Author: Athiya064/Kyung064
Tittle: Shouldn't Have
Cast: Boo Seungkwan, Hansol Vernon Chwe,Seventeen
Other Cast: YG&SM&JYP's artists, and other
Rated: T
Genre: Family, Romance, Drama, School-life, fluff, etc.
Language: Indonesian
Desclaimer: I do not own the character(s) but the plots are mine.
Notes: sorry for hiatus for some months, Sorryyyy:'(
Words: 4724
Contact Here: Athiya Almas (Facebook)
Athiya064 . wordpress . com
Happy reading
"Mom, aku mau menginap—"
"Wait Vernon,"
Lelaki bersurai cokelat itu menahan kata-katanya, karena ibunya sedang berbicara dengan seseorang di seberang telepon, sepertinya penting. Ia sedang duduk di meja makan berhadapan dengan adik perempuannya yang asyik mencomot permen cokelat, Hansol menggeleng dan mengambil stoples berisi permen cokelat itu. "Makan nasi dulu," ia mengulurkan mangkok yang sudah berisi nasi kepada adiknya. Sang adik cemberut, tapi Hansol menunjuk gigi adiknya yang sudah berlumuran cokelat. "Make sure you brush your teeth before sleep," peringatnya, sedang memainkan peran sebagai kakak tertua. Adiknya mengangguk patuh.
Karena ibunya tak kunjung menanggapi, ia bangkit dari kursi dan berjalan menuju ayahnya yang masih sibuk dengan lukisan-lukisannya. "Appa, hari Kamis besok aku akan—" ayahnya mengarahkan kuas yang baru saja dicelupkan ke palet berwarna kuning ke arah meja makan. "Bicara ketika kita selesai makan, oke?"
Dan ayahnya tidak menunjukkan tanda-tanda akan segera bergabung makan malam bersama mereka. Malahan memfokuskan diri dengan lukisan abstrak bernilai seni tinggi, ya keluarganya memang memiliki darah seni yang cukup kental. Akhirnya Hansol mengalah dan kembali duduk di kursinya. Ibunya baru saja selesai dengan panggilan pentingnya. "So, what are you gonna talk about?"
Ia menimang-nimang beberapa saat, berbohong bukanlah keahliannya. Tapi ibunya rupanya tidak menyadari gelagatnya yang mencurigakan, malah meraih daging dan meletakkannya ke atas piring, "Ngomong-ngomong ibu akan pergi dengan ayah untuk pameran di Busan Rabu ini." Ucapan ibunya sama sekali tidak terduga, "Lalu Sofia?" tanyanya. "Ikut bersama kami, sekolahnya sedang libur. Tapi karena kau tidak kau harus tetap sekolah ya, tapi tidak mungkin kau sendiri di rumah—"
"Aku menginap di rumah Joshua hyung!"
Mata ibunya memicing, tumben sekali begitu semangat untuk pergi ke rumah keluarga Hong? "Baguslah. Siapkan barang-barangmu nanti, ayo makan dulu." Hansol tersenyum lebar dalam hati, keberuntungan memang tidak kemana!
Jadi selepas makan ia buru-buru ke kamar dan mengambil ponselnya menghubungi kakaknya dengan semangat. "Hyung! Aku butuh bantuanmu, minggu ini aku akan berkemah tapi kau tahu ibuku kan—"
"Vernon? Relax, okay?" suara Jisoo yang lembut selalu menenangkan, akhirnya Hansol menjelaskan dengan pelan-pelan ditambah suara yang cukup rendah. Jisoo menghela nafas berat, kakak yang sudah duduk di bangku SMA itu jelas sekali tidak terima. "Vernon, berbohong itu tidak baik, kau tahu kan?"
Oh ayolah, ia tidak dalam mood yang baik untuk mendengarkan ceramah Jisoo. "Please hyung, ini adalah kali pertamaku. Kumohon?" pintanya dengan sangat, ia tahu Jisoo orang baik, kakak sepupu yang baik dan bisa diandalkan. "Baiklah, akan kuusahakan. Tapi kalau ibumu curiga dan mendatangi ke rumah, aku tidak tanggung oke? Akan langsung kubeberkan rencanamu."
"YEAH! AKU MENCINTAIMU HYUNG—halo?!"
Tutt.. tutt…
Sambungan telah diputus.
. . .
Mungkin hanya Hansol satu-satunya siswa dengan bawaan paling sedikit, tas ransel berukuran sedang berisi; tiga baju ganti sudah termasuk baju tidur, handuk, alat mandi, obat sakit perut, camilan dua bungkus. Sementara teman-teman lainnya sudah seperti akan pergi ke luar negeri untuk beberapa hari, bahkan ada yang bawa koper!
Yoochun yang bertanggung jawab sebagai ketua acara menggeleng-geleng, mereka tidak tahu apa kalau berkemah itu artinya mereka akan tinggal di alam bebas, dan hanya selama tiga hari dua malam. Guru muda itu mengabsen anak didiknya satu-persatu, memastikan siapa yang belum datang.
