Author: Jo Naya
Disclaimer: Characters belong to Auntie JK Rowling
Entahlah, mungkin menurut kalian awalannya lumayan bagus. Terimakasih banyak *bow*
Tapi aku sendiri berpendapat chapter yang ini merosot. Maaf, ya. Happy reading :D
Weker di atas meja di samping tempat tidur Hermione kali ini benar-benar tidak berhasil membuat gadis itu terbangun. Setidaknya, pada tiga puluh menit pertama. Setelah itu, Hermione mulai bisa disadarkan, ia menggapai-gapai meja berusaha mencari benda berisik itu sebelum akhirnya samar-samar mendengar seseorang menggumamkan "Bombarda!" lalu bunyi ledakan kecil dan sesuatu yang seperti pecah berkeping-keping di lantai.
Otomatis Hermione langsung terbangun gara-gara itu. Ia melompat duduk dan nyaris terguling dari tempat tidurnya dengan mata masih sulit membuka. Meski agak kabur, ia merasa tidak salah mengenali, ia mengenal pria ini sejak tahun pertama di Hogwarts, dan mereka nyaris selalu bersama-sama sampai sekarang. Ron Weasley berdiri di depan pintu kamarnya dengan posisi pintu yang masih menutup.
"Pagi, Mione!" sapanya sambil mengunyah sekeping canape, di tangannya ada setoples penuh canape yang ia ambil dari lemari makanan Hermione.
"Ron?! Sudah kubilang kau tidak boleh ber-apparate ke kamarku!" teriak Hermione serak. Setelah tidurnya yang cukup buruk pagi ini, kalimat pertama yang meluncur dari tenggorokannya yang agak sakit malah jeritan seperti itu. Ia cepat-cepat bangun meski terhuyung, menggunakan sandal rumah warna merah, lalu meraih tongkatnya yang terletak di baik bantal.
"Dan apa yang kau lakukan pada jam wekerku?!" jeritnya lagi begitu sandal rumahnya menginjak kepingan weker itu.
"Maaf. Habis itu berisik sekali dari tadi, dan aku tidak tahu cara mematikannya."
Gadis itu memutar bolamata sesaat. Buru-buru Hermione meraih kenop pintu kamarnya, membuka pintu itu lebar-lebar sampai Ron jika dijadikan lima kali lipat ukuran lebar aslinya pasti masih tersisa rongga kosong, dan mendorong —setengah menyeret— Ron untuk keluar dari kamarnya secepatnya.
"Tidak sopan memasuki kamar seorang wanita tanpa ijin, kau tahu?!" omelnya lagi, nadanya masih melengking.
"Flipendo!" teriaknya hingga Ron benar-benar mundur dari ambang pintu.
"Protego! Protego Totalum! Salvia Hexia! Muffliato! ..,"
"Mione?! Kau pikir aku Voldemort?!" protes Ron tidak terima atas mantra-mantra perlindungan yang didaraskan Hermione guna melindungi privasi kamarnya.
Ia berniat mencegah Hermione menjadi gila sepagian ini. Tapi bahkan sebelum ia berhasil menggumamkan kontra-nya dan meraih Hermione. Pintu itu sudah tertutup keras oleh seruan "Depulso!" Hermione yang ditutup dengan "Colloportus!".
Maka tertutuplah harapan Ron untuk bicara dengan gadis itu. Setidaknya, sampai Hermione sudah mencul di pintu kamar dalam keadaan lebih baik. Tapi bukan Ronald Weasley jika ia tidak mau mencobanya. Siapa tahu.
"Mione, aku ingin bicara…," kata Ron dengan setengah berteriak, tapi tetap mengusahakan agar terdengar bernada rendah.
Ia merapat pada pintu, menempelkan kupingnya di sana, meski ia tahu, tidak mungkin bisa mendengar apa-apa. Hermione sudah merapal mantra peredam suara, tadi.
Sementara Hermione, segera mencelupkan dirinya dalam bathtube mandinya yang sudah terisi air hangat dari keran dan busa. Pikirannya kembali melayang kepada tadi malam. Dan pusing itu kembali. Semalaman ia sudah nyaris tidak tidur karena memikirkan itu yang berakibat pada ia hampir saja terlambat bangun.
Ia sudah tidak sengaja melupakan janji makan malamnya dengan keluarga Weasley karena Draco. Apa yang harus dikatakannya nanti pada Ron? Ditambah ... kata-kata Draco malam itu? Semuanya jelas. Sangat jelas. Membebani pikiran Hermione. Pria itu meminta tiga puluh hari darinya. Tiga puluh hari menjadi kekasihnya. Tiga puluh hari untuk berpura-pura bahwa Draco-lah calon pengantinnya, bukannya Ron. Dan jawabannya membuat Hermione tersedak. Ia ... ia menerimanya.
Lima belas menit berikutnya. Hermione memang keluar dari kamar dengan keadaan sudah cukup rapi seperti biasanya. Ia mengenakan dress berwarna krem yang tampak ringan dan rok selutut berwarna oranye muda, selaras dengan sepatunya. Rambutnya dikuncir ke belakang, sedikit agak asal-asalan.
Ron segera bangkit dari sofa untuk menghampirinya. Padahal Hermione sendiri sudah berharap sebelum membuka pintu tadi bahwa Ron sudah pulang. Ternyata ia salah.
"Mione?"
"Ya, Ron?" Hermione pura-pura sibuk mengecek isi tas berkasnya.
"Tadi malam kenapa kau tidak datang?"
Inilah. Ini yang ingin dihindari Hermione dari tadi. Ia kehilangan fokus untuk beberapa saat, sambil mengigiti bibirnya karena tidak tahu harus berkata apa. Ketika dirasakannya Ron melangkah lebih dekat padanya, kegugupannya justru semakin menjadi-jadi. Ayolah Hermione! Lakukan sesuatu!
