Hetalia Axis Power © Hidekaz Himaruya-sensei

Just an Absurd Story ©AliceShotacon4Ever

Chapter 2 Mencari Tahu Suara Misterius

Warning(!): OOC, Typo(s), OCs, mengandung unsurhumu, humor failed(emang humor yak genrenya?), human name AU, mengandung kata-kata kasar+gahol tak jelas, ejaan yangdihancurkan, dan petualangan gak jelas, dan laennya.

Hint: Melayucest | Singapore/Brunei | Thailand/Myanmar | Laos/Kamboja | AncientRome/Germania

Note: -Tulisan Italic (dalam hati)

-"..." (dialog)

-"(dialog telepon)"


Demi kunti ngemil si Kepala Tulip, Razak gak percaya sama perkataan sang kakak. Ada yang ikeh-ikeh di sekolah? The hell, pervert abis nih pikiran orang, batinnya (kayak lo gak aja, Zak). Bukannya denger tawaan nek lampir, malah denger desahan seonggok(?) manusia.

"Ikeh-ikeh apaan?" tanya Rahman bingung sendiri. Semua langsung menoleh ke arah pemuda alim nan polos tersebut.

"Belum saatnya kau mengetahui kosakata tersebut, Rahman," jawab Lao menepuk pundak Rahman dengan tampang sok keren.

Rahman menatapnya datar, "Umurku sudah 16 tahun. Aku harus tahu apa artinya! Masa' aku ketinggalan mulu sih."

"Ikeh-ikeh itu kegiatan mengandung unsur mature, Rahman," jawab Naeem to the point. Raihan dan Rangga langsung men-death glare-nya, maksud-lo-apaan-ngomong-gitu-ke-pacar/adek-tersuci-gue!?.

"Ma-mature…?" Rahman langsung merinding, yang ada dipikirannya ya adegan french kiss doang (biasa, anak alim).

"Ya, bisa aja yang ada gore, motong-motong tubuh, makan jantung, manggang otak, bikin sup dari darah ama mata," jawab Naeem dengan tampang sedatar mungkin. Kini Rahman makin merinding, membayangkan hal-hal mengerikan tersebut. Yang lain menghela napas dan menatap pemuda asal Myanmar itu dengan muka lega, Makasih Myan, kami berhutang padamu.

"Masih niat masuk ke dalam, Rahman? Atau mau kuantar pulang saja?" ajak Raihan dengan senyum terkerennya.

Modus lo, batin yang lain.

Rahman terlihat berpikir, lalu menggeleng. "Tidak, aku masih penasaran sama hantunya!" seru Rahman mantap.

"Kalo penasaran sama hantu mending aku panggilin kunti ma pocong buat nakut-nakutin kamu pas tengah malam," akhirnya hati nurani Rangga berbicara.

"Bosen ah, hantunya kunti, pocong, tuyul, yang agak modern dikit dong kak. Kayak misalnya vampire gitu, atau zombie," kata Rahman.

"Wah, itu mah spesialisnya orang Barat sana," Rangga menggaruk tengkuk lehernya yang tak gatal, "tapi hantu-hantu kakak sukses buat Rahman takut, 'kan?"

"Gak juga sih, karena Rahman telah berdoa kepada Tuhan," jawab Rahman. Semua kembali menatapnya.

Serius, bawa dia balik pulang, jangan biarkan dia memasuki tempat laknat ini, batin semuanya.

"Oke, karena Kak Rangga spesialis hantu, jadi Kak Rangga duluan!" seru Rahman tersenyum riang.

"Eeehh…nyusahin," ujar Rangga enggan, "tapi ya terserah deh."

"Razak boleh duluan bareng Kak Rangga," tawar Rahman.

"Hah!? Kenapa si Malon bareng gue di depan? Ogah," seru Rangga menolak mentah-mentah.

"Lah, tadi mesra-mesraan di taman, sekarang ogah-ogahan, Kak Rangga labil banget," cibir Lao, "kasian tuh Razak."

"Kasian? Emangnya dia suka gitu sama aku?" tanya Rangga menaikkan satu alisnya.