"Lihat, appaku beli ipad baru dari China." Mingyu mengeluarkan iPadnya. Seokmin berdecak, "Kakakku membelikan aku xbox, mau coba?" ia tidak mau kalah, beberapa temannya juga jadi memamerkan barang-barang mewah dan keren milik mereka. Belum berangkat tapi sudah melanggar peraturan.
"Hansol! Kau bawa apa?"
Eh? Memang bawa apa? "Bawa ponsel, hehe." Ia tertawa garing, kan benar, dilarang bawa benda elektronik selain ponsel? Anak-anak tadi kecewa karena Hansol terlalu taat peraturan, "Aku bawa kipas elektrik, lucu kan?" Seungkwan mengacungkan kipas elektrik kecil warna kuning, ala-ala chibby G-Dragon.
Srek!
Kipas angin kecil tadi berpindah tangan ke Hyejung ssaem, "Tidak ada alat elektronik kecuali ponsel, tidak ingat?" ia menggerakkan tangannya cekatan merampas benda-benda yang tidak seharusnya dibawa oleh muridnya. "SSAEM! punyaku limited edition, jangan diambil!" Seungkwan melonjak-lonjak.
Namun Hyejung menggeleng, "Peraturan tetap peraturan, aku kembalikan ketika pulang. Disana dingin, kalian tidak butuh kipas angin, dan yang pasti tidak butuh Bigbang." Seungkwan mendengus, jangan-jangan Hyejung ssaem cemburu? Kali ini Mingyu dan Seokmin yang merajuk, itu barang kesayangan mereka, baru pula.
"Ssaem kembalikan ketika pulang, mengerti? Sekarang baris dan masuk bis," Kang Hyejung benar-benar wanita berhati dingin, mereka cemberut namun tetap masuk ke dalam bis. Tapi dasar anak-anak, sampai di bis hilang sudah kekecewaan mereka dan kembali ribut seperti biasanya.
Hansol duduk di depan, di sisi jendela, karena Donghyuk minta duduk di sisi pinggir. Bis pun akhirnya melaju menuju kawasan perkemahan di daerah Gyeonggi-do, tempatnya ada di bagian pegunungan dan sekitar enam puluh kilometer dari Seoul. Tidak terlalu jauh sebenarnya.
"Y—Ya! Seungkwan!" itu suara Gyujin, membuat Hyejung ssaem yang duduk di tengah langsung sigap dengan kantong plastik di tangannya, ternyata Seungkwan mabuk kendaraan. Lelaki itu memegangi kantong plastik tadi dan menadahkannya di depan mulutnya sendiri. "Naik bis saja mabuk, kau ini bagaimana?" cibir Seokmin main-main.
Seungkwan yang sedang kepayahan masih sempat saja menoleh dan protes, "Ini karena aku duduk di atas ban, lagipula asalku dari Jeju-do, aku biasa naik pesawat kalau ke Seoul dan bepergian naik mobil, mau apa kau? Huweekkk—" ia kembali memuntahkan isi perutnya begitu mobil berguncang. "Jja, kau duduk di depan saja ya biar tidak terlalu kena guncangan? Donghyukkie, ayo bertukar tempat duduk."
Karena Donghyuk anak baik lelaki itu menuruti saja apa kata wali kelasnya, dan akhirnya Seungkwan jadi duduk di sebelah Hansol. Ia masih tetap berupaya mengeluarkan isi perutnya walaupun sedikit susah karena bis melakukan perjalanan yang panjang dan menanjak. "Maaf—jangan dilihat kalau kau jijik," gumamnya pada Hansol, namun lelaki setengah bule itu bukannya mengalihkan pandangan malah memijit tengkuk temannya lembut. "Ibu melakukannya ketika aku masuk angin,"
Beberapa menit setelahnya Seungkwan sudah jauh lebih baik, ia berterimakasih pada temannya itu. Sekarang ia bisa menikmati perjalanan sekaligus pemandangan yang menakjubkan. Setelah melewati jalanan dengan tanjakan yang terlalu vertikal dengan jalan turun yang curam, bis mereka akhirnya berhenti di sebuah bumi perkemahan. Guru Kang memimpin barisan beserta barisan kelas-kelas lainnya.
Disana sudah dibangun beberapa tenda dengan ukuran besar yang mampu menampung sekitar sepuluh orang dalam satu tenda. "Rapikan barang-barang kalian dan setelahnya kita akan melakukan jelajah, mengerti?" anak-anak mengangguk, udara pegunungan yang segar jauh berbeda dari udara di kota Seoul. Sama sekali tidak rugi datang kemari.
Murid laki-laki kelas 2-B ada yang bergabung dengan murid kelas 2-A, jadi; Seokmin, Mingyu, Gyujin, Seungkwan, Hansol, Yugyeom, Donghyuk bergabung dengan Bambam, Junhong, dan Changkyun dari kelas 2-A. Tapi Mingyu malah mendengus, soalnya di tenda sebelah ada tiga senior yang memang diajak bergabung oleh Yoochun seonsaengnim untuk mendampingi adik kelasnya, nama-nama senior itu adalah Kwon Soonyoung, Jeon Wonwoo, dan Kim Hanbin. Dan nama Jeon Wonwoo benar-benar membuat Mingyu ingin pindah tenda.