Ron berhenti di depan gadis itu yang tidak kunjung menjawab pertanyaannya. Ia ingin memastikan kecurigaannya. Maka Ron menjulurkan tangan untuk menyentuh kening Hermione. Ternyata benar, sedikit hangat.
"Kau sakit, Mione?"
"Aku? Eh, ya. Aku tidak apa-apa, kurasa. Hanya sedikit lelah."
"Hmm. Istirahatlah. Kau terlalu memaksakan diri. Nanti berkunjunglah ke The Burrow, kurasa Mum bisa memasakkan untukmu bubur penangkal panas."
"Ya. Tentu. Terimakasih, Ron." Hermione tersenyum sebisanya.
Draco menghembuskan napas leganya terang-terangan ketika dilihatnya Hermione melewati pintu. Ia sudah berpikiran bahwa gadis itu tidak akan datang. Pasti Granger tidak mau menemuinya lagi setelah apa yang ia ucapkan malam itu.
Tapi Hermione datang. Ia masuk ke dalam gereja yang kemarin yang sekarang menjadi tempat mereka membuat janji bertemu. Dan seingat Draco … malam itu Granger mengangguk untuknya. Ya, ia nyaris tidak tidur semalaman demi memikirkan itu.
"Maaf terlambat," gumam Hermione pelan sambil mengambil posisi duduk di sebelah Draco, di deretan bangku panjang yang paling belakang.
"Ah? Oh. Yah. Tidak apa."
Ada kecanggungan yang kentara setelah itu. Akhirnya Dracolah yang mengambil inisiatif untuk buka mulut meski ucapannya agak tidak jelas. Ia menunjukkan pada Hermione sebuah gulungan perkamen.
"Ini contoh undangannya. Kupikir kau akan menyukai konsep ini. Ditulis di atas perkamen dengan pena bulu. Akan lebih menarik jika diantarkan ke setiap undangan oleh burung hantu. Tapi … sepertinya itu agak berlebihan jika dilakukan di dunia Muggle seperti ini."
Hermione agak tercengang dengan undangan itu. Perkamen sungguhan, dengan tulisan tangan asli yang ditulis dengan tinta. Hermione mengamati tulisan tangan itu. Ini … tulisan tangan Malfoy. Tulisannya rapi, indah, sangat mengesankan kebangsawanan. Disitu tertulis namanya dengan tulisan berukir, Hermione Granger, seperti kaligrafi. Lalu di sampingnya … tidak ada nama Ron Weasley. Perkamen itu kosong, tidak menunjukkan Hermione akan menikah dengan siapapun.
"Malfoy, ini …,"
"Ah itu. Kupikir … siapa tahu dalam waktu tiga puluh hari ini kau berubah pikiran untuk menikah dengan Weasel rambut merah itu."
Mata Hermione membesar seketika. Tubuhnya menegang. Apa maksud Malfoy?
"Bercanda, Granger. Jangan menatapku seolah kau akan memberiku kutukan Cruciatus begitu," balas Draco dengan nada bercanda sambil mengibaskan sebelah tangannya.
"Tapi, Granger," ujarnya lagi sambil meluruskan kakinya. "Dalam waktu tiga puluh hari ini, aku akan merubah pikiranmu, tentangku."
Mereka terlihat ... normal. Seperti pasangan Muggle normal lainnya yang malam itu juga berjalan-jalan di kawasan ... sambil menikmati malam. Beberapa gadis Muggle yang berjalan berombongan berbisik-bisik lalu cekikikan sambil mencuri pandang ke arah mereka, ke arah Malfoy lebih banyak. Hermione mendengus pelan. Oh, rupanya si Pirang Uban ini telah berubah menjadi idola gadis Muggle.
Draco tidak perlu menguasai Legilimens bahkan untuk mengetahui kekesalan gadis itu. Ia tersenyum antara jahil dan sombong pada Hermione.
"Jangan cemburu, Granger," godanya sambil mengeratkan genggamannya pada jari-jari Hermione.
Mereka lalu membeli es krim dan duduk di bangku taman sambil mengobrolkan tambahan untuk dekorasi gedung, dekorasi undangan dan siapa saja yang perlu di undang serta makanan apa yang akan disediakan nantinya. Mereka membicarakannya terlalu bersemangat, kadang bertengkar karena Draco menolak usulan Hermione yang menurutnya konyol. Sementara Hermione tidak habis pikir kenapa pria itu ngotot seolah ini akan menjadi pernikahannya sendiri. Pura-pura. Yah, Draco pernah memintanya untuk pura-pura bahwa mereka akan menikah tiga puuh hari lagi, kan? Jadi ia akhirnya menyerah ketika Draaco memasukkan hal-hal yang ia sukai ke dalam konsep pernikahan Hermione. Gadis itu nyaris tidak menyadari darimana datangnya, tapi ia seperti melihat seorang yang ia kenal di antara banyaknya orang yang berlalu lalang di sekitarnya. Orang itu memakai pakaian yang aneh yang terlalu nyentrik jika dipakai oleh seorang Muggle biasa. Ia memakai jubah hitam panjang dan topi kerucut. Tubuhnya tinggi jangkung, dan wajahnya terlalu familier untuk seseorang yang sekedar kenal. Lebih dari itu. Dia temannya. Neville Longbottom.
Namun ketika Hermione berusaha mengejarnya, Neville sudah menghilang.
Hari kesekian. Entah Hermione sadari atau tidak apa yang sedang ia lakukan/. Ketika pagi itu, ia sengaja bangun lebih awal, mandi lebih awal, dan pergi lebih awal. Satu jam di muka. Sehingga ketika Ron mencapai perapian rumahnya, ia sduah tidak ada.
