Dan sekarang Kagura mengerti mengapa Sougo belum pulang di jam segini dan alasan ia berdiri di sana. Yang jelas laki-laki itu berdiri di sana bukan untuk menunggunya. Laki-laki itu hanya sedang menggeluti aktivitasnya.

bercumbu mesra dengan sekretarisnya sendiri.

Dada Kagura terasa nyeri, saking sakitnya ia bahkan tidak sanggup meneteskan barang secuilpun air matanya. Ekspresi syok yang sempat ia tunjukan berubah menjadi senyum lebar yang tak sampai di mata.

"Sadis…."

Gintama " Sorachi Hideaki

Sougo x Kagura

Rate M

[Attention!]

Fanfic ini mengandung unsur dewasa yang tak layak di konsumsi oleh anak di bawah umur. Jika masih nekad saya tidak bisa menjamin kepolosan kalian tidak ternodai yaaa dan lagi saya tidak mengambil keuntungan apapun dari pembuatan fanfic ini.

Warning inside! AU, typo(s), OoC, mature theme*lemon content*, etc…

Hell(o) Love" Presented by Exceele

Don't Like Don't Read!

Enjoy…

(*)(*)(*)

Rambut vermillion itu nampak menyembul di antara lautan manusia yang sibuk menyenangkan diri dengan menggoyangkan seluruh tubuh mereka mengikuti dentuman musik DJ yang keras. Tak pelak tubuh kecilnya terhuyung-huyung karena tanpa sengaja bersenggolan dengan orang-orang yang kini dipertanyakan kesadarannya.

Kagura terus berjalan melawan arus untuk sampai ke tempat yang menjadi tujuannya datang ke klub malam seperti ini. Dia adalah wanita dewasa yang terkadang juga memerlukan hiburan untuk sekedar melepas penat di badan –terutama di hatinya.

Setelah berjuang mati-matian, akhirnya ia terlepas dari kumpulan itu dan mulai melangkah santai menuju meja counter untuk memesan minuman. Kagura menundukan dirinya di kursi tinggi yang tersedia di sana.

Kemudian tangannya terangkat memanggil bartender, "Hasegawa-san, aku pesan seperti yang biasa." Ucapnya sedikit lantang karena pengaruh musik yang memekakan telinga. Bartender berkacamata hitam itu mengangguk dengan senyum bodoh seperti biasa, "Oke." Meski ia jarang datang kemari, tetapi Kagura sudah tercatat sebagai langganan di klub malam ini.

Menopang dagu menggunakan tangan kanannya,Kagura mulai menatap ke sekitar. Matanya terus berkeliling sampai akhirnya berhenti tepat kearah pasangan yang sibuk bercumbu ria di sudut sana, dari gerak-geriknya nampak sekali sang lelaki yang bersemangat memangut bibir yang menjadi lawannya itu.

Mau tak mau pemandangan itu justru membuat Kagura bernostalgia akan kejadian beberapa waktu lalu, yang di mana ia memergoki Sougo dan Nobume melakukan hal yang sama.

Tiba-tiba dirinya langsung tergelak, mentertawai dirinya sendiri yang merasa bodoh karena terbebani dengan aksi panas yang di tangkap oleh netra-nya.

Jelas ia masih sangat ingat bagaimana ekspresi kedua orang itu yang menatapnya dengan tampang tak bersalah sedikitpun.

"Tsk….!" Tangannya melepas dua cepol yang bertengger manis di masing-masing sisi kepalanya dengan kasar, itu terlihat dari beberapa helai rambutnya yang rontok. "Brengsek!" Umpatnya kasar saat merasa dadanya bergemuruh kencang setiap kali mengingat itu.

Apa Kagura cemburu? Jelas ia akan menjawab tidak dengan tegas. Mana mungkin dirinya yang merupakan seorang wanita superior langsung terjatuh hanya karena masalah seperti ini.

Perasaannya terlalu berharga walau sekedar untuk cemburu –terutama cemburu karena laki-laki brengsek macam Okita Sougo.

Benar. Kagura tidak cemburu, hanya saja ia merasa sedikit… kesal.

Pesanannya datang. Tanpa ampun Kagura langsung menegak minuman beralkohol itu dalam sekali teguk. Bibirnya mengkilap karena sapuan basah dari minuman yang ia minum. Dengan cekatan dirinya kembali mengisi gelasnya yang kosong dengan cairan yang sama lalu menegaknya sampai habis.

