Survival of Death
Rated – T
Language – Indonesian
Genre – Action, Drama, Humour, Parody, Supernatural / Fantasy
Warning! Contains little sho-ai AKA BL ( go google it XD ), OOC, typo, bad humour, and another
things that will make you gonna vomit. Don't like it? Just go away, then! Simple, right?
Based from Shin Megami Tensei : Devil Survivor.
Disclaimer : Vocaloid punya Crypton dan Yamaha. Fanloid punya penciptanya masing-masing.
SMT : Devil Survivor punya ATLUS.
.
.
.
.
.
CHAPTER 2 : DAY BEFORE 2
.
.
SKIP TIME : 03.00 PM
.
.
.
.
Shibuya.
Kota yang sangat ramai dengan orang yang berlalu lalang. Entah hanya untuk sekedar cuci mata atau untuk hang out dengan teman, atau bahkan nge-date, kota ini sangat pas untuk itu. …..Tunggu, aku jadi terdengar seperti seorang travel agent. Yah, meskipun hari ini tidak begitu ramai. Padahal, pada hari libur tempat ini ramai sekali.
.
.
Oh, well.
Aku berdiri di depan Shibuya 901, sesekali memainkan handphone-ku dengan malas. Aku menatap tempat aku berpijak sekarang sambil menganti lagu yang sedang kuputar di handphone-ku.
'Mou ikkai, mou ikkai-', ganti.
'Sekai de ichiban ohime-sama-', ganti.
'Yami no Ou-', ganti.
'Soba ni iitai yo-', ganti.
SKIP TIME : 03.20 PM
.
.
….. Kenapa mereka belum datang? Aku rasa aku sudah ada di tempat yang benar. Kuperhatikan gedung besar di belakangku. 'Ck, apa mereka menipuku?' batinku kesal. Baru saja aku berpikir untuk meninggalkan tempat ini, tiba-tiba ada seseorang yang berambut merah mencolok berjalan ke arahku.
"Yo, Kai! Kau sudah menunggu lama, ya?" tanya orang itu sambil senyam-senyum tidak jelas. "Kalau kau menganggap 20 menit itu lama, maka, ya." balasku dengan datar. "Ck,ck, jangan sejahat itu. Aku kan onii-samamu yang baik, keren, dan rajin nabung!" katanya sambil memasang wajah memelas ( kaya mau diraep ). Ia kini memakai kaus berwarna hitam berlapis kemeja plaid merah, celana panjang berwarna coklat, dan memakai sepatu boots warna coklat tua. Tampaknya, dia juga memakai syal merah miliknya.
"Di mana yang lain?" tanyaku padanya. Dia hanya menggelengkan kepalanya sambil menaikkan bahunya. "Aku tidak tahu asal muasal mereka. Mereka, kok, yang menyuruh kita berkumpul di sini." ucapnya. Kami berdua berdiri di depan 901. Tak ada sepatah kata pun keluar dari mulut kami. Entah kenapa, mendadak suasana menjadi nggak srek. Inikah yang disebut awkward silence?
.
.
.
.
Ugh.
Aku gak tahan dengan keadaan ini.
Ini terlalu mencekam… Kulirik orang di sebelahku… Biasanya dia cerewet sekali, kenapa tiba-tiba mendadak bisu begini? 'Jangan-jangan dia sedang buang tabiat…' batinku dengan tidak jelas…
Sepertinya Ia tahu kalau aku sedang memperhatikannya. Dengan cepat, ia berbalik menatapku. Ia langsung berpose ala orang alay dan tersenyum aneh. Ugh, how I hate that smile….. "He…. Kau terpesona dengan wajahku yang ganteng ini, ya?" ujarnya dengan nada bicara banci. "Heh! Aku sama sekali tidak berpiki-". Sebelum aku menyelesaikan kalimatku, Ia sudah menutup mulutku. "Aku tahu kamu malu untuk mengakuinya, kok~!" katanya sambil mengedipkan sebelah matanya.
.
.
Hoek…
Ada yang punya kantong kresek? Aku mau pinjam untuk nampung muntah…
.
Oh, sekalian kalau ada golok pinjamkan aku juga, ya. Aku mau menggorok makhluk merah yang didepanku ini.
.
.
