Sekolah Sakit Jiwa
.
Disclaimer : Naruto characters belong to Kishimoto-sensei
Warning : AU, OOC, TYPOS, ETC...
Genre : Drama, Romance, Psychologycal, Hurt/comfort
.
Chapter 2 : Teman Pertama
# # # # # #
Sakura mengerjapkan matanya beberapa kali saat cahaya lampu cukup menyilaukan. Ia berusaha mempertahankan kesadarannya dengan memperhatikan sekeliling ruangan yang tak pernah ia lihat sebelumnya.
Ada tempat tidur di seberang ruangan, dua lemari berseberangan, dua meja belajar di samping masing-masing lemari dan sebuah pintu di ujung ruangan.
Mungkin hanya perasaannya saja. Tapi entah kenapa yang ia lihat tampak seperti sebuah... kamar?
Ingatannya kembali saat ia mengamuk memaksa untuk dipulangkan dan tidak ingin tinggal di asrama, apalagi bersekolah di tempat yang tidak seharusnya ia berada. Tapi saat ia berteriak histeris, tiba-tiba saja Kabuto menyuntikkan sesuatu padanya dan saat itu Sakura tidak lagi ingat apa yang terjadi.
Apa pun itu, kini Sakura memahami apa yang sedang terjadi.
Ia sudah berada di kamar asramanya.
Airmata mengalir begitu saja melewati pipinya dan Sakura memeluk tubuhnya diatas kasur empuk yang asing. Meski ia tidak ingin menerima kenyataan, tapi kini ia dipaksa untuk menyadari jika dirinya sudah berada di sekolah sakit jiwa yang digosipkan selama ini.
Dulu ia hanya mendengarnya, kini ia berada di dalamnya.
Entah kesalahan apa yang Sakura perbuat hingga terdaftar dalam sekolah ini. Ia sama sekali tidak dapat memikirkannya sedikipun karena selalu menjalani kehidupan normal selayaknya remaja pada umumnya.
Lalu, kenapa ia berada di sini?
Apakah orang tuanya yang memasukkan Sakura ke sekolah ini?
Tiba-tiba Sakura mendengar suara pintu terbuka, "Oh! Kau sudah sadar?"
Sakura mengangkat kepalanya saat mendengar suara asing feminin yang memasuki kamar dan terkejut atas penampilan gadis itu. Wajahnya cantik dengan rambut pirang yang dikuncir tinggi namun memiliki tubuh kurus seperti tidak diberi makan hingga terlihat seakan tengkorak berjalan.
Melihat seragam yang dipakai gadis itu sama dengan Sasuke, ia langsung mengerti jika gadis itu salah satu murid di sekolah ini.
Sakura yang merasa ngeri dengan penampilan gadis itu langsung menggeser tubuhnya ke sudut tempat tidur. Entah kenapa ia merasa takut pada gadis itu yang meskipun terlihat ramah, namun membuatnya ketakutan dengan penampilannya yang sekurus tengkorak.
Apakah gadis itu seorang pecandu obat-obatan terlarang?
"Kenapa kau melihatku seperti itu?" tanya gadis itu mengeryitkan alisnya. "Kau benar-benar tidak sopan untuk murid baru ya?"
"Aku bukan murid baru!"
Gadis itu tersenyum dan berjalan mendekat, "Kau Sakura Haruno, bukan? Kelas dua sama sepertiku."
Sakura semakin menarik tubuhnya ke sudut hingga menempel ke dinding, "Bagaimana kau bisa tahu?"
"Ini sekolah yang unik dan tidak memiliki banyak murid, jadi jika ada murid baru pasti akan langsung heboh." Kata gadis itu duduk di kasurnya. "Aku teman sekamarmu."
Sakura langsung bergidik. Teman sekamarnya gadis kurus bagaikan tengkorak? Ia pasti akan bermimpi buruk jika harus tidur bersama dengan gadis itu setiap malamnya! Apalagi mereka sama-sama kelas dua, pasti akan selalu bertemu, bukan?
Jika begini terus, cepat atau lambat Sakura akan benar-benar kehilangan kewarasannya.
"Aku tidak peduli kau teman sekamarku atau bukan, tapi aku tidak akan menjadi murid sekolah ini."
Gadis itu mengangkat alisnya dengan angkuh, "Kenapa? Karena gosip tentang sekolah kami, hm? Bukankah itu tidak penting lagi karena kau sudah berada di sini, itu artinya kau memang salah satu dari kami seperti yang kau dengar di gosip."
