Kyuhyun dan Sungmin saling memiliki, namun ff ini milik saya sepenuhnya
.
.
"Nggghh.." lenguhan kecil meluncur dari bibir Sungmin yang masih setia memejamkan kedua matanya. "Akhh.." ringisnya tertahan saat lelaki itu merasakan nyeri pada lengan kanannya ketika ia memutar posisi tidurnya, kedua obsidiannya mulai terbuka perlahan dan bias-bias cahaya menyilaukan mulai menembus penglihatannya
Sungmin perlahan berusaha mendudukkan dirinya menggunakan tangan kiri sebagai penopang tubuhnya. Dengan menahan rasa nyeri yang luar biasa pada sekujur tubuhnya—terutama lengan kanannya, Sungmin akhirnya berhasil duduk sambil memegangi lengan kanannya
Nyut!
Ia menggigit bibirnya menahan rintihan yang akan keluar dari mulutnya saat tak sengaja jemarinya menyentuh bagian luka tangan kanannya yang terbalut perban—tunggu! Perban?!
Cklek
Baru saja segudang pertanyaan menggerogoti kepalanya tiba-tiba pintu terbuka dan masuklah sesosok lelaki bertubuh tinggi dengan jari-jari panjangnya memegang kedua sisi nampan yang dibawanya
Lelaki tersebut tersenyum ke arah Sungmin "kau sudah bangun rupanya" ujarnya lalu melangkah menuju sisi tempat tidur
Sementara Sungmin hanya bergeming sambil menatap lelaki yang sekarang sedang meletakkan nampan di tangannya pada nakas di samping termpat tidur. Lelaki itu perlahan mendekat dan duduk di sisi tempat tidur
"Bagaimana lukamu?" tangan lelaki tersebut terulur hendak menyentuh lengan Sungmin, namun dengan cepat Sungmin menepis tangan lelaki itu
Kedua mata lelaki tersebut sempat melebar—terkejut, dengan sikap Sungmin padanya. Namun ia segera menganggukkan kepalanya—seolah mengerti dan kembali tersenyum "Jangan terlalu banyak bergerak, lukamu belum kering" ujarnya memperingati
Sungmin menatap lelaki di hadapannya dengan tajam "jangan mengaturku" ucapnya datar, namun jelas-jelas terpancar aura kekesalan pada dirinya
"Hei, tentu saja aku berhak bicara seperti itu. bayangkan saja membutuhkan tujuh perban untuk menutupi lukamu itu dan semua persediaan perbanku sudah habis karenanya, jadi jika kau banyak bergerak dan lenganmu ini kembali mengeluarkan darah sudah tidak ada persediaan perban lagi sekarang" jelasnya panjang lebar—namun seolah tuli, Sungmin justru memalingkan wajahnya mendengar penuturan tersebut
Lelaki tersebut sedikit merasa kesal melihat tingkah Sungmin yang terus mengacuhkannya "Jadi ini balasanmu setelah aku menolong dan mengobati lukamu" ia mendengus sebal
Sungmin yang mendengarnya terdiam sejenak sebelum menghela nafasnya dan kembali menatap lelaki tersebut "berapa yang kau inginkan?" tanyanya sontak membuat lelaki tersebut mengerutkan alisnya
"Maksudmu?" tanyanya tidak mengerti
Sungmin memutar bola matanya malas "Ck, tidak usah pura-pura tidak mengerti. Aku tau kau mengharapkan uangkan kan? Jadi, katakan berapa yang kau inginkan" jawabnya, membuat Lelaki tersebut terdiam dengan penuturannya
'Cih, semua orang di dunia ini sama saja. Rela melakukan apapun demi uang, bahkan menolongpun demi uang.. dasar rendahan' maki Sungmin dalam hatinya
"Mendengarmu berterimakasih saja sudah lebih dari cukup bagiku" ujar lelaki itu tiba-tiba—membuat Sungmin sedikit terkejut namun dengan cepat kembali memasang wajah datarnya
Ia tersenyum sambil mengulurkan tangannya pada Sungmin "Cho Kyuhyun imnida" ucapnya memperkenalkan diri
Sungmin mengerutkan alisnya lalu menatap tangan dan wajah Kyuhyun bergantian. Ingin sekali rasanya Sungmin segera menepis tangan tersebut. Namun saat melihat wajah Kyuhyun, Sungmin merasa Kyuhyun memperkenalkan dirinya tanpa maksud apapun-raut berbeda dengan yang selama ini Sungmin tangkap dari orang-orang yang sengaja ingin berkenalan dengannya karena uang. Selain itu entah mengapa ia merasa sudah tidak asing lagi dengan wajah orang di hadapannya itu
"Lee Sungmin" jawab Sungmin tanpa menyambut uluran tangan Kyuhyun
Kyuhyun terdiam sesaat, namun tak lama ia mengepalkan tangan hampanya dan menariknya kembali. Ia segera beranjak dari duduknya lalu mengambil nampan berisi makanan di atas nakas dan meletakkannya di samping tubuh Sungmin "makanlah, aku akan membeli perban dulu di apotek" suruhnya halus lalu mengusap pucuk kepala Sungmin sekilas sebelum menghilang dari balik pintu kamar
