Disclaimer: Masashi Kishimoto

Warn: Ooc banget, typos, etc.

Story: Aoyama

x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x

.

ST DETECTIVE
Permata Yang Hilang

BERKAT Shikamaru berhasil mengungkap kasus Shion, Temari pun jadi memiliki atensi yang sama terhadap apa yang diinginkan Shikamaru, yaitu menjadi detektif.

Dan, kini mereka telah sepakat mendirikan biro detektif SMA dan mereka menjuluki diri dengan nama 'ST DETECTIVE'.

Dan, mereka mendirikan sebuah 'kantor' detektif di ruang yang dulunya dipakai sebagai ruangan siaran (radio) sekolah. Sebenarnya, ruangan yang tengah mereka pijaki saat ini ialah ruangan eskul siaran radio di Konohigh ini, entah karena alasan apa eskul tersebut harus ditutup secara sepihak oleh sekolah. Dan, daripada mubadzir tidak terpakai, Shikamaru dan Temari meminta izin kepada kepala sekolah untuk menggunakan ruangan tersebut untuk klub mereka saat ini. Tentu saja dengan bantuan Shion, mengingat kepala sekolah Konohigh ini agak sedikit mata duitan. Ruangan yang mereka pakai terletak di pojok bangunan tingkat ketiga, tepatnya sebelah selatan kelas mereka.

Waktu menunjukan pukul 03:00pm.

Semua pelajar telah pulang, kecuali Shikamaru dan Temari, mengingat mereka harus membenahi tempat yang telah lama tidak dipijaki ini berantakan.

"Selesai juga," seru Temari sembari melihat apa yang baru saja mereka kerjakan.

Shikamaru menjatuhkan dirinya di sofa yang dekat dengan kaca yang mengarah ke koridor.

Temari mulai menilik- jika saja ada yang belum terselesaikan. Dari mulai meja yang mereka jadikan meja kerja yang terletak di pojok ruangan dengan sebuah bangku, dan dua bangku yang dimaksudkan untuk para klien jika mereka mendapatinya. Sebuah biola yang menggantung indah di dinding kiri, entah itu hanya sebatas hiasan atau bermaksud untuk menghilangkan kejenuhan untuk mereka jika tidak ada kerjaan. Sebuah jendela yang mengarah ke arah kota Konoha, dan sebuah neon yang menerangi ruangan ini.

"Dengan begini, kita bisa mendapatkan uang jajan lebih, Shika." ujar Temari yang memposikan dirinya di tangan sofa yang Shikamaru gunakan merebahkan diri.

"Ya, begitulah. Dan kita harus mempromosikan klub kita agar mendapatkan klien."

"Caranya?"

"Kita buat iklan saja di MKS, pasti teman-teman kita banyak yang tertarik."

"Tapi, kita juga harus menyertai kasus yang sudah terpecahkan, sedangkan kasus yang sudah terpecahkan baru satu. Dan lagi, kita tidak mungkin memaparkan kasusitu."

"Benar juga." kata Shikamaru.

Temari melirik arloji di tangan kirinya.

"Sudah sore, kita pulang yuk."

"Kau benar, Temari, sepertinya hanya tinggal kita berdua yang beradi di Sekolah," ujar Shikamaru.

"Plus pak Satpam," timpal Temari.

Mereka bergegas meninggalkan ruangan yang mereka jadikan sebagai kantor itu setelah mereka yakin tak ada lagi yang mesti dibereskan.

Mereka berjalan menyusuri koridor. Ternyata dugaan mereka salah jika mereka hanya tinggal berdua, tetapi ada seorang wanita dewasa yang tidak lain adalah guru Kimia mereka yang bernama Kurenai yang tengah duduk termenung di bangku koridor.

"Bu. Kurenai?" sapa Temari.

Kurenai yang sedari tadi hanya melamun, kini mengangkat wajahnya dan memandang murid di depannya.