Entah kenapa ketakutannya pada gadis itu kini sudah menghilang, "Aku bukan salah satu dari kalian! Aku bahkan tidak pernah merugikan siapa pun atau melanggar apa pun yang pantas membuatku masuk ke sekolah ini!"
Kali ini, kedua tangan gadis itu terlipat di dada. "Apa kau bodoh? Sekolah ini untuk remaja bermasalah dan jika kau ada di sini, entah menyadarinya atau tidak kau pasti sudah melakukan sesuatu. Omong-omong soal merugikan siapa pun, aku juga tidak pernah melakukannya."
"Benarkah?" Sakura menatap gadis itu skeptis. "Tapi dari yang kulihat... bukankah kau seorang pecandu obat terlarang? Makanya kau pantas berada di sini."
Secara mengejutkan, gadis itu tertawa. Tapi bukan jenis tawa karena menyindir atau apa pun itu namun jenis tawa yang benar-benar karena mendengar sesuatu yang lucu.
"Aku bukan pecandu, bahkan tidak pernah berpikir untuk menjadi salah satunya." Gadis itu lalu menghela nafas. "Tapi, yah... kau akan tahu sendiri nanti."
Sakura masih menatap gadis itu skeptis. Bagaimana mungkin bisa sekurus itu jika bukan karena obat terlarang? Ataukah gadis itu memiliki kelainan yang membuatnya tidak suka makan atau semacamnya? Jujur saja, di luar penampilannya yang menyeramkan, gadis itu memang terlihat normal.
"Omong-omong," gadis itu mengulurkan tangan. "Namaku Ino."
Sakura hanya menatap tangan gadis itu tanpa menjawab atau menyambutnya. Sepertinya Ino mengetahui jika Sakura masih tidak nyaman dan memutuskan untuk tidak memperdulikan hal itu lalu berdiri dari kasurnya.
"Aku sudah tahu namamu, jadi tidak perlu menyebutkannya." Ino menunjuk pada setumpuk koper di ujung ruangan. "Itu barang-barangmu, bukan?"
Sakura melihat dua koper besar dan tas punggung yang sama persis dengan apa yang dibawakan oleh sang supir yang tadinya ia lihat sebelum kehilangan ingatan.
"Kau mau membereskan barang-barangmu atau ikut denganku untuk tur?"
"Tur?"
Ino berdecak, "Kau kan anak baru. Jadi kurasa kau perlu melihat-lihat asrama dan sekolah, bukan?"
Kedua bahu Sakura merosot putus asa. Sepertinya memang ia harus benar-benar menerima kenyataan jika ia akan menjalani sisa harinya sebagai pelajar di sekolah ini.
"Oh, ya. Aku masih belum tahu bahkan tidak ada gosip tentang masalah yang membuatmu masuk ke sekolah ini."
"Aku tidak tahu."
"Kau tidak tahu atau kau tidak mau memberitahu?" tanya Ino mengangkat alisnya
Sakura mendelik, "Aku benar-benar tidak tahu."
"Yang benar saja," kata Ino memutar mata. "Mungkin kau bisa mengetahuinya saat bertanya di kantor administrasi nanti atau pada guru pembimbingmu di kelas bimbingan mulai besok."
"Guru pembimbing? Kelas bimbingan?" tanya Sakura bingung
Ino mengangkat bahunya tak acuh, "Kau tahulah sekolah apa ini. Kita mendapatkan satu pelajaran khusus setiap harinya untuk mengatasi masalah yang membuat kita masuk ke sekolah ini."
Kini Sakura terdiam.
Jika memang seperti itu, bukankah artinya ia akan benar-benar diperlakukan sebagai murid sakit jiwa?
"Omong-omong, selamat datang di Sekolah Konoha!"
"Sekolah Konoha?"
"Kau tidak tahu nama sekolah ini?" kini Ino benaar-benar terlihat kesal
Sakura berdecak dan membuang muka pada jendela di sampingnya yang memiliki teralis besi selayaknya penjara. "Yang aku tahu jika sekolah ini sekolah sakit jiwa."
Ino tertawa, "Yah itu kan nama aliasnya. Pokoknya selamat datang!"
