CHRYSANT

Naruto © Masashi Kishimoto

Genre : Mysteri, Romance

.

.

.


Kamelia putih...

Aku menyukainya karena Ino bilang bunga itu melambangkan penantian.

Seperti halnya perasaanku pada Sasuke.

Aku menantinya, dan akan selalu menantinya...

Meskipun dia tidak pernah peduli,

Tidak apa-apa, suatu saat nanti keadaan akan berubah...

Aku yakin itu, kamelia putihku tidak akan pernah layu.

Aku akan menjaganya. Menjaga perasaan putihku pada pemuda itu...

Hinata menutup buku diary miliknya. Buku ini akan membantu dia mengingat semuanya. Uchiha Sasuke, tiba-tiba Hinata tersenyum mengingat nama itu. Pemuda yang dia sukai. Tapi dia sudah bertunangan dengan gadis bernama Sakura. Apakah dia harus melupakan Sasuke?

Hinata menghela napas panjang kemudian mengalihkan pandangannya pada pot bunga berwarna biru itu. Bunga kamelia itu hampir layu, Hinata harus cepat-cepat menyiramnya dengan air.

oOo

Hinata membuka lokernya dengan paksa, tetapi sepertinya usahanya sia-sia. Loker itu tetap tidak mau terbuka. Sebenarnya apa kode untuk membukanya? Hinata tidak menulisnya di dalam diary. Ino juga tidak mengetahui password loker Hinata. Mungkin dia harus memberitahu pihak sekolah nanti.

Hinata berbalik untuk menuju ke kelas. Sebuah loker menarik perhatiannya. Di sana tertulis 'Haruno Sakura, XI-2' Itu loker milik Sakura! Hinata mendekatinya sambil melihat sekitar. Bukannya dia bermaksud tidak baik, dia hanya penasaran dengan gadis itu. Lagipula sejak kemarin Hinata belum bertemu dengan Sakura, padahal setahu Hinata mereka berada di kelas yang sama.

1, 2, 3, 4, 5, 6

Katasandi salah!

1 - 2 -3 -1 -2 -3

Katasandi salah!

1 - 1 - 1 - 1 - 1 - 1

Katasandi akan dikunci sementara. Cobalah lain waktu ^_^

Hinata memencet tombol dengan kesal. Dia tidak sadar kalau dia barusaja melakukan hal bodoh. Berusaha membuka loker orang lain padahal membuka lokernya sendiri pun tidak bisa. Hinata memukul loker Sakura dengan gemas.

"Apa yang kau lakukan?" Tanya seseorang di belakang Hinata.

Hinata berbalik dan mencoba bersikap sewajar mungkin.

"S-sasuke? A-aku sedang mencari lokerku." Jawab Hinata tergagap.

"Itu jelas-jelas loker milik Sakura. Apa kau tidak bisa membaca?"

"A-ah ya, kau benar. Aku tidak melihatnya." Hinata tersenyum kaku.

Hinata mencoba untuk kabur dari tempat itu tetapi sepertinya dia kalah cepat karena saat ini Sasuke sudah menahan lengannya.

"Aku tanya, apa yang kau lakukan pada loker milik Sakura?" Tanya Sasuke dingin.

Hinata ketakutan. Dia mencoba melepaskan lengannya tetapi Sasuke malah mencengkramnya semakin kuat.

"M-maafkan aku Sasuke-san! Aku tidak bermaksud mencuri kok!" Cicit Hinata. "Aku hanya penasaran dengan gadis bernama Haruno Sakura."

"Kenapa kau penasaran?"

"Itu ... karena aku dengar dia tunanganmu." Jawab Hinata. "Maaf, kau pasti marah padaku. Tapi jangan bilang pada Sakura kalau aku berusaha membuka lokernya. Aku takut dia akan sangat marah padaku."

Hinata yang sekarang benar-benar berbeda. Setahu Sasuke, tidak ada orang yang pernah mendengar kata "Maaf" keluar dari mulut si sulung Hyuuga itu apalagi untuk hal-hal yang berhubungan dengan Sakura. Semua orang tahu Hinata dan Sakura adalah rival yang paling mengerikan. Mereka bisa berlomba-lomba dalam segala hal, mulai dari peringkat sampai soal percintaan.