Sambil terus berjalan cepat dengan hak sepatunya yang membuat kakinya nyeri, Hermione meringis. Apa ... yang sedang ia kerjakan? Meninggalkan Ron. Atau tepatnya, tidak ingin bertemu Ron untuk hari ini. Ini perasaan yang aneh dan tidaklah biasa. Ia tidak bisa mengatasi ini. Ia tidak tahu bagaimana, kenapa ... kenapa kakinya seperti diprogram untuk pergi ke sana?
Beruntung ia segera menemukan taksi karena kalau tidak, kakinya sudah lecet lebih parah. Ia turun di depan gereja yang sama dengan yang beberapa kali hari kemarin-kemarin ia datangi. Di pagi hari berkabut, gereja itu tampak lebih dingin dan besar daripada yang Hermione ingat. Namun, ketika ia memasuki dalamnya, rasanya jauh lebih hangat dan nyaman.
Draco seharusnya tiba satu setengah jam lagi seperti yang mereka janjikan. Jadi ia duduk di sana, di deretan kursi paling depan. Menangis. Ya, menangis. Ia merasa tidak tahu apa yang harus ia lakukan.
"Kau berencana menjadi gelandangan, Granger?"
Hermione terbangun dan menemukan Draco telah menyeringai di sampingnya. Ah, sejak kapan ia tertidur? Dengan cepat mata cokelatnya berkeliling ruangan. Rasanya tidak sedingin tadi karena sekarang cahaya matahari menembus lubang-lubang jendela dan ukiran kecil, mencetak relief yang serupa di seberang ruangan. Mataharinya cukup hangat dan agak tinggi. Jam berapa sekarang?! Hermione buru-buru memeriksa arloji Mugglenya.
"Jangan panik begitu, Granger. Kau seperti peri rumah yang lupa menyiapkan sarapan untuk tuannya. Kau harus membenturkan kepalamu ke dinding."
"Oh, diamlah, Malfoy!" Hermione mengambil tissue basah dari tasnya untuk mengelap matanya. "Kau tahu? Kami telah membentuk Badan Perlindungan Peri Rumah, kau tidak akan bisa menyuruhnya menyakiti diri sendiri lagi. Keterlaluan!"
"Oh, mulia sekali," cibir Draco.
Ia lalu tersenyum bahagia melihat ekspresi kesal di wajah Hermione. Seperti ia adaah Dementor yang hidup dengan mengisap kebahagiaan dari orang lain. Draco melambaikan tangannya lalu mengeluarkan sebuah dokumen.
"Urusan kita hampir beres," gumamnya, mendadak serius.
"Masalah undangan, kau sudah setuju kan dengan temanya? Jadi aku bisa memesannya mulai sekarang. Gaun dan tuksedo pengantinmu sedang dijahit. Dekorasi gedung ... hanya perlu pengecekan ulang dua hari sebelum pesta dimulai. Gereja sudah dipesan dan mati saja jika ada orang lain yang memakainya," Hermione melotot, tapi Draco meneruskan tidak peduli. "Dekorasinya hanya bisa dilakukan dua hari sebelum pemberkatan. Dan chatering... juga sudah, nanti dua hari sebelum hari itu akan dicek lagi. Photograper sudah. Mobil jemputan sudah siap. Petugas kebersihan ... juga sudah," Draco bicara sambil terus mencoret-coret di dokumennya.
"Yah, kurasa semuanya sudah. Bagaimana? Apa ada yang kelewatan?"
"Kurasa tidak," Hermione berpikir.
"Kau sudah memutuskan bulan madumu? Yeah, kupikir itu juga bisa jadi tugasku."
"Tidak, aku belum memikirkannya."
Ada sedikit raut terkejut di wajah Draco, sesaat, sebelum Hermione berhasil menerjemahkannya.
"Baiklah," Draco mengengguk, menyimpan kembali berkas-berkasnya. "Jadi mulai besok kita tidak perlu bertemu lagi. Dua hari sebelum pernikahan aku akan menghubungimu. Seharusnya begitu."
Hermione menoleh cepat tepat ke mata Draco. Rasanya seperti ... mendadak tersiram air es. Tidak nyaman. Tapi kenapa harus tidak nyaman?
"Tidak bertemu?"
"Yeah. Seharusnya begitu. Kubilang seharusnya."
Hermione mengernyit, tidak mengerti.
"Granger, kau tahu? Kurasa sekarang saatnya aku harus memberitahumu salah satu rahasiaku."
Lamborghini Cala berwarna hitam dengan sedikit aksen perak itu berhenti anggun di pinggir jalan. Hermione menoleh kebingungan menatap pohon besar tempat mereka berhenti, lalu berpindah ke seberang, melintasi halaman luas dengan rumput dan bunga-bunga terpotong rapi. Adalah sebuah pusat rehabilitasi kejiwaan. Yah, kasarnya rumah sakit jiwa. Tatapannya kembali kepada Draco dengan sangat kebingungan.
"A-apa maksudmu dengan hal yang ingin kau tunjukkan? Kau menjadi kepala yayasan atau apa? Itu terdengar tidak masuk akal!"
Draco tertawa, menyeringai tepatnya.
"Yah. Aku? Kepala yayasan? Tentu saja tidak mungkin. Kau gila, ya, memikirkan itu?"
"Lalu?" Alis Hermione nyaris bertaut sekarang.
Tapi sebelum ia bersuara berisik lebih lanjut, Draco telah beranjak dari tempat duduknya di belakang kemudi, memutar ke samping dan membuka pintu mobil Hermione. Tidak begitu sopan sebenarnya. Buru-buru ia menarik lengan gadis itu agar berdiri bersamanya.
"Ikut aku!"