Sakura sama sekali tidak senang dengan penyambutan yang ramah itu. Ia memutuskan untuk turun dari kasur dan berjalan ke arah kopernya yang diletakkan begitu saja. Bahkan setelah membukanya, Sakura sama sekali tidak merasa senang karena baju serta barang kesayangannya berada di dalam koper tersebut.
Airmatanya kembali menggenang di pelupuk mata namun ia berusaha keras untuk menahannya agar tidak terjatuh. Sakura tidak bisa membayangkan jika orang tuanya memang benar mengirimkannya untuk sekolah di sini dan menyiapkan segala keperluannya seperti ini.
Mungkin satu-satunya cara untuk membuatnya keluar dari tempat ini adalah ia harus membuktikan jika dirinya seorang remaja normal yang tidak layak untuk berada di tempat ini.
Tiba-tiba ia merasakan sebuah tangan yang kurus menyentuh bahunya, "Aku tahu ini pasti berat untukmu yang tiba-tiba saja harus bersekolah di sini dan melepas kehidupan normal. Aku juga sama sepertimu setahun lalu."
"Kau berada di sini selama satu tahun?" tanya Sakura terkejut
"Yap. Mungkin karena aku tidak melakukan dengan baik apa yang mereka berikan di kelas bimbingan."
"Kelas bimbingan ini... apa yang akan diberikan pada kita?"
Ino mengangkat bahunya, "Tergantung apa masalahmu. Sudah kukatakan jika setiap orang memiliki masalahnya sendiri yang membuat mereka masuk ke sekolah ini."
"Lalu, apa yang mereka lakukan padamu di kelas bimbingan?"
"Kau tidak perlu tahu," jawab gadis itu memutar matanya tidak suka
Sakura mendengus dan kembali membuka koper serta tas punggungnya. Ia ingin menangis melihat semua barang yang seharusnya berada di rumahnya sekarang berpindah tempat ke sebuah kamar asing yang akan ia tempati entah berapa lama.
Melihat kesedihan Sakura, tentu saja membuat Ino tidak nyaman. Ia tidak ingin melewatkan hari dengan mendengarkan gadis itu menangis.
"Hey, lupakan barang-barangmu. Kau bisa mengaturnya nanti, bagaimana kalau kita mengambil buku dan seragammu?"
Sakura mengangkat kepalanya, "Buku dan seragam?"
"Kau akan mulai masuk sekolah besok, nona. Tidak mungkin buku dan seragammu akan berjalan sendiri ke kamarmu, bukan?" Ino lalu mengerling padanya dengan jahil. "Sekalian tur, bagaimana?"
"Terserahmu saja," balas Sakura menghela nafas
# # # # #
Sakura selalu berpikiran jika tidak mungkin sekolah yang tidak disorot oleh media atau diketahui lokasinya oleh umum akan diberikan fasilitas yang baik. Ia bahkan berpikir jika dirinya akan tinggal di sebuah tempat yang kotor dengan tikus, debu dan serangga dimana-mana.
Tapi ia salah.
Ia terpesona saat keluar dari kamarnya dan melihat lorong yang bersih dengan disinari oleh cahaya matahari yang masuk dari jendela berteralis besi yang berada di ujung lorong. Meski penataan kamarnya terlihat seperti hotel, Sakua benar-benar tidak mengira jika tempat ini berbeda dengan apa yang ia bayangkan.
"Nah, kamar kita nomor dua ratus dua. Kuharap kau melihat agar tidak salah masuk karena buru-buru atau karena semua pintu terlihat sama."
"Tidak akan," jawabnya melihat setiap kamar yang memiliki nomor di pintunya persis hotel
"Omong-omong, kita punya tiga asrama berbeda."
Sakura mengeryit, "Apa bedanya?"
"Asramanya dibedakan sesuai tingkatan. Melati untuk kelas satu, Matahari untuk kelas dua dan Mawar untuk kelas tiga. Karena kita kelas dua, kita berada di asrama Matahari."
"Kenapa harus nama bunga?"
Ino mengangkat bahunya yang kurus, "au bisa bertanya pada kepsek."
Sakura mengikuti teman sekamarnya itu turun ke tangga berputar ke sebuah ruangan yang cukup luas dengan TV berukuran sedang, sofa yang terlihat empuk, meja di tengah ruangan dan lemari yang berisi buku-buku di ujung ruangan.
"Ini ruang santai. Kau hanya boleh berada di sini setelah pulang sekolah hingga jam delapan malam." Ino tersenyum licik saat menoleh padanya. "Ada CCTV di ruang santai ini, jadi mereka bisa mengetahuinya jika kau melanggar peraturan."
