Disclaimer:

Sampai kapan pun Vocaloid bukan milik saya.

.

.

.

DLDR

Selamat membaca.

.

.

.

Connecting With You

.

.

.

[Normal POV]

"Luka, bagaimana kondisi adikku? Apa dia baik-baik saja?" Rinto bertanya pada wanita berambut merah muda──Luka Megurine, dokter kepercayaan keluarga Kamine──dengan wajah panik.

Luka baru saja keluar dari kamar Rin dengan wajah lelah. Ia jelas terlihat kesal saat mendengar suara keras Rinto. Apa dia tidak bisa bertanya dengan tenang? Tingkah Rinto seperti seorang suami yang sedang menunggu istrinya melahirkan. Padahal yang ia tunggu adalah Rin──adiknya sendiri.

Sebagai seorang kakak, Rinto seharusnya sudah terbiasa dengan kondisi kesehatan Rin. Riwayat kesehatannya memang kurang baik. Dia bisa pingsan kapan saja jika mengalami tekanan berlebihan. Luka sudah memberi saran pada Rinto agar tidak berbuat aneh-aneh. Namun ternyata sarannya tidak cukup untuk menjadikan Rinto sebagai seorang kakak yang pengertian. Luka masih ingat ketika mendapati koran tadi pagi. Ia hampir meledakkan dapurnya hanya karena membaca berita utama dari koran tersebut. Ia sudah menduga kalau berita itu akan menjadi beban pikiran Rin. Jadi, ia dengan sengaja mengkosongkan jadwalnya dan menunggu dengan santai kapan teleponnya berdering.

Sebenarnya Luka ingin marah pada Rinto. Namun, kemarahannya itu selalu lenyap saat melihat wajah panik lelaki tersebut. Wajah paniknya seperti orang tersesat, tidak tahu harus melakukan apa. Bahkan Rinto hampir menelepon semua kerabat terdekatnya agar ia tidak merasa cemas seorang diri kalau tidak dihentikan olehnya. Rinto selalu seperti itu ketika menghadapi adiknya pingsan dan Luka memakluminya karena ia tahu alasan Rinto sepanik itu. Rinto hanya takut adiknya tertarik untuk hidup di dunia mimpi dan tidak berencana untuk bangun. Benar-benar konyol.

Memutar manik ungunya malas, Luka melengos pergi melewati Rinto begitu saja. Rinto yang merasa dihiraukan oleh Luka berusaha untuk tidak tersinggung dan tetap bersemangat menyerang Luka dengan pertanyaannya yang syarat akan kekhawatiran. Ia terus menanyakan kondisi adiknya sambil mengikuti kemana kaki Luka melangkah. Sementara Luka menganggapnya sebagai angin lalu dan terus berjalan menuruni tangga (kamar Rin berada di lantai dua).

"Kondisi Rin tidak parah kan Luka? Katakan padaku kalau dia baik-baik saja. Lu────"

"────Rinto! Sebaiknya kau duduk sebelum aku mematahkan kakimu." Luka menghentikan langkahnya tiba-tiba di depan pintu ruang tamu dan menyuruh Rinto duduk di sofa bersama dua orang yang terlihat sedang menunggu kedatangannya──Len Kagamine dan Lenka Kanzaki.

Rinto dengan patuh menuruti perintah Luka, takut apa yang dikatakan dokter muda itu menjadi kenyataan. Dia pun mendudukkan dirinya disamping Len yang terlihat sedang beristirahat dengan posisi duduk menyedihkan. Len duduk menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa dibelakangnya dengan wajah tertutupi majalah. Telinganya seperti sudah dibuat tuli sampai tidak terganggu dengan gerutuan Rinto. Sementara Lenka duduk berhadapan dengan Len, diam menikmati secangkir teh hangat. Tidak terusik dengan nada suara tertahan Luka dan sumpah serapah pacarnya──Rinto──meluncur tajam. Dia sudah terbiasa dengan pertengkaran kecil ala tom and jerry versi nyatanya. Keakraban dua orang itu memang mirip seperti air dan minyak.

