Shelter 81.01
Penjara bawah tanah.
Sebuah tempat dengan dua robot besar bersenjata menghalangi beberapa orang yang akan masuk kedalam ruangan 'istemewa' didalam sana. Salah satu dari mereka lalu mengeluarkan sebuah kartu ke hadapan robot setinggi 2,5 meter itu.
Sang robot menganalisa kartu pengenal orang itu, lalu dengan otomatis senjata yang tadinya menghalangi jalan mereka—terbuka.
Dengan dipersilahkannya mereka masuk, pintu itu dengan otomatisnya tertarik keatas, lalu sebuah tembok besi terbagi dua dan terbuka. Terakhir, sebuah pintu kaca dengan menampakkan seseorang yang tengah berbaring diranjangnya yang berwarna putih. Lampu-lampu yang menyilaukan mata menyinari tubuh itu.
Sebuah hologram keluar dari pintu kaca tersebut, meminta tanda pengenal orang-orang itu. Setelahnya, hologram tersebut bagaikan pecah dan berserakan dilantai.
Bersamaan dengan itu, pintu kaca terbuka lebar. Mengeluarkan asap tipis dari ruangan isolasi sang pelaku gila yang telah membunuh keluarga Kaisar dan juga siapapun yang ia temui.
Merasa seseorang mengganggu tidur tampannya, pria dengan rambut acak-acakan itu merubah posisinya menjadi duduk dan menatap kelima orang bertopeng yang sedang menatapnya.
"..."
"Sasuke.." teknologi perubah suara dengan otomatisnya merubah suara orang bertopeng hologram yang menunjukkan wajah-wajah yang dikenal oleh pelaku berat tersebut.
"Tou-san.."
"Kau ingin bermain, Sasuke?"
Wajah datar pemuda itu seketika sumringah, "Tentu, tou-san!"
"Kalau begitu kau harus jadi anak baik, mengerti?"
Merasa aneh dengan suasana disekitarnya, Sasuke mendadak berdiri dan menatap tajam orang didepannya.
"Untuk apa aku menjadi anak baik?" tangan Sasuke berada dibelakang tubuh, mencoba mengambil sesuatu dari balik baju tahanan yang ia kenakan.
"Jika kau menjadi anak baik—kau akan bebas."
Sasuke tersenyum miring, "Tentu, Tou-san." Ujarnya, ditangan telah terdapat sebuah obeng yang ia rebut dari salah satu petugas yang mengeceknya semalam.
"Anak baik."
Dua orang dari belakang pria berwajah ayahnya itu maju—tapi dengan tiba-tiba Sasuke menyerang dengan obeng ditangannya.
Satu orang tak dapat mengelak, ujung obeng yang berubah otomatis menjadi sebuah bor kecil—membolongi dada orang tersebut tepat dijantung. Membuat suasana putih yang membosankan sedikit berwarna merah karna ulah Sasuke.
Tiga orang lain cepat bertindak, mereka mengeluarkan sebuah alat yang mengeluarkan listrik dan membentuk sebuah kotak kubus pada Sasuke. Tiga orang yang mengelilingi Sasuke itu lalu dengan perlahan maju selangkah demi selangkah yang membuat kubus itu kian mengecil dan jeritan Sasuke makin memekikkan telinga. Hingga akhirnya tubuh didalam kubus itu berhenti berteriak dan terduduk lemas.
Memborgol kedua tangan dan kaki Sasuke dengan borgol listrik, tubuh lemas itu lalu digendong oleh salah satu pria berbadan besar.
Keempat orang itu pun keluar dari penjara isolasi bawah tanah Jepang.
Meninggalkan kerusuhan di penjara tersebut karna salah satu tahanan mereka... diculik.
.
#
.
District 13
© Ryuuki Ukara
Naruto © Masashi Kishimoto
Rate: M
Warning: Yaoi/BL, AU, Sci-fi, Psikopat, Death Chara, Mutan, Typo(s), Bahasa sesuka hati Author dan lainnya..
.
#
.
Ciuman dari sang pembunuh gila membuat Naruto terbelalak lebar.
Dengan mulut yang setengah terbuka tanpa ia sadari, sebuah lidah menyelusup masuk kedalam mulut si pirang dan seenak hatinya menjilati langit-langit rongga mulut Naruto.
Tapi sayang, saat kenikmatan yang dilakukan Sasuke mulai ia rasakan—mendadak pemuda yang tengah menciumnya melayang jauh dan membentur tembok gedung hingga darah terbatuk dari mulutnya.
Naruto sentak berlari saat sepersekian detik ia menyadari kalau dihadapannya ada mutan berwajah monster dengan tubuh setinggi 3,5 meter berbentuk gorila. Ia bertindak sesuai insting, mengambil sebuah besi panjang dan mengayunkannya ke kepala si mutan monster.
Akibatnya, si monster sedikit oleng dan memberi kemudahan pada si raven yang membalas dendam. Dengan menusukkan katananya ke jantung, ia lalu menariknya keatas hingga ke kepala, dan akhirnya membelah setengah tubuh si mutan monster.
Dari balik jasad si mutan, tampak pemuda yang tengah berwajah dingin dengan bengisnya menatap kekedua safir Naruto.
Dari belakang tubuh Naruto, Shikamaru berdiri dengan Thompson Gun M1921 tanpa peluru terancung lurus pada Sasuke.
"Jika kau menyakiti Naruto, kau mati."
Sasuke menebaskan katananya ke udara kosong, membuat darah yang menghiasi katananya terciprat ke aspal.
"Aku tidak akan." Ujarnya.
Mata kuaci Shikamaru melirik Itachi yang menganggukkan kepala. Masih dengan mengancungkan senjatanya, Shikamaru mendekati Naruto. Mengabaikan tatapan tajam yang menusuk dirinya.
"Naruto.. Aku tidak tau ini tepat atau tidak." Bisiknya, mata kuaci Shikamaru menatap sentakan dari tubuh Naruto. "Waktu kita masih banyak, gunakan dia sebagai tameng mu. Ku rasa dia akan melakukan apapun untukmu saat ini. Mengerti?"
Naruto mengangguk. Merasa saran dari Shikamaru, benar.
Menurunkan senjatanya, Shikamaru lalu dengan cepat mengelak saat sebuah katana melayang lurus padanya dan berhasil menggores pipi sebelah kanan.
"Tch."
Tubuh raven itu bergerak maju menuju Shikamaru, Naruto mengikuti pergerakan Sasuke yang ternyata mengambil katananya lalu mengancungkan pada Shikamaru.