Sakura mengangguk mengerti. Kemungkinan besar ia tidak akan mau berada di ruang santai karena itu artinya ia harus bergaul dengan para murid asramanya yang bermasalah, bukan? Jika mereka semua memiliki sifat yang ramah dan menyenangkan seperti Ino, itu tidak akan masalah untuknya.
Tapi ia yakin, tidak semua orang di sekolah ini memiliki sifat yang sama dengan Ino. Lebih baik menghindari masalah, batin Sakura.
Sakura kembali mengikuti Ino menuju sebuah pintu di ujung ruangan yang ternyata pintu keluar asramanya. Pemandangan yang berada di luar asrama sedikit mengejutkannya karena ada sebuah air mancur yang dikelilingi oleh bunga hias berwarna-warni yang terawat. Bukan hanya itu, ada dua gedung lain yang berada di masing-masing sisi gedung asramanya.
"Nah, di kanan itu asrama Mawar dan yang kiri asrama Melati." Ino lalu mengangkat tangannya untuk berbisik. "Lebih baik jangan pergi ke asrama lain tanpa ijin atau kau akan menemui masalah."
"Kurasa semua yang ada di sini masalah untukku," sahutnya memutar mata
Ino tertawa, "Yah kau sudah menjadi bagian dari kami jadi terbiasalah untuk menghadapi masalah itu. Nah, sekarang kita ke kantin."
"Kantin?" Sakura mengeryit. "Kukira sekolah ini mengatur makanan kita sehari-hari seperti di dalam penjara."
"Yah, kau benar. Meski aku bilang kantin, tapi kita tidak bisa memilih menu makanan." Ino menghela nafas. "Kantin hanya untuk tempat makan bersama."
Sakura memutar mata, "Kalau begitu aku tidak tertarik ke tempat itu. Ayo, ke tempat selanjutnya."
"Wah, kau tidak suka ke kantin juga?" entah kenapa mata Ino terlihat berbinar penuh ketertarikan. "Jangan-jangan kau sama denganku juga?"
Saat Sakura ingin membuka mulutnya untuk menanyakan maksud dari gadis itu, tiba-tiba saja dari belakang ada seseorang yang memeluk mereka. Andai saja Sakura tidak menahan tubuhnya, ia pasti sudah jatuh berguling karena beban yang muncul tiba-tiba dari belakang.
"HALO!"
Sakura dan Ino langsung menoleh orang yang memeluk mereka dari belakang. Sakura langsung membulatkan matanya saat melihat penampilan ala punk rock yang mencolok pada gadis itu. Rambut berwarna kemerahan, anting di hidung, bibir dan kedua telinga yang lebih dari tiga anting.
Apa penampilan seperti itu diperbolehkan di sini?
Sakura langsung menepis tangan gadis itu dari bahunya dan menjauh selangkah. Ia melirik Ino yang terlihat sama sekali tidak keberatan dengan kedatangan yang tiba-tiba dari gadis itu, bahkan membalas pelukannya.
"Halo, Karin. Baru selesai kelas bimbingan?" tanya Ino ramah
Karin, gadis berdandan punk rock itu memutar matanya saat menjawab. "Jangan bicarakan itu, membuat kepalaku sakit saja." Lalu melirik Sakura. "Siapa dia?"
Apa gadis itu selalu memeluk siapa saja meski ia tidak mengenalnya? Batin Sakura bertanya.
"Oh, dia si anak baru itu."
Gadis itu langsung menatap Sakura dari ujung rambut hingga ujung kaki, "Aku Karin, asrama Matahari sama seperti kalian."
"Haruno Sakura," ucapnya sedikit tidak suka
"Nama yang cocok untuk rambutmu." Karin lalu mengangkat alisnya. "Lalu, apa masalahmu?"
"Masalah?" tanya Sakura tidak mengerti
Karin memutar matanya, "Yang membuatmu masuk ke sekolah ini, tentu saja."
Ia mendengus kesal mendengar nada bicara gadis itu. "Aku tidak mempunyai masalah."
"Ya, ya, ya. Lalu kau masuk ke sekolah ini karena memang ini? Yang benar saja," cibir gadis itu melipat kedua tangannya
Sakura sedikit tersinggung karena gadis itu tidak mempercayainya, sama seperti Ino. Tapi lagi-lagi ia tidak ingin membantahnya dan tidak ada gunanya berdebat dengan murid sekolah ini.