"Hi, menggelikan! Maaf, ya, aku sudah kenyang melihat wajahmu." ucapku datar sambil memasang ekspresi jijik. Melihat itu, dia bukannya diam, malah dia tersenyum semakin lebar. Rasanya ingin sekali aku merobek senyumannya itu. "Hahaha..! Tatapanmu itu masih seperti dulu! Masih saja datar! HAHAHA!" tawanya kencang sambil memegangi perutnya. Aneh. Aku tidak merasa ada yang lucu. "Apa ada yang lucu?" tanyaku padanya. Bukannya menjawab, dia malah tertawa terbahak-bahak.
Apa orang ini sudah gila? Aku membiarkan dia tertawa terus hingga Ia akhirnya berhenti dan dia…. Menghela napas.
.
.
.
Tunggu.
Shion Akaito, yang dikenal sebagai anak terbandel sejagat raya dan heartbreaker ini menghela napas?
Bohong, kan? Ini mimpi, kan?
Aku mencubit pipiku. Sakit. Berarti ini bukan mimpi. Ck, tapi aku merasa aku masih berada di alam mimpi. Aku tidak menyadari Ia daritadi terus memperhatikanku. Ia lalu tersenyum tipis. "Ini pertama kalinya aku tertawa sekencang ini setelah hal itu terjadi."Aku mengerti apa yang ia maksudkan, jadi aku hanya bisa berdua berdiri dalam keheningan hingga…. Ada dua orang yang menghampiri kami.
"Yo!" "K-konnichiwa."
Aku berbalik menatap mereka berdua. Ada dua orang yang berbeda tinggi yang menyapa kami. Si jangkung berambut kuning memakai kaus kuning berlogo smiley yang dilapis kemeja putih, dengan celana panjang berwarna biru dongker dan sneakers kuning-putih. Sedangkan, si pendek - erm, mungil memakai kaus biru muda dengan logo daun berlapis jaket berwarna hijau yang lengannya kepanjangan hingga menutupi tangannya, celana pendek warna hitam, kaus kaki berwarna kuning pucat dan sepatu yang kelihatannya… kebesaran. Mereka berdua juga menggunakan syal. Si jangkung memakai syal kuning bermotif tuts piano dan si imut memakai syal hijau yang diikat membentuk pita.
"Wah, maaf, ya! Kami terlambat! Ramai, sih!" katanya santai sambil tertawa kecil. Sedangkan anak disebelahnya hanya bisa tersenyum sambil mengatakan "Gomen." dengan senyumannya yang polos. Ah, imutnya… Tunggu, aku terdengar seperti seorang pedophile. Akaito hanya bisa mendengus kesal, "Kau tahu, kami berdua menunggu kalian semua! Lama sekali kalian…" "Hei, kau saja baru datang." sergahku.
"….."
"….."
"Pfft…."
"Hahahaha…"
Kami berempat tertawa.
.
.
.
SKIP TIME : 03.45 PM
.
.
.
Kami pun berbincang-bincang. Ternyata, Kikaito-nii bekerja part-time sebagai pelayan di sebuah kedai kopi kecil di sekitar Shinjuku.
"Hn… Jadi enak tidak, bekerja di sana?"
"Gajinya lumayan, lah. Di sana suasananya homey, interior-nya bagus, deh, pokoknya! Menunya…. Erm.. Menu anak muda!"
Kontan, Akaito menutup mulutnya, menahan tawa. Aku dan Kikaito menatapnya heran. Apa sih yang lucu?
"Kau ini kenapa, sih?" "Kamu kumat, ya?" tanya kami bersamaan.
"Aahahaha..! Ampun, Kikaito! Kau kedengaran tua sekali! 'Menu anak muda', huh? Hahaha!" tawanya kencang. Aku hanya bisa menghela napas.
"Itu sama sekali tidak lucu, BAkaito." Ucapku datar.
Ia langsung menghentikan tawanya dan menatapku tajam. "kata seseorang yang juga baka."
"Dasar narsis!"
"Tembok!"
"Alay!"
"Jelek, lu!"
"Dasar gak nyadar!"
"Apa?! Idiot, lu!"
"What did you say?! Damn you!"
"Airhead!"
"Fruit cake!"
"Weirdo!"
"Dumb*ss!"
Kami berdua pun adu mulut hingga kami mendengar suara yang tidak asing.
"Cih, ternyata masih merepotkan seperti dulu, ya… Bisakah kalian berhenti bertengkar di depanku, Oniisama?"