Iya bego, dia suka sama elo, batin semuanya (minus Rahman dan Razak) sweatdrop berat.

Kak Rangga emang gak pekaan ya orangnya…batin Rahman (lah, elo juga woi-,-).

Right to kokoro, woi! Sakit kokoro hayati! Razak meremas bajunya sambil menahan tangis. Rangga menoleh ke arah Razak. Entah kenapa pemuda asal Malaysia itu terlihat ingin mewek dengan matanya yang memerah dan tangannya yang meremas baju.

"Hah," Rangga menghela napas, "ya udah, Razak bareng aku di barisan depan. Raihan dan Myan jagain si Rahman. Hati-hati ma hantunya, ngeri loh."

"Ya, kalo lo maksa sih," gaya ogah-ogahan padahal hati menjerit senang, Razak berjalan mendekati Rangga sambil memalingkan wajahnya.

"Kenapa aku dijagain? Sama dua orang lagi?" tanya Rahman mendesah malas. Kenapa sahabatnya pada overprotective kepadanya? Dia masih bingung.

"Karena hantunya menyeramkan, kami takut kau kenapa-napa," jawab Raihan dan Naeem berbarengan. Segitu menyeramkannya!? batin Rahman tak mengerti.

"Di barisan depan ada couple tsundere, di tengah ada threesome? Myan lagi baper sih sama pacarnya. Jangan dianggap nyamuk, kasian. Jadi, kita yang di belakang jadi couple, ya gak, Ethan?" Lao merangkul Ethan yang sedang menikmati snack-nya yang lain.

"Eh? Terserah sih, asalkan kau gak ambil snack-ku lagi," tutur Ethan acuh-tak-acuh.

Muncul imajiner bunga-bunga di sekeliling Lao yang tersenyum bahagia. "Bahagia banget tuh," komentar Rangga.

"He-eh, iri," sambung Naeem.

"Ciee yang baper," langsung digodain sama Razak.

"Berisik lu!" Naeem menonjok kepala Razak yang meringis kesakitan.

"Hei, cukup main-mainnya. Cepat masuk ke sekolah dan tunjukkan pada Rahman yang mana hantunya lalu pulang," kata Raihan dengan wajah sedatar mungkin.

.

#SKIP#

.

Mereka mulai menjelajah lantai satu. Lorong sangat gelap. Hanya senter yang menerangi jalan mereka. Rangga mengarahkan senter ke atas, mengharapkan sesuatu yang jatuh. Namun tidak ada apa-apa di langit-langit. Ia kembali menerangi lorong di depan.

Razak mendekatkan diri ke Rangga, "Eh, suara-suara yang elo denger tadi asalnya darimana?"

Ah, iya. Tadi 'kan Rangga dengar suara orang lagi nganu di sekolah. Sambil berjalan, ia menajamkan pendengarannya. "Kurasa di lantai dua. Kenapa? Mau kesana?" tanya Rangga melirik Razak.

Wajah pemuda asal Malaysia itu langsung merah padam, "Eh, g-gak juga sih, cuman penasaran siapa yang lagi sekolah malam. Lagian 'kan kita bawa Rahman. Serius mau nunjukkin hal gitu-gitu ke dia? Katanya haram hukumnya."

Rangga melirik ke arah Rahman yang dijaga ketat oleh Rai. Naeem sedang melihat-lihat sekeliling. "Nggak sih. Yang ada aku nanti di santet ama si mata empat."

"Eh, eh, eh, mau buat insiden kepisah, gak?" tiba-tiba Lao nongol di antara Razak dan Rangga. Nyaris Razak memekik kalau tidak di sumpal pocky oleh Ethan.

"Insiden kepisah? Oh, jadi nanti kita semua kepisah dari Rai dan Rahman, gitu?" tanya Rangga antusias.

Lao mengangguk, "Iya, kita ajak Naeem juga. Jadi, biarin Rai ama Rahman berduaan nyari hantu, kita nyari suara keh-keh tadi," Lao menyeringai.

"Lao hentong," ejek Ethan.

"Kalian juga kok," Lao membela diri.

"Eh, kalian bisik-bisik kenapa sih?" tanya Naeem penasaran.

