Virious Hitomi Shoyou

Eyeshield 21 Riichiro Inagaki dan Yusuke Murata.

Warning : OOC dan TYPO


Sena berjalan menuju Universitasnya di temani Monta yang terus-terusan mengoceh tetang ambisinya untuk mengalahkan Ikkyu pada pertandingan dengan Saikyoudai Wizards 3 hari lagi. Ya sejak 2 hari yang lalu, saat Ikkyu mengantar surat tantangan untuk Enma Fire Monta terlihat begitu berapi-api seperti biasa.

"Hoy Sena! Kau harus mengalahkan Yamato senpai ya. Tim kita pasti menang di pertandingan nanti MAX!" kata Monta mengepalkan tangannya.

"Ahaha…" Sena hanya tertawa ringan melihat semangat salah satu sahabatnya itu.

"YA~ kalian! Tunggu aku!" teriak Suzuna dari kejauhan di belakang Sena dan Monta.

Sena dan Monta menolehkan kepala mereka ke belakang. Gadis hiperaktif itu meluncur dengan inline skate yang selalu dia pakai kemanapun itu.

"YA~ Ohayou," sapa Suzuna.

"Ohayou Suzuna," kata Sena.

"Ohayou MAX!" kata Monta semangat.

Mereka lalu kembali berjalan.

"Riku tidak bersama kalian?" tanya Suzuna saat menyadari tidak ada sosok Riku di antara Sena dan Monta.

"Ano.. Riku tadi pagi bilang ia tidak masuk hari ini. Sepertinya ada urusan," kata Sena.

"Emm… begitu." kata Suzuna.
"Sore nanti bagaimana kalau kita ke café? Sekalian mengerjakan tugas kuliah bersama," kata Suzuna.

"Setuju MAX!" kata Monta.

"Pasti Monmon tidak bisa lagi dalam mengerjakan tugasnya, makanya langsung setuju." tebak Suzuna dan mendapat cengiran dari Monta.

"Baiklah," kata Sena.

"Lagi pula bilang saja kalau Nona Taki ini ingin terus bersama Tuan Kobayakawa. Xixixi… benarkan MAX?" kata Monta melirik Suzuna. Beberapa detik kemudian Monta merasakan aura kematian menghampiri dirinya.

Suzuna megeluarkan aura hitam dan matanya begitu menakutkan.

"SUDAH AKU BILANG JANGAN MEMANGGILKU DENGAN NAMA MARGAKU. AKU TIDAK MAU DISAMAKAN DENGAN KAKAKKU YANG IDIOT ITU!" Suzuna mengamuk habis-habisan dengan cara melindas punggung Monta dengan inline skatenya.

"MUKYAA! Ampun MAXXX!" Monta terlihat kesakitan. Poor Monta…

"Ano.. teman-teman… sepertinya kita akan terlambat jika kalian tidak menghentikan ini semua," kata Sena melihat pertengkaran kedua temannya itu.

Suzuna dan Monta menoleh ke Sena. "Kau benar!" lalu mereka langsung lari dengan cepat meninggalkan Sena.

'Kenapa aku di tinggal….' batin Sena di antara hembusan angin.

Virious

Clifford sedang berdiri di atas atap penjara Emfire, melipat ke dua tangannya di dada. Pakaian dan rambutnya bergerak saat angin menerpanya. Dari sudut matanya Clifford menyadari ada seseorang yang datang.

"Anda yakin mempercayakan semuanya padanya, Clifford sama?" kata seorang gadis. Berperawakan kecil dari gadis seumurannya, sorotan matanya kosong tak terpancar ekspresi apapun.

"Ya. Jika ia gagal ia juga harus berjuang dalam membebaskan diri dari teman kecilku. Apa Shin menanyakan hal ini padamu?" Clifford menghampiri Wakana.

"Ya." kata Wakana.

"Orang itu terlalu takut mengambil resiko. Ternyata sikap kerasnnya tidak sepadan dengan cara berpikirnya. Sebaiknya kau kembali ke kamarmu, di sini sangat dingin kondisimu sangat lemah." kata Clifford dan mendapat anggukan dari Wakana.