Sungmin bergeming—namun sesaat kemudian tangan kirinya terkepal kuat dan raut wajahnya berubah kesal 'beraninya dia menyentuhku, dia pikir dia siapa bisa seenaknya padaku!' nafasnya memburu mengingat kilas balik saat orang yang baru dikenalnya itu mengusap pucuk kepalanya
Namun ada suatu rasa yang terselip saat itu—hangat. Ya, rasa hangat menjalar ketika jemari Kyuhyun menyusup ke dalam tiap helaian surai hitamnya. Sungmin menggelengkan kepalanya cepat akibat pemikiran gila yang tiba-tiba terlintas dalam benaknya tadi
Oh Sungmin yakin sekali kepalanya membentur aspal saat ia ambruk kemarin malam, makanya pemikirannya jadi aneh begini
Ia melirik nampan yang berada di sampingnya, dua buah roti cokelat dan segelas susu terdapat di atas nampan tersebut. Hanya melihatnyapun Sungmin tau jika roti dan susu tersebut bukanlah buatan sendiri, melainkan membeli di supermarket—atau dimanapun, yang jelas ia tau pasti hal itu hanya dengan melihatnya saja
Sungmin mengambil satu buah roti lalu mulai memasukkannya ke dalam mulutnya, sekalipun roti ini memang bukan roti mahal yang biasa dimakannya ia tetap mengunyah dan menelannya. Memang pada dasarnya Sungmin bukanlah orang yang suka memilih-milih makanan, ia akan memakan makanan tersebut jika masih masuk dalam kategori layak untuk dimakan. Lagipula dia belum makan sejak kemarin dan perutnya sudah berteriak minta diisi, jadi tak heran jika kedua buah roti tersebut langsung amblas dalam hitungan menit
Satu tegukan terakhir sebelum Sungmin meletakkan kembali gelas susu yang sudah kosong itu ke atas nampan—ia rasa perutnya sudah kenyang sekarang. Merasa tidak ada kerjaan dan tidak bisa beranjak dari tempat tidur karena tubuhnya yang masih terasa nyeri, Sungmin akhirnya menyapu pandangannya ke sekeliling ruangan yang sekarang ia tempati
Sebuah kamar sederhana dengan cat warna putih yang mulai terlihat menguning, dengan bercak-bercak kehitaman dan retakan pada sudut temboknya adalah hal pertama yang ditangkap oleh penglihatannya. Dua buah jendela berukuran sedang dan lantai kamar yang juga terbuat dari kayu yang mulai terlihat usang adalah hal selanjutnya yang bisa ditangkap
Namun yang baru Sungmin sadari adalah hanya terdapat satu tempat tidur berukuran king size yang terbuat dari kayu, sebuah nakas di samping tempat tidur, serta lemari tua di dalam ruangan ini. Selebihnya hanya terdapat sebuah lampu di langit-lagit kamar tersebut
Ia tertegun melihat kondisi tersebut terlebih lagi saat ia tau jika ukuran kamar ini bahkan tidak lebih besar dari kamar mandi di kamarnya—terdengar berlebihan memang, namun itulah kenyataannya
Tiba-tiba indra penciuman Sungmin mengendus sesuatu—sesuatu yang berasal dari luar kamar tersebut. Alisnya berkerut mengingat-ingat bau apa itu, sesaat setelah mengingatnya ia segera melebarkan mata dan menyibak selimut yang masih menutupi sebagian tubuhnya
Dengan rasa nyeri luar biasa pada tubuh terutama lengan kanannya, ia berusaha turun dari atas tempat tidur tersebut dan melangkah tergopoh-gopoh meraih daun pintu dan membukanya. Setelah pintu tersebut terbuka matanya langsung bisa menangkap sebuah dapur kecil yang berada tepat di hadapan kamar. Namun ekor matanya segera tertuju pada kompor yang sedang menyala dengan sebuah panci yang sudah berwarna kehitaman dan mengepulkan asap
Segera ia melangkah dan mematikan api kompor tersebut, tangan kirinya refleks menutup mulut serta hidungnya ketika bau asap pada panci itu mulai memaksa masuk lebih dalam pada indra penciumannya—ya, ternyata bau yang dari tadi di ciumnya adalah bau hangus yang berasal dari panci tersebut
"Sebenarnya apa yang dia masak! jangan-jangan dia berniat membakar rumah ini untuk membunuhku!" kakinya beringsut mundur sambil tetap memaki Kyuhyun
Sialnya Sungmin terus mundur tanpa menyadari ujung kakinya tersandung kaki meja makan dan menyebabkan dirinya kehilangan keseimbangan lalu terjatuh membentur lantai.