"Rencana Insiden Kepisah," jelas Rangga.

"Ikut dong. Pasti mau nyari tahu suara-suara tadi," kata Naeem.

"Tuh tahu," Lao menyeringai nista.

"Jadi, rencananya kayak mana?" tanya Razak.

"Kita bagi dua kelompok. Kak Rangga ma Razak. Kami bertiga. Jadi 'kan disitu ada belokan―" ucapan Lao dipotong.

"Emangnya jalan?" tanya Ethan.

"Emang ada belokan kok," seru Lao, "―oke, terus, anggaplah Kak Rangga sama Razak tadi jalan-jalan sendiri dan kita ketinggalan mereka. Terus, nanti kita jalan deket ruang UKS, 'kan? Kita akal-akalin aja si Rahman kalo biasanya ada hantu di UKS. Nah, pas perhatiannya tertuju ke UKS, kami bertiga kabur ke titik pertemuan. Gimana?"

"Dan semua rencana ini hanya untuk melihat orang yang mengeluarkan suara-suara itu," Naeem mendesah mendengar tuturan Lao yang keren, "kalian pervert."

"Kita semua pervert," koreksi Ethan.

"Ya, terserah," kata Naeem.

"Jadi, gimana? Setuju gak? Lima meter lagi belokannya loh. Titik pertemuannya dimana?" tanya Lao.

"Di ruang guru lantai 2 aja, gimana?" usul Razak.

"Boleh, kita ngumpul disana," Rangga mengangguk setuju.

"Oke, kalo gitu, rencananya kita mulai," Lao semakin menyeringai.

"Semua ini demi adegan real-life ero," kata Ethan memakan pocky-nya.

"Karena kita semua pervert," kata Razak.

Kelimanya mulai menjalankan siasat mereka. Seperti susunan sebelumnya, Rangga dan Razak berjalan paling depan. Naeem jadi nyamuk di barisan tengah bersama Raihan dan Rahman. Ethan dan Lao berada di barisan belakang.

Setelah belokan terlihat, Rangga dan Razak langsung mengendap-endap pergi dan bersembunyi disana. Mereka bersembunyi di dekat tangga dan mematikan senter. Razak meremas lengan baju Rangga dengan kuat.

"Kenapa? Takut?" ejek Rangga mulai menunjukkan wajah nistanya.

"Ng-nggak kok, gue mah udah biasa sama hal-hal beginian kali. Arthur sering banget bangkitin makhluk-makhluk itu dari dunia lain," Razak menoleh ke arah lain.

Ah iya, Arthur Kirkland, ketua OSIS sekolah mereka sekaligus kakak tiri Razak. Cowok pirang dengan alis enam lapis itu adalah penggemar hal gaib dan tsundere akut. Mungkin sifat tsunderenya telah diturunkan kepada Razak.

Tapi, tetep aja, sulit di percaya kalo Razak adalah saudara tiri Alfred, si kapten baseball pemakan hamburger, yang mana sifatnya lebih mirip ke Lao yang hiperaktif dibandingkan tsundere-an gini.

Ketika dirasa Raihan cs sudah menjauh, Rangga menarik baju Razak dua kali dan mengendap-endap menaiki tangga. Razak yang terlambat merespon langsung ngacir deket-deket Rangga.

"Jangan main ninggalin gue napa, Indon bego!" seru Razak kesal.

"Lah, lo-nya aja yang lambat, Malon tolol," seru Rangga jengkel.

Mereka saling adu mulut hingga mereka mendengar suara yang tidak asing. "Ah, sekarang aku bisa mendengar suara keh-keh-nya," kata Razak.

"Aku tak tahu sedekat ini. Sepertinya dari arah kanan," Rangga mengendap-endap ke arah kanan. Razak mengikuti dibelakang. Mereka terus berjalan tanpa suara hingga di depan ruang guru.

Rangga menempelkan telinganya ke pintu, "Suaranya dari dalam sini. Guru laknat mana yang ikeh-ikeh di sekolah, coba?"

"Si Kakek Pervert-nya Vargas?" tebak Razak.

Rangga menatap Razak dalam keheningan. "…Mungkin."