Hiruma dan Karin sedang berada di ruangan tempat biasa para anggota Saikyoudai Wizards berkumpul. Tapi kali ini tidak ada para pemain lain hanya mereka berdua. Karin sengaja dipanggil oleh Hiruma untuk datang ke sana, padahal jam kuliah sedang berlangsung. Dan disinilah mereka sekarang duduk saling menghadap hanya meja yang memisahkan mereka. Karin meletakkan kedua tangannya di paha dan menundukkan kepalanya, ia memang cukup takut jika dekat dengan Hiruma terlebih lagi tidak ada orang lain. Kalian tahu sendiri Hiruma itu seperti iblis menurut orang kebanyakan.

"Rambut kuning sialan, mulai hari ini kau menjadi Quarterback kedua." kata Hiruma sambil mengunyah permen karet mint kesukaannya.

Karin terkejut dan mendongkakkan kepalanya, "A.. Apa? Aku jadi Quarterback? Tapi.. tapi bagaimana dengan posisi Manager?" kata Karin.

"Masalah Manager aku akan mencari orang untuk menggantikanmu. Sekarang kembali padamu, aku tahu kau ingin menjadi Quarterback, selagi aku memberimu kesempatan apa kau akan menolaknya?" kata Hiruma.

Karin terdiam terlihat berpikir atas kata-kata Hiruma.

"Kalahkan rasa takutmu jika ingin menjadi apa yang kau mau rambut kuning sialan. Aku butuh konfirmasi jawabanmu sore hari saat latihan nanti," Hiruma bengkit dari kursinya dan keluar dari ruangan itu, meninggalkan Karin yang masih terdiam.

'Aku direkrut menjadi Quarterback. Sebenarnya aku sangat senang tapi apakah kemampuanku ini cukup layak sehingga Hiruma merekrutku?' kata Karin dalam hati.

~Virious~

Hari sudah siang, kuliah juga sudah usai di Universitas Saikyoudai. Hiruma dan Yamato sedang berada di kantin Universitas terlihat sedang mendiskusikan sesuatu.

"Lihat ini," kata Yamato menyodorkan beberapa lembaran kertas ke Hiruma.

Hiruma mengambil kertas itu lalu melihat dan membaca isinya.

"Hanya ini rambut liar sialan?" kata Hiruma.

"Ya. Apa tidak ada yang masuk dalam kriteria? Menurutku itu sudah yang terbaik." kata Yamato.

"Itu menurutmu. Jika ini orang-orang pilihanmu aku mau besok adakan wawancara dan tes setelah jam kuliah selesai. Aku, kau dan mata sialan yang akan menilai para peserta." kata Hiruma hendak pergi lalu menoleh ke Yamato.
"Kau melihat mata merah sialan?" tanya Hiruma.

"Hmm… aku juga tidak tahu." jawab Yamato.

Universitas Enma

Sena dan yang lainnya berlatih amefuto dengan semangat. Monta dengan cepat dan sigap menangkap lambungan bola yang di lempar oleh usui. Sena melatih dirinya dengan berlari, kurita dan para lineman lainnya juga berlatih dengan latihan yang sesuai dengan posisi mereka masing-masing. Suzuna juga tidak lelahnya menyemangati teman-temannya berlatih.

Latihan akhirnya selesai dan mereka semua terlihat kelelahan, berharap segera mendapat air. Suzuna dengan bantuan inline skatenya dengan cepat membagikan minuman pada teman-temannya.

"Ah… leganya MAX…" kata Monta setelah meminum habis minumannya. Ia terkapar di tanah, tidak peduli hal itu akan mengotori bajunya toh baju latihannya memang sudah kotor dan ia sudah sangat lelah.

"Latihan hari ini bagus teman-teman," kata Usui.

"Kita harus menang dari tim Hiruma senpai MAX!" kata monta kembali semangat lalu terkapar kembali.

'Sudah puluhan kali ia mengatakan hal itu hari ini,' batin Sena dan yang lainnya dengan sweatdrop.

Suzuna terlihat tergesa-gesa menghampiri Sena, "Sena ada panggilan masuk diponselmu!" kata Suzuna menyerahkan ponsel Sena. Sena mengambilnya dan menjawab panggilan itu.

"Moshi moshi,"
"Eh?! Untuk apa? Baiklah," lalu Sena menutup ponselnya.

"Dari Riku," kata Sena melihat Suzuna.

"Tapi kenapa Sena terlihat terkejut?" tanya Suzuna.

