Disclaimer © Fujimaki Tadatoshi

WARNING: OOC, AU, OC(s), Typo

.

.

.

Taiga bisa merasakan jantungnya berdetak kencang ketika orang di depannya menatapnya dengan tajam. Taiga bahkan hanya bisa terpaku di tempatnya duduk berlutut dan melupakan semua pelatihannya dari Tsuki-san.

"Kau bukan perempuan?" tanya pelanggan pertamanya.

"Huh?" Taiga tidak tahu harus menjawab bagaimana.

"Terserahlah." kata pelanggannya sambil mengangkat bahu. "Hey bisakah kau tuangkan sake itu?"

"Ya." Taiga lalu terburu-buru mengambil botol sake diatas meja di depannya dan menuangkan isinya dengan tangan gemetar sampai ada sedikit yang tumpah dan membasahi kimononya.

"Hey tenang, memangnya aku pelanggan pertamamu apa?" tanya pelanggannya sambil tertawa.

Taiga bersemu merah mendengar pertanyaan pelanggannya. Meskipun Taiga tahu pelanggannya hanya bercanda tapi tiba-tiba dia merasa gelisah. Apakah dia akan mengganti Taiga dengan geisha yang lebih berpengalaman kalau ini memang pertama kalinya Taiga melayani pelanggan? Dan di lubuk hatinya yang paling dalam, Taiga tidak ingin pelanggan pertamanya ini menggantinya dengan geisha yang lain.

"Y-ya…" jawab Taiga dan memberikan sake yang sudah dituangkannya ke orang di depannya.

"Apa, aku pelanggan pertamamu?" Dia bertanya kembali dengan membelalakkan mata.

Taiga mengangguk dan menundukkan wajahnya.

"Wow jackpot."

Taiga mengangkat wajahnya dan melihat pelanggannya melepaskan katana yang Taiga tidak tahu dia punya.

"A-apakah Tuan seorang samurai?" tanya Taiga dan memperhatikan pelanggannya menaruh katananya di lantai di sebelah dia duduk.

"Ya." jawabnya dan kembali meminum sakenya.

Jantung Taiga menjadi semakin berdetak lebih kencang, di depannya adalah seorang samurai. Sesuatu yang menjadi cita-cita Taiga dulu saat masih kecil dan masih sampai sekarang kalau dia tidak terkurung disini. Taiga mengamati katana sang samurai yang tergeletak indah di sampingnya. Sudah lama sekali sejak Taiga memegang katana asli, terakhir kali adalah ketika gurunya di dojo memperbolehkannya berlatih dengan katana dan bukan pedang kayu.

"Kenapa kau melihat pedangku seperti itu? Kau tidak berencana membunuhku, kan?" tanya pelanggannya dan memicingkan mata melihat Taiga.

"T-tentu saja tidak," jawab Taiga tergagap. "Bolehkah… bolehkah saya memegangnya?"

"Ya."

Taiga membelalakkan matanya kaget. "Benarkah?"

"Tentu. Nih," samurai itu lalu mengambil katananya dan memberikannya ke Taiga.

Taiga menerima katana itu dengan tangan gemetar tapi dengan perasaan yang sangat bahagia. Dia menggenggam pegangannya dengan kokoh dan menelurusi mata pedang yang masih berada di sarungnya dengan jari-jarinya.

"Kenapa kau tidak mencoba mengayunkannya?" kata pelanggannya sambil mengamati Taiga dengan geli.

Taiga mengalihkan perhatiannya dari katana di tangannya ke pelanggannya sebelum kembali memandang katana itu. Taiga lalu memegang gagang katana itu dengan kedua tangannya dan memiringkan tubuhnya agar saat dia mengayungkan katananya tidak mengenai pelaggannya. Taiga lalu mulai mengayunkan katana itu tanpa membuka sarungnya seperti dulu waktu dia masih belajar di dojo bersama gurunya.

"Kau pernah berlatih sebelumnya?" tanya samurai pemilik katana yang sedang Taiga pakai.

"Ya, dulu aku pernah belajar di dojo." jawab Taiga dan mengayunkan katananya lebih cepat dengan senyum di wajahnya.