Clek.

Rinto dan Lenka serempak berjengit kaget ketika mendengar suara pintu dikunci. Sementara Len hanya menurunkan sedikit majalah yang menutupi wajahnya sebentar lalu kembali menutupnya.

"Kenapa pintunya dikunci? Apa yang kau────"

"────Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Rin hanya kelelahan. Dia sudah sadar sekarang." Rinto terdiam datar saat ucapanya dipotong untuk kedua kalinya tanpa ampun oleh Luka. Namun beberapa detik kemudian air mukanya berubah cerah.

"Benarkah?! Apa aku bisa melihatnya? Aku harus memastikan dengan mata kepalaku sendiri kalau dia baik-baik saja." Katanya tidak sabaran.

Nampaknya Rinto masih belum puas dengan jawaban Luka. Ia berniat kembali ke atas untuk melihat kondisi adiknya jika Luka tidak memberinya pelototan tajam, menciutkan nyalinya agar tetap menempel diam di sofa seperti prangko.

"Maaf, Rinto. Rin tidak ingin bertemu dengan siapa pun yang berjenis kelamin laki-laki. Sekalipun kau kakaknya aku tidak bisa memberimu izin." Katanya tegas sambil melibat kedua tangannya di depan dada. Dokter muda itu masih berdiri di depan pintu. Memastikan tidak ada satu orang pun yang bisa keluar dari ruangan itu tanpa seizinnya.

Lenka menaikkan sebelah alisnya bingung. 'Tidak biasanya Rin menolak kehadiran seseorang. Terutama kakaknya. Apa yang terjadi?' Pikirnya. Manik biru teduhnya diam-diam melirik Len. 'Apa mungkin karena dia?' Tebak Lenka sedikit heran dengan keberadaan Len di ruangan tersebut.

"Hah? Kau bercanda kan Luka? Tidak mungkin Rin mengatakan itu." Balas Rinto cepat, tidak terima di perlakukan seperti seorang penjahat. Ia berdiri dengan berani, menantang sang dokter muda, tidak menyadari sepasang manik biru teduh tengah menatapnya curiga. 'Dan ada apa dengannya? Tidak biasanya dia ngotot seperti itu? Rin cuman pingsan kan? Tidak sakit parah?'

Luka mendengus kecil.

"Itu permintaan adikmu bodoh. Kau ingin dia tambah sakit hanya karena melihat wajah bayimu yang menyebalkan?"

"Justru dia akan cepat sembuh kalau melihat wajah tampanku ini. Cuman kau yang bilang kalau wajah tampanku ini wajah bayi."

"Lenka... Apa aku boleh mengkarantina makhluk narsis di depanmu itu?" Tanya Luka sebal dan melempar tatapan penuh makna yang hanya bisa dimengerti oleh Lenka. Tatapan itu seakan mengatakan Rinto-berniat-bermain-api-dibelakang-kita.

'Ah, begitu rupanya. Aku mengerti sekarang.' Pikir Lenka sedikit geram saat menerima 'pesan tersembunyi' yang dilempar ke arahnya.

"Kau tidak perlu meminta izin dariku Luka. Aku malah akan berterima kasih. Kurasa dia berbuat ulah lagi dan melibatkan Tuan Putri." Rinto mengkerut. Ia mulai merasakan tanda-tanda bahaya. Luka menyeringai dalam hati karena ia sangat paham jika Lenka memanggil Rin dengan sebutan 'Tuan Putri', itu artinya dia mulai mencurigai sesuatu.

"Ada apa? Kau terlihat gugup? Apa kata-kataku tadi tepat sasaran?" Dengan tenang Lenka menaruh cangkir tehnya di atas meja lalu melempar senyum manis pada sang pacar. Senyum Lenka seakan mengatakan kau-berulah-apa-lagi-sekarang? Heh?