"Riku menyuruhku ke bandara sekarang. Tapi aku tidak tahu kenapa ia menyuruhku kesana," kata Sena.

"Ke bandara MAX? Untuk apa?" kata Monta, Sena hanya menggeleng.

"YA~ kita ikut Sena saja. Dan acara ke café kita batalkan," usul Suzuna dan terlihat tanda tanya di wajah Monta.

"Untuk apa kita ikut juga?" kata Monta yang terlihat malas.

"Sudahlah ikut saja Monmon," kata Suzuna menatap Monta dengan horror.

"Ba.. Baik MAX…" kata Monta ketakutan. Membuat kesal atau marah seorang nona Taki sama halnya kau berurusan dengan iblis ke dua setelah Hiruma.

"Baiklah kalau begitu aku ganti baju dulu ya. Ayo Monta," kata Sena. Monta setengah malas untuk bangun tapi ia tetap bangun di bandingkan harus berurusan dengan sisi gelap Suzuna. Poor Monta…

Yang lainnya juga mulai berhamburan berganti pakaian dan membereskan barang-barang mereka untuk pulang kerumah mengistirahatkan diri mereka.

Sena dan Monta sudah selesai berganti baju, mereka meraih tas mereka dan berjalan ke depan menghampiri Suzuna yang sudah menunggu. Suzuna terlihat sedang berjongkok mengelus-elus seekor kucing liar yang berada di lapangan itu. Sena terlihat terdiam sesaat memperhatikan kegiatan Suzuna. Monta yang merasa aneh melihat Sena yang berhenti berjalan menoleh kebelakang dan cengiran jahilnya muncul.

"Ehem.. manis ya?" bisik Monta.

"Iya…" kata Sena masih memeperhatikan Suzuna detik berikutnya ia baru sadar dan terlihat gugup.
"Eh? Eto.. ano…" kata Sena mengaruk belakang kepalanya yang tidak gatal dengan gugup dan rasa malu.

"Xixixi… Kapan kau akan mengungkapkannya? Keburu di ambil orang lho…" kata Monta menakut-nakuti Sena.

"Mo.. monta!" kata Sena.

"Hahaha… beranikan dirimu. Sudahlah ayo," kata Monta merangkul pundak sahabatnya itu.

Suzuna yang melihat Sena dan Monta menghampirinya kembali berdiri dan melambai-lambaikan tangannya ke dua temannya itu.

"YA~ kita berangkat sekarang!" kata Suzuna.

Lalu mereka bertiga pergi meninggalkan Universitas Enma. Mereka pergi menuju bandara menaiki bus dan hal itu bisa Monta manfaatkan untuk beristirahat sebentar.

Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk mencapai bandara tujuan Sena dan teman-temannya. Sesampainya disana Sena mencari tempat yang dimaksud Riku. Dari kejauhan Sena melihat Riku sedang berada di sebuah toko minuman.

"Sena!" kata Riku melambaikan tangannya saat melihat Sena dan yang lain menghampirinya.
"Kalian ikut juga?" kata Riku.

"Hehehe… kami yang minta ikut pada Sena. Tidak apa kan?" kata Suzuna mengambil salah satu kursi untuk duduk.

"Tentu saja tidak apa-apa," kata Riku.

"Ano.. sebenarnya siapa yang akan kita tunggu Riku?" tanya Sena penasaran, sama halnya Monta dan Suzuna.

Riku tersenyum sekilas, "Kau akan tahu siapa dia nanti,".

Pesawat dari Amerika masih beberapa menit lagi datang, Riku dan yang lain mulai menuju tempat menunggu para penumpang yang tiba dari Amerika.

Para penumpang keluar satu persatu, ada yang keluar lebih dari satu atau hanya seorang. Seorang gadis dengan tinggi cukup ideal keluar sendiri menyeret kopernya.

"Woah…" beberapa orang yang memperhatikannya takjub melihat gadis itu tak terkecuali Monta. Yang sedari tadi matanya hanya terbuka setengah karena lelah langsung berbinar melihat gadis itu.

'Dia pasti seorang dewi MAX!' batin Monta melihat Mamori berjalan yang menurutnya ada background bunga sakura berjatuhan saat Mamori berjalan.

Sena, Riku, dan Suzuna masih asik mengobrol.

