Dynasty Warriors © KOEI

Sun Lijuan © Author Sia Leysritt


Summary

"Aku tak pernah percaya dengan yang namanya kebetulan. Kurasa kita bertemu di sini karena itu memang tak terelakkan."

Sun Lijuan percaya bahwa segala sesuatu dalam hidupnya tidak terelakkan. Bahwa semua terjadi karena takdir berkata demikian, termasuk pertemuannya dengan Guan Xing. Baginya, takdir yang datang kepadanya, sudah sepatutnya ia terima karena sebesar apapun manusia berjuang, takdir tak akan bisa berubah.

Namun, ketika ia dihadapkan dengan pilihan; Jika ia harus memilih antara memihak suami atau keluarganya, pihak mana yang akan dia pilih? Dan apakah ia telah melakukan keputusan yang tepat? Apakah pilihan yang ia pilih sudah benar? Terkadang saat kau sudah begitu mencintai seseorang dengan teramat sangat, kau berakhir mengambil keputusan yang melukai orang-orang disekitarmu.


Sia Leysritt presents:

Inevitable

AD 199

BAB SATU

The Crimson Eyed Girl


"What's meant to be will always find a way"
Trisha Yearwood


Seorang gadis berjalan terhuyung-huyung sambil membungkus dirinya dengan kain lusuh yang dibawanya. Hari itu adalah ari terpanas pada musim panas itu. Walau tidak ada tanda-tanda kekeringan dimanapun, namun matahari bersinar terik dan gadis itu berkali-kali mengusap peluh yang terus mengalir dari dahinya saking panasnya matahari bersinar hari itu. Perut lapar gadis itu sama sekali tidak membantunya dan fakta bahwa ia berada di medan perang adalah hal terakhir yang dibutuhkan oleh seorang anak berumur lima tahun yang sudah tidak punya siapa-siapa lagi.

Gadis itu tak bernama. Ia tidak ingat namanya sendiri. Otaknya yang kecil belum mampu menyimpan informasi-informasi yang bahkan sepele seperti itu, dan fakta bahwa tidak ada orang yang memanggil gadis itu dengan namanya sejak ia kehilangan keluarganya, ia tidak repot-repot mengingat siapa namanya. Yang ada dalam otaknya sekarang adalah perintah yang ia berikan pada dirinya sendiri untuk mencari makanan karena ia belum makan sejak kemarin. Kemarinpun ia cukup beruntung mendapatkan sepotong kecil bakpao dari seorang wanita yang baik hati tapi tentu saja perang mengacaukan segalanya sehingga ia harus menyingkir dan sampai sekarang, ia belum menemukan siapapun atau apapun yang bisa menghasilkan makanan untuk memuaskan perutnya yang sudah protes sejak pagi karena belum diisi.

Mata merahnya memandang ke kanan dan ke kiri, memastikan bahwa tidak ada perang yang terjadi beberapa saat yang lalu memang sudah selesai dan tidak ada pihak manapun yang bersembunyi entah di mana dan tidak ada bilah berbahaya yang teracung tepat di depa hidungnya. Walau masih kecil, gadis itu memiliki insting bertahan hidup yang cukup kuat. Sejauh ini ia berhasil menghindar dari beberapa medan perang dan tidak membuat dirinya terbunuh dan ia beruntung dapat mencuri beberapa makanan dari pasar atau jika ia cukup berani, dari para prajurit (yang dengan bodohnya tertidur sambil meninggalkan makanan berharga mereka sembarangan).

Setelah memastikan bahwa tidak ada prajurit yang mengacungkan bilah tajam mereka ke segala arah, gadis itu terus berjalan. Ia tahu ada camp prajurit di sekitar sini karena tempat ia berada sekarang baru saja menjadi medan perang dan gadis itu tahu bahwa setiap kali perang usai, tiap pihak – biasanya pihak yang menang – akan kembali ke camp mereka dan melaporkan hasil perang pada perwira yang paling superior. Dan ia tahu ada hal lain lagi di sana selain prajurit dan senjata tajam. Makanan. Persediaan makanan pasukan. Jika ia beruntung, ia mungkin bisa mendekati persediaan makanan mereka tanpa ketahuan dan bisa mengambil sedikit saja makanan mereka. Dia sudah sangat lapar sehingga akal sehatnya dikalahkan oleh insting bertahan hidupnya yang sudah beribu kali meneriakkan betapa laparnya dia dalam otaknya. Ia juga tahu jika ia tidak segera makan ia pasti akan mati dalam hitungan mungkin tidak sampai satu hari.