"AKHHH!" jeritnya kencang saat merasakan lengan kanannya seperti terkoyak kembali—naasnya, ia terjatuh ke sebelah kanan dan menyebabkan lengannya membentur langsung lantai yang dingin itu, dan sedetik kemudian cairan merah pekat merembes mewarnai perban putih pada lengannya
Tak lama setelah itu terdengar suara gesekan pintu dari luar. "aku pul—ASTAGA SUNGMIN!" pekik Kyuhyun segera berlari menghampiri Sungmin yang sudah tergeletak sambil meringis kesakitan di lantai dapurnya. Tak diperdulikannya lagi sekantung perban, obat merah, dan alkohol yang lepas dari genggaman tangannya—pikirannya benar-benar panik sekarang
Kyuhyun segera meraih lengan kiri Sungmin lalu membantunya berdiri dan membawanya masuk menuju kamar. Dibaringkannya tubuh Sungmin dengan amat hati-hati di atas tempat tidur, obsidiannya membulat ketika melihat perban pada lengan Sungmin berubah menjadi merah pekat "bertahanlah sebentar" ujarnya cemas saat mendapati Sungmin yang sedang menggigit bibirnya—menahan sakit dengan wajah yang sudah berkeringat
Kyuhyun segera berlari keluar kamar dan mengambil kantung yang tadi terlepas dari tangannya. Ketika kembali ke kamar ia segera duduk di sisi Sungmin, lalu dengan serampangan membuka kantung di tangannya. Dihamburkannya isi dari kantung tersebut di atas kasur, lalu perlahan pandanganya menuju pada Sungmin yang sedang memejamkan matanya menahan ngilu
"Boleh aku menyentuhnya" izin Kyuhyun saat hendak melepaskan perban pada lengan Sungmin—ia masih ingat betul bagaimana Sungmin menepis kasar tangannya tadi
Namun Sungmin hanya bergeming, dan Kyuhyun menanggapinya sebagai jawaban ya. Dibukanya ikatan perban tersebut kemudian mulai melepaskannya dengan hati-hati dari lengan Sungmin
Kyuhyun terdiam sesaat memandangi luka pada lengan Sungmin—ternyata benar, luka tersebut kembali terbuka dan mengeluarkan darah. Memang lukanya tidak dalam, namun tetap saja sangat perih dan menyakitkan karena goresan luka tersebut hampir setengah lengan Sungmin dan benar-benar merobek lapisan kulit putihnya
Jika kalian bertanya mengapa Kyuhyun tidak membawa Sungmin ke dokter dan menjahit lukanya agar lebih cepat sembuh, jawabannya adalah karena Kyuhyun tidak memiliki uang—atau lebih tepatnya sekarang dia tidak memiliki cukup uang untuk biaya rumah sakit. Jadilah dengan pengetahuan seadanya ia memilih untuk mengobatinya sendiri—beruntung lengan Sungmin memang tidak perlu dijahit-menurutnya-
Iapun mulai membersihkan darah tersebut dengan alkohol menggunakan kapas yang sejak kemarin berada di atas nakas. Kemudian mulai mengolesi obat merah sambil meniupinya agar cepat mengering. Sungmin meringis saat obat merah tersebut meresap ke dalam lukanya—sangat perih dan membakar baginya
"Ini memang terasa perih, karena obat merah ini sedang membunuh bakteri yang berusaha menyerang lukamu" ujar Kyuhyun menyadari jika Sungmin merasa kesakitan, namun Sungmin malah menatapnya tajam dan mendengus kesal mendengarnya 'dia pikir aku anak kecil apa!'
