Selamat Membaca!
Wonwoo saat ini sedang berjalan menuju halte untuk menunggu bus yang akan membawanya ke apartemen sahabat pucatnya yang sekaligus kekasih Soonyoung.
Wonwoo memang tinggal bersama Jihoon, awalnya dia tidak mau ,namun Jihoon mengancam akan mengatakan keberadaannya kepada keluarga Jeon jika dia tidak mau tinggal bersamanya. Wonwoo tau sahabatnya sangat khawatir dengannya.
Bus yang ditunggunya datang tepat saat dia baru sampai di halte, dia langsung masuk ke dalam bus yang cukup sepi pada jam sepuluh seperti ini. Wonwoo bekerja dari jam tiga sore sampai jam sepuluh malam, apartemen Jihoon tidak terlalu jauh jadi dia hanya cukup menaiki bus satu kali.
Saat berada di dalam bus, Wonwoo menyandar pada jendela sambil melihat jalanan dan mulai teringat alasannya kabur dari rumah.
Ya
Wonwoo
Kabur
Dari
Rumah .
Air matanya mulai menetes perlahan,
selalu seperti ini setiap hari.
Cukup sulit memendam hal yang menyakitinya ini sendirian, dia hanya belum siap menceritakannya ke orang lain bahkan kepada dua sahabatnya yang bahkan sudah sejauh ini menolongnya dan hanya mereka yang tau keberadaan Wonwoo.
Setelah sampai di apartemen Jihoon, Wonwoo seperti biasa akan disambut sahabatnya yang juga sering pulang malam sepertinya.
Tenang, Jihoon itu bekerja sebagai Psikolog bukan pelayan sepertinya.
Mereka berumur 25 tahun dan Wonwoo yang saat itu berumur 24 tahun harusnya bekerja di perusahaan keluarga Jeon, namun dirinya yang kabur membuatnya harus menjadi pelayan bar.
Cukup miris memang.
"Wonwoo-ya aku hari ini hanya membeli pizza maafkan aku ya, aku jarang memasak saat jadwalku yang memasak." Ucap jihoon dengan menyesal.
"Tidak apa-apa, terkadang aku juga tidak memasak saat lelah dan pekerjaanmu yang kadang memaksamu lembur itu adalah hal yang wajar jika kau tidak memasak." Jihoon tersenyum mendengar jawaban Wonwoo.
"Terima kasih Won, ayo kita makan sekarang."
"Tentu."
TOUCH ME
Hari ini Wonwoo mengantarkan minuman seperti biasa, namun entah kenapa sejak tadi perasaanya tidak enak saat membaca nama pemesan kali ini.
Sebenarnya dia ingin meminta pelayan lain untuk mengantarkan minuman ini, namun sayangnya mereka semua sedang sibuk.
Wonwoo mengetuk pelan pintu di depannya yang bertuliskan VIP dengan jantungnya yang berdetak cepat entah kenapa hingga membuatnya sedikit gugup dan bingung.
Setelah dia masuk, helaan nafasnya terdengar pelan.
'Bukan dia Wonwoo-ya, banyak orang yang memiliki nama tersebut.' Kata Wonwoo membatin.
Saat hampir selesai menyajikan minuman, ada orang lain yang memasuki ruangan tersebut.
"Apakah kau sudah memesan minuman Seungcheol-ah? "
Deg deg deg.
'Suara ini.' Batin Wonwoo yang tiba-tiba menegang mendengar suara orang yang baru saja masuk tersebut.
"Aku hanya memesan untuk diriku Mingyu-ya, aku tidak tau kau ingin minum apa." Jawab orang yang dipanggil Seungcheol tersebut.
Saat Wonwoo selesai menyajikan dia baru saja akan keluar dengan menunduk saat suara orang yang dihindarinya memanggilnya.
"Tunggu, apakah aku bisa memesan langsung darimu tanpa menelpon agar lebih cepat?" Tanya mingyu.
Setelah mengontrol ekspresinya, Wonwoo mengangkat wajahnya dan melihat bahwa orang di depannya benar-benar adalah orang itu.
"Tentu, anda ingin memesan apa?"Tanya Wonwoo dengan nada dinginnya seperti biasa, namun jika diperhatikan ada getaran samar pada suaranya.
Setelah mencatat pesanan yang di katakan Mingyu, Wonwoo segera pamit untuk mengambilkan minuman tersebut tanpa menyadari jika pria di depannya memandanginya dengan intens.
'Wonwoo?' Batin Mingyu saat berhasil membaca nama di nametag Wonwoo tadi.
"Kau masih takut mabuk Mingyu-ya?" Tanya Seungcheol setelah Mingyu duduk.
"Aku tidak ingin mengulang kejadian satu tahun yang lalu, aku bahkan belum bisa menemukannya untuk minta maaf dan bertanggung jawab." Jawab Mingyu.