Semakin lama ia berjalan, perutnya terasa makin melilit dan tidak enak karena rasa lapar dan cemas. Ini memang bukan pertama kalinya ia nekat mengais-ngais makanan dari camp prajurit perang tapi seingatnya di tempat ini tadi terjadi peperangan yang lumayan besar walau dia sendiri tidak tahu apa yang membedakan perang ini dengan perang yang lain. Baginya, semua perang itu sama saja skalanya. Tidak lama kemudian, ia mendengar suara dari kejauhan. Ia tahu bahwa ia sudah dekat. Ia berlari kecil ke arah tempat yang, kemungkinan adalah camp prajurit. Ia mendekati gerbang dan mengintip.

Gadis kecil itu takut. Pasalnya, ia belum pernah melihat sebuah camp yang penuh dengan prajurit-prajurit berbadan raksasa seperti para prajurit di camp ini. Perutnya semakin melilit dan ia merasa mau muntah karena perasaan tidak enak dan lapar yang bercampur dalam perutnya. Tentu saja, hal paling masuk akal yang harus ia lakukan adalah pergi dan mencari makan di tempat lain, tetapi perutnya sudah meronta-ronta sejak kemarin karena belum makan dan ia tidak yakin bisa menemukan tempat yang menjual makanan terdekat dari sini dan akal sehatnya tidak bekerja begitu baik dengan perut lapar dan adanya potensi mendapatkan makanan tepat di depan matanya.

Hanya sedikit tidak apa-apa. Pikirnya. Hanya sepotong bakpao saja sudah cukup dan kemudian kabur. Pasti tidak apa-apa.

Dan seperti itu saja, insting bertahan hidupnya mengalahkan akal sehatnya. Mata merah gadis itu melihat ke sekeliling camp. Semua orang tengah sibuk mempersiapkan kuda dan persediaan makanan mereka untuk di bawa pulang. Dengan cepat gadis itu mencari-cari satu prajurit saja yang sudah mengeluarkan persediaan makanannya untuk dimakan di tempat dan untungnya ada beberapa prajurit yang memang sudah mulai makan sebelum mereka pulang. Setelah yakin tidak ada prajurit di sekitar gerbang, gadis kecil itu dengan cekatan masuk ke dalam camp dan menyembunyikan dirinya di balik kotak-kotak kayu di sebelah sebuah tenda. Tidak ada yang menyadari keberadaanya dan itu bagus. Sejauh ini. Mendadak, hidungnya membaui bau daging dan roti. Ia mendongak. Di atas salah satu kotak kayu tempat ia bersembunyi, salah satu perwira meletakkan bakpaonya yang satu baru dimakan setengah dan tiga lainnya belum di sentuh. Perwira itu memiliki badan besar dengan kulit gelap. Ia tampaknya sudah veteran jika di lihat dari rambut dan kumis jenggotnya yang sudah berwarna keputihan. Ia tengah berbicara dengan tiga perwira lain sambil tertawa menggelegar. Mereka semua memakai pakaian berwarna merah yang berarti mereka dari faksi yang sama.

Ia tidak pernah mencuri makanan dari perwira sebelumnya. Tidak pernah. Tapi perutnya sudah sangat keroncongan dan jika ia harus mencari prajurit lain ia hanya akan buang-buang waktu sementara di depan matanya ada mangsa yang lebih dekat. Ia menatap perwira itu dengan hati-hati. Mereka tampaknya sedang tenggelam dalam apapun yang tengah mereka bicarakan jadi dengan pelan ia menjulurkan tangannya untuk mengambil bakpao itu.


Kampanye untuk melawan Yuan Shu berakhir dengan kemenangan Cao Cao dan para sekutunya. Yuan Shu adalah seorang panglima perang yang menyatakan bahwa ia adalah Son of Heaven – Putra dari Surga, yang merupakan gelar kekaisaran yang dikhususkan untuk kaisar China. Hal ini merupakan tindakan pengkhianatan terhadap Kaisar Xian, Kaisar yang tengah berkuasa pada saat itu. Yuan Shu menganggap dirinya setara dengan kaisar karena memiliki Imperial Seal – Segel Kekaisaran, padahal yang menemukan benda keramat itu bukanlah ia melainkan Sun Jian seorang panglima perang yang beraliansi dengannya. Panglima yang mendapat julukan Tiger of Jiangdong – Macan dari Jiangdong.