Keduanya langsung menoleh ketika mendengar langkah kaki. Itu Lao, Ethan, dan Naeem. Rangga buru-buru menyiratkan untuk tidak berisik. Ketiganya memperlambat jalan mereka hingga tidak menimbulkan suara.

"Jadi, bagaimana dengan Rai dan Rahman?" tanya Razak berbisik.

"Sesuai rencana, mereka sibuk di UKS," jawab Lao.

"Emangnya kenapa kita harus berbisik?" tanya Naeem.

"Suaranya dari dalam sini," jawab Rangga menunjuk ke arah pintu disebelahnya. Ketiganya melihat papan di atas pintu. Disana bertuliskan "Ruang Guru".

"…Guru laknat mana yang ikeh-ikeh di sekolah?" tanya Ethan sweatdrop berat, mengulang pertanyaan Rangga.

"Nah, aku akan masuk duluan. Jangan berisik, oke? Kami punya dugaan kuat kalo itu si Kakek Vargas," jelas Rangga.

"Tentu," yang lain mengangguk.

Krieet…Rangga berusaha untuk tidak menimbulkan suara, walaupun pintu berkata lain. Ia tidak melihat siapa-siapa di dalam sana. Mungkin berada di dalam ruang kepala sekolah, Kakek Vargas 'kan kepala sekolah, batin Rangga.

Ia mengendap-endap dan menyiratkan kepada yang lain untuk mengikutinya. Mereka semua berjongkok di balik meja-meja guru, mendekati pintu ruang kepala sekolah. Rangga merangkak mendekati pintu dan mengintip dari lubang pintu.

Dugaannya benar, si Pervert Kakek Vargas berada di dalam ruangan itu―

Oh, shit. God, seriously!?

―bersama guru killer yang merupakan leluhur si Ludwig Beilschmidt, Ritter. Oke, Rangga tahu namanya gak sekeren Ludwig atau abangnya yang narsis, Gilbert, tapi artinya cukup keren. Rangga berusaha mengendalikan diri. Dia sudah melihat banyak orang yang saking jones-nya jadi pada belok―seperti sepupunya si mata empat dan si polos, dan sebenarnya dia juga sih―tapi melihat couple yang satu ini membuat Rangga merasa…ah sudahlah.

Rangga ingin segera gantian dengan yang lainnya, tapi entah kenapa dia malah penasaran.

"Kau manis sekali, Ritter. Sangat manis. Wajahmu…sungguh menggoda."

"Kau berisik sekali, idiot!"

Holy fucking shit! Aku tidak tahu ini lebih baik atau lebih buruk dari koleksi yang kupunya, batin Rangga. Napasnya mulai memburu.

"Hei, gantian dong, gue juga mau liat kali," seru Lao gak sabaran. Rangga mengalah dan menggeser. Dengan semangat menggebu-gebu, Lao mengintip. Seketika, wajahnya sudah semerah kepiting rebus, dan membenamkan kepalanya di bahu Rangga, "Itu…superior."

"Emang siapa sih?" Naeem yang penasaran langsung melihat lewat lubang kunci. Dan Naeem nyaris menjerit kalau Razak tidak membekap mulutnya duluan.

"Woi, jangan teriak! Kalo ketahuan, mampus kita, bego!" seru Razak.

"L-l-lu liat aja deh sendiri siapa yang ada di dalem!" seru Naeem berusaha mengendalikan diri.

Razak mendekat ke lubang kunci, yang berat hari harus berbagi dengan Ethan karena sama-sama penasaran.

"Kau..ngh..manis sekali..Ritter."

"Ahh..mhh…ber..henti berbicara..Julius..idi―ahhmmm…"

Wajah Ethan bersemu merah sambil menggerogoti pocky-nya. Sedangkan wajah Razak langsung memanas dan memeluk Ethan saking malunya. "OhMyGod, OhMyGod, OhMyGod…" ucapnya tanpa henti.

Naeem merasa janggal. Pasangan kalian ketuker gak sih? batinnya. Tiba-tiba ia teringat pacarnya asal Negara Gajah Putih itu. Andaikan mereka tidak sedang berselisih, pasti Naeem sudah bermanja-manja dengan pacarnya itu.