"Nah, Rinto. Apa kau bersedia menceritakan pada kami apa yang sudah kau lakukan pada Rin? Kondisinya tidak mungkin menurun secara misterius kalau tidak ada pemicunya." Tanya Luka tajam pura-pura tidak tahu.

Lenka tertegun mendengar ucapan Luka dan menatap Rinto──dingin.

"Ah... itu..." Rinto menggaruk belakang kepalanya sedikit bingung harus menjawab apa, karena ia yakin pembelaan apapun yang dikeluarkannya itu tidak akan membebaskan dirinya dari statusnya sebagai tersangka. Apapun yang akan dikatakannya pasti dianggap salah dimata para penjaga tuan putri. Itu sebutan yang Rinto berikan kepada orang-orang yang selalu memberikan perhatian lebih terhadap adiknya. Apalagi ia sudah berbohong pada Lenka mengenai pesta yang dihadiri oleh Rin dan berpura-pura tidak sengaja membakar koran langganan keluarga Kanzaki saat menjemput Lenka di kediamannya dan tentunya masih banyak hal gila lainnya yang ia lakukan. Semua itu ia lakukan hanya untuk menutupi semua rencananya agar tidak ketahuan. Namun, ia tidak sempat memperhitungkan Luka yang bisa kapan saja menghancurkan rencananya dan menyudutkannya seperti sekarang.

'Luka pasti sudah tahu! Dan sengaja menjebakku! Sial! Aku melupakannya! Penjaga tuan putri kan bukan cuman satu. Tapi banyak! Kenapa aku sebodoh ini?' Pekiknya frustasi dalam hati sambil tersenyum kaku mendapati sorotan tajam dari dua gadis yang terlihat ingin mengulitinya hidup-hidup.

"Luka... Boleh aku menemui Rin? Aku akan bertanya langsung padanya. Menunggu si bodoh itu bicara sama saja meminta Pak Kiyoteru tersenyum." Lenka berdiri menghampiri Luka dan meminta izin darinya. Rinto meringis kecil mendengar sindiran yang ditujukan untuknya.

Luka mengangguk memberi izin lalu membukakan pintu untuk Lenka.

"Aku percayakan Rin padamu Lenka dan tolong kunci pintunya dari luar. Aku ingin istirahat." Katanya sambil menyerahkan kunci pintu ruang tamu pada Lenka yang diterimanya dengan senang hati.

"Ya, tentu. Tolong awasi dia. Jangan biarkan dia kabur sebelum aku memberinya pelajaran." Luka mengangguk dan Lenka melirik sinis Rinto.

"Aku tidak akan melepasmu jika apa yang kudengar nanti adalah berita buruk. Persiapkan dirimu... sayang." Pesan terakhirnya sebelum menutup pintu dan menguncinya.

Rinto merasa nyawanya tinggal setengah. Panggilan 'sayang' yang Lenka ucapkan penuh dengan nada ancaman. Tidak menyentuh dan pahit. Tinggal menghitung waktu sampai semua rencana yang disimpannya rapat-rapat terbuka lebar dan dihancurkan dalam sekali serangan. Sungguh. Lenka tidak bisa diajak kerja sama kalau sudah menyangkut kesehatan adiknya. Dia selalu menomor satukan Rin dibandingkan dirinya yang berstatus sebagai pacar. 'Hiks... salah ya kalau ingin melihat adik sendiri bahagia.' Pikirnya menderita dan berjalan ke pojokan──merenung.

"Beginilah jadinya kalau kau bertindak seenaknya Rinto. Kau seharusnya sadar apa yang sudah kau lakukan. Kau menyakiti dua orang gadis tak bersalah dalam sekali tepuk. Mungkin tidak lama lagi bertambah satu atau dua." Seakan belum cukup, Luka kembali menaburkan garam di atas luka yang belum kering dengan tenang dan tanpa rasa bersalah.

