Hola Minna. semoga gak bosen dengan fic baru nan abal saya.
Karena lagi hilang minat ngelanjutin fic yang ada, ini sekadar refreshing aja.
Menuh-menuhin rate m aja deh... wkwkwkwk
DISCLAIMER : TITE KUBO
WARNING : OOC, AU, MISSTYPO(sulit hilang), GAJE, Ide pasaran, Mudah ketebak.
Attention : Fic ini hanyalah fiksa belaka. apabila terdapat kesamaan di dalam fic ataupun cerita lain dalam bentuk apapun, itu sama sekali tidak sengaja. ini hanyalah inspirasi iseng yang nerobos masuk ke dalam kepala saja. mohon maafkan kalau terjadi kekeliruan.
.
.
.
Ulquiorra baru saja bangun tidur dan selesai mandi. Masih dengan mengenakan piyama tidurnya, pria berkulit pucat itu keluar dari kamar tamunya. Semalaman dia sudah tidak bisa tidur. Beginilah kalau akhirnya dia malah bertengkar… meski sebenarnya dialah yang membuat wanita itu menangis. Ada rasa bersalah. Tapi… Ulquiorra juga tak tahu bagaimana harus mengekspresikan perasaannya. Selama setahun ini Ulquiorra hanya terus menerus belajar menahan perasaannya. Agar tidak membebani Rukia. Wanita mungil itu sudah berusaha yang terbaik untuk mereka berdua. Tapi Ulquiorra-lah yang mendorong pergi Rukia. Tak ada yang bisa mereka lakukan selain bertahan. Kakeknya sungguh berharap Ulquiorra mau menerima pernikahan ini. Kuchiki yang begitu banyak berkorban untuk mereka dulu, sudah seharusnya balas budi ini dia emban. Mungkin juga… Ulquiorra-lah yang egois seperti ini. Mengikat wanita yang sama sekali tidak pernah mencintainya. Kalau saja… kalau saja bukan karena budi ini, tentu Ulquiorra dengan rela hati membiarkan wanita itu pergi menjauh darinya. Tapi ini dia lakukan agar… Kakeknya bisa berterima kasih pada Kuchiki. Ini dia lakukan agar… sedikitnya… dia bisa egois. Walau hanya sedikit. Karena Ulquiorra, terlalu mencintai wanita yang tak pernah mencintainya itu.
"Kau sudah bangun?"
Ulquiorra menoleh ke sisi ruang dapur yang merangkap ruang makan itu. Dilihatnya wanita mungil itu tengah berkutat dengan segala macam piring, kompor dan segala yang ada di dapur. Setelah menghela nafas panjang, Ulquiorra memilih masuk ke dapur itu. Duduk di kursi tinggi yang ada di dekat meja bar yang merangkap meja makan itu. Di depannya Rukia tengah menaruh sepiring nasi goreng yang baru dia masak. Setelah meletakkan nasi goreng itu, Rukia kembali berkutat di lemari atas dapurnya sambil mengeluarkan kopi dan mesin pembuat kopi itu. Ulquiorra suka melihat Rukia yang ada di dapur ini. Suka sekali. Kalau dipikir-pikir, pertama kali Ulquiorra benar-benar jatuh cinta pada wanita ini, adalah saat di pagi pertama mereka tinggal satu rumah. Rukia juga seperti ini. Membuatkannya sarapan.
"Makanlah. Nanti dingin loh. Kau harus bekerja. Nanti terlambat. Aku juga akan pergi, ada janji dengan modelku juga sedikit masalah di pabrik. Kau tahu? Padahal rancanganku akan keluar bulan depan. Tapi masih ada masalah. Benar-benar deh. Oh ya, apa kau tahu kalau Nii-sama akan datang minggu ini? Pastikan kau tidak sibuk ya. Ginrei Jii-Sama dan Barragan Jii-Sama juga mau datang. Aku sudah rindu sekali dengan Barragan Jii-Sama." Celotehnya riang. Ulquiorra hanya diam sambil memperhatikan tubuh mungil Rukia yang bergerak lincah sana sini demi menyiapkan kopi untuknya. Bahkan tanpa sadar, kini Rukia sudah duduk di sampingnya sambil menggeser cangkir kopi itu kepadanya. Ulquiorra tak melepaskan pandangannya. Rukia selalu seperti ini. Mereka bertengkarb di malam hari dan pagi harinya dia akan baik-baik saja. Seolah tak ada yang pernah terjadi. Dan inilah yang membuat Ulquiorra sedikit sakit. Rukia tak pernah sedikitpun menyalahkannya atas apapun. Tidak pernah selama mereka menikah.
"Kenapa? Apa ada sesuatu di wajahku? Oh ya, aku belum mandi…" kata Rukia ketika sadar Ulquiorra masih memperhatikannya. Sedetik kemudian Ulquiorra sadar dan mengalihkan pandangannya ke tempat lain sementara Rukia mengucek matanya sebentar.
"Maaf aku tidak mendengarmu tadi. Apa yang kau katakan?" tanya Ulquiorra yang kini tengah menyesap kopi paginya. Kopi yang setiap pagi yang dia minum. Kopi yang dibuat oleh isterinya. Entah kenapa sejak Rukia sering membuat kopi seperti ini, Ulquiorra semakin mencintai isterinya. Tentunya dalam diam.