"Karin tinggal di kamar dua ratus enam dan kami cukup akbran karena masuk ke sekolah ini di tahun yang sama," jelas Ino
Tidak heran mereka akrab, batin Sakura.
Dan melihat penampilan Karin, ia bisa menduga apa masalah gadis itu hingga bisa berakhir di sekolah ini. Apalagi jika bukan karena penampilan mencolok gadis itu? Atau mungkin saja Karin memang sengaja ingin bersekolah di sini karena peraturannya tidak seketat sekolah biasa.
"Oh, ya. Kalian mau kemana?" tanya Karin
"Hanya mengantarnya berkeliling dan mengambil seragam serta buku-bukunya karena Sakura akan mulai masuk sekolah besok," jelas Ino
Karin mengangguk mengerti lalu menguap, "Sebenarnya aku ingin ikut berkeliling tapi karena aku baru sajadari kelas bimbingan, yang kau tahulah betapa membosankannya itu hingga membuatku ingin tidur, jadi lebih baik sekarang aku ke asrama saja. So, bye."
Diam-diam, Sakura menghela nafas lega. Entah kenapa ia merasa tidak bisa berteman baik dengan Karin seperti ia merasa nyaman dengan Ino yang ramah. Apalagi dengan dandan gadis itu yang unik, sebagai orang normal tentu saja ia masih merasa risih.
Setelah Karin meninggalkan mereka, Ino mengantar Sakura ke sebuah gedung besar yang berseberangan dengan wilayah asrama setelah melewati sebuah taman bunga yang memisahkan kedua gedung tersebut. Saat itu, ia melihat gedung lainnya di bagian ujung wilayah asrama miliknya.
"Oh, itu asrama pria." Jelas Ino seolah dapat membaca pikirannya. "Jangan coba-coba ke tempat itu untuk menemui pria atau kau akan mendapatkan hukuman langsung dari kepala sekolah. Dan aku yakin, kau tidak ingin mengetahui apa hukumannya."
Sakura meringis, "Tenang saja. Aku tidak tertarik ke sana."
"Baguslah. Aku senang kau masih berpikiran jernih." Ino kemudian memiringkan kepalanya pada Diana. "Apa kau benar-benar tidak memiliki masalah yang membuatmu masuk ke tempat ini?"
"Itulah yang kukatakan," sahutnya kesal
Tapi sepertinya Ino tidak menyadarinya, "Yah, kau bisa menanyakannya nanti pada orang tuamu. Meski kita terisolasi dari dunia luar, tapi setiap sebulan sekali kita mendapatkan kunjungan dari keluarga."
Sakura berhenti berjalan dan menahan Ino yang kemudian menoleh padanya, "Kau bilang apa? Terisolasi? Dan kita diijinkan bertemu keluarga sebulan sekali?"
Gadis itu tersenyum pahit, "Begitulah. Kau tahu kenapa kita terisolasi dari dunia luar, sebagian dari murid sekolah ini memiliki masalah yang harus diperbaiki dan bila gagal, yah... rumah sakit jiwa menunggumu."
"Rumah sakit jiwa?" ulang Sakura bergidik
"Sepertinya kau kekurangan informasi tentang tempat ini, ya?"
"Apa maksudmu dengan rumah sakit jiwa menunggu?" tanyanya mengabaikan sindiran tersebut
Ino menghela nafas dan entah kenapa wajah gadis itu terlihat murung. "Kita semua yang ada di tempat ini memiliki waktu untuk menyelesaikan masalah kita hingga lulus. Jika sekolah masih menganggap kita masih belum siap untuk hidup dengan normal, kita akan di kirim ke tempat itu."
Sakura menelan ludah, "Rumah sakit jiwa?"
Gadis itu menangguk.
Ini tidak bagus.
Ia tahu sekolah ini disebut sebagai sekolah sakit jiwa. Tapi ia tidak pernah menyangka jika memang rumah sakit jiwa akan terlibat! Bahkan kini bukan hanya itu yang harus ia khawatirkan karena sepertinya semua orang mengetahui apa masalah mereka hingga berakhir di tempat ini.
Tapi tidak dengan Sakura.
