Be Mine! by Hyuki Aika
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Rate : T+
Pairing : Naruto U x Hinata H
Genre : Romance, Drama dan Hurt/comport
Warning : EYD Berantakan, Thypo, Gaje, Sekuel 'Hujan', DLL
Summary : Hinata tidak pernah tahu, bahwa orang mesum yang mengambil ciuman pertamanya ini adalah Seorang tetangganya dan Gurunya./Naruto hanya memberikan apa yang menjadi hak miliknya./ NaruHina/DLDR/RnR.
Chapter 2 : Guru?
Enjoy~
.
.
.
Happy Reading~
.
.
.
.
Pagi yang cukup mendung dan dingin ini, membuat orang-orang engan untuk bangkit dari tempat yang hangat dan nyaman, dan membiarkan tubuh mereka terbalut oleh tebalnya selimut. Tidak bagi gadis manis ini, yang telah rapi dan siap dengan pakaian sekolahnya.
Mata sang gadis, mengelilingi setiap sudut kamar. Mencoba mencari sesuatu yang dapat membuat tubuhnya lebih hangat. Hyuga Hinata, saat ini sedang menggali di setiap letak lemarinya. Mencari jaket yang saat ini dirinya perlukan, untuk menghangatkan tubuhnya dari cuaca di luar sana.
Tapi, nihil tak ada satu jaketpun yang dia temukan, kecuali... Jaket Hitam besar dan tebal yang bergantung di samping lemari besarnya. Hinata meringis, antara bingung harus memakainya atau mengurungkan niatnya. Tetapi, di pagi hari yang menyusuk ini, membuat Hinata dengan berat hati untuk memakainya.
Setelah siap dengan semuanya, Hinata menuruni anak tangga untuk membantu sang Ibu menyiapkan sarapan untuk keluarganya. Hinata adalah salah satu anak teladan dan disiplin di sekolah, selalu berangkat pagi dan selalu menyelesaikan pekerjaan sekolah tepat waktu. Bahkan dirinya termasuk murid tercerdas di sekolah. Hanya saja dirinya terlalu pendiam dan pemalu, hingga membuat dirinya tidak terlalu mencolok dari siswa dan siswi lainnya.
Hinata selesai dengan acara sarapannya, dan pamit kepada sang ibu yang masih menunggu keluarganya yang lain untuk turun dari kamar masing-masing. Hinata mengecup pelan pipi sang ibu dan memasang sepatunya, melangkah keluar dari Rumah besarnya.
Hinata merapatkan jaket besar yang ada di tubuhya itu, mencoba mencari kehangatan. Walau pagi ini hanya di hiasi oleh gerimis hujan, Hinata tetap tidak lupa untuk membawa payung di dalam tasnya.
Ketika tiba di depan gerbang rumah, Hinata melirik sedikit pada rumah besar yang ada di sampingnya, untuk jalan menuju sekolahnya Hinata harus melewati rumah besar itu. Hinata meringis ketika mengingat dirinya bertetangga dengan seorang pria mesum, walau di sana ada seorang wanita yang sangat baik dan ramah kepadanya.
Hinata celingak-celinguk, pada rumah yang akan di lewatinya, mencoba mencari keamanan dan berjalan menjinjit sepelan mungkin, hanya untuk tidak mengeluarkan suara. entah hal bodoh apa yang Hinata lakukan, tetapi hati nuraninya berkata harus waspada dan siap siaga. Ketika hampir berhasil melewati depan rumah tersebut Hinata menghela nafas lega. Walau Hinata hampir tertawa dengan tindakkan bodohnya barusan.
Ketika ingin melangkahkan kakinya dengan cepat menuju sekolah, tiba-tiba ada seseorang yang menariknya memasuki sebuah gang sempit yang di himpit oleh dua dinding rumah. Tubuh Hinata menegang dan sedikit meringis ketika tubuh mungilnya menghentak pada dinding kasar tersebut. Matanya memejam mencoba merendamkan rasa sakit di punggungnya, tetapi matanya terbelalak kaget seketika, ketika penciumannya secara tidak sengaja mencium aroma citrus yang dia kenali.
Sekarang tepat di depan Hinata, berdiri seorang pria yang menatapnya dengan tatapan intens. Hinata meneguk ludahnya kasar, ketika mengetahui mimpi buruknya menjadi nyata, baru saja dirinya mencari keamanan, sekarang dirinya malah memasuki zona yang berbahaya.