"Kau ingin mati, hn?"
"Tujuan dari tugas ini adalah mati."
"Kalau begitu.. kau mati saja."
Katana yang terayun itu seketika berhenti saat sebuah senjata DSR-Precision 50 menghentikan pergerakan pedangnya, ditambah sebuah pegangan tangan yang menahan tangan kanan Sasuke membuat ia terpaksa menghentikan niat membunuhnya.
"Sasuke.. Dinginkan kepalamu." Perintah sang kakak, sedang Naruto hanya bisa menarik Sasuke mundur hingga katana di genggaman Sasuke terlepas dan jatuh.
Dengan tiba-tiba orang yang hampir membunuh Shikamaru itu—memeluk Naruto. Dengan eratnya.
Merasa bingung, dengan tingkah Sasuke yang tiba-tiba memeluknya—safir biru itu bertatapan dengan kelam onyx Itachi.
Menyampaikan sebuah kata yang tak bisa diucapkan.
"Apa yang harus ku lakukan?"
"Biarkan dia memelukmu."
Melirik Sasuke yang kini sedang bernafas dilehernya dan memeluk tubuhnya erat—Naruto membalas pelukan Sasuke.
Hangat...
xXXXx
Mereka bertemu didepan hotel sesuai janji mereka. Dari pihak Kankurou, mereka selain menghabisi sebagian mutan dari target—juga membawa buah tangan berupa makanan yang dibawah oleh tiap orang dari kelompok mereka. Dengan keranjang besar, kelima orang itu menjarah sebuah swalayan besar yang ternyata bahan makanan disana masih segar dan masih belum kedaluarsa.
Sedangkan dari pihak Itachi, sebuah hal 'aneh' membuat ketiga wanita yang ada disana berkedip heran.
"Aku tidak sedang bermimpi, bukan?" ujar Sakura, matanya menatap Sasuke yang berada dibelakang tubuh Naruto dan mengalungkan kedua tangannya dileher si pirang.
"Kurasa kita akan segera membicarakan hal ini."
Melirik sang pemimpin, ketiga gadis dan seorang pemuda—mengangguk mengiyakan.
Sakura akan masuk kedalam hotel tapi tiba-tiba tubuhnya disenggol oleh pemuda setingginya dan menatap tajam ia.
"Gunakan matamu jika berjalan, gadis datar."
"APA?!" Sakura memerah marah, sedangkan Kyuubi berjalan maju mendahului si pinky lalu berhenti.
"Oh ya.. Bau mu seperti kaos kaki busuk." Tambah Kyuubi dengan senyuman miring, berhasil memancing emosi Sakura.
"SAKURA!" belum sempat memperingati anak buahnya, Kankurou harus meneguk ludah saat tubuh Kyuubi terpelanting ditendang oleh Sakura dan membentur meja resepsionis yang tebal hingga hancur lalu berhenti setelah menuburuk tembok beton hotel.
Kyuubi terbatuk darah.
"Kau salah mencari lawan, tuan." Sakura berkacak pinggang, matanya menyipit tajam pada Kyuubi.
"Sialan!" Kyuubi mengeluarkan senjata biasanya, sayang tak bisa digunakan karna tak satupun dari pelurunya tersisa. "ARGH! SIALAN!"
"Oi, Sakura.. simpan tenagamu, kita masih harus mengerjakan perkerjaan wanita."
Sakura mengernyit pada Ino.
"Dasar bodoh." Ino mendekati Sakura lalu menggeplak kepala si pinky yang langsung diberi makian, "Kita memasak!"
Kata sakral yang tak pernah lagi didengar oleh umat manusia.
"Masak?"
Bahkan jika kau bertanya pada nenekmu, dia hanya bisa menjawabnya dengan mengangkat bahu.
.
.
Menunggu para wanita sedang melakukan hal sakral alias memasak—para lelaki menghabiskan waktu senggang mereka sebelum makan malam dengan duduk bersama disebuah aula besar.
Sebagian dari mereka tak ada disana karna membersihkan diri.
Kankurou, Itachi, Shikamaru dan Kiba duduk saling berhadapan. Kiba tampak sekali suntuk karna rasa laparnya sudah diujung tanduk.
"Argh! Aku tidak bisa jika menunggu seperti ini! Aku lapaaaar!"
"Bukan kau saja, Kiba." Si inspektur menyenderkan tubuhnya ke sofa empuk yang ada dihotel itu. "Aku juga lapar. Kalau bukan karna cookery disini ditiadakan, kita pasti sudah makan sejak tadi."
Sambil menahan lapar, mereka saling menggerutu tentang cookery atau sebuah mesin memasak otomatis yang kau hanya perlu memilih makanan yang kau inginkan dari hologram mesin tersebut, dan seketika yang kau inginkan akan tersaji diatas meja cookery dengan otomatisnya. Ini dunia maju, nak. Bahkan teknologi yang tak ditangkap oleh nalar manusia biasa— bisa dibuat. Seolah magic dan teknologi menyatu.
Kyuubi tiba dikerumunan mereka lalu duduk disamping Shikamaru, baju tanpa lengannya menampakkan sebuah tempelan kertas putih yang berkerja menyerap luka, nyeri dan rasa sakit yang Kyuubi rasakan dengan cepat. Dan tak lama kemudian pun Kyuubi menariknya lalu melemparnya sembarang. Lukanya sudah sembuh, dan ia tak butuh teknologi kesehatan itu lagi.
Setelah menurutnya orang-orang penting telah berkumpul—Itachi membuka suara.
"Aku ingin bicara." Rubby dan onyx bertatapan sejenak sebelum akhirnya Itachi mengalihkan pandangannya dari Kyuubi. "Ini tentang Sasuke."
"Jadi dia menemukan orang yang menjadi tawanannya saat ini?" Kankurou mengatakan isi pikirannya.
"Ya." Itachi memandang mereka, "Menurutku, sementara kita akan aman dari kegilaan Sasuke karna semua pikirannya bertuju pada Naruto. Tapi itu selama tidak ada yang menyentuh Naruto. Dan mulai dari sekarang, aku tidak akan mengikatnya atau menutup matanya lagi." Itachi menarik nafas, "Dan jika kalian ingin menggunakan Naruto menjadi alat pengontrol Sasuke—kita harus memikirkan itu matang-matang. Sedikit saja ia menaruh kecurigaan, Sasuke tak segan membunuh siapapun diantara kita. Walaupun itu Naruto sendiri." Kiba menahan nafasnya mendengar perkataan Itachi, "Yang dia inginkan adalah 'kasih sayang' dan jika yang ia dapatkan hanyalah palsu, dia akan sangat marah besar."