Sun Jian menemukan Segel Kekaisaran tersebut di sebuah sumur setelah peperangan melawan Dong Zhuo di Luoyang. Segel dapat dengan mudah ia gunakan untuk mengendalikan tanah ini sebab – katanya – siapapun yang memperoleh segel tersebut akan diberikan gelar Mandate of Heaven – Mandat dari Surga, sebuah tanda pemerintahan atas kerajaan tengah. Namun, alih-alih menggunakannya untuk dirinya sendiri, Sun Jian memutuskan untuk menyimpan Segel Kekaisaran itu sebab ia masih ragu untuk menggunakannya karena dirinya adalah panglima perang yang setia pada Han.

Namun, ternyata Segel Kekaisaran itu menyelamatkan dirinya dari kematian dan ia menyadari bahwa mungkin ini memang takdirnya untuk menguasai tanah yang dipenuhi peperangan ini. Namun ia juga menyadari bahwa masa depan adalah milik para anak-anak muda maka ia memberikan Segel Kekaisaran itu kepada Sun Ce agar ia bisa menggunakannya untuk langkah awal mereka untuk menguasai tanah China ini. Sun Ce lalu menggunakan Segel Kekaisaran itu untuk meminjam 3.000 prajurit dari Yuan Shu dan juga untuk kebebasannya dan keluarganya yang sudah bekerja di bawah Yuan Shu selama lima tahun ini. Yuan Shu yang sudah mendapatkan Segel Kekaisaran menjadi besar kepala dan segera mengungumkan pada dunia bahwa ia adalah Putra dari Surga yang merupakan gelar kekaisaran yang dikhususkan untuk Kaisar seorang. Karena tindakan ini Cao Cao meminta bantuan Sun Ce untuk menyingkirkan Yuan Shu.

Maka dari itulah, Cao Cao, Sun Ce, dan Liu Bei (yang saat itu berada di bawah perlindungan Cao Cao) menggabungkan kekuatan untuk menyingkirkan Yuan Shu dan mereka berhasil. Kini, para perwira, prajurit, dan para panglima perang sedang bersiap-siap untuk kembali ke tempat asal mereka masing-masing setelah perang. Huang Gai tampak ceria saat menceritakan beberapa kisah pada kedua anak Tuannya, Sun Ce dan Sun Quan, juga kepada Han Dang salah satu teman seperjuangannya.

"Lalu, setelah itu…"

Sun Quan yang sedang memperhatikan Huang Gai yang tengah menceritakan kisah hidupnya dengan berapi-api tiba-tiba mengalihkan perhatiannya saat ia melihat sebuah tangan terulur dan mengambil bakpao milik Huang Gai yang ia biarkan begitu saja dia tas tumpukan kotak kayu di belakangnya. Sun Quan mengerjapkan mata untuk memastikan ia tidak salah lihat dan ia memang tidak salah lihat.

"Uh, Huang Gai?"

"Tunggu sebentar, Tuan Muda, aku sekarang telah sampai di bagian yang seru!" Kata Huang Gai yang masih berapi-api menceritakan kisah hidupnya dan tampaknya Sun Ce dan Han Dang juga terlalu terfokus pada cerita Huang Gai yang sejujurnya sudah mereka dengar berulang-ulang.

"Iya, tapi… Aku cuman mau bilang ada tangan yang mengambil bakpao-mu." Kata Sun Quan pada akhirnya.

"Apa?"

Huang Gai berbalik dan tepat saat itu juga ia mendapati, bukan hanya tangan kecil yang dikatakan tuan mudanya, tapi juga seorang gadis kecil berpakaian lusuh yang memandangnya dengan penuh rasa takut karena sudah tertangkap basah.


Gadis itu tak menyangka akan merasa setakut ini lagi setelah malam ia kehilangan orang tuanya. Belum saja dia menyentuh bakpao di piring itu, dia sudah tertangkap basah. Oleh empat orang perwira pula. Ia membeku di tempat. Akal sehatnya meneriakkan perintah agar dia kabur tapi badannya menolak untuk bekerja sama dengan otaknya dan ia hanya bisa menelan ludah. Perwira di hadapannya jauh lebih besar dari dirinya dan ia sangat yakin bahwa perwira itu marah padanya.