Pemuda asal Myanmar itu langsung menggeleng kepalanya, Ngapain mikirin si Gajah Putih sialan itu? Bodo amet nasibnya sekarang, bodo.

"Ciee…Myan baper," goda Rangga tersenyum nista.

"Cie..ciee.." beo Ethan ikutan tersenyum nista.

Muncul perempatan di pelipis Naeem, "Akan bunuh kalian, nanti." Lalu, pemuda itu bangkit, "Ayo kita keluar dari sini sebelum ketahuan oleh Ritter-sensei." Yang lain hanya menyetujuinya.

Setelah keluar dari ruang guru, ke-5 nya sepakat untuk pergi menjelajah dengan tujuan 'Uji Nyali' bukan nyari orang yang lagi 'sekolah malam'. Rangga masih agak kesal dengan kenyataan bahwa Julius, kakek-kakek pervert bertampang om-om tampan dari Keluarga Vargas, memiliki jadwal di malam horor―atau keramat bagi para jomblo, terserah―dengan guru killer leluhur calon Ketua OSIS masa depan, Ritter.

"Cemburu sama kakek-kakek," ejek Razak.

"Ya gimana, masa kakek-kakek aja ada jadwal, gue kagak! Masa' gue kalah sama kakek-kakek!?" tanya Rangga gak terima.

Lah gue, kalah sama Kepala Tulip Bertampang Pedo, ingin Razak meneriakkan itu di depan telinga Rangga, tapi niat itu ia urungkan. "Siapa suruh putus sama pacar lo yang berkepala tulip itu..?" Razak menatapnya sinis.

"Tch, jangan ungkit-ungkit masalah itu," Rangga mendecih kesal. Selalu seperti itu ketika ditanya mengenai mantan pacarnya, walaupun wajahnya sedikit merah.

Razak mengepalkan tangannya, kesal. "Lao, pindah posisi. Gue mau sama Ethan," seru Razak menarik Lao menjauhi Ethan dan menempelkan dagu di bahu kiri si cowok asal Kamboja.

"Yaelah, Zak. Kalo marah jangan dilampiasin ke gue dong!" seru Lao menjaga keseimbangan dan berjalan di dekat Rangga yang masih galau karena diingetin tentang mantannya. Mantan adalah kata paling keramat―beserta doi―bagi para jones pro(?)

"Rai sama Rahman gimana ya? Mereka gak mungkin sekolah malam juga, kan?" gumam Naeem penasaran.

.

#Di saat yang sama dengan Raihan dan Rahman#

.

"Rai," panggil Rahman. Ia memegang erat tangan Raihan hingga tangan itu membiru.

"M-man, darah di tangan gue gak ngalir," kata Raihan memotong ucapan Rahman.

"Eh, maaf," Rahman segera melepas tangan itu, lalu mencengkram erat baju Raihan, "yang lain pada kemana?"

"Bukannya di belakang―eh, mana?" ketika Raihan menoleh ke belakang, ia tak menemukan satu temannya. "Kita di tinggal berdua aja nih?"

"Jahat banget sih! 'Kan rencananya sama-sama! Kenapa malah kita ditinggal berdua, coba!?"

Gue ikhlas kok cuman berduaan sama lo, Rahman-ku tercinta, batin Raihan nangis bahagia. Diam-diam, si mata empat berterima kasih kepada teman-temannya yang lain. "Yah…mereka lupa sama kita kali.."

"Lupa? Bahkan Kak Rangga yang overprotective-nya se-level kamu lupa sama aku!? Gak mungkin, pasti disengaja nih."

Raihan mikir lagi, "Mungkin mereka terlalu sibuk ngikutin jejak yang tiba-tiba mereka temuin dan lupa terhadap kita."

"Tapi―"

"Ah! Kita kesini buat nyari hantu, 'kan? Bukan buat ribut-ribut soal ninggalin, 'kan? Lagian kamu masih ada aku disini," Raihan merangkul future wife-nya itu.