'Marah boleh batal. Tapi balas dendam harus tetap lanjut.' Pikirnya licik sambil tertawa setan. Dia tidak mungkin melepas Rinto begitu saja. Setidaknya Rinto harus bertanggung jawab atas semua masalah yang dibuatnya.

Mengulas senyum mengejek, Luka membiarkan Rinto mengeluarkan aura hitam berlatar benang kusut di pojokan. Tangannya dengan lincah mengetikkan sebuah pesan dan mengirimnya pada dua orang terakhir yang akan meramaikan suasana persidangan Rinto Kamine nanti. Setelah yakin pesan tersebut terkirim, ia melangkahkan kakinya menuju sofa.

"Jangan pikir aku tidak tahu apa yang sudah kau lakukan, Len."

Len mendengus singkat saat majalah yang menutupi wajahnya hampir di ambil Luka, ia menahannya dengan sebelah tangan kemudian melirik Luka malas.

"Kau tidak bisa mengancamku, Luka." Katanya sedikit berdecak kesal. Luka menghela napas panjang dan berat.

"Aku melihat bekas gigitan dilehernya. Itu pasti ulahmu." Ia menjatuhkan tubuhnya di sofa──bekas Lenka duduki (berhadapan dengan Len) lalu mengambil sekaleng soda yang tersedia di atas meja. Menggoyang-goyangkannya pelan, tidak berniat meminumnya.

"Tenang saja. Aku sudah menghilangkan bekasnya dan tidak ada yang tahu selain aku. Sebaiknya kau jangan lakukan itu lagi. Kondisi Rin masih belum stabil. Berapa kali pun kau gigit, tidak akan meninggalkan efek apapun. Yang kau lakukan itu hanya memperburuk kondisinya. Kau bisa saja merusaknya." Lanjutnya dengan suara rendah──nyaris berbisik. Tidak peduli apakah suaranya terdengar atau tidak.

Len diam saja namun mendengarkan. Manik birunya terlihat sedang menerawang jauh. Entah apa yang sedang dipikirkannya.

"Ya, aku tahu itu."

.

.

.

"Apa yang lain juga datang?"

"Eh? Apa?"

Lenka mengerjapkan matanya kaget, tiba-tiba saja ia mendapat pertanyaan dari gadis mungil didepannya. Gadis itu sedang bertarung dengan kecepatan dan waktu, berusaha mengalahkan monster-monster bermuka aneh di layar persegi empat. Jemari mungilnya dengan lincah menari di atas joystick. Kakinya dibuat menyilang di atas karpet lembut. Sementara ia duduk manis di tepi ranjang, ditemani kue dan teh yang sengaja dibawanya. Rencananya untuk bertanya pada Rin sedikit tertunda. Ia berfikir kalau sang putri tidak mungkin bisa fokus jika di ganggu olehnya. Jadi, dia berniat menunggu sampai 'kesibukan' gadis itu selesai. Baru melancarkan aksinya sebagai detektif dadakan. Namun, tak disangka Rin sendiri lah yang memecah kesunyian di antara mereka.

"Kak Miku dan Kak Gumi. Apa mereka datang?" Rin kembali bersuara, melengkapi pertanyaan sebelumnya, tanpa mengalihkan pandangannya dari layar. Ia mengira Lenka tidak menjawab pertanyaannya karena tidak paham maksudnya.

Lenka kembali mengerjap kaget seakan disadarkan dari lamunan singkatnya dan meringis sedikit tidak mengerti. Bagaimana caranya Rin membagi konsentrasinya antara layar, jari dan obrolan?

"Baru aku yang datang. Sepertinya mereka belum tahu. Lagipula, Gumi masih berada di luar negeri dan Miku sepertinya sedang sibuk dengan pekerjaannya. Apa kau ingin bertemu dengan mereka?" Jawabnya kemudian. Rin menggeleng kecil dan mengalahkan dua monster sekaligus.

"Tidak... Aku cuman iseng bertanya. Habis dari tadi Kak Lenka diam saja."

