Ayaya, Aoyama kambek buat case 2.
Selamat Membaca... ^^ case 2.
-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-
Naruto:
Masashi Khisimoto
Meitantei Naruto
'The Case-book of Naruto'
(story):
Aoyama Eiichi
Warning:
ou, ooc, death chara, typos, etc.
Pair:
?
GENRE:
Crime/Friendshipe
-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-
Meitantei Naruto:
The Case-book of Naruto
Case 2
Mysteri rumah kosong
Beberapa kasus yang Naruto tanggani memang agak sedikit aneh, bahkan kasus yang kami hadapi saat itu membuat Naruto heran.
Aku menulis catatanku kali ini atas permintaan Miss. Tenten, selaku pemilik rumah megah di pinggiran kota Konoha. Nama dan tempat telah aku samarkan demi menjaga ketidak nyamanan tokoh dalam catatan ini.
Misteri Rumah Kosong
"Kau pernah percaya hantu, Teme?" tanya sobatku tiba-tiba.
"Percaya tidak percaya," jawabku, "Tapi sebagian besar perasaanku memang mempercayainya,"
"Pernahkah kau merasakan berada di zona anomali?" tanya Naruto, lagi.
"Aku tidak yakin, tapi, aku pernah melihat sesuatu yang aneh di sekolah kita dulu. Semacam hantu-lah," jawabku, "Eh, tunggu. Kenapa kau menanyakan hal aneh semacam itu, Dobe?"
"Kau kenal Miss. Tenten?" kata Naruto tanpa menjawab pertanyaanku.
"Aku tidak terlalu mengenalnya, atau bahkan tidak tahu siapa dia. Yang aku tahu, dia adalah desainer baju ternama di Konoha,"
"Ya, baca ini!" saran Naruto. Aku lekas mengambil secarik surat yang Naruto berikan.
Aku kemudian membacanya, dan isinya sebagai berikut;
Dari: Miss. Tenten
Untuk: Maetantei Naruto
Dengan datangnya surat ini, saya meminta bantuan Mr. Naruto untuk menangani masalah yang tengah saya hadapi.
Saya hendak membeli sebuah rumah yang berada di jalan taiwa Konoha. Sayang rumah tersebut menyimpan misteri, telah banyak yang melihat orang yang berada di rumah tersebut, padahal rumah tersebut adalah Rumah Kosong yang telah lama pemiliknya tidak tinggali.
Sebenarnya bukan hanya itu saja. Kemarin lusa, sahabat saya yang bernama 'Idate' tak kunjung kembali setelah melihat-lihat isi rumah tersebut.
Saya sangat berharap anda bisa membantu saya memecahkan misteri ini. Dan datanglah ke kediaman saya sore ini.
Hormat saya.
Tenten.
Begitulah surat yang kubaca di hadapan Naruto.
"Bagaimana?" ujar Naruto.
"Cukup aneh," aku berkomentar.
"Kita berangkat pukul dua, Teme,"
"Kita?"
"Tentunya bila kau bersedia, Teme,"
"Dengan senang hati, Kawan," balasku penuh minat.
Waktu begitu cepat berlalu, hingga tanpa terasa kami telah berada di kediaman Miss. Tenten.
Naruto mengetuk pintu yang berukiran sepasang pedang yang menyilang. Tak lama, si pemilik rumah membukankan pintunya. Dia nampak sangat senang melihat kami, atau tepatnya melihat Naruto.
"Sukurlah anda menanggapi kasus ini, Sir," seru wanita berusia duapuluh empat tahun itu.
"Kebetulan saya lagi tida ada kasus, Miss. Tenten," balas Naruto.
"Silahkan masuk, tuan-tuan," Miss. Tenten mengajak kami masuk kerumahnya.
"Jadi, bisa anda ceritakan masalah anda secara terperinci?" tanya Naruto langsung.
"Saya akan menceritakannya tanpa mengurangi yang saya ketahui, Sir,"
"Sebaiknya begitu bila anda ingin berkerja sama dengan saya," balas Naruto.