Kerongkongannya terasa seperti terbakar saat minuman itu melewati tenggorokannya namun menyisakan rasa nikmat dan ketagihan untuk terus mengecap rasa itu.

Bahu yang sedari tadi menegang mulai merosot rileks karena pengaruh alkoloh, dirinya merasa terbang ke angan-angan seakan-akan baru saja terlepas dari beban yang ia pikul selama ini. Ia mabuk, tentu saja. Ia adalah orang yang paling mengerti tentang tubuhnya sendiri. Dia lemah akan minuman beralkohol namun tetap memaksakan untuk terus minum. Hanya untuk hari ini, biarkan dia melakukan sesuka hatinya.

Suara khas bangku yang ditarik mengalihkan pandangan untuk menoleh. Di sana ia menemukan seseorang yang tadi sempat dihubunginya untuk menemani malamnya yang suram ini.

Manik obsidian milik orang itu menatapnya khawatir saat melihat matanya yang menyayu. "Kagura-chan…. Ada apa? Apa ada masalah?" Ah, suaranya terdengar sangat lembut di telinga Kagura. Tangan Kagura langsung terangkat dan menepuk-nepuk bahu orang tersebut.

"Tidak ada, tidak ada masalah apapun, Soyo-chan." Kepalanya menggeleng pelan seraya tersenyum lebar namun terlihat terluka di mata temannya itu.

Soyo menghela nafas, sebenarnya ia agak terkejut saat Kagura tiba-tiba menghubunginya untuk memintanya menemani perempuan ini minum-minum. Walau tampak liar, Soyo tahu bahwa Kagura jarang menyentuh hal yang berbau alkohol. Tentu saja pengecualin untuk hari ini, maka dalam sekali lihat Soyo langsung paham bahwa Kagura sedang didera masalah berat.

Mengapa ia mengatakan itu sebagai masalah berat? Karena biasanya Kagura yang ia kenal selalu bisa menyikapi segala permasalahan yang menghampirinya dengan caranya sendiri. Kagura itu cuek dan tidak terlalu memikirkan apa yang dikatakan orang tentangnya, tapi untuk malam ini, entah kenapa ia terlihat sangat terpukul.

Soyo mengamit tangan Kagura yang ada di bahunya dan menggenggamnya erat. Matanya masih memancarkan rasa khawatir.

"Jika ada apa-apa, ceritakan padaku jangan memendamnya sendiri, Kagura-chan."

Kemudian suara tawa getir lah yang menanggapi ucapannya barusan.

Kagura menarik tangannya yang digenggam Soyo, menopang kembali dagunya dan langsung mengerling jenaka kearah teman berambut gelapnya itu.

"Dia berselingkuh…." Soyo mulai memasang telinganya baik-baik dan menunggu kelanjutannya dengan sabar.

"Tepat di depan mataku."

Tubuh Soyo langsung menegang dan menatap Kagura dengan sedih, "Jangan. Jangan tatap aku seperti itu, Soyo-chan." Ada suara cegukan yang menyelinap di ucapannya.

"Tidak diperlukan rasa sedih maupun kasihan untuk masalah ini…" Kagura kembali tertawa, "Biarkan dia melakukan apa saja sesuka hatinya. Toh, aku tidak peduli."

"Kagura-chan…."

"Sejak awal dia memang laki-laki brengsek". Tatapan Kagura menajam, gelak tawanya sudah berhenti digantikan dengan ekspresi dingin seolah ia sudah mati rasa.

Soyo sadar temannya ini sudah mabuk berat. Lalu Soyo ikut memesan minuman, setidaknya membiarkan Kagura saat ini lebih baik daripada memaksanya untuk bercerita yang malah akan berujung ia mengamuk.

Kagura menjatuhkan kepalanya ke meja counter di depannya, matanya memandang kosong dengan mulut yang mulai meracau tidak jelas.

"He just say fuck fuck me~ He just a bastard! Sadist bastard! I hope to kill you~ but i can't…. What I've done? Sougo stupid stupid!" Suaranya yang serak melirih. Tidak ada yang tahu apakah ia sedang bernyanyi dengan lirik lagu buatan sendiri atau sedang mengumpat seseorang. Yang jelas orang sekitarnya tahu bahwa ia telah mabuk.

Soyo menegak minumannya sedikit dan meirik kearah Kagura yang telah lemas. Kesadaran temannya itu sudah di ambang batas, lalu Soyo berencana mengakhiri malam ini dengan membawa Kagura ke apartemennya.