Ia menatap Seungkwan yang berbaring, "Ya Boo Seungkwan! Tukar dirimu dengan Wonwoo hyung di tenda sebelah," Seungkwan mendengus dan melempar Mingyu dengan bantal, enak saja anak hitam itu menukar-nukarnya, memang dia barang? Baru saja mereka akan berbaring, suara sirine membangunkan mereka, pasti guru-guru itu. Mereka bangkit dan berjalan keluar tenda.
Di lapangan sudah berdiri Yoochun ssaem, Jihyo ssaem, Hyejung ssaem, dan Kangin ssaem. murid-murid membentuk barisan sebelum disuruh oleh guru-gurunya. "Jja, kita akan melakukan jelajah. Selama jelajah, sebaiknya kalian mengumpulkan kayu bakar untuk api unggun nanti malam dan memasak makan, mengerti?" Kangin ssaem berteriak, murid-murid mengangguk.
"Ayo jalan!"
Mereka melangkah masuk ke dalam hutan yang tidak terlalu lebat itu, namun jelas sekali hutan ini jarang dieksplor oleh manusia. Jalannya masih merupakan jalan setapak, dan harus diberi tanda agar mereka tidak tersesat. Suara binatang hutan kedengaran menggema, ya, hanya ada suara serangga dan sejenis monyet. Bukannya suara mesin kendaraan seperti di kota.
Mingyu tampak semangat mengumpulkan dahan-dahan patah yang bisa digunakan sebagai kayu bakar dan mengumpulkannya ke kakak tingkat bernama Jeon Wonwoo, dasar modus, cibir Seokmin dan kawan-kawan. Seungkwan merapatkan jaketnya dan memakai tudungnya, dingin sekali, selain itu banyak nyamuk. Ia menoleh dan menatap Hansol yang menggunakan sweater panjang dan beanie di kepalanya.
Anak itu tampak bersemangat sekali, ia terus memandang ke sekeliling. "Kau kelihatan semangat?" Hansol menghentikan langkahnya sejenak kemudian menoleh, ia mengangguk. "Aku baru pertama kali ke hutan, apalagi dengan teman-teman." Akunya, tentu saja, dia pasti tidak pernah rekreasi sebelumnya. "Indah bukan? Alam bebas memang yang terbaik, ayo kumpulkan kayunya!"
Mendengar ajakan Seungkwan, Hansol pun menurutinya. Ia memandang ke banyak arah berusaha mengumpulkan kayu-kayu yang tidak basah, semakin banyak semakin baik bukan? Pemuda itu selesai mengumpulkannya dan meninggalkan Seungkwan untuk pergi ke tempat pengumpulan kayu, tapi lama tidak kembali. Seungkwan mengangkat bahu, mungkin Hansol kembali ke tenda.
. . .
Acara api unggun sedang berlangsung kurang lebih sejak satu jam yang lalu. Kangin dan Jihyo bertanggungjawab untuk memanggang daging dan ayam, mereka juga memanggang beberapa goguma. Aroma sup yang dimasak oleh Hyejung juga menggugah selera, sementara Yoochun duduk di tengah-tengah lingkaran muridnya dan memimpin mereka menyanyikan lagu.
Murid-murid semangat sekali bernyanyi, dan seketika acara api unggun berubah menjadi acara unjuk bakat. Ada Yugyeom dan Bambam yang menampilkan tarian hebat, ada Junhong dan Mingyu yang memilih rap, ada Eunha dan Yuju yang bernyanyi dengan suara merdu mereka, dll.
"Lee Seokmin, ayo nyanyi!" Yoochun menunjuk ketua kelas 2-B itu, biarpun tampilannya konyol dan tidak menyakinkan, sesungguhnya Seokmin itu memiliki bakat terpendam. Suaranya jernih sekali, dan ia dapat menyentuh nada tinggi dengan begitu baik. Seokmin tampak malu-malu, seketika banyak anak memanggil namanya. Mingyu, Gyujin, dan Donghyuk mendorong tubuh Seokmin paksa.
Karena tidak siap dan malu tampil sendiri, Seokmin menarik tangan Seungkwan. "Wah, ada Seungkwan juga. Kita dapat jackpot," Yoochun terkekeh, guru tampan itu memutar instrumental lagu dengan speaker mini miliknya. Seokmin menerima microphone dari Yoochun, ia menunggu hingga tiba saatnya.
"Kkamake geullin bami chajaogo ne bange buri kyejimyeon,
(When the dark night comes and your room light turns on)"
Suara merdu Seokmin langsung mendapat hadiah tepuk tangan dari teman-temannya, malahan yang ada dalam lingkaran sudah menautkan tangan mereka masing-masing. Bergerak pelan sesuai irama.
"Heulleonaoneun I norael deutgetji ireoke nal deutgetji.
(You will listen to this song, you will listen to me)"
Seokmin melanjutkan ini giliran Seungkwan, ia memegang microphonenya lalu memejamkan mata.
"Eojjeomyeon neomu neujeotgetjiman, eojjeomyeon neomu andwae jasin eopdan mareun, hajima eottokhae?
(It might be too late, it might be too late but.. It can't be, don't say that you're not confident, what do I do?)"