Kami berbalik dan menatap mata violet yang sedari tadi memperhatikan kami. Aku tidak menyebutnya sepasang karena salah satu matanya ditutup eyepatch, yang pastinya menambah kesan 'misterius'. Rambut ungu tuanya acak-acakkan karena kepalanya dibalut perban. Ia memakai kemeja putih berlengan panjang yang tidak dikancing dengan benar, sehingga tubuhnya yang terbalut perban terlihat. ( Nosebleed#Plak ) Celana hitam dan sepatu dengan warna senada melengkapi pakaiannya itu. Ia sama sekali tidak memakai syal, sebagai kompensasinya, lehernya terlilit perban yang… Berbercak merah? Wajahnya datar sekali, namun jika kalian perhatikan lagi, ia terlihat sedikit kesal. Jika seandainya ia sedikit lebih ber… Ekspresi, aku yakin ia pasti dia terlihat lebih imut- ekhm… Keren.
"Oh, hai, Tai-Tai!" seru Akaito dengan nada polos yang dibuat-buat. Ukh… God, help. Gue jijik rasanya. Wajahnya yang semula datar kini terlihat marah. Dahinya mengkerut, tanda bahwa ia kesal. Matanya berkilat dengan ganas. "Berhenti memanggilku dengan sebutan itu." desisnya kesal. Tangan kirinya terkepal, sedangkan tangan kanannya merogoh saku celananya, agaknya mencari sesuatu… Hah? Aku dan Nigaito melotot. Pandangan kami bertemu. Seakan pikiran kami connect. ( Kok rasanya seperti adegan yaoi?#Plak )
.
Oh, no, no, NO.
.
Please, God, NO.
.
Keringat dingin menuruni pelipisku. Nigaito sendiri tampak ketakutan, sedangkan Kikaito-nii dan BAkaito tampak tidak takut sama sekali. Aku tidak tahu apakah itu disebut keberanian atau kebodohan yang luar biasa. Ayolah, mana ada orang yang tidak takut kalau orang di depanmu ini bisa menghabisi dirimu kapan saja yang ia suka? Kecuali kalau dia bodoh, tentunya.
"Ah, Ayolah, Tai-Tai! Ini namanya panggilan kasih sayang! Kau harus mengerti, Otouto! Ini karena aku menyayangimu!" ujar BAkaito dengan senyumnya yang miring itu. Aku hanya bisa facepalm ria. Tatapan Taito semakin tajam. Andai tatapan bisa membunuh, Akaito pasti sudah tinggal kenangan sekarang. Aku menggeleng pelan. Ayolah, siapa yang senang dipanggil Ta*? Bukan aku dan Taito tentunya. Aku hanya bisa mengutuk- eh mendoakan Akaito agar selamat.
Lagipula, kenapa kau memiliki nama yang ambigu, Taito? Susah, kan, jadinya? #BakaitoModeOn. Aku hanya bisa menghitung dalam hati.
1.
2.
3.
.
.
"KAU!" Oke, Taito sudah kehilangan batasnya. Dia langsung menarik keluar sesuatu dari kantongnya… Oh, tidak, tidak. Sesuatu yang telah menelan banyak korban, entah karena untuk melindungi diri sendiri atau karena kumat. Partner in Crime-nya Taito. Jiwanya. Sesuatu yang tajam sekali dengan handle kayu yang keras. Sesuatu yang- ( Woi, udahan! )
.
.
Yap, benar sekali.
Icepick. Lebih tepatnya, Icepick buatannya yang konon super tajam. Tajam dan mematikan. Yang pasti dapat memotong urat nadi-!
… Semoga kamu masuk surga, Akaito. Aku membenci- mencintaimu. Tapi, tolong bayar utangmu sebelum kamu mati.
.
…. Sekalian sama bunganya, ya. H**g*n – D*zs 2, ya. Yang large tub, satu vanilla, satu lagi rum raisin, ya.
.
.
…. Bukan saatnya aku mengkhawatirkan itu. Aku menatap pemandangan di depanku.
Taito kini berjalan maju ke arah Akaito dengan icepick di tangan. Dan aku yakin ia sedang tersenyum psikopat sekarang dengan matanya yang melebar. Akaito menatap Taito dengan horror. Matanya menatap icepick yang berada di genggaman adik yanderenya itu. Terlihat keringat dingin menuruni wajahnya. Wajahnya memucat, tubuhnya gemetar. Intinya, ia ketakutan. Akaito si anak bandel, ketakutan.
Andai aku punya kamera untuk mengabadikan momen ini. This is so priceless…!
.
Aduh, Kai, bukan saatnya memikirkan itu! Kau harus memikirkan cara untuk menyelamatkan BAkaito itu!