Tak ada satupun yang berkomentar, semua seolah tertelan oleh imajinasi bagaimana jika semua kemungkinan yang mereka perkirakan menjadi buruk. Mereka disini untuk mati, tapi jika mungkin saja salah satu dari mereka selamat—mereka masih ingin pulang.
Setidaknya begitu.
Tap!
Suara langkah kaki terhenti menyadarkan mereka dari imajinasi yang mengerikan. Seluruh mata tertuju pada sosok pirang yang memakai kaos biru pemberian Kiba yang baru saja selesai membersihkan tubuh.
"Agak besaran ya?" Kiba mencoba menelan ludahnya, ia harus jaga-jaga bicara. Jika saja menjurus, dia tidak tau nasibnya nanti.
"U-um.."
"Memangnya pakaianmu mana?" Kyuubi bersuara tanpa melihat orangnya.
"Mereka ada—
"Oh ayolah Kyuubi, kau mau melihatnya memakai pakaian yang sama tiap kali? Baju ketat putih yang menandakan dia adalah kloning? Yang benar saja!"
"Aku tidak akan memberikan pakaianku padanya."
"Tenang saja~ aku sudah mengambilnya lebih dulu dan memberikannya pada Naruto." Kiba menyengir lebar.
"APA?! KAU—TEME!"
Kiba tertawa terbahak-bahak, lalu menyadari sesuatu. "Kau.. tau darimana kata 'Teme'?"
"Well.. Aku pernah meneror tempat tinggalmu, bau hewan." Kyuubi menyeringai lebar. "Untuk berbaur, kau harus mempelajari bahasa mereka, bukan?"
"Sialan!"
Suasana yang mencair dan menghangat yang membuat Naruto tersenyum tipis—terpaksa mencekam ketika tiba orang yang paling berbahaya berada diantara mereka.
"Ehem.. mungkin aku akan mengecek Hinata di dapur." Kiba beranjak dari duduknya, ia segera pergi ketempat yang seperti ia katakan.
Tepat saat Kiba menghilang dari balik tembok—Sakura muncul dengan senyuman lebar diwajahnya.
"Makan malam siap!"
Dua setengah jam. Akhirnya siap juga.
Diruang makan dengan meja kaca tembus pandang terdapat piring-piring kristal serta mangkok kristal dan gelas—tersaji diatasnya. Meja cookery yang beberapa tahun lalu bisa digunakan secara otomatis—kini tak berguna dan membuat para manusia melakukan kerja ekstra yang sakral untuk menghiasi meja panjang itu dengan makanan.
"Tidak buruk." Puji Kankurou, tampilan makanan diatas meja cookery yang dinonaktfikan itu tak berbeda jauh dengan makanan yang dihasilkan mesin makanan itu.
Menarik rasa lapar mereka ke mulut.
Duduk ditempat yang diinginkan—Hinata yang ingin makan dihadapan Naruto terpaksa mengurungkan niatnya saat kursi yang ia pilih diambil oleh Sasuke.
Tapi lambaian tangan dari Kiba dan menunjuk kursi dihadapannya, Hinata akhirnya memilih itu saja.
Tidak ada yang memulai doa atau apapun yang memulai acara makan mereka. Mereka dengan sesuka hati mengambil apa yang mereka inginkan dihadapan mereka.
Naruto tampak bingung, makanan yang biasa ia makan ditempatnya agak berbeda. Dihadapannya makanan orang Asia tersaji dan ia tak tau bagaimana memakannya.
Semangkok nasi membentur piring kristal Naruto, ia segera menggadah dan menatap Sasuke yang sudah menikmati makanannya. Mencoba meniru orang didepannya, Naruto melirik sebuah benda yang terdiri dari dua batang melamin disebelah piringnya, berdampingan dengan sendok dan garpu. Melirik kesemua orang yang menggunakan benda itu, Naruto mengambilnya dan mencoba.
Ia menggunakan benda asing yang bernama sumpit tersebut. Bukannya menikmati butiran putih dimangkok yang ia pegang—ia malah membuat keributan dengan salah satu atau kedua sumpit yang ia pegang terjauh keatas piring kristalnya atau nasinya yang jatuh.
Merasa jika sesuatu yang unik sedang terjadi, mereka semua sontak menghentikan acara makan mereka dan memandang kearah Naruto.
Dan akhirnya tertawa.
"Kau tidak bisa menggunakannya, Naruto?" ejek Sakura, ia menahan tawanya merasa geli melihat raut wajah Naruto tadi.
Merasa jika yang dilakukannya membuat ia tampak buruk—Naruto tertunduk dengan rona merah diwajahnya.
"Kau mau ku suapi?"
Satu pertanyaan dari orang tak diduga membuat tawa cekikikan itu berhenti mendadak.
Sasuke menawarkan diri menyuapi Naruto.
Merasa jika nanti akan diusir oleh Sasuke—Shikamaru lebih dulu berdiri dan memberikan tempatnya untuk Sasuke. Dan tak lama mereka berpindah tempat.
Duduk menyamping dan menghadap pada Sasuke, Naruto membuka mulutnya saat sumpit Sasuke membawa nasi kedalam mulut Naruto. Lalu saat memberikan daging yang dimasak oleh ketiga gadis itu pada Naruto—si pirang mengunyahnya dengan senang hati. Sesaat setelah menelan masakan mereka, Naruto tersenyum.
"Terima kasih sudah mau menyuapiku."
Blush!
Untuk sekali seumur hidupnya, Itachi melihat sang adik merona karna senyuman Naruto yang mencuri hati. Dan untuk yang lainnya, mereka sejenak melupakan makanan mereka saat melihat orang yang mereka cap 'gila' tengah merona dan kini tertunduk malu sambil terus menyuapi Naruto.
Ah.. Psikopat juga manusia.
xXXXx
Tiga hari setelah pembantaian dan Sasuke mendapat tawanannya—mereka tak melakukan apapun selain berdiam diri didalam hotel. Hujan deras yang melanda distrik tersebut selama tiga yang membuat mereka malas untuk keluar sekedar basah-basahan dan membunuh para mutan. Dan karna itulah orang-orang terpilih ini melakukan aktifitas yang mereka suka didalam hotel.
Naruto berjalan mendekati Shikamaru setelah ia merasa duduk membuat bokongnya pegal dan ia merasa... bosan. Setelah berada dihadapan Shikamaru, Naruto malah bingung mau bicara apa.
