinginan?" semburnya, lalu melengos lagi.

Ggio sempat kaget. Tapi kemudian, dia justru tersenyum. Ekspresi yang tersirat di wajah Soifon itu kekhawatiran, kan? Ggio tidak salah jika menganggapnya demikian, bukan? Karena kalau bukan atas dasar khawatir, mengapa Soifon memikirkan kesehatannya juga?

"Sayang juga kalau jaket ini tidak dipakai," ocehnya sambil merentangkan jaketnya. Dan dengan cepat, dia menyampirkan jaket putih itu kebahunya dan bahu Soifon. Mereka terkurung dalam satu jaket.

Soifon tersentak lalu menoleh. Dia hendak melancarkan protes. Namun saat menyadari wajah mereka terlalu dekat, Soifon kembali membuang muka.

"Nah, dengan begini, kita tidak akan masuk angin. Benar, kan?" lanjut Ggio.

"Terserah!" tandas Soifon masih dengan berpaling. Tentunya dengan melewati kesempatan untuk menyadari cengiran di wajah Ggio ketika melihat semburat merah merambati pipi Soifon.

Waktu berlalu dengan keheningan. Bus yang ditunggu tak kunjung datang. Sementara hujan tidak menunjukkan tanda-tanda akan berhenti. Dan ditengah kesunyian yang mendominasi suasana, Ggio bersuara.

"Hei, Soi, kenapa kau menangis?" tanyanya. Dia menatapa lurus tanpa objek yang jelas.

Soifon tak langsung menjawab. Tubuh pemuda berkepang yang duduk sangat dekat dengannya meradiasikan kehangatan. Jujur, itu cukup menganggu kerja otaknya. Belum lagi detak jantung berirama cepat yang bertalu-talu di dalam dada Soifon. Gadis berkepang itu pun kian merasa gugup.

Hei, seorang Soifon gugup? Yang benar saja?

Tapi sepertinya, ini adalah waktu yang tepat untuk memperbaiki banyak hal. Perubahan tidak akan pernah terjadi selama tidak dimulai, bukan?

"Ggio, aku mau minta maaf," akhirnya Soifon memberanikan diri.

"Untuk apa?" tanya Ggio, tanpa menatap lawan bicaranya.

Sejenak Soifon tampak ragu. Dia sampai menarik nafas beberapa kali, hingga kemudian menjawab dengan suara parau.

"Untuk… pita putih… tujuh tahun yang lalu…"

Tak perlu waktu lama, sebuah ingatan langsung melintas di benak Ggio. Pemuda itu menoleh dan mendapati tatapan mata kelabu Soifon juga terarah kepadanya.

"Saat itu aku tidak tahu bahwa kau… sama sepertiku," lanjut Soifon pelan. Suaranya bergetar. "Aku tidak tahu… kalau kita… sama-sama…"

Kata-kata Soifon tertelan ketika dirasanya jari telunjuk Ggio mendarat di bibirnya. Pemuda itu menggeleng perlahan. Mata emasnya memohon Soifon untuk berhenti bicara.

"Jangan meminta maaf. Kau tidak salah," ucap Ggio seraya menurunkan jarinya. "Kau tidak tahu keadaanku, kan? Jadi kau tidak salah, Soifon," tegasnya.

"Tapi, Ggio. Aku―"

"Mou ii," Ggio kembali menyelak. "Dari pada membicarakan itu, ada sesuatu yang ingin kuberikan."

Mata kelabu Soifon mengamati pemudia di dekatnya mengeluarkan sesuatu dari saku. Alisnya berkerut saat mengenali benda bertangkai itu.

Sebuah lollipop.

"Ini, sebagai ganti dari lollipop yang kuambil darimu 12 tahun yang lalu," ujar Ggio. "Aku telah berkali-kali meminta Urahara-san membuat yang sama persis dengan milikmu. Tapi baru sekarang aku bisa mendapatkannya."

