MEMORY OF TSUBASA
Chapter 2
Disclaimer: Tsubasa Reservoir Chronicle © CLAMP
Lama kami berlari melewati hutan. Syaoran, orang itu sama sekali tak melepaskan pegangan tangannya dariku. Aku hanya mengikutinya dengan diam. Sesekali terdengar seruan Oni di dekat kami. Tadinya aku takut. Aku bahkan tak tahu harus bagaimana dan apa yang harus kulakukan saat ini. Namun kuputuskan untuk mengikuti kata hatiku saja. Aku memutuskan untuk mempercayai Syaoran. Jadi aku berusaha tak terlalu peduli lagi dengan semuanya dan fokus berlari.
Entah berapa lama waktu telah berlalu. Sebuah kota mulai tampak di bawah hutan ini terletak di daerah yang agak tinggi. Pantas saja udara teras adingin.
"Sebentar lagi kita sampai," kata Syaoran. Ia melambatkan langkahnya. Aku mengangguk dan menghentikan lariku. Nafasku tak beraturan. Keringat mengalir deras di wajahku. Huff… ternyata lelah juga berlari seperti tadi. Aku lega karena kami tak perlu terlalu buru-buru lagi.
"Oh, maaf…kamu lelah, ya?" tanya Syaoran. Sepertinya ia menyadari suara nafasku yang cepat.
"Ti…tidak apa-apa!" jawabku buru-buru. Aku bisa mengerti. Kalau tak berlari tadi, mungkin Oni-oni yang berada di hutan akan mengepung kami.
Syaoran menatapku cemas. "Maaf…aku tidak melihat keadaanmu. Tadi aku kuatir kalau Oni tadi akan menyerang. Jadi aku berfokus untuk cepat-cepat keluar dari hutan saja," katanya.
"Tidak apa-apa. Aku juga ingin segera keluar dari hutan," jawabku. Aku jadi merasa tak enak padanya. Ia sudah membantuku tapi aku jadi terkesan menghambat.
"Kalau begitu sekarang kita berjalan pelan-pelan saja," kata Syaoran. "Kota sudah dekat. Daerah perbatasan begini biasanya sudah jarang didekati Oni. Kita cukup aman sekarang."
Aku hanya mengangguk. Aku tak tahu bagaimana harus memberi respon selain mengikutinya. Ah iya… pikiranku masih terasa kosong. Aku masih belum bisa mengingat apapun. Jadi kalau diberi pernyataan seperti itu, aku hanya bisa mengiyakan. Memang sepertinya kami sudah aman. Suara Oni sudah tak terdengar lagi di sekitar sini.
Sembari berjalan, kulihat baik-baik kota yang tak jauh dari kami. Kata Syaoran tadi, itu kota Hanshin. Aku menggeleng pelan. Kota ini benar-benar terasa asing bagiku. Aku tidak ingat pernah mendengar namanya. Aku juga tak ingat pernah datang ataupun sekedar melihat kota itu dari jauh. Mungkin aku memang tak berasal dari kota itu. Atau mungkin aku memang tak mengingatnya.
Lalu darimana diriku sebenarnya?
Angin dingin mendadak berhembus. Tubuhku sedikit gemetar karena dingin. Karena tadi berlari-lari, aku tak merasakan udara dingin ini. Tapi karena sekarang hanya berjalan biasa, udara dingin pun menjadi terasa. Aku menunduk. Kutatap pakaian yang kukenakan. Sebuah gaun terusan berwarna putih dengan tali di bahu dan hiasan berwarna emas. Aku benar-benar tak mengerti. Kenapa aku hanya memakai gaun tipis ini untuk pergi ke hutan? Kalau orang lain pastinya akan melindungi tubuhnya dari panas atau serangga dengan memakai pakaian yang lebih tertutup. Aku bingung. Pakaianku ini lebih cocok untuk pergi ke pesta daripada ke hutan!
Tiba-tiba aku merasa kehangatan di tubuhku. Aku mengangkat wajah. Syaoran tersenyum padaku dan melepas tangannya dari pundakku. Rupanya barusan ia menyelimutiku dengan mantel hijau yang dikenakannya.
"Udara di dini memang agak dingin," katanya. "Sabarlah, sebentar lagi kita akan tiba di kota."
"Terima kasih," sahutku. "Ah, tapi bagaimana denganmu?" tanyaku kemudian. Kulihat ia ternyata hanya memakai baju hitam tanpa lengan di balik mantelnya.
"Aku sudah biasa berada dalam udara dingin," sahut Syaoran.
"Ti…tidak boleh!" Aku berseru sambil menutup tubuh Syaoran dengan separuh bagian dari mantelnya. Udara di sini cukup dingin. Bagaimana mungkin ia bisa berkata sudah bisa berada dalam udara sedingin ini? Tubuhku saja tadi sudah mulai gemetar. Aku tak ingin menyusahkan orang lain. "Kita pakai mantel ini berdua saja, ya? Aku tak mau kamu kedinginan," kataku lagi.