Pemuda yang tengah berlatih menggunakan panah—melirik Naruto sebelum ia akhirnya melepaskan anak panahnya dan memecahkan sebuah guci kecil yang berada 10 meter darinya.
"Ada yang ingin kau bicarakan?"
"Ah... um.. A—Ajarkan aku itu."
Shikamaru memandang Naruto, busur panah yang ia tak sengaja a temui disalah satu kamar hotel—ia turunkan.
"Itu?" beo Shikamaru, ia tak mengerti apa yang dimaksud. Tapi setelah telunjuk Naruto mengarah pada busur panahnya—Shikamaru mengerti maksud 'itu' tersebut. "Kau ingin memanah?"
"Ya. Aku tak bisa menggunakan senjata. Mungkin.. itu bisa kugunakan."
"Kalau begitu kau harus belajar." Shikamaru tersenyum tipis, ia menarik tangan Naruto dan memposisikan badan Naruto menyamping. "Pegang ini." Perintahnya, dari belakang Naruto, Shikamaru menunjukkan cara memegang busur panah atau anak panahnya lalu menggenggam tangan Naruto saat tangan yang lain membantunya memposisikan busur panah. "Tarik.." bisiknya, "Arahkan anak panahnya ke guci yang ada disana." Shikamaru membantu Naruto menarik anak panahnya, "Lalu lepaskan."
Sesuai yang diajarkan oleh Shikamaru, Naruto melepaskan anak panahnya dan melesat cepat menghancur guci kecil disana.
"Jika kau sudah mengerti kau bisa melakukannya sendiri." Shikamaru menghela nafas. "Aku ingin kembali ke kamarku."
"Terima kasih."
Shikamaru yang baru membalikkan badannya dan ingin pergi terpaksa mengurungkan niatnya sejenak saat Naruto mengucapkan terima kasih padanya dengan senyum tipis yang sukses membuat ia gelisah.
"Err.. Tidak masalah." Shikamaru menggaruk tengkuknya, mencoba menghilangkan rasa gelisahnya. "Jaa."
Selepas si mata kuaci itu pergi—seseorang yang melihat kebersamaan mereka hanya bisa menggeret katananya dengan mulut tertutup rapat.
xXXXx
Kankurou dan Itachi berada diatap hotel, dengan menggunakan mantel hujan—mereka bersiap dengan senjata masing-masing mengamati area tempat tinggal mereka. Memantau mutan yang kapan saja ingin menyerang tempat mereka.
Dan tepat saat rokok yang baru dijatuhkan oleh Kankurou menyentuh lantai—beberapa meter dari tempat mereka, muncul rombongan dengan gelagat mencurigakan.
Kankurou melihat mereka dari teropongnya, dan seketika ia membelalak.
"Itachi! Mereka membawa basoka!"
Reflek Itachi langsung mengeker kearah mereka dan melepaskan tembakan dari DSR-Precision 50 miliknya. Salah satu orang yang membawa basoka itu pun tewas dengan luka tembakan tepat dikepala.
Dan tak lama kemudian mereka membalas dengan melancarkan basoka ke hotel dimana Itachi, Kankurou dan lainnya menginap.
"INSPEKTUR!"
Sangat terlambat untuk memberitahu sang pimpinan kalau mereka telah diserang.
.
.
BAAAAAAMMM!
"HUWAAAAA!"
Para wanita yang baru berniat menyusul yang lainnya di lobi hotel tiba-tiba harus menunduk saling melindungi dan berteriak ketakutan ketika kamar salah satu hotel hancur dengan tiba-tiba.
Hinata yang menjadi tameng dari kedua gadis langsung berlari ke dinding yang hancur untuk melihat keadaan sekitar.
"INO! SAKURA! SELAMATKAN DIRI KALIAN!"
Peringatan dari gadis yang kini mengkuncir ekor kuda rambutnya—membuat dua gadis yang lain reflek berlari mencari tempat berlindung sebelum membantu temannya itu.
Dua senjata ditangan Hinata mengeluarkan peluru-pelurunya tanpa henti, rombongan orang yang juga melancarkan tembakan padanya sedikit membuat Hinata kewalahan.
Dan sekitar beberapa menit ia melawan rombongan tersebut sendirian—akhirnya datanglah bantuan dari Kiba, Shikamaru dan dua gadis lainnya.
"Jangan sok melawan sendiri, bodoh!" Kiba tampak kesal melihat gadis cantik seperti Hinata melawan sendirian.
Hinata mengabaikan kata-kata Kiba, ia yang kesal karna kewalahan malah makin melancarkan tembakannya membabi buta.
Barisan depan dari rombongan mutan berbentuk manusia itu akhirnya tumbang.
Kelegaan mereka makin bertambah ketika mesin pembunuh lainnya membantu dari atap gedung hotel dan Sasuke yang terjun bebas dari lantai tiga sambil memutar katananya seperti baling-baling lalu menghabisi barisan tengah.
Kyuubi yang terlambatpun langsung membantu, ia mendecih kesal ketika kesempatannya membunuh para mutan harus terbagi dengan yang lainnya. AK-47 yang bermain lincah ditangan Kyuubi pun memakan habis ratusan peluru yang melobangi dada dan kepala para mutan.
Dibanding yang lainnya yang tengah berjuang menghabisi dan melindungi diri dari para mutan berbentuk manusia—Naruto hanya bisa terdiam dengan senjata biasa ditangannya.
"OI! PIRANG BODOH! APA KAU BISA MELAKUKAN HAL LAIN SELAIN BENGONG, SIALAN?!" Kyuubi meneriakinya sambil menembak, "MUNGKIN KAU BISA MENGORBANKAN DIRIMU UNTUK MUTAN KANIBAL, DARIPADA BERDIAM DIRI!"
Teriakan Kyuubi membuat Shikamaru segera waspada, dan benar saja—tak lama ketika AK-47 itu kehabisan peluru, Sasuke datang dengan katana terancung pada Kyuubi, yang membuat Kyuubi menghentikan kegiatannya mengisi ulang peluru.
"Dia tidak akan mengorbani dirinya untuk siapapun." Ujung katana berhasil menggores kulit leher Kyuubi, pria bersurai merah itupun menelan ludah.
"Sasuke.. Jauhkan katana itu dari Kyuubi.." Kiba mencoba membujuk Sasuke, tapi bukannya menjauhkan katana itu dari Kyuubi—Sasuke malah membuat katana itu berada tepat disebelah leher Kyuubi. Siap memenggalnya kapan saja.