"Eh? Tadi? Kau tidak dengar? Apa aku mengatakannya terlalu cepat? Nii-sama akan datang minggu ini. Apa kau sibuk? Aku tidak. Bulan depan desain terbaruku sudah keluar." Jelas Rukia lagi lalu melipat roti tawarnya yang sudah diolesi selai jeruk. Rukia suka selai ini. Sedetik sebelum roti itu benar-benar masuk ke dalam mulutnya, Rukia sedikit terkekeh.
"Oh... ya aku tidak sibuk. Aku sudah selesai." Jawabnya singkat. Sangat berbeda dengan kata-kata yang sudah tersusun rapi di dalam kepalanya. Kata-kata yang seharusnya bisa dia ucapkan, selantang yang Rukia ucapkan tadi. Tapi lagi-lagi Ulquiorra bersikap dingin pada Rukia tanpa sadar. Seolah sikap itulah yang seharusnya dia lakukan.
Rukia hanya memandangi punggung suaminya yang tengah melaju menuju kamar mereka. Bisa ditebak kalau Ulquiorra tengah mencari pakaian ganti. Selalu hanya kopi yang Ulquiorra minum. Tidak yang lain. Padahal Rukia selalu membuatkannya sarapan seperti ini. Rukia tak mengerti kenapa suaminya selalu bersikap dingin begitu walaupun Rukia sudah bersikap baik padanya selama ini.
Tak berapa lama, sang suami sudah siap dengan pakaiannya. Hanya tinggal dasinya saja yang belum dipakainya. Ulquiorra keluar dari kamar mereka dan mulai mencari-cari sepatu di raknya. Kemudian mulai memasang dasinya sendiri. Rukia masih diam di kursi makannya memperhatikan suaminya itu. Rukia hanya berharap Ulquiorra mau memanggilnya untuk membereskan dasi itu. Tapi ternyata…
"Butuh bantuan?" tawar Rukia begitu dia sudah berdiri di depan suaminya. Ulquiorra memandangnya datar dan bingung. Tapi terus mengikat dasi itu sendiri.
"Tidak perlu. Aku tak mau merepotkanmu." Jawabnya singkat.
Tapi sedetik kemudian, tangan kecil Rukia sudah berpartisipasi di leher pria berkulit pucat itu dan menghentikan gerakan tangannya sendiri. Rukia memang mungil, tapi dia masih bisa menjangkau leher suaminya sendiri. Rukia begitu fokus pada dasi yang mulai dipasangnya kini. Saat-saat seperti ini memang ada. Tapi tak pernah berakhir dengan baik.
"Rukia…"
"Hmm?" sahut Rukia dengan gumamannya sambil memasangkan dasi itu agar benar dan rapi.
"Maaf."
Rukia selesai memasangnya. Tapi kemudian menghentikan tangannya di depan simpul dasi suaminya. Matanya memandang lurus ke dada sang suami. Inilah yang selalu terjadi.
"Kau tak harus meminta maaf padaku setiap saat seperti ini Ulquiorra. Kalau kau yang meminta maaf, aku yang merasa bersalah. Aku berpikir… aku sudah jadi isteri paling buruk kalau suamiku terus meminta maaf padaku."
"Karena aku memang suaminya yang buruk untukmu. Aku sudah membuatmu menangis dan—"
"Apakah seburuk itu aku di matamu? Karena aku tak bisa mencintaimu… makanya kau memandangku sedemikian buruk?" lirih Rukia lagi. Dan kali ini dia menurunkan tangannya dari simpul dasi Ulquiorra. Matanya terasa basah lagi.
"Kau tak akan bisa mencintaiku. Bahkan kalau kau ingin mencintaikupun... kau tak akan bisa. Karena aku... akan terus menyakitimu seperti ini dan membuatmu terus menangis seperti ini. Maaf aku sudah jadi suami yang buruk untukmu. Yang perlu kau lakukan hanya bertahan. Bersabarlah sebentar lagi."
Ulquiorra beranjak dari tempatnya. Tak tahan lagi melihat wajah Rukia yang terus menerus seperti itu. Apa yang didapatnya sebenarnya? Kebencian Rukia? Tentu sudah dia dapatkan. Apalagi? Apakah karena mereka belum berpisah? Tentu... itulah masalahnya. Semakin mereka bersama, maka cinta yang seharusnya Ulquiorra kubur akan semakin besar. Dan Ulquiorra tak ingin... semakin mencinta isterinya itu.
"Jadi... aku memang isteri yang buruk untukmu ya? Sampai kau begitu ingin menceraikanku." Sekali lagi lirihan itu terdengar di telinga Ulquiorra. Tak ingin membalas kata-kata isterinya itu, Ulquiorra segera pergi dari rumah mereka. Meninggalkan isterinya yang akhirnya dibuatnya kembali menangis. Ulquiorra ingin sekali, Rukia menjerit, berteriak kesal padanya, atau bahkan memaki dan menghajarnya habis-habisan. Atau kalau perlu setiap kali Ulquiorra memojokkan isterinya, paling tidak Rukia harus berteriak meminta cerai darinya. Itu lebih baik. Tapi Rukia tak pernah seperti itu. Tak pernah sekalipun.
.
.
*KIN*
.
.
"Jadi Schiffer-san, proyek di Pulau Jeju juga bisa kita kembangkan. Karena ada investor lain yang..."