Setelah membayar minumannya dan minuman Kagura, Soyo mulai memapah tubuh tak bertenaga itu untuk keluar dari klub malam ini. Beruntung Kagura itu memiliki tubuh yang lebih kecil darinya sehingga ia tidak kesulitan membawanya.

Setelah sampai luar Soyo menyetopkan sebuah taksi dan meminta bantuan sang sopir untuk membuka pintu penumpang dan memasukan tubuh Kagura ke dalamnya. Setelah memastikan Kagura mendapat posisi yang nyaman Soyo ikut masuk yang diikuti sang sopir.

Soyo mengatakan alamat rumahnya kepada sopir itu, setelah mengangguk tanda mengerti taksi itu mulai berjalan ikut berbaur dengan kendaraan lain di jalanan malam kota Edo.

(*)(*)(*)

"Sadis…"

Kedua tubuh di hadapannya nampak tegang sejenak sebelum salah satu dari dua orang itu menghadap kearahnya. Pandangan mereka bertemu. Iris biru laut Kagura menatap dalam ke iris merah darah di depannya. Kagura mencari-cari sesuatu di sana, tapi yang ia dapatkan hanyalah sebuah kehampaan tanpa emosi di dalam mata itu.

Melemparkan pandangannya kearah lain, Kagura tertawa hambar. Kakinya kembali melangkah santai mencoba bersikap biasa untuk menyembunyikan rasa sakit yang menyerang dadanya. Tangannya terkepal di sisi tubuh mencoba untuk tidak menghabisi laki-laki yang hampir di lewatinya ini.

"Jangan pedulikan aku." Katanya. "Lanjutkan saja."

Matanya masih sempat melirik kearah mata merah satunya, melemparkan tatapan tajam ke wanita indigo itu yang balas menatapnya datar.

Kagura terus berjalan tanpa minat untuk menoleh ke belakang sedikitpun. Bibirnya ia tipiskan menahan rasa amarah yang menggebu-gebu.

Tak ada tangan yang menahannya pergi, tak ada juga pandangan dan kata-kata permohonan maaf yang terlontar. Mereka hanya diam seolah tidak terjadi apa-apa.

Kagura berdecih, ia kembali menghentikan langkahnya. Sedikit menoleh ke belakang, ia berkata dengan nada sinis.

"Lain kali lakukan di tempat lain, jika tidak ingin reputasimu rusak." Ia memberi tatapan merendahkan. "Sangat tidak seru jika melihatmu hancur sebelum aku yang menghancurkannya." Lalu Kagura kembali melangkah, kali ini dia benar-benar pergi. Meninggalkan Sougo yang tersenyum sadis di sana.

(*)(*)(*)

Sinar matahari yang menyelinap lewat celah-celah jendela menusuk-nusuk kelopak matanya untuk segera bangun, merasa terganggu Kagura menggeliat dan langsung merasakan kehadiran seseorang di sebelahnya.

Maka dengan terpaksa Kagura membuka matanya sedikit dan menelengkan kepalanya ke samping untuk melihat puncak kepala bermahkota hitam menyembul di balik selimut yang menutupi tubuh keduanya.

Bibirnya tersenyum saat mengetahui siapa orang tersebut. Kemudian Kagura mencoba mendudukan tubuhnya lalu bersandar di kepala ranjang, Tangannya terangkat untuk mengurut pelipisnya. Kepalanya sangat sakit terasa seperti ingin pecah, inilah efek dari mabuk semalam.

Kening itu tiba-tiba berkerut saat merasakan perutnya bergejolak minta isinya segera di keluarkan. Ia mual, tentu saja.

Kakinya segera turun dari atas ranjang dan langsung lari terbirit-birit ke kamar mandi. Rasa sakit kepala yang menderanya semakin menjadi saat ia mulai memuntahkan seluruh isi perutnya.

"Oh god! Makan siangku yang kemarin." Iris biru itu menatap sedih saat pusaran air di kakus yang menelan muntahannya.

"Kagura-chan…?" Sebuah suara serak khas baru bangun tidur terdengar dari balik tubuhnya. Kagura tidak sanggup menyahut karena tak berselang lama perutnya kembali bertingkah dan Kagura kembali memuntahkan isi perutnya.

Pijatan ditengkuknya tidak membuatnya merasa lebih baik sedikitpun. Kepalanya benar-benar sakit, wajahnya pastilah pucat sekarang. Setelah merasa perutnya sudah jauh lebih tenang, Soyo menuntunnya keluar kamar mandi dan kembali mendudukannya di atas ranjang.