Suaranya lembut sekali, seperti sudah menelan puluhan CD lagu sebelumnya. 'Jadi itu maksudnya jackpot?' batin Hansol, ia tidak tahu Seungkwan punya suara yang merdu. Tiba-tiba murid lain ikut menyanyikan bagian reff lagu Melodrama milik Huh Gak tersebut, beberapa jadi crack suaranya karena lagu itu terlalu tinggi. Hansol tertawa, ternyata sekolah umum tidak buruk. Punya teman itu menyenangkan.
Mungkin setelah pulang, ia akan menyakinan ibunya bahwa ia baik-baik saja. Hansol melirik ponselnya sedikit, tidak ada panggilan, syukurlah ibunya tidak menaruh curiga.
Acara api unggun sekaligus makan malam akhirnya selesai, mereka harus membersihkan diri dan segera tidur karena paginya mereka punya acara senam pagi bersama. Kebanyakan seperti Seokmin, Mingyu, Bambam, Yugyeom, Junhong, Gyujin, dan Seungkwan sudah terlelap. Mungkin energi mereka diserap habis dalam acara tadi. Sementara Donghyuk masih menggunakan krim vitamin kulit miliknya. Dan Changkyun serta Hansol masih menatap ponselnya.
Tak lama kemudian Changkyun dan Donghyuk tertidur, suasana yang tadinya masih ramai berubah senyap. Pukul setengah dua belas malam, mungkin hanya Hansol yang masih bangun. Hansol meletakkan ponselnya kemudian berjalan mengendap-endap keluar tenda. Tapi siapa sangka ia malah menginjak kantong plastik snack milik Bambam.
Srek!
Mata Seungkwan langsung terbuka, ia memang suka tidak nyaman kalau tidak tidur di tempat tidurnya sendiri. Ia memandang Hansol yang akan keluar tenda, "Hei, mau kemana? Sudah malam?" pemuda itu meletakkan telunjuknya sendiri di bibir, takut ketahuan. "Psst, kembalilah tidur. Aku akan pergi sebentar saja," perintahnya.
Seungkwan tampak ragu, namun ia melepas selimutnya. "Aku ikut!" awalnya ingin melarang, tapi Seungkwan malah mengancam akan melaporkannya pada wali kelas kalau melarangnya ikut. Akhirnya mereka mengambil jaket dan masuk ke dalam hutan, Seungkwan memegangi ujung jaket Hansol erat-erat.
Mana ia tahu Hansol akan mengajaknya ke hutan? Ia kira Hansol mengajaknya ke toilet di bawah atau bagaimana, "Hei, kita mau kemana?" ia bertanya panik, sudah malam, penglihatannya tidak terlalu baik untuk melihat tanda-tanda. "Sebentar lagi sampai kok."
Mereka masuk lebih dalam ke hutan, namun Hansol berbelok sedikit ke arah kiri. Pelan-pelan mereka menuruni jalanan menurun, dan itu mengantarkan mereka ke padang ilalang yang cukup lebar, tapi dikelilingi pepohonan hutan yang tinggi-tinggi. "Eh?" Seungkwan bingung, Hansol berjalan terus. Tapi itu di dekat jurang, jadi ia berhenti agak jauh dari bibir jurang.
Jarinya menujuk ke arah lampu-lampu yang gemerlapan, "Lihat, disana kota!" tunjuknya, Seungkwan memandangi kota tersebut. Memang terlihat begitu indah dan cantik, lampu-lampu jadi terlihat kecil karena mereka melihatnya dari tempat yang begitu jauh. Seperti berlian. "Keren kan? Like a diamond,"
Seungkwan sih iya-iya saja begitu Hansol ngoceh sedikit dengan bahasa Inggris, masalahnya angin yang semilir-semilir membuatnya ngantuk. "Vernon-ie, ayo kembali. Aku ngantuk," namun Vernon malah menggeleng, "Sebentar lagi. Kau jangan tidur dulu, sia-sia kau ikut kalau tidak melihatnya."
Jadi mereka berdua masih duduk sambil memeluk lutut, sebenarnya apa yang mau dilihat oleh Hansol? Yaampun ini sudah tengah malam menjelang dini hari. Seungkwan menatap jam tangan yang memang sengaja tidak ia lepaskan, pukul 11:59 pm. Mau nonton apa anak ini? Ia menggeleng-geleng.
Dua puluh detik kemudian jam menunjukkan pukul dua belas malam tepat. Seharusnya Seungkwanderella sudah kembali ke tenda sebelum ibu tiri aka Kang Hyejung ssaem memarahinya. Tidak, ini bukan negeri dongeng. Seungkwan menggeleng-geleng, karena ngantuk otaknya jadi sedikit tidak waras.
Dorr!
Matanya terbuka lebar mendengar suara mirip ledakan tersebut. Dan itu tidak hanya sekali, tapi disusul suara-suara yang mirip.
Dorr! Dorr! Dorr!
Ia memandang ke arah kota, kemudian ke langit. Ternyata kembang api, ia kira ada apa. "Nah, itu pertunjukannya. Kembang api, di salah satu distrik Gyeonggi-do ada perayaan, kebetulan kita ada disini. Indah bukan?" Seungkwan dan Vernon menatap kembang api tersebut, seakan tidak pernah ada habisnya. Warnanya indah sekali, bahkan ada yang membentuk tulisan maupun gambar-gambar lain.