"Jika kau mendekat, dia akan mati." Ancam Sasuke, membuat langkah Naruto terhenti untuk menyelamatkan Kyuubi.
Dari jarak cukup jauh, Shikamaru yang berada dibelakang Ino memberi sebuah isyarat pada Naruto untuk maju. Dan saat selangkah maju—mata tajam katana itupun menyentuh kulit Kyuubi, Naruto mundur kembali. Tak habis akal, Shikamaru membuka mulut, memerintahkan Naruto untuk mengikuti gerakan mulutnya.
"Sasuke.." ia mencoba mengikuti gerakan mulut Shikamaru, pria berkuncir tinggi itu mengangguk menandakan jika yang ia lakukan itu benar. "Kumohon jauhkan katana itu dari Kyuubi." Mata biru Naruto terus bergerak dari Sasuke ke Shikamaru yang terus menuntun bicaranya, "Dia.. temanku.." Sasuke mengernyitkan dahi menatapnya, "Walau dia brengsek.." Naruto berkedip heran dengan bicaranya yang kelewat batas, "Dia adalah temanku.."
Sasuke menatap tajam kedua bola mata rubby yang menatapnya takut—ia lalu menjauhkan katana berlumuran darah itu lalu memasukkannya ke sarung katana yang ada dipinggangnya.
"Kau selamat kali ini, Kyuubi."
Setelah Sasuke menjauh—tubuh Kyuubi langsung terduduk, keringat dingin bercucuran dari dahinya, ia mengira akan mati ternyata terselamatkan oleh Naruto.
"Sial!" mencoba menyelamatkan harga dirinya, ia pun meninju lantai hingga kepalan tangannya terluka.
"Jaga bicaramu lain kali, Kyuu.." peringat Kiba, ia pergi melewati Kyuubi yang masih duduk dengan raut wajah ketakutan itu.
Setelah satu persatu pergi memeriksa keadaan sekitar hotel—yang tertinggal disana pun hanya Kyuubi dan Naruto. Mata merah Kyuubi menatap tajam safir Naruto, menunjukkan kebenciannya pada si pirang.
"Kau beruntung memiliki pengawal, pirang. Aku benci orang lemah seperti mu." Ia bangkit, lalu berjalan menuju kamar hotelnya setelah membenturkan bahunya dengan keras ke bahu si pirang.
xXXXx
Hotel tempat mereka menginap tak bisa lagi dijadikan tempat tinggal mereka, dan terpaksa, ditengah hujan lebat rombongan inipun menyusuri distrik tigabelas untuk mencari tempat aman seperti hotel tersebut untuk dijadikan tempat tinggal mereka selama di distrik ini.
Karna lelah, dan juga hujan yang menghambat mereka—membuat mereka terpaksa berteduh disebuah bangunan tua yang sudah rusak. Mereka memandang tempat tersebut, dan dilihat dari bentuk bangunan itu mereka bisa memastikan tempat itu dulunya adalah tempat parkir.
Membentuk dua kelompok, mereka pun saling berbincang ringan(bagi para gadis) dan saling diam(bagi para pria). Tak ada topik yang membuat mereka tak ingin bicara.
Kyuubi yang lolos dari maut tadi kini menjadi pendiam, bahkan Kiba yang selalu membawa topik pembicaraan malah ikutan diam. Suasana berat diantara mereka membuat mereka diam.
Sasuke mengawasi mereka satu persatu, dan lebih terasa saat matanya memandangi Kyuubi atau Shikamaru. Dua orang itu adalah orang yang patut dicurigai oleh Sasuke kali ini.
Naruto tiba-tiba beranjak dari duduknya, dan semua matapun menatapnya heran.
"Toilet.." bisiknya dengan wajah tertunduk, tampak ia yang sepertinya telah menahan buang air kecilnya sejak tadi.
"Biar aku temani—
Kiba berhenti menawarkan diri ketika mata tajam Sasuke menimpanya.
"Tidak apa. Aku bisa sendiri." Ia pun berlari meninggalkan rombongan begitu saja.
"Kau membiarkan dia, Sasuke?" Kankurou mencoba menggodanya, "Kurasa dia akan lebih aman jika kau bersamanya."
Mendengar itu, Sasuke lantas beranjak dari duduknya dan segera menyusul Naruto.
Yang ternyata mereka saling berlawanan arah.
Naruto berlari saat melihat tanda toilet dilantai atas gedung parkir ini, ia pun segera memasuki tempat tersebut dan buang air kecil pada bilik yang ada.
Setelah lega membuang air kecilnya, Naruto berjalan menuju wastafel untuk mencuci tangan dan tiba-tiba harus terdiam saat melihat seseorang dibelakangnya tengah menatap datar pada ia melalui cermin.
Naruto memang tau kalau tempat ini tak adalagi manusia, hanya saja melihat orang dibelakangnya—membuat Naruto ingin menyapanya sebagai sesama manusia.
Rambut merah maron yang tampak dicermin ditambah wajah datarnya yang tampak muda membuat Naruto beranggapan jika yang dibelakangnya adalah seorang anak seusianya.
Tapi... tempat ini tidak dihuni oleh manusia selain ia dan rombongan.
Lantas, dengan waspada Naruto yang telah mengontak mata secara tak langsung dari cermin—meneguk ludahnya dan membuat perencanaan untuk pergi dari sini.
Baru saja ia melangkahkan kakinya selangkah berniat pergi—Naruto harus berhenti dengan tiba-tiba saat menyadari lantai toilet yang ia pijak menjadi pasir.
"...!"
Naruto meloncat keluar toilet secara reflek saat sebuah tangan dari pasir hampir menariknya kedalam bilik toilet dimana pemuda tadi berada. Naruto lalu berlari cepat, menghindari manusia mutan yang telah kehilangan akal sehat itu sejauh mungkin.
Dalam larinya, Naruto sesekali melihat kebelakang, melihat sosok si rambut merah maron itu telah berubah menjadi setengah monster dan menyeringai lebar terus mengejarnya. Dan entah karna efek dari jantungnya yang terlalu berdetak cepat dan otaknya yang tak bisa diberi waktu sejenak untuk berpikir disaat seperti ini—Naruto mendengar monster itu memanggil namanya.
"Naruto..."
Ia melihat kembali kebelakang dan meneguk ludah, monster itu sudah berubah sepenuhnya menjadi sosok yang mengerikan.
"NARUTO!"
Naruto menatap Sasuke yang memanggilnya, karna itu Naruto kehilangan konsentrasi berlari dan tersungkur jatuh. Monster itu pun menjulurkan tangannya yang dari pasir ingin menarik kaki Naruto—tapi Sasuke lebih dulu datang dan memotong tangannya.