Beberapa menit kemudian terdengar ketukan lagi dan seseorang masuk membawa minuman,
Tapi itu bukan Wonwoo.
"Hei, dimana pelayan yang tadi?" Tanya Mingyu penasaran.
"Pelayan yang mana tuan?"
"Kalau tidak salah namanya Wonwoo." Mingyu berharap pelayan di depannya segera menjawab.
" Ah Wonwoo hyung hanya mengantar minuman satu kali untuk orang yang berbeda, dan jika anda tertarik dengannya, maaf dia tidak akan mau disentuh pelanggan disini." Pelayan tersebut menjawab dengan sopan.
Mingyu mengerutkan dahinya merasa bingung dengan yang dikatakan pelayan di depannya, dan merasa jika Wonwoo adalah orang yang menarik.
"Ah baiklah, ini tips mu." Pelayan tersebut akhirnya keluar.
"Ya! seungcheol-ah, bukankah pelayan yang bernama Wonwoo tadi cukup aneh?"
"Kurasa dia memiliki alasan sendiri." Seungcheol tidak terlalu peduli.
Entah kenapa Minngyu merasa semakin penasaran dengan Wonwoo, karena selain hal yang dikatakan pelayan tadi, Mingyu merasa familiar dengan wajah Wonwoo dan sepertinya mereka pernah bertemu entah dimana.
TOUCH ME
Wonwoo hanya diam dan tak lama air matanya mengalir entah untuk keberapa kalinya saat dia mengingat hal yang dipendamnya.
Setelah merasa sedikit tenang, dia menghela nafas untuk meredakan sesak di dadanya.
'Apa dia tetap tidak ingat?' Wonwoo merasa lelah karena hanya dia yang ingat.
Tetapi lega di sisi lain.
Tiba-tiba pintu ruang istirahat terbuka dan terdapat Soonyoung disana.
"Wonwoo-ya tadi aku mendapat permintaan dari temanku, dia ingin bertemu denganmu lagi. Aku sudah berkata bahwa kau hanya pelayan, namun dia tetap ingin bertemu denganmu dan berjanji tidak akan melakukan apapun. Kurasa dia benar-benar tertarik padamu." Soonyoung berkata dengan merasa tidak enak kepada Wonwoo.
"Siapa dia?"
"Kau ingat pelanggan bernama Kim Mingyu? Kurasa kau mengatarkan minuman untuknya hari ini."
Deg
'Kenapa dia? Apa mungkin dia ingat?'
Wonwoo bingung, dia ingin menemui Mingyu untuk mengetahui apakah pria tersebut akhirnya ingat dengannya atau tidak.
Namun disisi lain dia masih merasa takut jika akhirnya orang yang membuat luka di hatinya akhirnya muncul.
Melihat Wonwoo yang melamun dan terlihat gusar Soonyoung merasa semakin tidak enak.
"Kalau kau memang tidak mau tidak apa-apa, aku yang akan berbicara dengannya. Kau tidak perlu merasa bersalah hanya karena dia temanku." Soonyoung membuat Wonwoo sadar dari lamunannya.
Dan Wonwoo sudah membuat keputusan.
Dia. Akan. Menemui. Mingyu.
"Tidak Soonyoung-ah, aku akan menemuinya." Wonwoo bisa melihat jika Soonyoung terkejut mendengar jawabannya.
Memang selama ini Wonwoo tidak pernah mau meladeni para pelaggan di sini walaupun hanya sekedar menemui.
Mungkin Sionyoung berpikir jika Wonwoo juga tertarik dengan temannya.
"Baiklah, dan kurasa kau bisa menemuinya sekarang di ruangan yang tadi." Setelah itu Wonwoo benar-benar pergi ke Mingyu.
Soonyoung yang masih terkejut langsung mengambil ponsel disakunya dan mulai meghubungi seseorang.
"Sayang, kau tau apa yang barusan terjadi?" Tanya Soonyoung langsung, tanpa salam setelah telponnya diangkat.
"Apa?" Jawab seseorang di seberang sana, yang ternyata adalah Jihoon.
"Wonwoo mau menemui salah satu pelanggan disini."
"Tentu saja, dia kan mengantar minuman." Jawab Jihoon dengan malas.
"Tapi dia menemui pelanggan ini untuk yang kedua kalinya."
Terjadi jeda beberapa detik.
"APA!" Soonyoung menjauhkan ponsel dari telingannya mendengar teriakan Jihoon.
"KENAPA BISA? DAN KAU TIDAK MEGHENTIKANNYA? BAGAIMANA JIKA PELANGGAN ITU MACAM-MACAM?"
Sambil mendengarkan Soonyoung hanya berdoa semoga telinganya baik-baik saja setelah ini.