Szayel Apporo Granzt, kepala manager yang menangani proyek perusahaan mereka selanjutnya itu menghentikan kata-katanya. Karena beberapa rekan rapat mereka saling terdiam menyaksikan Direktur Utama mereka tengah melamun di kursi utama meja rapat itu. Entah kenapa tak biasa—meski memang ada beberapa hari ketika Direktur Utama ini terlihat seperti ini, tapi bukan dalam suasana rapat—Ulquiorra melamun seperti ini. Matanya hanya lurus ke depan tapi tak memandang Szayel yang mengoceh di depan meja rapat itu.
"Ehm... Schiffer-Sama. Apa anda sedang mendengarkan rapat?" sela Aizen Sousuke, sekretaris Ulquiorra yang bertugas menemani kemanapun Ulquiorra di saat bekerja. Seperti sekarang ini. Aizen berdiri di belakang kursi Direktur Utama itu.
"Ya? Oh... aku dengar. Proyek Pulau Jeju kan?" sahut Ulquiorra seakan tersadar dan langsung kembali ke bahasan mereka sambil membetulkan beberapa berkas di depannya itu.
"Silahkan lanjutkan." Ujar Ulquiorra lagi mengarah pada Szayel.
Melamun saat rapat? Benar-benar buruk.
.
.
*KIN*
.
.
"Pasti proyek bulan ini akan bagus karena model utamanya adalah Kurosaki Ichigo yang tengah melejit dan digandrungi remaja putri sekarang ini, bukan begitu Schiffer-san?" jelas Kira Izuru, asisten designer Kuchiki Rukia. Saat ini mereka tengah melakukan pertemuan dengan seorang model terkenal bersama managernya di sebuah kafe terdekat. Biasanya bukan tugas Rukia yang melakukan ini, tapi akhir-akhir ini Rukia jadi keseringan menanganin model mana yang dia inginkan. Dan secara pribadi seperti ini untuk mengajak model tersebut ikut dalam show-nya nanti.
Tapi sepertinya tidak begitu. Sejak Kira membacakan kontrak kerja mereka dan persyaratannya, Rukia mulai tidak fokus lagi. Sambil bertopang dagu di lengan kursi kafe itu, mata Rukia mulai tidak fokus, dia lebih memilih memandang gelas jus strawberry-nya itu. Pembicaraannya dengan suaminya tadi masih berbekas di hatinya. Begitu inginnyakah Ulquiorra menceraikannya? Padahal seharusnya yang meminta cerai itu adalah dirinya. Tapi kenapa pria berkulit pucat itulah yang begitu antusias membahas perceraian mereka? Rukia juga tak yakin, benarkah perceraian solusi terbaik dari masalah mereka?
Rukia hanya tak ingin, kakaknya dan kakeknya memandang buruk padanya. Tak ingin keluarganya menyudutinya seakan dirinyalah yang menyulitkan Ulquiorra. Selama setahun ini dia sudah berusaha yang terbaik. Kalau bukan karena sikap Ulquiorra yang seperti itu, sudah pasti pernikahan mereka tak akan seperti ini. Apalagi… kondisi kakeknya yang sudah kurang baik.
"Anoo... Schiffer-San? Anda... melamun?" tegur Kira yang menyadari Rukia sedari tadi tidak menyimak dengan jelas apa yang mereka bicarakan. Rukia langsung terperanjat mendengar kata-kata Kira dan kemudian beralih ke perbincangan mereka selanjutnya.
"Oh, tidak. Aku hanya... sedang tidak enak badan. Tapi tidak apa-apa kita bisa lanjutkan ini." Sahut Rukia pula.
"Sepertinya, Schiffer-San memang tidak enak badan. Apa sebaiknya kita lanjutkan nanti saja?" sela Tsukishima, manager yang menangani Ichigo.
"Benar. Anda Nampak tidak sehat loh..." sambung Kira.
"Tapi aku… baik-baik saja…" gumam Rukia.
"Biar aku yang mengantarnya pulang. Bagaimana? Kau bisa mengantar Kira-San, Tsukishima..." pinta Ichigo.
Dan Rukia benar-benar tidak mendengar apalagi yang mereka bertiga bicarakan. Sejak semalam kepalanya memang tidak beres dan perasaannya tidak enak. Entah apa yang membuatnya seperti ini. Sungguh menyiksa.
.
.
*KIN*
.
.
Ichigo menghentikan mobilnya di pinggir jalan yang mengarah ke sebuah pantai. Jalan itu cukup sepi, bahkan terlalu sepi. Sejauh ini hanya ada mobil mereka saja. Setelah menghentikan mobilnya, wajah wanita di sebelah ini tak beranjak dari sisi jendela mobilnya. Tsukishima dan Kira tahu hubungan mereka hanyalah sebatas model dan designer, apalagi yang mereka tahu, Ichigo dan Rukia sering bertemu untuk membahas masalah pekerjaan. Tidak termasuk hubungan lain. Dan beruntungnya mereka bisa menyembunyikan semua ini dengan baik. Itu yang lebih bagusnya.
"Ada apa Rukia? Kau tampak aneh hari ini." Kata Ichigo mencoba menyadarkan Rukia dari lamunannya yang tanpa henti itu. Wanita mungil cantik ini menolehkan kepalanya ke arah Ichigo. Matanya tak bagus. Mata indah itu tak secantik biasanya. Matanya sembab. Ichigo tidak suka melihat Rukia yang seperti ini. Meski setahun belakangan ini Rukia memang seperti itu.
"Ichigo..." panggil Rukia.