"Sena! Riku!" panggil Mamori. Sena dan Riku menoleh bersamaan ke sumber suara.

"Mamori neechan!" kata Riku dan Sena bersamaan, Mamori menghampiri adik-adik masa kecilnya itu.

"Kalian sudah besar ya," kata Mamori mengacak-acak rambut Sena dan Riku bergantian.

"Rambutku jadi berantakan tahu," protes Riku, Mamori hanya tertawa kecil melihat sifat Riku yang tidak berubah itu.

"Jadi yang Riku maksud adalah Mamori neechan?" kata Sena.

"Iya. Maaf ya tidak memberitahumu. Aku sengaja bilang ke Riku agar tidak memberi tahumu Sena," kata Mamori tersenyum.

'Manis MAX!' batin Monta yang terus memandangi Mamori.

"Mamori neechan perkenalkan ini temanku, ini Suzuna dan yang ini Monta." kata Sena memperkenalkan teman-temannya kepada Mamori.

"Suzuna Taki, salam kenal. Panggil aku Suzuna saja." kata Suzuna di sertai senyum.

"A.. Aku Raimon Taro. Lebih sering dipanggil Monta. Salam Kenal MAX!" kata Monta menjabat tangan Mamori dengan semangat dan wajahnya sudah merah seperti kepiting rebus.

"Aku Mamori Anezaki, panggil aku Mamori saja ya Monta." kata Mamori tersenyum yang membuat Monta hampir pingsan.

"Ba.. baik Mamori san," kata Monta.

Riku, Sena dan Suzuna hanya sweatdrop melihat tingkah Monta.

"Kalian bantu aku cari apartemen ya untuk hari ini," kata Mamori ke Sena dan Riku.

"Tinggal di rumahku saja Mamori neechan, toh aku juga tinggal sendiri." kata Riku.

"Apa tidak merepotkan?" kata Mamori.

"Mamori neechan kan sudah seperti kakakku dan Sena sendiri. Tidak apa-apa," kata Riku mengambil alih koper Mamori.

Mereka semua mulai berjalan dan menaiki bus menuju rumah Riku. Sama halnya saat berangkat tadi, untuk kembali juga tidak memakan waktu lama. Semuanya sudah tiba di rumah Riku.

"Seperti kembali ke rumah lama…" kata Mamori duduk di sofa. Sena dan Riku tersenyum, Sena meletakkan koper Mamori sedangkan Riku mengambil softdrink di lemari es dan membagikan pada semuanya.

"Mamori neechan sudah punya rencana akan melanjutkan kuliah dimana?" kata Sena.

"Aku akan berkuliah di Universitas Saikyoudai," kata Mamori.

"Jadi tidak bisa bertemu terus MAX…" kata monta suram. Yang lain hanya tertawa canggug.

"YA~ kenapa tidak satu Universitas dengan kami saja Mamo nee," kata Suzuna langsung membuat panggilan untuk Mamori saat perkenalan awal di bandara tadi.

"Bagaimana ya… masalahnya aku mendapatkan beasiswa untuk berkuliah di Universitas Saikyoudai," kata Mamori.

"YA~ tapi tidak masalah Mamo nee. Kapan-kapan kan kita bisa berkumpul lagi jika setelah pulang kuliah,"kata Suzuna.

"Baiklah. Kapan-kapan kita bisa berbelanja bersama Suzuna chan," kata Mamori semangat karena baru saja tiba ia sudah langsung mendapatkan teman akrab.

'Dasar wanita…' kata Riku dan Monta dalam hati.

"Ano.. sudah malam aku pulang dulu ya," kata Sena.

"YA~ benar juga. Kami pamit ya Mamo nee, Rikun." kata Suzuna berdiri di ikuti Sena dan Monta.

"Mamori san kami pamit," kata Monta.

Lalu mereka bertiga pulang ke rumah masing-masing.

"Mamori neechan kamarmu di kamar tamu. Kau tahu kan?" katanya.

"Tentu saja aku masih hafal," Mamori mengangkat kopernya menuju lantai 2.

"Perlu bantuan?" kata Riku.

"Tidak perlu, aku bisa kok." kata mamori

"Baiklah, selagi kau beres-beres aku akan siapkan makanan," kata Riku.

"Oke."

-skip-

Mamori menuruni tangga dan menuju dapur, melihat Riku selesai menyiapkan makanan dan duduk di kursi.