"Ah…benar juga sih," Rahman manggut-manggut mengerti. Keduanya diam dalam keheningan. Hanya sinar bulan yang menerangi UKS melewati jendela-jendela. Entah mengapa, keduanya merinding.

PRANG!

Raihan dan Rahman langsung menoleh ke belakang. Mereka melihat salah satu barang di UKS pecah dan cairan merah pekat di dalamnya menggenang. Di dekatnya, berdiri seorang gadis berambut hitam panjang yang menutupi wajahnya dengan dress putih.

Bulu kuduk keduanya berdiri.

"A-ah..ma―" belum saja si wanita menyelesaikan ucapannya, Raihan dan Rahman langsung berteriak.

"KUNTILANAK!" dan langsung lari terbirit-birit.

Si wanita menyibakkan rambutnya ke samping dan menatap keduanya bingung, "E-eh…t-tapi aku bukan kuntilanak…ah, sudahlah."

Balik lagi ke Raihan dan Rahman, keduanya masih berlari tak tentu arah hingga ke ujung lantai satu. Mereka mengatur napas sesaat.

"Eh, tapi kayaknya tadi bukan kuntilanak deh," kata Rahman tiba-tiba.

"Hah? Penampakannya aja mirip kayak kuntilanak gitu, masa' bukan?" tanya Raihan masih ngos-ngosan.

"A-aku kenal wajahnya…kalo gak salah anak kelas 1-4, namanya Lin Yi Ling, pindahan dari Taiwan."

"O-oh…" keduanya terdiam. "Kita harus minta maaf padanya besok…kurasa."

"Ya…tentu saja."

Raihan menatap tangga di sampingnya, "Kurasa mereka ada di lantai atas, mau kesana?"

"Ng…baiklah, ayo," Rahman menunggu Raihan jalan duluan. Sambil memerhatikan kanan-kiri, atas-bawah, depan-belakang, mereka menaiki tangga ke lantai 2. Dari ujung, mereka bisa melihat sekumpulan anak-anak cowok yang habis keluar dari ruang guru.

"Eh, itu mereka. Hei―mmmhhpp!" Raihan langsung membekap mulut Rahman yang langsung memberontak. Setelah cukup lama, Raihan melepaskan tangannya. "Hah…hah…apaan sih, Rai!?"

"Jangan teriak-teriak, Rahman. Nanti hantunya marah gimana? Kalo misalkan kali ini kita ketemu sama kuntilanak betulan gimana? Kan bisa mampus. Jadi, jadilah anak baik dan jangan teriak-teriak, oke?" bisik Raihan, menempelkan telunjuknya di bibir Rahman. Jarak wajah diantara mereka tinggal beberapa centi.

"Eh, o-oke.." Rahman mengangguk, "ngomong-ngomong wajahmu terlalu dekat! Napas-mu baunya seperti jeruk! Kau tahu aku gak suka jeruk, 'kan!?" Rahman langsung mendorong wajah Raihan.

"Maafkan abang, dek…" Raihan hanya bisa nangis menahan sakit karena modus-nya gagal.

"Dan ada apa dengan kalimat itu? Menjijikkan sekali. Ayo, kita kejar mereka," Rahman mengernyitkan dahi memandang Raihan lalu berlari kecil ke rombongannya.

"Yaa…maafkan daku yang menjijikkan ini," Raihan pasrah dan mengikuti Rahman.

"Ayo ah, jangan lelet," Rahman menarik tangan Raihan agar mereka bisa lebih cepatan.

Seketika hati Raihan berbunga-bunga. "Rahman.." mata Raihan berkaca-kaca, menahan tangis bahagia. Ah~ Aku tak akan mencuci bagian yang dia pegang~

"K-kau kenapa sih..?"

"Tidak ada, hanya senang."

Rahman dan Raihan bersatu kembali dengan rombongan mereka. Rahman penasaran kenapa Razak menjauhi Rangga. Rangga angkat bahu, Razak memberengut. Rahman menarik kesimpulan kalau Razak ngambek karena sesuatu yang diperbuat Rangga.

Mereka melanjutkan petualangan uji nyali mereka. Bagi Rahman, hal paling menakutkan terjadi di toilet lantai empat. Karena disana, dia, Raihan, dan Naeem bertemu dengan seorang hantu wanita psikopat yang sedang memotong janin dengan pisau daging.

