takdir
Naruto©Masashi Kishimoto
Sekuel 'godaan (?)' - SasuSaku - AU - Islamic Content - DLDR
.
.
.
.
.
.
Pria berkemeja biru itu langsung mengendarai mobilnya menuju TK Konoha. Ada sebuah perasaan yang begitu kuat di hatinya. Rasa penasaran yang membuat jantungnya berdetak begitu cepatnya. Ia seperti mendapatkan sebuah jawaban atas segala doanya. Bibirnya pun mengulas senyum.
Mobilnya berhenti tepat di depan TK Konoha. Ia turun dari mobilnya dan memandangi TK tersebut. Disana dapat terlihat anak-anak kecil tengah bermain dengan gurunya yang tentunya permainan tersebut mengandung unsur pendidikan. Kakinya melangkah begitu saja memasuki gerbang TK yang terbuka. Ada satpam berdiri disana memberinya senyum dan tanpa curiga sedikitpun membiarkannya masuk.
"Aku mau juga, Bu Guru!"
"Aku mau! Aku mau!"
"Aku mau apelnya, Bu Guru!"
Suara nyaring anak-anak tersebut membuat pria tersebut penasaran. Ia mendekati sumber rasa penasarannya. Dan disana ia menemukannya. Wanita bercadar yang tak sengaja ia lihat di pasar. Wanita yang membangkitkan rasa penasarannya.
Dadanya bergemuruh tak karuan kala mendengar suara lembut wanita itu. Wanita itu terlihat sangat ramah dan keibuan terhadap anak-anak tersebut. Kakinya hendak melangkah mendekatinya. Namun terhenti ketika sesuatu. Wanita itu bukanlah siapa-siapanya. Seperti ada dinding tak kasat mata yang membatasi.
Wanita itu bukan mahramnya. Yang tak bisa ia dekati sebelum sah menjadi istrinya. Yang membuatnya harus menjaga pandangannya dan juga membuatnya mundur menjauh darinya.
Ia menundukkan wajahnya, beristighfar dalam hati atas segala perasaan yang tiba-tiba muncul begitu saja di hatinya. Setelahnya ia pergi tanpa disadari oleh wanita tersebut. Hingga kemudian seorang wanita paruh baya mendekatinya.
"Ada yang bisa kubantu, Tuan?" tanya wanita tersebut. Wanita itu tersenyum ramah.
"Aku kesini ingin melihat-lihat. Kebetulan anak temanku akan masuk TK," jawabnya. Ia tak sepenuhnya berbohong. Ya, ia tak berbohong. Meski itu terdengar hanya seperti sebuah alasan. Tapi tak sepenuhnya. Ia memang pernah berjanji pada Naruto untuk membantu mencarikan TK untuk anaknya. Ya, kebetulan saja, kan? Ya, itu kebetulan. Pikir pria itu meyakinkan hatinya yang tak tenang. Wanita itu tersenyum padanya. Kemudian mengajaknya berkeliling sambil mengobrol. Tentunya tentang TK tersebut. Pria itu menanggapi seadanya.
"Maaf, tadi aku tidak sengaja melihat Anda memperhatikan wanita yang disana itu," tunjuk wanita berkerudung krem tersebut. Pria itu mengikuti arah pandang wanita itu. Dan ia tak bergeming. Wanita bercadar itu sukses membuatnya kembali beristighfar.
"Aku pikir akan ada larangan untuk wanita bercadar mengajar disini," jawab pria itu. Alibi sebenarnya.
"Tidak ada. Ya, awalnya kami pihak sekolah agak keberatan. Namun melihat kemampuannya dan caranya beradaptasi dengan anak-anak itu, kami akhirnya menyetujuinya bekerja disini," terang wanita tersebut. Pria berambut hitam itu mengulas senyum tipisnya.
"Anak-anak disini sangat menyukainya. Ia sangat lembut. Dan juga perhatian. Kami bersyukur memilikinya disini," lanjut wanita tersebut.
"Aku rasa suaminya beruntung menjadikannya istri," ujar pria itu. Ucapannya memang bertujuan untuk mengetahui apakah wanita bercadar itu single atau memang sudah menikah.
"Ya, suaminya akan sangat beruntung."
Seketika pria itu seolah merasakan hantaman di dadanya. Seperti dijatuhkan ke dalam jurang tak berdasar.