"Ibu belum pulang?" kini Shikamaru yang bertanya.

"Shikamaru? Temari? Kenapa belum pulang?" alih-alih menjawab pertanyaan; Kurenai malah balik bertanya.

"Kami baru selesai membenahi ruangan siaran yang kami jadikan ruangan klub." jawab Shikamaru, "Ibu sendiri, kenapa belum pulang?"

"Ibu ada sedikit urusan. Oh, iya, kalian bilang klub? Apa klub yang dikatakan kepala sekolah tadi pagi. Klub apa itu?"

"Detektif."

"Detektif?"

"Iya, Bu, mungkin ibu punya sedikit masalah, kami mungkin bisa membantu ibu." tawar Shikamaru.

"Kamu yakin, Shika?"

"Mungkin kami hanya detektif amatir, tapi kami akan berusaha semaksimalmungkin."

"Jadi, apa ada yang bisa kami bantu, Bu?" timpal Temari.

Kurenai menghela napas panjang, "Kalian tahu Hinako 'kan?"

"Puteri ibu itu?"

"Iya."

"Ada apa dengan Hinako?"

"Hah," sekian kalinya Kurenai menghela napas, "Dua hari ini dia tidak kembali ke rumah."

"Maksud ibu? Oh, ya, Temari, catat semua yang Bu. Kurenai terangkan.

"Dua hari yang lalu, Hinako ibu marih hingga ia menangis karenanya. Sungguh Ibu melakukan itu karena menyayangi Hinako.

"Setelah itu, Hinako marah kepada ibu dan pergi membawa sepedanya."

"Apa ibu bisa menebak-nebak Hinako pergi kemana?"

"Atau mungkin Ibu sudah menghubungi Polisi?" Temari turut menimpali.

"Ibu yakin Hinako tidak jauh perginya. Soal menghubungi Polisi, Ibu belum yakin dengan hal itu."

"Emm, maaf, Bu, kalau boleh saya tahu, ada masalah apa hinga Ibu memarahi Hinako sampai ia pergi?"

"Masalahnya memang sederhana. Dua hari yang lalu, tepatnya hari selasa pukul tujuh malam. Ibu dihubungi oleh Pak Asuma untuk menjemputnya di bandara, kebetulan beliau baru pulang dari mesir.

"Ibu menitip pesan kepada Hinako agar tidak meninggalkan rumah, karena saat itu di rumah dalam keadaan kosong. 'Hinako, Ibu mau mejemput ayah, kamu jangan kemana-mana, ya!' kata Iabu, 'Iya, Bu, Hinako janji gak kemana-mana.' jawab Hinako.

"Tanpa rasa curiga sedikit pun, Ibu pergi mejemput suami ibu. Ketika sampai di bandara, Ibu lekas menghampiri suami ibu, setelah itu Ibu kembali ke rumah bersama Asuma. Kalian tahu apa yang terjadi? Ya, Hinako tidak ada di Rumah kami.

"Kami menunggu sampai larut malam. Setiap Ibu hubungi, Hinako tidak pernah menjawab telepon Ibu, di sms pun tidak dibalasnya."

"Lalu?"

"Ibu jadi khawatir karenanya, dan seperti yang kalian tahu jika seorang ibu tidak akan tenang bila tidak mendapati kabar dari anaknya, terlebih anak itu adalah seorang gadis."

"Kami bisa mengerti perasasaan Ibu."

"Ya, kalian anak-anak yang baik. Lalu setelah itu Ibu mencari Hinako kemana-mana bersama Asuma."

"Ibu menemukan Hinako?"

Kurenai bergeleng pelan, "Tidak, kami tidak menemukan Hinako. Namun, ketika kami kembali ke rumah, kami menemukan Hinako sedang menonton TV.

"Antara kaget, geram dan marah beradu di hati ini. 'Ibu sudah pulang?' tanya Hinako yang menyangka kami baru pulang. 'Kamu dari mana?' bentak Asuma.