"Kau lumayan bagus."

"Terima ka—" Taiga tanpa sengaja mengayunkan katana itu ke wajah pelanggannya ketika dia berbalik untuk mengucapkan terima kasih.

"Aduh!"

"Maaf maaf maaf maaf maaf…" Taiga membelalakkan matanya kemudian buru-buru menghampiri pelanggannya yang terlentang dan menutupi wajahnya. Dia kemudian meletakkan tangannya di atas tangan pelanggannya untuk mengecek wajahnya. "Tuan tidak apa-apa? Saya akan mengambil obat—"

"Aku tidak apa-apa." pelanggannya menarik tangan Taiga ketika dia akan berdiri untuk menyuruh Taiga tetap duduk.

"Tuan yakin?"

"Ya," pelanggannya lalu meletakkan kepalanya di pangkuan Taiga dengan masih memegang tangan Taiga dan memejamkan matanya. "Kau disini saja."

Taiga mengangguk dan mematung di tempatnya dengan berat kepala pelanggannya di pangkuannya. Dia bisa mengamati pelanggan pertamanya lebih dekat dengan posisi seperti ini. Taiga pikir orang ini sangat tampan dengan rambut biru gelap dan kulit cokelat eksotis. Dan juga matanya yang berwarna seperti rambutnya yang bisa menatap Taiga secara dalam. Taiga bisa merasakan pipinya memerah ketika dia mengangkat tangannya bebas dan akan menyentuh pipi pelanggannya ketika dia tiba-tiba membuka matanya yang membuat Taiga sedikit terkejut.

"Apa aku sudah tertidur lama?"

"Tidak, Tuan hanya tertidur sebentar." jawab Taiga.

Pelanggannya menatap Taiga dengan masih menidurkan kepalanya di paha Taiga. "Kau tahu, aneh sekali saat ada yang memanggilku tuan seperti itu. Bagaimana kalau kau memanggilku Daiki?"

Warna merah di pipi Taiga menjadi semakin gelap ketika pelanggannya mengenalkan dirinya. "B-baiklah,"

"Lalu siapa namamu?"

"T-Taiga."

"Taiga," pelanggannya—Daiki—lalu bangun dari tiduran di pangkuan Taiga dan mengambil lagi katananya yang tadi dibuang Taiga dalam kepanikan karena tidak sengaja mengenai Daiki. "Aku akan pulang sekarang."

Meskipun Taiga sebenarnya tidak ingin pelanggannya kembali sekarang, tapi dia tetap mengangguk dan menundukkan kepalanya. Taiga mengerutkan keningnya ketika melihat gelang berwarna putih di sampingnya. Dia lalu mengambilnya dan berdiri untuk memberikannya ke pelanggan pertamanya.

"Tu—Daiki,"

Daiki menolehkan kepalanya dan berhenti ketika akan keluar.

"Apakah ini punyamu?" tanya Taiga dan menunjukkan gelang yang di temukannya.

"Ya," Daiki mengambil gelangnya dari tangan Taiga tapi lalu mengangkat tangan kanan Taiga dan memasangkan gelangnya ke tangan Taiga. "Untukmu."

"T-terima kasih." Taiga kembali bersemu merah ketika melihat pergelangan tangannya tidak polos lagi.

Daiki mengangguk lalu keluar dari pleasure room dan meninggalkan Taiga.

.

"Taiga-kun, kau sudah diapakan tadi sama pelanggan pertamamu?" tanya Tsuki-san saat Taiga berjalan memasuki ruang ganti.

"Apa maksud pertanyaanmu?" tanya balik Taiga dan mengamati ruangan tempatnya berada. Ada beberapa wanita yang sedang memperbaiki riasan di wajah mereka dan juga kimono mereka. Ruangan ini adalah tempat para geisha untuk membersihkan diri mereka setelah melayani pelanggan dan bersiap untuk pelanggan mereka selanjutnya.

"Oh ayolah ceritakan saat pertamamu," kata Tsuki-san dan menyuruh Taiga duduk untuk memperbaiki rambutnya.