"Tunggu di sini, akan kubuat 'kan air madu untukmu." Tubuh Soyo langsung menghilang tertelan pintu kamar.

Helaan nafas berat keluar dari mulutnya. Tangannya mencoba menggapai ponselnya yang berada di atas nakas sebelah tempat tidur. Aneh, layarnya tetap gelap meski ia telah menekan-neka tombol kunci di sisi badan ponsel itu berulang kali. Habis baterai kah?

Ah! Ia baru ingat, setelah selesai menghubungi Soyo kemarin dia langsung menonaktifkan ponsel nya.

Bisa-bisanya ia melupakan itu dalam semalam. Bibirnya terkekeh pelan, saat ini ia merasa sudah lebih baik.

"Astaga! Pasti semalam aku kacau sekali." Tukasnya lebih pada diri sendiri.

"Memang." Suara Soyo kembali terdengar, gadis itu telah kembali memasuki kamar dengan nampan kecil di tangannya. Bibir Kagura mengerucut saat melihat Soyo yang mencibir kelakuannya semalam.

Setelah menerima secangkir hangat air madu Kagura langsung meminumnya dengan perlahan. Soyo ikut duduk di sebelah Kagura dan mengusap-ngusap punggung kecil itu.

"Apa kau butuh sesuatu?" Suara Soyo adalah suara terfavorit nomor dua setelah ibunya yang ia sukai. Lembut, seolah suara itu tidak diperuntukan untuk mengumpat seseorang –sangat berbeda dengannya yang sepertinya di ciptakan untuk terus berkata kasar.

"Nope." Balasnya singkat seraya tersenyum lebar, Soyo membalasnya tapi matanya kembali menyiratkan rasa khawatir. "Apa yang terjadi kemarin? Bisakah kau menceritakannya padaku, Kagura-chan?"

Kagura tergelak, "Oh ayolah, Soyo-chan. Ini masih pagi, tolong jangan bahas masalah itu sekarang. Itu bisa merusak mood bagusku."

"Aku mengerti, tapi berjanjilah untuk menceritakannya padaku lain kali." Kagura mengangguk, ia benar-benar bersyukur mendapatkan teman pengertian seperti Soyo.

Sebelah tangannya yang bebas terjulur untuk merengkuh sahabatnya itu. "Terima kasih." Ucapnya dengan mata yang berlinang. Soyo membalas dekapan itu dan mengatakan, ia ada memang untuk membantu Kagura.

"Entah kesalahan apa yang telah kuperbuat sampai hidupku seperti ini." Kata Kagura tiba-tiba. Mereka masih berpelukan erat, mengirimkan rasa nyaman untuk menenangkan diri. Saat ini Kagura membutuhkan sandaran dan tempat untuk ia berpijak.

Dia sedang membutuhkan seseorang untuk menyembuhkan kegundahan hatinya dan Soyo adalah sosok yang tepat untuk semua itu.

"Itu sudah menjadi hukum kehidupan. Kau akan melakukan kesalahan dalam hidupmu dan mulai memperbaikinya ketika kau tersadar. Tidak ada yang benar-benar putih di Dunia ini, termasuk Kagura-chan, aku dan orang lain.," Hiburnya. "Meski aku belum tahu ada apa, tapi aku percaya Kagura-chan bisa melewatinya dengan baik seperti biasanya."

Tiba-tiba air mata itu mengalir dengan sendirinya. Ia menangis, topeng sok tegar yang ia pasang selama ini pecah seketika di dalam rengkuhan hangat Soyo. Bibirnya bergetar menahan isakan yang memaksa keluar.

"Jangan ditahan, keluarkan semuanya. Aku akan mendengarmu."

Dan pagi itu, Kagura habiskan dengan menangis seraya menceritakan masalahnya secara terbata kepada Soyo yang senantiasa menenangkannya.

(*)(*)(*)

Setelah hampir seharian berdiam diri di Apartemen Soyo, akhirnya Kagura memutuskan untuk kembali ke apartemennya sendiri. Hari ini ia absen bekerja untuk menjernihka pikirannya, meski harus mendapat omelan pedas dari atasannya akhirnya ia dapat izin untuk tidak masuk kali ini. Dengan catatan tidak ada lagi kesempatan meliburkan diri untuk selanjutnya.

Handle pintu apartemennya itu ia putar saat sebelumnya telah di buka kuncinya. Kagura masuk dan melepaskan pantofel hitamnya dan meletakan sepatu itu di rak yang terdapat di sisi pintu .