Dan mereka berjalan melintasi halaman dengan rerumputan seperti lapangan bola mini itu melalui sebuah jalanan kecil berbatu-batu. Hermione mulai menghitung berapa jenis bunga-bunga cantik berbagai warna yang di tanam di sana saat seorang wanita gemuk setengah baya telah berdiri di depan mereka. Wanita itu tersenyum padanya, senyumnya mengingatkan pada Madam Pomfrey.
"Kupikir kau sudah lupa untuk berkunjung, Draco," ujarnya dengan nada akrab sambil mengerling Hermione. "Gadismu sangat cantik," gumamnya.
Seketika Hermione tersipu. Ia tidak tahu harus mengatakan apa sehingga hanya bergumam tidak jelas sambil memperhatikan ujung sepatunya. Sementara tangannya, mencengkeram lebih erat lengan Draco. Pria itu hanya tersenyum pada wanita itu saat Hermione mencuri tatap. Sama sekali tidak ada pembantahan soal 'gadismu' tadi.
"Ini Hermione Granger, dan ini Madam Noura, dia kepala petugas di sini.," Draco memperkenalkan.
"Senang mengenalmu, Nona Granger," ujar wanita itu lebih ramah lagi. Hermione mulai bertanya, bisakah wanita itu berhenti tersenyum? Itu seperti hobi baginya.
"Bagaimana keadaan Ibuku?" tanya Draco.
Selama sepersekian detik, Hermione tidak menyadari kalimat itu sampai akhirnya ia tiba-tiba mendongak pada Draco dengan mata terbelalak. Apa katanya? Ibunya? Hermione ingat desas-desus selama ini yang menyatakan bahwa Ibunya pindah ke Bulgaria, sumber lain menyatakan ia meninggal, dan ada lagi yang mengatakan bahwa Narcissa gila. Tapi tidak ada bukti dari semua itu. Departemen Hubungan Sihir Internasional tidak pernah mengetahui kepindahannya jika memang ia berencana menetap di luar negri. Jelas tidak ada data jika ia memang meninggal, bahkan tidak ada jejak dan kuburannya. Lalu, St Mungo juga pernah menyatakan dengan jelas di Daily Prophet bahwa tidak ada pasien bernama Narcissa Malfoy di sana. Dia menghilang. Mereka menghilang. Tapi mengingat Draco yang sekarang berada di dunia Muggle, dan tempat yang mereka kunjungi sekarang, Hermione mulai bisa menebak dimana wanita itu sekarang berada.
"Lebih baik daripada yang sudah-sudah," jawab wanita itu ceria. "Setidaknya, ia tidak lagi membanting nampannya saat disuapi. Dan ia juga tidak meracau lagi tengah malam. Kau bisa melihatnya sekarang, kurasa ia sangat merindukanmu, Nak."
Sambil berkata begitu, Madam Noura berbalik, berjalan memimpin ke dalam. Suasana di dalam yang bisa Hermione rasakan adalah, putih, bersih, dan agak lembab. Akan jadi tidak menyeramkan seandainya ia tidak bisa mendengar suara orang berteriak-teriak, entah itu teriak frustasi atau kelewat bahagia yang tidak normal. Mereka berjalan terus, sampai akhirnya di lorong yang cukup sepi. Dari kaca-kaca kecil di pintu, Hermione mengintip sekilas pasien-pasien yang tampak lebih sakit jiwa daripada orang-orang setengah waras yang ia temui berkeliara bebas di luar tadi. Mereka yang di dalam sini terpisah sendiri-sendiri, tampak frustasi, bahkan ada yang berteriak mengerikan tadi dan mencoba memotong tangannya snediri, bergelut dengan Suster yang mati-matian berusaha mencegahnya.
"Nah, kita sampai," ujar Madam Noura.
Hermione melihat pintu itu, bertuliskan angka 107 dan letaknya hampir di ujung.
Madam Noura membuka pintunya pelan dan berjalan lebih dulu ke dalam. Di situlah ia, wanita yang dulunya Hermione ingat dengan tatapan seolah-olah ada kotoran di bawah hidungnya, dengan rambut pirang dan hitam yang selalu digelung rapi. Ia hampir tidak bisa mengenali Narcissa sekarang, kecuali figur wajahnya yang kurus dan semakin kurus, juga matanya dan beberapa hal lain yang tidak bisa dijelaskan yang mengingatkannya pada Draco Malfoy.
Narcissa duduk diam di atas ranjangnya, menatap dinding, menyamping dari Hermione dan Draco. Rambut wanita itu sepertinya dipotong lebih pendek sampai sebahu dan digelung longgar, agak acak-acakan. Ada beberapa kumpulan helai rambut yang menutupi mata dan pipinya. Tatapannya kosong. Dan Hermione menemukan, tatapan itu baru sedikit bermakna ketika Draco memanggilnya 'Mum'. Pria itu mendekat sambil masih mencengkeram jemari Hermione, membawanya ke wanita itu.
"Hei, Mum," gumamnya sambil tersenyum, seolah bertemu teman lama yang sudah sangat ia rindukan.
Ia merapikan rambut Narcissa, menyelipkan sisa rambut yang menempel di wajah wanita itu ke belakang telinganya. Ia lalu menarik Hermione agar mendekat dan gadis itu menurut, meski sempat ragu-ragu. Narcissa hanya menatapnya sekilas, tidak peduli. Tidak ada lagi Narcissa yang menatap keturunan Muggle seperti menatap sampah busuk.
"Mum, ini Hermione, kau masih ingat? Yang sering kuceritakan...,"
Untuk sesaat Hermione mengerjap. Apa memangnya yang Draco ceritakan tentang dirinya? Sesering apa? Dan ... apakah jika tidakk sedang berhadapan ... ia terbiasa memanggilnya Hermione? Karena ia tampak mudah melakukannya; memanggil Granger dengan nama depan.