"Anak kecil?" Gumam perwira itu. "Hei nak ,kau baik-baik—"

Belum selesai perwira itu berbicara, gadis itu langsung kabur. Persetan dengan makanan, tapi ia tidak mau mati. Namun baru saja dia berbalik untuk lari, dia langsung menabrak sesuatu yang keras dan jatuh terjerembap ke belakang. Gadis itu mengaduh kesakitan dan mengusap hidunnya yang terasa perih.

"Ya ampun, kau baik-baik saja nak?" Terdengar suara serak kasar dari belakangnya. Suara perwira yang tadi. "Tuan, jangan tiba-tiba muncul begitu. Bagaimana kalau anak ini cedera?"

"Maaf, maaf, Huang Gai. Aku tidak tahu ada anak kecil di sini." Suara yang ini dia tidak kenal. Suaranya terdengar berwibawa dan berat. "Siapa anak ini?"

Gadis itu mendongak dan di hadapannya berdiri seorang panglima perang. Pria ini bertubuh besar dengan rambut yang sudah penuh uban sehingga terliha putih semua dengan kumi dan jenggot tipis. Baju perang yang ia gunakan tampak megah dengan tambahan jubah berwarna merah yang tersampir di bagian bahunya itu. Wajahnya tampak ramah dan tanpa niat membunuh tapi gadis kecil itu tetap saja takut.

"Err… Saya tidak tahu, Tuan. Tapi tadi dia hendak mengambil bakpao saya." Pria yang berbicara adalah pria besar berkulit gelap yang tadi. "Sebenarnya kalau dia langsung minta, pasti saya akan memberikannya." Kata pria itu.

"Mungkin dia takut karena badanmu besar." Pria yang berbicara kali ini berkulit pucat dengan mata sipit. Ia juga berjenggot dan berkumis. Rambutnya berwarna cokelat dan berbentuk seperti ujung kuas. Aneh. Nama pria ini adalah Han Dang.

"Bisa dimengerti." Kata pria bernama Huang Gai.

"Maaf soal tadi, nak. Kau baik-baik saja?" Tanya pria berambut putih yang dipanggil Tuan tadi.

Gadis itu mengangguk lemah. Kini dia sudah tertangkap basah, lalu apa? Apa dia akan di tangkap? Di bunuh? Atau mungkin hal yang lebih mengerikan dari di bunuh?

Pria di hadapannya memandanginya dan gadis kecil itu menatapnya dengan takut-takut. Kemudian pria itu mengambil bakpao yang tadi hendak dicurinya dan memberikan makanan itu padanya.

"Ini. Kau lapar bukan?"

Gadis itu menatap si pria dan mengerjapkan mata. "Bo-boleh?" Tanyanya ragu-ragu.

"Tentu." Pria itu tersenyum. Ragu-ragu, gadis itu menerima bakpao tersebut dan karena dia sudah sangat lapar dia langsung memakannya dalam satu kali suap.

"Hahaha! Sepertinya dia lapar sekali!" Huang Gai tertawa keras. "Kalau kau mau, kau boleh makan semua bakpaoku. Kau kelihatannya lebih lapar dariku, nak." Kata pria berbadan besar itu, manawarkan sisa bakpaonya pada gadis kecil itu.

Gadis itu menatapnya. "…Boleh?"

"Tentu saja boleh, nak." Gadis itu mengucapkan terima kasih dan memakan sisa bakpaonya.

"Hmm, aku tidak tahu ada yang membawa anak kecil ke sini." Yang berbicara adalah seorang pemuda yang rambut panjangnya diikat kuda. Ia berjenggot dan badannya berotot. Pria ini bernama Sun Ce.

"Yah… Gadis kecil, kau datang ke sini dengan siapa?" Tanya Han Dang selembut mungkin. "Dan namamu siapa?"

Gadis itu terdiam sejenak sebelum menjawab. "Aku datang sendiri dan untuk nama… Aku… Aku tidak punya nama…"

Para perwira – yang omong-omong sudah duduk di sekitarnya sekarang dan dia sendiri sudah duduk di atas kotak kayu—menatapnya dengna bingung.