Jujur Kyuhyun menyadari tatapan tidak suka yang dilayangkan Sungmin padanya, namun ia hanya mengedikkan bahunya lalu mulai melingkarkan perban pada lengan Sungmin hingga menghabiskan seluruh gulungan perban yang dibelinya. Terakhir ia mengikat perban tersebut agar tidak terlepas lalu tersenyum puas menatap hasil pekerjaannya "selesai" ia mendesah lega
Sungminpun ikut mengalihkan tatapanya pada lengannya 'tidak buruk juga' pikirnya
"Kau kenapa bisa ada di dapur tadi? seharusnya kau tetap di kamar dan tidak boleh berjalan dulu agar tubuhmu cepat pulih" ujar Kyuhyun sambil membereskan alkohol dan obat merah yang berada di tempat tidur
"Dan membiarkan rumah ini terbakar begitu" jawab Sungmin tajam
Kyuhyun mengerutkan alisnya "maksudmu?" tanyanya bingung
Sungmin memutar matanya malas "kau pergi tanpa mematikan api kompormu bodoh!" kali ini nada suaranya meninggi menahan kesal
"Eh!" Kyuhyun melebarkan matanya kaget—ia baru ingat jika ia memang sedang memasak sesuatu saat pergi tadi. Segera Kyuhyun berlari keluar kamar menuju dapur, dan tak lama ia segera kembali dengan tangan yang sudah meremas rambutnya sendiri dan lekuk wajah yang sudah seperti orang frustasi
Sungmin menaikkan sebelah alisnya melihat tingkah ajaib Kyuhyun yang sekarang sedang kembali duduk disampingnya
"Semuanya hangus" lirih Kyuhyun. "Argghh! air yang kumasak kering semua dan panciku hangus" lanjutnya lagi sambil memekik kencang dan menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur
Sungmin melebarkan matanya tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya 'Apa! jadi yang dia masak itu air?!' batinnya memekik kencang. Sungguh ia benar-benar tak habis pikir, orang dihapannya ini memasak airpun tidak bisa dan hampir menyebabkan rumahnya sendiri terbakar!
"Tapi, untunglah rumah ini tidak jadi terbakar" ujarnya sambil menatap ke langit-lagit kamar
'Untung katamu! aku hampir saja mati terbakar tadi jika tidak mematikan api kompor itu. dan yang kau pikirkan hanya rumahmu! cih, benar saja, semua orang memang selalu mementingkan miliknya sendiri'rasanya ingin sekali Sungmin meneriaki kata-kata tersebut tepat di telinga Kyuhyun, namun urung saat Kyuhyun melanjutkan ucapannya
"Jika rumah ini terbakar maka kau yang berada didalamnya pun akan ikut terbakar, dan aku benar-benar akan mengutuk diriku jika hal itu sampai terjadi padamu" ia menatap lembut ke dalam kedua bola mata kelam Sungmin seraya tersenyum tipis "aku tidak keberatan jika rumah ini terbakar habis, asalkan kau tidak berada didalamnya" lanjutnya
Sungmin terdiam mendengarnya 'apa orang ini sudah gila?' tanya batinnya. Oh, Sungmin tau, Kyuhyun sengaja berbicara seperti itu agar Sungmin simpati dan memberikan uang padanya.
Bagi Sungmin Semua manusia selalu terlihat haus akan uang dimatanya –kecuali Yesung-. Tapi satu hal yang ia lupakan—Kyuhyun bahkan belum mengetahui identitas dirinya sebagai pemilik perusahaan Lee Company sekaligus pewaris tunggal segala harta keluarganya.
Kalian bertanya mengapa Sungmin dapat memiliki pikiran senegatif itu tentang orang lain? apakah Sungmin tidak memiliki perasaan? begitu?
Itu semua karena ia memang selalu dikelilingi oleh orang-orang yang mengincar hartanya demi kepuasan duniawi mereka sendiri, dan Sungmin sudah terlalu banyak menemui orang seperti itu—bahkan kerabatnya sendiri.
