Chapter 2: Awal Musim Semi

Disclaimer:

-Vocaloid diciptakan oleh Yamaha Corporation

-Lagu Romeo and Cinderella dibuat oleh Doriko

-Kagamine twins' cover song oleh KurohaAi

Languange: Indonesia

Yak yak, bertemu lagi dengan Haru, author newbie nan gaje *plak*. Sebelum memulai Chapter 2 ini, saya akan menerangkan beberapa hal dulu, yaitu bahwa Chapter 2 ini settingnya terjadi sebelum Chapter 1, anggap aja flashback. Mengapa saya membuatnya settingnya jadi berantakan gini? Itu karena saya bego! *disamber* Karena saya bikin fic ini secara spontan, jadi begitu ada ide langsung ketik... *duagh*

Untuk selanjutnya, saya akan berusaha membuat settingnya beraturan... *bows*

Sekarang, tanpa banyak bacot lagi, langsung saja kita ke TKP! *lu pikir OVJ*

-Len's POV-

Sebelum kau mengetahuinya, rasa itu telah tumbuh di dalam hatiku...

-Rumah Len-

Jam weker berbunyi, memberitahu bahwa pagi yang baru telah menanti. Kubuka mataku perlahan. Kuraba-raba meja di samping ranjangku, meraih jam weker dan mematikan tombolnya. Sejenak kulihat jam berapa sekarang, lalu menghela napas lega.

"Tepat waktu...sebelum orang itu menyiramku dengan air, lebih baik aku sendiri yang menyirami tubuhku dengan air." kataku sambil bergegas ke kamar mandi.

Siapa yang kumaksud dengan 'orang itu'? Tidak lain dan tidak bukan adalah ayahku...yang menyuruh pelayan untuk 'memandikan' aku bila dia melihatku masih tertidur pulas, memaksaku untuk bangun dan merasakan dinginnya air tersebut. Dia selalu berbuat seperti ini padaku, tiap kali aku bangun kesiangan. Belum puas akan hal itu, dia akan menceramahiku selama jam makan malam keluarga, mengungkit-ungkit tentang kesalahan-kesalahanku, kesalahan yang tidak seharusnya dimiliki oleh seorang penerus perusahaan keluarga Kagamine. Aku tidak mampu melawan ocehannya, karena aku satu-satunya penerus dalam keluargaku. Seorang calon penerus perusahaan Kagamine dilatih untuk menahan amarah, emosi, dan berkepala dingin, seperti robot. Meskipun begitu, seorang calon penerus tersebut hanyalah manusia biasa. Ya...manusia biasa yang memiliki hati yang rapuh.

Hampir setiap hari aku merasa tertekan dalam sangkar keluarga ini. Jadwal kegiatan yang ketat diikuti oleh perlakuan kasar darinya, disertai nada-nada tinggi dengan tempo yang cepat dan penuh emosi, membuatku hampir tidak bisa menarik napas. Aku tidak takut, hanya saja aku merasa lelah. Sepertinya aku salah karena terlahir dalam keluarga ini. Aku lebih menyukai kebebasan daripada ikatan. Seperti burung yang terbang bebas di langit.

Selesai mandi, aku segera mengenakan seragamku, dan bergegas ke ruang makan keluarga. Ayahku orang yang sangat sibuk. Biasanya pagi-pagi begini dia sudah berangkat duluan, jika tidak begitu mungkin dia masih mengurung diri di dalam kamar, terpaku dengan data-data penting di laptopnya. Jika sudah begitu, aku harus bergegas. Sebelum orang itu selesai dengan urusannya, aku ingin cepat-cepat meninggalkan sangkar itu tanpa harus bertemu muka dengannya.

"Lily, apakah ayah sudah berangkat?" kataku kepada pelayan pribadiku. Lily adalah pelayan yang ditugaskan untuk melayani sekaligus mengawasiku. Dia jugalah yang selalu mematuhi perintah ayah untuk menyiramku saat aku kesiangan, namun setelah ayah pergi, dia langsung meminta maaf padaku. Dia satu-satunya pelayan yang paling kupercaya.

"Tuan besar sudah berangkat sejak tadi, tuan muda." Katanya sambil menghidangkan sarapan di atas meja makan.

"Baguslah..." kataku. "Lily, bukankah sudah kukatakan untuk memanggilku Len? Aku tidak suka ada yang memanggilku secara formal."

"Eh...maafkan saya, tuan muda Len."

"Itu bagus, tapi jangan pakai 'tuan muda' lagi."

"Tidak bisa, tuan."

"Kenapa tidak bisa?"

"Karena kedudukan saya di sini hanyalah sebagai pelayan. Tidak sepantasnya saya yang berkedudukan lebih rendah ini memanggil nama kecil anda."

"Peduli apa dengan kedudukan?" kataku sedikit emosi. Sepertinya nada bicaraku ini telah membuatnya takut. "Baiklah...terserah kau saja. Aku tidak ingin memaksa." kataku mengakhiri percakapan dan mulai sarapan. Dia tidak berkata apapun, lalu membungkuk hormat, sebagai permintaan maaf. Setelah selesai sarapan, aku beranjak keluar dari rumah –sangkar- itu. Lily mengikutiku dari belakang.

"Tuan muda mau diantar ke sekolah? Aku akan menelpon supir untuk segera pulang dan mengantar tuan."

"Tidak perlu, aku pergi sendiri. Bisa terlambat kalau aku bergantung pada supir pribadi ayah yang lelet itu." kataku sambil menghidupkan motor. Lily hanya bisa menghela napas saja. Kemudian kunaiki motor dan segera pergi menuju sekolah.