"Daiki tidak melakukan apapun tadi." jawab Taiga dan memerah mengingat sang samurai mengistirahatkan kepalanya di pangkuannya tadi dan menggenggam tangannya.

"Taiga-kun, kau tidak boleh memanggil pelangganmu seperti itu. Kau harus menghormati mereka." tegur Tsuki-san. Meskipun Tsuki-san sekarang sudah tidak aktif melayani pelanggan seperti dulu dan hanya bertugas melatih geisha-geisha baru dan juga mengantarkan seorang geisha ke pelanggannya, tapi dia tetap menjaga perilaku seorang geisha kepada pelanggannya dan tidak ragu-ragu untuk menegur geisha yang berlaku tidak pantas.

"Dia sendiri yang menyuruhku untuk memanggilnya seperti itu," balas Taiga.

"Oh…" Tsuki-san kemudian mengangukkan kepalanya. "Jadi apa yang dia lakukan?"

Taiga memandang Tsuki-san heran. "Aku sudah bilang dia tidak melakukan apapun. Dia hanya tidur sebentar di pangkuanku kemudian kembali pergi."

"Oh…"

"Kenapa kau terlihat kecewa seperti itu?!" Taiga kemudian berdiri setelah Tsuki-san selesai memperbaiki riasannya juga.

Tsuki-san tertawa dan meluruskan kimono Taiga. "Keperawananmu masih aman kalau begitu."

"Tsuki-san!" teriak Taiga dengan wajah yang memerah.

.

.

.

Taiga duduk di tempatnya biasa untuk menawarkan diri dan melihat bulan yang bersinar indah dari jendela. Tidak tahu kenapa setelah Daiki menjadi pelanggan pertamanya, dia mendapat pelanggan-pelanggan yang lain meskipun belum terlalu banyak. Dan setiap Tsuki-san memberitahunya kalau dia mendapat pelanggan, Taiga berharap kalau yang datang adalah samurai berambut biru gelap tapi Taiga selalu kecewa ketika mengangkat wajahnya dan yang datang bukan dia. Taiga mengangkat tangan kanannya dan mengamati gelang berwarna putih pemberian pelanggan pertamananya. Taiga selalu memakai gelangnya itu dan tidak pernah melepaskannya meskipun Tsuki-san selalu menggodanya. Taiga tersenyum ketika mengingat kembali kejadian malam itu. Meskipun mereka tidak melakukan apapun malam itu dan dia hanya sekali kesini tapi dia adalah pelanggan yang paling berkesan untuk Taiga.

"Taiga-kun, kau mendapat pelanggan."

.

Taiga mencengkeram kimononya yang sudah dilepas oleh pelanggannya kali ini dan menguburkan kepalanya disana.

"Hey keluarkan suaramu, jalang!"

"Ahh!" Taiga mengaduh ketika pelanggannya menjambak rambut merahnya agar Taiga tidak menyembunyikan wajahnya.

Pelanggannya lalu mengangkat pinggang Taiga dan bergerak semakin cepat. Taiga mendesah ketika pelanggannya mengenai titik kenikmatannya berkali-kali. Taiga mencengkeram kimononya lebih erat yang agak basah karena keringatnya dan mendesah lebih keras ketika pelanggannya mengeluarkan cairannya di dalam Taiga yang Taiga ikuti setelahnya.

Taiga menggeletakkan tubuhnya yang capek dan terengah-engah. Dia akan menutup mata untuk beristirahat sebentar dan mengira kalau pelanggannya sudah pergi tapi tiba-tiba ada tangan di pundaknya dan memutar badan Taiga untuk telentang. Taiga membuka matanya dan melihat wajah pelanggannya yang memandang tubuh telanjangnya yang penuh dengan tanda gigitan dan berwarna merah bekas ciuman dengan penuh nafsu. Taiga membelalakkan matanya ketika pelanggannya membuka lebar kakinya dan memasukkan kembali kejantanannya ke dalam Taiga.

"T-Tuan, jangan—ahh!"

Pelanggannya tidak menghiraukan permintaan Taiga dan langsung bergerak dengan cepat.