Pria itu tersenyum mengejek, tetapi tidak menggerakkan tubuhnya sedikitpun untuk menghampit pergerakan dari gadis yang ada di hadapannya itu. Bahkan tangannya mencengkram erat pada lengan gadis itu. Agar sang gadis tidak dapat bergerak dan memberontak. Wajahnya mendekat kesamping telinga sang gadis dan berbisik. "Kita bertemu lagi". Di jauhkan wajahnya dari telinga sang gadis dan melihat bagaimana wajah sang gadis saat ini.
Uzumaki Naruto, menahan tawanya sekeras mungkin ketika melihat gadis yang ada di hadapannya ini mematung dengan wajah kaget serta rona merah yang menghiasi kedua pipinya. Matanya beralih menatap tubuh Hinata yang terbalut oleh hitam nan besar itu. Membuat seringai di bibirnya semakin tercetak jelas.
"Kau menyukainya?"Tanyanya menggoda seraya menyentuh jaket hitamnya itu, Hinata hanya dapat diam mematung memilih untuk menghiraukannya. Nafasnya terasa berat dan cepat, tetapi sesekali terlihat menahan nafasnya.
Tak mendengar jawaban apapun dari bibir mungil sang gadis, Naruto memandang wajah cantik itu yang saat ini memejamkan matanya erat. Naruto menatap setiap, inci wajah cantik tersebut, dari rambut poninya yang menutup dahi, mata yang terpejam erat menutupi manik bulannya yang indah, dihiasi oleh bulu mata yang lentik, hidung mungil mancungnya, pipi merah yang lembut, dan bibir mungil yang menggoda, mengingatkan Naruto untuk mencicipinya kembali.
Kali ini, Naruto mendekatkan wajahnya pada wajah gadis manis tersebut. Mengambil suatu keuntungan dan tidak menyia-nyiakannya. Sedangkan Hinata dapat merasakan dengan jelas deru nafas seseorang yang tepat mengenai kulit wajahnya, matanya semakin erat memejam, mencoba mengusik pikirannya, ingin mendorong pria yang menghimpitnya itu, tetapi apalah daya tenaganya terasa habis terserap begitu saja.
Dan hal yang mengejutkan dan di takutkan Hinata sekarang benar-benar terjadi, Hinata dapat merasakan benda kenyal di bibirnya dan memberikan rasa hangat disana. Tangan Hinata mencekram pada kemeja Naruto, dan sedikit memberi pemberontakkan, walau tidak menghasilkan apapun.
Hinata hanya dapat pasrah, ketika bibir tipis pria itu mendominasi dan mengendalikan bibirnya. Hinata hanya diam tak berkutik, berbatin keras agar tidak hanyut dalam jebakan itu yang kedua kalinya.
Setelah cukup merasa puas, Naruto menjauhkan bibirnya dan berbisik tepat di telinga Hinata. "Terimakasih" dan meninggalkan Hinata begitu saja, sebelum dirinya sempat menepuk puncak kepala Hinata pelan.
Hinata diam mematung, seperti deja vu. Pria itu menciumnya yang kedua kalinya, lalu berkata'terimakasih' dan meninggalkan Hinata yang mematung begitu saja. Memangnya dia pikir Hinata seperti wanita apaan?, menciumnya dan pergi?. Hinata meremas dadanya, merasa jantungnya yang berdetak keras dan juga sesak. Matanya mulai ber air ketika mengingat itu semua. Bibirnya bergetar tak kuasa dengan semuanya. Tetapi matanya beralih menatap jalan yang sempat di lalui pria mesum itu. Dan dengan pasti Hinata memasukkannya kedalam list orang yang harus di hindari oleh Hinata.
Uhm, Jika ini akan terulang lagi. Hinata tidak akan segan-segan untuk memberontak. Dan menendang pria itu. Jika saja Hinata bisa tidak terbuai oleh aroma citrus yang memabukkan. Hinata menggelengkan kepalanya keras, mencoba menyakinkan dirinya bahwa dia bisa.
Dengan pasrah, Hinata melangkahkan kakinya lemas ke sekolah dan mencoba melupakan semuanya.