"Wah.. sepertinya enak. Sekarang adikku satu ini bisa masak. Hahaha" kata Mamori mulai duduk dan memperhatikan makanan di depannya.

"Hey hey.. itu pujian atau sindiran," kata Riku.

"Hehehe… bagaimana ya? Mungkin setengah pujian setengah sindiran," kata Mamori tersenyum.

"Baiklah kau akan menjadikan itu sepenuhnya pujian setelah kau membuktikannya sendiri," kata Riku menyodorkan sendok dan Mamori meraihnya. Mamori mulai mencoba masakan buatan Riku satu persatu.

"Hm~ enak. Baiklah aku kalah kau menang. Hahaha.." kata Mamori.

"Hahaha… sudahlah ayo kita makan," Riku juga ikut makan.

~Virious~

Di kastil para vampire bangsawan di kawasan Virious semua petinggi berkumpul terlihat sedang berunding.

"Clifford dengan beraninya kau mengambil keputusan ini sendiri tanpa berunding terlebih dahulu kepada kami. Apa maumu sebenarnya? Kau tahu Hiruma itu seperti iblis, mudah sekali kau memberikan tugas yang berat padanya!" kata seorang petinggi.

"Bisa anda tenang dulu Shogun san?" kata Heracles menenangkan suasana. Clifford hanya diam dengan stay cool seperti biasa.

"Perbuatannya sudah termasuk kesalahan yang fatal. Hiruma seorang tawanan Penjara Emfire tidak bisa di keluarkan dengan alasan apapun." kata Shin.

"Harap kalian semua bisa tenang dahulu. Clifford bisa beri penjelasan kenapa kau melakukan ini?" kata Heracles.

"Aku tahu sebuah kesalahan besar jika aku membebaskan tahanan penjara Emfire. Terlebih lagi memberikan tugas besar padanya. Tapi apa kalian pikir kalian akan mampu melenyapkan 'dia'?" kata Clifford dan semuanya terdiam.

"Clifford benar, karena kita semua ini darah murni tidak akan mampu untuk mengalahkannya. Hiruma, dalam dirinya mengalir darah setengah manusia ia pasti bisa menjangkaunya dan mengalahkannya." kata Heracles.

"Kalian tahu sendiri bagaimana kekuatan orang itu. Hadapilah jika kalian mau menemui ajal kalian lebih awal," kata Clifford berdiri hendak mau pergi.

"Tunggu! Bagaimana jika anak itu juga gagal?" kata Shogun.

"Aku akan pergi dari kawasan ini dan kalian bisa ambil kedudukanku. Bukankah itu yang selama ini kalian incar?" kata Clifford meninggalkan ruangan itu.

Wakana sejak tadi menunggu Clifford di pintu luar ruangan, saat Clifford keluar ia mengikutinya dari belakang.

"Apa terjadi hal buruk Clifford sama?" katanya.

"Tidak. Kau tidak perlu khawatir," katanya.

Wakana menarik baju Clifford dari belakang. Clifford menoleh kebelakang dan melihat Wakana.

"Jika Clifford sama pergi berjanjilah untuk mengajakku juga," kata Wakana.

Clifford terdiam sejenak lalu menjawab, "aku berjanji." katanya. Lalu mereka kembali berjalan.

Clifford sekarang berada di kamarnya, duduk di bingkai jendela besar yang memang di desain seperti itu sehingga terlihat kesan mewah. Melihat langit dan merasakan hembusan angin yang menerbangkan rambutnya.

CLIFFORD POV

Hiruma Yoichi, aku juga tidak mengerti kenapa aku mempercayai anak itu. Padahal aku sangat membencinya. Tapi tidak ada pilihan lain, karena perbedaannya itulah yang membuatnya bisa menghadapi orang itu. Tapi bagaimana saat mereka akan berhadapan… aku tidak tahu akankah dia bisa menjalankan tugasnya atau tidak. Jika tidak aku akan menepati janjiku untuk pergi, jelas keputusan itu akan menjatuhkan harga diriku sendiri di Virious.

Soal Wakana, gadis itu, jika aku pergi apa benar aku harus mengajaknya? Tapi aku sudah berjanji padanya, lagi pula ia sudah memiliki ikatan batin denganku jadi tidak bisa jauh-jauh denganku.