"Dia akan sangat marah kalau dia tahu." Sasuke melepaskan cengkramannya dengan kasar. "Tapi sayangnya dia tidak akan pernah tahu."

"Apa itu artinya kau tidak akan memberitahukan pada Sakura? Terimaka-"

"Dia sudah tidak ada!" Potong Sasuke cepat.

Hinata terkejut, "Apa maksudmu?"

"Sakura sudah meninggal dua minggu yang lalu. Mayatnya ditemukan di dekat tangga sekolah tepat saat kau mengalami kecelakaan."

Hinata menutup mulutnya dengan gemetar. Matanya terbelalak tidak percaya dengan perkataan Sasuke barusan. Sakura sudah meninggal? Gadis yang dulu Hinata benci sudah tidak ada lagi di dunia ini. Padahal Hinata ingin memperbaiki hubungannya dengan Sakura. Tapi ada yang sedikit keanehan, apakah ini Cuma kebetulan? Hinata mengalami kecelakaan yang hampir merenggut nyawanya tepat pada saat kematian Haruno Sakura. Apakah keduanya berhubungan?

"Kenapa?" Tanya Hinata masih dengan keadaan terguncang. "Kenapa Sakura bisa meninggal?"

"Tidak ada yang tahu. Tapi semua beranggapan kalau Sakura terjatuh dari tangga." Jawab Sasuke. "Sebenarnya ada beberapa hal yang janggal soal kematiannya tetapi pihak sekolah memilih untuk menutup kasus tersebut."

"Lalu, apakah keluarga Sakura tidak menindak lanjuti kasus ini?"

"Itu juga salah satu hal yang aneh. Keluarga Sakura justru mendukung penutupan kasus ini."

Hinata terdiam. Semuanya memang aneh. Sakura meninggal di sekolah dan tidak ada saksi mata. Pihak sekolah menutup kasus ini mungkin karena mereka tidak ingin nama baik sekolah tercemar tapi keluarga Sakura juga mendukung penutupan kasus. Kenapa mereka melakukan itu? Apa mereka tidak penasaran atas penyebab kematian putrinya yang mendadak? Bisa jadi Sakura bukannya terjatuh dari tangga secara tidak sengaja, melainkan ada yang sengaja membuatnya celaka.

Tidak! Itu tidak mungkin. Kalau ada yang ingin mencelakai Sakura maka ini adalah kasus pembunuhan! Membayangkannya saja sudah membuat Hinata merinding. Ada seorang pembunuh yang berkeliaran di sini.

0oooOooo0

"Itulah beberapa sejarah mengenai negri ini yang harus kalian ketahui. Selebihnya kalian bisa mencari tahu di internet atau buku-buku yang ada di perpustakaan." Iruka-sensei mengakhiri pelajarannya kemudian keluar dari kelas karena sudah masuk jam istirahat.

Semua murid keluar dari kelas kecuali Hinata dan Gaara.

"Kau tidak keluar?" Tanya pemuda berambut merah itu.

"Tidak," jawab Hinata. "Gaara, apa kau tahu sesuatu soal kematian Sakura?"

"Kenapa tiba-tiba kau tanya begitu?"

"Sepertinya ada yang aneh. Aku sendiri tidak tahu apa itu tapi–"

"Ya, kematiannya memang mengejutkan semua orang. Sakura meninggal di sekolah, bukankah itu mencurigakan?" Kata Gaara. Pandangannya menerawang jauh sepertinya dia sedang membayangkan apa yang sebenarnya terjadi pada gadis musim semi itu.

"Memang sangat mencurigakan. Aku harus menyelidikinya!"

"Jangan! Itu berbahaya. Bagaimana kalau memang ada yang menyelakai Sakura dan orang itu masih ada di sekitar sini?"

"Kalau begitu aku harus bertemu dengannya dan menanyakan alasan dia melakukan hal itu." Kata Hinata dengan yakin.

.

Perpustakaan adalah tempat paling cocok untuk berpikir. Karena selain sepi, di sana terdapat banyak buku yang mungkin bisa membantu. Hinata duduk agak menjauh dari beberapa orang yang sepertinya sedang mengerjakan tugas di perpustakaan. Buku diary nya selalu ia bawa kemanapun. Sudah beberapa hari sejak dia amnesia tapi tidak banyak hal yang bisa dia ingat.