Ichigo mengambil salah satu tangan Rukia yang berada di pangkuannya dan mengecup punggung tangan mungil itu sambil menutup matanya. Mencoba merasakan kegelisahan yang sejak tadi menjerat kekasih mungilnya ini. Ichigo sungguh berharap Rukia tak akan pernah segalau ini kelak ketika bersamanya nanti. Ichigo juga tak akan pernah membiarkan sedetikpun Rukia yang seperti ini ada. Dia ingin wanita-nya yang seceria matahari dan tersenyum lembut bagai bulan. Tidak ingin membiarkannya meneteskan setitikpun air mata.
"Yah... katakan saja. Katakan apapun yang kau inginkan. Aku akan mendengarkannya." Lirih Ichigo sambil mengusap perlahan pipi putih Rukia dengan jemarinya. Menggenggam sebelah tangan Rukia yang tadi dikecupnya.
"Aku... aku lelah sekali. Aku—"'
Ichigo segera memeluk tubuh rapuh itu ke dalam dekapannya. Mengusap perlahan rambut hitam itu. Mencium wanginya seorang Kuchiki Rukia. Ichigo tak pernah sudi mendengar nama Schiffer yang kini disandang oleh Rukia. Tidak. Baginya dan selamanya wanita ini tetaplah Kuchiki Rukia yang dia kenal. Dan akan terus seperti itu sampai nanti Rukia akan menyandang Kurosaki. Dan Ichigo, pasti akan melakukannya.
"Makanya hentikan. Hentikan kalau kau lelah. Kau tak bisa seperti ini selamanya. Ayo Rukia… berpisahlah dengan suamimu. Dan kita menikah. Kalau perlu kita pergi dari Jepang dan menetap di tempat lain. Jangan lagi menyakiti dirimu lebih dari ini. Aku tidak pernah suka kau menangis karena pria itu!" geram Ichigo.
"Aku tidak... bisa. Setiap kali... setiap kali melihat Ulquiorra... aku selalu memikirkan keluargaku. Kalau bukan Ulquiorra yang menceraikanku... aku... tidak bisa..." jelas Rukia dengan nada tersendatnya. Dia tengah berusaha menahan tangisnya yang sebentar lagi akan keluar itu. Rasanya menyakitkan saja setiap kali mendengar kata cerai. Kalau perceraian terjadi... maka itu adalah akhir baginya... dan Ulquiorra.
"Apa kau tak mencintaiku?" Ichigo melepaskan pelukannya dan mencengkeram bahu Rukia serta menatap mata ungu kebiruan itu dengan intens. Mata indah yang menghipnotisnya hingga kini dan enggan untuk melepaskannya. Wanita itu menatap lemah pada Ichigo dengan getar bibirnya.
"Aku... mencintaimu. Tapi..."
"Kalau kau mencintaiku maka tidak akan ada tapi Rukia. Kumohon... cintailah aku. Dan datang padaku. Kau harus melupakan pria yang menyakitimu."
Rukia mengangguk lemah dan kemudian memeluk tubuh kekasihnya itu. Memeluk kencang leher pria yang dia cintai ini. Sebagai seorang wanita, dia ingin bersama dengan pria yang dia cintai dan mencintainya. Tapi sebagai seorang isteri, dia ingin bersama suami yang menikahinya dengan sah dan di depan semua orang. Dan itu... adalah dua hal yang bertentangan. Sangat... bertentangan.
.
.
*KIN*
.
.
Hari Minggu yang dinantipun tiba. Ulquiorra memang sudah berjanji dia tidak akan sibuk untuk hari ini. Dan benar. Dia memang ada di rumah. Sedangkan Rukia tengan menyiapkan makan siang, lalu Ulquiorra membantu membereskan rumah. Karena sama-sama sibuk, mereka bahkan tak sempat mencari seorang pembantu. Rumah mereka tak akan ada isi dari pagi sampai sore. Malampun terkadang mereka pulang dan langsung tidur. Selalu seperti itu. Makanya hampir-hampir tak ada yang perlu dibersihkan.
Bell rumah pun berbunyi, Rukia berteriak dari dapur karena masakannya belum selesai, meminta Ulquiorra membuka pintu. Untuk saat seperti ini mereka akan kembali membaik. Walau nanti setelah ini pasti ada lagi yang membuat mereka kembali jadi orang asing.
"Oh, Nii-sama, Jii-Sama." Sapa Ulquiorra sambil menunduk penuh hormat.
Kuchiki Byakuya dan Kuchiki Ginrei datang berkunjung. Mereka memang selalu seperti ini. Meski bisa saja Rukia dan Ulquiorra yang mengunjungi mereka, tapi mereka tahu kalau sepasang suami ini selalu sibuk. Sedangkan Barragan, kakek dari Ulquiorra itu langsung menyapa cucu kesayangannya ini. Berbeda dengan Kuchiki yang terlihat anggun karena mereka bangsawan, Barragan lebih kasual dan menyenangkan. Barragan pernah tinggal di Amerika, negara yang menganut asas kasual itu. Jadi tidak ada kata-kata harus sopan dan hormat begitu. Meski kakeknya begitu, tapi Ulquiorra tetap hormat pada kakak ipar dan kakek mertuanya.
Barragan masuk ke dalam rumah dan langsung menyapa cucu menantunya itu. Rukia begitu senang bertemu kakek koboi itu. Karena Barragan suka berkuda dan mengoleksi senapan. Tentu saja Rukia kadang memanggilnya kakek koboi. Dan Barragan tampak menyukai itu. Terlebih lagi, sejak awal, Barragan memang sudah jatuh cinta pada wajah cantik Rukia.