"Ceritanya; Sebulan yang lalu, saya membaca sebuah korang yang di kolom perjualan ada seseorang yang ingin menjual rumahnya. Dari gambarnya saja saya sudah berminat, saya hendak membeli sebuah rumah di pinggiran kota Konoha yang dijual oleh pemiliknya yang bernama Nagato. Rumah itu bergaya belanda, oh tidak, lebih tepatnya rumah itu menyerupai kastil. Rumah itu telah Nagato tinggali selama satu tahu dan akhirnya dia meninggalkan dan mengosongkan rumah itu tiga tahun yang lalu,"
"Rumah itu kosong selama tiga tahun?"
"Ya, Sir, saya mendengar desas-desus bahwa di rumah itu terdapat hantu yang menyeramkan sehingga pemiliknya meninggalkan rumah itu. Dan menurut kesaksian penduduk setempat, mereka sering melihat orang dari jendela luar pada malam hari."
"Orang?"
"Entahlah, sir, mungkin semacam mahluk anomali atau sejenisnya. Karena mereka menyebutkan bahwa wajah orang itu sangat menyeramkan, kalau anda ingin mendengar langsung penjelasannya tentang wajah orang itu, anda bisa menanyakan langsung kepada Inari,"
"Siapa Inari?"
"Dia adalah anak seorang petani di daerah tersebut,"
"Ok, lanjutkan cerita anda,"
"Mereka berkali-kali memperingatkan saya bahwa di rumah itu memang angker, saya tidak mempercayainya, karena memang saya tidak percaya akan hal semacam itu. Lalu saya menghubungi Nagato si pemilik rumah, dia sangat senang mengetahui saya ingin membeli rumahnya,"
"Lalu?"
"Setelah saya menghubunginya, saya bersama teman saya Idate menuju kediaman Mr. Nagato, beliau menyambut kami dengan suka cita dan tidak perlu waktu lama transaksi jual beli pun telah sepakat dengan harga yang disepakati kedua pihak. Masalahnya dimulai setelah itu, Sir," kata Miss Tenten getir.
"Untuk itu juga kami datang,"
"Setelah transaksi selesai, teman saya Idate ingin melihat-lihat rumah itu, saat itu hujan turun sangat lebat. 'Tenten, aku ingin melihat-lihat rumah itu,' kata Idate. 'Aku juga demikian,' balas saya, sir. Lalu kemuadian kami datang kerumah itu, disana banyak sekali hiasan dinding yang menurut saya menarik, namun tidak dengan Idate,"
"Hiasan apa itu?"
"Beragam, sir, dari mulai pedang, gada, tongkat, dan senjata lainnya. Namun di sana pula terdapat lukisan yang sangat terkelal di eropa, lukisan 'Monalisa', anda pasti tahu lukisan itu,"
"Karya agung Leonardo Davinci, tapi mungkin itu bukan lukisan yang asli," komentar Naruto.
"Ya, benar, sir. Saya juga berpendapat demikian,"
"Ada apa dengan lukisan tersebut?"
"Entah itu halusinasi saya atau memang begitu adanya. Ketika saya melihat-lihat isi rumah tersebut tanpa sengaja saya melihat mata dalam lukisan itu berkedip-kedip ketika saya meniup debu di sekitar lukisan itu. Saya sempat kaget, lalu saya menghampiri lukisan itu dan memandangnya lagi. Tapi, yang saya lihat lukisan itu selayaknya lukisan biasa, oleh karena itu saya beranggapan bahwa yang telah saya alami hanya perasaan saya,"
"Saat itu, anda tengah bersama teman anda Idate?"
"Tidak, sir, saat itu Idate sedang berada di ruangan lain tepatnya di perpustakaan," jawab Miss Tenten. "Karena jarak dari perpustakaan ke tempat saya berada, cukup jauh,"
"Ok, lanjutkan!"
"Setelah itu, saya mendapat telepon dari clien saya yang ingin memesan baju pengantin, 'Aku bisa pulang sendiri,' kata Idate kepada saya setelah saya bilang kepadanya akan pulang duluan. Sesampainya di rumah ini, saya mendapat pesan dari Idate, namun saya tidak bisa membacanya,"
"Pesan apa itu?" tanya Naruto. Miss Tenten memperlihatkan telepon genggamnya kepada Naruto. Pesan yang bertuliskan; 'BSMT'.
"Saya tidak paham akan maksud B-S-M-T itu, sir," kata Miss Tenten mengankat kedua bahunya.
