[1] udah liat event Ghana kemaren? Dan Boomerang Making Film? MOMEN PANCHAMNYA BANYAK ASDFGHJLKFKAJSKJD

[2] happy reading :)

.

-:-

.

05

Pertemuan pertama mereka adalah saat Woojin berjalan pulang selepas senja sehabis berkelahi. Seragam sekolahnya robek sana-sini, wajahnya penuh lebam, tubuhnya lebih-lebih lagi. Sakit yang paling sakit berasal dari lengan kirinya yang tadi sempat dipukul dengan batang kayu.

Saat itu, gerimis pun turun. Woojin berhenti melangkah, menengadah, berniat membiarkan rintik membasahi tubuhnya.

Kemudian seperti drama picisan yang sering ditonton gadis-gadis di kelasnya, sebuah payung biru menghalangi pandangan Woojin. Ia menurunkan pandangannya, hanya untuk bersitatap dengan manik segelap jelaga milik pemuda tinggi berkulit pucat.

Segalanya terasa begitu aneh, surreal, dia tidak tahu bagaimana cara mengatakannya. Yang jelas Woojin tidak lagi mendengar gerimis yang mendadak menjadi deras, maupun suara bising kendaraan dan orang-orang yang berlarian di sekelilingnya. Waktu Woojin membeku, pusat dunianya dirampas seluruhnya oleh sosok yang begitu indah dalam kungkungan hujan.

Lalu pemuda itu mengaduh, sontak memegangi lengan kirinya. Dan Woojin akhirnya sadar bahwa sakit di sekujur tubuhnya—terutama di lengan kiri—mulai berkurang.

Mata Woojin membulat kala otaknya mulai memproses apa yang terjadi, dan siapa orang ini.

"K-kau..."

Woojin tidak sempat menyelesaikan ucapannya, sebab si tinggi lebih dulu menarik lengannya ke minimarket terdekat. Tanpa banyak bicara, ia membeli alkohol, kapas, perban dan obat luka. Beberapa menit kemudian, keduanya berakhir di halte dekat situ, dengan sang belahan jiwa yang mengobati luka Woojin penuh kehati-hatian, ditemani sisa-sisa air dari cucuran atap.

"Siapa namamu?" Woojin bertanya lamat-lamat.

Pemuda itu kembali memandang tepat di mata Woojin, dalam-dalam, membuat jantung Woojin berdetak kencang.

"Guanlin, Lai Guanlin. Kakak sendiri?"

Woojin meneguk ludah, tenggorokannya kering, wajahnya panas. "Park... Woojin."

Guanlin tersenyum menampakkan gusi-gusinya. "Woojin-hyung."

Woojin menunduk, tersipu, merasa aneh, perutnya diaduk-aduk, geli, otaknya penuh ledakan, aneh, aneh, tapi dia suka.

Woojin telah jatuh cinta.

.

-:-

.

06

Guanlin bilang, dia langsung tahu kalau Woojin adalah soulmate-nya saat melihat Woojin menengadah waktu itu. Makanya Guanlin sengaja memayungi Woojin.

"How?"

"Tidak tahu. Kakak seperti magnet, tahu-tahu aku sudah tertarik." (Woojin memasang wajah pura-pura muntah). "Terus lenganku tiba-tiba sakit sekali. Aku jadi kesal."

Woojin mengusak puncak kepala Guanlin gemas. Ia tahu Guanlin tidak benar-benar marah padanya. Ia takkan bisa, sebab Woojin juga begitu.

Guanlin ternyata baru pindah dari Taiwan, mengikuti kakaknya yang praktek di Korea. Dia adalah siswa kelas satu yang baru masuk di sekolah Woojin, setingkat di bawah Woojin. Sebenarnya Guanlin lebih muda dua tahun, tapi ia mengikuti akselerasi di sekolah menengah. Woojin tidak heran Guanlin bisa menguasai bahasa Korea dalam waktu singkat (dia memang secerdas itu).

Ayah Guanlin meninggal tujuh tahun yang lalu karena sakit. Guanlin bilang, ibunya kini sudah tua dan mulai sakit-sakitan, dan Guanlin tidak bisa mengurusnya seorang diri di Taiwan. Maka ia memutuskan untuk pindah ke Korea secepatnya. Sekolah Guanlin cukup jauh dari tempat prakteknya Kyulkyung, jadi Guanlin meminta tempat tinggal sendiri (yang kini ditempatinya bersama Woojin, dimana Guanlin yang membayar sewa, sementara Woojin mengurus rumah dan makan mereka sehari-hari) (Kyulkyung selalu mengejek mereka dengan sebutan suami-istri, tapi keduanya tidak pernah ambil pusing).

