"Apa?!"

Gadis berambut merah muda memakai celana jeans hitam ketat dan kaus pendek ungu tersebut menatap Naruto penuh arti. "Yeah.. sudah tiga hari Hinata tak pulang ke apartemennya. Kau tahu? Bukankah tiga hari sebelumnya itu adalah tepat saat dia menyatakan cinta padamu."

"Kemana dia pergi? Apa aku telah menyakitinya tanpa sadar?" Naruto mondar-mandir bingung didepan Sakura yang tengah duduk di bangku panjang taman universitas.

"Tak mungkin Hinata begitu. Dia itu gadis yang kuat! Dia menyatakan cinta walau dia tahu dia akan ditolak!" Sakura menatap Naruto penuh selidik. "Bisa kau jelaskan lebih detail tentang kejadian tiga hari yang lalu?"

Naruto menjelaskan dengan detail tanpa terlewat sedikit pun.

Sakura mengangguk-angguk mengerti. "Jadi, Hinata memelukmu dan kepergok Ino lalu kalian mencari Ino.." Sakura menatap Naruto penuh arti. "Apa Ino bertemu dengan Hinata?"

Naruto menggeleng pelan. "Ino tidak bertemu dengan Hinata."

Hiks.

Sakura mulai terisak. "Naru.. gimana kalao Hinata diculik? Aku sangat mengkhawatirkannya.. handphone-nya juga gak aktif.."

Naruto mengelus kepala Sakura lembut. "Jangan menyerah Saku.. ayo kita cari bersama."

Sakura menyandarkan kepalanya di perut Naruto yang bediri didepannya. Dia menangis tersedu-sedu. Naruto hanya bisa menenangkan sambil mengelus-elus kepalanya walau hatinya gusar.

Tak jauh dari mereka berdua, terlihat siluet seorang yang mengepalkan tangannya kesal. 'Gret!'

Lunatic's Lament

Disclaimer © Masashi Kishimoto

Warning:

AU, OOC, Alur Cepat, Typo(s), EYD Amburadul, Dll.

'Nggh!'

Sakura membuka matanya perlahan. Kenapa dia bisa tidur terduduk di kursi dengan kaki tangannya terikat? Bahkan mulutnya dibekam kain kotor. Dengan upaya gigih, Sakura mencoba membebaskan dirinya tapi usahanya gagal. Sakura mencoba mengingat kejadian sebelum dia tak sadarkan diri. 'Aku sedang berjalan pulang kerumah.. kenapa aku berada disini? Ah.. aku ingat.. aku merasa seseorang memukul kepalaku.'

Sakura menatap kesekeliling ruangan. Ruangan tersebut bercat putih, tirai tebal berwarna merah tua menutupi jendela hingga cahaya tak bisa masuk. Bau mengerikan begitu pekat diruangan tersebut.

Krieett!

Pintu terbuka perlahan. Sakura menyipitkan matanya karena merasa silau menatap sinar terang dibalik pintu. Didepan pintu tersebut menampilkan siluet ramping memakai celana hitam ketat dan jaket hitam hoodie, tangannya memegang sebuah tongkat baseball.. "Irasshai Sakura-chan!"

'Su-suara ini!' batin Sakura kaget.

Tlek!

Lampu neon menyala dengan sempurna membuat ruangan yang suram tersebut bertambah kengeriannya. Sakura menatap horror orang yang tengah berdiri didepannya. 'Sudah kuduga! INO!'

"Hmmp! Hmmmpppp!"

DUAKK!

"Berisik!"

"Ugghhhh!"

Ino memukul perut Sakura dengan tongkat baseball besinya. Darah, air liur dan air mata menyatu di kain kotor yang membekap mulutnya.

Sakura membungkukan badannya-menahan rasa sakit yang melanda perutnya. Emerald-nya terfokus ke lantai. Mata Sakura langsung terbelelak menatap lantai keramik berwarna putih. Sakura bukan terbelelak karena keramiknya tapi karena apa yang tergeletak disana.

Seorang gadis berambut panjang biru donker tengah terbaring kaku dililit rantai-disana dengan tangan dan kaki yang sudah terpisah-pisah dan genangan darah yang hampir mengering di sekeliling mayat tersebut. 'HINATA!' teriak Sakura tertahan oleh penyumpal mulut.

Ino melihat Sakura yang tengah tercengang menatap tubuh Hinata. "Ne Sakura.. kau mengenalnya?" tanya Ino dihiasi senyuman psycho-nya.

Sakura menatap Ino ketakutan. 'Orang ini sakit!'

Ino mendekati mayat tersebut kemudian berdiri tepat didepan mayat Hinata dengan tatapan yang sinis nan berkilat-kilat.

Duk!