"Kami menghapiri Hinako, 'Kamu habis dari mana, Nak?' tanya Ibu yang juga tengah emosi dibuatnya. Hinako nampak kelagapan, 'Aku tidak kemana-mana, Ibu, Ayah, sumpah deh, Hinako gak kemana-mana.' kilah Hinako. 'Bohong' sergah Asuma. Dan sepertinya Asuma sudah tidak tahan lagi dan langsung menampar Hinako.

"Ibu tahu, Asuma tidak bermaksud melakukan itu, karena setelah menampar Hinako, ia nampak kaget dan kalut. Eh, ko' ibu jadi curhat gini."

"Kami senang bila ibu bisa terbuka kepada kami. Bisa Ibu lanjutkan cerita Ibu?" kata Temari lembut, Shikamaru mengangguk menyetujui.

"Ya, setelah itu, Hinako menangis atas tindakan Asuma itu, tanpa banyak bicara ia berlari ke kamarnya. Dan, setelah beberapa saat, Hinako keluar membawa ranselnya.

"'Mau kemana, Hinako?' tanya Ibu. Hinako tidak menjawab dan berlalu begitu saja. Ketika Ibu berniat mengejar, Asuma menyergah ibu dan menyuruh membiarkannya." Kurenai mengakhiri kisahnya.

"Apa Hinako pergi meninggalkan rumah hanya berjalan kaki?" tanya Temari.

"Tidak, dia pergi menggunakan sepeda."

"Apa Ibu bisa menebak kemana Hinako pergi? Mungkin ke rumah Neneknya? Atau bahkan teman-temannya?"

"Ibu sudah mencari ke semua kemungkinan Hinako pergi."

"Well, kasus ini akan kami tangani, Bu Kurey (panggilan sayang anak-anak kepada Kurenai). Ibu tenang saja," ujar Temari. "Benar 'kan, Shika?" Shikamaru tidak menjawab. "Shika?" ulang Temari. Tak ada jawaban juga. Hingga Temari berbalik kepada Shikamaru dan mendapati Shikamaru tengah menangis tersendu.

"SHIKAMARU!" seru Temari kala ia melihat Shikamaru tengah menangis.

"Ah... Ya-ya, pasti." balas Shikamaru sembari menyeka air matanya.

"Hah, setidakny, beban Ibu sudah sedikit berkurang. Well, ibu harus pulang sekarang. Dan ini untuk kalian yang sudah bisa menerima curhatan Ibu." kurenai menyerahkan dua lembar uang seratus ribuan.

"Untuk apa ini, Bu?" sergah Temari.

"Iya, lagi pula kasus ini belum kami pecahkan." Shikamaru turut menimpali.

"Anggap saja sebagai DP." balas Kurenai ramah, "Well, ibu pulang duluan, ya?"

"Silahkan, Bu."

"Eh, Shika, tadi kenapa kamu menangis? Terbawa perasaan, ya?" Temari menyelidik.

"Tadi itu... Aku kira Kurenai lebih galak dari Ibuku, tapi aku salah. Ternyata saingan galak Ibuku belum ada." jawab Shikamaru kecewa. "Itu tidak penting, yang penting kita punya kerjaan buat hari ini." sambungnya bersemanat.

'Padahal tadi nangis, sekarang sudah bersemangat lagi,' Temari membatin.

"Kita mulai dari mana?" tanya Temari.

"Sekarang kita mulai dari rumah Kurenai." balas Shikamaru.

"Sekarang?"

"Kau mau menunggu besok? Semakin cepat akan semakin baik, Temari, karena penunjuk yang kita perlukan tidak akan semakin kabur."

"Sepertinya begitu."

"Yo, sekarang kita mulai misi kita ini." seru Shikamaru mengepalkan tangam ke atas.

"Kenapa gak bareng aja tadi?"