Indah sekali, orang mana yang tidak akan menyukai kembang api? "Bagaimana kau tahu?" tanya Seungkwan, matanya masih belum lepas dari kembang api di langit. "Internet hehe, aku mencari apa yang menarik dari kota ini. Ternyata ada festival kembang api, kebetulan sekali. Dari dulu aku dan adikku sama-sama suka kembang api, tadi setelah mengumpulkan kayu, aku menemukan tempat ini."
Penjelasannya panjang sekali, namun Seungkwan tidak keberatan. Matanya masih berbinar menatap indahnya langit dengan kembang api, seperti perayaan tahun baru saja. Mereka menghabiskan waktu kurang lebih setengah jam disana, sampai tidak ada kembang api sama sekali di langit.
Akhirnya selesai, Hansol berdiri dan membersihkan celananya dari rumput-rumput. Untung saja ilalangnya tidak terlalu tinggi. "Nah, sudah berakhir. Ayo kembali, kita bisa kesiangan besok."
. . .
Benar saja Hansol dan Seungkwan hampir jadi yang paling akhir datang ke lapangan untuk senam pagi, Hyejung ssaem hampir menyemprot mereka namun ditahan oleh Yoochun. Mereka menunduk meminta maaf dan ikut ke barisan setelah melakukan push up sebanyak lima kali.
Kali ini temanya adalah permainan, mereka harus melewati beberapa pos dan melakukan game yang berbeda di setiap pos. timnya sesuai dengan pembagian tenda, untung saja ada Mingyu si orang yang bisa melakukan apa saja jadi tim mereka bisa dengan baik melewati beberapa permainan ketangkasan.
Kali ini mereka harus turun lewat jalan yang cukup curam, mereka saling berpegangan tangan supaya tidak tergelincir di lereng tersebut. Dan ketika sampai di bawah, rupanya mereka disambut air terjun dan sungai yang sangat jernih airnya. Wonwoo sudah menunggu disana, senior itu mendapat tugas untuk mengarahkan permainan 'Save Water' maksudnya adalah mereka harus memindahkan air sebanyak-banyaknya ke dalam ember besar secara menyalur.
Jadi semua anggota harus berpartisipasi. Tapi gelas yang dipakai untuk memindahkan air memiliki lubang di bawahnya, sehingga mereka harus bergerak cepat supaya airnya tidak terbuang sia-sia. Mingyu duduk di belakang sendiri, dapat tugas menerima air pertama kali dari Wonwoo –sebenarnya dia yang mau seperti itu, dasar tukang modus—. Mereka harus duduk di sungai yang dalamnya hanya sebetis anak-anak itu, airnya dingin membuat mereka bergidik.
"Ya! Kim Mingyu! Konsentrasi! Jangan melirik-lirik Wonwoo sunbae terus, arra? Kita harus menang!" itu Seokmin, dan suaranya kelewat batas normal. Wonwoo sampai melirik karena mendengar namanya disebutkan. Mingyu kesal, jadi ia mencipratkan air sungai ke arah Seokmin hingga bajunya basah. Seokmin mendelik, Mingyu ini dinasehati malah membuat tubuhnya basah. Jadi ia membalas perlakuan teman sebangkunya itu.
Wonwoo memutar bola matanya, kenapa jadi ada adegan perang air di depannya? "Yedeul-ah, ayo bersiap. Lihat baju kalian basah semua, bisa sakit." Nasihat Wonwoo, tapi Mingyu malah mengira seniornya itu perhatian. Dasar, cinta kadang-kadang suka buta. Jadi mereka fokus dan memainkan permainan tersebut.
Hasil akhirnya sedikit mengecewakan, kelompok Mingyu ada di peringkat dua. Yang peringkat satu itu kelas 2-C, tapi mereka tidak kecewa, hanya permainan.
Karena hari sudah mendung mereka harus kembali ke dekat tenda, lagipula mereka harus makan siang yang tertunda –karena sudah jam tiga sore, seharusnya mereka makan siang pukul satu— Kim Hanbin bertugas mengarahkan adik kelasnya ke jalur untuk kembali. Tapi ternyata jalan kembalinya tidak sesuai dengan yang mereka bayangkan, medannya benar-benar buruk.
"Kalian harus memegang tali ini pelan-pelan untuk menanjak, oke? Hati-hati terperosok, pastikan kalian mencondongkan badan kalian ke depan untuk memudahkan mendaki." Hanbin menunjukkan caranya, hanya dalam dua menit saja ia sudah sampai di puncak. Beberapa murid terutama yang perempuan menggerutu, tidak ada jalan kembali yang lebih manusiawi apa?
Mereka mendaki bergantian, karena hanya ada tiga tali yang tersedia. Benar-benar bahaya karena mereka mendaki tanpa alat keselamatan, salah langkah sedikit dan melepaskan talinya mungkin mereka bisa terbentur di dasar. Beruntunglah tidak ada yang terluka, murid-murid perempuan dibantu agar lebih mudah naik.