Tangan yang terpotong itu langsung berubah menjadi pasir, Sasuke menebaskan katanya ke arah sang monster yang ternyata bisa menghindar sempurna.
Sasuke geram dipermainkan, ia lantas mengerahkan seluruh tenaganya dan meloncat kearah sang monster dengan katana yang terancung lurus kewajah sang monster.
Yang Sasuke lalukan berhasil, katana itu menembus kepala sang monster. Tapi sayang.. yang ia tusuk hanya pasir yang membuat katanya terperangkap.
"SIAL!"
Mendengar keributan yang tak jauh dari mereka, rombongan yang tadi masih duduk diam kini berlari bersama-sama melihat yang terjadi yang sebenarnya.
Sasuke masih berusaha melepaskan katananya dari pasir yang menahan. Sedangkan Naruto hanya bisa terduduk dengan pergelangan kaki yang memerah.
"Naruto!" Kiba datang menghampirinya, para gadis mengikuti si rambut jabrig dan langsung mengobati Naruto.
Sedangkan yang lain, mereka telah berdiri tegap dengan senjata mereka masing-masing, memasang mata sewaspada mungkin dengan keadaan sekitar.
Dan ketika muncul sosok rambut merah secara tiba-tiba, mereka langsung mengarhkan senjata kesosok itu.
Tapi, tiba-tiba salah satu dari mereka menjatuhkan senjatanya.
Seluruh pasang mata menatap kearah Kankurou, sang inspektur tampak tertegun dengan apa yang ia lihat.
"Ga—Gaara.."
Seperti terhisap ke lubang hitam, sosok itu menyeringai senang sebelum akhirnya hilang ditelan gelap.
xXXXx
Mereka menemukan tempat tinggal sementara mereka, sebuah cafe bekas yang merangkap sebagai love hotel. Awalnya para gadis jijik tinggal ditempat seperti itu mengingat tempat itu pasti sudah sering menjadi tempat banyaknya pasangan berhubungan intim yang meninggalkan jejak-jekas berupa kuman dan lainnya.
Tapi setelah dipastikan oleh Kyuubi—yang entah kenapa dia bersikap seperti pengamat lingkungan—ia dengan entengnya mengatakan bahwa tempat itu sudah bersih dan bisa ditempati.
Berpikir malam yang akan menjelang, para gadis itu akhirnya mengiyakan tempat tersebut menjadi tempat tinggal mereka.
Dan akhirnya, rombongan itu pun bisa beristirahat tenang sementara dari peristiwa penyerangan tak terduga dihotel siang tadi.
.
.
Walau telah menemukan tempat aman dan nyaman untuk ditempati, entah kenapa inspektur malah tampak gusar, ia tampak begitu terbebani oleh sesuatu.
Sakura yang melihatnya sejak tadi hanya berdiam diri—mendapatkan ide, ia dengan santai membawa secangkir kopi hangat yang aromanya menggoda penciuman sang inspektur. Setelah tergoda, dan mata Kankurou terarah padanya—Sakura pun mengatakan isi pikirannya.
"Memikirkan sesuatu, Inspektur?" tanyanya, senyum tipis menghiasi wajah Sakura.
Kankurou mengalihkan pandangannya dari Sakura, ia lalu menggenggam erat pergelangan tangan kanannya. "Anak tadi.."
Sakura terbayang seringai dari pemuda berambut merah yang mereka lihat sore tadi. Ia menatap lurus ke Kankurou.
"—adalah adik ku."
Sesaat, Sakura menahan nafasnya.
"A—Adikmu? Kenapa—
Tanyanya mengambang, Sakura tak bisa memikirkan hal lebih dari yang diujarkan sang inspektur.
"Dia—Dia adalah salah satu bahan percobaan Amerika." Sang inspektur meremat rambutnya sendiri, "Dia—Dia yang tidak tau apa-apa.. Adik ku yang tak tau mengenai apa-apa.." ia menunduk dalam, Sakura yang prihatin pun menenangkannya, tapi tak berhasil. "Harusnya aku—aku pengecut!"
Dari balik tembok ruang cafe itu—Kyuubi terdiam sambil memutar-mutar apel ditangannya.
"Sejak awal kau memang seorang pengecut, inspektur."
xXXXx
Esok harinya, Kankurou memerintahkan anak buahnya untuk kembali membuat dua kelompok, dan seperti sebelumnya ia yang mengatur kelompok tersebut.
Sasuke, Itachi, Hinata, Sakura dan Kiba berada ditim satu.
Sedangkan Kankurou, Naruto, Ino, Shikamaru dan Kyuubi berada di tim dua.
Walau ada yang tidak menyetujui pengelompokan hari ini, namun mereka tetap melakukan tugasnya membersihkan para mutan dibeberapa tempat.
Setelah melihat kepergian tim satu, Kankurou pun memerintahkan rombongannya berjalan menuju tempat yang sudah ia rencanakan semalam.
Tempat persembunyian Gaara.
Adiknya.
.
.
Shikamaru mengernyitkan dahi saat ia dibawa oleh sang inspektur menuju tempat parkir kemarin. Ia memandang sang inspektur yang memasang raut wajah kerasnya, seperti tak ingin dibantah sedikit pun kali ini. Dan karna itu, Shikamaru merasa sesuatu hal janggal dari perencanaan kali ini.
"Kyuubi dan Shikamaru bertugas dibawah. Aku, Naruto dan Ino akan memantau bagian atas."
Rencana yang dikatakan oleh Kankurou mendapat tatapan datar dari Shikamaru yang direspon tatapan balik dari sang inspektur.
"Aku menggantikan Naruto." Shikamaru ajukan diri, tapi Kankurou segera menggeleng.
"Tidak. Kau harus membantu Kyuubi disini."
"Naruto tidak memiliki senjata apapun kali ini." Shikamaru berkeras, Kankuoru menatapnya tajam. "Siapapun akan ku gantikan asal Naruto ada didalam pengawasanku."
Kankurou mendecih kesal, ia pun mengangguk. "Ino. Kau yang ada disini bersama Kyuubi."
"Osh!"
"Kau, cepat ikuti aku, Naruto." Perintah Kankurou, tampak begitu tak ingin dibantah.
Dengan lirikan, Naruto melirik Shikamaru yang sudah menaruh curiga pada Kankuoru.
.
.
.