Lenka hanya mampu tertawa kering. Tidak tahu harus menjawab apa. Kediamannya memang disengaja karena kenyataannya banyak hal yang ingin ia bicarakan. Lagipula siapa yang tidak akan kebingungan saat mengira orang yang seharusnya terbaring malah melakukan olahraga jari di atas joystick.

"Aku bisa menjawab apapun sambil bermain selama itu tidak menyangkut pelajaran." Jelas Rin meminta Lenka untuk bicara seperti biasanya. Ia bisa merasakan kebingunan Lenka di balik punggunya yang seakan ingin mengatakan sesuatu.

"O-oh, begitu... kupikir aku menganggumu. Kau terlihat sibuk." Lenka menaikkan sebelah alisnya sekilas sebelum meraih cangkir tehnya dengan anggun. Memulai pembicaraan seperti yang Rin inginkan. "Bagaimana dengan kondisimu? Apa sudah baikkan?" Lalu meminumnya tanpa suara sambil mencari waktu yang tepat untuk bertanya tentang sesuatu yang membuatnya penasaran. Tentunya secara tidak langsung. Ia tidak mau membuat Rin semakin tertekan dengan pertanyaannya.

"Aku tidak sakit kak dan aku baik-baik saja, hanya kondisi tubuhku saja yang tidak normal. Kalian semua terlalu mengkhawatirkanku." Jawab Rin dengan nada sedikit menggerutu.

"Kami khawatir karena sayang padamu, mungil. Lalu kenapa kau bisa pingsan kalau bukan sakit, hm?"

Rin diam saja dan tetap fokus pada layar di depannya. Lenka menyimpan cangkir tehnya ke tempat semula dengan sedikit helaan napas.

"Hhhh... Kau pasti sedang banyak pikiran. Apa sesuatu sedang mengganggumu?" Tanya Lenka sambil mengira-ngira seperti apa reaksi Rin. Ia berencana akan mengalihkan pembicaraan jika respon yang di dapat tidak bagus atau terlihat membebani gadis itu.

"Tidak ada yang mengganguku. Aku hanya sedikit tegang menghadapi ujian tengah semester nanti." Rin mengedikkan bahunya acuh disambut tatapan Lenka yang seakan mengatakan sejak-kapan-kau-peduli-dengan-ujian?

"Ah... Atau jangan-jangan... ada seorang pemuda tampan yang tiba-tiba saja menembakmu?" Tanyanya iseng berniat mengalihkan pembicaraan sambil mengambil boneka beruang besar berbulu kuning lembut yang tergeletak begitu saja di lantai, terbaikan. Entah kenapa saat melihat boneka tersebut ia jadi teringat dengan keberadaan seseorang yang tak seharusnya berada di ruang tamu. Mirip. Pftt..

Rin menjatuhkan joystick-nya dan Lenka tercengang tidak percaya. "Jadi, itu benar ya?"

"Tentu saja tidak! Mana mungkin..." Rin mulai terlihat salah tingkah. Caranya menyangkal terlalu cepat dan... malu-malu. Lenka menyeringai lebar. Dia kembali duduk di tepi ranjang bersama boneka beruang dalam pelukannya. Menatap Rin penuh arti.

"Lalu kenapa wajahmu tiba-tiba memerah, hm?" Godanya jahil.

"A-aku... I-ini karena aku sedang sakit!" Sangkal Rin berusaha terlihat meyakinkan. Ia kembali mengambil joystick-nya dan berniat melanjutkan permainan, mungkin dengan bermain game ia bisa menghilangkan sosok bayangan lelaki tampan namun menyebalkan di kepalanya (siapa lagi kalau bukan Len, cuman dia satu-satunya yang berani mengganggu gadis tomboy sepertinya). Namun, ia harus menerima kenyataan kalau game sedang tidak berpihak padanya sekarang, matanya terbelalak kaget saat melihat tulisan di layar 'YOU LOSE'.

'Sial' Umpatnya dalam hati dan cemberut di luar.