Langit sekarang mengeluarkan cahaya cerah dan hangatnya, menggantikan awan yang sempat menghalangi sang matahari. Lonceng pelajaran pertama telah di mulai. Hinata hanya dapat menundukkan dirinya di tempat duduknya yang berada di pojok paling belakang. Semua anak-anak di kelas tengah sibuk berkumpul pada kelompoknya masing-masing dan segera menuju keruang tempat berganti untuk jam olah raga.
Hinata menghela nafasnya, mencoba untuk tersenyum dan melupakan kejadian yang baru saja dia lalui. Sekarang Hinata mencoba bertekat untuk menemukan teman baru di kelas barunya ini. Ya, baru 3 hari yang lalu Hinata menepati kelas ini setelah ujian kenaikkan kelas selesai. Tapi tak ada satu orangpun yang Hinata kenal, mungkin ada salah satu dari mereka yang dulu pernah sekelas dengannya, hanya saja baik itu di kelasnya yang dulu, Hinata sama sekali tidak mempunyai teman dekat.
Dan Hinata berharap mendapatkan teman, di kelas barunya dan tahun terakhirnya untuk bersekolah di sini.
Murid-murid telah rapi mengisi di setiap barisan, yang ada di ruang Olah raga, Menunggu sang guru datang. Dari pendengaran yang Hinata dengar, bahwa ada guru olah raga yang baru. Guru pengganti sementara, menggantikan Guy-sensei yang saat ini sedang mengalami cedera karena terlalu melatih diri dengan cara yang aneh dan ekstrim. Dan kini mereka menantikan kedatangan guru barunya, berharap sang guru baru tidak memerintahkan berolah raga yang berlebihan dan aneh-aneh seperti guru mereka sebelumnya.
Tak lama kemudian, pintu masuk penghubung ruangan Olah raga terbuka. Semua kepala yang ada di ruangan itu menoleh ke arah pintu. Derap langkah mulai menggema di ruangan yang saat ini hening, menantikan sang guru baru.
Langkah itu semakin dekat dan mulai menampilkan sosok laki-laki dengan rambut pirangnya. Tubuhnya tinggi dan tegap, dengan otot yang tercetak jelas dari baju olah raganya.
Ruangan yang tadinya hening, seketika berubah menjadi ribut dan gaduh. Teriakan-teriakan yang kebanyakan dari wanita itu menggema di seluruh ruangan. Berbeda dengan seorang gadis berambut Indigo yang saat ini, menampilkan wajah cengonya. Bibirnya membuka, dan matanya terbelalak tak percaya.
Tepat di depan para murid, pria yang kini resmi sebagai guru baru olah raga itu mulai memperkenalkan dirinya.
"Selamat pagi. Perkenalkan nama saya Uzumaki Naruto. Saya di sini sebagai guru olah raga untuk beberapa bulan kedepan." Pria yang ternyata bernama Uzumaki Naruto itu membungkukkan dirinya.
"Kyaaa~. Naruto-sensei~" Lagi, seketika ruang kembali ribut dengan teriakan para wanita yang ada di sana, mungkin hanya beberapa saja yang tidak berteriak, termasuk Hinata yang hanya dapat mematung, dan menatap Naruto Intens.
Naruto memandangi setiap siswa dan siswinya, dan tak segaja mata shapirenya bertemu dengan mata bulan Hinata. Seketika, Naruto menampilkan seringainya, kemudian berseru kencang. "Sekarang, ayo kita olah raga!" yang di sambut baik oleh para siswi, dan gerutuan kesal para siswa.
.
.
Pelajaran olah raga yang biasanya di benci oleh para murid perempuan, kini mereka terlihat sangat bersemangat, banyak dari mereka yang meminta bimbingan dari sang guru. Kadang kala, mereka terlihat merenggek karena tidak bisa dan mengeluarkan suara manjanya. Membuat Hinata yang sedari tadi melihatnya menjadi geli dan risih.
Satu-persatu murid mencoba mendriblle dan mengoper bola basket ke ring. Yang di sambut mudah oleh para siswa, dan keluhan manja dari para siswi.
Naruto menyebut satu-persatu nama Murid-muridnya, dan ketika giliran selanjutnya, Naruto menangkap Nama seseorang. "Hyuga Hinata!"Ucapnya kencang.
Naruto memandangi seorang gadis mungil yang melangkah pelan menuju tengah ruang olah raga. Rambut indigonya di ikat ponytail tinggi. Tangannya sudah siap memegang bola basket.