Flashback…

Aku sedang menyegarkan pikiranku dengan berjalan-jalan di hutan tidak jauh dari kawasan Virious. Aku mendengar suara gagak,jaraknya sepertinya tidak jauh. Entah kenapa aku jadi tertarik dan mengikuti sumber suara. Dari kejauhan kulihat seorang gadis terkapar dengan leher berdarah bekas gigitan… vampire. Dari penciumanku dia seorang manusia, pasti perbuatan vampire kelas bawah. Mereka benar-benar tidak terdidik. Aku mendekati gadis itu dan berjongkok. Nafasnya masih berderu kelopak matanya terbuka sedikit lalu tertutup kembali.

'Bangkitkan,' pikiran itu terlintas di kepalaku dan aku melakukannya. Membangkitkan gadis itu dengan memberikan beberapa darahku.

Flashback end.

Dan sekarang ia kembali hidup tapi seperti tanpa jiwa dan hanya mempunyai ikatan batin padaku karena aku yang membangkitkannya. Sorotan mata kosonglah yang biasa aku lihat. Karena dalam kenyatannya sebenarnya ia sudah bisa dikatakan meninggal.

~Virious~

Riku terlihat duduk di sofa ruang tamu melihat pertandingan amefuto. Mamori yang baru selesai mencuci piring kotor, ikut menyusul Riku yang menonton pertandingan amefuto.

"Kasian sekali mereka, taktiknya selalu terbaca dengan mudah." kata Mamori.

"Apa maksud Mamori neechan?" kata Riku.

"Lihat tidak mereka 'kurang sedikit' membuat teka-teki dalam merencanakan sebuah taktik. Misalnya sebuah kode atau apalah, agar tim lawan tidak tahu taktik yang akan di gunakan," kata Mamori.

Riku memang tidak heran dengan kemampuan Mamori tentang pengetahuan amefuto. Di bidang olahraga yang biasa dimengerti oleh anak laki-laki tapi ia cukup tahu dan menguasai hal-hal tentang amefuto. Lalu Riku teringat sesuatu saat percakapannya dengan Ikkyu 2 hari yang lalu.

"Oh ya Mamori neechan, 2 hari yang lalu temanku di Universitas Saikyoudai sedang mencari Manager untuk tim mereka." kata Riku.

"Hm… tim amefuto, Sakyoudai Wizards?" kata Mamori.

"Ya kau benar. Yang ku ceritakan dulu, kau coba mendaftar saja. Pengetahuanmu tentang amefuto juga bagus." usul Riku.

"Baiklah, besok aku akan mendaftar." kata Mamori.

"Mau aku bantu untuk memberitahukannya pada temanku?" kata Riku.

"Ya boleh juga. Arigatou Riku," Mamori tersenyum. Lalu Riku meraih ponselnya, dan mengetik email yang di tujukan untuk Ikkyu.

Di kediaman Kobayakawa

Sena sudah berada di kamarnya tersenyum memandang ponselnya. Lalu kembali mengetikkan sesuatu di tombol-tombol ponsel itu. Tentu saja ia sedang mengirim email untuk Suzuna, tepatnya sekitar 10 menit yang lalu Sena dan Suzuna saling mengirim email. Sampai lupa waktu Sena baru menyadari kalau waktu sudah larut lalu ia kembali membalas email untuk Suzuna untuk mengakhiri saling kirim email itu. Lalu Sena beranjak tidur.

"Oyasuminasai Suzuna," begitulah bisiknya sebelum menutupi kepalanya dengan selimut.

Malam begitu sunyi dan begitu tenang, apakah besok akan tetap setenang ini atau akan di terjang badai? Semuanya akan terjawab saat matahari mulai beranjak dari istirahatnya dan menggantikan bulan dan bintang.


Yosh! Ini dia Virious chap 2! Bagi yang mereview sudah saya balas lewat PM ya.
Ini balasan review buat yang ga login.

untuk eko setyawan, ==a muncul disini rupanya monje. Ini udah diusahain update kilat (readers :kayanya masuk kategori update lama). Hahaha

Lanjut, dari Ms. S, wah namanya misterius *bletak*. Terima kasih atas reviewnya. Yosh! Saya pasti usahakan untuk selalu update cerita Virious ini sampai tamat

Terima kasih atas reviewnya ^^