Perkara belahan jiwa, ayahnya bilang, beliau baru bertemu ibu Woojin saat berumur tiga puluh, sementara sang ibu dua puluh lima. Keduanya langsung memutuskan untuk menikah setelah dua bulan berpacaran. Woojin sempat protes kenapa mereka bisa berkomitmen secepat itu, namun sejak mengalami sendiri bagaimana rasanya bertemu belahan jiwa, Woojin pikir ia bisa mengerti.

Ibu woojin meninggal saat melahirkan Woojin. Ayahnya menyusul dua tahun lalu karena kecelakaan kerja. Woojin yang sudah terbiasa mandiri sejak kecil, hanya menangis seharian. Setelahnya, ia langsung bangkit untuk menghadapi ujian masuk SMA. Tabungannya ia bagi menjadi uang sewa rumah, uang makan, dan keperluan darurat. Selama liburan kelulusan SMP, Woojin bekerja part time menjadi pengantar sayur di pagi hari, waiter sampai jam empat sore, lalu menjadi kasir minimarket 24 jam mulai pukul enam hingga tengah malam.

Saat akhirnya ia berhasil diterima di SMA dekat situ, Woojin hanya menjadi tukang sayur dan kasir saja. Tapi tidak lama, sebab berandalan dari sekolah tetangga sering mencegat ia dan teman-temannya untuk dipalaki atau dijadikan kacung. Katanya, ketua preman itu anak dari seorang yang berpengaruh. Makanya sekolah tidak mengambil tindakan apa-apa. Bahkan (katanya) polisi pun tidak berani turun tangan.

Woojin tentu tidak suka. Kebetulan juga ia menguasai taekwondo. Dengan niat melindungi, ia mengumpulkan teman-temannya untuk melawan bersama-sama. Nampak seperti pelajar yang melakukan tawuran tidak penting, padahal sebenarnya Woojin hanya membela diri—sekaligus melindungi yang lain.

Kemudian, satu per satu dari kawan-kawan Woojin mulai berhenti. Ada yang sudah tidak bisa berkelahi karena cidera, ada yang takut nanti cidera seperti yang lain, dan ada yang telah bertemu belahan jiwanya.

Seperti Haknyeon.

Haknyeon sudah seperti penasehat perang Woojin yang brilian karena bisa mengurangi jumlah musuh tanpa mengorbankan banyak pasukan. Woojin juga tidak terlalu mengerti, pokoknya dia cerdas dan licik, juga pintar berkelahi. Sekarang ini musuh mereka hanya tinggal tiga-empat orang, itu semua berkat Haknyeon. Woojin ingat sekali hari dimana Haknyeon berkata bahwa ia tidak akan terlibat lagi.

"Aku bertemu belahan jiwaku," ceritanya, berbinar seperti anak kecil melihat sulap, "namanya Euiwoong. Dia manis, sedikit galak tapi perhatian. Dia seorang trainee. Aku tidak mau melukainya. Dia sudah bekerja sangat keras demi cita-citanya."

Woojin menerima, meski sedikit kecewa. Karena musuh mereka sekarang juga sudah hampir menghilang, ia pikir, tidak apa jika hanya sendiri.

Lalu, Woojin bertemu Guanlin.

Sekarang Woojin mengerti mengapa Haknyeon tidak ingin berbagi sakitnya dengan sang soulmate meski hanya tiga puluh persennya saja. Bukan masalah ringan/beratnya luka itu, tapi melihat bagaimana belahan jiwamu kesakitan karena dirimu, rasanya sesak sekali sampai-sampai air mata Woojin jatuh tanpa ia sadari.

Dan bahkan setelah semua sakit yang ia berikan secara cuma-cuma, Guanlin malah memintanya untuk tidak berhenti.

"Kalau Kak Woojin merasa bahwa itu adalah hal yang benar, dan Kak Woojin ingin melakukannya, maka lakukan saja."

Woojin terbengong dengan mulut menganga lebar. "Kau ini masokis, ya?"

Guanlin terkekeh, "Berlarilah, hajar mereka, buat mereka kapok, dan aku akan menanggung tiga per sepuluh dari luka-lukamu. Kakak tahu? Lebam segini tidak akan membuatmu mati, tapi kehilangan jalan hidupmu sama saja dengan kematian."

Mungkin saat Tuhan menciptakan Woojin dengan temperamen buruk dan rasa keadilan yang tinggi, ia, sambil tersenyum, juga menciptakan Guanlin dengan rasa tulus yang teramat besar agar mereka dapat saling menggenapi.

Woojin memeluk tubuh kurus itu erat-erat, "Terima kasih." bisiknya.

Guanlin tersenyum, mengelus surai Woojin penuh kelembutan.

"Jangan berterima kasih. Toh, nantinya aku juga akan memberi kakak rasa sakit yang sama."

.

continue—

.

N.

Makasih sudah baca! :D