Syaoran tampak heran sesaat, lalu ia tersenyum. "Baiklah," katanya.
Dan perlahan kami melanjutkan perjalanan. Hal yang membuatku lega adalah aku masih mengenakan alas kaki berupa sepatu flat berwarna putih. Jika aku ternyata tak memakai alas kaki dan Syaoran menyadarinya, entah apa yang akan ia lakukan. Aku berjalan pelan dan tersadar…karena memakai mantel berdua, saat ini aku berada sangat dekat dengan Syoran!
Wajahku panas. Kulirik Syaoran dan dengan cepat kualihakan pandanganku. Syukurlah, sepertinya ia tidak melihatku. Entah apa yang akan dikatakannya jika melihat wajahku seperti ini. Ng… aku berada dekat sekali dengannya… apa tidak apa-apa, ya?
Tapi dibalik perasaan malu dan kacau ini aku merasa nyaman. Aku tenang dan aman di dekatnya. Dan aku percaya padanya. Entah kenapa aku merasa yakin bahwa ia pasti bisa membantuku mengembalikan ingatanku.
Bulan mulai tampak di langit. Kini hari benar-benar telah malam. Ingin rasanya aku segera sampai di rumah. Ng…tapi aku kan tak ingat dimana rumahku, ya? Rumah… Tiba-tiba pikiranku terpaku pada kata-kata itu. Dimana rumahku? Dengan siapa aku tinggal? Apakah orang itu mencariku? Menungguku?
Aku berteriak kecil. Mendadak kepalaku terasa sakit. Kupegang kepalaku erat-erat dengan kedua tanganku. Apa? Perasaan apa ini? Seseorang menungguku?
Keringat mengalir lagi di wajahku. Pandanganku berputar, kepalaku semakin sakit. Kupejamkan kedua mataku lekat-lekat. Seseorang…seseorang sedang menungguku! Tapi siapa? Dimana?
Dan aku mendengar suara bisikan seseorang tepat di telingaku. "Tolong…"
"Sakura! Sakura!" Syaoran berseru cemas. Ia menopang tubuhku yang nyaris jatuh.
Lalu aku tersadar. Kubuka mataku perlahan. Mendadak sakit di kepalaku lenyap. "Seseorang…" bisikku. Ya seseorang… Entah kenapa sekeping puzzle ingatan mulai memasuki pikiranku. "Seseorang sedang menugguku di hutan"
"Seseorang? Siapa?" tanya Syaoran.
Aku menggeleng pelan. Perlahan aku menoleh ke belakang, menatap hutan di belakang kami. Aku tak tahu siapa yang menungguku di sana. Aku juga masih tak tahu apa-apa. Aku…
Tubuhku kembali gemetar. Kakiku lemas. Kusadari pikiranku masih terasa kosong. Memang ada sekeping ingatan yang telah melekat di sana. Namun semakin aku mencoba mengingat lagi, kepalaku malah sakit lagi.
"Sakura.." Syaoran memanggilku.
"Maaf, aku tidak tahu," jawabku pelan. "Barusan tiba-tiba saja aku mengingat sesuatu. Aku tadi berpikir…apakah aku punya rumah atau tidak, apakah ada orang yang mencariku atau tidak. Lalu aku ingat…seseorang sedang menungguku di hutan."
'Di hutan?" tanya Syaoran. Ia menatapku. Aku bisa melihat kekuatiran di wajahnya. Apakah ia mencemaskanku?
"Maaf.. aku tak bermaksud membuatmu cemas," sahutku. Aku mencoba berdiri dengan kekuatanku sendiri. "Seseorang menungguku…dan meminta pertolongan padaku."
"Benarkah itu? Siapa dia dan kenapa?" Syaoran juga berbalik, menatap ke arah hutan. Hutan itu kini semakin gelap dan suram.
Semakin melihatnya aku semakin takut. Ada perasaan bahwa aku tak ingin lagi kembali ke sana. Tentu saja, kata Syaoran hutan pada malam hari dipenuhi oleh Oni-oni jahat yang menyerang manusia. Dan aku sudah melihatnya dengan mataku sendiri. Aku tak ingin kembali ke sana, setidaknya sekarang.
Tapi desakan apa yang ada jauh di dalam hatiku ini? Seseorang menungguku… meminta pertolonganku. Ia ada di dalam sana dan mungkin saja ia adalah kunci dari ingatanku kan?
"Kamu mau kembali sekarang?" tanya Syaoran, memecah keheningan.
Aku terdiam, hanya menatapnya.
"Kalau kamu mau pergi sekarang, aku akan mengantarmu," kata Syaoran. Pandangan matanya tampak siap.
Aku tahu Syaoran pasti paham betul bahaya berada di hutan di saat seperti ini. Tapi kulihat ia tak merasa ragu sedikitpun. Tapi… tentu saja aku tak boleh membiarkannya ikut masuk ke dalam bahaya, kan?