Dan kini mereka menunggu antrian mandi sambil duduk-duduk di lokasi api unggun semalam. Mendung mulai menggelap dan hawa dingin perlahan memeluk tubuh mereka. Seungkwan beranjak untuk mandi, karena baru saja berbicara dengan Bambam dan Junhong ia jadi terlambat mandi. Padahal Donghyuk, Mingyu, Seokmin, dan Hansol sudah mandi dari tadi.
Ia pergi ke tempat mandi, ada sekitar sepuluh bilik kamar mandi yang dibangun disana. Ia memasuki salah satunya, dan bergidik sebentar, air pegunungan terlalu dingin.
Sementara itu Hansol yang sudah selesai mandi memandang ke sekeliling, Seungkwan belum selesai. Dan beberapa temannya tidak ingin makan terlebih dahulu, jadi ia ingin mengexplore tempat ini sedikit. Beberapa anak nampak bercanda dengan anak lain, jadi itu kesempatan baginya untuk pergi diam-diam.
Bukannya Hansol tidak suka berbincang dengan teman-teman yang lain, ia suka. Hanya saja, perkemahan saat ini bisa jadi merupakan saat terakhir ia akan pergi ke hutan, dan ia tidak mau menyia-nyiakannya. Ia merapatkan jaket yang ia kenakan dan melangkah masuk ke dalam hutan.
Seingatnya kemarin ia melihat pondok kecil, kira-kira ada apa ya di dalamnya? "Ah sial, gerimis." Gerutunya, jadi ia harus bergegas. Karena tanah hutan bisa berubah menjadi sangat berlumpur ketika terkena air, jadi ia harus bergegas sebelum hujan deras. Kalau tidak, ia nanti mungkin tidak bisa kembali.
Hansol mencoba memayungi kepalanya dengan punggung tangannya, ia tersenyum kecil begitu melihat pondoknya sudah tidak jauh lagi. Ia mempercepat langkahnya tanpa tahu di depan ada genangan lumpur kecil yang licin.
"Argh!" Hansol menjerit reflek, ia terpleset dan jatuh ke arah kiri, dan itu buruk. Karena di sisi kiri malah ada lereng miring kecil, akibatnya ia jatuh berguling-guling ke arah bawah. "Ah.." kakinya terasa perih, dan tubuhnya tidak berhenti berguling. Sakit sekali, ditambah dengan hujan yang makin deras.
Pandangannya berubah buram, 'Tolong..' ia hampir berteriak namun suaranya seolah tertahan, dadanya sesak, tidak! Asmanya tidak boleh kambuh di saat seperti ini.
. . .
Seungkwan baru saja selesai mandi setelah mengantri beberapa saat tadi, sepertinya ia keluar paling akhir, maklum, ia suka menyanyi di dalam kamar mandi hehe. Dan itu jadi kebiasaan buruknya karena ia akan mandi dua kali lebih lama daripada orang normal. Dia berlari kecil ke dekat tenda sambil memayungi kepalanya dengan handuk, hujan mulai deras. Ia bingung kenapa suasana di dekat tenda berubah ganjil. Guru-gurunya tampak mondar-mandir kebingungan, jadi ia menyimpan alat mandi dan baju kotornya ke dalam tenda, kemudian keluar lagi. "Ada apa?" tanyanya pada Gyujin.
Sementara yang ditanya berubah terkejut, "Ssaem! Boo Seungkwan ada di sini!" Seungkwan mendelik, bukannya dia sudah bilang kalau pergi mandi tadi? Song Jihyo lari tergopoh-gopoh, syukurlah, satu anak didiknya baik-baik saja. "Lalu dimana Chanmi?" tanya guru itu, Chanmi adalah anak perempuan kelas 2-C.
Halla mengangkat tangan, "Chanmi pergi ke toilet ssaem, buang air kecil." Jihyo mengangguk paham, "Kalau begitu.. hanya tinggal Chwe Hansol yang belum kembali." Gumam guru cantik itu, Seungkwan bingung, Hansol kemana? Bukannya tadi ada bersama anak-anak yang lain?
"Vernon kemana?" Gyujin mengangkat bahu, karena memang tidak tahu apa-apa. "Hansol hilang," jawabnya singkat. Tapi mata Seungkwan langsung membelalak, hilang? Bagaimana bisa?
"Gyujin, sudah coba kau hubungi ponselnya?" itu Hyejung, Gyujin mengacungkan ponsel putih di tangannya. "Ponselnya tertinggal di tenda ssaem,"
Wajah Hyejung berubah jadi lebih panik, "Yang perempuan tetap disini dan bantu Jihyo ssaem menyiapkan makan siang, oke? Dan yang laki-laki ikut Yoochun dan Kangin ssaem mencari Hansol, sepertinya hujan akan turun lebih deras jadi kita harus bergegas. Yang bawa payung pinjamkan ke temannya," perintah Hyejung.
Mereka berpencar, Mingyu dan Junhong ikut dengan Seungkwan. Mereka masuk ke dalam hutan, Junhong yang paling tinggi memegangi payung lebar untuk mereka bertiga. "Hansol!" teriak Mingyu, suaranya menggema di tengah hutan. Tapi tidak ada jawaban apa-apa, mereka bertiga bahkan sudah memeriksa tempat Seungkwan nonton kembang api tadi malam, tapi Hansol tidak ada disana.