Kaki telanjangnya mulai berjalan menuju kamar untuk menaruh seluruh barang bawaannya di dalam sana,

Namun belum sampai di tempat tujuannya, langkahnya tiba-tiba terhenti saat telinganya menangkap sayup-sayup suara gemericik air dari arah kamar mandi. Tubuhnya menegang, saat pikiran tentang Sougo yang berada di dalam sana menggunakan kamar mandinya.

Ia membawa tubuhnya mundur sesaat suara air itu berhenti. Pikirannya kembali kalut kalau-kalau benar Sougo lah yang keluar dari sana. Jantungnya mulai berpacu tak beraturan saat pintu kamar mandi itu terbuka perlahan menunjukan siluet tinggi yang ada di baliknya.

"Yo!" Dan Kagura merasa akan pingsan seketika saat matanya menangkap wajah rupawan kakak bodohnya itu sedang tersenyum kearahnya tanpa beban sedikitpun.

Tangannya reflek melempar tas tangan yang ia genggam ke dada telanjang pria berambut panjang itu dengan sekuat tenaga. Kamui yang melihat bahaya akan menderanya dengan sigap menghindar lemparan maut dari adik tersayangnya itu.

"Baka aniki! Apa yang sedang kau lakukan di rumahku?!" Serunya tajam bercampur lega. Ada perasaan lapang yang mengisi hatinya saat tahu orang itu adalah kakaknya sendiri.

"Hee…. Apa ada aturan yang menjelaskan bahwa seorang kakak tidak boleh berada di rumah adiknya sendiri?" Seperti biasa pria itu berucap dengan mata yang menyipit karena tarikan dari senyum lebarnya.

"Bukan. Bukan itu maksudku." Kagura menggeleng, lalu menghela nafas. "Ada apa datang kemari?"

"Ayah menitipkan itu untuk diberikan padamu." Jari telunjuk Kamui menujuk buffet yang ada di sudut ruangan itu, terdapat sebuah amplop putih di atasnya. "Sepertinya uang bulanan."

Kagura berdecak dan berjalan menghampiri tempat amplop itu berada, lalu tangannya dengan sigap membuka amplop kertas itu. Dan benar saja, di sana terdapat selembar cek dengan beberapa nominal tertera di dalamnya.

"Bukankah sudah kubilang berulang kali untuk berhenti mengirimiku uang bulanan, karena aku sudah bisa membiayai kehidupanku sendiri dengan gaji yang kudapat." Gerutu Kagura sambil kembali memasukan cek itu ke amplop. "Sebaiknya ia menggunakan uang ini untuk memanjakan dirinya sendiri atau sekedar menyewa wanita yang terdapat di bar luaran sana."

Melihat adiknya yang sibuk melontarkan gerutuannya, Kamui hanya terkekeh pelan. "Tidak boleh begitu, Imouto-chan. Ayah hanya merasa masih bertanggung jawab akan kelangsungan hidupmu karena kau belum menikah. Jika ingin dia berhenti melakukan ini, sebaiknya cepat-cepat bawa pangeranmu ke hadapannya."

"Siapa yang kau sebut sebagai pangeran itu?!" Seru Kagura sinis.

"Tentu saja Okita Sougo, menurutmu siapa lagi?"

"Tsk…!" Kagura melengos meninggalkan Kamui yang menatapnya bingung. Melihat sikap adiknya barusan ia mengangkat bahu, mencoba untuk tidak mencampuri masalah pribadi adiknya.

.

Malam sudah larut, dan Kamui sudah pergi beberapa jam yang lalu. Beruntung kakaknya itu tidak bertanya lebih lanjut, bahkan ia tidak menanyakan keberadaan Kagura semalam. Ia tahu, Kamui pasti kebingungan saat melihatnya tidak ada di apartemen saat dia datang tadi.

Tapi entah untuk alasan apa kakaknya itu hanya diam dan bersikap layaknya ia tidak memiliki keinginan untuk tahu.

"Hah…." Kagura menjatuhkan tubuhnya terlentang ke kasur. Tangannya menggenggam ponsel yang sedari tadi tidak ia aktifkan, ada keraguan yang terpancar di matanya untuk menghidupkan ponsel pintar itu.

Baru saja hatinya tergerak untuk mengaktifkan benda petak itu, tiba-tiba sebuah suara dari arah pintu menginterupsinya.

"China…"

(*)(*)(*)

Sougo yang lembur baru saja selesai dengan pekerjaannya, berkutat dengan dokumen-dokumen penting itu ternyata cukup menguras tenaganya. Tubuhnya lelah, namun saat matanya menangkap benda berkilat di jari manisnya entah mengapa ada perasaan menggelora di dalam hati itu.