"Benar juga, ya," sesal Shikamaru menggaruk kepala belakang.

"Ayolah, kita harus cepat. Nanti keburu sore." usul Temari.

Mereka pun bergegas menuju rumah Kurenai.

"Waah, bagus juga rumah Kurenai," Temari terkagum-kagum melihat hamparan rumah Kurenai yang indah.

"Maaf, Dik, Adik ada keperluan apa kemari?" tanya seorang satpam yang menjaga di gerbang masuk.

"Saya ada keperluan kepada Kurenai. Kami adalah murid beliau," jawab Shikamaru.

"Baiklah, tunggu sebentar." ujar pak Satpam itu. Kemudian ia berlalu dari hadapan Shikamaru dan Temari.

Tak lama, Pak Satpam pun kembali dan mempersilahkan Shikamaru dan Temari untuk masuk. Di sana, mereka disambut hangat oleh Asuma dan Kurenai.

"Bapak sudah mendengar dari Kurenai. Apa kalian yakin akan misi ini?" ujar Asuma kala mereka tengah di ruang tamu.

"Serahkan semuanya pada kami, Pak, Bu," balas Shikamaru.

"Jadi, kapan kalian mulai penyelidikan?" kini Kurenai yang bertanya.

"Kami kesini justru untuk memulai penyelidikan."

"Apa tidak terlalu sore?"

"Tenang saja, Bu, kita akan secepatnya mencari Hinako."

"Kalian akan mulai dari mana?" tanya Asuma.

"Dari pertama Hinako pergi. Well, kita bisa memulainya dari garasi. Itu pun jika sepeda yang Hinako pakai selalu disimpan di Garasi."

"Ok, kami serahkan pada kalian. Tapi maaf, ibu tidak bisa membantu kalian, ibu dan Bapak harus segera pergi ke kantor dinas, karena ada sedikit urusan."

"Tak apa, Bu, tapi kami bisa pinjam sepeda 'kan, itu pun kalau ada."

"Ada, tapi hanya ada satu."

"Itu pun sudah sangat membantu ko, bu,"

"Baguslah. Sepeda ada di Garasi."

"Ayo, Temari, kita harus cepat jika tida ingin kemalaman." usul Shikamaru, "Satu lagi. Apa bapak atau ibu pernah mengeluarkan mobil dari garasi?"

"Ya, saat Hinako pergi, kami mencarinya dengan mobil kami."

"Oh, baiklah. Ayo kita mulai."

Shikamaru dan Temari pun bergegas memulai misi pencarian mereka.

"Ini garasinya, ya?" gumam Shikamaru.

"Sepertinya begitu." timpal Temari.

"Hm, dari yang aku lihat, mobil Asuma jarang dimasukan ke garasi, mereka cenderung menyimpannya di halaman rumah. Itu akan semakin memudahkan kita mencari petunjuk."

"Aku juga berfikiran sama. Nah, ini mungkin sepeda yang dimaksud Kurenai untuk kita."

"Ya... Kita cari dulu apa yang dapat kita temukan di sini."

Shikamaru mengeluarkan sebuah kaca pembesar. Dia memulai mencari sesuatu yang dapat membantunya.

"Kita mendapatkannya, Temari," seru Shikamaru girang.

"Jejak ban sepeda?"

"Ya."

"Tapi mungkin saja ini jejak sepeda yang lain? Soalnya, Hinako 'kan menghilang dua hari yang lalu?"

"Tidak, lihat saja ban sepeda ini! Motifnya bergambar plus, sedangkan jejak ini bermotif tanda panah."

"Ya, benar juga." Temari menyetujui.

Tiba-tiba Asuma datang menghapiri mereka.

"Shikamaru, aku lupa. Kami menemukan ini di kamar Hinako, semoga saja ini bisa membantu." Asuma menyerahkan selembar kertas yang terlipat kepada mereka.

"Ini..."