"Mum, kau ingin aku bahagia, kan? Tentu. Jadi kuharap kau merestui kami. Hermione dan aku akan menikah tidak lama lagi."
Draco tersenyum pada ibunya dan mengedip sambil menyeringai jahil pada Hermione, yang saat itu matanya sudah melotot horor.
Pukul sepuluh lewat sedikit, Draco mengantarkan Hermione dengan Lamborgini-nya hingga ke halaman rumah gadis itu. Hermione merengut sepanjang perjalananan begitu Draco menyombongkan mobil barunya itu.
"Nyaman, kan? Aku membelinya dengan penghasilanku sendiri, bukan ayahku lagi." Hidungnya mengembang karena terlalu bangganya. "Bertaruh saja, Weasley pasti tidak akan mampu membeli yang seperti ini meski ia dan seluruh keluarganya yang tidak terhitung itu bekerja seumur hidup tanpa makan."
Hermione mendengus. Mulai lagi, deh. Kapan memang si pirang menyebalkan ini bisa berhenti meremehkan orang lain? Ia telah berharap terlalu banyak ketika melihat Malfoy yang agak manis di rumah sakit siang tadi.
"Ron tidak membutuhkannya, Malfoy!" balasnya geram.
"Oke, jadi pura-pura tidak butuh karena tidak mampu?"
Hermione cepat menoleh menatap Draco di kursi belakang kemudi di sisinya. Pria itu menyeringai menang. Seringainya tidak banyak berubah.
"Malfoy—"
"Bahkan aku selalu lebih darinya, tapi kenapa kau memilihnya?"
"Uh? Eh? Apa?" Hermione nyaris tersedak, jika saja ia sedang mengunyah sesuatu.
"Aku lebih kaya, tampan, pintar, dari kalangan terhormat," Hermione memutar bolamata mendengar kata terhormat, "tapi kenapa kau memilih menikah dengannya?"
Kali ini nada pertanyaan retoris Draco lebih mirip protes daripada sekedar pertanyaan. Hermione membuka mulut untuk menjawab, tapi selama beberapa saat, tidak ada suara yang keluar. Ia menjadi memikirkannya. Alasan kenapa ia menerima lamaran Ron.
Ia dan Ron bersahabat akrab sejak kelas satu bersama Harry. Mereka banyak melalui berbagai petualangan yang nyaris merenggut nyawa bersama-sama. Ia ... terbiasa dengan pria itu. Terbiasa dengan adanya Ron. Adanya Harry. Bahkan, terbiasa dengan kedatangan Malfoy yang biasanya hanya untuk mengejek. Jadi ketika beberapa bulan lalu Ron dengan konyolnya menggunakan kembang api Filibuster yang disihir dilangit untuk membentuk ucapan lamaran, Hermione tidak berpikir banyak untuk langsung menerimanya.
"Karena... karena dia melamarku."
"Hanya itu?!" Draco setengah tidak percaya. "Siapa saja yang melamarmu memangnya akan kau terima? Meski itu Snape, atau Hagrid? Atau ... aku?"
Nada suaranya merendah di kalimat terakhir. Hermione menyadari pria itu mendadak menghindari tatapannya, mendadak menganggap pedal gas mobilnya adalah sesuatu yang sangat menarik. Ketika ia mendongak untuk menatap Hermione lagi, Hermione merasakan tatap putus asa yang memerangkapnya.
"Granger. Kau tahu? Inilah rahasiaku." Ia mengepalkan buku jarinya di samping tubuh, suaranya tidak seperti Malfoy yang sombong, terlalu berbeda. Ia berbicara seperti orang yang tidka memiliki apa-apa lagi di dunia untuk menjadi alasan bertahan hidup.
"Dari dulu aku selalu berusaha menarik perhatianmu dengan menonjolkan diriku, membangga-banggakan dan mengumbarnya. Aku belajar keras di bawah tekanan ayahmu untuk menyaingi nilaimu, agar kau tertarik padaku, tapi kau tahu sendiri aku gagal. Pada kenyataannya, aku tidak bisa memuja buku sepertimu. Jadi aku menggunakan cara itu. Yah, mengolok-olok kau dan teman-temanmu, mengikuti kalian—mengikutimu— hampir di setiap tempat dan mencari kesempatan untuk membuat kalian marah. Aku tahu cara itu salah, tapi hanya itu yang bisa kulakukan. Agar kau melihatku, agar kau menyadari kehadiranku. Karena aku tidak hebat sama sekali, aku tidak memiliki bekas luka yang membuatku terkenal sejak bayi seperti Harry, aku bukan seeker terbaik timnas seperti Krum. Aku hanya ... anak manja dari seorang Pelahap Maut. Apa memangnya dari diriku yang bisa dibanggakan di depanmu?"
Hermione terbelalak dengan pengakuan itu. Tidak pernah ... tidak pernah terpikir olehnya seorang Draco akan pernah merasa menjadi bukan siapa-siapa, tidak pernah Draco menganggap dirinya bukan apa-apa dibanding Hermione. Tidak pernah ... Hermione yakin ia tidak pernah melihat Draco seputus asa ini.
"Kupikir aku sudah melakukan semua yang kubisa. Agar kau ... yah, melihatku, terpesona olehku seperti Pansy dan gadis-gadis kau tidak. Kenapa?" tanyanya serak.
Tatapan iris abu-abu kebiruan itu masih memerangkapnya. Membuat Hermione nyaris tidak bisa memikirkan hal lain selain ingin memeluknya. Ingin menenangkan pria ini dan meyakinkankannya bahwa ... ia ... saat ini tidak lagi keberatan untuk mengakui pesona Malfoy.
Yah, ia hampir mengatakannya jika saja logika tidak menahannya. Ia hanya diam. Mereka diam dalam keheningan yang mengerikan.