"Menarik," kata Naruto tersenyum penuh teka-teki.
"Setelah itu, saya membalas pesan Idate, namu tak kunjung mendapat balasan hingga sekarang, saya hubungi pun hpnya tidak pernah aktif,"
"Anda menghubungi polisi?"
"Sudah, sir, tapi itu dia, polisi tidak menemukan apapun di rumah itu. Malah lebih parahnya lagi ini kasus urusan pendeta, katanya," jawab Miss. Tenten setengah menggerutu.
"Saya harap anda bisa menguak misteri dari rumah itu, sir," pinta clien kami itu.
"Saya akan berusaha sebaik mungkin." janji Naruto kepada wanita bercepol empat itu. "Kita punya kasus yang menarik, Teme," kata Naruto berbalik kepadaku.
"Jadi, kapan anda akan memulai penyelidikan?" tanya Miss Tenten.
"Kami sedang melakukannya," ujar Naruto santai. "Ayo, Teme, kita berpetualang. Saya janji akan membongkar semua misteri ini, Miss. Tenten,"
"Saya berharap demikian, Mr. Naruto," balas clien kami penuh harap.
"Satu lagi, apakah Idate seorang perokok?"
"Dari mana anda tahu?" tanya Miss Tenten. Naruto menunjuk sebuah foto yang berbingkai menggambarkan dirinya bersama seorang laki-laki yang tengah mengacungkan kedua jari telunjuk dan tengahnya menyerupai huruf 'V'.
"Saya tidak paham?"
"Itu tidaklah penting. Ayo, Teme, kita berangkat,"
Kami telah berada di luar rumah clien Naruto.
"Kita lihat, 'Hantu' apa yang ada di hadapan kita, Teme," ujar sobatku Naruto sembari menggosok gosokan kedua tangannya. Ini kebiasaannya jikalau mendapatkan kasus yang menarik.
"Kemana kita sekarang?" tanyaku di tengah perjalanan.
"Tentu ke daerah tempat rumah itu berdiri," sahut Naruto tanpa berpaling kepadaku.
Aku pun tidak banyak bertanya akan rencana Naruto, selain dari kelemahan atau kalau memang bisa disebut keleman Naruto, ialah ia tidak banyak memberi tahukan apa yang ada dibenaknya saat seperti ini.
Kami tengah menaiki taksi yang kami cegat di tengah jalan.
"Apa pendapatmu tentang pesan itu, Teme?" tanya Naruto tiba-tiba.
"Kalau maksudmu tentang kata 'BSMN' itu, jujur aku tidak tahu. Tapi, menurutku itu semacam singkatan," jawabku sekena'nya.
"Singkatan dari?"
"Entahlah, mungkin semacam oraganisasi,"
"Ngelantur," ujar Naruto sarkastik.
"Hey, memangnya kau tahu, Dobe?" tanyaku agak sedikit tersinggung memang.
"Itu semacam penunjuk tempat, kurasa?" jawab Naruto dingin.
"Darimana gagasan itu muncul? Kalau memang tempat, dimana itu? Atau apa itu? Lal..."
"Hey... Hey... Semakin lama, kau semakin cerewet," sela Naruto, "Bila kau disekap atau diculik, apa yang pertama kali tersirat dalam otakmu yang ingin kau beri tahu kepada orang yang mungkin menemukanmu? Tempat? Atau si penyekap?" lanjutnya.
"Tempat," kataku cepat, "Jadi kau berfikir ini penculikan?"
"Tidak menutup kemungkinan. Kauingat cerita Miss Tenten tentang Monalisa yang berkedip setelah meniup debu di sekitarnya?"
"Tapi, mungkin saja dia salah lihat seperti katanya!" aku berpendapat.
"Kecil kemungkinannya bagi seorang desainer yang teliti,"
"So?"
"Ada orang lain selain mereka berdua,"
"Siapa?"
"Seseorang yang akan kita tangkap, Teme,"
"Satu lagi, dari mana kau tahu Idate seorang perokok?" Naruto tidak menjawab pertanyaanku dekan kata-kata, melainkan dian menunjukan kedua jari tangannya menyerupai huruf 'V'. Aku melihat di kedua jarinya itu terdapat warna agak kekuningan karena nikotin dari rokok yang sering diisapnya. Aku mengerti sekarang. Jadi, Naruto melihat hal yang sama di jari Idate dalam Foto itu. Tanpa terasa, taksi yang kami tumpangi pun telah sampai di tempat tujuan kami.