"Ya. Kami pergi dulu, semoga berhasil, Detektif," ujar Asuma seraya berlalu dari mereka.

Shikamaru membuka kertas tersebut.

Sayangi aku rengkuh untuk terpana orang bijak inilah. Awal aku menulis kata, aku harus terpana.

"Apa maksudnya ini?" ujar Temari tak mengerti.

"Aku pun tak mengerti. Kata-katanya seperti sebuah peribahasa." sahut Shikamaru.

"Ah, ini sih hanya tulisan iseng." Temari berpendapat.

"Mungkin?" kata Shikamaru yang kemudian melipat kertas itu kembali dan memasukannya ke kantong baju.

"Lalu, sekarang apa?"

"Kita ikuti jejak sepeda ini."

"Ini jejak dua hari yang lalu, pasti sudah hilang di jalanan."

"Ah kau ini, Tema, masa tidak ingat kalau dua hari yang lalu itu turun hujan. Dan, sampai sekarang belum ada hujan lagi."

"Well?"

"Well, mungkin jejak itu akan masih tetap ada. Emm, kita mulai tanya dari pak satpam."

"Itulah yang ingin aku usulkan."

Mereka berdua pun bergegas menemui Satpam rumah.

"Jadi, kalian akan mencari Nona Hinako?" tanya Satpam itu kala ST Detektif menjelaskan tujuannya.

"Begitulah, Pak, apa Bapak tahu Hinako saat pergi?"

"Ya, kebetulan saat itu saya bagian tugas."

"Ko' bapak tidak menyergahnya sih?" seloroh Temari.

Satpam itu menahan nafasnya sejenak, lalu berkata, "Saya kira, Nona Hinako mau keluar sebentar saja."

Shikamaru memicingkan matanya tajam kepada Satpam itu.

"Bapak tidak berbohong 'kan?"

"Untuk apa saya berbohong, toh saya tidak dapat untung." kilah si Satpam.

Shikamaru mengeluarkan uang lima puluh ribu dan memain-mainkannya.

"Yakin, gak bohong?" goda Shikamaru.

Satpam itu menelan ludah dan tak melepas pandangannya terhadap uang yang Shikamaru mainkan.

"Sa-saya gak bohong." si Satpam masih tidak menyerah.

"Hah," Shikamaru menghela nafas, "Tadinya, kalau anda jujur, saya kasih duit ini. Yuk, Temari, kita pergi."

Dengan cepat, Satpam itu pun menyambar uang di tangan Shikamaru.

"Ok, ok, saya akan bicara." ujar Si Satpam pada akhirnya. Shikamaru tersenyum penuh kemenangan.

"So, bisa Bapak ceritakan?" tanya Temari.

"Ya. Tapi ingat, ini bukan karena uang semata." balas si Satpam.

'Pembohong,' Shikamaru dan Temari membatin.

"Karena saya tidak tega melihat majikan saya yang terus memikirkan Nona Hinako," sambung si Satpam.

"Cepatlah ceritakan!" seru Temari tidak sabar.

"Begini, kemarin Nona Hinako pergi tidak hanya sendiri."

"Tidak sendiri?"

"Ya... Dia pergi dengan seorang anak perempuan sebayanya."

"Mereka boncengan? Kan Hinako pergi pake speda."

"Gak, mereka membawa dua sepeda."

"Ooh, terus, Pak?"

"Nona Hinako berkata kepada saya, jika saya mengatakan dia pergi berdua, saya akan dipecat. Nona Hinako mengancam saya begitu. Tapi, saya tidak menghiraukan amcamannya."

"Tapi, dengan uang, Bapak luluh juga 'kan?" sela Shikamaru.

Si Satpam tertawa ringan sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

"Iya, begitulah. Nona Hinako menyogok saya dengan uang 50.000."

"Sudah aku duga."

"Udah, gitu doang." kata pak Satpam.

"Hanya segitu?" ujar Temari tidak percaya.