"Heh, kau selalu memohon untuk berhenti tapi kau tidak berhenti mendesah-desah seperti itu." kata pelanggannya dengan nada mengejek dan mendorong kejantanannya lebih dalam ke lubang Taiga dan menggigit bibir Taiga dengan keras.

Taiga hanya bisa memejamkan matanya dan mencoba untuk tidak mengeluarkan suaranya terlalu keras. Taiga hanya berharap malam ini segera berakhir.

.

.

.

Taiga berjalan sendirian dengan senyum di wajahnya dan mengamati lingkungan sore itu. Setelah berkali-kali Tsuki-san membujuk Wakamoto untuk mengijinkan mereka untuk pergi ke festival musim panas, akhirnya di hari terakhir festival ini mereka bisa pergi. Dan Taiga tertinggal oleh geisha yang lain karena dia ketiduran tadi makanya dia berangkat sendirian. Tapi tidak apa-apa karena akhirnya Taiga bisa keluar dari tempat yang selama ini mengurungnya meskipun hanya sebentar. Taiga mengamati anak-anak kecil yang sedang bermain dan juga orang-orang lain yang melakukan kegiatan mereka. Dan meskipun bukan dia yang merasakan hal-hal itu, Taiga bisa ikut tersenyum melihat orang-orang itu bisa hidup normal setiap hari.

"Hey ini dia macan kecil yang aku ceritakan kepada kalian,"

Saat Taiga sedang asyik-asyiknya mengamati lingkungan sekitarnya tiba-tiba dia dikepung oleh tiga orang yang menyeringai di depannya.

"Apa kau yakin orang ini?"

"Jangan kau lihat dari luarnya saja, kau harus mencobanya dulu." jawab orang di tengah sambil menyeringai yang sekarang Taiga ingat kalau dia pernah melayaninya.

"Maaf." kata Taiga mencoba untuk menerobos pagar orang di depannya untuk segera sampai ke festival.

"Mau kemana macan kecil? Bagaimana kalau kau melayani teman-temanku ini?" pelanggannya beberapa malam yang lalu itu lalu menarik tangan Taiga dan mengepungnya dengan teman-temannya yang lain.

Taiga mengerutkan keningnya lalu menendang orang di depannya tepat di selangkangannya yang membuatnya melepaskan tangan Taiga dan membungkuk kesakitan. Taiga akan menggunakan kesempatan itu untuk melarikan diri tapi dua orang lainnya berhasil menangkap Taiga dan menghantamkan Taiga ke dinding bangunan di dekat mereka. Taiga merasakan pandangannya berkunang-kunang dan kepalanya sakit akibat benturan dengan dinding bata.

"Pelacur kurang ajar!"

Taiga memejamkan matanya ketika salah satu teman pelanggannya itu mengepalkan tangannya dan akan memukul Taiga. Tapi bukan rasa sakit yang dirasakan Taiga tapi malah tangannya di tarik dan hal yang dia tahu selanjutnya, dia sudah berada di pelukan hangat seseorang. Taiga mendongakkan wajahnya dan melihat orang yang tidak pernah dia sangka akan ditemuinya. Taiga berpikir kalau dia hanya berimajinasi tapi saat orang itu mengeluarkan katananya dan mengeluarkan suaranya, Taiga yakin dia tidak hanya berimajinasi karena kepalanya sakit.

"Apa yang kalian lakukan?" tanya suara dalam yang sudah Taiga kenal sebelumnya dan menodongkan katananya ke orang-orang yang sudah menyakiti Taiga.

"Memangnya siapa kau?"

"Aku sudah memesannya untuk malam ini dan kalian tidak seharusnya menganggu geisha yang sudah mempunyai pelanggan." jawab samurai berambut biru itu kalem.

Dua orang itu lalu menatap tajam Taiga sebelum pergi meninggalkan mereka berdua.

"Kau tidak apa-apa?"

"Y-ya, terima kasih." Taiga yang sadar dia masih berada di pelukan sang samurai, cepat-cepat membebaskan dirinya dengan wajah yang memerah.

"Aku hampir tidak mengenalimu tadi tanpa riasan di wajahmu," kata pelanggan pertamanya dan memasukkan kembali katananya ke tempatnya di pinggangnya. "Kau mau kemana?"