Soifon terperangah. Dia sungguh tak tahu harus berkata apa. Tak pernah ia mengira bahwa Ggio Vega, sosok yang begitu mengganggu hidupnya, akan berbuat sejauh ini. Hei, tidak mudah mendapatkan permen yang dibuat belasan tahun lalu. Apalagi hanya sebatang.

"Ggio…"

Suara lirih Soifon membuat Ggio melenguh sambil memutar bola matanya. Kegugupan dan salah tingkah terpancar jelas di mata emas itu.

"Ugh, Soi, aku tidak tahu bagaimana cara yang baik untuk meminta maaf pada perempuan. Jadi, yah, kuharap ini cukup. Maafkan aku, ya…"

Soifon bukan orang yang mudah terharu, sebenarnya. Namun kesungguhan yang terasa dalam kata-kata Ggio membuat mata kelabunya berkabut. Sebisa mungkin ia tidak mengizinkan lapisan bening di sana bertransformasi menjadi butiran hangat.

"Iya. Maafkan aku juga ya, Ggio," balas Soifon. Tangan mungilnya berinisiatif meraih lollipop di tangan Ggio, lalu membuka pembungkusnya.

Dan dengan tetap menatap wajah pemuda yang sedang tersenyum itu, Soifon memakan lollipop miliknya yang sempat direbut 12 tahun lalu.

Rasa anggur itu, ternyata manis sekali…

*#*#*#*

Omaeda merengut sambil terus mengamati benda berwarna ungu muda dengan hiasan serpihan coklat yang tersaji di hadapannya. Dia tahu, benda itu adalah kue. Tapi bentuknya yang 'unik' ―agak gepeng di beberapa bagian―membuat pria tambun itu ragu. Apakah kue ini bisa di makan?, pikirnya.

"Euh, kue itu aman untuk di makan kok, Omaeda-san," seorang pemuda berkepang menjelaskan. Dia sepertinya bisa menebak apa yang terlintas di kepala pria itu.

Omaeda mengalihkan pandangan ke pemuda itu, lalu ke seorang gadis remaja yang duduk di sebelah pemuda itu. Ekspresi mereka berbeda. Si pemuda sedang mengumbar cengiran, sedangkan si remaja perempuan kelihatan biasa saja.

"Kue ini… untukku?" tanya Omaeda memastikan.

"Ah, tentu saja," pemuda bermata emas kembali berkicau, tepat ketika gadis berambut biru tua hendak bersuara. "Soifon sudah susah payah membe―"

PLAAKK!

"Aduuhh!" pemuda itu menanggapi pukulan manis yang mendarat di kepalanya dengan meringis. Ditatapnya pelaku pemukulan dengan sepasang mata emas yang siap melayangkan protes.

"Apalagi, Soi? Kita kan sudah berbaikkan. Kenapa kau masih memukulku terus?"

"Kau menyelak kesempatanku untuk bicara, tahu!"

"Bicara apa? Kau dari tadi diam saja, kok. Makanya, kalau mau ngomong itu buka mulutmu dan bersuara."

"Kau yang selalu menyelakku, Ggio Vega!"

"Aku tidak menyelakmu, Shaolin Fon!"

Tawa keras Omaeda terburai melihat perdebatan seru Ggio dan Soifon. Perut buncit pria itu sampai berguncang-guncang. Ggio dan Soifon langsung saling membuang muka setelah menyadari bahwa mereka sedang menjadi tontonan.

Awalnya, Omaeda memang hendak menginterogasi Soifon yang baru sampai pukul delapan malam. Tapi saat melihat sosok Ggio berdiri bersama Soifon di depan pintu, Omaeda pun menelan semua pertanyaan yang hendak ia lontarkan. Terlebih ketika pemuda itu―yang ia ketahui sebagai cucu Barragan Luisenbarn, penghuni Las Noches lantai dua―langsung menghaturkan permohonan maafnya karena menyebabkan Soifon pulang terlambat.