Ino menendang pelan mayat Hinata seraya mengalihkan pandangannya pada Sakura. "Kau tahu? Aku tak sengaja membunuhnya." Ino mengeluarkan pisau dari balik bajunya. "Aku hanya menyiksanya lembut.. tapi dia terus meronta-ronta sampai berhasil melepas ikatannya. Aku benar-benar kewalahan melawannya hingga aku tak sengaja menyobek lehernya." Ino berjongkok menatap mayat Hinata kosong.

Syuut!

Ino mengiris wajah Hinata, menambah luka goresan di wajahnya. Ino menatap Hinata sendu. "Padahal aku masih ingin mendengar jeritan indahnya." Ino menatap Sakura dihiasi senyuman tulusnya. "Sakura.. akhir-akhir ini aku sering berimajinasi dan terlalu khawatir pada sesuatu. Melihat pacarku dengan orang lain membuat kepalaku sakit. Saat membunuh gadis ini.. pikiranku menjadi terasa tenang.. saat itu aku sadar.. aku harus menyingirkan orang-orang yang dekat dengan Naruto-ku."

"Nggh! Nggghhh! Hmmp!"

"Tsk!" Ino menghampiri Sakura yang meronta-ronta. "Sepertinya kau ingin sekali mengatakan sesuatu padaku.. baiklah.. akan kubuka." Ino membuka kain yang membekap Sakura.

Cuh!

Sakura meludah tepat diwajah Ino!

"Sialan! Dasar jalang!" umpat Ino sambil menyusut ludah Sakura di wajahnya.

DUAKK!

Ino marah, dia memukul bahu Sakura dengan tongkat baseball.

"AAAAAAAA!"

Teriakan penderitaan Sakura begitu menggema diruangan tersebut. Sakura merasa bahunya telah bergeser.

"Diam jalang!"

Duakk!

Ino kembali memukul perut Sakura hingga mulutnya memuntahkan darah. Sakura yakin, kali ini beberapa tulang rusuknya yang patah. "Kau jalang gila! Apa yang kau pikirkan?! Kalau Naruto tahu apa yang kau lakukan ini, aku yakin dia akan sangat membencimu! Dasar sakit! Lacur! Pshychop-"

DUAKK!

Pukulan mendarat dimulut Sakura. "Kubilang diamlah Sakura!" Ino mencengkram dagu Sakura. "Atau aku akan memasak daging temanmu itu lalu memaksamu memakannya."

Glup!

Sakura menelan ludahnya sendiri sambil menatap Ino takut.

Ino melepas cengkramannya kasar kemudian kembali membekap mulut Sakura. "Sebelum mengurusmu, sepertinya aku harus membereskan mayat jalang satu ini." Ino menatap mayat Hinata kemudian berjalan menuju meja disudut ruangan dan membawa gergaji besi. "Sebaiknya kau perhatikan baik-baik bagaimana aku memotong-motong tubuh temanmu. Setelah mengantonginya, aku akan membuangnya secara terpisah-pisah."

Syuuuut!

Ino membelah perut Hinata kemudian mengeluarkan seluruh isi perutnya.

Clak!

Cairan darah dan lendir memenuhi lantai saat Ino mengangkat organ dalam Hinata.

"Kau tahu? Organ-organ seperti ini yang membuat ruangan ini seperti bau neraka." Ino memasukan usus beserta organ dalam Hinata kedalam kantong plastik hitam. "Karena isinya kotoran. Ahahaha" Tawa psycho Ino begitu menggema di ruangan tersebut.

'Hukh! Hukh! Hukh!'

'Sasukeeee tolong akuuu... Narutooo! Tolonggg! Lakukan sesuatu pada pacar mu ini! Dia gilaaaaaa!' Sakura menangis pilu dalam diam-karena dibekam sambil berdoa dan mengumpat. Sakura menatap nanar temannya yang tengah dikuliti oleh Ino yang sangat menikmati adegan jagal pribadinya.

Ino tersenyum sinis tanpa menghentikan aktifitasnya. "Kau tahu Sakura? Ikan besar memakan ikan kecil. Yang kuat harus menindas yang lemah." Ino menoleh pada Sakura sekilas dihiasi senyum penuh arti. "Duduklah yang manis dan persiapkan dirimu. Giliranmu akan segera tiba setelah aku menyelesaikan gadis jalang ini."

-neverlookback-

"Apa?! Sakura tak pulang?"

"Hn."

"Sasuke. Apa kau sudah menghubungi teman-temannya? Siapa tahu dia menginap di salah satu temannya." Pemuda pirang jabrik itu mengernyitkan dahinya menanggapi temannya yang stoic.