Dan untuk apa ia menggunakan perasaannya pada orang lain? sedangkan orang lainpun tidak pernah memikirkan perasaan dan penderitaannya dulu ketika harus kehilangan kedua orangtuanya sekaligus—ia bahkan sudah lupa bagaimana rasanya disayangi dan menyayangi orang lain. Ya, hatinya sudah menghitam sekarang.. tidak ada lagi cinta yang mampu tumbuh didalamnya
Bahkan hingga tak menyadari bahwa masih ada orang yang tulus menyayanginya di dunia ini—Yesung, teman masa kecilnya sekaligus orang yang selalu ada untuk Sungmin dalam keadaan apapun. Dan tentu saja ada satu orang lagi—orang yang sudah mencintainya sejak pertemuan pertama mereka
"Hei, kenapa melamun?" suara Kyuhyun sontak membuat Sungmin tersadar dari dunianya
Ia menatap dingin ke arah Kyuhyun "itu bukan urusanmu" jawabnya datar
Kyuhyun mendengus kesal menerima perlakuan Sungmin padanya "kau ini, bisa tidak jangan bersikap dingin terus padaku?" ujarnya
Sungmin melirik sekilas "tidak" jawabnya singkat begitu menohok jantung Kyuhyun
"Aishhh, sudahlah lebih baik kau ganti baju sekarang, bercak darah tadi mengenai kausmu" Kyuhyun segera beranjak dari tempat tidur kemudian berjalan menuju lemari dan meraih kaus berwarna hitam di dalamnya. "Ini" iapun meletakkan kaus tersebut di samping tubuh Sungmin
Sungmin melirik kaus di sampingnya lalu menatap Kyuhyun "tidak mau" ia meraih kaus tersebut dan melemparnya tepat mengenai perut Kyuhyun—beruntung gerak refleks Kyuhyun bagus, ia langsung menangkap kaus tersebut sebelum jatuh ke lantai
"Oh ayolah Min, baju yang kau pakai sudah kotor. Aku tau mungkin kaus ini memang tidak sebanding dengan kemejamu. Tapi mau bagaimana lagi, kemejamu sudah aku buang" bujuk Kyuhyun
Sungmin melebarkan matanya, lalu sedetik kemudian melemparkan pandangan kesal ke arah Kyuhyun "KAU—"
"Bagian lengannya itu sobek dan seluruh kemejamu hampir berubah menjadi merah karena darah" potong Kyuhyun cepat membuat Sungmin bungkam. "Maaf aku membuangnya tanpa izin darimu, tapi kemejamu itu sungguh sudah tidak layak untuk dikenakan, jadi aku langsung membuangnya setelah menggantikan pakaianmu dengan punyaku" lanjutnya
"APA!" pekik Sungmin terbelalak saat mendengar kalimat terakhir Kyuhyun—ani, bukan masalah Kyuhyun membuang pakaiannya tapi ini karena Kyuhyun menggantikan pakaiannya. Ekor matanya langsung bergerak melihat baju yang sedang ia kenakan, ternyata benar baju yang ia kenakan sekarang adalah milik Kyuhyun –dan dia baru menyadarinya-
Kyuhyun menggantikan pakaiannya, berarti Kyuhyun sudah melihat seluruh tubuhnya! Kira-kira kalimat itulah yang terus berputar dibenak Sungmin. Ia mendongakkan wajahnya menatap Kyuhyun dengan ragu "Jadi.. kau—"
"Apaboleh buat, habisnya seluruh pakaianmu sudah basah dan tubuhmu menggigil semalam. Jadi mau tidak mau aku harus segera menggantinya, jika tidak bukan hanya lenganmu saja yang sakit tapi bisa-bisa kau demam tinggi" jelas Kyuhyun seolah dapat membaca pikiran Sungmin. Ia kembali memberikan kaus ditangannya pada Sungmin yang masih bergeming ditempat "tenanglah, aku tidak melakukan apapun padamu" bisiknya tepat ditelinga Sungmin
Seolah tersambar petir Sungmin segera tersadar dan mendorong tubuh Kyuhyun menjauh darinya. Ditatapnya tajam Kyuhyun yang sedang tersenyum—atau lebih tepat menyeringai kearahnya
"Cepat ganti bajumu, atau kau ingin aku yang menggantikannya lagi?" goda Kyuhyun membuat Sungmin semakin kesal padanya. Iapun segera berlari keluar dari kamar setelah melihat Sungmin yang sudah mengambil ancang-ancang untuk melemparnya dengan bantal
Namun baru saja pintu tertutup, Kyuhyun kembali membukanya dan menyembulkan kepalanya dari luar "kau tau? tubuhmu benar-benar indah, dan kulit putihmu terasa begitu lembut saat disentuh" ia menyeringai lebar sebelum dengan cepat kembali menutup pintu—menyisakan Sungmin yang sudah mengerluarkan kepulan asap dari kepalanya
"Dasar SIAL!" makinya sambil melemparkan bantal tepat mengenai pintu dan menimbulkan suara yang begitu besar—meskipun sedang sakit tenaganya masih cukup kuat bahkan untuk memukuli Kyuhyun saat ini juga
Nafasnya memburu disertai wajahnya yang memerah menahan amarahnya. Ia benar-benar kesal setengah mati karena menurutnya Kyuhyun sudah berani menginjak-injak harga dirinya
"Aissshhh" dengan kasar ia menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur, namun sedetik kemudian meringis kencang karena lengannya kembali berdenyut akibat berbenturan dengan bantal—membuat Kyuhyun yang masih setia berada di pintu luar terkekeh kecil mendengarnya
.