Sampai akhirnya ketika Hermione hampir berhasil meraih pintu mobil untuk mengeluarkan dirinya sendiri, Draco kembali memanggilnya, dengan nama depannya.
"Hermione, bisakah... bisakah kita masih bertemu? Meskipun tidak ada kontrak pekerjaan lagi? Bisakah kau menemuiku dan kita bisa hanya sekedar jalan-jalan? Menghabiskan waktu tiga puluh hari yang tersisa?"
"Draco," Hermione mendadak merasa ia kesulitan bernapas. "Tunggu aku besok di gereja, seperti biasa, oke?" Ia tersenyum.
Ia akan meraih pintu mobil lagi, namun membatalkannya sendiri. Kembali menatap Draco yang menatapnya dengan tatapan yang tidak pernah ia lihat sebelumnya ari seorang laki-laki untuknya. Membuatnya merasa ... berharga.
"Tiga puluh hari ini ... kau adalah pacarku, kan? Kalau begitu selamat malam."
Selesai kalimat itu, ia mencondongkan tubuhnya, mengecup salah satu pipi Draco. Namun Draco yang membaca gerakannya memutar kepalanya sedikit sehingga bisa mempertemukan bibirnya dengan bibir kecil dan merah muda itu. Rasanya luar biasa manis, sekaligus memabukkan. Tidak cukup sampai di situ, ia sudah menangkup pipi Hermione sehingga gadis itu tidak bisa melepaskannya.
Anehnya —ia menyeringai— ia tidak bisa merasakan perlawanan apapun. Hermione sama menikmatinya dengan yang ia lakukan. Ketika mulut mereka beradu. Ketika lidahnya menyusup ke rongga gadis itu. Bahkan ketika ciuman itu semakin lebar dan berbahaya ketika Draco mulai kehabisan napas dan lebih memilih menghisap lehernya yang jenjang. Sebelum akhirnya, kembali ke mulut. Beberapa kali.
"Mione?"
"Ya?"
Hermione menjawab Ron tanpa berminat pengalihkan pandangannya dari tumpukan kertas-kertas di atas meja kerjanya. Kali ini pekerjaan Mugglenya sebagai pengacara dengan yang menyita banyak waktu dan perhatian Hermione.
"Kau lelah."
"Aku tidak, Ron. Aku masih bisa menangani semuanya," kata Hermione, mengerling Ron sesaat, lalu kembali menekuni layar komputer dan berkas-berkas di depannya.
"Tapi...," Ron masih tampak belum puas. "Sore ini, apa yang harus kau lakukan?"
Hermione tampak berpikir sebentar, tapi tidak beranjak dari layar komputernya.
"Aku harus bertemu dengan Wedding Planner kita, membahas undangan."
"Bagus. Aku bisa mengantarmu."
Satu kata salah ketik di layar. Hermione tampak seperti tersedak, dan ia menoleh kepada Ron secara mendadak, keningnya berkerut seperti tidak percaya dengan pendengarannya. Seakan mengerti raut bingung di wajah Hermione, Ron segera menambahkan.
"Kau tahu Ayah, baru beberapa hari lalu dia membeli mobil Muggle lagi. Tenang saja, itu belum disihir, Mum keburu memergoki dan memarahinya. Dan kupikir aku bisa mengendarainya di jalanan Muggle. Dan aku akan khusus membolos dari pekerjaanku sekali ini untukmu. Jadi kita bisa bersama-sama membahas tentang konsep pernikahan kita itu."
Ron memaparkan dengan wajah berseri-seri. Merupakan hal jarang ia bisa mengajak Hermione berkencan di tengah kesibukan mereka yang selalu berbenturan. Namun sepertinya ia luput memperhatikan ekpresi Hermione yang untuk beberapa detik pertama tampak terperangah dan bukannya senang atau bersemu merah. Tidak. Tentu saja Ron tidak boleh mengantarnya dan bertemu Wedding Planner itu. Tidak karena orang yang akan dia temui adalah Draco Malfoy. Musuh abadinya. Dan apa kata Ron jika dia tahu selama ini Hermione sudah berkali-kali bertemu Draco dan tidak memberitahunya?
"Ah! Aku lupa, Ron! Wedding Plannernya ... putrinya sakit. Dia sudah tua dan putrinya perlu di bawa ke Rumah Sakit. Jadi kurasa pertemuannya batal."
"Benarkah?" Ron mengangkat satu alis. "Kalau begitu lebih bagus lagi. Kita bisa mengunjungi Honeydukes. Sudah lama sekali, kan kita tidak ke sana bersama-sama? Kuharap aku bisa mengajak Harry juga. Kita bisa reuni!" ucapnya bersemangat.
Hermione pucat.
"Dia ... akan datang, kan?" bisiknya pada diri sendiri, atau pada pohon maple di depannya.
Tapi ia sendiri tidak bisa meyakini ucapannya itu. Hermione sudah terlambat dua jam dari perjanjian mereka. Tanpa kabar. Yah, memangnya apa yang ia harapkan? Mengirim burung hantu? Hermione maupun ia sendiri sama-sama tidak memberitahu nomer ponsel masing-masing. Kecuali nomer telpon kantornya. Dan Draco sudah memastikan gadis itu tidak menghubunginya lewat telpon kantor.
Mungkin ... Hermione melupakan janjinya? Mungkin ... ia sedang sibuk dengan si miskin Weasley itu? Ah, yeah. Mudblood dan Weasel, pasangan yang serasi. Tapi Draco sendiri bahkan sekarang sudah terbiasa bergaul dengan Muggle yang selalu ia anggap kotor itu, mereka menjadi bagian kehidupannya, bahkan, faktor kenapa ia masih bisa bertahan hidup saat ini. Ia tidak akan sanggup jika saat ini ia masih berada di dunia penyihir, semua penyihir akan mencemooh ia dan keluarganya. Dan entah bagaimana ... saat membayangkan si Mudblood dan Weasel yang serasi tadi, darahnya berdesir. Ada nyeri yang aneh yang merambati ulu hatinya.