"Hati-hati di jalan, tuan!" katanya seraya melihatku menjauh.

-Voca High School-

Sesampainya di sekolah, aku memarkirkan motorku di tempat parkir sekolah. Syukurlah, waktu masih menunjukkan pukul 06.30 di arlojiku. Aku buru-buru memasuki ruang kelas. Tidak, ini bukan karena aku takut terlambat. Aku buru-buru memasuki kelas untuk segera melihat wajah yang kurindukan.

Benar saja, dia ada di sana, sedang membaca buku. Siapa lagi yang kumaksud kalau bukan Rin Kagamine. Dengan tenang aku meletakkan tas di mejaku, lalu duduk. Bangkuku terletak di barisan paling belakang di samping jendela. Yah, memang aku mengincar posisi ini, karena angin semilir dapat masuk lewat jendela, dan bisa saja membuat mata menjadi berat untuk memperhatikan guru yang sedang menjelaskan pelajaran. Tak jarang sebatang kapur sering mengenai kepalaku yang tersandar di meja, membuatku terbangun dari mimpi-mimpi yang tidak jelas.

Sayangnya, bangku Rin satu barisan di depanku. Padahal aku berharap dapat duduk di sampingnya. Aku hanya bisa melihat punggungnya. Ingin rasanya kupeluk punggung yang mungil itu dengan tanganku. Ah, gawat...aku berkhayal lagi.

Satu hal yang kusadari saat pertama kali melihatnya, nama keluarga kami sama-sama Kagamine. Aku sempat kaget dan mulai khawatir, jangan-jangan kami memiliki hubungan kerabat? Jangan-jangan perasaanku ini salah? Namun perasaan ini sulit untuk dihilangkan. Tak bisa kuhentikan, tak bisa berhenti...

Awal dari perasaan aneh ini, saat penerimaan siswa baru. Saat itu awal musim semi. Aku tidak berpikir apa-apa, dan menganggap semuanya akan sama saja seperti saat masa SMP dulu. Namun aku salah besar.

Aku memasuki kelas baruku, melihat keadaan kelas dan para siswanya secara sekilas. Tentu saja aku belum mengenal baik wajah-wajah mereka. Saat diabsen pertama kali, aku juga agak kaget dengan nama Rin Kagamine. Namun saat itu aku masih belum melihat wajahnya dengan jelas.

Suatu hari, secara tak sengaja aku menemukan buku catatan seseorang di meja guru. Saat itu sekolah telah usai, dan aku yang terakhir meninggalkan ruang kelas yang sudah sepi. Namanya tertulis di situ 'Rin Kagamine'. Merasa mengenali nama ini, aku langsung mencarinya. Kulihat dia sedang duduk di bawah pohon besar, sedang kebingungan mencari sesuatu di tasnya. Aku berjalan mendekatinya.

"Aduuh...Ada di mana ya?" gumamnya dengan gelisah.

"Mencari ini?" kataku sambil menyerahkan buku catatannya. Wajahnya yang tadinya muram itu berubah menjadi berseri-seri.

"Ah...Buku catatanku! Syukurlah ketemu!" katanya dengan nada riang. "Di mana kau menemukannya?"

"Di atas meja guru. Aku yakin kau lupa mengambilnya setelah Luka-sensei menilai catatanmu." Kataku sambil sedikit tertawa.

"Ah...soalnya tadi aku harus buru-buru pergi ke tempat les. Tiba-tiba aku teringat dengan buku catatanku, lalu aku kembali mengecek tasku." Jelasnya. "Kupikir akan hilang. Untunglah bukunya ketemu!"

Belum sempat aku berkata apapun, dia kembali berbicara sambil melihat jam tangannya.

"Gawat! Aku harus bergegas!" katanya sambil memasukkan buku catatannya ke dalam tas, lalu membawanya. "Terima kasih banyak karena telah repot-repot membantuku!" katanya sambil tersenyum.

Aku langsung tertegun melihat senyuman wajahnya. Baru kali ini ada orang asing yang bersikap begitu baik padaku. Ya, memang Lily juga selalu baik kepadaku, namun aku tak pernah merasakan perasaan seperti ini terhadap Lily. Perasaan aneh ini, belum pernah kurasakan sebelumnya...

"Ah...sama-sama..." kataku dengan pelan, namun sebenarnya dia sudah berlari menuju ke luar sekolah. Aku hanya bisa memandangi punggungnya yang menjauh.

Angin musim semi membelai rambutku. Daun-daun bunga sakura berguguran tertiup angin. Aku yang sebelumnya tidak peduli dengan keadaan sekitarku, entah kenapa jadi tertarik memandang sekitar. Segalanya terlihat begitu indah. Aku memandang langit di atas kepalaku. Langit biru cerah yang begitu luas. Aku ingin bebas, namun aku juga mendambakan suatu keterikatan. Aku ingin terbang bebas...bersamamu.

-Chapter 2: End-

Akhirnya selesai...walaupun lagi-lagi berkesan pendek. Maaaaafff! TwT *guling-guling* *author digampar*

Soalnya idenya lagi macet (atau otakku yang lagi macet? #duagh). Tenang saja...chapter 3 lagi in progress kok! ^o^

Terima kasih karena sudah mau menghabiskan waktu kalian yang berharga hanya untuk membaca fic gaje ini. Mohon maaf apabila ada salah kata. Akhir kata, mohon direview! *kicked* dan tunggu update chapter 3! \^^/