.
Empat hari berlalu sudah—kini lengan Sungmin sudah terasa lebih baik dan jarang berdenyut karena lukanya perlahan mulai mengering. Dan selama itu Kyuhyunlah yang selalu menggantikan perbannya, memberikannya makanan-walau hanya roti dan susu beli-, meminjaminya pakaian, juga membantunya ke kamar mandi, walau awalnya Sungmin merasa kesal dengan segala perhatian Kyuhyun padanya
Dan tanpa Sungmin sadari ia tidak pernah bosan menghabiskan sebagian besar waktunya di kamar—karena Kyuhyun terus mengajaknya bicara walaupun ia hanya meresponnya dengan satu atau dua kata, dan tak jarang Kyuhyun menggodanya—membuatnya ingin sekali menghajar wajah Kyuhyun ketika menyeringai menatapnya
Sungmin merasa hidupnya empat hari ini jauh lebih tentram dan damai ketimbang sebelumnya, karena sebelumnya ia selalu saja dikelilingi para penjilat yang berusaha terlihat baik dihadapannya namun begitu menusuk dibelakangnya. Belum lagi ia selalu dibuntuti oleh orang-orang suruhan seseorang yang ingin sekali bekerja sama dengan perusahaannya dan didatangi yeoja tidak tau malu yang mengejar-mengejarnya—ani, hartanya bukan dirinya
Sungmin terdiam di atas tempat tidurnya, sedari tadi tangannya terus menggenggam handphone miliknya yang baru dikembalikan Kyuhyun kemarin—karena sebelumnya rusak terkena air yang meresap ke dalam saku celananya saat dirinya terluka waktu itu.
Ia menghela nafasnya panjang—berusaha memantapkan pilihannya, sebelum memencet sederet nomor pada handphonenya. Didekatkannya handphone tersebut pada telinganya dan tak lama sambungannya terhubung
"YA! Lee Sungmin kemana saja kau!"pekik sesorang di sambungan telepon tersebut, membuat Sungmin sedikit menjauhkan handphone dari telinganya
"Aishh, Yesung hyung tidak usah berteriak-teriak begitu! kau mau membuatku tuli apa!" gerutu Sungmin kembali mendekatkan handphone pada telinganya
"Bagaimana aku tidak teriak-teriak! empat hari ini kau menghilang tanpa jejak dan kabar, aku mencarimu! nomormu bahkan tidak aktif waktu itu. kau hampir membuatku serangan jantung tau! dan rencanannya hari ini aku mau melapor polisi kalau kau tidak ditemukan juga" curhat Yesung panjang lebar
Sementara Sungmin hanya memutar bola matanya malas "Handphoneku rusak terkena hujan—"
"APA! jadi kau hujan-hujanan!"pekik Yesung memotong penjelasan Sungmin
"Hyung! Jangan memotong ucapanku, aku belum selesai bicara! waktu itu setelah urusanku selesai ternyata hujan deras turun dan aku berusaha mencari tempat berteduh, tapi seluruh pakaianku terlanjur basah semua" jelas Sungmin setengah berbohong
Tak ada jawaban dari Yesung—sepertinya ia sedang mencerna ucapan Sungmin, namun tak lama ia kembali membuka suaranya "baiklah, sekarang kau ada dimana? aku akan menjemputmu" ujarnya terdengar lebih tenang dari sebelumnya
"Tidak, aku belum mau pulang hyung" jawab Sungmin berhasil membuat kedua mata Yesung terbelalak sempurna
"Apa maksudmu?" tanyanya tidak percaya
"Aku bosan hyung, jika aku kembali mereka semua pasti akan kembali mengelilingiku" jawab Sungmin, dan Yesung tau persis siapa 'mereka' yang dimaksud Sungmin—siapa lagi kalau bukan orang-orang yang menginginkan uangnya?