Kau bodoh, Hinata!

Padahal tadi saat yang tepat untuk menyatakan perasaanmu pada Sasuke.

Huh, aku memang bodoh ya?

Aku menyukainya tapi perkataanku tadi malah membuatku terlihat membencinya.

Aku bukanlah orang yang bisa mengungkapkan perasaanku begitu saja.

Tapi kalau aku bilang "Aku menyukaimu, Sasuke!" Apakah semuanya akan berubah?

Bagaimana kalau ternyata Sasuke membenciku?

Hinata mengernyitkan dahi begitu membaca lembar demi lembaran buku diarinya. Dia kira Hinata yang dulu pemberani ternyata menyatakan perasaannya saja tidak bisa. Tapi perkataan apa yang membuat Hinata terlihat membenci Sasuke?

-flashback

Hinata berjalan melewati kelas Sasuke. Kebetulan kelasnya tidak jauh dari situ. Tapi sepertinya pemuda Uchiha itu tidak ada di sana? Kemana dia? Hinata pun membuka pintu kelas dan menengok ke dalam. Tidak ada siapapun. Oh, Hinata baru ingat kalau hari ini adalah jadwal kelas XI-1 olahraga jadi wajar saja kalau mereka semua tidak ada di kelas.

"Sedang apa kau?" Sebuah suara memaksa Hinata untuk berbalik.

Seorang pemuda tampan berdiri di depannya dengan tatapan menyelidik. Wajahnya sangat menawan sampai-sampai membuat Hinata sulit bernapas. Rambutnya yang lepek karena basah justru membuatnya terlihat sangat errrr menggoda(?)

"Hei, Uchiha! Ada apa dengan rambutmu itu? Aishh itu sangat mengganggu!" Kata Hinata tajam membuat Sasuke menatapnya bingung. "Apa kau pikir itu keren? Kalau begitu sepertinya aku harus memberimu cermin dengan ukuran yang besar." Setelah mengatakan kalimat pedas itu, Hinata pun pergi begitu saja meninggalkan Sasuke yang masih belum mengerti apa yang terjadi sebenarnya.

End of flashback

Kepingan ingatan yang kembali muncul membuat gadis berambut indigo itu tertawa. Murid-murid yang tadinya belajar dengan fokus pun menatap Hinata dengan aneh. Mungkin mereka pikir gadis itu sudah tidak waras karena tertawa sendirian.

Hinata terdiam begitu menyadari tatapan tajam mereka. Dia pun kembali membaca lembar berikutnya.

Aku benci gadis dengan rambut pink norak itu!

Hahha, dia akan bertunangan dengan Uchiha Sasuke?

Katakan padaku kalau aku salah dengar!

Tapi benarkah dia akan menjadi tunangan Sasuke?

Oh, ini gila! Ini pasti salah! Tidak mungkin mereka akan bertunangan.

Kalau ini benar aku jamin sebelum gadis itu resmi bertunangan, aku akan membuat hari-harinya di sekolah menjadi seperti di neraka!

Hinata hampir saja melempar buku itu ketika membaca tulisannya. Membuat hidup Sakura seperti di neraka? Benarkah dia melakukan itu?

0oooOooo0

Matahari mulai condong ke barat. Hinata harus rela pulang sendirian karena Ino akan mengikuti ekstra seni hari ini. Sebenarnya Ino tidak terlalu ahli dalam bidang menggambar atau melukis, tetapi apa yang membuatnya mengikuti klub seni rupa? Mungkinkah karena pria bernama Sai itu? Yah, akhir-akhir ini Ino sering menceritakan tentang pemuda berkulit pucat itu. Dia adalah ketua klub seni yang diikuti Ino.

Hinata berjalan dengan malas menuju tempat pemberhentian bus. Dia juga belum sempat bertanya bus mana yang harus dia naiki untuk sampai ke rumahnya. Lalu bagaimana nasib Hinata nanti? Tersesat? Atau bahkan diculik? Tidak, itu konyol! Dia bukanlah anak kecil lagi. Akhir-akhir ini dia sering berpikiran aneh, terkadang dia merasa ada pembunuh yang sedang berkeliaran. Mungkin itu karena dia penasaran soal kasus kematian Sakura yang mencurigakan.

"Hi Na Ta? Oh rupanya benar kau..." ujar seorang gadis berambut merah.