Karena tiba di siang hari, mereka semua bisa mencicipi masakan Rukia. Cukup senang mereka puas dengan semua itu. Rukia juga lega karena sepertinya mereka baik-baik saja. Terutama kakeknya. Kakek Ginrei. Rukia lega tak ada yang perlu dikhawatirkan. Jadi... mungkin perceraian akan lebih baik. Kalau seperti ini.
Setelah selesai makan, Ulquiorra membantu Rukia membereskan meja dan menu penutupnya. Karena Rukia ingin mengupas buah saja. Masih seperti biasa, Ulquiorra dan Rukia bersikap layaknya sepasang suami isteri biasa. Walau mereka masih canggung dengan keadaan ini.
Rukia mendengarkan dengan antusias cerita Barragan yang berkuda di San Fransisco bulan lalu. Dan mendapatkan senapan langka untuk acara berburunya. Barragan juga bersiap akan mengajak Rukia berburu di Madagascar. Rasanya memang menyenangkan punya keluarga seperti ini. Kakek Ginrei juga sesekali menimpali cerita Barragan. Tak heran mereka memang teman sejak dulu. Dan tak heran ikatan mereka begitu kuat hingga kini.
Ulquiorra masih menemani kedua kakek itu bercerita soal masa muda mereka. Sedangkan Byakuya memberikan isyarat pada Rukia untuk pergi ke taman belakang. Rukia menurut dan mengikuti kakaknya itu.
"Apakah kau dan… Ulquiorra baik-baik saja?" tanya Byakuya langsung. Rukia terkesiap. Tak menyangka ini adalah pertanyaan pertama kakaknya hari ini. Rukia tahu cepat atau lambat Byakuya pasti menyadari situasi mereka. Yah... Byakuya selalu tahu apa yang terjadi pada adiknya ini.
"Apa... maksud Nii-sama?"
"Kau sudah setahun menikah. Apa kau tidak ingin memberikan hadiah pada Ginrei Jii-Sama?"
Rukia diam. Kemudian menunduk dalam. Rukia hanya bisa menggigit bibir bawahnya dan menggenggam erat terusan pakaiannya. Hadiah?
"Nii-sama tahu kalau... aku dan Ulquiorra sibuk. Jadi... aku... maksudku... kami, belum begitu siap Nii-Sama. Memang... ada apa? Tiba-tiba Nii-sama meminta hal ini?"
"Ada hal yang kau tidak ketahui. Tentang kondisi Ginrei Jii-Sama."
Mata Rukia terbelalak lebar.
"Ada apa dengan... Ginrei Jii-Sama? Tapi... beliau tadi... baik-baik saja. Bahkan… Barragan Jii juga… baik-baik saja."
"Itu karena Ginrei Jii-sama yang tidak ingin kau tahu. Dia tidak ingin mengkhawatirkanmu. Ginrei Jii-sama tahu kau dan suamimu sibuk. Jadi tidak mau menambah masalah. Beliau… sangat ingin cucu sebelum masa tuanya berakhir. Dan menurut dokter… kesehatan beliau akhir-akhir ini menurun. Aku hanya... kau tahu sendiri Rukia, hanya kau satu-satunya orang yang bisa memberikan hadiah itu."
"Nii-sama..."
"Aku tak akan memaksamu kalau kalian belum bisa memberikan hadiahnya. Tapi... kuharap... kau tidak akan menyesal nantinya. Karena membiarkan Ginrei Jii-sama begitu lama menunggumu. Kita tidak ingin kan, pernikahan kalian hanyalah sebuah alasan untuk menyelamatkan Kuchiki. Meskipun itu benar... tapi kau harus berusaha mencintai suamimu. Ulquiorra adalah pria baik yang tidak akan mudah kau temukan di dunia ini. apalagi Ginrei Jii-Sama sangat menyukainya."
Penjelasan kakaknya tidak lagi dia dengarkan. Inilah beban yang terus menumpu di pundaknya. Pernikahan ini... memang tak pernah benar. Sejak awal seharusnya dia tidak membiarkan keluarganya berharap begitu banyak padanya. Sejak awal... seharusnya Rukia tak pernah terlibat dengan keluarga Kuchiki. Dan seharusnya... seperti itu sejak awal.
.
.
*KIN*
.
.
Masih dengan senyum cerianya, Rukia mengantarkan keluarganya itu keluar rumah karena hari beranjak sore. Benar. Rukia baru menyadari kalau wajah kakek Ginrei agak sedikit beda. Mungkin inikah efek dari kesehatan yang menurun itu? Bagaimana bisa Rukia mengabulkan harapan itu? Bagaimana bisa kalau suaminya sejak awal ingin menceraikannya.
Setelah mobil mereka berlalu, wajah Rukia kembali terkesan sedih. Bagaimana tidak sedih? Lagi-lagi kakak angkatnya begitu banyak menuntut dirinya. Meskipun permintaan itu tidak dikatakan dengan serius, tapi permintaan itu adalah pesan tersirat untuk Rukia agar dia menurutinya, dengan alasan... kakek Ginrei. Itulah alasannya. Yah... Rukia adalah boneka kayu yang bisa dimainkan seenaknya. Itulah dirinya dalam keluarga Kuchiki. Satu-satunya boneka yang dipaksa untuk melakukan semua kemauannya. Rukia egois? Kenapa dia tidak boleh egois? Apakah pernah Kuchiki menanyakan perasaan terdalamnya selama ini? pernah Kuchiki meminta pendapat Rukia soal dirinya? Tidak. dan tidak pernah. Rukia hanya perlu menurut saja. Dengan begitu, anggapan Kuchiki pasti merasa Rukia sudah cukup bahagia sekarang.