Yesung menghela nafasnya "Jadi apa yang kau inginkan sekarang?"
"Bukankah aku sudah bilang aku tidak mau pulang dulu tadi" ujar Sungmin kesal—ia paling tidak suka mengucapkan sesuatu berulang-ulang
"Baiklah, tapi bagaimana dengan perusahaanmu? siapa yang akan mengelolanya jika kau tidak ada?" tanya Yesung berusaha memancing Sungmin agar merubah keputusannya
"Aku sudah memikirkan keputusanku ini semalaman, tentu saja aku sudah memutuskan menitipkan perusahaanku pada orang yang paling kupercayai untuk mengurusnya". Sialnya Yesung lupa jika Sungmin memang selalu memikirkan dengan sempurna hal yang akan dilakukannya
Alis Yesung berkerut "siapa?"
"Kau hyung, aku percayakan perusahaan padamu"
"Aku?" Yesung menunjuk dirinya sendiri "Tapi kau taukan aku ini tidak terlalu pandai dalam urusan bisnis, bisa hancur perusahaanmu nanti dan—"
"Aku percaya padamu, kau pasti bisa mengurusnya hyung" potong Sungmin berhasil membungkap seluruh ucapan Yesung
Yesung tersenyum dan menganggukkan kepalanya-walaupun Sungmin tidak dapat melihatanya- "baiklah, kau bisa percaya padaku"
"Oh iya hyung, jangan terima penawaran kerja sama apapun selama aku tidak ada" ingat Sungmin
"Iya-iya, tenang saja. Tapi ngomong-ngomong sekarang kau ada di mana?" tanya Yesung penasaran dari tadi
"Aku tidak akan memberi tau aku ada dimana, aku tidak mau siapapun menemuiku sekarang. Aku tidak mau jika ada yang mengetahui tentang diriku dan keberadaanku" tolak Sungmin
"Tapi aku hanya ingin menemuimu, aku berjanji tidak akan memberi tau siapapun tentang keberadaanmu"
Sungmin menggeleng "kita tidak tau hyung, bisa saja ada yang mengikutimu" ia yakin pasti orang-orang tersebut mencarinya dan akan mengikuti Yesung-karena setahu mereka Yesunglah orang terdekat Sungmin-
"Tapi—"
"Tidak ada tapi-tapian hyung! dan jangan coba-coba untuk melacak keberadaanku atau aku akan membencimu selamanya" ancam Sungmin
Yesung mencengkram rambutnya frustasi—ia selalu saja kalah dengan ancaman Sungmin "Aissshh! Oke, aku tidak akan melacak keberadaanmu. Tapi berjanjilah padaku kau akan baik-baik saja di sana"
Sungmin mengangguk "pasti!" jawabnya mantap
Setidaknya Yesung bisa lega sedikit mendengar hal itu "Baiklah, aku sedang menyetir sekarang. Jaga dirimu baik-baik dan telepon aku jika terjadi sesuatu padamu"
"Iya-iya, kau ini cerewet sekali hyung" gerutu Sungmin sebelum memutuskan sambungan telepon mereka
Setelahnya ia segera beranjak dari tempat tidur dan melangkah menuju jendela. Dikeluarkannya baterai serta kartu simya dari dalam handphone, lalu dipatahkannya menjadi dua bagian. Dan dengan sekali gerakan tangannya melempar keluar seluruh benda dalam genggamannya. Ia baru merasa puas ketika melihat sebuah mobil melintas dan melindas handphonenya itu—Sungmin benar-benar ingin menghilangkan jejak keberadaannya
'Sekarang tinggal bicara padanya' ujar batin Sungmin, sebenarnya ia ragu untuk memberi tau permintaan gilanya. Tapi mau tidak mau ia harus tetap mengatakannya—sudah kepalang tanggung jika berhenti sekarang