Entah kenapa, Omaeda merasa ada sesuatu di antara kedua remaja itu.

Dan, disinilah mereka sekarang. Duduk bertiga mengelilingi kue ulang tahun yang sangat unik tapi rasanya enak. Omaeda telah mencicipi krimnya. Tidak terlalu manis, sesuai dengan seleranya. Kue ini aman, pikirnya.

"Aku sempat menjatuhkan kue itu, jadi… maaf kalau bentuknya rusak," Soifon beralasan. Dia melirik tajam pada Ggio yang sedang berusaha keras menahan cekikikan.

Omaeda tersenyum kecil. "Tapi tetap enak kok, Soifon. Terima kasih, ya…"

Sepasang mata kelabu Soifon berbinar. Ia berdiri dari duduknya dan langsung memeluk pamannya dengan erat.

"Otanjoubi omedettou, Jii-san. Maaf aku tidak bias memberimu apa-apa. Tidak sebanding dengan semua yang telah kau berikan padaku."

Omaeda mengusap-usap punggung Soifon. Ia terharu, tapi sebisa mungkin ditutupi dengan tawa kecilnya.

Ah, waktu berjalan begitu cepat. Tak terasa, Soifon kecil yang dulu dirawatnya kini sudah remaja. Dan Soifon kecil yang dulu menangisi kepergian orang tuanya kini sudah menjadi gadis yang kuat.

"Iie, Soifon. Ini sudah lebih dari cukup," sahut Omaeda.

Soifon menyusut kubangan di pelupuk matanya lebih dulu sebelum melepaskan pelukan. Ia membalas senyum Omaeda dengan senyuman bahagia di wajahnya. Sungguh sebuah family scene yang mengharukan.

Sepuluh menit kemudian, Ggio pamit pulang. Soifon pun mengantarnya sampai koridor. Tak lupa ia mengucapkan terima kasih. Karena tanpa Ggio, dia tidak akan bisa melakukan semua ini. Dan ucapan terima kasih itu dibalas dengan anggukan kepala.

Soifon sudah hendak berbalik ketika pemuda berambut hitam itu memanggilnya. Entah kenapa, tiba-tiba saja jantung Soifon berdegup tiga kali lebih cepat. Tapi ia berusaha mengabaikan sensasi aneh itu dan kembali menatap Ggio.

Satu hal yang tak mungkin luput dari indera penglihatannya―mata emas itu menyorotkan keseriusan yang berbeda dari biasanya.

"Soifon, ada yang ingin kukatakan padamu," ucap pemuda itu.

"Ya, katakan saja," ujar Soifon. Dia berdoa dalam hati, semoga suaranya tidak terdengar bergetar.

Ggio berdiri tepat di depan Soifon, membuat tubuh mungil gadis berkepang itu tenggelam dalam bayangannya. Tanpa melepaskan kontak mata di antara mereka, dia meraih tangan Soifon dan meletakkan sesuatu di telapak tangan mungil itu.

Soifon mengerutkan kening saat mengenali benda itu. Marshmellow? Ia langsung mengangkat wajahnya dan menatap Ggio penuh tanda Tanya.

"Kuberikan permen itu padamu. Aku tidak tahu kau menyukainya atau tidak. Tapi aku menyukainya. Dan aku―"

Ggio sengaja menggantung kata-katanya. Dia tersenyum kecil, sebelum akhirnya mnearik tubuh mungil Soifon ke dalam pelukannya. Tanpa ragu―juga tanpa mempedulikan reaksi Soifon yang terbelalak―dia melanjutkan pernyataanya yang tertunda.

"―aku menyukaimu, Shaolin Fon."

Ggio melepaskan pelukannya. Dia tersenyum jahil melihat Soifon terpaku dengan wajah yang merah padam. Alih-alih minta maaf karena sudah memeluk tanpa izin, dia justru tambah nekat. Dia membuat gadis manis itu kian memerah dengan mencium keningnya.