Ia ingin menemui wanitanya, tapi selama seharian ini ponsel itu tidak aktif saat ia menghubunginya berulang kali. Ia benci jika tidak di acuhkan, sangat malah. Maka dengan itu, hal yang Sougo lakukan adalah mengambil kunci mobilnya dan langsung pergi menuju ke tempat wanita sialan itu berada.

Tidak sampai satu jam, mobil Sougo sudah terpakir di basemant yang tersedia di apartemen bertingkat itu. Tanpa menunggu waktu lama, Sougo keluar dari dalam mobil dan melangkahkan kakinya dengan terburu.

Setelah sampai, tangannya dengan gencar memasukan kunci ke pintu itu dan membukanya. Ketika sudah berada di dalam hal pertama yang ditangkapnya adalah ruang tamu yang gelap. Semua lampu di setiap ruangan itu tidak ada yang menyala, menandakan bahwa si empu yang tinggal di sini telah beristirahat di kamarnya.

Bibirnya tertarik keatas, mengulas sebuah senyum penuh arti. Tubuhnya ia bawa menuju ke salah satu pintu yang ada di sana, yang diyakini sebagai kamar.

Sougo masuk tanpa banyak membuat suara dan langsung melihat seonggok tubuh tidur terlentang di atas ranjang yang terletak di tengah ruangan itu.

Tiba-tiba tubuh itu bergerak dan Sougo menyakininya bahwa wanita itu pastilah belum tidur, lalu dengan perlahan ia menutup pintu kamar itu.

Punggung lebarnya ia sandarkan ke pintu yang telah tertutup rapat di belakang tubuhnya. Dengan tangan yang bersedekap mata merahnya terus memperhatikan gerak-gerik yang dilakukan oleh objeknya.

"China…." Suara itu terlontar dengan nada rendah. Namun, cukup membuat orang yang di atas ranjang itu tersadar bahwa dirinya tidaklah sendirian di ruangan gelap itu.

Dapat ia lihat Kagura yang langsung terbangun dan menatapnya dengan tatapan tak percaya.

"Sadis?!" Serunya lantang, namun sedetik kemudian ekspresi perempuan itu berubah dengan senyum dingin yang tersungging di bibirnya.

"Ada apa datang kemari?" Sougo berjalan mendekat. "Tidak salah alamat, eh?"

Saat setelah sampai di hadapan Kagura Sougo menyunggingkan senyum miring. "Kau marah?"

Tawa hambar langsung menelusup ke telinganya. "Candaanmu sangat tidak lucu, boy." Kagura berdiri dan menatap mata merah itu dalam.

"Kau salah alamat, jika ingin mencari teman bermain." Tubuh ramping itu melenggang keluar kamar yang tak berselang lama diikuti oleh Sougo.

Kagura menekan skalar lampu yang ada di dapur dan menuangkan air dingin yang baru ia ambil dari dalam kulkas ke gelas kosong, lalu meminumnya sampai habis. Tangannya meletakan gelas yang bekas ia pakai ke tempat cucian piring kotor, iris birunya melirik ke samping dan menemukan Sougo yang sedang menatapnya intens.

Kagura mengelap sudut bibirnya yang basah dengan lengan baju, lalu membalas tatapan Sougo dengan berani. "Pulang ke rumahmu sendiri sekarang!" Usirnya tegas.

"Bukankah ini rumahku juga?" Balas Sougo datar. "Tentu kau tidak lupa, bahwa akulah yang membeli apartemen ini, China."

Kagura terpaku, dalam hati ia sedikit merutuki kebodohannya yang selalu berucap tanpa pikir panjang.

"Terserah." Kagura kembali berjalan dan berencana meninggalkan Sougo lagi, moodnya sedang tidak bagus untuk sekedar meladeni adu mulut sadis brengsek ini. Tapi nyatanya yang namanya rencana belum tentu berhasil, terbukti dari tangannya yang di tangkap oleh Sougo.

"Apa yang kau lakukan?!" Bentak Kagura mencoba meloloskan diri. Tangannya terasa sakit saat Sougo mencengkramnya dengan kuat.

"Kau marah padaku, China?"

"Tidak!"

"Kau marah, maka dengan itu kau menghindariku seharian ini." Sougo menarik dan mendekap Kagura dari belakang kemudian menenggelamkan wajahnya di perpotongan leher wanita itu.