Kebingungan Sakura terlihat jelas dengan gadis itu tiba-tiba diam dengan tubuh bergetar dan kedua tangannya terkepal di sisi tubuh. Ino sudah melihat murid yang datang dan pergi dari sekolah selama ini tetapi ia tidak pernah melihat gadis seperti Sakura yang tidak mengetahui alasannya berada di sini.
Ino tersenyum kecut. Ia tidak seharusnya mengkhawatirkan orang lain karena ia sendiri memiliki masalah yang harus diselesaikan atau rumah sakit jiwa menunggunya.
"Sakura," panggilnya menyadarkan gadis itu. "Ayo kita ke ruang administrasi dan ambil seragam serta bukumu."
# # # # #
Keduanya memasuki gedung sekolah dan mendapati masih banyak murid dengan seragam yang sama seperti Ino berkeliaran, menatap tajam pada Sakura yang masih memakai pakaian biasa. Jelas sekali dirinya memang seorang murid baru dan sadar jika ia memang mencolok. Tapi Sakura berusaha untuk mengabaikan tatapan penasaran padanya dengan berjalan mengikuti Ino.
Sekolah itu juga tidak terlihat seburuk bayangannya. Tidak ada coretan di dinding, tidak ada sampah bertebaran dan yang lebih penting, semua ruangan yang ia lewati terlihat normal seperti sekolah umum. Kecuali satu, semua jendela yang berada di sekolah itu memiliki terealis besi seperti yang ada di asramanya.
"Nah, di sini ruang administrasinya." Kata Ino bergeser sedikit. "Kurasa kau bisa masuk sekarang."
Sakura mengeryit, "Kau tidak ikut masuk?"
Gadis itu menggelengkan kepalanya hingga terlihat siap untuk jatuh ke lantai karena lehernya terlalu kurus, "Aku ada perlu sedikit dengan teman-temanku yang lainnya. Jangan manja, kau bisa membawa buku dan seragammu sendiri, kan?"
Mengabaikan cemooh itu, Sakura memutuskan untuk memasuki ruang administrasi tanpa mengatakan apa pun pada Ino. Seperti ruang adminstrasi pada umumnya, ada petugas yang berjaga di balik sebuah meja dengan komputer dan beberapa dokumen yang sedang ia kerjakan.
Sakura mendekati dan menyapa petugas itu, "Uhm... maaf, bu?"
Petugas itu sudah tua, dengan uban memenuhi kepalanya dan sambil menyipitkan matanya yang terlihat sudah rabun, ia menatap Sakura. "Ada yang bisa dibantu?"
"Haruno Sakura-"
"Oh, murid baru yang membuat kekacauan tadi pagi?" potong petugas itu dengan ketus
Sakura menahan kekesalannya dengan tersenyum, "Ya... kurasa itu saya. Uhm, mengenai seragam dan buku-"
Tanpa membiarkan Sakura menyelesaikan kalimatnya, petugas itu berdiri dari tempatnya dan melangkah pergi ke sebuah meja di belakangnya. Di sana, petugas itu membawa setumpuk buku yang diikat dengan tali dan sebuah plastik berwarna hitam.
"Ini, buku dan seragammu. Jika ada keperluan lain, kau bisa bertanya pada guru pembimbingmu."
"Guru pembimbing?" tanya Sakura tidak mengerti
Petugas itu mendengus lalu duduk di tempatnya, "Setiap murid di sekolah ini memiliki guru pembimbing yang bertanggung jawab untuk mereka. Oh, ya." Petugas itu lalu memberikan sebuah kertas dan buku kecil padanya. "Kertas ini jadwal sekolahmu dan buku ini berisi peraturan sekolah seta hukuman yang akan kau terima jika melanggar."
Sakura menghela nafas saat melihat jadwal sekolah barunya. Ia menatap setiap pelajaran yang sama persis dengan apa yang ia dapatkan di sekolah umum, kecuali satu.
Kelas bimbingan.
Pasti ini yang disebut oleh Ino dan Karin tadi.
"Ada lagi yang bisa dibantu?" tanya petugas itu
"Uhm, kelas bimbingan ini-"
Kau harus pergi ke kelas itu bersama dengan guru pembimbingmu untuk mengatasi masalah yang membuatmu masuk ke sekolah ini," potong petugas itu menjelaskan
Sakura mendengus. Apa petugas itu tidak bisa jika tidak memotong pertanyaannya?