"Mati kau."
Aku secara refleks menarik Kikaito-nii dan Nigaito menjauhi TKP. Kikaito-nii yang tampak mengerti, menutupi mata Nigaito dan matanya sendiri. Aku sendiri sudah memejamkan mataku erat-erat. Takut.
.
.
Swush.
Terdengar seperti sesuatu yang dilempar.
Aku membuka mataku perlahan-lahan. He? Akaito belum mati?
Setelah mataku terbuka sepenuhnya, aku melihat Taito yang berusaha menusuk Akaito, tapi sepertinya icepicknya tertahan sesuatu.
Aku perhatikan dengan lebih seksama lagi.
.
.
… Ah.
Ada sesuatu yang melilit tangan Taito dan icepicknya. Sesuatu seperti…. Benang?
.
.
Benang? Kok bisa?
Wajah Taito terlihat kesal. Matanya melirik sesuatu. Ia menghela napas.
"Hah, berhenti mengganguku, ….. Zeito." desisnya kesal. Zeito? Si emo Zeito? #dibakar.
Aku berbalik dan menatap ke depan.
.
.
Benar saja, ada sesosok makhluk yang bersembunyi di balik gedung. Ia lalu berjalan keluar dari tempat persembunyiannya, diikuti oleh makhluk pendek bagaikan bayangannya. Tatapan sosok tinggi itu datar sekali, sedangkan si pendek terlihat ceria.
Demi Aisu Kami-sama, dia terlihat ceria ketika ada orang yang nyaris mati dibunuh saudaranya sendiri?! Aku berani taruhan kalau dia akan tertawa kencang ketika melihat seseorang terbunuh. Sosok itu menghela napas, lalu menarik benang yo-yonya pelan. Perlahan hingga ikatan benang itu lepas dan yo-yo hitam itu kembali pada pemiliknya. #kokbisa?
Kuperhatikan mereka berdua. Yang tinggi memakai kemeja merah tua yang dilapisi baju hitam berlengan pendek yang tidak dikancing dan tepinya sudah robek-robek. Berdasi merah dengan armwarmers hitam, dan hood panda yang tidak sedang ia pakai. Celana hitam panjang dan sepatu hitam melengkapi penampilannya. Syal merah tua yang sudah robek dan terlihat usang meliliti lehernya. Ditambah eyeshadow yang berlepotan di area sekitar matanya. Looks… Ghoulish.
Yang pendek mengenakan baju lengan panjang berwarna merah tua dengan sleeveless jacket hitam, hood panda yang melekat di kepalanya. Ia mengenakan celana pendek hitam dengan kaus kaki biru muda dan sepatu putih. Syal hitam dengan ujung yang membentuk tangan diikat pita ke samping memperimut sekaligus membuatnya terlihat… devilish. Topeng dengan senyum lebar yang mengerikan berada di kepalanya. Jangan lupakan tanda berwarna merah di bawah kedua matanya.
.
.
Oh, Tuhan.
Mereka seram sekali.
Terutama dengan kulit putih pucat mereka ditambah sepasang mata crimson yang terlihat glow in the dark.
Sial, apa ini efeknya jika kita bertemu kembali dengan saudara kita yang terlihat seram setelah bertahun-tahun terpisah?
Kikaito menatap mereka berdua horror. Ia sama sekali tidak menerima kedatangan mereka berdua. Sedang Nigaito gemetaran sekarang. Akaito terdiam sebelum menyapa mereka berdua. "Yo, duo panda!"
Si pendek menggembungkan pipinya. "Oh, ayolah! Namaku Kageito, Akai-nii! Dan dia ini Zei-niichan!" serunya sedikit kesal sambil menunjuk Zeito. Yang bersangkutan hanya menatap Akaito. Akaito tersenyum, senang karena berhasil menjahili adiknya. Taito yang sedari tadi diam, akhirnya membuka suara. "Hei… Kalian tadi melihat Kaiko-oneesama? Lalu, di mana Kou?" tanyanya datar. Kageito menjawab dengan polos, "Erm… Tidak, kami tidak melewati apartemennya tadi.. Dan soal Kou-nii, dia bilang dia-" Kata-katanya terpotong oleh suara napas yang tersenggal-senggal.