"Aku sudah mencoba, tapi Wonwoo sendiri yang mau. Lagi pula pelanggan itu adalah temanku, dan dia sudah berjanji tidak akan melakukan hal buruk kepada Wonwoo." Soonyoung mencoba menjelaskan dengan perlahan.
"Tunggu aku, hari ini aku pulang cepat dan akan kesana sebentar lagi. Lihat saja jika terjadi apa-apa kepada wonwoo, kau tau kan salah satu bagianmu akan terancam SAYANG!"
Tut!
Telponnya ditutup sepihak, Soonyoung pun bergidik mendengar ancaman Jihoon.
Dan dia masih tetap berdoa untuk keselamatannya.
TOUCH ME
Wonwoo masuk ke dalam ruangan Mingyu setelah dipersilakan, namun Mingyu tidak menutup pintunya lagi setelah membukanya untuk Wonwoo.
Hanya ada Mingyu disana.
Wonwoo berpikir jika teman Mingyu yang tadi sudah pergi terlebih dahulu.
Melihat Wonwoo mengerutkan dahinya heran, Mingyu hanya tersenyum tipis.
"Aku sengaja membuka pintunya untuk menepati janjiku kepada Soonyoung, dan jika kau merasa aku macam-macam kau bisa langsung keluar."
Mingyu menjelaskan alasannya kepada Wonwoo.
Dan Wonwoo hanya memandang Mingyu dengan raut datarnya, berbeda jauh dengan detak cepat jantungnya.
"Ada apa, aku memiliki kesalahan saat mengantar minum padamu tadi?" To the Point, khas seorang Jeon Wonwoo.
Mingyu hanya menggeleng dengan senyuman tipis yang belum hilang sejak tadi.
"Tidak, aku hanya ingin bertanya, apakah kita pernah bertemu sebelumnya?"
Deg.
Wonwoo bisa merasakan jantungnya yang sudah berdetak kencang sejak tadi semakin keras rasanya.
"Aku merasa kita pernah bertemu, dan tidak tau kenapa aku merasa sangat penasaran."
Sebenarnya Mingyu juga heran kenapa dia bisa sangat penasaran seperti ini dan melakukan hal yang tidak pernah dilakukannya.
Dia juga merasa sedikit ragu tadi saat ingin bertemu dengan Wonwoo, tapi rasa ingin taunya lebih mendominasi.
"Tidak." Hanya itu jawaban Wonwoo.
Dia tidak berani berkata lebih karena takut jika terlihat sedang bohong.
Mingyu masih belum menyerah, "Benarkah, kau yakin?"
"Iya."
Dan Mingyu hanya menghela napas melihat Wonwoo yang menjawab pertanyaannya dengan satu kata saja.
Setelah itu tiba-tiba Wonwoo bangkit.
"Kurasa kita sudah tidak ada urusan, aku pergi." Sebelum Wonwoo sempat pergi, Mingyu dengan cepat mengenggam pergelangan tangan Wonwoo.
Wonwoo hanya diam.
Dia tidak mencoba melepaskan tangan Mingyu.
Entah mengapa dia tidak merasa risih atau enggan saat Mingyu yang menyentuhnya tidak seperti saat orang lain yang melakukannya.
Mingyu yang melihat Wonwoo hanya diam saja, cukup terkejut.
" Bukankah kau tidak pernah mau disentuh seorang pun?"
" Ya."
" Lalu kenapa kau diam saja saat aku memegang tanganmu seperti ini?"
" Kau sudah pernah menyentuhku sekali, tidak masalah jika kau menyentuhku untuk yang kedua kalinya." Sahutnya dengan nada dingin yang tersirat rasa sakit tersebut.
Mingyu bingung mendengar jawaban Wonwoo.
"Jadi kita benar-benar pernah bertemu?"
"Mungkin."
Sekarang Wonwoo bahkan memberikannya jawaban yang berbeda dan membuat Mingyu semakin bingung.
Saat masih memikirkan maksud dari ucapan Wonwoo, Mingyu bisa merasakan bahwa tangan yang digenggamnya terlepas.
"Aku pergi, jika kau menahanku lagi aku akan benar-benar berkata jika kau melakukan hal buruk kepadaku."
Skak mat!
Lalu Mingyu hanya bisa terdiam memandang kepergian Wonwoo.
'Aku pernah menyentuhnya sekali, tapi kenapa aku merasa maksud dari sentuhan yang dimaksudnya bukan hanya skinship biasa."
Mingyu masih termenung memikirkan maksud ucapan Wonwoo.
Dan tiba-tiba dia teringat orang itu.
'Apa mungkin?'
TBC
/
/
/
Author baru disini.
Ini ff pertama yang ku publish LOL.
Ditunggu comment nya karena author butuh banget masukan untuk ff pertama ini.
Terima kasih!