"Kyaaaa~ Ternyata Rin ku sudah besar~" Lenka memeluk boneka beruang itu gemas. Nampaknya ia salah mengartikan respon Rin dan kegirangan. Ia mengira reaksi cemberut Rin disebabkan oleh ketidaktahanan gadis itu karena terus digoda dan terpaksa mengakui kalau tebakannya benar.

"Kak Lenka salah paham!" Rin berusaha meluruskan.

"Bagian mananya?" Tanya Lenka dengan muka polos. Pura-pura tidak mengerti.

Rin menghela napas pendek dan berat.

"Hhhh... Ini tidak seperti yang kakak bayangkan. Tidak ada yang menembakku. Harusnya sih begitu..." Lalu menggigit bibirnya pelan, agak ragu dengan jawabannya sendiri. Memangnya seharusnya seperti apa? Nah lho?

"Ara... Akhirnya kau mau mengaku juga." Lenka melempar senyum jahil. "Ya, seharusnya anak itu meminta restu terlebih dahulu padaku, baru menembakmu." Lalu ia mengangguk-anggukkan kepalanya kecil seperti orang yang sedang berpikir dengan mata terpejam dan sebelah tangan berada di bawah dagu. "Ya kan?" Tanyanya memastikan apakah tebakannya tepat atau tidak. Ia menatap langsung kedua manik biru cerah di depannya yang sedang membuka tutup mulut mungilnya seperti ikan koi. Lucu.

Hah? Apa? Meminta restu?

Dalam sudut hatinya yang terdalam pun, pikiran seperti itu tidak pernah terlintas di benak gadis penyuka jeruk itu. Ia memijit pelipisnya pelan. Cukup terkejut dengan pemikiran pacar dari sang kakak yang begitu unik. Apa sih yang dia makan? Film romantis? Drama sabun? Atau gosip?

"Bukan begitu, dengarkan dulu cerita ku Kak!" Sanggah Rin cemberut greget luar biasa. Ugh, Kenapa jadi serumit ini sih. Pikirnya gelagapan. Bingung bagaimana harus meluruskannya.

"Baik, baik, aku dengarkan." Lenka mengangkat kedua tangan boneka beruang dalam pelukannya seakan meminta Rin untuk tenang. Kasihan juga melihat sang putri kebingungan tingkat akhir. Ia mungkin terlalu berlebihan dan terlalu antusias. Salahnya tidak mampu menahan diri saat pertanyaan isengnya secara tidak langsung memberikan gambaran jawaban dari pertanyaan yang ingin ia tanyakan sejak awal masuk ke kamar tersebut.

Rin melirik pacar kakaknya itu sedikit tidak yakin lalu mengambil napas dan membuangnya.

"Kak Lenka sudah tahu kan kalau kemarin aku menghadiri sebuah pesta?" Ia memulai ceritanya dengan sebuah pertanyaan.

Rin duduk menghadap Lenka yang duduk di tepi ranjang. Kepalanya sedikit menengadah dan kakinya tetap menyilang. Lenka mengangguk tidak mengerti. Rinto memang memberitahunya tentang itu. Tapi... apa hubungannya?

"Hm, ya. Lalu?"

"Disana aku dipertemukan dengan seorang laki-laki menyebalkan. Dia teman baik Kak Rinto." Rin melanjutkan, diakhiri dengan dengusan.

"Ah! Jadi, benar... kau ditembak?" Rin mengembungkan pipinya kesal. Bisa tidak pacar dari sang kakak tidak mengungkit hal sensitif itu lagi?