Yah wanita mana yang tidak bahagia? Punya suami yang baik pada keluargamu, tampan, setia―setia?―kaya raya, memenuhi segala hidupmu, tidak pernah melarangmu melakukan apapun yang kau sukai, selalu mengalah, dan sebagainya. Wanita mana yang tidak bahagia? Bahkan terang-terangan mengijinkanmu berselingkuh di belakangnya. Hoh! Rukia lelah! Ingin sekali dia berteriak kencang. Sekencang yang mungkin sanggup ditampung pita suaranya.
"Rukia...?"
Nah itu dia. Suami terbaik sedang memanggil dirimu. Rukia hanya menghela nafas dan berdiri membelakangi suaminya yang kini berdiri di belakang Rukia. Rukia masih fokus mencuci piring kotornya.
"Apa... yang dikatakan... Nii-sama-mu?"
Rukia terkesiap dan menoleh ke belakang dengan cepat. Pria bermata hijau itu mengalihkan pandangannya dari Rukia dan melihat sekeliling dapurnya. Rukia mendengus geli. Apakah dia benar-benar peduli pada Rukia?
"Tidak ada hal penting. Nii-sama hanya ingin aku baik pada Ginrei Jii-Sama." Ujar Rukia sambil melanjutkan tugasnya.
"Benarkah?"
Rukia selesai dengan tugasnya dan meletakkan sarung tangan karet itu kembali.
"Yah. Memang kau berharap apa? Tenang saja... aku tidak akan menyulitkanmu."
Rukia hendak berlalu dari dapur itu. Tak sanggup lagi rasanya terus bertatapan seperti ini. seolah suaminya hanya melakukan tugas sebagai suami yang baik. Menanyakan apa yang dirasakan isterinya. Meski Rukia tahu, Ulquiorra mana mungkin mau mengabulkan hadiah untuk kakek Ginrei.
"Apa aku selalu menyulitkanmu?"
Rukia diam. Rasanya ingin sekali dia membalas kata-kata itu. Sambil mengepalkan tangannya, Rukia berbalik menatap sinis suaminya itu.
"Tidak. kau tidak pernah menyulitkanku. Kau suami yang baik. Kata Nii-Sama aku beruntung mendapatkan pria sebaik dirimu sebagai suamiku. Tapi sayang... pria baik sepertimu malah ingin menceraikanku."
"Rukia..."
"Yah! Kalau kau memang pria baik, kenapa kau tidak pernah memahami perasaanku? Kenapa hanya kau yang boleh egois! Kalau kau ingin benar-benar egois, sejak awal seharusnya kau tidak pernah menyetujui pernikahan ini dan membuat keluargaku begitu banyak berharap pada pernikahan ini! Apa kau sadar apa yang sudah kau lakukan? Dengan perceraian yang selalu kau katakan itu, apa yang akan dikatakan keluargaku? Apa? Mereka pasti akan menyalahkanku!"
Ulquiorra terdiam mendengar semua gumpalan emosi yang melekat di dalam wanita mungil itu. Nafas Rukia begitu tersendat karena emosi yang akhirnya dia ledakan ini. sekali lagi... Rukia menangis karenanya.
"Aku... menceraikanmu... agar kau tak selamanya terikat seperti ini. Aku hanya ingin kau bahagia... itu saja. Sudah pernah kubilang, aku yang akan bertanggung jawab pada pernikahan kita. Jadi... bersabar―"
"Aku muak dengan kata-kata itu! Aku muak bersabar! Bukan masalah aku bahagia atau tidak, satu-satunya masalah di sini adalah... kau ingin menceraikanku dan membuat keluargaku akan menyalahkanku."
"Keluargamu tidak akan menyalahkanmu."
"Bagaimana kau bisa yakin? Kau tidak tahu Kuchiki itu seperti apa! Dan―"
"Apa kau tak mau bercerai dariku?"
"Apa?" kata-kata itu...
"Kalau kau tidak mau bercerai dariku, aku akan mengabulkannya. Tapi kau harus mencintaiku. Setulus hatimu. Kalau kau bisa lakukan itu, aku tidak akan pernah menceraikanmu."
Rukia diam.
"Kau takut karena kita tak punya alasan untuk bercerai bukan? Kau takut... Kuchiki akan membencimu karena bercerai dariku. Aku mengerti itu. Mereka pasti tak akan pernah percaya kalau kita tidak bisa saling mencintai. Paling tidak... salah satu dari kita pasti mencintai. Entah itu kau yang mencintaiku, atau aku yang mencintaimu. Tapi, tak satupun dari kita yang saling mencintai. Semuanya bertepuk sebelah tangan. Lalu kau pikir... akhir pernikahan seperti apa yang akan terjadi dengan kita?" setelah menjelaskan semua itu, Ulquiorra bergerak akan meninggalkan Rukia.
"Kalau aku mencintaimu... apa kau akan mencintaiku?" tanya Rukia akhirnya.