Ia juga sudah mengumpat-umpat dan bertekad akan pergi. Namun entah kenapa, yang ada justru ia tinggal dan terus mencoba mengulur waktu. Menunggui gadis itu lebih lama.
Tiga gelas butterbeer dengan masing-masing berisi setengah, hampir habis, dan belum terminum sama sekali bersusun di satu meja paling pojok. Di bangkunya, Harry memperlihatkan wajah bahagianya ketika Ron terus bertanya bagaimana rasanya akan menjadi seorang ayah. Hermione diam saja. Ia bahkan nyaris tidak memperhatikan apa yang kedua orang itu bicarakan. Pikirannya melayang jauh. Pada suatu tempat di London, tempat yang ia rencanakan untuk bertemu dengan Draco. Ya, seharusnya saat ini ia sudah bersama dengan Draco, pergi ke taman bermain Muggle sambil membahas konsep undangan lebih detil.
Ia tidak bisa tenang memikirkan pria itu? Apa pendapat Draco tentangnya yang melanggar janji? Ia bisa membayangkan wajah pucat itu memerah marah padanya dan memanggilnya 'mudblood' lagi, panggilan yang paling menghinakan. Tapi diluar itu, ia sadar ada hal lain yang lebih tidak ia inginkan daripada dipanggil Darah-Lumpur. Ia tidak ingin ... pria itu kecewa. Tidak ingin Draco kecewa. Dan ia bergumul dengan pikirannya, merasa bersalah ketika harus merasa seperti itu pada Draco. Kesalahan fatalnya, ia memikirkan pria lain saat sedang bersama calon suaminya.
"... Iya, kan, Hermione?" Ron menoleh padanya, masih dengan tersenyum dan seperti meminta dukungan.
Hermione mengerjap cepat. Seolah dengan mengerjap ide-ide tentang apa-apa yang tidak ia dengar bisa otomatis kembali memenuhi kepalanya. Ia tidak mendnegarkan sama sekali Ron tadi bicara apa.
"Ah. Ya. Benar," gumamnya bergantian pada Ron dan Harry. Bibirnya melengkung sambil mengatur wajah agar terlihat senatural mungkin. Ia mengisap butterbeernya yang belum tersentuh sebagai pengalihan tatap aneh dari Harry.
"Wah, jadi kalian sudah merencanakan akan memiliki anak sebanyak itu?" Harry, antara keheranan dan nyengir geli.
"Apa?!" Hermione tersedak. Ia tidak pernah tahu soal pembicaraan anak. Dan ia tidak pernah memikirkannya.
"Ah, ya. Tidak sebanyak itu," ucapnya cepat-cepat. Lalu mengamati noda tumpahan butterbeer di jubahnya dengan panik. Ia mengambil tissue dari tasnya untuk mengusa-usap noda basah itu.
"Scougify!" gumam Harry sambil melambaikan tongkatnya, mmebuat jubah Hermione bersih seketika bahkan sebelum gadis itu menyadari bahwa ia seharusnya menggunakan sihir.
Harry, terutama Ron yang sekarang mulutnya membuka, tidak bisa untuk tidak lebih heran lagi melihat Hermione, murid terpintar yang pernah mereka kenal, bisa melupakan mantra semudah itu.
"Kau kenapa, Hermione? Apa sesuatu mengganggumu?" tanya Harry tajam.
"Oh?" Hermione berdeham pelan. "Tidak, aku tidak apa-apa."
Hermione tersenyum wajar, namun Harry, yang tetap saja merasa aneh dengan perilaku sahabatnya itu tetap mengernyitkan alis. Ia terus menatap Hermione hampir tanpa kedip, membuat gadis itu salah tingkah.
"Kau tahu? Aku baru saja bertemu Professor Hogwarts kita, Neville Longbottom. Ia bercerita bahwa beberapa waktu lalu ia pergi ke dunia Muggle untuk mencari dan meneliti obat-obat yang Muggle gunakan. Dan coba tebak siapa yang ia lihat?"
Deg. Hermione mendadak merasa hatinya terkena kutukan pembesar hingga membengkak memenuhi rongga dadanya. Harry menggantung kalimatnya, dan itu memungkinkan Hermione mendengar detak jantungnya sendiri yang menjadi begitu kencang. Ia berharap ia menguasai mantra yang bisa menenggelamkanmu dalam perut bumi sekarang. Neville? Bukankah ia kemarin melihat Neville? Dan apakah Neville juga melihatnya?
"Draco Malfoy," kata Harry merendahkan suaranya.
"MALFOY?!" Ron terbelalak. Ia hampir saja melompat dari kursinya.
"Tapi untuk apa dia di dunia Muggle? Bukankah desas-desus selama ini bahwa ia dan ibunya menghilang ke Bulgaria? Neville pasti salah. Kau tahu ingatannya payah sekali, kan?"
"Yeah," gumam Harry tak yakin. Sementara itu, entakan di dada Hermione agak sedikit mereda, Neville tidak melihatnya!
"Tapi bisa jadi, kan?" kata Harry lagi. "Menurutmu bagaimana, Hermione?"
Sekali lagi, Harry menatap tajam Hermione. Sejenak gadis itu merasa seolah Harry sedang mencurigainya. Tapi kemudian ia cepat-cepat menambahkan.
"Kau bercanda, Harry? Malfoy bisa terkena bisulan jika dekat-dekat dengan keturunan Muggle."