"Ah, saya ingat. Nona Hinako pergi menggunakan sepeda itu ke arah situ." si Satpam menunjuk hutan yang tak jauh dari kediaman gurunya itu.

"Bisa bapak beri tahu kami, darimana Hinako memasuki hutan itu?"

"Itu tuh, yang ada pohon dengan pita merah. Itu 'kan jalan setapak menuju hutan." jelas Satpam itu.

"Udah?"

"Udah, hanya segitu yang saya tahu."

"Ok, Temari, apa kau siap memasuki hutan?" Shikamaru berbalik kepada rekannya.

"Why not?"

"Baguslah, ayo kita berangkat. Terima kasih, Pak Satpam 'mata duitan',"

"SEMPRUL!" sambar pak Satpam jengkel.

"Apa kau tidak merasa heran, Shika?" tanya Temari ketika mereka menuju hutan sambil boncengan dengan sepeda yang Kurenai pinjamkan.

"Heran? Kalau maksudmu tentang sikap Kurenai, aku juga heran."

"Kenapa dia terlihat tenang-tenang saja, ya?"

"Mungkin dia memang orang yang tenang," Shikamaru berpendapat, "Lagipula, kata Satpam mata duitan itu Kurenai sangat tersiksa."

"Apakah setenang itu?"

"Jadi, apa pendapatmu?"

"Emm, mungkin saja dia sebenarnya tahu di mana Hinako."

"Muncul dari mana gagasan aneh itu?" ujar Shikamaru sarkastik.

"Aneh?" Temari memutar bola matanya, "Mungkin... Mungkin..."

"Mungkin apa?" sela Shikamaru.

"Hehehe, aku juga tidak tahu," kata Temari sembari memeletkan lidahnya.

"Hah, kau ini."

Tanpa terasa, mereka telah sampai di jalan masuk ke hutan yang tepat berada pohon pinus yang berpita merah.

"Ok. Mungkin Hinako masuk dari sini," Shikamaru berpendapat, "Benar 'kan, kataku," serunya kala mendapati bekas jejak ban sepeda.

"Kau yakin ini bekas sepeda Hinako?"

"Tentu saja. Ukurannya yang sama, bekasnya ini jelas bekas dua hari yang lalu, itu terlihat dari bekas ini sudah agak kabur. Untunglah hujan tidak turun, sehingga kita tidak kehilangan jejak."

"Ayo kita ikuti," Temari menepuk pundak Shikamaru dari belakangnya.

Shikamaru berbalik kebelakang, "Naik sepeda?"

"Tentu saja, kaumau jalan kaki? Oh, tidak bisa..."

"Tentu saja aku akan berjalan kaki. Kalau kau mau, kau naik saja sendiri." Shikamaru tahu bahwa Temari tidak bisa memakai sepeda. Temari pun kecewa karenanya.

"Kenapa begitu?" ujar Temari kecewa.

"Sudahlah, jangan banyak tanya. Turun dulu, aku simpan sepeda ini dulu." Shikamaru menyimpan sepeda itu dan mengikatnya di salah satu pohon.

"Tapi, kenapa harus jalan kaki? Kan capek, Shika."

"Sudahlah, aku jelaskan sambil jalan."

Baru saja Shikamaru berjalan beberapa meter, langkahnya terhenti, badannya kaku, wajahnya mendadak pucat pasi.

"Tema..."

"Kau kenapa, Shika," Temari panik melihat Shikamaru yang begitu kaku.

Keringat dingin mulai membasahi pelipisnya.

"Tolong aku, Temari," ucap Shikamaru lirih.

.

.

[ T B C ]

.

.

Aoyama: Hah, kasus macam apa ini? -_-''

Yo,yo,yo, Aoyama kambek lagi. Ceritakan pendapat anda tentang chapter ini, karena hal itu dapat membuat saya menjadi tambah bersemangat. Bermacam review pun saya tampung dengan senang hati ;)