"Tidak kelaparan seperti biasa, Sasuke." Itachi mengelap darah dari DSR-Precision 50 yang baru saja ia todongkan dan tembakan ke mulut salah satu mutan yang memohon belas kasihan padanya. Ia melirik Sasuke yang tak kunjung membalas kata-katanya. "Mengkhawatirkan Naruto?"
Sasuke melirik Itachi, katana yang bersih dari darah itu mengalun-ngalun seolah menggambarkan pertimbangan dari pikiran Sasuke. "Saa na.." ujarnya bingung, "Disekitarnya cukup aman. Menurutku."
"Aku tak pernah mengira kau bisa berpikir dan mengatakan 'menurutku' itu." Itachi menyeringai lebar, "Kemana insting buasmu, Sasuke?"
"Maa.. Maa.." Sasuke menghela nafas, "Berhenti menggodaku, Itachi." Sasuke melempar katananya keatas lalu menangkapnya kembali dan langsung diacungkan pada Itachi. "Jangan membuat mood ku makin memburuk."
Itachi menatap ujung katana yang lancip dihadapannya, ia lalu menatap lurus mata Sasuke dan menyeringai.
"Kalau kau mengkhawatirkannya, katakan saja." Ia suka menggoda adiknya ini. "Hm?"
"Che.." Sasuke berjalan cepat menuju rombongan mutan yang marah karna area mereka diganggu, ia dengan marah dan berwajah kesal menebaskan katananya kesana kemari seolah mutan itu seperti semak yang harus disingkirkan dari hadapannya. "Aku mengkhawatirkannya!" Sasuke menusukkan katananya ke kepala salah satu mutan, "Terus kenapa?!" ia mencabut katanannya lalu menendang mayat itu sebelum menebas kepala mutan lain. "Sejak tadi pagi aku menaruh curiga pada Inspektur itu. Wajar jika aku khawatir!"—ZRAAASSH!
Itachi mendengarkan tiap kata adiknya dengan seksama sambil duduk diatas sebuah drum minyak bekas yang ada disekitarnya—ia memangku wajah dan tersenyum tipis menatap adiknya.
"Lalu?" tanyanya lagi dengan nada menggoda.
Tap!
Sasuke menapakkan kaki ke aspal yang sudah dibanjiri darah, ia membalikkan badannya dan menatap Itachi.
"Menurutmu.. Naruto.. apa dia aman, hah?"
Itachi tiba-tiba terdiam, ia menatap Sasuke.
"Saa ne?"
.
.
.
Shikamaru jalan lebih dahulu dibanding Kankurou sang pemimpin kelompok ini, Naruto yang berada dibelakang Kankurou tampak menyipitkan matanya curiga pada Kankurou hari ini. Ia berjalan maju melewati Kankuoru lalu berhenti disamping Shikamaru.
"Ada apa?"
"Tidak ada.." ujar Naruto, ia melirik sang inspektur yang menunduk. Menyembunyikan raut wajah yang sebenarnya.
Menatap kedepan, Naruto mengabaikan kelakukan aneh sang inspektur.
"Besok.. Apa kau bisa mengajariku memanah lagi?" Shikamaru mengangguk, "Terima kasih." Naruto melirik kebelakang, merasa suasana dibelakangnya tiba-tiba berubah.
Benar saja, ketika ia melirik belakang—sang inspektur tak ada.
"Shika!" Naruto menahan bahu Shikamaru, "Inspektur!"
Shikamaru memegang senjatanya, bersiap menyerang mutan yang mungkin saja muncul tiba-tiba.
Mata kuaci Shikamaru mengamati keadaan sekitar, ditangannya Thompson Gun M1921 siap menembak kapan saja.
Hening yang menyrlimuti mereka membuat mereka benar-benar wasapada, dan ketika mendengar langkah kaki samar—Shikamaru langsung mengarahkan senjatanya ke arah suara langkah itu.
Sosok itu muncul dari kegelapan, Shikamaru langsung mengadahkan senjatanya untuk sosok misterius itu sebelum akhirnya ia turunkan.
"Kankuoru." Shikamaru sejenak lega, tapi karna itu dia kehilangan kewaspadaannya.
"SHIKAMARU!" Naruto mendorong tubuh Shikamaru dengan tiba-tiba saat sang inspektur menembakkan pelurunya kearah Shikamaru.
BRUK!
Naruto yang menimpa tubuh Shikamaru langsung bangkit dan menarik Shikamaru pergi.
"Aku sudah menduga hal ini!" Shikamaru berlari bersamaan Naruto. "Inspektur itu sudah gila!" serunya cukup kesal karna ditipu seperti ini.
Menyembunyikan diri dari sang inspektur—Shikamaru dan Naruto berlindung dibalik tembok besar tempat parkir gelap terebut.
Dalam hening, mereka menerka-nerka keberadaan sang Inspektur dikegelapan seperti ini.
Naruto yang mengamati arah barat tak mengetahui seseorang yang datang dari arah berlawanan darinya dan dengan tiba-tiba melayangkan sebuah besi panjang pada partnernya yang terlambat menyadari jika seseorang telah menyerangnya.
BUGH!—BRUK!
"SHIKAMARU!" Naruto yang reflek menoleh kearah suara gebukan itu langsung menghampiri tubuh Shikamaru yang terkapar tak sadarkan diri.
"Berdiri." Naruto membeku, Thompson Gun M1921 milik Shikamaru menyentuh belakang kepalanya. "Berdiri!"
Naruto mengikuti keinginan sang inspektur, ia melirik Kankuoru yang mengarahkan senjata itu kekepalanya.
"Kenapa kau lakukan ini?"
"Bukan urusanmu. Kau tidak akan mengerti jikapun aku memberitahu alasanku, manusia kloning." Kankuoru menendang bokong Naruto, menyuruhnya berjalan. "Tunjukan dimana pertama kali kau betemu dengan Gaara."
Naruto melirik Kankurou yang masih menodongnya dengan tatapan datar, nama yang keluar dari mulut sang inspektur membawa pikirannya menuju mutan berambut merah kemarin. Mengikuti perintah Kankurou, Naruto pun membawa sang inspektur menuju toilet. Tempat ia bertemu pertama kali dengan mutan bernama Garaa tersebut.
Perjalanan mereka menuju toilet sangatlah lambat, Naruto terus berjalan didepan Kakurou dengan Thompson Gun M1921 masih terus tertodong padanya. Ia tak bisa berbuat-buat apa.
Berhenti didepan toilet, Naruto melirik Kankurou. "Aku bertemu dengannya disini."
"Masuk." Naruto masih diam ditempatnya, "Ku bilang masuk!" moncong senjata itu memukul kepala belakang Naruto.