"Lepas!" Tubuh itu menggeliat dalam pelukan Sougo. "Kubilang lepas!"

Tangan kirinya menyikut keras tulang rusuk Sougo, hingga sang korban mengendurkan dekapannya yang dimanfaatkan Kagura untuk melepaskan diri.

Matanya menyalang, dengan posisi waspada. Tatapannya menatap penuh kebencian kepada laki-laki berambut sewarna pasir ini. Tidak dipungkiri dadanya masih saja sempat-sempat untuk berdebar kencang saat Sougo memeluknya tadi.

"Kau…!" Sougo mengumpat kasar saat merasakan sakit yang mendera area sekitar tulang rusuknya, matanya memancarkan kemarahan yang besar.

"Pergi! Atau ketuk saja rumah wanitamu dan minta dia untuk memenuhi hasrat bejatmu itu, seperti kemarin!" Suara Kagura naik satu oktaf, ia benar-benar tidak menyukai kehadiran laki-laki di depannya ini.

Sougo menatap Kagura dengan tatapan menusuk, "Kenapa kau terus saja merengek, China? Jangan bilang kau tidak suka melihat aku bersama dengan wanita lain?" Sebuah seringai terpapar dibibir tipis itu.

Kagura terbelalak seolah baru saja tertampar oleh perkataan Sougo. Benarkah? Benarkah ia terlihat seperti marah karena kejadian itu? Batinnya gamang.

Melihat Kagura yang tidak merespon membuat Sougo melemparkan tawa sinis. "Sudah kuduga, kau bahkan tidak menyangkalnya." Kakinya berjalan mendekati Kagura yang masih mematung di tempatnya. "Kau pikir siapa yang memulai ini duluan, China?"

Tangannya terangkat untuk mencengkram rahang kecil itu, lalu menelusuri setiap inci wajah Kagura menggunakan hidungnya, tak segan-segan bibir dinginnya juga ikut andil untuk mengecupinya pelan.

"Kaulah yang mengatakan, aku boleh melakukan apa saja karena kau tidak akan peduli sama sekali. Lalu, kenapa sekarang bersikap seperti ini?" Bibirnya berhenti di daun telinga Kagura dan mengulumnya, hingga memicu desahan pelan yang lolos dari celah bibir mungil itu.

Kagura menunduk seraya menggigit bibir bawahnya keras-keras, saat setelah Sougo berpindah untuk menyesap kulit lehernya yang putih. Lidah panas Sougo berputar-putar di sana hingga menimbulkan decakan erotis yang menggema di ruangan sunyi itu.

Sadar bahwa ia tidak mungkin bisa lepas kali ini, Kagura hanya pasrah saat Sougo mulai mengangkat tubuhnya dan mendudukan dirinya di atas meja makan yang beruntungnya kosong karena tidak ada gelas-gelas seperti biasanya. Jika tidak, sudah di pastikan besok banyak beling berserakan di lantai akibat permainan liar Sougo.

Tangannya meremas kuat bahu kokoh yang masih terbalut kemeja putih itu saat kedua tangan Sougo sudah menyelinap masuk ke dalam baju yang ia kenakan. Telapak tangan itu mengelus perut datarnya dengan sentuhan ringan yang membuat bulu romanya berdiri.

Sedangkan satu tangannya yang bebas melepaskan pengait bra dan memeluk punggungnya.

Kagura melenguh saat Sougo menyesap kulit lehernya kuar hingga menciptakan sebuah ruam merah yang kentara di kulitnya yang putih persolen. Tanpa di komando tangan Kagura bergerak dengan sendirinya untuk meremas rambut Sougo sebagai pelampiasan akan reaksi yang terjadi pada tubuhnya.

"Berhenti…." Pintanya lirih yang sudah dipastikan tidak digubris sama sekali oleh Sougo.

Sougo mengangkat wajahnya dan beralih menyapukan bibirnya di atas bibir Kagura, ia memanggutnya kasar dan nampak tak sabaran. Ciuman itu terhenti tergantikan nada perintah dari Sougo untuk segera membuka mulut yang langsung di tanggapi gelengan oleh Kagura.

"Jangan menyulitkan dirimu sendiri, China." Sougo meremas dada kirinya kuat yang membuat Kagura menjerit seketika. "Aku tahu kau menginginkannya juga."

Dan lidah Sougo menerobos masuk tanpa permisi saat mulut Kagura terbuka ketika ia berteriak.