Sasuke mengangguk mengiyakan, walau wajahnya masih bertampang seperti teflon, dalam hatinya dia sangat mengkhawatirkan kekasihnya. "Kemarin, dia bilang akan menemuimu Naruto."

"Kemarin kami memang bertemu.. dan membahas Hinata yang hilang beberapa hari ini." Naruto menatap Sasuke penuh arti. "Apa kau sudah menghubunginya?"

"Sudah tapi teleponnya pun tak aktif." Sasuke menarik nafas panjang. Frustasi.

Naruto memijat keningnya. "Hinata hilang.. dan sekarang Sakura.."

"Kalau kau bertemu dengannya, tolong hubungi aku. Aku ada kelas." Sasuke meninggalkan Naruto yang masih memijat keningnya.

"Ya ampun.. apa yang harus kulakukan?" gumam Naruto pelan.

Grep!

Seseorang memeluk Naruto dari belakang. Naruto langsung menoleh pada orang tersebut. "Ino!" Naruto tersenyum lima jari sambil membalikan tubuhnya seraya merangkul bahu Ino.

"Ada apa Naruto? Kau terlihat mengkhawatirkan sesuatu?" tanya Ino heran.

Naruto mengangguk mengiyakan. "Tadi Sasuke bilang padaku bahwa Sakura tak pulang." Naruto melirik Ino yang berjalan disampingnya. "Ino, apa kau bertemu dengan Sakura?"

"Tidak." Ino menjawab dengan entengnya.

Naruto melirik Ino dengan ekor matanya. 'Telingamu memerah. Kau pasti berbohong Ino.' batin Naruto gusar. "Benarkah?"

"Bahkan jika bertemu pun aku tak akan menyapanya. Dia temanmu bukan temanku." ketus Ino.

Srek! Srek!

Naruto mengacak rambut Ino pelan. "Dasar jutek!"

Ino hanya mendengus kesal mendengar ucapan Naruto. "Naruto-kun.. di aniv nanti, apakah kita akan merayakannya?" Ino mengalihkan pembicaraan.

"Tentu saja! Kita akan pergi ke suatu tempat." Naruto cengengesan penuh arti membuat Ino penasaran.

"Kemana?"

"Rahasia."

Gyut!

Ino mencubit pinggang Naruto pelan-membuat Naruto geli. "Kemana ih!?"

"Hmm." Naruto tampak berfikir keras. "Kau ingin ke laut atau bukit?"

Ino mendelik Naruto sinis. "Kenapa tanya? Jangan-jangan kau belum ada planning huh?"

Naruto menggeleng cepat. "Bukan begitu, aku akan mengajakmu antara dua tempat itu. Mana yang paling kau inginkan?"

"Hmm. Mungkin bukit."

"Yosh! Aku akan mengajakmu kesana. Sisanya rahasia.. besok, persiapkan aja dirimu darling!" Naruto menatap Ino dihiasi senyuman penuh arti.

"Huh! Yasudahlah.." Ino menatap jam coklat yang melingkar di tangannya. "Sudah waktunya.. Aku ada kelas."

Naruto mengangguk mengerti. "Aku tunggu di halaman kampus."

"Kau duluan saja. Aku tak suka membuatmu menunggu."

"Tak apa.. hanya dua SKS kan? Cuma satu jam setengah.."

"Terserah.." Ino mendelik Naruto sinis. "Awas aja kalau kegatelan ke gadis lain!"

Naruto memutar bola matanya-bosan. "Iyaa.. Iya."

"Aku masuk kelas dulu ya. Ja!"

Naruto menatap sayu Ino yang berjalan menjauh darinya. Naruto berjalan ringkih menuju taman kampus dengan berjuta pikiran negatif dikepalanya. 'Apa yang telah kau lakukan Ino?' Pertanyaan itulah dasar semua kemungkinan negatif yang ada dalam kepalanya.

Naruto duduk di bangku taman seraya menatap langit kelabu dengan tatapan kosong.

Tep!

Naruto menoleh pada seorang yang memegang bahu kanannya. "Yo Kiba!" Naruto tersenyum kaku-dipaksakan.

"Kau kenapa? Muram banget."

To Be Continued

(_) Nell Note:

Apa yang kutulis ini? Hell yes! Kumbaya! Yandere!Ino XD

Feel-nya udah dapet belum? Moga aja dapet.. aku udah baca berulang-ulang (padahal dua kali) sambil komat-kamit –homina-homina-homina- #wekwekwek

Thanks udah baca ya, baik itu yang ninggalin jejak atau nggak.. aku ucapkan terimakasih pake banget.

Special thanks buat yang ninggalin riview di chapter sebelumnya. Maaf saya gak bisa tulis satu-satu 'cause belum lihat lagi riview. Akhir kata:

See you dear