"Chwe Hansol!" kali ini Junhong mengeraskan suaranya yang berat, namun masih tidak ada jawaban. Malahan hanya mendengar suara jangkrik dan hewan hutan yang bersahut-sahutan. "Dia ini ada dimana sih? Boo Seungkwan, kau yakin mau masuk ke dalam hutan terus?" tanya Mingyu.
Yang ditanya mengangguk yakin, "Hansol itu punya jalan pikiran berbeda, dia akan menemukan tempat aneh yang mungkin bagi sebagian orang tidak penting." Jawabnya, ia tidak tahu kenapa ia begitu yakin. Awas saja kalau ia menemukan Vernon atau Hansol itu, Seungkwan akan menggigitnya, demi Tuhan! Ia lapar, dan baru saja mandi tapi sudah kotor kembali.
Mereka melangkah terus dan Junhong berhenti, "Tunggu, bukankah itu sepatu Hansol?" tunjuknya pada sebuah sepatu kets warna putih-merah yang berada tak jauh di depan mereka, namun mereka tidak menemukan tanda-tanda Hansol ada di sekitar mereka.
Seungkwan berlari kencang mendekat, matanya memandang ke sekeliling, tidak ada apa-apa kecuali dataran yang sedikit miring. Jangan bilang Hansol terpeleset di jalanan yang agak miring itu? Astaga! Ia melongok ke bawah, benar saja ada Hansol disana. Ia menemukannya! Ia menemukan Hansol, dan kenapa lelaki itu terbaring lemah?
Setelah turun dengan hati-hati, ia mendekati Hansol. "Vernon, kau baik-baik saja?"
Pertanyaan bodoh, sudah tahu kaki Hansol sedikit berdarah karena tertusuk ranting, masih saja bertanya. Dimana otakmu Boo Seungkwan? Makinya pada diri sendiri, ia meletakkan lengannya di bawah tengkuk Hansol, "Vernon-ie, sadarlah!"
Tapi dada Hansol malah naik-turun tak beraturan, mulut Seungkwan terbuka sedikit karena terkejut, tidak mungkin kan.. Hansol punya asma? Kalau memang benar itu sungguh tidak baik, lelaki itu sudah bernafas seperti orang tercekik saja.
Ia menoleh menatap Mingyu dan Junhong yang membuntutinya dan meminta dua orang tersebut membantunya membopong tubuh Hansol ke arah tenda. Meski sedikit susah karena harus menanjak, mereka sampai juga di dekat tenda. Yoochun dan Kangin langsung membantu, Hansol dibaringkan di ranjang.
"Jangan.. tinggalkan aku," dengan susah payah Hansol menahan Seungkwan yang baru saja membantunya berbaring, Seungkwan mengerjap pelan, tangan Hansol melingkari bahunya. Tetapi Seungkwan melepaskan pelukan Hansol perlahan karena Hansol harus diberikan pertolongan pertama. Jihyo ssaem sudah memegang tabung oksigen di tangannya, ia mengarahkan tutupnya ke hidung Hansol. Menegakkan sedikit tubuh muridnya itu, "Tarik nafas pelan-pelan Hansol, hirup udaranya."
Dengan setengah sadar Hansol melakukannya, guru Kang mendesah khawatir. Tentu saja, Hansol itu anak didiknya, murid baru, dan dia tidak tahu kalau anak itu menderita asma. Ia adalah wali kelas Hansol dan itu membuatnya merasa bersalah, apalagi nomor orangtua Hansol tidak dapat dihubungi sama sekali, dan ia tidak menuliskan riwayat penyakitnya. Untung saja Seungkwan dapat menemukannya, kalau tidak, Hyejung tidak tahu seberapa besar rasa bersalah yang akan ia pikul.
Setelah sedikit membaik, Hyejung mempersilahkan rekan-rekan gurunya meninggalkan Hansol untuk istirahat, dan ia yang akan menjaga murid laki-lakinya tersebut. Ia sudah membersihkan tubuh Hansol dan mengganti pakaiannya yang kotor karena terkena lumpur. Mata Hansol membuka, tapi wajahnya masih terlihat lemas. "Ssaem," panggilnya lemah, Hyejung mendekat. "Jangan bilang orangtuaku ssaem, mereka tidak tahu aku ikut kemah."
Dahi Hyejung berkerut, jadi Hansol kabur dari rumah begitu? Atau sekedar pergi tanpa sepengetahuan mereka saja? "Ibu akan tetap menghubungi mereka Hansol, berikan ibu nomor yang lain. Nomor tadi tidak dapat dihubungi," Hansol menggeleng lemas.
Orang lain tidak tahu masalahnya, "Kalau ssaem bilang, nanti mommy akan semakin tidak percaya. Bisa-bisa aku kembali masuk homeschooling lagi, aku tidak mau. Aku suka punya teman, aku suka berinteraksi dengan banyak orang." Suarnya berubah lirih, Jadi itu alasannya kenapa Hansol berbohong, bisa dimengerti juga. Hyejung paham, teman adalah salah satu hal terpenting dalam masa remaja bukan?
