Chap II
Musim gugur adalah musim yang terindah menurutku, karena di musim ini, kau akan melihat tentang ketulusan, tentang setiap pengorbanan, bagaimana daun-daun yang berguguran mengikhlaskan diri untuk terlepas dari induk pohonnya, berharap dengan bergugurnya daun akan mengurangi penguapan yang terjadi pada induk pohon membiarkan induk pohon agar tetap tumbuh di musim-musim berikutnya.
Sudah hampir 4 musim aku lalui hanya dengan melihat wajahnya, walau terkadang ada perasaan sesak dalam hati, kadang aku sering bertanya, kenapa aku Shikamaru Naara yang ber IQ 200 tidak bisa menggunakan otakku untuk memikirkan cara agar bisa lebih dekat dengan Hinata Hyuga. Otakku benar-benar tidak bisa berfungsi jika semua tentang Hinata, aku lebih baik mengerjakan puluhan ribu soal mikrobiologi dibanding memikirkan cara untuk sekedar lebih dekat dengan Hinata.
-DefluentibusFoliis-
Demi Kami-sama ini baru jam 2 pagi, dan siapa pula orang bodoh yang menelpon di waktu seperti ini.
"Moshi.. moshi.."
"Shikaaaa… kau dimana ?! aku kerumah mu dan oba-san bilang kau sekarang tinggal sendiri di apartemen, apartemen mu dimana ? berikan aku alamatnya ?!"
Tsk, Mondokusai
"Hey, Naruto bisakah kau pelankan sedikit suaramu ? Demi tuhan ini jam 2 pagi Baka ! kau menganggu tidurku hanya untuk menanyakan itu ?!" Jawabku dengan sedikit berteriak padanya…
"ahahaha… gomen gomen, kau tau, aku kembali ke Konoha siang tadi, dan aku langsung ke rumah mu, tapi oba-san bilang kau sekarang tinggal sendiri, berikan aku alamat apartemen mu, aku akan kesana besok pagi."
Naruto ini, benar-benar trouble maker ! mondokusai.
"Aku sangat tau kau itu baka Naruto, tapi aku tidak tau kau bahkan berubah menjadi sangat bodoh setelah tinggal di Suna, kau menggangu tidur seseorang hanya untuk menayakan alamat ?! Aku akan mengirimkan pesan alamatnya padamu besok, dan sekarang biarkan aku tidur !"
"Tapi Shika, tungg… "
Tuuuttttttt…
Naruto Pov
Telponnya benar-benar dimatikan, apa dia tidak rindu padaku,
Dasar sepupu sialan , awas kau besok Nara… !
-DefluentibusFoliis-
Kau tidak akan tau bagaimana rasanya menjadi daun, yang kalian tau hal terindah dari setiap tanaman adalah bunganya atau bahkan buahnya, padahal jika tidak ada daun, bahkan induk pohon pun tidak akan bisa tumbuh, dari mana datangnya energi agar setiap pohon bertahan hidup jika tidak melalui daun, dan bagaimana caranya udara yang kita hirup setiap waktu jika bukan dari klorofil daun. Tapi kenapa, setiap daun rasanya hanya menjadi pelengkap dari setiap tanaman, bahkan saat musim gugur, hanya daun yang mampu berkorban untuk induk pohon.. apakah arti diriku untuk mu sama seperti daun-daun ini … Hinata ?
"Jadi, kau akan menumpang di tempatku berapa lama Naruto ?"
"Hahaha, jangan bersikap seperti itu Shikamaru, aku jadi terkesan menumpang di sini, aku ini kan sepupumu." Jawab Naruto, sambil merembahkan dirinya di sofa tamu apartemen ku.
"Kau kan memang berniat menumpang." jawabku datar
"Sampai kapan yah,,, yah sampai tujuan ku benar-benar terlaksana disini." sambung Naruto, sambil memejamkan matanya
"Tujuan ?" Tanya ku lagi
Dan kulihat, dia hanya mengangguk, dan kuperhatikan Naruto ini ada yang berbeda, biasanya dia selalu berbicara seperti sedang demonstrasi, tapi saat ini alur suaranya pun berbeda, apa ada masalah padanya, tubuhnya yang atletis pun sedikit lebih kurus dari terakhir kali aku lihat.
-DefluentibusFoliis-
Aku cemburu pada angin Hinata, yang bahkan lebih dekat denganmu dibanding aku…
Rutinitas yang menyenangkan di hari minggu, adalah melihat seorang Hyuga Hinata di taman konoha, lengkap dengan pipinya yang memerah, untuk hari ini dia bahkan mengikat rambut indigonya, memberikan kesempatan untukku melihat lehernya yang jenjang. Dengan anugerah IQ diatas rata-rata yang diberikan kami-sama padaku, membuat ku lebih mudah untuk tahu apa kesukannya, minuman favoritnya, makanan favoritnya, warna favoritnya, musik favoritnya, buku yang sering dia baca, jurusan kuliahnnya, dimana universitasnya, siapa saja teman-temannya. Aku tau itu semua, bahkan kebiasaan yang mungkin tidak dia sadari aku tahu semua itu, jangan ditanya bagaimana caranya aku mengetahui itu semua, aku Shikamaru Naara mengetahui hal seperti itu adalah hal mudah buatku.
Segalanya tentang Hinata menjadi sangat indah untukku, Hinata seperti wangi bunga lavender yang menenangkan, sebelum bertemu dengannya,aku merasa setiap hal didunia ini merepotkan, aku hanya kuliah karena menurutku tidak ada pilihan lain, seharusnya aku sudah bisa lulus 3 atau 4 tahun lebih cepat dibanding yang lain, tapi setelah aku lulus, tou-san pasti memintaku menggantikan posisinya di perusahaan keluarga, aku memang mengambil jurusan farmasi, bukan karena keluarga Naraa adalah pemilik perusahaan farmasi terbesar di Jepang, bukan juga karena tradisi keluarga, bukan karena itu, niat awal aku memilih farmasi adalah karena harapan untuk bisa atau setidaknya menjadi manusia berguna yang bisa membantu seseorang atau bahkan menyalamatkan hidup seseorang dengan apa yang aku pelajari di universitas.
Sampai ketika, Musim gugur yang selalu aku agungkan, memberikan angin panas yang bahkan membuatku bisa berhenti bernafas.
Naruto yang menyeretku untuk bertemu dengan kekasihnya yang sudah bersamanya selama 5 tahun ini, di Lavandula café di pinggir universitas ku.
Aku tersenyum miris, harapan yang selalu aku imajinasikan agar bisa bersamanya, gadis yang mampu menarikku kedalam poros kehidupan yang tidak aku mengerti tapi anehnya aku menikmatinya, gadis yang selama 4 musim ini selalu aku sebut namanya sebelum aku tidur dan menutup mata.
"Hinata desu, Yoroshiku… " dengan senyumnya yang membuatku jatuh hati dengannya untuk yang kesikan kali sambil sedikit membungkukan badan dia memperkenalkan dirinya.
Hinata Hyuga, dia adalah kekasih Naruto Uzumaki, Sepupuku…
-tbc-