"Festival." jawab Taiga dan menyentuh wajahnya yang memang polos tanpa semua riasan-riasan seperti biasanya kalau dia melakukan pekerjaannya.

"Oh aku akan kesana juga, kau mau kesana denganku?"

Jantung Taiga berdetak semakin kencang dan wajahnya berubah merah seperti rambutnya tapi dia tetap mengangguk. Samurai berambut biru itu kemudian berjalan dulu dan Taiga mengikuti di belakang. Taiga bahagia sekali sekarang, pertama dia bisa keluar dan kedua dia bisa bertemu kembali dengan orang yang sangat ingin ditemuinya sejak pertama kali dia menjadi pelanggan pertama Taiga bermalam-malam yang lalu. Meskipun tadi ada gangguan sedikit, tapi keberadaan samurai di sampingnya ini membuatnya kembali bahagia.

Taiga tersenyum sangat lebar ketika Daiki berhasil lagi menangkap ikan emas kecil dengan jaring kertas. Mereka sudah mencoba takoyaki, yakisoba, permen apel dan juga kembang gula sampai Taiga kenyang meskipun dia sering makan banyak biasanya.

"Kau sangat hebat dalam ini," puji Taiga ketika pemilik pemainan itu memberi Daiki ikan yang sudah di dapatkannya.

"Aku sering memainkan permainan ini dulu," jawabnya kemudian menyodorkan plastik berisi tiga ikan emas kecil ke Taiga. "Aku tidak akan bisa merawatnya dan mereka pasti akan mati dalam sehari jadi ini untukmu."

"Terima kasih, aku pasti akan merawat mereka." Taiga menerima hadiah dari Daiki dan tersenyum tulus ke arahnya.

"Kau mau kemana selanjutnya?"

Taiga akan menjawab pertanyaan Daiki ketika tiba-tiba dia menyadari kalau sekarang sudah sangat sore dan matahari akan terbenam sebentar lagi dan seharusnya dia sudah kembali beberapa jam yang lalu.

"Maaf aku harus kembali. Terima kasih ikannya." Taiga lalu dengan sekuat tenaga berlari kembali dengan memegang erat plastik ikan pemberian Daiki.

"Taiga-kun, kemana saja kau? Cepat, kau sudah telat!"

Ketika sampai di tempatnya kembali, Taiga melihat Tsuki-san sudah menunggunya dengan raut muka antara khawatir, lega dan marah ketika melihat Taiga berlari dengan keringat mengucur dari dahinya.

"Maaf, Tsuki-san." kata Taiga dan mengikuti Tsuki-san memasuki rumah untuk bersiap-siap untuk malam ini. Dan meskipun Taiga tahu kalau Tsuki-san akan mengomelinya nanti, tapi dia tetap tidak bisa berhenti tersenyum sambil mengamati ikan-ikan kecil yang berenang indah.

.

"Taiga-kun, kau mendapat pelanggan."

Taiga mengikuti Tsuki-san menuju pleasure room tempat pelanggannya sudah menantinya. Apakah samurai berambut biru yang tadi sudah menolongnya adalah pelanggannya kali ini? Dia tadi memang bilang ke penjahat-penjahat tadi kalau dia sudah memesan Taiga tapi Taiga yakin kalau dia hanya bohong tadi untuk membuat penjahat-penjahat itu meninggalkan Taiga dan tidak menganggunya lagi. Tapi meskipun begitu Taiga masih tetap berharap.

"Taiga."

Taiga membelalakkan matanya ketika mendengar suara familiar di telinganya lalu mengangkat wajahnya. "Sensei…"

.

.

.

A/N: maafkan dakuuuuu ;_; aku sudah nulis kelanjutannya Kejar tapi malah plot ini yang selalu terngiang-ngiang (?) di pikiran Orz. Silakan lempari saya dengan jeruk, butuh vitamin C nih /slapped.

Oh ya masih mikir karakter siapa yang pantas jadi gurunya Kagami, mau make Himuro tapi masih mikir-mikir lagi deh keliatannya, tapi kemungkinan pake OC lagi :')) kalo ada saran karakter bisa kasih tau di review yahh, makasiiiih :)