Kakinya melangkah menuju pintu dan dengan ragu mulai membuka pintu tersebut. Ekor matanya langsung dapat menangkap sosok Kyuhyun yang sedang makan di meja makan. Sungmin berjalan perlahan menuju meja makan lalu menarik kursi tepat di hadapan Kyuhyun dan duduk disana
"Ada apa? tidak biasanya kau keluar? kau mau masih lapar?" tanya Kyuhyun bertubi-tubi dengan mulut penuh ramen yang sedang dimakannya
Sungmin menggelengkan kepalanya "Tidak, aku sudah kenyang"
Kyuhyun menelan seluruh ramen dalam mulutnya "lalu?" tanyanya penasaran
Namun Sungmin justru bergeming dan terus menatap meja makan—membuat Kyuhyun bosan menunggu ucapannya dan akhirnya kembali menyuapi ramen ke dalam mulutnya
"Kyu" panggil Sungmin pelan dan mulai mendongakkan kepalanya menatap Kyuhyun
"Uhuk!" Kyuhyun langsung memukul-mukul dadanya dan menegak habis air dalam gelasnya
"Kenapa kau? tertelan sumpit" ujar Sungmin menaikkan sebelah alisnya bingung melihat Kyuhyun yang tiba-tiba tersedak
Kyuhyun meletakkan gelasnya yang sudah kosong kembali "Bukanlah, memangnya aku makan ramen dengan sumpit-sumpitnya apa" ujarnya kesal. "Aku hanya kaget saja, karena tadi itu pertama kalinya kau memanggil namaku" lanjutnya
"Hah?" Sungmin baru menyadari jika memang selama ini dia tidak pernah memanggil Kyuhyun dengan namanya, dan selama ini juga Kyuhyunlah yang selalu mengajaknya bicara duluan bukan dirinya
"Aku senang mendengarnya" Kyuhyun tersenyum lembut memandangi Sungmin—kali ini benar-benar senyuman, bukan seringaian seperti biasa ia menggoda Sungmin
Tubuh Sungmin mendadak kaku melihat hal itu, entah mengapa matanya jadi tidak berani lagi menatap wajah Kyuhyun "Aishh, kau terlalu berlebihan!" jawab Sungmin kesal
"Jadi, apa yang ingin kau bicarakan denganku?" tanya Kyuhyun dapat menebak tujuan Sungmin menemuinya
"Itu..." Sungmin menggigit bibirnya, lidahnya terasa kelu tiba-tiba. Padahal dari semalam ia memutuskan untuk memberi tau permintaannya—permintaan tergila seumur hidupnya
"Apa?" Kyuhyun masih setia memandangi dan menunggu lanjutan ucapan Sungmin
Sungmin memejamkan matanya kuat-kuat sebelum permintaan gilanya meluncur "Boleh aku tinggal disini lebih lama?"
Prak!
Sumpit yang berada di tangan Kyuhyunpun meluncur bebas membentur meja, sedangkan sang pemilik terbelalak tidak percaya dengan apa yang baru didengarnya
.
.
.
= TBC =
.
.
Next Chapter
.
"Ayo, lebih kuat Min" suruh Kyuhyun tidak sabaran
"Aku lelah bodoh!" maki Sungmin menghentikan aktivitasnya
"Ahh... benar-benar enak sekali"
.
"Tidak! aku tidak mau!" tolak Sungmin keras
"tidak ada yang gratis didunia ini"
"maksudmu? Aku boleh tinggal disini asal bisa menghasilkan uang begitu?"
"Yah, begitulah" jawab Kyuhyun enteng "kau tau kan uang itu sangat penting, di dunia ini yang terpenting sekarang hanyalah uang. Kau tidak akan bisa hidup tanpa uang. Jadi kalau kau mau tinggal disini kau harus bisa mencari uangmu sendiri"
.
Sigh, aku minta maaf karena chap kemarin masih aja ada banyak kesalahannya *bow*, aku akan berusaha lebih baik di chap ini dan seterusnya. terimakasih untuk semua pembaca atas komentar, kritik dan sarannya^^
.
Special thanks,
D2L, tyararahayuni, skittlescinth, Nidaimnida, Shin Min Rin, Mingly Azhure, leefairyPrincess Pumkins ELF
- Evilpumps -