"Uhm, karena itu saya tidak tahu masalah saya apa." Sakura menatap kertas jadwal sekolahnya. "Apa saya-"
"Kau akan diberitahu besok oleh pembimbingmu," potong petugas itu lagi
Lebih baik aku pergi dari sini, batin Sakura kesal.
Ia memasukkan kertas yang berisi jadwal sekolahnya lalu membawa buku-buku berat yang akan menjadi miliknya selama satu tahun ke depan serta plastik yang berisi seragam sekolahnya. Ia tidak mau bertanya bagaimana mereka mengetahui ukuran seragamnya karena pasti sudah bertanya pada orang tuanya terlebih dahulu.
Ternyata, membawa buku-buku itu tidak semudah yang ia kira. Tangan Sakura mulai terasa sakit saat menyelusuri lorong untuk keluar dari gedung sekolah sambil berharap jika ia tidak tersesat karena tidak melihat Ino dimana pun untuk menolongnya.
Meski dirinya tidak mau bergantung pada siapa pun, termasuk Ino, Sakura mengakui jika dirinya merasa kesulitan untuk mengingat jalan sekolah ini.
"Perlu bantuan?"
Mendengar suara asing di telinganya membuat Sakura terkejut dan menoleh sambil melemparkan buku-buku berat yang ia bawa pada orang di belakangnya. Tentu saja, terdengar suara keluhan saat semua buku itu mengenai orang tersebut.
"AW!"
Mata Sakura langsung membulat saat menyadari perbuatannya. "Astaga! Maafkan aku!"
Ia hendak menolong pria yang terjatuh di lantai dengan buku-buku miliknya, namun berhenti saat melihat penampilan orang tersebut.
Rambut pirang berantakan, anting di kedua telinga, tidak memakai seragam dengan dan rapi dan terlebih lagi, seorang pria!
Sakura langsung melangkah mundur, membatalkan niatnya untuk menolong. Ia tidak pernah melihat pria itu, bahkan saat bersama Ino tadi, ia tidak melihat pria itu dimana pun! Bagaimana jika pria itu orang yang berbahaya?
"Hey," pria itu masih duduk di lantai menatapnya dengan sepasang mata biru. "Kau tidak akan menolongku?"
"I-itu salahmu karena mengejutkanku dari belakang!"
"Aku tidak menyalahkan siapa pun," sahut pria itu lalu berdiri. "Karena kau tidak menolongku, aku juga tidak akan menolongmu untuk mengambil buku-buku itu."
Sakura menganga.
"Aku melihatmu keluar dari ruang administrasi, membawa buku serta plastik yang pastinya berisi seragam karena sekarang ini kau mengenakan pakaian biasa, kau pastilah anak baru itu, bukan?" tebak pria itu menyengir
"Ya, aku si anak baru itu." Sahut Sakura memutar mata lalu berjongkok untuk mengambil buku-buku miliknya
Tak di duga, pria itu ikut berjongkok di depannya. "Siapa namamu?"
"Bukankah seharusnya kau mengenalkan dirimu sebelum bertanya nama orang lain?"
"Oh," pria itu kembali menyengir lalu mengulurkan tangannya. "Uzumaki Naruto. Kau?"
Sakura memperhatikan tangan pria itu sejenak lalu menyambutnya, "Haruno Sakura."
Entah kenapa, mata biru Naruto terlihat berkilat penuh semangat saat tersenyum lebar. "Wah! Memang cocok dengan warna rambutmu, Sakura-chan!"
"Terima kasih."
Naruto mendekatkan kepalanya, "Kau tidak terlalu ramah, ya? Apa masalahmu untuk masuk ke sekolah ini? Seorang ansos? Tidak mau keluar dari rumah?"
Ia menghela nafas, lelah mendengar pertanyaan yang sama. "Bukan urusanmu, yang pastinya bukan seperti yang kau sebutkan karena aku memiliki banyak teman."
"Benarkah?" tanya Naruto mengangkat alisnya. "Lalu kenapa kau ketus terhadapku?"
Sakura menghela nafas, berhenti memungut buku-bukunya dan menatap lurus pada Naruto. "Bisakah kau menyingkir? Aku tidak berminat untuk bergaul dengan kalian."
Alih-alih tersinggung, Naruto malah tertawa. "Dari kalimatmu, kau terlihat masih berpikiran jika dirimu normal, ya?"
"Aku memang normal. Hanya sebuah kesalahan yang membuatku berada di sini."