"Ia belum menikah," lanjut wanita tersebut. Mata pria itu setengah terbelalak. Wanita itu memandang sendu wanita bercadar tersebut. Tatapannya terlihat sendu.
"Benarkah?" Tanpa sadar pria itu bertanya memastikan. Wanita itu menatapnya bertanya, kemudian tersenyum. Beberapa detik kemudian wanita itu mengangguk.
"Kau tertarik padanya?"
"Itu …."
"Ikutlah denganku. Aku akan memberikanmu alamat rumahnya." Wanita tersebut pun meninggalkan wanita bercadar itu menuju ruangannya. Pria itu mengikutinya. Tak lama kemudian wanita itu memberikannya secarik kertas bertuliskan alamat wanita bernama Haruno Sakura tersebut.
"Ha-ru-no Sa-ku-ra?" ucapnya terpatah-patah. Rasa-rasanya ia familiar dengan nama itu. Namun ia tak mengingatnya.
"Datanglah temui ayahnya jika kau memang serius dengannya. Tapi, jangan lakukan itu jika kau tidak serius," kata wanita itu memperingati. "Sakura sudah kuanggap seperti putriku sendiri. Aku tak akan membiarkan siapapun melukainya," lanjut wanita itu tegas. Pria itu menatapnya dengan tatapan 'percayalah padaku' yang kemudian dibalas senyuman wanita itu.
"Terima kasih banyak," ucap pria itu tulus. "Dan ini kartu namaku. Anda bisa menghubungiku kapan saja jika membutuhkanku," lanjut pria itu sambil memberikan kartu namanya. Wanita itu menerimanya dengan senang hati. Namun ia terkejut ketika membaca nama yang tertera di kartu nama itu.
"Uchiha … Sasuke?" tanyanya tak percaya.
"Ya," jawab Sasuke sambil tersenyum. Wanita itu tertawa pelan.
"Tidak kusangka akan bertemu dengan orang besar sepertimu," ujarnya. Terdiam tak menjawab, Sasuke hanya mendengarkan. "Sakura pasti akan sangat beruntung jika menikah denganmu," lanjut wanita itu yang membuat semburat merah di pipi Sasuke. Sekali lagi. Ya, sekali lagi ia harus beristighfar.
Astaga, jatuh cinta yang tidak pada tempatnya memang menyakitkan.
…
Tidak di mobilnya, di kantornya, bahkan di rumahnya, Sasuke terus menerus mengulang nama itu. Berharap ia mengingat sesuatu. Namun nihil. Ia tak mengingat apapun. Dan semakin ia berusaha mengingatnya, bayangan wanita itu semakin memenuhi benaknya. Terngiang-ngiang dengan jelas ucapan kepala sekolah yang ditemui olehnya, tentang bagaimana wanita itu. Hingga akhirnya ia memutuskan mengambil air wudhu dan melaksanakan sholat istikharah.
Ia berdoa pada yang Maha Kuasa, berserah diri pada-Nya, memohon ampunan-Nya, meminta petunjuk kepada-Nya. Hati kecilnya mengakui ia jatuh hati pada sosok gadis itu. Namun ia pun tau bahwa apa yang ia rasakan bukanlah hal yang pantas untuk diperjuangkan. Gadis itu bukanlah miliknya. Belum sah menjadi istrinya. Bahkan ia pun tak tau apakah gadis itu memanglah jodohnya atau bukan. Karenanya ia memohon ampunan pada-Nya atas segala kekhilafan hati yang melandanya.
Jika memang gadis itu memang terbaik untuknya di dunia maupun di akhirat, dekatkanlah ia. Teguhkanlah hatinya. Cintakanlah ia kepada sosok yang juga mencintai Pemilik Hati-nya, yang kelak akan membawanya ke surga. Namun jika tidak, jauhkanlah ia. Biarkanlah perasaan yang terlanjur berada di hatinya hanya sekadar perasaan biasa yang tak akan membuatnya berpaling dari Sang Maha Pencipta.