Kagura sendiri hanya bisa terbatuk, tersedak air liurnya sendiri saat setelah benda tak bertulang itu masuk dan berputar-putar di dalam mulutnya untuk mengajak lidahnya bertautan.

Ini tidak baik. Kagura mencoba mempertahankan kesadarannya yang menipis sebelum benar-benar terambil alih oleh Sougo. Pikirannya mencoba menolak segala sentuhan yang di berikan Sougo tapi tubuhnya selalu bereaksi tidak sesuai perintah otaknya.

"Ah…!" Tubuhnya merasakan dorongan kuat dari tubuh Sougo untuk berbaring di atas permukaan meja yang keras. Separuh badannya tertidur di atas meja dengan kaki yang masih menjuntai di lantai.

"Aku tidak bisa menahannya lagi, China." Sougo melemparkan senyum jahatnya. "Aku ingin segera menghentak-hentak milikmu."

Dan Kagura hanya bisa memejamkan mata saat merasakan seluruh pakaiannya terlucuti tanpa perasaan.

"S-Sougo! Hentikan! Itu sangat sakit, brengsek!" Kagura mencoba meraih kepala Sougo untuk menjambak-jambak rambut itu saat Sougo dengan seenak jidat memasukan barangnya tanpa persiapan ke dalam miliknya.

"Akh…! Bo-bodoh! Jangan terlalu cepat! Ugh… Sadis!" Meski di dalam sana sudah basah karena rangsangan sebelumnya tapi tetap saja menyakitkan saat Sougo langsung memasuki bendanya yang terbilang tidak kecil itu dan dengan tidak sabar menggerakan pinggulnya cepat, tanpa memberinya jeda sekedar untuk bernafas akibat penetrasi yang terbilang kasar itu.

Kaki Kagura menerjang-nerjang tak karuan berharap salah satu atau kedua kakinya dapat menghantam wajah tampan itu.

Melihat Kagura yang terus melancarkan rontaannya, Sougo merogoh saku celananya dan mengeluarkan seutas tali merah guna mengikat tangan Kagura yang terus bergerak liar untuk mencakar atau menjambak rambutnya.

"Sadis?! Apa yang kau lakukan! Lepas!" Kagura menggeliat mencoba meloloskan tangannya yang diikat Sougo, tangannya terasa mati rasa karena pasokan darah yang tidak mengalir dengan normal akibat kuatnya ikatan Sougo.

"Seharusnya sejak awal aku mengikatmu." Tandasnya tertahan saat Kagura mulai mencengkram kuat miliknya. Sougo menangkap kedua kaki Kagura yang masih senantiasa menendang-nendang tidak jelas dan meletakan kaki-kaki jenjang itu di atas bahunya.

Sougo merendahkan badannya untuk kembali meraup bibir Kagura dengan tangan yang bekerja untuk menjamah setiap jengkal lekuk tubuh wanita itu.

Kagura mengerang frustasi dalam ciuman Sougo, meja yang mereka tempati terus berderit berbaur dengan suara decakan-decakan yang tercipta akibat persenggamaan tubuh keduanya memenuhi dapur apartemen Kagura yang sepi.

"S-Sadis… AH!" Cubitan pada nipple-nya membuat tubuh Kagura menggelinjang, ia yakin bagian bawah tubuhnya pasti sudah sangat becek, terbukti dari bunyi 'kecipak' yang terlantun saat Sougo melakukan dengan gencar gerakan in outnya. Tubuh Kagura sendiri ikut terguncang-guncang akibat pergerakan Sougo yang menghentaknya kasar dan dalam.

Sougo menarik tangan Kagura yang terikat memasuki kepalanya untuk menggantung pada lehernya. – ciuman mereka terlepas tergantikan Sougo yang memandangi raut wajah Kagura yang beragam.

Wajah wanita di bawahnya ini memerah dengan alis menukik dan mata terpejam. Melihatnya Sougo hanya terkekeh pelan dan kembali menciumi wajah itu.

"I love you." Bisiknya pelan.

Lalu mata Sougo menangkap gerakan bibir Kagura seolah mengatakan sesuatu tanpa suara. Dirinya sedikit berjengit kemudian menyunggingkan sebuah senyum yang berbeda dari biasanya saat paham apa yang coba Kagura sampaikan padanya. Tidak, ia bahkan jarang tersenyum seperti itu kepada Ane-uenya.

Sougo sadar sejak dulu, senyum itu hanya diperuntukannya untuk Kagura seorang. Tidak ada yang lain.

"Me too, stupid Sadist…"

.

.

Love or hated?

TO BE CONTINUED


–EL–