"Ckckck, Sakura-chan. Bagi orang tua dan masyarakat, kita ini adalah kesalahan itu." Naruto lalu berdiri dengan tingginya yang menjulang. "Kuberitahu nih, sekolah ini tidak seburuk yang dibayangkan oleh orang-orang di luar sana. Dan soal itu, kau akan tahu sendiri nanti."
Setelah mengatakannya, pria itu pergi begitu saja melewatinya dan meninggalkan Sakura yang merasa telah ditampar dengan keras oleh Naruto. Apa pemikirannya salah tentang sekolah ini hingga Naruto bisa mengatakan hal itu padanya?
Apa dirinya terlalu sombong dengan mengira dirinya seseorang yang normal namun kenyataannya ia berada di tempat ini?
Tapi tidak ada yang dapat sakura pikirkan tentang dirinya yang pantas untuk masuk ke sekolah ini. Dirinya selalu menjalani kehidupan normal, tentu saja ia tidak bisa menerima begitu saja dirinya berada di tempat asing yang dipenuhi oleh orang-orang asing dengan berbagai masalah.
Lagi-lagi, Sakura merasakan pandangan matanya mengabur. Ia memeluk lututnya dan menyembunyikan wajahnya agar tidak memperlihatkan airmatanya pada siapa pun.
Menangis di lorong sekolah yang asing bukan yang ia inginkan, Tapi untuk kali ini, Sakura tidak peduli.
"Sakura?"
Lagi-lagi ia mendengar seseorang menyapanya, kali ini suara feminim yang ia kenal.
"Apa yang terjadi padamu?"
Ia mengangkat kepalanya dan melihat Ino yang terlihat khawatir. Diam-diam, Sakura merasa lega karena yang datang itu adalah Ino. Ia tidak ingin menangis dan memperlihatkan keadaan menyedihkannya seperti sekarang ini pada orang asing.
"Apa seseorang menyerangmu?" tanya Ino panik
Sakura menggelengkan kepalanya. Ia tidak memilih untuk tidak menjawab pertanyaan gadis itu dan mengusap airmatanya lalu kembali memungut buku-buku miliknya sebelum berdiri.
"Kubantu bawakan bukumu," kata Ino mengambil beberapa buku darinya. "Jangan katakan kau menangis karena merasa keberatan membawa ini semua?"
"Tentu saja tidak," jawab Sakura dengan suara parau
Ino mengeryit, "Lalu kenapa?'
"Kau sudah menemui teman-temanmu?" tanya Sakura mengabaikan pertanyaan Ino
"Ya. Aku baru saja selesai dan mau kembali ke asrama saat melihatmu duduk di tengah lorong. Sebenarnya ada apa denganmu?"
"Kau tidak perlu khawatir," kata Sakura menunduk. "Lagipula, kau baru mengenalku."
Ino mengerang, "Ada apa sih denganmu? Sepertinya kau tidak ingin berteman dengan kami yang berasal dari sekolah ini karena kami memiliki masalah? Bukankah berteman itu tidak memandang siapa dan darimana kau berasal? Aku kira sudah menjadi teman!"
Sakura terdiam.
Teman?
Apa berteman dengan murid sekolah yang terkenal dengan banyak masalah seperti ini akan baik-baik saja?
Tapi Ino sudah menganggapnya teman. Gadis itu juga berusaha menghiburnya, mengenalkannya dengan lingkungan baru dan bahkan kini membantunya. Selain fisik gadis itu, bahkan Sakura tidak menemukan ada yang salah dengan Ino.
Atau mungkin belum.
"Sakura?"
Ia menoleh pada Ino yang kini terlihat benar-benar cemas, "Apa aku terlalu keras? Maaf-"
"Apa kita berteman?" potong Sakura
"Eh?" Ino terlihat terkejut. "Tentu saja! Kau teman sekamarku dan aku menanggapmu teman sejak mengetahui namamu. Apa ada yang salah?"
Sakura tersenyum, "Tidak ada. Hanya saja aku baru saja menyadari, itu artinya kau teman pertamaku di sini."
# # # # # #
TBC
Readers tersayang,
Yang merasa Risa plagiat hanya karena sebuah typo, tolong jawab PM dong. Tanggung jawab dengan pernyataan kalian yang sudah membuat orang lain salah paham. Atau mungkin, kalian bisa bertanya pada Risa sebelum menuduh.
Kami menerima kritikan yang sopan, bukan tuduhan.
Love, Risa Goryukanda.