Kami berjalan mendekatai bangunan tua yang benar kata Miss Tenten kalau rumah ini lebih cocok disebut kastil.
"Kemana kau, Dobe?" seruanku kepada Naruto yang melewati kastil itu.
"Mencari orang yang bernama Inari, Teme," kata Naruto.
Kami menuju hamparan pesawahan yang luas yang berada didekat kastil tersebut.
"Permisi, madam, apa anda kenal Inari?" tanya Naruto kepada salah seorang petani wanita di sana.
"Ada apa anda mencari anak saya, Sir?" tanya petani wanita itu menyelidik.
"Ada beberapa hal yang ingin saya pertanyakan. Oh, anda tidak usah curiga seperti itu, saya teman dari pemilik rumah ini Miss Tenten, anda kenal dia?"
"Ya, beliau gadis yang baik yang pernah saya temui. Kalau anda benar teman dari Miss. Tenten. anda boleh menemui anak saya," balas wanita paruh baya itu, kemudian ia memanggil anaknya yang bernama Inari tersebut.
"Ada apa, Ibu?" tanya anak yang kutaksir berusia tidak lebih dari sepuluh tahun.
"Ada orang yang ingin menemuimu,"
"Hay, Kid," sapa Naruto ramah.
"Tunggu dulu... Sepertinya saya pernah melihat anda, Sir?" anak itu berkata dan seperti mengingat-ngingat sesuatu untuk beberapa saat, "Aah, saya ingat, anda yang ada di korang ini," bocah itu pun mengeluarkan selembar koran dari saku bajunya, "Mr. Namikaze Naruto?" lanjut Inari tidak percaya.
"Aku ingin mengajukan beberapa pertanyaan kepadamu, Nak," ujar Naruto.
"Apapun itu, Sir," jawab Inari penuh percaya diri.
"Benarkah kau pernah melihat ada orang di rumah itu," Naruto menunjuk rumah yang dimaksud.
"Bukan orang, sir,"
"Apapun itu,"
"Ya, saya pernah melihatnya saat sore atau tepatnya petang saat matahari terbenam."
"Kapan tepatnya?"
"Sekitar satu bulan yang lalu."
"Bagaimana penampilannya?"
"Sulit dijelaskan, Sir, tapi saya akan berusaha menjabarkannya. Orang itu mempunyai tinggi tidak lebih dari anda, kurus, mukanya sangat mengerikan. Dia menatap saya seakan penuh kebencian," Inari sedikit bergetar kala ia menceritakan apa yang ia lihat.
"Bisa lebih jelas?"
"Matanya merah, wajahnya punuh luka goresan, oh tidak, lebih tepatnya sayatan, dan mengeluarkan cairan merah,"
"Pria atau wanita?"
"Pria,"
"Dimana kau melihat 'dia'?"
Inari mengajak kami kehalaman yang terdapat jalan setapak yang beralaskan kerikil yang menancap.
"Di sini saya melihat dia, dan disanalah dia berada, sir," Inari menunjuk sebuah jendela yang bergordeng warna coklat kusam di lantai tiga.
"Jendela itu tertutup oleh gordeng," kata Naruto.
"Saya berani bersumpah atas apa yang saya lihat sebulan yang lalu. Jendela itu tidak bergordeng, sir, saya berani bersumpah atas nama orang tua saya," sambar Inari meyakinkan. Ya, aku memang tidak melihat kebohongan dari ucapan bocah yang tengah bersama kami ini.
"Menarik," ujar Naruto tersenyum penuh teka-teki, "Ini uang buat kamu, kamu boleh kembali membantu orang tuamu, anak yang baik," Inari pun lekas meninggalkan kami yang terpaku melihat bangunan yang megah namun menyimpan misteri ini.
"Selamat sore, Tuan-tuan," kami dikagetkan oleh sapaan seorang pria yang tidak kami kenal.
"Sore," balas kami bersamaan.
"Anda pasti teman Miss Tenten itu." tebak orang asing dihadapan kami.