"Apa maksudmu? Semua orang punya nama." Kata Sun Ce.

"Ah Aku…" Gadis itu terdiam sesaat. "Kurasa aku punya nama, tapi sudah lama tidak ada yang memanggilku dengan namaku sehingga aku melupakannya."

Keheningan tidak mengenakkan menyelimuti mereka semua. Gadis itu dapat merasakan para perwira itu tengah memandanginya dengan pandangan mengasihani. Sesuatu yang sanga tidak ia butuhkan sekarang dan sesuatu yang tidak ingin ia dapatkan. Ia tidak perlu dikasihani, semenyedihkan apapun keadaannya sekarang. Tidak tahan lagi, gadis itu memutuskan bahwa ia harus pergi sekarang.

"Terima kasih atas kebaikan Anda sekalian. Saya rasa saya harus pergi sekarang."

"Per—Tunggu, kau mau pergi kemana?" Tanya seorang pria lagi. Pria yangbernama Sun Quan. Sun Quan juga mempunyai rambut cokelat seperti Sun Ce, kakaknya, dan rambutnya juga diikat dalam bentuk buntut kuda tinggi. Namun dibandingkan kakaknya, penampilannya tidak terlalu terlihat seperti petarung.

Pergi kemana? Gadis itu tidak tahu. Ia selalu pergi tanpa arah. Ia pergi kemanapun takdir membawanya dan apapun yang takdir sodorkan padanya akan ia terima dan ia akan berusaha bertahan hidup hingga takdir memutuskan kapan ia harus mati.

Melihat gadis itu tidak memberikan jawaban untuk waktu yang cukup lama, Sun Jian angkat bicara. "Kau tidak punya tempat tujuan, bukan?"

Gadis itu mengangguk pelan.

"Dan kutebak orang tuamu adalah korban perang yang melanda daratan ini?"

Gadis itu kembali mengangguk.

Sun Jian tersenyum. Senyuman yang biasa ia tarik setiap kali ia memikirkan ide gila mendadak yang terbentuk di otaknya. Untuk ukuran panglima perang, Sun Jian selalu mempunyai ide yang terlalu terduga dan terlalu mendadak untuk dilaksanakan. Apapun yang ia lakukan akan selalu mengejutkan orang-orang disekitarnya. Ia yakin keputusannya kali ini juga akan mengejutkan keluarga dan rekan-rekannya, tapi dia toh tidak bisa membiarkan anak ini sendirian, terutama anak kecil bernyali besar seperti ini yang berani memasuki camp prajurit perang hanya untuk sepotong kecil bakpao. Sun Jian juga bisa melihat sesuatu yang lain dari matanya. Mata merah menyala miliknya sudah melihat terlalu banyak untuk ukuran anak berumur lima tahun dan Sun Jian tahu untuk anak umur lima tahun, gadis kecil ini mampu berpikir lebih dewasa daripada umurnya. Ia tidak tahu bagaimana ia tahu, dia hanya tahu.

"Kalau begitu, apa kau mau tinggal denganku dan keluargaku?"


To be Continued


Author's Note

Okay author me-rewrite cerita ini karena author baru merampungkan backstory Sun Lijuan dan karena author baru mendalami cerita-cerita Dynasty Warriors. Setting chapter ini itu setelah Campaign Against Yuan Shu dan menurut Koei Wiki sih itu tahun 199 AD. Settingan cerita author ini gabungan antara DW7 dan DW8 karena dua itu yang author mainin dan author ngerti jalan ceritanya dan ini bakal ngikutin Hypothetical Route Wu dan Shu dan mungkin ada nyelip sedikit plot dari DW9 karena ada bebrapa skenario yang author rasa cocok untuk cerita. Dan author minta maaf sebelumnya kalau ini rada melenceng dari sejarah (keberadaan Lijuan aja udah melenceng dari sejarah :v ) tapi mohon dimaklumkan. Kalau ada yang bingung, Lijuan lahir tahun 194 jadi dia lebih muda setahun dari Guan Xing karena berdasarkan sumber yang author dapat, Guan Xing lahir tahun 193 jadi dia diadopsi sama keluarga Sun itu pas dia berumur lima tahun dan untuk battle of Shouchun Author make skenario dari DW7.


Terima kasih sudah membaca

Mohon maaf jika ada typo yang mengganggu