Meski pikirannya terus berpikir tidak, meski logikanya terus menasehati bahwa seorang Draco Malfoy yang angkuh, tidak akan pernah mau menyia-nyiakan hidupnya untuk menunggu seseorang, terlebih lagi itu seorang keturunan Muggle, Hermione melangkah ke tempat itu, menuruti hatinya. Terlambat setidaknya tiga jam dari waktu pertemuan yang dijanjikannya.
Memangnya apa yang kau pikir akan kau dapati di sana? Bisik batin Hermione. Draco yang menunggumu sambil tersenyum seperti pengantin di altar? Hermione menggeleng keras. Apa yang ia pikirkan, sih? Hanya akan ada bangku yang dingin. Ya, hanya akan ada itu.
Ia terus berjalan sambil menunduk, merapatkan mantelnya untuk mengatasi dingin yang menusuk meski ia yakin sudah memakai jaket berlapis. Ini sudah memasuki Desember, ia mengira tadi akan turun salju malam ini. Ingin rasanya ia memakai mantra untuk menghangatkan tubuh saat ini, tapi terlalu banyak Muggle saat ini, membuatnya kesulitan mengeluarkan tongkat tanpa mendapat perhatian. Jadi ia berjalan cepat menembus malam yang sepertinya agak berkabut. Entahlah. Ia masih berada di jalanan ramai di dekat pusat perbelanjaan meski itu sudah cukup larut malam. Keadaan mulai sunyi ketika ia membelok ke arah gereja tempat dimana ia berjanji akan bertemu Draco. Jalanan aspal lembab dan tampak lebih hitam mengilat daripada biasanya. Pohon maple besar yang sudah mengalami kerontokan hebat di depan gereja tampak kaku, tampak mati.
Dan hermione melongo ketika melihat seseorang yang duduk di bawahnya. Tidak mungkin, bisiknya. Tapi ia terus mendekat dan semakin diyakinkan dari perawakan tampang sampingnya bahwa itu memang Draco Malfoy. Menggigil kedinginan di sana.
"Malfoy?" Ia berlari mendekat.
"Calidio![1]" gumamnya cukup keras, seketika tampak seperti cahaya kemerahan menyelimuti Draco sesaat. Kemudian pria itu berhenti menggigil dan menatap Hermione tajam.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanyanya keras dengan gigi mengatup, entah karena dingin atau ... marah.
"Kau ... menungguku?" Hermione balik bertanya alih-alih menjawab pertanyaan Draco sebelumnya.
"Pasti tampak bodoh, ya. Kau mau balas dendam?" Hermione tersaruk mundur selangkah tatkala dirasakannya tatapan Draco yang kelewat tajam seolah menembusnya. Draco menyeringai.
"Ini pasti lucu bagimu dan teman-teman Potter dan Weasley-mu itu, iya, kan?" Ia mendengus. "Yah, kau pasti ... merasa sekarang adalah waktu yang sangat bagus untuk membalas. Dulu aku yang selalu mencari masalah pada kalian, menjadikan kalian itu badutku. Yeah, badut dengan tanda konyol di dahi dengan sahabatnya yang dungu dan berambut merah miskin mengenaskan, dan ... seorang gadis sok tahu dengan rambut seperti semak. Mudblood," desisnya pada kata terakhir. Hermione merasakan darahnya berdesir mendengar panggilan itu lagi.
"Pasti sekarang lucu sekali jika aku, seorang Draco Malfoy, duduk di sini selama hampir empat jam dan nyaris membeku, hanya untuk ... menunggu seorang Granger?"
Hermione terkesiap. Tapi Draco tidak peduli, tidak melihat. Ia sepertinya lebih tertarik memandangi jalanan di sekitar kakinya, sambil sesekali melirik sadis Hermione. Sesaat gadis itu merasa ... yah, inilah Draco Malfoy. Memang apa yang kau harapkan, Hermione? Dia berubah menjadi manis padamu? Idiot!
"Yah, aku menunggumu, Hermione. Aku tampak bodoh sekali, kan? Kau boleh tertawa puas!"
"Malfoy, aku—"
"Bukan salahmu," sergah Draco tiba-tiba. Ia berdiri dan dalam sekejap sudah berada dalam jarak lebih dekat dengan Hermione.
"Aku yang bodoh karena berpikir terlalu jauh. Tentu saja, makan malam yang menyenangkan dan romantis dengan Weasley, eh? Yah, kau tidak mungkin memilihku, kan? Lagipula aku bukan siapa-siapamu. Aku tahu kau masih waras. Dan aku seperti anak kecil yang meminta bermain pura-pura selama tiga puluh hari itu. Lupakanlah. Aku minta maaf karena ...," tangannya bergerak salah tingkah di udara. Beberapa detik, Draco kesulitan memfokuskan pandangnya sampai akhirnya, iris biru keabu-abuannya menemukan manik cokelat itu. Manik mata yang cantik, menurutnya, selalu.
"... Kupikir selama ini aku menyukaimu, Granger."
Dengan cepat, kaki panjangnya telah melangkah tepat sedetik setelah menyelesaikan kalimat itu. Hermione bahkan tidak tahu harus berbuat apa. Ia merasa, kaki, lidah, dan seluruh organ tubuhnya membeku mendadak. Ia ingin sekali berdisapparate dan tidak pernah muncul dimanapun sekarang.
Bahkan ia kesulitan menoleh saat merasakan pria itu berbalik cepat, sekedar untuk berkata dengan nada dingin.
"Salah, kukira kadar sukaku melebihi batas sekedar suka. Dan kumohon, jangan pernah memperlihatkan diri di depanku lagi."
TBC
Note: Mungkin akan ada satu chapter terakhir lagi ^^ semoga tidak terlalu mengecewakan, ya. Keep review! *bow*
[1] Ngarang! Aku gak nemu sih mantra penghangat *PLAK*