"Anda pensiunan tentara?" Naruto balik menebak.
"Darimana anda tahu?"
"Ah, itu tidaklah penting, sekarang anda siapa dan mengapa anda tahu kami teman Miss Tenten,"
"Kenalkan, saya Nagato, anda mungkin mengetahui saya dari Miss Tenten, beliau tadi menghubungi saya dan berkata akan ada temannya ingin melihat-lihat rumah, dan saya diminta menemani kalian,"
"Wah, clien kita sungguh baik, Teme," ujar Naruto padaku, "Saya Naruto, dan ini teman saya Sasuke,"
"Senang berkenalan dengan kalian," balas orang itu menjabat tangan kami bergantian.
"Jadi, bisakah anda mengantar kami melihat rumah itu?" pinta Naruto.
"Untuk itu saya kemari, sir,"
Kami memasuki rumah yang sangat megah bergaya eropa ini. Hal pertama yang tersirat dalam otaku saat melihat isi rumah ini ialah 'LUAR BIASA'.
Sebuah jendela yang telah penuh oleh jaring laba-laba karena sudah lama tak terurus memandang kepada hamparan luas halaman, permadani merah yang melintang panjang sampai ke tangga menuju lantai dua yang sudah nampak berdebu. Benar kata Miss Tenten, bahwa banyak sekali perhiasan dinding berupa senjata, dari mulai sebuah kapak, sepasang pedang kesatria yang menyilang, tongkat atau tombak yang bergantung di atas sebuah jam berdiri. Disebelah utara tepat di hadapan sebuah kursi panjang terdapat perapian khas eropa, namun yang terlihat eksentrik di rumah ini adalah sepasang pedang samurai yang terletak di atas wadah yang terbuat dari ranting pohon.
"Hanya itu yang nampak aneh di rumah ini," Naruto menunjuk pedang samurai yang terletak di atas perapian.
"Mungkin pemiliknya mencintai tradisi leluhur, Dobe. se-eropa apapun tempat ini, tetap saja rumah ini berada di Jepan," aku berpendapat.
"Anda benar, Mr. Sasuke," timpal Nagato, "Tempat ini saya dapati dari warisan mendiang ayah saya. Belau sangat mencintai tradisi leluhur, bahwa harus ada sepasang pedang samurai yang terpangpang di suatu rumah," lanjutnya.
"Ini foto keluarga anda, Mr. Nagato," tanya Naruto menujuk potret gambaran keluarga besar di atas perapian yang terdapat pedang. Gambaran yang meperlihatkan seorang pria berwajah tegas yang gagah memakai baju tentara, bermata kelabu namun memandang tajam seakan tidak ingin melihat kami, rambutnya yang pelontos memperlihatkan kecemerlangan. Dia tengah di gandeng oleh seorang wanita anggun bermata coklat dengan rambut ikal panjang dan memiliki tahi lalat di dagunya. Di bawah sepasang suami isteri itu terdapat dua anak, laki-laki dan perempuan saling berpegangan tangan. Anak lelaki itu menggunakan toksedo berwarna gelap senada dengan celana yang tengah ia pakai saat itu. Sedangkan yang wanita, ia memakai dress berwarna putih bersih dengan bandana merah muda menghiasi rambut merahnya.
"Itu kekak saya waktu muda, yang memakai baju tentara," terang Nagato, "Yang wanita, tentu itu nenek saya, namanya Mizuhiko," lanjutnya.
"Diantara anak itu, pasti salah satunya adalah orang tua anda," tebak Naruto.
"Itu sudah pasti. Yang perempuanlah ibu saya itu, Nakami, dan yang laki-laki adalah paman saya, adik ibu saya yang bernama Idame,"
Naruto memandang lekat-lekat potret keluarga tersebut, lalu ia tersenyum kecut.
Hari mulai gelap, namun hal yang tidak disangka olehku adalah hujan mulai turun membasahi bumi.
"Wah, padahal tadi cuaca cerah. Tapi, sekarang hujan?" komentar Nagato.
"Terpaksa kita menginap di sini," ujar Naruto, "Sepertinya, hujan tidak akan reda dalam waktu singkat," sambungnya.
"Sepertinya begitu," aku menambahkan.