Siapa dia? Hinata tidak mengenalnya. Ino juga tidak bercerita kalau dia punya teman berambut merah dan berkacamata.

"Ada apa?" Tanya Hinata sedatar mungkin.

"Kemana saja kau? Kau pasti sudah mendengar berita kematian si Haruno itu ya? Bagaimana? Apa itu melegakan?" Gadis itu berkata sinis.

"Apa maksudmu?"

"Ooh, jangan naif sayang. Kau pasti senang Sasuke tidak jadi bertunangan." Katanya. "Aku juga senang. Jadi, haruskah kita merayakannya?"

"Aku tidak punya pikiran se-picik kau!"

"Benarkah? Yah, tapi kau senang kan dengan kejutan ini? Haruno Sakura akan bertunangan dengan pria yang kita sukai tetapi nasib buruk malah menimpanya. Kasihan sekali dia." Kata Karin dengan nada menyedihkan yang dibuat-buat.

Lama kelamaan Hinata ingin menyumpal mulut gadis ini dengan kaos kakinya. Perkataannya sangat tidak pantas untuk didengar apalagi diucapkan.

"Diam!" kata Hinata tajam. "Kau tidak boleh berbicara seperti itu!"

"Hei, Hyuuga. Apa kau baru saja membela Sakura?" Tanya Karin. "Kemana saja kau selama ini? Hah? Dia sudah mati! Jadi percuma kau membelanya. Seharusnya kau mengadakan pesta untuk merayakannya. Hahaha..."

Hinata baru akan menamparnya kalau saja sebuah tangan tidak menahannya.

"Kekerasan tidak akan menyelesaikan masalah." Kata Gaara masih menggenggam lengan Hinata. "Kau tidak perlu mendengarkan ucapannya."

"Gaara?"

"Ayo kita pulang!"

Gaara pun menarik lengan Hinata dan menyuruh Hinata masuk ke mobilnya. Hinata masih terdiam memikirkan perkataan Karin barusan. Kalau Hinata tidak amnesia apakah dia akan melakukan hal yang seperti Karin bicarakan? Apakah dia akan merayakan kematian teman sekelasnya?

"Gaara," ucap Hinata. "Apakah aku gadis yang jahat?"

"Apa yang Karin katakan? Apa dia memengaruhimu?"

"Apakah aku akan bersenang-senang di atas penderitaan orang lain? Benarkah aku gadis yang seperti itu?"

"Apa maksudmu?"

"Aku amnesia."

"Apa?"

"Aku hilang ingatan! Aku tidak mengenalimu, aku tidak mengenal siapapun bahkan diriku sendiri." Kata Hinata. "Jadi aku bertanya padamu, apa aku gadis yang jahat?"

Gaara menghentikan mobilnya mendadak. Dia menatap gadis itu. Amnesia bukanlah lelucon yang lucu untuk diceritakan.

"Kau ... hilang ingatan? Tapi, bagaimana bisa?"

"Kecelakaan itu membuat memoriku terhapus."

Gaara terdiam. Gadis ini benar-benar serius dengan ucapannya.

"Kau tidak jahat," Kata Gaara. "Kau hanya tidak bisa mengendalikan emosimu dengan baik. Itulah dirimu. Kau gadis yang baik, aku yakin itu."

Hinata menangis mendengarnya. Perkataan Gaara benar-benar membuat hatinya tenang.


Hinata membuka diarinya lagi. Kali ini dia ingin mencari sesuatu tentang Gaara. Dia adalah pria yang baik, tapi benarkah Hinata tidak menyukainya?

Tangan lembutnya membalik lembaran buku diari itu sedangkan mata lavendernya bergerak kesana-kemari untuk mencari nama Gaara. Hasilnya nihil, tidak ada satu lembarpun yang menceritakan sosok pemuda berambut merah itu. Sepertinya mereka memang tidak cukup dekat. Hinata membalik lembar yang belum ia baca.

Hari ini aku melihat Karin dan teman-temannya mengguyur Sakura dengan air es.

Itu pasti sangat dingin apalagi tadi pagi turun salju pertama musim dingin.

Aku tidak peduli dan melewati mereka begitu saja.

Bukankah itu lebih baik daripada ikut mengguyurnya dengan salju?