"Tidak, Aku tidak di tembak... Tentu saja tidak..." Rin menggelengkan kepalanya pusing, ia menggigit bibir bagian bawahnya ragu. "Lebih tepatnya aku ditunangkan." Cicitnya pelan sambil membuang napas berat. "Pesta itu berubah menjadi pesta pertunangan dan itu semua karena ulah Kak Rinto. Dia menjebakku. Kak Rinto benar-benar jahat. Dia tega menjual adiknya sendiri pada raja iblis! Huh!" Lanjut Rin dengan nada semakin tinggi dan suram. Lenka menutup mulutnya, pura-pura kaget (walau dalam hati ia tengah tertawa setan memikirkan hukuman untuk sang pacar). Ia sudah mengerti sekarang. Cerita Rin dan semua hal ganjil yang di alaminya tersambung dengan baik. Tapi, siapa laki-laki yang Rinto kenal kan? Jangan-jangan...

"Tu-tunggu sebentar Rin, memangnya siapa raja iblis yang kau maksud itu?"

"Kagamine! Itu namanya."

"Maksudmu Len Kagamine?"

Rin mengangguk

'Rintoooo' Geram Lenka dalam hati.

"Eh? Memangnya Kak Lenka tidak tahu? Berita pertunanganku kan tersebar di berbagai media." Tanya Rin heran.

"Ya, aku sama sekali tidak tahu. Sejak kemarin si bodoh itu terus menggangguku dan bertingkah aneh. Semua media sosial ku di acak-acak olehnya. Bahkan dia pura-pura tak sengaja membakar koran langganan ayahku dan memotong semua kabel di rumah. Benar-benar..." Jawab Lenka geram.

'Aw..Sepertinya ada yang sudah menginjak ranjau.'

"Jadi, apa cuman itu saja yang dilakukannya?" Tanya Lenka memastikan.

Rin menyeringai dalam hati. 'Pembalasan kedua dimulai.'

Ia menggelengkan kepalanya lemah. "Tidak hanya itu. Kak Rinto juga mendatangkan Kagamine ke sekolah dan melakukan transaksi gelap dengan para guru. Dia bahkan menyuap Pak Kiyoteru agar membantunya." Ceritanya ditambah berbagai macam bumbu pemanis disana sini dan Luka mendengarkan dengan wajah semakin gelap.

"Kak Rinto mengancamku kalau aku tidak bersikap manis di depan Kagamine ia akan membakar semua koleksi playstation ku dan mengganti semua pakaian ku di lemari dengan pakaian berenda. Dia tidak memberiku kesempatan untuk bicara dan terus memaksakan kehendaknya."

"A-apa? Dia... melakukan semua itu?"

Rin mengangguk.

"Rintooo... beraninya kau..." Geram Lenka beranjak pergi dengan wajah tak bisa dideskripsikan lagi dan Rin bersiul penuh kemenangan.

"Selamat datang di neraka, kakak ku sayang~"

Sepertinya Rinto punya masalah dengan panggilan 'sayang'.

Poor Rinto.

.

.

.

To Be Continue

.

.

.

Kuharap semua masih suka dengan penerapan karakter disini xDv

-o0o-

Rinto—sosok Kakak yang asyik dibully.

Rin—adik manis namun tomboy, urakan dan licik.

Len—makhluk tak jelas namun selalu berusaha terlihat cool di setiap kesempatan.

Luka—dokter misterius yang suka iseng, mata-mata penjaga tuan putri.

Lenka—sosok pelindung, penjaga tuan putri, cantik dan mudah emosian.

Teto—sabahat super pengertian, super modis dan super lainnya.

-o0o-

Kurang lebih seperti itulah penerapan karakter yang ingin kuperlihatkan dan masih banyak karakter lainnya yang akan bermunculan, xixixi

Mungkin ada yang sudah bisa menebak siapa mereka itu? 0_0 *duarrr*

Tentang teman Rin yang duduk disampingnya sebelum Len, itu akan terjawab nanti atau mungkin tidak *dibunuh*

Jika berkenan, tinggalkan riview, semua kritik dan saran akan diterima dengan tangan terbuka kok xD/

-Special Thanks-

Rika miyake, Rui Ao, nirmalasari218, PX-20 Neko Len-chan, chappo, Reichan Hiyukeitashi, Yoga205, Hanicchi

-Cherry Monochrome-