"Sebenarnya saya tidak mau menginap di sini, tapi, kalau ada yang menemani... Aku tidak keberatan," kata Nagato.
"Bisa kita ke lantai dua?" usul Naruto.
"Tentu, tentu," ujar Nagato.
Kami pun menaiki tangga menuju lantai dua yang berpermadanikan karpet merah di atasnya.
Ketika kami sampai di lantai dua, kami disuguhi pemandangan layaknya museum lukisan, banyak lukisan di sana-sini yang begitu tua. Naruto memperhatikan seluruh ruangan itu dengan mata berkitat-kilat.
"Aku belum pernah melihat gallery seindah ini," gumam Naruto kagum.
"Mungkin itu lukisan yang dimaksud Miss Tenten, Dobe," aku menujuk gambaran wanita setengah badan karya Leonardo Davinci.
Naruto menghapiri lukisan itu dan memukul-mukul tembok di sekitarnya dengan telinga ditempelkan ke dinding. Aku dan Nagato tidak mengerti apa yang dilakukan sobatku ini.
"Apa yang kau lakukan, Dobe?" tanyaku. Naruto tidak menghiraukan pertanyaanku.
Setelah beberapa saat, Naruto akhirnya mengatakan sesuatu. "Adakah ruang bawah tanah di sini, Mr. Nagato?"
"Setahun saya tinggal di sini, saya rasa tidak ada," jawab Nagato, "Memang kenapa?"
"Tidak apa, hanya biasanya di tempat semacam ini selalu ada ruang bawah tanahnya,"
"Tunggu, saya pernah melihat pintu di lantai gudang bawah, namun pintu itu terkunci rapat. Mungkin itu yang anda maksud?"
"Mungkin saja,"
"Tapi, untuk apa anda menanyakan itu?"
"Tidak ada apa-apa," balas Naruto singkat, "Di mana letak perpustakaan?"
"Di lantai tiga. Anda ingin kesana, ayo kita kesana,"
Kami pun menaiki lantai tertinggi di bangunan tua ini. Disana terdapat bebeberapa ruangan, dari mulai pintu kamar hingga ruangan tanpa pintu, yaitu perpustakaan.
Kami menuju perpustakaan yang terdapat empat rak buku yang menempel di dinding, tiga rak yang berdiri, dan sofa panjang untuk empat orang mengarah ke perapian.
Naruti menghampiri salah satu rak yang terdapat di dinding yang dipenuhi buku-buku kuno dan tua.
"Anda suka membaca, Mr. Nagato?" tanya Naruto ketika dia tengah berada di samping rak buku tersebut.
"Tidak terlalu, tapi, saya pernah membaca beberapa buku di sini ketika saya tinggal di sini," jawab Nagato.
"Buku ini peninggalan nenek moyang anda?"
"Ya, saya rasa demikian,"
Naruto menghampiri rak lainnya, dan memperhatikannya secara seksama. Lalu, dia beralih lagi dan lagi hingga rak ke empat yang di perhatikannya.
"Semuanya sama," pendapat Naruto setelah asik melihat rak-rak tersebut.
"Maksud anda, sir," kata Nagato tidak paham.
Kami menghapiri kursi duduk yang terdapat di sana, dan mulai menyalakan api di perapian untuk sekedar menghangatkan badan dikala turun hujan.
Kami duduk di kursi itu, dan Naruto menyulut sebatang rokok lalu di letakannya bungkus rokok itu di tengah meja, agar aku dan Nagato dapat mengambilnya juga. Terjadilah pembicaraan untuk melepas kejenuhan.
"Jadi, kenapa anda berniat menjual rumah ini, Mr. Nagato?" tanya Naruto mengawali pembicaraan.
Nagato seperti ketakutan kala Naruto mengajukan pertanyaan. Tapi, pada akhirnya Nagato menceritakannya juga, "Tiga tahun yang lalu..."
Misteri Rumah Kosong
TO BE CONTINUES
a/n: Maaf, tadinya mau ditamatin langsung. Tapi, setelah ditulis, ternyata panjang juga'
Tapi, Aoyama janji, kalo pembaca pada ngereview, Aoyama bakal apdet cepet... So, please review!
BILA GAK NGEREVIEW? Satu kata dari Aoyama... 'TERLALU'