"Itu kalau kau sudah mendapatkan jawaban atas pertanyaanku. Kalau kau sudah mantap menjawabnya, aku akan memberikan jawabanku."
Sungguh Rukia bimbang. Rukia benar-benar bingung bagaimana mengakhiri semua ini.
.
.
*KIN*
.
.
'Berikan pada Rukia-chan! Aku sudah janji akan membawakannya cake yang enak ini. pokoknya harus kau sendiri yang memberikannya tidak peduli kau sesibuk apa! Mengerti! Dan jangan mengatakan alasan konyol kau sibuk atau apa! Aku tidak mau dengar itu. Barragan.'
Kepala Ulquiorra rasanya mau berdenyut saja. Semalam dia dan Rukia baru saja―lagi-lagi bertengkar―dan sekarang malah harus disuruh mengantar kotak cake ini? yang benar saja!
Kakeknya sungguh tidak mengerti perasaan cucunya ini.
Baru saja Aizen mengantarkan pesanan Presdir yang kerjanya hanya traveling, berburu dan berkuda itu. Ulquiorra tak punya pilihan soal ini. kalau sampai kakeknya tahu dia menyuruh orang yang mengantarkan ini, tentu saja Ulquiorra akan segera tamat dengan senapan favoritnya itu. Kakeknya memang selalu merepotkan. Dan entah kenapa Ulquiorra senang kakeknya menyukai Rukia. Dengan begitu, kakeknya tak akan punya alasan menyudutkan wanita itu kalau hal buruk terjadi pada mereka. Meksipun Rukia tak begitu diperlakukan dengan baik oleh Kuchiki, kakeknya adalah orang pertama yang akan memperlakukan Rukia selayaknya Putri Mahkota dari suatu negeri.
Merasa tak punya pilihan, akhirnya Ulquiorra menurut saja. Tapi sebelumnya dia menelpon isterinya itu dulu. Siapa tahu Rukia tak di tempat. Tapi meskipun dihubungi beberapa kali tetap tidak ada jawaban. Apa sebaiknya Ulquiorra langsung saja?
"Siapkan mobil. Kita pergi ke kantor Rukia." Perintah Ulquiorra pada Aizen. Seharusnya wanita itu tetap berada di kantor karena sibuk dengan show-nya yang sebentar lagi itu. Dan beruntungnya Ulquiorra juga tak terlalu sibuk.
.
.
*KIN*
.
.
"Jangan bercanda Ichigo! Semua orang sedang melihat kita!" gerutu Rukia ketika mengukur tubuh sang model ini. pakaian yang nantinya akan dipakai Ichigo baru diukur hari ini karena desain-nya akan segera dijahit. Tapi sejak tadi Ichigo terus bertingkah menyebalkan bahkan ketika ada Kira sang asistennya. Ichigo akan tersenyum jahil pada Rukia sambil sesekali mengelus lengan wanita itu. Semua orang pasti berpikir Ichigo mesum, yah tentu saja dia mesum!
Rukia sudah bersabar untuk tidak meladeninya. Tapi sepertinya Ichigo tidak begitu. Hingga akhirnya sang asisten undur diri sejenak untuk kembali mengambil sesuatu entah apa. Meninggalkan Rukia dan Ichigo sendirian di ruang pribadi Rukia. Begitu pintu ditutup, Ichigo mulai menyeringai licik.
Rukia baru saja akan mengambil pensilnya ketika ponsel di tas tangannya berbunyi. Tapi gerakannya terhenti ketika pinggangnya dilingkari tangan kekar itu. Rukia langsung tahu siapa pelakunya.
"Ichigo! Kita di kantor! Nanti ada yang lihat!" maki Rukia sambil berusaha melepaskan tangan Ichigo. Ponselnya masih berbunyi nyaring.
"Tidak akan. Kira pasti lama. Sebentar saja Rukia... kita sudah tidak melakukannya sekitar... dua hari." Bisik Ichigo tepat di telinga wanita mungil itu. Rukia bergerak gelisah sambil melenguh ketika hembusan nafas pria itu mengenai leher dan telinganya.
"Uhh... ayolah Ichigo... lepaskan dulu, ponselku bunyi tahu..."
"Biarkan saja. Katakan kau sibuk. Apa susahnya? Ya..." bujuk Ichigo.
Rukia tak tahan dengan sikap kekanakan Ichigo ini. seakan sudah begitu lama tidak menyentuh dirinya. Inilah Ichigo. Selalu merindukan Rukia. Mereka memang sibuk, karena itulah setiap kontak kecil akan selalu terasa menyenangkan.
Ichigo mengecup perlahan tengkuk Rukia dan meraba pinggang dan perut kekasihnya itu. Rukia menggeliat tak nyaman ketika tangan-tangan itu mulai bergerilya di tubuhnya. Sungguh... tak nyaman.
"I-Ichi..." lirih Rukia sekali lagi. Tapi Ichigo tak mau dengar.
Ponselnya yang terus berbunyi itu akhirnya mati. Rukia penasaran siapa yang menelpon, tapi pria orange ini sama sekali tidak memberinya kesempatan untuk itu.
Perlahan Ichigo membalik tubuh kekasihnya itu. Mulai melakukan sentuhan yang lebih intens. Mulai meraba wajah mungil Rukia yang sudah memerah karena tingkahnya ini. yah tidak ada hal yang lebih menyenangkan selain menikmati wajah memerah sang kekasih karena sentuhan Ichigo.