Alhasil, ketiganya tak dapat menahan teriakan dan langsung lari. Hantu psikopat itu mengejar mereka sambil tertawa dan mengancungkan pisau daging berdarahnya. Ketiganya mondar-mandir di lantai empat. Lalu turun ke lantai tiga dan masuk ke salah satu kelas disana.

Namun, Dewi Fortuna sedang tidak bersama mereka. Tak sengaja, Naeem menyenggol seorang hantu murid disana yang sedang berada di atas meja. Dari bagian perut ke kakinya tidak ada. Hantu murid itu langsung ngesot mengejar ketiganya sambil meneriakkan "Kaki…kembalikan…kakiku…kaki…ku…."

"Hei, hei, hei, anak-anak manis mau kemana? Main sama tante dulu yuk," dan saat itu, hantu psikopat berada di hadapan mereka dengan seringai menyeramkan dan pisau daging yang berdarah.

"BANGKEKK!" Naeem langsung menendang si hantu dan berlari menuju tangga. Raihan menggendong Rahman ala bridal style dan mengikuti jejak Naeem.

Mereka terus menuruni tangga dan berlari keluar gerbang. Setelah beberapa meter dari gedung sekolah, mereka mengambil napas. Keringat bercucuran dari pelipis mereka―kecuali Rahman, sepertinya.

"Rai, lo lagi modus ya?" ejek Naeem menatap Raihan sinis.

"Di saat-saat seperti inilah kau harus modus pada gebetanmu, Naeem," kata Raihan bangga.

"Rai, turunin aku sekarang, tolong," pinta Rahman.

"Tentu Rahman," Raihan menurunkan Rahman, "jadi, sisa yang ada disekolah bagaimana? Aku SMS aja mereka? Aku gak mau balik lagi kesana dan ketemu hantu psikopat yang lagi motong-motong janin atau hantu ngesot selain suster ngesot."

"Siapa juga yang mau balik kesana? SMS si Rangga atau Lao aja. Kita ke rumah yuk," ajak Naeem.

"Tapi 'kan kunci rumah sama Kak Rangga," kata Rahman.

"Emang yang punya rumah cuman Rangga, Man? Kita ke rumah aku aja," kata Naeem.

"Gak mau ah. Nanti aku disantet sama si Thai," kata Raihan ogah-ogahan.

"Thai siapa ya..?" tiba-tiba terdengar suara pemuda di belakang Raihan. Raihan langsung lompat, kaget, dan melihat siapa yang berbicara.

"Ya elo, Kasem! Lo 'kan orang dari tanah Thai!" seru Raihan jengkel.

"Kenapa lo pikir gue bakal ngesantet elo, ya?" tanya Kasem dengan senyum yang terlalu cerah namun mengintimidasi.

"Karena Kasem psikopat," jawab Rahman yang langsung menjadi perhatian, "Lao pernah bilang gitu ke aku."

"Gitu ya. Lao sekarang dimana?" muncul perempatan di pelipis Kasem.

"Di sekolah. Besok aja kalo mau bicara sama dia. Kita cari makan aja dulu yuk, Raihan. Sampai jumpa!" Rahman menggandeng tangan Raihan dan bergegas pergi dari tempat itu. Dan menyisakan Naeem yang berduaan dengan Kasem, sang seme.

"Nah, Naeem―" ucapan Kasem di potong.

"Ahh~ gue mau balik duluan. Dah, sana cari aja Lao sendirian," Naeem pura-pura tidak peduli dengan si orang Thailand, berhubung mereka masih berantem.

"Aku gak mau nyari Lao, kok, ana~" Kasem menarik kerah baju Naeem. Naeem menoleh ke belakang dengan kesal ketika mendapati senyum Kasem yang benar-benar membuatnya merinding. "Aku mau dinner bareng pacar aku malam ini. Enggak boleh, ya?"