Naruto mengamati setiap gerakan yang di lakukan Hinata, ketika Hinata mulai memposisikan bolanya tepat di depan dada, bersiap untuk memasukkan bola ke ring, dan tangannya beranyun mendorong bola basket tersebut. Bola basket itu melayang dan jatuh sejauh 3 meter dari tempat Hinata berdiri, dan 4 meter dari tiang ring berada.
Hinata menundukkan kepalanya dalam, memendam rasa malunya. Para siswa dan siswi tertawa keras melihat tindakkan Hinata. Bahkan Naruto juga ikut menahan tawanya agar tidak lepas.
Padahal, dirinya sudah mencoba semaksimal mungkin. yah, dirinya memang tidak terlalu bisa dalam bidang olah raga, dan faktor lainnya mungkin ada di sampingnya, yaitu sang guru. yang membuat dirinya tidak terlalu fokus.
"Sudah-sudah!"tegur Naruto, ketika dirinya telah bisa merendamkan tawanya. Dan menyuruh para siswa dan siswi untuk diam. "Hyuga-san silahkan kembali ketempat"
.
Para siswi kini telah mengistirahatkan dirinya di samping ruangan dan menonton para siswa yang beradu main basket, yang di wasiti oleh Naruto. Tak lupa dengan suara yang cukup memeking telinga, mencoba menyemangati para pemain. Bola basket itu terus berpindah tangan dan melayang ke segala arah. Pada akhirnya bola itu keluar dari garis lapangan.
Bruk
Bola basket yang tadinya menjadi bahan rebutan, kini melayang mengenai kepala salah satu siswi yang ada di pinggir ruangan.
Gadis itu berjongkok, tangannya memegang kepalanya erat. Kepalanya menunduk dalam, hingga poninya menutup wajah cantiknya. Semua yang ada di ruangan itu kaget, ketika menyaksikan itu semua, apa lagi ketika mereka tahu bahwa bola itu mengenai kepala seorang gadis yang bernama Hyuga Hinata.
Semua orang yang ada di sana tentu saja kaget, bahkan ada beberapa siswi yang memekik kaget. Bola basket yang mengetai kepalanyapun kini berguling pelan tak jauh dari tubuh mungilnya.
Kakinya tertahan, ketika mencoba untuk melangkah menolong Hinata. Matanya mendelik tidak suka, ketika beberapa laki-laki menolongnya dan menanyai keadaannya. Rahangnya mengeras, melihat kepala Hinata yang di elus oleh laki-laki berambut coklat dengan tato segitiga di pipinya, tak hanya itu dia bahkan menggendong Hinata di punggungnya.
Seketika Naruto langsung melangkah cepat menuju tempat mereka berada. Tangannya menarik siswa itu, menghentikan langkahnya yang sudah siap untuk pergi ke UKS. Siswa itu menatap Naruto bingung.
"Biar aku yang bawa"Ucap Naruto dan langsung mengalihkan gendongannya. Di gendongnya Hinata dengan gaya bridal style.
Siswa itu hanya dapat mengangkat bahunya, dan kembali bergabung pada gerombolan teman-temannya berada.
Naruto dapat melihat dengan jelas wajah Hinata yang ada di dalam gendongannya. Setiap perjalanannya, Naruto sedari tadi hanya memandang wajah cantik Hinata. Yang kini telah kehilangan kesadarannya. Bahkan dirinya sendiri juga tidak tahu di mana letak ruangan UKS. Tak ada seorangpun yang dapat ia tanyakan, mengingat ini masih jam pelajaran. Pada akhirnya dirinya memutuskan untuk mengelilingi sekolahan besar itu, hingga dirinya menemukannya. Naruto malah berharap ruangan UKS berada jauh, agar dirinya bisa lebih lama menikmati wajah gadis yang ada di gendongannya ini.
.
"Ugh.." suara erangan itu terdengar sangat halus, yang keluar dari bibir mungil seorang gadis, yang kini berbaring di sebuah ranjang kecil. Matanya mengerjab pelan, mencoba menyesuaikan cahaya yang masuk ke penglihatanya. Tangannya dengan cepat memegang kepalanya yang terasa sakit ketika mencoba bangun dari rebahannya.
Matanya menelusuri setiap sudut yang ada di ruangan yang dia tepati. Hingga matanya menangkap seseorang dengan rambut kuning cepaknya yang saat ini tiduran di samping ranjangnya. Kepalanya tertidur di ranjang yang Hinata tepati.