"Aku... mencintaimu..." bisik Ichigo penuh gerakan sensual di sekitar wajah Rukia. Desiran darah begitu kencang terasa di tubuhnya. Nafasnya sekali lagi terengah menahan hasrat yang segera ingin tertumpah ini. sentuhan bibir Ichigo di area wajah dan lehernya begitu memabukan.
Sampai... mereka tak sadar bahwa Rukia sudah terpojok di dinding ruangannya. Ichigo menekannya ke dinding itu dan menahan kedua lengan Rukia. Bibirnya tak sabar menyambar bibir mungil yang begitu menggoda itu. Kilatan lipgloss Rukia seolah mengundang hasrat untuk saling menempel. Benar-benar pesona indah Kuchiki Rukia.
Tekanan kedua bibir itu begitu intens berlangsung. Rukia akhirnya mengalah dan mencoba menikmati setiap pagutan lembut penuh kehangatan ini. tak akan ada seorangpun yang bisa menolak sentuhan dan pesona seorang Kurosaki Ichigo. Sentuhan yang tak pernah didapatnya dari pria lain. Sentuhan yang memabukkan.
.
.
*KIN*
.
.
Ulquiorra tiba di kantor isterinya itu. Semua orang menyapanya dengan ramah. Siapa yang tidak kenal dirinya? Direktur Utama Kuchiki Enterprice yang terkenal itu, sekaligus cucu tunggal Barragan Luisenbarn yang begitu terkenal sebagai pemain saham yang sangat sukses di Eropa. Sungguh perpaduan yang begitu menakjubkan. Siapa saja yang mendapatkan suami seperti Ulquiorra sudah pasti akan bahagia sepanjang masa. Tampan, baik, seolah semua hal baik ada pada diri pria ini. jaman sekarang sangat sulit menemukan pria seperti ini. dan Kuchiki Rukia adalah satu-satunya wanita beruntung yang mendapatkan itu.
"Ohh... Anda... suaminya Rukia Schiffer ya? Dia ada di ruang pribadinya di lantai dua." Ujar seorang pria berambut pirang panjang itu yang Ulquiorra ketahui sebagai asisten sang isteri. Dengan senyum berterima kasih, Ulquiorra bergerak naik menuju lantai dua. Kantor ini sama sekali tidak ada lift karena hanya tiga lantai. Kantor yang merangkap butik ini memang diperuntukkan untuk desain Rukia saja. Tapi ngomong-ngomong... ini pertama kalinya Ulquiorra datang kemari.
Setelah menemukan pintu yang dimaksud, karena di depannya tertulis ruangan milik Rukia, Ulquiorra bersiap masuk.
Tapi... baru saja membuka sedikit celah pintu, Ulquiorra mendadak terkesiap. Mata zamrud-nya itu menangkap sepasang insan yang tengah bercumbu dengan mesra.
Pria berambut orange itu begitu intens menekan isterinya ke dinding ruangan sambil mencumbu isterinya dengan mesra. Rukia tampak begitu menikmatinya.
Secepat kilat, Ulquiorra menutup pintu itu dengan hati-hati dan bersandar pada dinding ruangan itu.
Ulquiorra bodoh! Apa yang kau harapkan?
.
.
*KIN*
.
.
TBC
.
.
Hola Minna.
saya gak nyangka bakal ada yang ngereview fic ini. hehehe beneran saya seneng banget. hehehe apa saya udah bakat bikin crack pair? susah juga dapetin feel-nya ya? feel kalo Ichi tuh selingkuhan... hohohoh
kayaknya chap ini agak kacau balau ya, saya pengen bikin UlquiRuki tuh galau. tapi kayaknya gak dapet nih... maaf kalo gaje dan kacau yaa... cuma ini yang bisa saya update. selebihnya saya blank total... maaf yang nungguin fic saya. beneran lagi blank nih... hehhe
saya masih juga nyesek sama endingnya Miss Ripley kemarin ituloh! ya ampun1 greget pisan. kasihannya Yoo-Chun oppa-ku gak dapet apa-apa... hiks...
saya kan maniak drama Korea... hehehehe
yosh balas review dulu yaa...
corvusraven : makasih udah review senpai... hehehe nih udah update. gimana menurut senpai? hehehhe
Yuna : makasih udah review senpai... hehehe nih udah update... review lagi yaaa
Mitsuki Ota : makasih udah review Alex... hehehe saya gak nyangka kamu suka UlquiRuki... heheh nih khusus buat kamu saya update nih, maaf ya kalo chap ini agak kacau balau... hehehee
Voidy : makasih udah review senpai... hehehe Ulqui emang sengaja dibikin pasif, jadi gak rada ooc banget kan? hehehe sifat Ulqui kan emang dingin gitu dan datar... saya suka banget... hehehe senpai nanti mau IchiRuki ato UlquiRuki nih? hehehehe
David : makasih udah review senpai... hehehe ooo senpai suka UlquiRuki ya? heheheeh abisnya dikit sih UlquiRuki di sini. saya kan juga cinta mereka. hehehe review lagi yaaa
udah deh... makasih banget udah yang mau baca dan review... ini beneren berharga loh. pemicu semangat buat update terus... hehehe
tanpa pembaca dan reviewer... semua fic saya gak bakal ada yang saya update loh... terima kasih tak terhingga deh...
kalo gitu... yang baik hati... reviewnya yaa... biar semangat nih... hohohoh
Jaa Nee!