Naeem pengen nolak. Seratus persen pengen nolak. Tapi, ia mengangguk pelan. Aura sang pacar kini mengingatkannya pada kapten cebol bermata belang dari fandom basket sebelah. Demi apa gue pacaran sama nih makhluk? Kok bisa!? batin Naeem tidak mengerti.

Pada akhirnya mereka sampai di suatu restoran dan sedang menunggu pesanan mereka. Tak ada percakapan mengenai 'alasan mengapa Naeem baper' di antara mereka. Keheningan dipecahkan oleh SMS yang masuk ke HP Naeem.

From: Kak Rangga
To: Naeem a.k.a Myan
Subject: HELEP GUE PLISS!

Myan, lo dimana!? gue, razak, lao, ma ethan dikejer2 ma nenek2 psiko gila tau! trus, ditengah jalan gue ketemu anak pindahan dri taiwan itu, ntahlah siapa namanya. trus, gue malah nabrak zombie tanpa kepala! tolongin gueee doongg! gue masih mau idupp! pliss Myan! lo kan baik hati, rajin nabung, dan tidak sombong. dijamin jdi istri yg berbakti di masa depan nnt sama si Kasem. pliss Myan…plisss! bgt!

Sumvah demi kolor kepsek kita,gue minta tolong elo

Naeem sweatdrop membaca SMS absurd dari Rangga. "SMS dari siapa?" tanya Kasem.

Naeem mendongakkan kepalanya, "Dari Rangga. Dia minta aku tolongin dia di sekolah."

"Bilang enggak. Kita lagi dinner. Ngerti?"

"E-eh…b-baiklah.." Naeem nurut.

From: Naeem a.k.a Myan
To: Kak Rangga
Subject: Re:HELEP GUE PLISS!

Sori kak, gue gak bisa nolongin elo. gue lgi sama si kasem yg maksa gue dinner. sori bgt kak. kasem-nya gak bolehin. sori bgt, sori. met juang kak. org indonesia kuat kak #hehe

Naeem me-lock HP-nya dan memasukkannya ke saku. Tak lama, pesanan mereka. datang. Sambil mengucapkan doa makan, Naeem berdoa untuk keselamatan Rangga, Razak, Lao, dan Ethan.

.

#SKIP#

.

Keesokan harinya…

Drtt…drrrtt…"Uh…halo? Siapa ya orang bego yang ganggu Minggu pagi gue?"

"Naeem! Naeem! Gawat! Kemaren mereka dateng ke rumah larut banget! Terus, si Razak ama Lao udah hopeless banget! Ada Lin Yi Ling juga, nginep di rumah kita jadinya. Terus, terus, pagi ini, Kak Rangga ama Ethan ngilang entah kemana! Aku takut mereka mau balas dendam ke hantu yang ngejar mereka kemaren!" suara khawatir yang menjawab pertanyaan Naeem. Pemuda asal Myanmar itu langsung tahu bahwa yang mengganggu paginya saat itu adalah Rahman.

"Nghh…sekarang hari apa?"

"Eh? Hari Minggu."

"Tanggal? Bulan?"

"Ng…tanggal..15 Mei..kenapa emangnya?"

"Tenang, mereka cuman pergi ke bazaar di deket sekolah ku. Ya udah, met tidur," Naeem langsung mematikan sambungan dan kembali tidur.

Untung mereka masih hidup. Makasih Tuhan telah mendengar doaku kemarin, batin Naeem bernapas lega.

TBC?


A/N: Hai semuanya~ maaf baru update sekarang, berhubung Alice males, jadi gak apdet2 XD/dibunuh massa

oke, Alice tahu ini absurd banget, tpi ya, namanya juga 'Just an Absurd Story' jdi gak papa dong kalo isinya juga absurd :p

ngomong2 makasih buat yang duah review, fav, dan follow fic absurd ini ya~ dan guest, makasih karena menyukai fic ini~ #kibarkan bendera SingaBrunei

dan untuk chapter depan, aku mau bikin chapter ttg Spamano berkunjung ke rumah Belgium yang tinggal bareng Netherland. Jadi, chara dan summary fic ini akan berganti menyesuaikan chapter ter-update. Kira2 rencananya begitu.

RnR okay, minna? Tenkyu veriii maccc :* #RIPinglis