…
Satu bulan sudah semenjak kejadian itu. Tak ada hal luar biasa yang terjadi. Sasuke tak lagi mengunjungi tempat bekerja wanita itu ataupun mencari tau tentang wanita tersebut. Pria itu memfokuskan dirinya untuk bekerja dan beribadah. Mengabaikan berbagai macam pertanyaan maupun desakan dari pihak luar yang menyuruhnya untuk segera menikah. Ia tak terlalu mendengarkan. Karena kini ia sudah mendapatkan jawabannya.
"Jadi kau belum menemukan wanita yang siap menikah denganmu?" Pertanyaan Naruto tak membuat Sasuke mengalihkan perhatiannya dari laporan kerja milik karyawan-karyawannya. Pria berambut kuning itu menatapnya kesal.
"Hei, Sasuke! Kau mendengarku tidak, sih?" Kali ini suara Naruto meninggi. Sorot mata kekeselan terlihat jelas dari mata birunya. Sasuke menatapnya tenang.
"Aku akan memberitahumu jika aku akan menikah," jawab Sasuke kalem. Naruto tertawa. Mengejek sebenarnya.
"Dari dulu kau selalu mengatakan itu, Sasuke. Tapi apa? Mana istrimu? Pacar saja tidak ada. Bagaimana bisa kau mendapatkan istri?"
"Sudah kubilang aku tidak akan pacaran," tegas Sasuke.
"Heh, memangnya sekarang kau bisa mendapatkan istri dengan cara ta'aruf? Kau selalu menggagalkan semuanya," balas Naruto. Sasuke menatapnya tak terima. "Sudah berapa banyak wanita yang menawarkan diri menjadi istrimu? Dan kau selalu menolak mereka. Apa kurangnya wanita-wanita itu, eh? Mereka semua pintar, cantik, berkepribadian baik, agama … kau bisa menilai sendiri. Bahkan ada yang menjadi hafidzah. Lalu kenapa kau masih menolak, eh?" lanjut Naruto penuh emosi. Sasuke terdiam.
"Aku tidak yakin," jawab Sasuke. Naruto menatapnya penuh tanya. "Aku tidak memiliki keyakinan bahwa salah satu dari mereka adalah jodohku," lanjut Sasuke.
Naruto menghela napas lelah. Ya, ia lelah dengan segala macam jawaban Sasuke.
"Aku akan menemukannya. Nanti." Sasuke tersenyum saat mengatakannya. Memberikan tanda tanya penuh pada Naruto.
…
"Sakura …." panggil wanita paruh baya berkerudung hijau tua padanya. Wanita itu berada di meja seberang Sakura. Tangannya memberi kode agar Sakura mendekat padanya. Gadis itu mendekatinya.
"Duduklah." Sakura duduk di samping wanita itu. Ia menatap wanita itu penuh tanya.
"Ada yang bisa saya bantu, Bu Tsunade?" tanya Sakura sopan. Tsunade hanya tersenyum.
"Apa dia datang ke rumahmu?" tanya Tsunade to the point. Sakura menatapnya tak mengerti.
"Maksud, Ibu?"
"Jadi dia tidak datang?" tanya Tsunade memastikan. Raut wajah kecewa terlihat jelas di wajahnya. Sakura menatapnya bingung.
"Saya benar-benar tidak mengerti maksud Ibu."
Tsunade menarik napasnya pelan, mempersiapkan hatinya untuk bercerita pada Sakura.
"Ada seorang pria yang menanyakan dirimu," ujar Tsunade. Sakura menatapnya tak percaya.
"Siapa? Apa aku mengenalnya?" tanya Sakura dengan gaya yang lebih santai namun terselip banyak rasa penasaran disana.
"Ya, mungkin kau pernah mendengarnya. Dia orang besar," terang Tsunade. Sakura semakin bertanya-tanya.
"Lalu, bagaimana bisa dia …."
"Dia memberikan kartu namanya padaku," lanjut Tsunade.
"Siapa? Siapa namanya, Bu Tsunade?"
"Itu …."
… bersambung …
Bismillah.
Terima kasih banyak atas reviewnya. Gak nyangka ternyata responnya lumayan baik. Hehe. Tapi maaf aku gak bisa sebutin satu persatu... :(
Tapi bener-bener terima kasih banyak... mudah-mudahan chapter depan tamat kalo gak ada halangan. Aamiin.
Dan mohon maaf bila ada kesalahan. Kritik dan sarannya ditunggu. :)
Syukron :)
.
Only 1353 words without a/n.