"Kau boleh mengembalikan permen itu besok pagi di sekolah kalau kau memang tidak suka. Tapi malam ini, aku akan berdoa agar kau mau memakannya," Ggio tetap mendominasi pembicaraan. "Nee, Oyasuminasai, Soifon," ucapnya sebelum menghilang di antara cahaya lampu penerang pelataran apartemen.

Sebuah penjelasan implisit. Ggio Vega sukses besar malam ini. Senyum lebarnya terkembang ketika melangkah meninggalkan sosok yang masih terpaku itu. Dia yakin. Dia sangat yakin dengan apa yang akan didapatkannya sebagai jawaban.

Sementara itu, Soifon masih terdiam. Dia kaget. Lututnya terasa lemas. Dia juga bisa mendengar darahnya yang berdesir cepat, membuat kepalanya seperti berputar-putar. Oh, itu saja belum cukup. Jantungnya… Hei, kenapa jantungnya seperti mau meledak? Astaga, jadi inikah reaksi setiap gadis yang baru saja mendengar pernyataan cinta?

Perlahan, tatapan Soifon teralih pada permen putih di tangannya. Entah kenapa, wajah Ggio langsung terbayang dan membuat wajahnya bertambah panas. Blushing. Tanpa diminta, semua ingatannya yang menyangkut pemuda usil itu melintas. Dan yang paling kuat adalah saat di halte bus tadi.

Ggio mengejarnya. Ggio memakaikan jaket kepadanya. Ggio meminta maaf. Ggio bahkan mengembalikan lollipop pengikat takdir bagi mereka. Ggio…

"―aku menyukaimu, Shaolin Fon."

Angin malam berhembus. Tapi jaket putih yang masih bertengger di bahu Soifon melindunginya dari udara dingin. Aroma maskulin yang menguar pun membuat Soifon menggenggam erat jaket itu. Degup jantungnya belum stabil. Semburat merah juga masih mewarnai pipinya. Tapi Soifon tahu apa yang ingin ia lakukan.

Tanpa ragu, ia membuka pembungkus permen di tangannya. Sambil membayangkan seraut wajah di benaknya, ia memasukkan permen itu ke dalam mulutnya. Rasa anggur yang manis memanjakan lidahnya dengan ramah.

Soifon tersenyum kecil. Kepalanya menoleh ke kiri, di mana gedung apartemen berwarna dasar putih berdiri megah : apartemen Las Noches. Senyuman tulus yang memancarkan kebahagiaan tersungging di bibir gadis berambut biru itu saat ia berbisik pada malam.

"Aku… tidak membencimu, Ggio Vega…"

Sebuah hubungan yang manis―seperti rasa marshmellow ini―akan dimulai esok hari.

*#*#*#*

Weehh? Puanjang amat? Ahahaha, biarlah. Semoga para penggemar Soi-Ggio dan semua pembaca fic ini puas. Ah, mohon maaf atas keterlambatan update. Dan memang belum kukasih OWARI karena perjalanan 'Marsmellow' masih panjang. Ahahaha… Doakan semoga perjalanan ini akan lancer, ya.

Yoo, mari kita warnai kanvas FBI dengan berbagai warna melalu Bleach Vivariation Festival. Bulan april ini loh. Jadi, ikutan berpartisipasi, ya.

Jika berminat, bergabung dulu di FB: Bleach Vivariation Festival dan ikuti pendaftarannya. Bagi yang tidak punya FB silakan hubungi panitianya: YumitoClover, MikaShimo, aRaRaNcHa, Kuroliv dan DeBeilschmidt. Okeh?^^

Well, Let's we see. Anggur udah ada banyak rasa, nih. Besok mau pake apa, ya? Ada yang punya ide? XD

Katakan lewat ripyu. Terima kasih atas kunjungannya, minna…^^