Sejenak aku merasa ragu. Berbahaya jika masuk ke sana sekarang dan aku tak seharusnya melibatkan orang lain ke dalam bahaya itu. Tapi… jika aku tak segera ke sana, bagaimana dengan orang yang menungguku dan meminta pertolongan itu?
Tiba-tiba suara bisikan tadi kembali terdengar. Kali ini ia berseru padaku. "Lari!"
Eh? Aku terkejut. Lari? Aku?
"Menjauh dari hutan! Sekarang juga!"
"Kiiiikkk!" Terdengar seruan kencang dari sesosok Oni. Mendadak sebuah sosok hitam besar muncul dari pepohonan. Oni itu mirip dengan Oni yang telah dikalahkan Syaoran tadi. Tubuh yang mirip dengan manusia. Tangan dan kaki yang berjumlah delapan yang tajam. Matanya berwarna merah menyala. Namun Oni kali ini bisa melayang di udara.
"Gawat..." Syaoran meraih pedangnya, waspada. Tangan kirinya masih merangkulku erat. Ia menatap baik-baik Oni itu, siap bertarung.
"Syaoran, kita harus lari!" seruku. "Kita harus menjauh dari hutan!"
"Eh?" Syaoran menoleh ke arahku dengan bingung. Ya aku tahu ia pasti bingung. Tadi aku masih ragu apakah akan kembali ke hutan atau tidak dan sekarang tiba-tiba aku memintanya lari.
"Aku mendengar suara di pikiranku. Suara itu mirip dengan suara orang yang sedang menungguku. Ia memintaku lari," jelasku.
"Baiklah, kita akan menjauh dari sini," kata Syaoran.
Kami mundur perlahan. Oni itu hanya menatap kami dalam diam. Jantungku berdegup kencang berdegup kencang. Akankah ia menyerang kami? Seberapa besar kekuatan yang dimiliki Oni itu? Bisakah kami pergi darinya?
Oni itu menyeringai lebar. Dan tiba-tiba ia maju menyerang!
"Raitei Shourai!" Syaoran mengeluarkan energi petir dan menyerang Oni itu. Gerakan Oni itu terhenti sesaat.
"Ayo lari!" Syaoran pun menarikku. Kami berlari secepatnya.
Namun… Oni itu rupanya tak terpengaruh dengan serangan petir tadi. Tiba-tiba saja ia melesat, mendekati kami dan mengayunkan tangan-tangannya.
Syaoran mendorongku cepat, lalu mengakis tangan-tangan itu dengan pedangnya.
"Syaoran!" seruku cemas.
Oni itu tampak berbeda dengan Oni yang tadi. Sekali lihat saja aku tahu, Oni itu lebih kuat. Ia lebih berbahaya dari Oni yang tadi.
"Kiiikkk!" Oni itu berteriak kencang lagi.
"Larilah ke kota!" seru Syaoran.
Tangan Oni itu menyerang lagi dengan kecepatan yang luar biasa. Syaoran langsung menghindar. Sesekali ia menangkis tangan lain yang mengarah padanya.
"Cepat lari! Kau akan aman di kota!" seru Syaoran lagi.
"Tapi…" Tidak tidak! Kalau aku lari, bagaimana dengan Syaoran? Tak mungkin aku meninggalkannya bertarung sendirin kan?
"Cepat lari!" seru Syaoran. "Nanti teman-temannya datang!"
Aku tersentak dan mundur perlahan. Entah kenapa tiba-tiba aku merasa harus alri. Aku harus secepatnya lari dari sini…
Namun terlambat.
Suara teriakan Oni terdengar bersahut-sahutan. Dan perlahan lima sosok hitam muncul dari balik hutan. Lima Oni yang melayang di udara.
Aku terpana, gemetar. Tapi… aku mencoba kuat. Aku segera berbalik, segera berlari. Aku harus lari…dan aku harus memanggil seseorang…
Tapi sebuah sosok bergerak ke depanku dengan cepat. Sesosok Oni menghalangi jalanku. Aku langsung menghentikan langkah.
Ketakutan menyerangku. Apa yang harus kulakukan sekarang?
Oni itu menyerangku dengan tangannya. Aku berlari secepatnya, berusaha menghindar. Namun gerakan Oni itu sangat cepat. Aku tak bisa menghindari serangan berikutnya. Tangan Oni itu hampir mencapaiku.
"Sakura!" Terdengar seruan Syaoran. Ia melesat, mendekatiku dan menangkis serangan Oni itu.
Tapi Oni yang lain menyerangnya. Syaoran pun terhempas ke tanah.
"Syaoran!" seruku. Aku berlari, mendekati Syaoran.
Tiba-tiba keenam Oni itu berteriak kencang, lalu mengarahkan tangan-tangan tajam mereka pada kami...