"Hosh… Hosh! Maaf aku terlambat!" teriak anak berambut hitam dengan hightlight hijau muda. Ia mengenakan kaus hijau pucat dengan aksen biru pucat di beberapa sisi dengan blazer hitam pendek, celana pendek berwarna gelap dan jaket hijau tua yang diikat di pinggangnya. Ia memakai topi yang berbentuk seperti model kepala kucing berwarna abu-abu dengan lambang skull di tengahnya dengan googles yang bertengger manis di kepalanya. Syal hijau berhiaskan segitiga-segitiga berwarna kuning di tepinya melilit lehernya. ( lihat bentuk topi 'Toeto'. Bentuknya mirip, hanya warna berbeda. ) Mata chartreuse dan cerulean miliknya berkilau indah ( dia ini heterochromia. ). Ia juga membawa tas laptop miliknya. Dasar hacker.
"Kou-chan~! Kenapa kau lama sekali?" tanya Kageito sambil menggoyang-goyangkan bahu anak tadi dengan kecepatan inhuman. Sedangkan yang digoyang-goyang sudah teler. "Hwaa! Gomen ne, Kage-chan! Tadi aku dicegat Kaiko-nee. Dia bilang dia punya urusan mendada-" Sebelum ia menyelesaikan kalimatnya, aku sudah memotongnya duluan. "Kaiko-nee tidak bisa datang?" tanyaku kaget. Dia mengangguk. Akaito terlihat kesal, "Hah..! Dasar Yuki onna! Seenak jidatnya dia menyuruh kita berkumpul di sini, tapi dia yang tidak datang! Argh!" jeritnya frustasi sambil menarik rambut merahnya. Aku, Kikaito, dan Nigaito ber-sweatdrop ria.
"Et list, we hev gether hier naw." sambung Akaito. Aku hanya bisa garuk-garuk kepala. Bahasa apa itu? Bahasa Belanda? Bahasa Negeri Entah Berantah? Atau… Alien? Tampaknya, bukan hanya aku yang merasa aneh. Semua yang berada disana - kecuali Akaito, tentunya – kebingungan. Pasalnya, Kami tidak mengerti apa yang ia katakan. "Hah? Apa yang kamu bilang tadi, Akai-kun?" tanya Kikaito. Nigaito memiringkan kepalanya, "I beg your pardon?" tanyanya dengan logat inggris. "Hey! Wat dit yu sei?! Ai don andersten!" tanyanya loyo. Ck, ternyata lu pakai bahasa inggris toh. Tapi, kok, rasanya ngawur, ya?
"Ah, whatever! Forget this imbecile!" kata Taito pasrah. Ia lalu berbalik bertanya pada Koumorito, "Jadi, apa lagi yang dikatakan Kaiko-oneesama?" "Uh… " dia berpikir sebentar, tiba-tiba ia menjentikkan jarinya. "Oh, ya! Dia memberikanku banyak barang. Katanya, sih, satu orang satu…" dia pun mengaduk-aduk isi tasnya, lalu mengeluarkan banyak barang. 8 buah jam tangan digital, masing-masing berwarna hitam dan kombinasi warna lainnya.
.
.
Untuk apa ini?
Seakan mengetahui isi pikiranku, Akaito bertanya, "Apa dia gila? Untuk apa dia memberikan kita barang seperti ini?" Kageito memperhatikan jam-jam itu, lalu berkata, "Hei, bukannya ini semacam jam tangan dengan fungsi seperti….. Handphone? Yang iklannya 'Watch the world' ?" Zeito mengangguk pelan, lalu dengan suara super pelan ia berkata, "… World Watch Wonder." Aku baru sadar. "Ya, itu dia! Tapi, namanya aneh, jadi lebih banyak orang yang menyebutnya 'W3'." Mata Kikaito langsung berkilat-kilat, "Wah, itu 'kan jam tangan yang sedang populer itu! Yang bisa menggantikan fungsi handphone! Yang layarnya touchscreen, kan?!" tanyanya antusias. Well, menurutku itu agak terdengar kampungan….. Lagipula, apa yang spesial dari jam tersebut? Kuambil salah satu jam tersebut.
.
.
Berwarna hitam dengan aksen biru, layar touchscreen yang mengkilap, serta light warna biru.
'Tidak ada yang aneh…' batinku. Aku pun menyalakan W3 tadi.
.
.
Huh?
Koumorito yang menyadari tatapan mataku, langsung mengecek salah satu W3 tadi.
"Hei, tampaknya Kaiko-nee meng-homebrew layout menu W3 ini!" serunya senang.