Lagi-lagi Hinata harus membaca kalimat-kalimat yang terasa menyakitkan. Tetapi ini salah satu cara agar ingatannya pulih dan dia akan mengungkapkan sesuatu yang selama ini mengganggunya.

Aku berada di sana saat Sakura membuka lokernya.

Dia mendapat kriman bunga yang membuatnya sangat ketakutan.

Hinata terkejut membacanya. Ini ditulis sehari sebelum Sakura meninggal! Dia harus mengingat sesuatu! Tapi itu malah membuat kepalanya pusing. Meskipun begitu dia berhasil mengingat sesuatu...

Flashback

2 6 4

Tiga tombol Sakura tekan untuk membuka lokernya tetapi dia berhenti lalu menengok ke belakang.

"Apa kau mengintip?"

Hinata yang kebetulan di belakang Sakura dan tidak sengaja (atau sengaja?) melihat katasandi milik Sakura pun langsung terkejut.

"Hei, untuk apa aku mengintip? Itu tidak penting!" kilah Hinata. Tetapi Sakura sepertinya tidak percaya begitu saja dengan perkataan rivalnya itu.

"Berbaliklah!"

"Apa?"

"Sana berbalik! Aku tidak percaya padamu."

Hinata mendecih lalu berbalik agar Sakura tidak menuduhnya lagi.

Suara decitan pintu loker terbuka membuat Hinata menoleh. Sakura membuka pintu lokernya lebih lebar untuk mengambil sesuatu yang ada di dalamnya. Sebuah bunga berwarna putih ada di genggamannya sekarang.

"I-ini bunga krisan." Ucap Sakura. Suaranya bergetar. "Siapa yang menaruhnya di sini?!" Sakura histeris membuat Hinata menghampirinya.

Bunga krisan tanpa nama pengirim itu benar-benar membuat Sakura shock. Dia sampai menangis.

"Toko bunga SunShine," ujar Hinata.

Hinata buru-buru menelpon Ino. Dia harus tahu di mana toko bunga itu.

"Ino, di mana toko bunga SunShine?"

"Di sebelah rumah sakit sekitar 2 kilometer dari arah utara perempatan. Ada apa? Kau ingin membeli bunga? Kau bisa membelinya di toko bunga milikku."

"Ah, ya, lain kali. Terimakasih." Hinata menutup teleponnya lalu bergegas menuju toko bunga itu.

.

Sebuah logo bertuliskan "SunShine" yang besar terpampang jelas di depan sebuah toko bunga. Hinata memasuki toko itu dengan jantung berdebar.

Toko itu cukup besar dengan halaman yang luas. Di sebelah kanan toko terdapat banyak bunga-bunga aneka jenis sedangkan sebelah kiri terdapat sebuah kedai kopi. Seorang wanita paruh baya menyambutnya hangat dan menawarkan berbagai tanaman langka yang mahal pada Hinata.

"Maaf, tapi bisakah saya mengetahui siapa pengirim bunga itu?"

"Nona, kami tidak mencatat setiap pelanggan yang membeli bunga di toko kami. Tetapi pelayan saya bisa mengingat siapa saja yang membeli bunga di sini."

"Bisakah saya bertemu dengannya?"

"Matsuri-chan? Kemari sebentar!"

Seorang gadis cantik menghampri sang majikan dengan patuh.

"Apa kau mengingat siapa yang membeli bunga krisan berwarna putih pada hari sabtu 2 minggu yang lalu?"

"Ah, sudah lama ya? Saya tidak ingat nona, tapi sepertinya ada dua orang yang membeli bunga krisan pada hari itu."

"Bagaimana ciri-cirinya? Bisakah kau memberitahukan padaku?"

"Seorang pemuda dan satu lagi seorang gadis berambut panjang."

"Apa warna rambutnya?"

"Saya tidak ingat, wajahnya juga saya tidak ingat. Maafkan saya, nona."

"Ya, tidak apa-apa. Terimakasih sudah membantu."

Hinata keluar dengan perasaan kecewa. Dia tidak menemukan apapun untuk mengungkap kasus ini. Tiba-tiba sebuah mobil berhenti tidak jauh dari tempatnya berdiri. Seorang gadis berambut panjang turun dari mobil itu. Dia si rambut merah, Uzumaki Karin.

To be continued...