Namun Hyejung tetap menggeleng, biar bagaimanapun posisinya merupakan seorang guru, terlebih wali kelas. Ia adalah perantara antara orangtua dan anak di sekolah, "Ssaem akan coba bicara dengan ibumu, jadi berikan nomor aslinya." Ia menyerahkan ponselnya pada Hansol.
Anak yang saat ini kakinya dibebat oleh perban mengalah, ia mengetikkan nomor orangtuanya di ponsel Hyejung. Cukup sudah, ia tahu apa yang akan dilakukan orangtuanya. Ia yakin akan kembali homeschooling atau yang paling parah ia bisa dikirim ke States lagi. Orangtuanya juga sangat membenci pembohong sepertinya.
Hyejung tersenyum lembut lalu menepuk pundaknya sebelum meninggalkan Hansol sendirian di tenda. Entahlah, Hansol tak ingin tahu apa yang dibicarakan wali kelasnya, lebih baik ia memejamkan mata.
Sementara itu si wali kelas berjalan ke tempat yang sedikit sepi kemudian menghubungi nomor yang tertera. Selalu saja ada masalah yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya, ia tidak marah, ia cukup mengerti. Malahan ia khawatir akan muridnya itu, ia tidak ingin Hansol meninggalkan sekolahnya. Salahkan ia tidak mencocokkan nomor orangtua yang ada di berkas siswa terlebih dahulu.
"Yeobboseyyo?"
"Hello? I'm sorry, I can't speak Korean." Astaga, Hyejung lupa ibu Hansol orang Amerika. Dia kira ibunya bisa berbicara bahasa Korea sedikit, tapi ia ingat Hansol masih menggunakan bahasa Inggris di rumah. Dan Hyejung bukan suaminya, Tablo, yang lancar berbicara bahasa Inggris. Ia hanya menguasai bahasa Korea dan Jepang saja.
Jadi ia menghela nafas, "C-Can I speak with Hansol's dad?I'm his homeroom teacher," jawabnya, kemudian sepertinya ponsel itu berpindah tangan ke ayah Hansol. "Ya, saya ayah Hansol. Ada apa?"
Mendengar suara ayahnya, Hyejung jadi takut sendiri. "Saya Kang Hyejung, wali kelasnya. Begini, anak anda sakit. Asmanya kambuh, apa ia ada riwayat asma sebelumnya? Dan kami minta maaf karena Hansol ikut bersama kami di acara perkemahan, kami tidak tahu ia tidak izin sebelumnya." Jelasnya hati-hati, ia sudah membayangkan akan mendapatkan teriakan atau bagaimana. Namun yang ia dengar hanya helaan nafas lelah.
Jadi ia mematung sampai ayahnya memberikan respon, "Tolong jaga dia, dia hanya kambuh ketika kelelahan. Apakah aktivitasnya berat? Dan jangan bebani pikirannya terlebih dahulu, anggap saja kami mengizinkannya berkemah. Ibunya memang sering khawatir, syukurlah kami ada di Busan saat ini." Hyejung menggeleng, lupa kalau ayah Hansol tidak dapat melihatnya. "Annio, baiklah, terima kasih pengertiannya. Saya harap anda tidak akan memarahi Hansol karena ikut berkemah, ia bilang ia sangat suka bersama teman-temannya. Dan saya mohon jangan kembalikan dia ke home schooling, biarkan dia berkembang di sekolah umum. Maaf kalau saya lancang, tapi bisakah anda mendiskusikannya dengan ibu Hansol?"
Ia benar-benar ingin melakukan hal itu untuk Hansol, ia tidak ingin kehilangan muridnya dan merasa bersalah apabila Hansol kecewa. "Saya mengerti Hyejung-ssi, akan saya diskusikan nanti. Terima kasih sekali lagi," jawab ayah Hansol tenang, "Sama-sama tuan Chwe."
Guru Kang kembali ke tenda, ia menemukan Hansol yang kentara sekali sedang berpura-pura memejamkan matanya. Guru cantik itu duduk di dekat Hansol, kemudian mengelus surainya sayang, seolah-olah memperlakukan anak kandungnya sendiri. "Aku sudah menghubungi orangtuamu, jangan khawatir, ayahmu tidak akan marah. Dan ayahmu berjanji akan membicarakannya dengan ibumu, lain kali kau harus jujur pada mereka. Istirahatlah,"
Setelah mendengar langkah Hyejung menjauh, Hansol membuka matanya. Diam-diam merasa lega. Syukurlah, tidak seperti bayangannya.
TBC
Ada yang nanya Gyujin siapa? Gyujin itu anak UP10TIOn aku sih ga seberapa kenal juga XD Cuma waktu itu Gyujin pernah salah ngira Mingyu anak up10tion di salah satu acara musik, jadi Gyujin nepuk pantatnya Mingyu. Ekspresinya Mingyu ga banget deh lol.
Btw itu aku ngegambarin hutan tempat aku kemah waktu SMA, asli jalan naiknya ga banget-_- menukik gitu nanjak banget ga landai sama sekali,dan gaada tali, kita naik bergantung sama tongkat pramuka. Ampun deh untung ga kepleset :(
Last, review?^^