Dan terpaksa ia pun menuruti Kankurou dengan masuk kedalam sana.
Langkah kaki Naruto begitu pelan, ia melirik cermin yang sebagai awal mereka bertatapan secara tak langsung.
Tap.
Ia berhenti, tepat saat matanya mendapati sosok yang sama duduk disalah satu bilik toilet.
"Naruto.."
.
.
DRAP!—DRAP!
Naruto berlari sekuat tenaga dari toilet yang tadi ia masuki, dibelakangnya tangan yang dari pasir itu mengejarnya dan menangkap kakinya.
BRUK!
Naruto tepat terjatuh didepan toilet. Tepat dihadapan Kankuoru.
"Ga—Gaara.."
Mata Kankurou membelalak melihat adiknya yang berubah menjadi setengah monster dan tengah menyeringai padanya.
"Gaara.. Gaara.." ia berjalan masuk, lalu berlari kearah adiknya dan memeluknya erat. "Gaara.." ujarnya lagi penuh kerinduan.
Raut wajah sang mutan tidak berubah, ia tak memperdulikan jika seseorang memeluknya erat—yang dipikirannya sekarang adalah menghancur orang yang kini ada digenggaman tangannya.
"Naruto.. Naruto.."
Kankurou melepaskan peluknya, ia menatap adiknya yang menyeringai lebar, liur mengalir dari mulut lebarnya.
"Gaara.."
"HAHAHAHA! AKU MENEMUKANMU, NARUTO!"
"Gaara!"—BUK! "Ugh!"
Kankuoru terlempar kedalam bilik toilet, punggungnya membentur keras dinding toilet. Sedangkan Gaara, ia mengangkat tangan besarnya yang terdapat Naruto.
"Kau akan mati.. Naruto.." ia membenturkan Naruto ke atap toilet lalu membantingnya ke lantai sebelum melemparnya keluar.
BRUUGH!
Tubuh si pirang membentur salah satu tiang bangunan parkir. Naruto bisa mendengar jelas bagaimana tulang punggungnya berbunyi saat membentur tembok tersebut.
"AAAARRRGGGHHH!"
"Hahahaha!" Gaara keluar dari toilet, dengan kedua tangan raksasanya ia berjalan dan mendekati Naruto yang terkapar dan tak bisa bergerak. "Aku menemukanmu, Naruto!"
Naruto menggadah dengn gemetar, liur sang mutan mengenai wajahnya, Naruto tak bisa melakukan apa-apa selain meringis kesakitan karna tubuhnya dilempar bagai batu kerikil.
"NA—RU—TO!"
BUGH! BUGH! BUGH!
"KAU AKAN KU BUNUH, NARUTO!"
Tubuh si pirang tak berdaya dipukul berkali-kali dengan tangan besar sang mutan, meretakan lantai parkir hingga membuat lubang besar dengan si pirang yang mulai mati rasa dengan tubuhnya.
"Ga—GAARA!" Kankuoru muncul dari dalam toilet, ia langsung mengambil Thompson Gun M1921 Shikamaru yang berada diatas lantai. "GAARA HENTIKAN!" teriaknya, sang inspektur tak segan menodongkan senjatanya kepada sang adik.
Gaara menghentikan pukulannya pada tubuh Naruto, ia membalikkan badan lalu merubah tubuhnya menjadi tubuh manusia. Raut wajahnya yang datar menatap Kankurou.
"Nii-san.."
Senjata yang tertodong pada Gaara jatuh begitu saja saat mulut sang mutan memanggil Kankurou.
"Gaara.."
"Nii-san!" Gaara berlari mendekati Kankurou, raut wajahnya yang datar berubah menjadi senyum lebar dan akhirnya menyeringai lebar. "MATI KAU!"
Sosok manusia Gaara langsung berubah menjadi monster sepenuhnya, ia menggerakan tangannya dengan cepat ketubuh Kankurou yang membeku.
Melempar sang kakak dengan kuatnya ke tembok parkir.
BRUUUAAAK!
"Onii-san.. Onii-san.. Kankurou-niisan.."
Kankurou yang terduduk dengan tubuh lemas tersandar pada dinding—menggadah menatap Gaara. Ia meringis kesakitan.
"Onii-san.." Gaara merubah sosok lagi menjadi manusia, ia berdiri dihadapan kakaknya.
Kankurou memejamkan mata saat tangan Gaara yang penuh luka mengelus pipinya, panggilan khas adiknya pada ia pun membuat tubuh Kankurou seketika hangat dipenuh rasa rindu.
Sebelum akhirnya ia dicekik dan diangkat tinggi dengan tangan adiknya sendiri.
"Gaa—Gaara!"
"..pengecut. Mati saja kau!"
Tubuh itu kembali dilempar oleh sang mutan. Kankurou terbaring dengan kepala yang telah mengeluarkan darah, ia menggadah dan menatap Gaara yang kembali mendekatinya. Mendadak pandangannya mengabur. Sebelum hilang kesadaran, Kankurou sempat melihat wajah panik adiknya.
"Gaara.."
.
xX—TBC—Xx
.
Yop! Ketemu lagi di chapter dua nya :3
Bagaimana dengan chapter ini? Banyak kekurangan kata kah? Typos kah? Hahaha.. itu biasa../plak
Ahh.. Judul chapter ama isinya agak menyimpang ya? /boboan/ hahaha :'v maafkan diriku.. rencananya sih spesial Sasuke chapter ini, tapi keenakan ngetik jadi melenceng dan—ga apa lah ya? /craiys
Oh ya :3
Thanks banget buat yang review kemarin TTwTT Ryuu terharu sekali respect nya lumayan dengan genre nekadan Ryuu ini :'v
Sebenarnya.. Ryuu mau ngejelasin sesuatu tentang chapter ini, Cuma berhubung Ryuu lupa—jadi lupakan saja /dibakar/
Tapi kalo agak janggal dengan chapter ini silahkan tanya :3 kalo ada kesempatan Ryuu jawab lewat PM-ssu :3
Oh ya.. yang nanya direview kemarin kayak. 'Naruto yang aslinya mana?' atau yang lainnya terpaksa ga Ryuu jawab /smirk
Genrenya misterikan? YA KAN?! /plak
Jadi biarkan jadi misteri dahulu—HAHAHAHA/keselek/ dan nanti bakal terjawab kok :3 /moga aja ingat #plak
Sampai jumpa di chap tiga.. ^0^/
Tinggalkan review yang panjang ya! /todongin AK-47/