Hinata mencoba bangun dari rebahannya dengan pelan, mencoba agar tidak membangunkan sosok yang sedang tidur di sampingnya.
Kreet
Hinata mematung ketika mendengar suara ranjang yang bergerak, matanya memandang sosok yang masih tiduran itu, kemudian menghela nafasnya pelan. Dan mencoba untuk turun dari ranjangnya lagi. Walau kepalanya masih terasa pusing.
"Kau sudah bangun?"
Kini tubuhnya menegang ketika mendengar suara yang tertangkap oleh telinganya. Padahal kakinya sudah menyentuh Lantai, yang artinya dirinya hanya perlu turun dan segera pergi meninggalkan tempat ini. Kepalanya menoleh dengan terpatah-patah mencoba memastikan pendengarannya.
Dilihatnya kini pria itu telah duduk dengan manis di samping ranjangnya, sedang menatap Hinata dengan pandangan err khawatir?.
Hinata hanya diam beberapa saat, tak memberikan balasan apapun. Kemudian berkata"Sa-saya mau kekelas dulu".
"Kalau begitu biarku-"Ucapan Naruto terpotong, tubuhnya menatap pintu di ruangan itu yang sedikit terbuka. "-antar" Hinata bahkan telah meninggalkannya duluan, sebelum Naruto sempat menyelsaikan tawarannya.
.
Yang harus Hinata lakukan saat ini hanyalah menghindar. Tentu saja menghindar dari tetangga mesumnya yang kini menjadi gurunya itu. Hinata berajalan tergesa-gesa, meninggalkan ruangan UKS yang berisi guru olah raga barunya itu.
Jantungnya berdegup kencang, bahkan peluhpun ikut membanjiri tubuhnya. Rasa sakit di kepalanya kini berganti di dadanya. Hinata pergi tergesa-gesa bukan tanpa alasan. Alasannya hanyalah dirinya tidak mau terjebak untuk keberapa kalinya. Tentu saja,tinggal berdua dalam satu ruangan itu tidaklah baik untuknya. Jadi yang hanya perlu dirinya lakukan adalah menghindar. Walau dirinya tidak yakin kehidupannya setelah ini tidak akan menjadi tenang.
TBC
A/n : Hallo, makasih buat yang sudah mau baca ff aku, Apa lagi bagi yang me review, fav dan follow. Hontou ni arigato. Padahal sempat ragu mempublisnya. :D . Oh, yah. Mungkin setiap chapter ada bagian kissu nya. Kayanya. :D , biar greget.
Oke saatnya balas review bagi yang gak login.
Guest (1) : Makasih~, :D . oke akan saya tambahin wordnya, tapi Cuma satu word :D .
Dark : Makasih~, Sama saya juga jadi bulshing sendiri. :D
Guest (2) : Iyaa, padahal sudah hampir setahun baru ada sekuelnya, jahat. :D . makasih~.
Guchan : hehehe, Makasih yah~. Tara akhirnya kesampaian bikin sekuelnya.
Yeye : Aku juga berharap begitu, tapii. Apa ini sudah kilat? , Makasih.
Uzumakilsana : Makasih~, sama aku juga suka yang manis. Soalnya aku gak bisa bikin mereka berdua sensara. Gak tahan~ . hehe
Yamanaka-san : Oke, makasih~.
Azu-chan Naruhina : Makasih Azu-chan~. Jadi lupa yah?, haha wajarkan sudah lumayan lama. Waktu itu padahal sudah bikin sekuelnya, tapi. Tapii, komputer ayahku di format . Huaa jadinya males deh. ini aja pake laptop temen yang baik hati mau pinjemin. :D . Dan soal Rate rencananya ada Ekhem, Lime?, gak berani atuh bikin lemon. Dan juga banyak adengan mesum Naru, jadi rate M deh jaga-jaga. :D. Maaf kalo kepanjangn. Makasih yah~.
Lulu : Oke!
Happy : Oke! Konflik tidak terlalu berat~, akan saya usahakan. Makasih yah~.
Narunata : Biar Naru mesum, tapi bikin deg degan kan? :D. Makasih ya~
Vivo : Makasih~, ini sudah lanjut~.
Sekali lagi makasih bagi yang mau revie, fav, dan foll. Saya jadi senyum-senyum sendiri nih :D .
Dah dah~
See you again~.