Kikaito dan Akaito tampak tidak percaya, "Hah?" "Masa' Yuki onna bisa melakukan itu?" Tapi tampaknya Koumorito tidak memperdulikan mereka. Dia terus mengecek W3nya dengan senyum lebar di wajahnya. Oh, seramnya…. Mata heterochromianya berkilat bahagia. Dia seperti anak yang baru dibelikan permen. "Hm…. Ada folder yang diproteksi. Aku tidak bisa membukanya." gumamnya pelan. "Berarti kita tidak boleh membukanya?" tanyaku pelan. Kageito dan Koumorito malah tertawa kencang. Aku salah ngomong apa lagi sih?
"Hahaha!"
"Apa salahku?"
Mereka berdua menatapku dengan aneh. Lalu menghela napas pelan. "Huh, kau tidak mengerti,ya..?" Aku, Akaito, Kikaito dan Nigaito menggeleng pelan. Koumorito menepuk dahinya pelan. Zeito menatap kami dengan datar, meskipun aku yakin dia terlihat sedikit….. kesal. Terbukti dari kedua alis matanya. Taito menggelengkan kepalanya pelan, "Kalian ini, kalian tahu tidak mereka itu apa?"
"freak."
"anak kecil."
"tuyul."
"M-manusia?"
Taito tampak frustasi, "Mereka itu hacker!"
"Tai-Tai, hacker juga manusia, lho…"
"….." Sekilas, aku mendengar suara kantong yang sedang dirogoh. Kontan, Akaito diam. Tampaknya dia trauma.
"G-gak, gak jadi…"
"Good." Ucapnya puas. "Jadi kalian sudah mengerti, kan?"
.
.
Gelengan dari empat kepala.
Sebelum Taito menjerit, Koumorito menyela dengan cepat, "Hah, begini, aku dan Kage-chan itu hacker merangkup cracker! Jika Kaiko-nee memanggil kita ke sini hanya untuk memberikan ini.." dia menunjuk W3. "Maka, ia ingin kita memecahkan sistem proteksinya! Ini seperti sapaan yang ramah sesama teman!" Aku rasanya ingin menjedutkan kepalaku ke tembok terdekat, namun kuurungkan karena aku bisa tambah bodoh nantinya…
"Itu aneh! Kenapa dia tidak bisa mengatakan 'halo' seperti orang biasa?!" Tanyaku pasrah. Para MeJiKu membenarkan. "Ah, forget that! We don't need the answer now!" Koumorito tampak tidak sabar. "Tapi-Tapi-" Koumorito langsung menutup mulutku. Zeito menarik laptop milik bocah kelelawar ini, kemudian membukanya. Ia mengambil W3 tersebut dan menghubungkannya ke laptop tersebut. Kemudian…
.
Ia mengetik dengan kecepatan inhuman! 'Oh, no way! Even you, Zeito?!' batinku kaget. Beberapa detik berselang, ia menyerahkan W3 itu kepada kami. Koumorito dan Kageito tampak kagum. "Wow, kencangnya! Hehe, tampaknya kau juga punya kemampuan, Zei-nii!" Ia menatap hasil kerja Zeito, "Setidaknya, kalian bisa mengecek e-mail kalian sekarang!" senyumnya polos, lalu kami mengambil W3 kami masing-masing.
Benar saja, ada e-mail masuk. Kami segera mengeceknya.
.
.
.
From : Laplace Mail
Selamat pagi, ini adalah berita hari ini.
Pukul 04.00 pm, seorang pria tewas terbunuh di apartemennya di Aoyama. Diduga ia diserang binatang buas.
Pukul 07.00 pm, terjadi ledakan besar di daerah sekitar pemakaman Aoyama.
Pukul 08.00 pm, terjadi pemadaman listrik yang mempengaruhi seluruh daerah Tokyo.
Semoga hari anda menyenangkan.
.
.
.
… Apa?
.
.
.
.
TBC
.
A.N. : Duh, kenapa rasanya jumlah wordnya makin bengkak, ya? XD Akan saya usahakan untuk update lebih cepat lagi, ya? Dan sepertinya chapter cerita ini bakal panjang..
Oke, saatnya balas review~!
Go Minami Asuka Bi : Tentu saja midori itu Nigaito, kan hijo-hijo XD. Whoa, saya baru sadar tulisannya begitu . Semoga yang ini memuaskan, ya! Thank you
for reviewing!
Ada yang tahu lagu-lagu di atas? Pasti tau donk kan lagunya Vocaloid semua. XD
Mind to review?
